| |

| |
Assalamu'alaikum Wr Wb
Sahabat semua... Ini sebuah peluang bagi Anda, untuk mengenal lebih dalam tentang Word Smart Center. Maka dengan penuh persahabatan dan cinta, kami mengajak Anda bergabung di milis wordsmartcenter@yahoogroups.com
SEKILAS TENTANG KAMI
WORD SMART CENTER berawal kepedulian, keprihatinan, dan tanggungjawab beberapa orang --baik itu mereka sebagai bagian dari penduduk dunia, umat Islam, kader bangsa, mahasiswa Indonesia Mesir, maupun peran mereka sebagai pribadi- terhadap dunia tulis menulis. Maka pada tanggal 29 Januari 2008, tercetuslah ide untuk membuat milis word-smart@yahoogroups.com. Namun kemudian, pada tanggal 25 Juni 2008, milis tersebut berubah menjadi wordsmartcerter@yahoogroups.com. Selanjutnya, anggota milis ini berinisiatif untuk membentuk sebuah komunitas sebagai tempat belajar mengasah kecerdasan berbahasa (berbicara, mendengar, membaca, dan menulis) atau sering disebut dengan istilah Word Smart dan untuk menghubungkan para pecinta buku --pemilik naskah (penulis, pengarang, dan penerjemah), pengolah naskah menjadi buku (penerbit dan percetakan), penjual buku (distributor dan toko buku), pengelola pusat atau tempat buku (taman baca), dan para pembaca buku.
VISI
"Mencerdaskan bangsa Indonesia dan umat manusia melalui budaya literasi dan dunia perbukuan"
MISI
" Sebagai lembaga pelatihan menulis untuk melahirkan jaringan penulis, pengarang, jurnalis, dan penerjemah; " Sebagai konsultan dan leterary Agency (Agen Naskah) untuk membantu para penulis dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dan menolong para pemilik naskah dalam mencari dan menghubungi para penerbit; " Sebagai penerbit, distributor, dan toko buku untuk memudahkan para pembaca menemukan buku-buku yang bermutu; " Sebagai taman baca untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan masyarakat.
MOTTO "Connecting Book Lover"
PROGRAM Untuk sementara ini, sedang all out menyelenggarakan Sekolah Menulis SMART (Sistim Menulis Asik, Reguler, dan Terpadu) secara offline dan On-Air lewat Radio Community Jerman stasiun 2 di Cairo.
Alamat untuk saat ini: Address: Bld. 101/19 Mutsallats Station 10th District Nasr City Cairo-Egypt; Telp/Hp (002-02) 24484236/0100380728 (atas nama: Udo Yamin Majdi)
ANTI SPAM: Milis ini sangat ANTI SPAM! Bagi anggota yang mengirim spam atau pesan-pesan tak berguna lainnya, keanggotaannnya langsung dihapus.
CARA BERGABUNG:
1. Silahkan kirim e-mail kosong ke alamat ini: wordsmartcenter-subscribe@yahoogroups.com, atau;
2. Silahkan lewat group yahoo, caranya: - Klik tulisan "Yahoo!" di sebalah kiri atas e-mail Anda; - Klik tulisan "Groups" pilihan nomor lima di bagian kiri yahoo group; - Lalu tulis di kolom "Search" di bagian tengah nama milis "wordsmartcenter"; - Setelah milis tersebut muncul, klik nama milis, nanti akan muncul "home" milis yang berisi diskripsi atau tanda pengenal milis; maka klik "Join This Group!" sebelah kanan atas atau bawah, - Selanjutnya, isi "Comment to Owner" dan kode di bagian bawah, baru kemudian klik "join". - Karena milis dimoderatori, maka keanggotaan Anda masih pending, hingga diapprove oleh moderator;
3. Apabila Anda masih bingung juga, maka kirim e-mail ke: wordsmartcenter@yahoo.com, nanti kami invite e-mail Anda, selanjutnya Anda join sebagaimana kami jelaskan pada nomor 2 di atas.
Selamat bergabung. Dan sebuah kebahagiaan bagi kami, manakala Anda menyempatkan diri untuk memporward e-mail ini kepada teman atau milis yang telah Anda ikuti. Semoga Allah membalas segala kebaikan Anda.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
Moderator
===============================
Sumber: milis wordsmartcenter@yahoogroups.com
Assalamu'alaikum Wr Wb. Setelah membuka program "Sekolah Menulis SMART Offline" di kalangan mahasiswa-mahasiswi Indonesia Mesir, Word Smart Center Cairo bekerjasama dengan radio Community membuka program Sekolah Menulis SMART On-Air. Ini sebagai jawaban dari permintaan beberapa teman-teman di berbagai negara yang menginginkan belajar menulis bersama Word Smart Center. Acara "Sekolah Menulis SMART On-Air" diasuh langsung oleh Direktur Eksekutif Word Smart Center, Udo Yamin Majdi, setiap hari Rabu pukul 15:00 Waktu Cairo (19:00 WIB). Mulai Rabu besok, tanggal 6 Agustus 2008. Delapan pertemuan, dengan materi berikut ini: 1. Pengantar Menulis (motivasi, pengetahuan, dan keterampilan menulis); 2. Fiksi (cerpen dan novel); 3. Non-fiksi Faktual (Berita dan Feature); 4. Non-Fiksi Opini (Opini, kolom, esai, resensi, cathar, memoar, biografi, dan autobiografi); 5. Non-Fiksi Ilmiah (Makalah, Artikel Ilmiah, proposal dan laporan penelitian); 6. Menulis naskah buku dan menerbitkannya; 7. Menulis di website dan blog; 8. Pengembangan diri Penulis (Manajemen diri dan manajemen waktu bagi penulis). Bagi yang baru mengetahui radio Community, silahkan add ID q2eradio@yahoo.com, ketik browser internet di http://play.communityradio.info atau buka website www.qommunityradio.net Gunakan program Winamp atau Real Player untuk mendengarkan. Demikian info ini kami sampaikan, tolong sebarkan berita ini kepada teman-teman yang lain. Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Assalamu'alaikum Wr Wb. Pada acara Talk Show Kepenulisan hari Ahad tanggal 3 Agustus 2008 di Pasangrahan KPMJB, alhamdulillah peserta Sekolah Menulis SMART angkatan pertama, telah registrasi ulang dan tidak hadir tercantum di bawah ini. Bagi yang tidak hadir pada acara Talk Show (sudah mendaftar, namun belum registrasi ulang) atau merasa telah mendaftarkan diri, namun belum kami cantumkan namanya, maka segera hubungi kami telp/hp 24484236/0100380728 (Ami R. Muslimah) atau kirim e-mail ke worsmartcenter@yahoo.com. atau datang pada pertemuan perdana pada hari Ahad tanggal 10 Agustus 2008 di Rumah Budaya AKAR Musallats. Berdasarkan kesepakatan peserta dengan mentor, maka waktu dan tempat belajar berikut ini: Setiap hari Senin pukul 15:00 s/d 19:00 di KMA Setiap hari Ahad pukul 14:30 s/d 18:30 di Rumah Budaya "AKAR" Demikian pemberitahuan kami, kepada teman-teman yang merasa kenal dengan peserta yang belum registrasi ulang, maka kami minta bantu untuk menyampaikannya. Wassalamu'alaikum Wr Wb Panitia ============================================= YANG SUDAH REGISTRASI 1. Abdillah 2. Abdu Rahman S 3. Abdul Halim Ramli 4. Abdullah Mubarok 5. Adin Mustofa 6. Agus Adi Priyanto 7. Agus Burhanuddin 8. Agus Salim 9. Ahmad Gunawan 10. Ahmad Iqbal 11. Ahmad Muhammad 12. Ana Fadhilah 13. Andika Mahardika Nurdin 14. Annisa Rachmawati 15. Anzila Azraq 16. Arya Nirwana S 17. Asgar Moh. Sarpan Korona 18. Asmofur 19. Bashir 20. Dhiauddin 21. Dian Farah Yuna 22. Diana Rohatul Faridah 23. Didi Suardi 24. Erna Dewi 25. Fajriansyah 26. Fathonah Abu Bakar 27. Faudhari 28. Ferri Adriansyah 29. Furqon Ar-Rasyid 30. Hanafi 31. Hanif Muhammad Dahlan 32. Hidayatullah Ahmad Fajri 33. Hilal Nasruddin 34. Imas Jihan Syah 35. Iswar Sukarsa 36. Jaja Juwita Ilyas 37. Lady Eka Rahmawati 38. M. Aidil Fajri 39. M. Firdaus Lahmuddin 40. M. Aqsha 41. M. Khoyrurrizal 42. M. Kafrawy 43. M. Nasruli Chusna 44. M. Khoyrur Rizal 45. Maramita El-Fanani 46. Martina Musfiani 47. Masyithah Jailani 48. Maulana Al-Qadri 49. Meyfi Datunsolang 50. Moh. Luthfi al-Anshori 51. Muhammad Aqsha 52. Muhammad Fuad Arif 53. Muhammad Hafiz Auji 54. Muhammad Haris F. Lubis 55. Muhammad Husni Mukhtar 56. Muhammad Nur Sa’id 57. Muhammad Syakir 58. Muhammad Yasin Jumadi 59. Muhyiddin Wincolis Natuah 60. Mursalin Abdu Ghani 61. Mursyalin Basyah 62. Nurdin Afud 63. Nurfathonah 64. Nurul Faizah 65. Putra Adi Perwira 66. Rahmat Zul Azmi 67. Reza 68. Riza Fadli 69. Rizal Ichsan Anwar 70. Rizka Abidah 71. Rizki Syahputra 72. Roisul Fatah Madhuri 73. Sari Rahmawati 74. Siti Mukarromah 75. Siti Ruhayya 76. Yermijal Firdiani 77. Yusfit Helmi 78. Yusri Noval 79. Zahrul Bawady M. Daud 80. Zainul Mustofa Yang Belum Registrasi (Tidak Hadir) 1. Abdul Mun’im 2. Abu Sa’id Attobari 3. Ahlam Irfani 4. Arika Dyna 5. Edy Wiyono 6. Ghulam Muhyidin 7. Hidayatullah Ismail 8. Mahmud Ridlo 9. Malingkai Ilyas 10. MS. Hidayatulloh 11. Nuryorda Faizah 12. Pohan 13. Salehudin Kasran 14. Sofyan Halim 15. Zaki 16. Rian Perodeka
