Udo Yamin Majdi
"Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak ada seorang disebut pahlawan, sebelum membuktikan keberaniannya." (Anis Matta, dalam buku MENCARI PAHLAWAN INDONESIA)
Dalam dua minggu ini, anakku —Abdurrahman Vira Al-Fatih— punya kebiasaan baru. Karena kami tinggal di sutuh (lantai akhir apartemen, maka tidak ada halaman, apalagi taman untuk bermain. Kalau anakku itu bosan main dalam rumah: naik motornya; naik "jungkat-jangkit"; main air di kamar mandi, dan seterusnya, maka ia keluar rumah dan main ke rumah tetangga —tetangga sebelah kanan teman-temanku sealmamater di pesantren, sedangkan tetangga sebelah kiri orang Mesir yang punya anak 2 perempuan. Ternyata setiap anakku keluar, ia tidak lagi ke rumah tetangga, melainkan naik ke atas atap rumah.
"Buyaaa...", teriak isteriku, "itu Aa naik tangga, suruh turun!" "Lho kok disuruh turun sih?" tanyaku. "Ntar jatuh, itu terlalu tinggi dan berbahaya!" "Ah gak, percayalah sama Aa, ia pasti bisa melakukannya dengan baik kok!"
Ternyata dugaanku benar. Tanpa bantuan kami, anak kami yang berumur dua tahun itu, bisa naik tangga besi kecil lurus ke atas dengan ketinggian dua kali lebih tinggi badanku; 3 meter lebih. Aku kaget, kok anakku itu bisa naik tangga itu, padahal anak yang lebih tua darinya, tidak bisa naik, bahkan isteriku saja, selama tiga tahun kami tinggal di flat ini, tidak berani naik ke tangga tersebut? Selain kaget, aku merasa bahagia, sebab anakku dari hari ke hari bisa menyelesaikan tugas perkembangan dirinya.
Sebagai orang tua, sebenarnya, aku merasakan apa yang dirasakan oleh istriku: rasa khawatir. Jika anakku itu jatuh, taruhannya adalah nyawa. Hanya saja perasaan itu, aku lawan dengan perasaan yakin. Aku yakin, anakku mampu meraih apa yang ia inginkan. Sengaja aku tidak melarangnya melakukan apapun, meskipun itu membahayakan, misalnya, ia memegang setrika; memainkan pisau; menyalakan korek api; dan sejenisnya.
Hal itu aku lakukan, sebab aku tidak mau "rasa ingin tahu" dan "keberanian mencoba", alias daya kreativitas anakku hilang. Yang aku fahami, anak 7 tahun harus kita perlakukan seperti raja: semua keinginannya kita penuhi; 7 tahun kedua, kita hadapi seperti prajurit: disiplin, harus ta'at aturan; dan 7 tahun ketiga kita posisikan sebagai teman atau patner; harus kita libatkan dalam mengambil keputusan dan menghargai setiap keputusannya. Makanya, aku selalu mendukung dan membantunya untuk melakukan sesuatu, meskipun itu sedikit berbahaya. Kuncinya cuma satu: selalu kita awasi.
Teman-temanku sering merasa aneh, melihat aku membiarkan anak-anakku membongkar buku-buku di rak dan melemparkannya di lantai sehingga rumah berubah seperti kapal pecah. Sengaja aku biarkan, sebab bila buku rusak atau robek, aku bisa beli lagi, tapi jika perasaan anakku terluka, maka tak ada satu pun toko yang menjual obatnya.
Cuma, aku tegas, jika anak tertuaku itu mengganggu adiknya —Fathin Vira Rahima, 11 bulan—, maka aku akan larang. Bila ia terlanjur membuat adiknya menangis, maka aku berkata, "Aa, gak boleh ganggu dedek, ayo minta ma'af!
Biasanya anakku itu akan menjulurkan tangannya untuk menyalami adiknya, lalu ia menciumnya. Sebaliknya, jika ia tidak mau, maka adiknya yang aku suruh "memberikan ma'af". Aku tuntun, putriku untuk menyalami kakaknya. Makanya, aku menegur isteriku, ketika berkata, "Awas lho Aa, kalau dedek udah gede, ia akan balas!"
"Bunda, gak boleh gitu. Itu artinya kita ngajar dendam. Sebaiknya, kita ajarkan tentang minta ma'af dan memberikan ma'af!"
