Oleh: Udo Yamin Majdi “Saya sempat menangis ketika di Sungai Nil tak kutemukan Musa. Hanya Fir'aun dan Cleopatra yang masih bercerita di sepanjang Sungai Nil”. (Mohammad Fauzil Adhim, penulis Best Seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah) Aku silaturahmi ke rumah teman. Dia memberitahuku bahwa ada alumni Al-Azhar menulis buku baru. Dia memperlihatkan kepadaku, cover buku itu. Aku terkejut, melihat judul, cover, dan sinopsisnya. Mirip dengan Jakarta Undercover. “Kok bisa ya, ia menulis buku seperti ini?” Tanya batinku. Aku benar-benar heran. Apa manfa’atnya menulis tentang dunia selingkuh dan perzinaan? Lalu, di manakah ilmu keislaman yang mereka pelajari di bangku pesantren dan universitas Al-Azhar selama ini? Belum juga selesai rasa tak percayaku, tiba-tiba aku terkejut kembali melihat nama dan identitas pemberi endorsment. Di sampul belakang buku itu, tertulis: nama pena mirip dengan nama Habiburrahman El-Shirazy dan judul bukunya mirip dengan Ayat-Ayat Cinta. Akhirnya, aku melupakan buku latah Jakarta Undercover, malahan ingat novel yang latah Ayat-Ayat Cinta. Saat membaca komentar orang itu, aku teringat dengan cerita Kang Abik pada acara Sarasehan bersama Kru Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) di Wisma Nusantra Cairo. Dalam acara itu, Kang Abik menjelaskan bahwa yang menodai kebangkitan sastra dakwah atau sastra Islami, bukan orang lain, tapi mahasiswa universitas Al-Azhar Mesir sendiri. Kang Abik tidak menyebutkan nama orang itu. Selesai acara, aku dan teman-teman yang dulu pernah aktif di FLP Mesir kumpul. Dalam obrolan ini, karena aku penasaran dengan mahasiswa yang Kang Abik sebutkan dalam Sarasehan, maka aku bertanya. Setelah mendapatkan info dari Kang Abik, aku tidak merasa aneh, sebab orang itu, selama di Mesir, memang selalu berseberangan dengan pegiat sastra Islami. Bahkan dia menulis di republika dengan judul “Tidak Ada Sastra Islami”. Tentu saja sangat lucu, ketika 2003-2005 ia mengkritik habis-habisan sastra Islami, namun ketika Ayat-Ayat Cinta dari penulis yang ia tidak sukai booming, maka tahun kemaren ia, menulis novel dengan setting Cairo, peran tokoh sebagai mahasiswa Al-Azhar, dan simbol-simbol Timur Tengah —yang dulu dia kritik, mirip dengan novel Ayat-Ayat Cinta. Namun, tentu saja dari segi muatannya, sangat berbeda, sebab Kang Abik menulis untuk dakwah, sebaliknya, orang itu menulis bukan untuk dakwah. Selain itu, bedanya, Kang Abik berusaha meretas nuansa sastra baru dan berperan sebagai trend setter (sunnah hasanah), sedangkan orang itu —meminjam pengantar seorang sastrawan terhadap novel pertamanya— tidak ada hal yang baru, bahkan terkesan klise, hanya menghabiskan halaman tanpa makna. Dan ia, termasuk karnaval orang “latah” ingin cepat sukses di balik bayangan Ayat-Ayat Cinta. Sebenarnya, kalau ia menulis novel dengan warnanya sendiri, maka mungkin aku tidak akan mempermasalahkannya. Namun yang membuatku tergerak untuk menulis adalah karena ia —dan orang-orang sepertinya— ternyata suka “menjilat ludah mereka sendiri”. Mereka benci dan caci sastra Islami, namun setelah sastra Islami itu terbukti disukai banyak orang, eee... mereka tanpa rasa malu, mereka ikut-ikutan. Demi apakah itu? Apakah demi memperjuangkan sastra Islami? Tentu saja tidak! Sebab, dalam tulisannya, ia tidak setuju ada sastra Islami. “Membebaskan fungsi sastra”, tulisannya di koran republika, “dari pemahaman agama sastra islami berarti melepaskan kungkungan dalam sebuah bangunan struktur yang merujuk pada penafsiran tunggal dengan pagar agama. Bagaimanapun, sastra itu bermain dalam wilayah estetika. Bukan dalam wilyah idiologi. Dengan demikian, bangunan estetis yang terkonstruksi dalam sastra tidak perlu mengacu pada dogma yang berlaku di dalam agama karena sastra itu sendiri bermain dalam tataran hukum positivisme sama seperti agama. Jadi, sebenarnya sastra islami tak ada”. Bukankah sangat jelas bahwa mereka menulis tidak berangkat dari sebuah idiologi? Lantas apa yang menggerakkan mereka menulis meskipun harus mengekor kepada apa yang mereka caci? Silahkan tanya langsung kepada mereka! Aku hanya ingin mengatakan, meskipun sama-sama kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, maka belum tentu akan sama-sama memperjuangkan Al-Islam. Sama halnya dengan Fir’aun dan nabi Musa, walaupun mereka pernah satu rumah, makan, minum, dan tidur bersama, namun apa yang mereka perjuangkan tetap berbeda. Dan aku merasakan kesedihan Mas Fauzil Adhim, setiapkali ada alumni atau mahasiswa Al-Azhar yang menulis sesuatu yang bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mereka pelajari selama ini. Lebih sedih lagi, ketika yang mereka nodai sastra Islami dan teman mereka sendiri. Seharusnya mereka berusaha membantu agar sastra Islami tetap mesra di hati para pembaca, namun yang terjadi sebaliknya, justru mereka berusaha menceraikannya. Wallahu a’lam.