Bermula dari sabda nabi, Udo Yamin Majdi, penulis Qur’anic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Lewat Al-Quran, meniti hidup ini lewat dakwah bil qolam. Udo Yamin bersama kawan-kawan mempersembahkan kepada Masisir, sebuah komunitas bernama Word Smart Center (WSC). Dan informasi WSC ini, melalui pengumuman Sekolah Menulis SMART (Sistem Menulis Asyik, Reguler dan Terpadu) sering mengisi inbox e-mail atau offline Yahoo Messenger kita akhir-akhir ini. Oleh sebab itu, sore selepas Asar, Jum’at 11 Juli, di kediamannya, perbatasan antara Mutsallats dan Saqr Quraisy, Direktur Utama WSC ini bertutur banyak kepada kru Trobosan. “Ini berangkat dari paradigma saya, bahwa sebenarnya, yang kita cari dalam hidup ini, tidak lebih dari hal ini: cari rizqi, cari ilmu dan cari pasangan hidup. Dan Nabi telah menjelaskan bahwa, Idzâ mâta ibnu Adam, inqatha’a ‘amaluh illâ min tsalâts; shadaqah jâriyah, ilm yuntafa’ bih, walad shâlih yad’û lah. Lantas, apa hubungan antara tiga hal yang kita cari, hadis nabi, dan tujuan Udo menulis? Secara panjang lebar, Udo menjelas, berikut ini: “Pertama, saya menulis untuk shadaqah jariyah (to live). Saya butuh makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis lainnya. Untuk meraihnya, saya butuh duit. Untuk dapat duit, saya butuh sebuah pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang sesuai dengan sikon, kemampuan, dan kemauan atau hobi saya adalah menulis. Dari menulis ini, saya bercita-cita, mengikuti langkah Kang Abik dengan Pesantren Karya BASMALA; Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi in Action (sekolah gratis), dan yang lainnya. Kedua, saya menulis untuk al-‘ilmu yuntafa’u bihi (to learn). Sebagai santri dan da’i, saya wajib menyampaikan ilmu. Para nabi dan rasul serta salafush shâlih, dalam berdakwah mereka menggunakan sarana yang sedang berkembang pada saat itu. Menurut saya, yang berkembang saat ini adalah teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Oleh sebab itu, selain berdakwah bil lisân, saya harus dakwah bil qalam lewat media TIK tersebut, baik itu lewat buku, e-book, blog, milis, media massa, dan yang lainnya. Ketiga, saya menulis untuk waladin shalihin yad’u lahu (to love). Saya dan isteri saya merumuskan visi, misi, dan strategi agar memiliki anak sholeh. Namun, semua itu, tak ada artinya, jika saya meninggal dunia. Agar proses pembentukan anak sholeh itu terus berlanjut, maka saya harus mendokumentasikan ilmu, pengetahuan, pemikiran, dan pesan dalam bentuk tulisan. Hal ini menjadi tradisi para ulama terdahulu, misalnya, Imam Ibnu Hajar menulis kitab Bulûghul Marâm untuk anaknya. Dan ternyata kitab itu, tidak hanya bermanfa’at untuk anak Ibnu Hajar saja, melainkan untuk kaum muslimin, bahkan kitab itu menjadi buku pegangan di berbagai pesantren di Indonesia. Dari 3 paradigma itu, Udo melangkah. Didukung pula oleh realitas —baik tingkat internasional, nasional, maupun lokal (Masisir)— menurut Udo, umat Islam terjangkit penyakit Al-‘Ajzi, ketidakberdayaan. Ada kemauan, namun tidak mampu. Di tingkat internasional, kita tidak berdaya melawan konspirasi yang mendiskreditkan umat Islam. Di tingkat nasional juga tak jauh berbeda. Teman-teman kita yang cenderung ke Barat, ke Sekuler juga cenderung mendiskreditkan Islam. Contoh terbaru, kasus FPI-AKKBB, umat Islam sulit bicara dan giliran bicara, selalu emosional. “Dan tingkat lokal, itu ada pada kita. Lihat aja milis PMIK. Teman-teman punya semangat membela Islam, tapi untuk mengartikulasikan dengan gaya bahasa sopan, mereka tak terlatih untuk menulis,” imbuhnya. Kaitannya dengan Masisir, belum hilang dalam ingatan kita dua agenda besar (Urun Rembug dan Lokakarya). Dalam 48 butir rekomendasi Lokakarya, ada dua butir yang berhubungan dengan dunia tulis menulis.(butir ke-5 dan ke-10). Udo menuturkan, “Bagi saya, kita tak hanya menunggu follow up Lokakarya. Itu mental yang harus kita ubah. Seharusnya kita bertanya, apa yang bisa kita lakukan untuk merealisasikan hasil lokakarya? Makanya, kita ingin menterjemahkan semua itu. Dan Word Smart Center, berusaha menjadi salah satu solusi dari sekian banyak persoalan Masisir.” Udo menceritakan, ide besar ini terlintas sejak kakinya menginjak Mesir 7 tahun lalu. Ide tersebut Udo obrolkan ke kawan-kawan. Namun mereka enggan menjadi pioner. “Saya sudah tawarkan di FLP sejak masa Indra Gunawan hingga Arif Friyadi, agar membentuk kelompok-kelompok kecil: ada kelompok cerpen, kelompok novel, kelompok esai, dan seterusnya. Namun entah mengapa, itu belum terealisasi juga. Makanya, saya coba merealisasikannya. Mudah-mudahan, teman-teman di FLP dan yang lainnya, tergerak. Dengan bismilah, kami melangkah!” tandasnya. Bahkan hal itu, Udo kemukakan kepada para alumni Masisir yang mengabdi lewat dunia perbukuan dan penerbitan, tapi sejauh ini belum ada tanggapan. Udo juga membantu karya Masisir terbit di Indonesia. “Saya sudah mendukung kawan-kawan, eh, malahan mereka terkatung-katung oleh alumni Masisir sendiri. Sebab alumni kita, bukan pemegang kebijakan di penerbit.” ujarnya. “Sederhana saja: jangan sampai kita kerja karena terpaksa. Kalau mau kerja di penerbit, siapkan dari sini sehinga bisa bargaining dan bersaing dengan yang lain di Indonesia!” Dalam berbagai kesempatan, Udo sering mengopinikan agar ada lembaga yang menghubungkan Masisir dengan praktisi perbukuan di Indonesia. Misalnya, Januari 2007 lalu, beberapa penerbit tergabung dalam IKAPI ke Mesir. “Dalam acara pertemuan di KPMJB, saya tawarkan ide ini, ternyata udah mau Januari lagi, belum ada action.” ceritanya. “Dengan niat lillâh, membentuk Word Smart Center. Dari sinilah, mudah-mudahan, ikatan alumni Masisir, lintas periode dan tempat, terbentuk tingkat nasional di Indonesia.” Lewat WSC, Udo menggedor Masisir. Lembaga yang bervisikan “Membangun Indonersia Lewat Gerakan Literasi dan Dunia Perbukuan” itu didirikan untuk menghubungkan para pecinta buku. Siapa pecinta buku? Ada 5 kelompok: pembuat naskah (penulis, pengarang, penerjemah), pengelola naskah (penerbit dan percetakan), distributor, toko buku dan pembaca. “Yang jago nulis, distribusi, desainer, ayo gabung ke sini. Kita bangun kekuatan. Ada dua hal yang kita jawab: kebutuhan Masisir tentang dunia tulis menulis dan peluang kerja dalam mengabdi kepada bangsa. Sesuai dengan motto WSC conneting book lover, menghubungkan para pecinta buku, saya yakin, jika saling bahu-membahu sejak di Mesir, maka akan mudah dalam membangun bangsa.” katanya. Dalam tahap awal, WSC terfokus pada: menyiapkan SDM, mematangkan konsep, dan program Sekolah Menulis SMART sebagai kaderisasi. Sekolah ini, ada 3 jenjang (dasar, tengah dan atas) selama 8 pertemuan dalam 2 bulan. Tingkat dasar, siswa (perkelas 20 siswa) diharapkan mampu memetakan aneka ragam tulisan. Targetnya, tiap kelas memiliki satu karya. Tingkat tengah, siswa dibagi beberapa tim. Targetnya mengetahui kecenderungan masing-masing (jurnalis, novelis dll) dan tiap tim membuat satu buku. Tingkat atas, targetnya tiap siswa menulis satu buku. “Untuk itu kita butuh mentor. Mentor utamanya saya, asistennya Rashid Satari dan Teguh Hudaya. Adapun mentor tamu, kita datangkan orang yang sesuai keahliannya.” imbuhnya. “Bila 1 tahun ada 100 siswa, 10 tahun ada 1000 siswa. Jika 10 persen saja, atau 100 orang yang jadi penulis sekaliber Kang Abik, bayangkan apa yang terjadi di Indonesia?” Target utamanya, dalam 2018, WSC memiliki sekolah menulis yang berfokus ke pesantren, memiliki penerbit World Smart Media, memiliki distributor sendiri, memiliki toko buku sekaligus taman baca. “Mumpung saya belum pulang, masih memungkinkan komunikasi dengan banyak kawan berbagai propinsi di sini,” tambahnya. Tangan Udo dkk sangat kecil mewujudkan rencana besar itu. Perlu tangan yang lainnya, agar Word Smart Center menjadi kado Masisir untuk bangsa. [ë] ====================================
Tulisan ini adalah hasil wawancara reporter buletin TROBOSAN dan pernah dimuat pada edisi lalu. Smoga bermanfa'at.