Al-hamdulillah, isteriku mengerti dan mengikuti caraku merespon anak-anakku saat mereka berantem. Ini juga berlaku untuk orang lain. Manakala anakku menganggu anak lain, aku suruh seperti yang ia lakukan terhadap adiknya. Akan tetapi, jika anakku "diganggu", maka aku dukung ia untuk membela diri. Anak-anak Mesir kebanyakan kasar. Dan pernah mereka menggangu anakku, lalu anakku membela, dengan cara mendorong anak Mesir itu hingga jatuh dan menangis.
Lambat laun anakku mengerti, bahwa aku selalu mendukungnya untuk melakukan apa saja terhadap benda dan melarangnya terhadap manusia. Makanya, ia semakin berani menjelajahi alam sekitarnya, sebaliknya, mulai takut mengganggu adiknya. Wallahu a'lam, apakah anakku juga faham, dengan perkataan, "Nak, berani itu bukan berani ganggu adekmu, tapi berani adalah berani melakukan sesuatu dan siap dengan segala resikonya!"
Sebab, sampai saat anakku belum lancar bicara, hanya beberapa katanya. Namun ia mengerti apa yang kami bicarakan. Setiap hari, aku menanyakan mana hidung, telinga, mata, rambut, mulut, gigi, bibir, dan seterusnya. Al-hamdulillah, ia bisa menunjukannya satu persatu. Dan satu pertanyaan lagi yang sering aku ajukan adalah: "Nak, mana pahlawan?" Maka anakku itu akan menepuk dadanya. Mungkin ia berkata: "Akulah pahlawan itu!" Jadi wajar, jika aku membiarkan anakku naik tangga itu, sebab aku ingin ia menjadi pahlawan seperti namanya Vira [bahasa India, artinya pahlawan]. Amin ya rabb!
 | Aamiin... Duh saya agak nggak yakin akan 'berani' membebaskan seperti itu nantinya :D. |
 | Bahasa India nggak ada lho, Udo. Bahasa nasional mereka bahasa Hindi. itu juga kosakatanya lebih banyak dari bahasa Urdu yg banyak serapan dari bahasa Parsi. Padahal Urdu bukan pengguna mayoritas di India yg malah pakai bahasa Tamil. Urdu dipakai di Pakistan.
Tapi, Vira berarti Pahlawan itu sebenarnya dari bahasa sanskrit yang oleh kita sering dibaca sansekerta.
|
 | hmm.. saya akan menjadi calon ayah. udo, saya terima kasih, setidaknya ini meninspirasi saya
|
 | Jazakallahu khairan ilmu yang snagat bermanfaat... |
 | Bahasa India nggak ada lho, Udo. Bahasa nasional mereka bahasa Hindi. itu juga kosakatanya lebih banyak dari bahasa Urdu yg banyak serapan dari bahasa Parsi. Padahal Urdu bukan pengguna mayoritas di India yg malah pakai bahasa Tamil. Urdu dipakai di Pakistan.
Tapi, Vira berarti Pahlawan itu sebenarnya dari bahasa sanskrit yang oleh kita sering dibaca sansekerta.
 Hehehe... setuju yg udo maksud adalah Hindi... bahkan di Mesir atau di negara berbahasa Arab, kata India gak ada, yag ada Hindi... udo juga selama ini menyakini "vira" adalah bahasa Sansekerta, sebab meskipun tertulis "VIRA"(V) namun cara bacanya "WIRA" (W) dan dalam bahasa Sunda, WIRA, atau bahasa Jawa, WIRO bermakna pahlawan laki2, sedangkan pahlawan perempuan disebut FERA... a'la kulli hal, makasih ilmunya, tadinya udo ingin nanya teman2 asal Hindi yang tinggal di bu'uts (Asrama Putra Universitas Al-Azhar), tapi susah masuk ke dalam.... eh ya, bisa udo tahu, dibuku apa bahwa VIRA itu bahasa Sansekerta? |
 | It's very nice to read. Bisa buat 'bekal' kalo punya anak nanti. Makasih Udo.... |
 | Aammiiin....Semoga Adek Pahlawan benar2 berjiwa Pahlawan.... |
 | wah.. memberikan maaf... kayanya agak kelewat nih bab ini ... dari 4 anak2 saya.. memang resistensi dalam maaf memaafkan terlihat sangat ektrim, maklum pola asuhnya beda-beda..hasilnya jadi beda juga yah..
terimakasih ustadz atas pencerahannya.. |
| |