 | hmm baru tahu neh ustadz... judul novelnya apa ya.. kalo boleh tahu? orang masih ada di sini? |
 | Apa judul bukunya? Dan sudahkah beredar?
|
 | betul sekali, tahun 2003, tema ini sempat menghangat di milis kita, FLP |
 | Astaqfirloh sampai segitunya ya,
|
 | *Penasaran..* Ayo rapatkan barisan.. |
 | ya, inilah kenyataan, tapi justru ini yang membuat udo semakin semangat menulis dan mengajak teman2 Al-Azhar untuk menjawab tulisan2 mereka dengan karya bermutu, minta do'anya, mudah2an Allah membantu kami  Insya Alloh kami do'akan,,Mudah2an Alloh memberikan kekuatan,kesabaran dan kemenangan,,Amin,,,,,,,,,,KEMENANGAN PASTI AKAN MENANG, INSYA ALLOH,,
Kang udo titip salam ya buat de ami "Assalamualikum wr wb" semuga nur kasih Ilahi senantiasa menyinari langkah de ami dan keluarganya, Amin, salam, |
 | insya Allah, akan udo sampaikan, dalam tiga minggu ini, Ami konsentrasi ujian, alhamdulillah kemaren udah selesai  Alhamdulillah,,jadi ikut seneng kang,,mudah2an cepet sukses,, |
 | Tidak ada sebuah karya sastra pun yang tidak memiliki tendenz (tendensi/maksud), termasuk ideologi. Sesamar apa pun dia, pasti ada. Karya sastra itu tidak berpijak pada dunia khayal semata, tetapi lahir dari realitas budaya dan pemikiran (ideologi). Makanya, orang-orang yang memusuhi Islam (dalam ranah apa pun) ingin menanggalkan jubah keislaman dari sastra islami agar jubah keislaman itu hilang, tetapi di satu sisi mereka malah memakai jubah identitas mereka sendiri. Jadi, mereka seperti orang munafik. |
 | Betul. Baju mungkin sama, tapi semangat berbeda. |
 | Yang kemarin Udo sentil di blog seorang kawan MP itu ya... |
 | Iya betul, emang banyak orang2 seperti itu Udo, bkan cuma di lingkungan sastra aja. Yang "menghancurkan" Islam di Indonesia adalah disebabkan umat islamnya sendiri, yg mengKABURkan ajaran islam itu sendiri. Mereka mengaku Islam, tapi kalo diajak memperjuangkan akidah islam, mereka akan serta merta ketakutan dan kita akan justru balik dituduh "Fundamentalis". Masya ALLAH ... |
 | yup2x... semoga saya bisa menjadi bagian dari barisan sastrawan Islam ^_^ *meskipun saya belum pernah kuliah di Al Azhar :D |
 | Begitulah, orang yang sudah kehilangan jati diri latah ketika ada sesuatu yang booming, dan tentu saja mereka akan menjilat kembali ludahnya.. Naudzubillahimindzalik... |
 | Kang Udo, sepertinya saya sering lihat cover 'novel' yang antum maksud itu. BBC kan? Nama penulisnya pun mirip. Ada 'el-shirazy'. Tapi, dari covernya saja saya tidak tertarik. Terkesan klise. Garing banget kan? Banyak cover2 sekarang yang 'membebek' kesuksesan AAC. |
 | hmmm baru tahu nih..thanks infonya ya Udo.. pengen tau judul novelnya supaya gak salah beli nih |
 | kalau saya sudah baca baru deh saya komentarin isinya.. tapi menurut saya, untuk menambah khazanah, ya biarin saja.. kenyataan bahwa perzinahan dan perselingkuhan perlu diangkat untuk membuka mata kita juga, bahwa pada realitasnya itu yg terjadi, say jadi ingat bukunya Tariq Ali.. yang berjudul sultan salahuddin.. isinya juga banyak soal perselingkuhan .. |