Oleh: Udo Yamin Majdi “Udo, apa saja modal dasar kita untuk menjadi penulis profesional?” tanya seorang peserta, saat saya mengisi pelatihan jurnalistik di sebuah organisasi mahasiswa Indonesia Mesir. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, tentu saja membuat saya harus berpikir keras. Waktu itu, tiba-tiba di benak saya muncul sebuah jawaban singkat, bahwa modal tersebut cuma satu, yaitu membiasakan diri menulis. Bagi Anda, mungkin jawaban saya ini, terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Tentu saja tidak! Sebab, dari sana muncul lagi sebuah pertanyaan, apa itu kebiasaan? Dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People (Bina rupa, 1997), Stephen R. Covey mengatakan bahwa kebisaan adalah titik pertemuan dari pengetahuan (apa dan mengapa), keterampilan (bagaimana), dan keinginan (untuk apa). Dari teori Covey inilah, saya akhirnya bisa menjelaskan secara panjang lebar tentang tiga modal dasar menjadi seorang penulis profesional ini: motivasi menulis (writing motivation), pengetahuan menulis (writing knowladge), dan keterampilan menulis (writing skill). Dalam kesempatan lain, panitia pelatihan menulis sebuah organisasi mahasiswa Indonesia Mesir yang lain menelpon saya. Ia meminta saya untuk menjadi pemateri. Saya terima, meskipun pemintaan itu mendadak. Kalau hanya sekedar berbagi pengalaman menulis, itu tidak masalah bagi saya. Namun, setelah surat permohonan dan tentatif acara saya terima, ternyata temanya terlalu berat bagi saya. Mereka meminta saya menyampaikan bagaimana caranya menjadi penulis profesional.
Wallâhu a'lâm, apa yang ada dalam benak panitia, mengenai makna "penulis profesional" . Apakah yang mereka maksud adalah penulis yang melahirkan karya yang bermutu dan berkualitas, atau penulis yang menjadikan dunia menulis sebagai profesi? Dan yang saya fahami, penulis profesinal adalah makna yang kedua. Dan inilah yang membuat saya agak berat, karena saya belum memiliki pengalaman banyak menjadikan kepenulisan sebagai profesi. Selama ini saya menulis, selain masih dalam tahap menyalurkan hobi dan mengembangkan bakat terpendam, saya jadikan menulis sebagai sarana untuk berbagi ilmu kepada siapa saja. Walaupun agak berat, saya tetap menerima tema itu. Saya anggap ini adalah tantangan sekaligus sebagai langkah awal bagi saya untuk merumuskan kiat sukses menjadi penulis profesional. Ya, saya memang bermimpi, suatu saat nanti, mudah-mudahan saya menjadi penulis profesional yang saya maksud. Amîn. Kisah yang ketiga adalah saat saya ikut di sebuah milis kepenulisan. Dalam milis tersebut, ada diskusi panjang, bahkan sampai berdebat, untuk menjawab pertanyaan ini: “apa dan siapakah penulis sukses itu?” Masing-masing peserta milis, mengemukakan pendapat yang berbeda-beda, bahkan berseberangan. Diskusi dalam milis itu, mengingatkan saya akan sebuah buku. Judulnya, Bagaimana Menjadi Penulis Yang Sukses (Sinar Baru, tt.). Dalam buku ini, sang penyusun sekaligus penerjemah, Wilson Nadeak, menjelaskan panjang lebar bahwa makna “penulis sukses” di kalangan para penulis dan pengarang Baratpun, tidak ada kata sepakat, satu sama lainnya berbeda dalam mendefinisikan dan dalam memberikannya standar kesuksesan.
Dari tiga cerita saya itu, mungkin Anda bertanya-tanya: apa itu profesional? ; siapa itu penulis profesional? ; apa itu sukses?; siapa itu penulis sukses?; bagaimana caranya agar menjadi penulis profesional dan sukses? Temukan jawabannya di sini: Sekolah Menulis SMART! Segerakan daftarkan diri Anda menjadi peserta! Saat ini yang telah mendaftar sebanyak 54 orang.
============ ========= ========= ========= ========= ========= ============ ========= ========= ========= ========= ========= == "SEKOLAH MENULIS SMART (Sistim Menulis Asik, Reguler, dan Terpadu)" - ASIK. Tempat belajar in door dan out door gabungan dari metode Quantum Learning dan strategi pembelajaran Partisipatori;
- REGULER.. Masa belajar 2 bulan, belajar seminggu sekali (8 pertemuan: 4 Agustus s/d 28 September 2008);
- TERPADU. Kurikulum perpaduan dari: motivasi kepenulisan (Writing Motivation), pengetahuan kepenulisan (Writing Knowlage) baik fiksi maupun non-fiksi, dan keterampilan kepenulisan (Writing Skill). Materi mencakup fiksi dan non-Fiksi. Lebih banyak praktek, bahkan selesai pembelajaran langsung menggarap proyek buku untuk diterbitkan di Indonesia.
SIAPA MENTORNYA? - Mentor Utama, Udo Yamin Majdi, mantan Ketua 1 FLP Mesir 2002-2003, Direktur Community of Self-Research and Development 2005-sekarang, Ketua Umum Perwakilan Sekolah Kehidupan Mesir 2007-sekarang, Direktur Utama Word Smart Center Cairo, meraih Trobosan Award sebagai penulis dan pegiat sastra terbaik, juara dalam beberapa lomba menulis, diantaranya: Juara 1 Lomba Karya Tulis Populer KBRI, Juara 1 Jaizah Prof Dr. Bachtiar Aly, MA., Juara 1 Lomba buletin Manggala KPMJB, dan penulis beberapa buku, diantaranya: Bara Musa di Taman Terpasung, Kidung Cinta di Taman Surga, Seperti akan datang Kematian, Persembahan Cinta, Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran, dan yang lainnya.
- Mentor Asisten 1, Rashid Satari, Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Republik Arab Mesir 2006-sekarang, Ketua Komisi Pengawas Lembaga Dana Abadi Umat (LDAU) Perwakilan Persatuan Islam Mesir, 2008-2009, perwakilan imprint Hikmah penerbit Mizan, dan penulis freelance di beberapa media massa, diantaranya Harian Umum Republika.
- Mentor Asisten 2, Teguh Hudaya, Mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir, Sekretaris Eska Mesir 2007-sekarang, dan cerpenis Masisir.
- Mentor Tamu, para penulis, pengarang, jurnalis, wartawan, penerjemah, dan praktisi perbukuan, baik dari Masisir maupun dari Indonesia.
DAPAT FASILITAS APA? 1. Sertifikat 2. Modul dan buku panduan: - MENJADI PENULIS PROFESIONAL: Tiga Modal Dasar dan Sepuluh Kiat Menjadi Penulis Sukses;
- THE BEST STORY: Fiqh Menulis Sastra Islami;
- JOURNALIST or FREELANCE WRITER: Teknik Menulis Berita, Feature, Opini, Kolom, Esai, dan Tulisan Ilmiah Populer;
- MEMBUAT KARYA TULIS ILMIAH ITU GAMPANG!: Panduan Penulisan Makalah dan Artikel Ilmiah;
- AKU MENULIS, AKU ABADI: Kiat Sukses Menulis dan Menerbitkan Buku
- SMART BLOGGER: Kiat-kiat Menulis di Website & Blog
APA SAJA SYARATNYA? 1. Mengisi formulir; 2. Pas Foto ukuran 2x3 sebanyak 3 lembar; 3. Biaya registrasi 40 Pound/orang; 4. Peserta terbatas maksimal 60 orang (tiga kelas) DI MANA DAN KAPAN PENDAFTARANNYA?
- Lewat Telp/Hp 24484236/0100380728 (Ami Rahmawati) 2244837 (Agus Solahudin) bisa telpon langsung, atau kirim SMS dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
- Lewat e-mail eska_mesir@yahoo. com/wordsmartcen ter@yahoo. com dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
- Lewat Restoran SEHATI : Mahattoh Mutsallats Nasr City Cairo
Waktu pendaftan : 1 s/d 31 Juli 2008 Registrasi ulang : 2 Agustus 2008 di Pasangrahan KPMJB bersamaan dengan acara “TALK SHOW KEPENULISAN: Mencerdaskan Indonesia Lewat Budaya Literasi dan Dunia Perbukuan” bersama Tokoh & Praktisi Perbukuan Masisir.
Acara ini terselenggara atas kerjasama antara PERWAKILAN SEKOLAH KEHIDUPAN MESIR dengan WORD SMART CENTER CAIRO
Oleh: Udo Yamin Majdi Ide itu ibarat benih. Sedangkan otak kita bagaikan tanah. Di ladang otaklah, selama ini kita “bercocok ide”. Sama halnya dengan bercocok tanam, “bercocok ide” juga punya tahap-tahapan agar dari satu benih ide, tumbuh menjadi tujuh tangkai gagasan dan dari satu tangkai gagasan memiliki seratus butir pemikiran atau wacana. Lantas, apa saja tahapan —agar dari satu butir gagasan menjadi tujuh ratus wacana— itu? Pertama, tahap mengolah “ladang otak”. Para petani, sebelum bercocok tanam, biasanya mereka mengolah tanah. Kalau di sawah, kita kenal dengan mencangkul. Ini sebagai langkah awal, agar benih padi yang akan mereka tanam nanti, tumbuh dengan mudah. Begitu pula halnya dengan bercocok ide. Sebelum kita menaburkan benih ide, sebaiknya kita mengolah ladang otak kita. Ladang otak yang kita maksud adalah cara kita menyerap informasi dan cara kita mengatur informasi tersebut. Atau —kita meminjam istilah Bobbi De Porter dan Mike Hernacki— modalitas dan dominasi otak. Dan kombinasi dari keduanya, kita sebut dengan gaya belajar. Dalam buku Quantum Learning, beliau berdua menjelaskan bahwa modalitas kita terbagi menjadi tiga: 1) visual, yaitu belajar dengan cara melihat; 2) audio, yaitu belajar dengan cara mendengar; dan 3) kinestetik, yaitu belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. Selanjutnya, beliau berdua mengutip pendapat Anthony Gregore —profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticut— bahwa dominasi otak atau gaya berpikir kita terbagi menjadi empat: 1) sekuensial konkret; 2) sekuensial abstrak; 3) acak konkret; dan 4) acak abstak. Dengan memahami gaya belajar —modalitas dan dominasi otak— kita, maka kita akan lebih mudah menanam gagasan dalam otak kita, alias mudah mencerna informasi, sehingga menjadi sebuah gagasan. Selama ini, tidak sedikit yang stres dalam mencari ide, karena mereka tidak memahami gaya belajar mereka. Dapat kita bayangkan, apa yang terjadi ketika kita yang bermodalitas audio, tapi mencari ide dengan cara membaca buku? Oleh sebab itu, langkah awal untuk menangguk ide adalah kita harus memahami gaya belajar kita. Kalau gaya belajar kita lebih dominan visual, maka cara mendapatkan ide adalah banyak membaca, memperhatikan orang atau lingkungan di sekitar kita, atau kegiatan apapun yang membutuhkan penglihatan kita. Jika gaya belajar kita audio, langkah yang terbaik mencari ide adalah dengan cara wawancara, diskusi, atau kegiatan yang berhubungan dengan pendengaran. Dan manakala ternyata gaya belajar kita kinestetik, maka cara yang tepat menemukan ide adalah melakukan trial and error, investigasi, dan kegiatan yang membutuhkan pengalaman. Afwan, obrolan kita tentang kiat menulis, kita pending sampai di sini, adapun lima tahapan lagi: 2) tahap menabur “benih ide”; 3) tahap “memupuk dan mengobati gagasan”; 4) tahap “merawat wacana”, dan 5) tahap “menuai karya”, insya Allah, akan kita bahas tuntas pada Sekolah Menulis SMART. Makanya, cepat buruan daftar, mumpung masih ada 9 kursi kosong untuk peserta! (Yang sudah mendaftar sebanyak 51 orang)
============ ========= ========= ========= ========= ========= ======= "SEKOLAH MENULIS SMART (Sistim Menulis Asik, Reguler, dan Terpadu)" - ASIK. Tempat belajar in door dan out door gabungan dari metode Quantum Learning dan strategi pembelajaran Partisipatori;
- REGULER. Masa belajar 2 bulan, belajar seminggu sekali (8 pertemuan: 4 Agustus s/d 28 September 2008);
- TERPADU. Kurikulum perpaduan dari: motivasi kepenulisan (Writing Motivation), pengetahuan kepenulisan (Writing Knowlage) baik fiksi maupun non-fiksi, dan keterampilan kepenulisan (Writing Skill). Materi mencakup fiksi dan non-Fiksi. Lebih banyak praktek, bahkan selesai pembelajaran langsung menggarap proyek buku untuk diterbitkan di Indonesia.
SIAPA MENTORNYA? - Mentor Utama, Udo Yamin Majdi, Direktur Community of Self-Research and Development 2005-sekarang, Ketua Umum Perwakilan Sekolah Kehidupan Mesir 2007-sekarang, Direktur Utama Word Smart Center Cairo, meraih Trobosan Award sebagai penulis dan pegiat sastra terbaik, juara dalam beberapa lomba menulis, diantaranya: Juara 1 Lomba Karya Tulis Populer KBRI, Juara 1 Jaizah Prof Dr. Bachtiar Aly, MA., Juara 1 Lomba buletin Manggala KPMJB, dan penulis beberapa buku, diantaranya: Bara Musa di Taman Terpasung, Kidung Cinta di Taman Surga, Seperti akan datang Kematian, Persembahan Cinta, Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran, dan yang lainnya.
- Mentor Asisten 1, Rashid Satari, Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Republik Arab Mesir 2006-sekarang, Ketua Komisi Pengawas Lembaga Dana Abadi Umat (LDAU) Perwakilan Persatuan Islam Mesir, 2008-2009, perwakilan imprint Hikmah penerbit Mizan, dan penulis freelance di beberapa media massa, diantaranya Harian Umum Republika.
- Mentor Asisten 2, Teguh Hudaya, Mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir, Sekretaris Eska Mesir 2007-sekarang, dan cerpenis Masisir.
- Mentor Tamu, para penulis, pengarang, jurnalis, wartawan, penerjemah, dan praktisi perbukuan, baik dari Masisir maupun dari Indonesia.
DAPAT FASILITAS APA? 1. Sertifikat 2. Modul dan buku panduan: - MENJADI PENULIS PROFESIONAL: Tiga Modal Dasar dan Sepuluh Kiat Menjadi Penulis Sukses;
- THE BEST STORY: Fiqh Menulis Sastra Islami;
- JOURNALIST or FREELANCE WRITER: Teknik Menulis Berita, Feature, Opini, Kolom, Esai, dan Tulisan Ilmiah Populer;
- MEMBUAT KARYA TULIS ILMIAH ITU GAMPANG!: Panduan Penulisan Makalah dan Artikel Ilmiah;
- AKU MENULIS, AKU ABADI: Kiat Sukses Menulis dan Menerbitkan Buku
- SMART BLOGGER: Kiat-kiat Menulis di Website & Blog
APA SAJA SYARATNYA? 1. Mengisi formulir; 2. Pas Foto ukuran 2x3 sebanyak 3 lembar; 3. Biaya registrasi 40 Pound/orang; 4. Peserta terbatas maksimal 60 orang (tiga kelas) DI MANA DAN KAPAN PENDAFTARANNYA?
- Lewat Telp/Hp 24484236/0100380728 (Ami Rahmawati) 2244837 (Agus Solahudin) bisa telpon langsung, atau kirim SMS dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
- Lewat e-mail eska_mesir@yahoo. com/wordsmartcen ter@yahoo. com dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
- Lewat Restoran SEHATI : Mahattoh Mutsallats Nasr City Cairo
Waktu pendaftan : 1 s/d 31 Juli 2008 Registrasi ulang : 2 Agustus 2008 di Pasangrahan KPMJB bersamaan dengan acara “TALK SHOW KEPENULISAN: Mencerdaskan Indonesia Lewat Budaya Literasi dan Dunia Perbukuan” bersama Tokoh & Praktisi Perbukuan Masisir.
Acara ini terselenggara atas kerjasama antara PERWAKILAN SEKOLAH KEHIDUPAN MESIR dengan WORD SMART CENTER CAIRO
Assalamu'alaikum Wr Wb
Ini info tentang penipuan terhadap santri di sebuah pesantren di Indonesia dgn iming2 bisa kuliah di Al-Azhar padahal untuk dijadikan TKI. Semoga dengan kasus ini, masyarakat di Indonesia lebih berhati-hati lagi terhadap para CALO (mediator) GADUNGAN yang berusaha mencari keuntungan di balik nama besar Universitas Al-Azhar Cairo. Setidaknya, kalau ada anak, saudara, atau teman mau ke Mesir, bertanyalah kepada para mahasiswa yang sedang belajar di Mesir atau para alumni Mesir.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
==============================================================
KBRI Bongkar Pengiriman Calon Mahasiswa Ilegal ke Mesir Monday, 06.16.2008, 02:56pm (GMT)
No: PR-01/VI/2008/PENSOSBUD
KBRI CAIRO BONGKAR PENGIRIMAN CALON MAHASISWA SECARA ILEGAL KE MESIR
1. Setelah mendapatkan informasi dari beberapa pihak, KBRI Cairo pada 3 Juni 2008, melakukan pengecekan ke sebuah lokasi di pinggiran kota Cairo yang digunakan sebagai tempat penampungan calon mahasiswa illegal. Dalam pengecekan tersebut, akhirnya terkuak adanya pengiriman 39 (tiga puluh sembilan) mahasiswa illegal (22 santriwati, dan 17 santriwan) dari Pondok Pesantren Darul Qolam, Gintung, Propinsi Banten, Jawa Barat. Dari penelusuran lebih lanjut, diperoleh informasi, bersama rombongan tersebut terdapat 6 (enam) orang wanita (yang diperkirakan akan dipekerjakan sebagai TKW), dan 2 orang calo terdiri 1 laki-laki WN Indonesia (berinisial “OF”) dan 1 wanita WN Mesir (berinisial “N”). Bersama rombongan juga diketemukan surat rekomendasi dari Kanwil Departemen Agama Propinsi Banten, yang diduga palsu;
2. Dalam menjalankan aksinya, calo menggunakan modus operandi meminta uang 17 juta rupiah kepada setiap korban dengan janji akan diterima di Universitas Al Azhar tanpa test masuk, mendapatkan beasiswa bulanan sekitar US$ 50 hingga selesai kuliah di Al Azhar, serta mendapatkan orang tua asuh Mesir (muhsinin). Selain itu, mereka juga dijanjikan dapat bekerja di keluarga Mesir yang bertindak sebagai orang tua asuh tersebut. Mengingat pengiriman legal calon mahasiswa Indonesia ke Universitas Al Azhar Mesir harus melalui prosedur yang dikoordinir oleh Depag (Departemen Agama) RI, calo mengirimkan para korban melalui Malaysia, dengan menggunakan visa Mesir yang diperoleh dari Kedubes Mesir di Malaysia;
3. Terkait dengan hal ini, KBRI Cairo telah melakukan beberapa langkah kebijakan. KBRI Cairo telah memberikan bantuan dan perlindungan bagi korban yang ditelantarkan. Selain itu KBRI Cairo telah beberapa kali melakukan pertemuan, pembinaan dan motivasi bagi para korban, termasuk pertemuan terakhir pada Minggu (15 Juni 2008) yang juga dilakukan dalam rangka menjaring masukan dan keluhan dari para korban. Dalam pertemuan tersebut, seluruh korban sepakat untuk meminta bantuan KBRI Cairo untuk menyelesaikan kasus tersebut. KBRI Cairo, selain itu, juga telah melakukan koordinasi dengan aparat Mesir untuk menelusuri (mencari) 6 (enam) orang lainnya yang diperkirakan akan dipekerjakan sebagai TKW. KBRI Cairo masih dan akan terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menyelesaikan kasus ini, termasuk tindakan hukum bagi calo dan kebijakan bagi para korban;
4. KBRI Cairo juga telah melakukan penahanan paspor WNI, yang diduga calo, sambil menunggu lebih lanjut perkembangan kasus ini. Sementara bagi calo WN Mesir, KBRI Cairo juga telah melakukan koordinasi lebih lanjut untuk mengupayakan agar ybs tidak dapat melarikan diri ke luar Mesir, mengingat ybs bersuamikan WNI yang tinggal di Indonesia;
5. Sesuai dengan kebijakan Depag RI tahun 2006, pengiriman calon mahasiswa Indonesia ke Universitas Al Azhar harus dikoordinasikan melalui Depag setelah lulus dalam ujian (tes) yang diselenggarakan di Indonesia. Hal ini juga menjadi salah satu butir rekomendasi Lokakarya Dukungan Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia di Mesir, yang telah diselenggarakan 12-13 Mei 2008 di Cairo, Mesir, diikuti oleh berbagai stakeholders terkait dari Mesir dan Indonesia, termasuk perwakilan Pondok Pesantren Indonesia;
6. Selain itu, dalam bidang ketenagakerjaan, aturan yang berlaku di Mesir masih melarang penggunaan tenaga kerja non-Mesir pada sektor “unskilled labour” (termasuk sebagai pembantu rumah tangga). Berdasarkan data KBRI Cairo, diperkirakan masih terdapat ratusan TKI/TKW illegal di Mesir, yang masuk melalui Mesir dengan berbagai cara, termasuk melalui beberapa Negara lain terlebih dahulu;
7. Dubes RI Cairo, Abdurrahman Mohammad Fachir telah mengeluarkan instruksi untuk mengusut kasus ini hingga ke akar-akarnya melalui koordinasi erat dengan pihak-pihak terkait baik di Mesir, Malaysia maupun di Indonesia. Ditegaskannya bahwa kasus ini dapat dikategorikan sebagai human trafficking, salah satu kejahatan terorganisir lintas negara yang umumnya melibatkan sindikat kejahatan.
8. KBRI Cairo akan terus memberikan perhatian tidak saja bagi penanganan dan penyelesaian kasus tersebut tetapi juga kasus-kasus terkait lainnya dan perlindungan korban human trafficking. Informasi mengenai kasus-kasus ini dapat diperoleh melalui Counsellor Protkons (mobile: +20-123935432) dan Sek III Pensosbud (mobile: +20-123903618).
Cairo, 15 Juni 2008 pensosbud
Oleh: Udo Yamin MajdiDari sudut manapun, setiap kali aku memandang tingkah laku kedua anakku, seolah-olah aku melihat batu permata —semuanya berkilau dan cahayanya berlapis-lapis. Dulu, ketika mereka lahir, aku seolah-olah mendapatkan dunia beserta isinya. Pertama kali mereka tengkurap dan tangannya menggapai-gapai udara, aku begitu bahagia, seperti sedang menonton lomba renang kesukaanku. Saat baru merangkak, aku teriak-teriak tak ubah men-support para pelari mendekati garis finish. Sewaktu belajar berdiri, mereka bagaikan penari yang menghilangkan rasa penatku. Tatkala mereka bisa berjalan, aku pun mendapatkan semangat bahwa aku harus terus melangkah —sebab, sebesar apapun ujian dalam hidup ini, jika aku terus berjalan, insya Allah, di tengah jalan, aku akan banyak menemukan jalan (solusi).
Dan pagi tadi, bersamaan dengan kicauan burung di atas pohon dekat apartemenku, aku benar-benar merasakan bahwa anak-anak adalah "qurratu a'yun" [penyejuk mata]. Betapa tidak, di ruang tamu rumah, depan rak bukuku, kedua anakku —Aburrahman Vira El-Fatih dan Fathin Vira Rahima— duduk berdamping dan di hadapan mereka ada empat piring berisi nasi kuning buatan isteriku.
"Bunda", tanyaku heran saat keluar dari kamar, "ada apa nih?"
"Buya lupa ya, hari inikan Dedek Fathin, umurnya satu tahun!" jawab isteriku.
"Wah, dedek dengan gaun pink dan topi pink ini, kayak putri kerajaan aja!"
"Jelas dong, siapa dulu bundanya?"
"Yeee..., yang betul, siapa dulu buyanya!"
"Udah ah, mendingan buya foto dedek dan Aa!"
Aku pun beraksi seperti fotografer profesional. Aku suruh kedua anakku berakting, mulai dari depan Nasi Kuning, di atas motor, di atas jungkat-jangkit, dan seterusnya.
Selesai memotret kedua anakku, tiba-tiba berkelebat dalam benakku saat putriku lahir. Aku pun menonton kisah itu dalam layar di kepalaku.
* * *
15 JUNI 2007
"Buya", kata isteriku sewaktu menghampiriku di depan komputer, "boleh minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Pengen Nasi Pattaya!"
"Lho, bukannya di dapur masih banyak makanan?"
"Iya sih, tapi... dedek pengen Nasi Pattaya!" jawab isteriku sambil mengelus perutnya yang sedang hamil sembilan bulan. Mendengar alasan isteriku itu, aku langsung faham, bahwa aku harus memenuhinya, bila tidak, maka urusannya jadi panjang. Aku menelpon Teguh Hudaya —adik kelasku di pesantren dulu— yang sedang masak di Rumah Makan Az-Zahra di mahattoh Gami'.
Tidak berapa lama, Teguh datang ke rumah dengan Nasi Pattaya. Setelah Teguh pulang, isteriku langsung melahap nasi khas Thailand —semacam nasi goreng yang dibungkus dengan dadar telor— itu. Aku senang, sebab, selama hamil, isteriku sering malas makan.
Dalam hitungan menit, Nasi Pattaya itu ludes. Aku kembali menulis, sedangkan isteriku bermain dengan putraku.
Setengah jam kemudian isteriku berkata, "Buya, kok perut bunda sakit ya?"
"Mungkin gara-gara bunda terlalu banyak makan saus, atau karena kekenyangan!"
"Bukan..., sakitnya, kayak Aa mau lahir dulu!"
"Masa sih?"
"Iya, frekuensi sakitnya semakin cepat nih!"
Aku kembali meraih Hp. Aku telpon dr. Aidha. Aku ceritakan rasa sakit isteriku. Mendengar keteranganku, beliau memintaku segera datang ke rumah sakit.
Aku telpon Fauzi, adik kelasku yang sering jadi sopir dan guide tamu-tamu dari Indonesia untuk mencari mobil rental. Aku nelpon teman dekatku Arif Rahman Hakim yang menikahi adik kelasku Sarah Abdurrahmah. Mereka tinggal di Rab'ah El-'Adaweyah. Aku minta mereka datang ke rumah di Nasr City. Aku telpon adik kelasku dan temanku yang lain, Uci Supiani dan Herdi Nurmuharram.
Tidak sampai 30 menit, mereka semua sudah ada di rumahku. Setelah kami sholat Asar, kami turun dari flatku yang berada di lantai lima. Aku menuntun isteriku. Arif membawa barang-barang —pakaian isteri dan anakku yang akan lahir— yang telah aku persiapan seminggu yang lalu. Sarah membawa anaknya, Dzakwan. Uci dan Herdi membawa kebutuhan kami yang lain.
Di bawah apartemen, mobil sedan merah sudah menunggu. Fauzi memberitahuku bahwa mobil hanya muat untuk lima orang. Akhirnya, aku, isteriku, anakku, Sarah, Dzakwan, dan Uci, berangkat bersama Fauzi. Sedangkan Arif dan Herdi menyusul lewat mobil umum.
Selama dalam perjalanan, isteriku merintih sembari memegang perutnya. Dari kaca spion, aku lihat wajahnya sedang menahan rasa sakit. Aku mencoba menangkan hati dengan memeluk anak tertuaku.
Kami sampai di Rumah Sakit El-Rahmah milik Jam'iyah Syar'iyyah. Fauzi langsung pulang, sebab ada yang akan memakai mobil. Aku ke loket resepsionis. Yang lain duduk di sofa ruang tunggu. Setelah registrasi, kami langsung ke kamar 302 di lantai tiga. Di dalam kamar itu, ternyata sudah ada dua pasien yang masuk terlebih dahulu. Ranjang antara satu pasien yang lainnya, hanya dibatasi dengan kain. Isteriku menempati ranjang dekat pintu dan dekat kamar mandi.
Adzan maghrib mengumandang. Aku dan teman-temanku sholat di mushalla lantai bawah. Selesai sholat, kami menunggu isteriku masuk ruang operasi —isteriku operasi caesar, sebab anak tertuaku operasi caesar dan jarak dengan adiknya hanya setahun tiga bulan.
Ba'da Isya, isteriku masuk ruang operasi di lantai dua. Aku tidak diperbolehkan masuk. Aku bergabung dengan beberapa tamu yang menunggu keluarganya sedang dioperasi. Awalnya, hatiku begitu tegar menunggu isteriku, namun karena diantara tamu itu ada yang menangis, tak urung membuatku ikut menangis. Aku khawatir, perjuangan antara hidup dan mati untuk melahirkan isteriku, berakhir dengan kematian. Maka aku tinggalkan tempat itu, dan aku bantu perjuangan isteri dengan sholat dan do'a di mushalla.
Dua jam kemudian, aku kembali. Aku duduk di kursi depan pintu. Selama menunggu, aku melakukan isi pesan yang tertempel di dinding depanku duduk. Pesan itu berbahasa Arab, dengan arti ini: "PERGUNAKAN DETIK-DETIK ANDA UNTUK MINTA AMPUN" Sambil beristighfar, aku mengirim SMS ke mertuaku, adik dan kakakku agar mereka memberitahu ortuku di Lampung. Tiba-tiba pintu terkuak. Seorang suster, memberitahuku, "Alhamdulilah, anak dan isteri Anda selamat!"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan, mari ikut saya untuk melihatnya!"
Dalam ruangan itu, ada beberapa kamar. Aku masuk sebuah kamar besar, aku tidak menemukan isteriku, tapi ada belasan bayi dalam inkubator. Suster itu memperlihatkan putriku. Aku menangis bahagia. Aku memberikan popok dan baju anakku.
Aku kemudian ke ruang tempat isteri melahirkan. Isteriku belum sadar. Sesekali dari mulutnya keluar suara seperti sedang menahan rasa sakit. Aku hanyut dalam lautan perasaan seorang ibu yang berjuang demi anaknya.
Menjelang pukul 24:00 malam, isteriku sadar dan kembali ke kamar di lantai tiga. Arif, Sarah, Dzakwan, Herdi, dan anakku, Fatih, pulang. Uci menemani isteriku di kamar. Sedangkan aku, setelah membantu isteriku membersihkan tubuhnya di kamar mandi, membawa anakku ke isteriku, memperdengarkan adzan dan iqomat serta do'a di dekat telingan anakku, aku langsung tidur di sofa panjang di ruang tunggu di lantai pertama.
16 JUNI 2007
Adzan Shubuh membangunkanku dari tidur. Aku berwudlu dan sholat berjama'ah bersama para tamu, dokter, dan pegawai rumah sakit. Dalam sujudku, aku mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran putriku.
Aku ke kamar isteriku. Aku lihat mereka sedang tidur pulas. Aku kembali ke ruang tamu. Setelah pintu gerbang rumah sakit dibuka, aku keluar mencari makanan untuk sarapan pagi.
Beberapa menit setelah kami sarapan, teman-teman isteriku dan ibu-ibu dari Bidang Kewanitaan PIP PKS Mesir, datang menjenguk. Aku keluar untuk menjawab telpon dan SMS dari teman-temanku yang mengucapkan selamat. Ternyata, dari beberapa orang yang aku kirim SMS, berita kelahiran putri sudah menyebar lewat SMS dan milis.
Ba'da Dhuhur, dokter Aidha datang dan membolehkan kami untuk pulang. Sebelum meninggalkan rumah sakit, aku menyelesaikan urusan administrasi sekaligus mengurus persyaratan untuk membuat akte kelahiran.
Ba'da Asar, temanku Wawan datang menjemput kami dengan mobil sedan. Kami pun pulang. Sesampai di rumah, adik-adik kelasku sudah berkumpul. Ada yang masak. Ada yang menyiapkan minuman. Ada yang membereskan rumah. Ada yang menyiapkan tempat tidur anak dan isteriku.
Sejak kami pulang, baik temanku maupun teman isteriku, berdatangan ke rumah untuk ikut bersama-sama merasakan kebahagiaan kami.
17 JUNI 2007
Pagi-pagi, aku ditemani adik kelasku yang lain, Rashid Satari —Ketua Umum PII Mesir 2006-2008— ke Rumah Sakit Jam'iyyah Syar'iyah di Hayyu Sadis. Sudah menjadi aturan di Mesir, setiap bayi yang lahir, harus dicek lagi ke rumah sakit di hari ketiga.
Sesampai di Hayyu Sadis, ternyata sedang direnovasi dan pindah ke daerah Al-Madzah. Akhirnya, kami kembali mencari taxi untuk ke Al-Madzah.
Rumah Sakit Al-Madzah, masih di bawah Jam'iyyah Sayr'iyyah. Dari segi fisik rumah sakit ini bagus, bersih, dan peralatan lengkap. Begitu juga dari segi pelayanannya, ramah dan bersahabat. Di ruang tamu, tertulis: "RUMAH SAKIT INI DIBANGUN DARI SHADAQOH UMAT DAN MELAYANI MASYARAKAT DENGAN GRATIS".
Setelah di-cek, kadar "sakit kuning" anakku tinggi dan harus dirawat selama tiga hari. Namun, setelah tiga hari kemudian aku datang, belum juga boleh dibawa pulang. Selama 15 hari, setiap hari Ahad dan Rabu, aku datang ke sana.
Minggu pertama, aku membesuk tidak bersama isteriku, sebab dia belum kuat jalan. Aku bersama teman-temanku. Dan selama minggu pertama ini, isteriku tabah berpisah dengan anak kami.
Namun memasuki minggu kedua, hampir tiap hari isteriku menangis karena rindu dengan anak kami. Makanya, setiap aku menjenguk anak kami, isteri dan anakku aku bawa ke sana. Tatkala kami melihat anak kami dalam inkubator, dengan berkaca-kaca isteriku berkata, "Buya, kasihan dedek, mendingan kita bawa pulang aja, atau bunda yang minap di sini!"
Aku mengerti perasaan isteriku. Aku sudah berusaha meminta putriku agar kami bawa pulang. Namun, pihak rumah sakit belum bisa memenuhi permintaan. Makanya, setiap keluar dari ruang inkubator, isteriku tidak mau pulang, malah duduk di ruang tamu dan ingin kembali melihat anak kami.
Selama seminggu kedua itu pula, setiapkali malam isteriku menggelar kasur kecil di sampingnya. Di atas kasur itu, isteriku meletakkan pakaian putri kami. Lalu, isteriku elus-elus, seolah-olah anak kami ada di sana. Kadang-kadang, isteriku mengajak baju dan celana putriku ngobrol. Bila aku dekati, isteriku berkata, "Buya, bunda rindu sama dedek, kasihan ya dedek sendirian diinkubator!"
Setelah itu isteriku menangis. Baru berhenti setelah aku ajak bicara. Sambil memeluk isteriku, aku berkata, "Bunda, serahkan dedek sama Allah saja, dan percayalah, apa yang terjadi, inilah yang terbaik bagi kita. Coba bayangkan, apa yang terjadi jika dedek bersama kita saat ini, bukankah suhu udara kemarin saja 41 derajat?"
Walaupun sebenarnya, saat berkata seperti itu, hati kecilku juga menangis, sebab khawatir terjadi apa-apa kepada anak kami. Akan tetapi, aku berusaha menyembunyikan perasaanku di depan isteriku.
* * *
"Buya ayo makan, kok malah melamun!" suara isteriku membuyarkan bayangan kenanganku bersama putriku setahun yang lalu.
"Buya bukan melamun, buya merasa bersyukur, setelah dedek masuk rumah sakit di Al-Madzah, alhamdulillah sampai detik ini senantiasa sehat!"
"Makanya, bunda buat Nasi Kuning ini, bukan mau Ultah, tapi hanya sekedar ucapan tasyakur atas nikmat Allah, diantara nikmat umur dedek satu tahun!"
Kami pun makan, tanpa ada acara apapun, tanpa nyanyian Happy Birthday, tanpa tiupan lilin, tanpa tepukan tangan, tanpa ada pesta, dan tanpa mengundang siapapun, melainkan hanya makan dengan nasi berwarna kuning, dadar telor diris kecil-kecil, gorengan kacang kedelai, potongan tomat, dan mentimun. Meskipun acara ini sangat sederhana, namun mampu menggetarkan hatiku dan membuatku bertanya, "SUDAHKAH AKU MENJADI BUYA YANG BAIK BAGI ANAK-ANAKKU?"
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu ceritakan sebagai ungkapan rasa syukur." (QS. Adh-Dhuha; 93:11)
* * *
Cairo, 15 Juni 2008
Cathar ini sebagai kado pada TASYAKURAN SATU TAHUN putriku; Fathin Vira Rahima.
Oleh: Udo Yamin Majdi “Saya sempat menangis ketika di Sungai Nil tak kutemukan Musa. Hanya Fir'aun dan Cleopatra yang masih bercerita di sepanjang Sungai Nil”. (Mohammad Fauzil Adhim, penulis Best Seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah) Aku silaturahmi ke rumah teman. Dia memberitahuku bahwa ada alumni Al-Azhar menulis buku baru. Dia memperlihatkan kepadaku, cover buku itu. Aku terkejut, melihat judul, cover, dan sinopsisnya. Mirip dengan Jakarta Undercover. “Kok bisa ya, ia menulis buku seperti ini?” Tanya batinku. Aku benar-benar heran. Apa manfa’atnya menulis tentang dunia selingkuh dan perzinaan? Lalu, di manakah ilmu keislaman yang mereka pelajari di bangku pesantren dan universitas Al-Azhar selama ini? Belum juga selesai rasa tak percayaku, tiba-tiba aku terkejut kembali melihat nama dan identitas pemberi endorsment. Di sampul belakang buku itu, tertulis: nama pena mirip dengan nama Habiburrahman El-Shirazy dan judul bukunya mirip dengan Ayat-Ayat Cinta. Akhirnya, aku melupakan buku latah Jakarta Undercover, malahan ingat novel yang latah Ayat-Ayat Cinta. Saat membaca komentar orang itu, aku teringat dengan cerita Kang Abik pada acara Sarasehan bersama Kru Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) di Wisma Nusantra Cairo. Dalam acara itu, Kang Abik menjelaskan bahwa yang menodai kebangkitan sastra dakwah atau sastra Islami, bukan orang lain, tapi mahasiswa universitas Al-Azhar Mesir sendiri. Kang Abik tidak menyebutkan nama orang itu. Selesai acara, aku dan teman-teman yang dulu pernah aktif di FLP Mesir kumpul. Dalam obrolan ini, karena aku penasaran dengan mahasiswa yang Kang Abik sebutkan dalam Sarasehan, maka aku bertanya. Setelah mendapatkan info dari Kang Abik, aku tidak merasa aneh, sebab orang itu, selama di Mesir, memang selalu berseberangan dengan pegiat sastra Islami. Bahkan dia menulis di republika dengan judul “Tidak Ada Sastra Islami”. Tentu saja sangat lucu, ketika 2003-2005 ia mengkritik habis-habisan sastra Islami, namun ketika Ayat-Ayat Cinta dari penulis yang ia tidak sukai booming, maka tahun kemaren ia, menulis novel dengan setting Cairo, peran tokoh sebagai mahasiswa Al-Azhar, dan simbol-simbol Timur Tengah —yang dulu dia kritik, mirip dengan novel Ayat-Ayat Cinta. Namun, tentu saja dari segi muatannya, sangat berbeda, sebab Kang Abik menulis untuk dakwah, sebaliknya, orang itu menulis bukan untuk dakwah. Selain itu, bedanya, Kang Abik berusaha meretas nuansa sastra baru dan berperan sebagai trend setter (sunnah hasanah), sedangkan orang itu —meminjam pengantar seorang sastrawan terhadap novel pertamanya— tidak ada hal yang baru, bahkan terkesan klise, hanya menghabiskan halaman tanpa makna. Dan ia, termasuk karnaval orang “latah” ingin cepat sukses di balik bayangan Ayat-Ayat Cinta. Sebenarnya, kalau ia menulis novel dengan warnanya sendiri, maka mungkin aku tidak akan mempermasalahkannya. Namun yang membuatku tergerak untuk menulis adalah karena ia —dan orang-orang sepertinya— ternyata suka “menjilat ludah mereka sendiri”. Mereka benci dan caci sastra Islami, namun setelah sastra Islami itu terbukti disukai banyak orang, eee... mereka tanpa rasa malu, mereka ikut-ikutan. Demi apakah itu? Apakah demi memperjuangkan sastra Islami? Tentu saja tidak! Sebab, dalam tulisannya, ia tidak setuju ada sastra Islami. “Membebaskan fungsi sastra”, tulisannya di koran republika, “dari pemahaman agama sastra islami berarti melepaskan kungkungan dalam sebuah bangunan struktur yang merujuk pada penafsiran tunggal dengan pagar agama. Bagaimanapun, sastra itu bermain dalam wilayah estetika. Bukan dalam wilyah idiologi. Dengan demikian, bangunan estetis yang terkonstruksi dalam sastra tidak perlu mengacu pada dogma yang berlaku di dalam agama karena sastra itu sendiri bermain dalam tataran hukum positivisme sama seperti agama. Jadi, sebenarnya sastra islami tak ada”. Bukankah sangat jelas bahwa mereka menulis tidak berangkat dari sebuah idiologi? Lantas apa yang menggerakkan mereka menulis meskipun harus mengekor kepada apa yang mereka caci? Silahkan tanya langsung kepada mereka! Aku hanya ingin mengatakan, meskipun sama-sama kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, maka belum tentu akan sama-sama memperjuangkan Al-Islam. Sama halnya dengan Fir’aun dan nabi Musa, walaupun mereka pernah satu rumah, makan, minum, dan tidur bersama, namun apa yang mereka perjuangkan tetap berbeda. Dan aku merasakan kesedihan Mas Fauzil Adhim, setiapkali ada alumni atau mahasiswa Al-Azhar yang menulis sesuatu yang bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mereka pelajari selama ini. Lebih sedih lagi, ketika yang mereka nodai sastra Islami dan teman mereka sendiri. Seharusnya mereka berusaha membantu agar sastra Islami tetap mesra di hati para pembaca, namun yang terjadi sebaliknya, justru mereka berusaha menceraikannya. Wallahu a’lam.
Udo Yamin Majdi
"Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak ada seorang disebut pahlawan, sebelum membuktikan keberaniannya." (Anis Matta, dalam buku MENCARI PAHLAWAN INDONESIA)
Dalam dua minggu ini, anakku —Abdurrahman Vira Al-Fatih— punya kebiasaan baru. Karena kami tinggal di sutuh (lantai akhir apartemen, maka tidak ada halaman, apalagi taman untuk bermain. Kalau anakku itu bosan main dalam rumah: naik motornya; naik "jungkat-jangkit"; main air di kamar mandi, dan seterusnya, maka ia keluar rumah dan main ke rumah tetangga —tetangga sebelah kanan teman-temanku sealmamater di pesantren, sedangkan tetangga sebelah kiri orang Mesir yang punya anak 2 perempuan. Ternyata setiap anakku keluar, ia tidak lagi ke rumah tetangga, melainkan naik ke atas atap rumah.
"Buyaaa...", teriak isteriku, "itu Aa naik tangga, suruh turun!" "Lho kok disuruh turun sih?" tanyaku. "Ntar jatuh, itu terlalu tinggi dan berbahaya!" "Ah gak, percayalah sama Aa, ia pasti bisa melakukannya dengan baik kok!"
Ternyata dugaanku benar. Tanpa bantuan kami, anak kami yang berumur dua tahun itu, bisa naik tangga besi kecil lurus ke atas dengan ketinggian dua kali lebih tinggi badanku; 3 meter lebih. Aku kaget, kok anakku itu bisa naik tangga itu, padahal anak yang lebih tua darinya, tidak bisa naik, bahkan isteriku saja, selama tiga tahun kami tinggal di flat ini, tidak berani naik ke tangga tersebut? Selain kaget, aku merasa bahagia, sebab anakku dari hari ke hari bisa menyelesaikan tugas perkembangan dirinya.
Sebagai orang tua, sebenarnya, aku merasakan apa yang dirasakan oleh istriku: rasa khawatir. Jika anakku itu jatuh, taruhannya adalah nyawa. Hanya saja perasaan itu, aku lawan dengan perasaan yakin. Aku yakin, anakku mampu meraih apa yang ia inginkan. Sengaja aku tidak melarangnya melakukan apapun, meskipun itu membahayakan, misalnya, ia memegang setrika; memainkan pisau; menyalakan korek api; dan sejenisnya.
Hal itu aku lakukan, sebab aku tidak mau "rasa ingin tahu" dan "keberanian mencoba", alias daya kreativitas anakku hilang. Yang aku fahami, anak 7 tahun harus kita perlakukan seperti raja: semua keinginannya kita penuhi; 7 tahun kedua, kita hadapi seperti prajurit: disiplin, harus ta'at aturan; dan 7 tahun ketiga kita posisikan sebagai teman atau patner; harus kita libatkan dalam mengambil keputusan dan menghargai setiap keputusannya. Makanya, aku selalu mendukung dan membantunya untuk melakukan sesuatu, meskipun itu sedikit berbahaya. Kuncinya cuma satu: selalu kita awasi.
Teman-temanku sering merasa aneh, melihat aku membiarkan anak-anakku membongkar buku-buku di rak dan melemparkannya di lantai sehingga rumah berubah seperti kapal pecah. Sengaja aku biarkan, sebab bila buku rusak atau robek, aku bisa beli lagi, tapi jika perasaan anakku terluka, maka tak ada satu pun toko yang menjual obatnya.
Cuma, aku tegas, jika anak tertuaku itu mengganggu adiknya —Fathin Vira Rahima, 11 bulan—, maka aku akan larang. Bila ia terlanjur membuat adiknya menangis, maka aku berkata, "Aa, gak boleh ganggu dedek, ayo minta ma'af!
Biasanya anakku itu akan menjulurkan tangannya untuk menyalami adiknya, lalu ia menciumnya. Sebaliknya, jika ia tidak mau, maka adiknya yang aku suruh "memberikan ma'af". Aku tuntun, putriku untuk menyalami kakaknya. Makanya, aku menegur isteriku, ketika berkata, "Awas lho Aa, kalau dedek udah gede, ia akan balas!"
"Bunda, gak boleh gitu. Itu artinya kita ngajar dendam. Sebaiknya, kita ajarkan tentang minta ma'af dan memberikan ma'af!"
Al-hamdulillah, isteriku mengerti dan mengikuti caraku merespon anak-anakku saat mereka berantem. Ini juga berlaku untuk orang lain. Manakala anakku menganggu anak lain, aku suruh seperti yang ia lakukan terhadap adiknya. Akan tetapi, jika anakku "diganggu", maka aku dukung ia untuk membela diri. Anak-anak Mesir kebanyakan kasar. Dan pernah mereka menggangu anakku, lalu anakku membela, dengan cara mendorong anak Mesir itu hingga jatuh dan menangis.
Lambat laun anakku mengerti, bahwa aku selalu mendukungnya untuk melakukan apa saja terhadap benda dan melarangnya terhadap manusia. Makanya, ia semakin berani menjelajahi alam sekitarnya, sebaliknya, mulai takut mengganggu adiknya. Wallahu a'lam, apakah anakku juga faham, dengan perkataan, "Nak, berani itu bukan berani ganggu adekmu, tapi berani adalah berani melakukan sesuatu dan siap dengan segala resikonya!"
Sebab, sampai saat anakku belum lancar bicara, hanya beberapa katanya. Namun ia mengerti apa yang kami bicarakan. Setiap hari, aku menanyakan mana hidung, telinga, mata, rambut, mulut, gigi, bibir, dan seterusnya. Al-hamdulillah, ia bisa menunjukannya satu persatu. Dan satu pertanyaan lagi yang sering aku ajukan adalah: "Nak, mana pahlawan?" Maka anakku itu akan menepuk dadanya. Mungkin ia berkata: "Akulah pahlawan itu!" Jadi wajar, jika aku membiarkan anakku naik tangga itu, sebab aku ingin ia menjadi pahlawan seperti namanya Vira [bahasa India, artinya pahlawan]. Amin ya rabb!
Oleh: Udo Yamin Majdi Bismillâh. Selama ini, karena saya tinggal di Mesir, maka buku yang saya baca lebih banyak buku berbahasa Arab. Dalam minggu ini, selain buku-buku akademis, hari-hari saya ditemani oleh buku “Sayyid Quthub: Al-Adîb an-Nâqid, wa ad-Dâ’iyah al-Mujâhid, wa al-Mufassir al-Râid. Buku terbitan Damaskus ini, ditulis oleh Sholah Abdul Fattah Al-Khalidy. Karena saya ikutan Sekolah Menulis Online [SMO] dan penyelenggaranya berada di Indonesia, maka saya meminjam buku milik FLP Mesir —dan dari teman— yang berbahasa Indonesia, agar saya bisa memahami struktur, gaya, diksi, dan cita rasa (zawwuq) bahasa Indonesia. Akhirnya, saya pinjam buku ini: FSQ: Memahami, Mengukur, dan Melejitkan Financial Spiritual Quotient untuk Keunggulan Diri, Perusahaan & Masyarakat karya Iman Supriyono, Catatan Hati Seorang Isteri karya Asma Nadia, Tuhan Jangan Tinggalkan Aku karya Pipiet Senja, Kumcer Kelopak Mawar Terakhir karya Irwan Kelana, dan Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Al-hamdulillâh, dalam tiga hari, lima buku itu, saya baca tamat. Terlalu panjang, jika saya ceritakan semua buku tersebut. Saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang buku terakhir: Sang Pemimpi. Bagaimana buku ini menurut saya? Untuk buku ini, saya angkat dua jempol tangan saya. Betapa tidak? Jika —salah satu— fungsi buku adalah menghibur, maka buku ini telah menghibur saya. Setidaknya, selama saya membaca buku itu, saya seperti orang gila. Sehingga ketika saya baca di atas bus, penumpang di sekitar saya menatap saya dengan pandangan aneh. Atau, saat saya baca dekat isteri dan dua anak saya, mereka jadi ikut tertawa: menertawakan saya, karena saya tertawa sendirian. Seperti buku sebelumnya —Laskar Pelangi, buku Sang Pemimpi ini, mampu mengajak saya untuk bernostalgia ketika saya seusia Arai dan Ikal. Sebab, apa yang Andrea Hirata ceritakan di Belitong, juga terjadi pada saya dan teman-teman saya di daerah pesisir Lampung Barat. Ditambah lagi, proses mereka menuju Univesite de Paris di Sarbonne, Prancis, mengingatkan perjalanan hidup saya hingga kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Kami memang sama-sama mendapat beasiswa. Hanya saja bedanya antara saya dan tokoh Sang Pemimpi —Ikal dan Arai— itu, saya ke Cairo, sedangkan mereka ke Sarbonne. Saya dapat beasiswa, karena semata-mata rahmat Allah Swt, sedangkan mereka memang orang pintar. Saya berawal dari "mimpi" dalam tidur, sedangkan mereka "impian" dalam kelas.
O iya, sedikit menyimpang dari obrolan kita, saya ceritakan tentang "mimpi" saya itu. selama enam tahun menjadi santri, saya tinggal di asrama putra pondok pesantren. Di sinilah pertama kali saya "melihat" Mesir. Dalam tidur saya, saya bermimpi sedang berada di Mesir. Saya anggap hal yang biasa.
|
|