 | yup2x... semoga saya bisa menjadi bagian dari barisan sastrawan Islam ^_^ *meskipun saya belum pernah kuliah di Al Azhar :D  amiiin, yup memang sastra Islami itu bukan hanya milik mahasiswa Al-Azhar saja, tapi milik siapa saja yang peduli terhadap ajaran Islam. Cuma selama ini, yang sering dimunculkan oleh orang-orang yang tidak suka terhadap sastra Islam adalah para pengusung sastra Islam hanyalah orang-orang punya semangat tinggi membela Islam, namun ilmu keislaman mereka minim, sebab latar belakang pendidikan mereka di umum, bukan di pesantren atau perguruan tinggi Islam. Makanya, salah satu alasan, saya dan Kang Abik bergabung dengan FLP, ingin membuktikan bahwa para pengusung sastra Islam itu bukan hanya punya semangat saja, tapi memang mereka faham, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam |
Comment deleted at the request of the author.
 | tapi menurut saya, untuk menambah khazanah, ya biarin saja..  kalau yang menulisnya bukan teman udo sesama AL-Azhar, mungkin udo tidak terlalu heran dgn karya2 seperti itu, cuma yg udo masalahnya adalah agar teman2 yg selama ini mempelajari Islam, setidaknya merasa malu, jika melahirkan karya yang jauh dari nilai-nilai Islam. Ditambah, udo mengkritiknya, karena dulu ia suka mengkritik sastra Islam, kalau ia memang tidak mengganggu kita, mungkin udo akan bilang "BIARIN AJA, MENDINGAN KITA JAWAB DENGAN KARYA KEBALIKANNYA!" |
 | Kang Udo, sepertinya saya sering lihat cover 'novel' yang antum maksud itu. BBC kan? Nama penulisnya pun mirip. Ada 'el-shirazy'. Tapi, dari covernya saja saya tidak tertarik. Terkesan klise. Garing banget kan? Banyak cover2 sekarang yang 'membebek' kesuksesan AAC.  hei KETUA KETIGA, apa khabarmu? Sibuk ngajar ya? Gimana, hadir gak di SILNAS FLP nanti? Yup, udo juga sering liat buku2 yg nama pengarangnya dan covernya seperti AAC, kalau isinya memang bagus tidak masalah, tapi kenyataan isinya tidak berbanding lurus dgn judul dan nama pengarang yang memakai nama "kemesir-mesiran", ada yg pakai "El-Mishry", ada "El-Azizy", dst
Eh ya, udah liat novel Indra Gunawan, alhamdulillah udah terbit, meskipun banyak teman2 yg kecewa juga karena dulu judulnya MAKAR SANG WAZIR, eee... sekarang berubah menjadi TAKDIR CINTA dan covernya seperti AAC, udo belum ktemu sama Indra, kok bisa berubah judul? |
 | Tenanglah Udo, tak usahlah risau. Kita tau ko, mana yang emas dan mana yang loyang. Dan seleksi alam membuktikan emas tetaplah emas dan imitasi akan kembali ke bentuknya semula walau di sepuh bagaimanapun juga.
Bukankah orang2 seperti ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad ? Makanya, untuk memisahkan mereka dari yang "murni", Allah memerintahkan Nabi untuk mengubah kiblat ke Masjidil Haram.
|
 | salam do.. makasi do infonya.. begitulah do, sekarang itu banyak yang menepuk air didalam talam, yang kena anak Cairo juga percikan-nya, padahal dia juga anak Cairo, menurut istilah melayu ini sama saja "setitik nila merusak air sebelanga" kalau boleh tau judul bukunya apa sih do? saya rasa penulis itu membuat faktor kemandulan dunia islam, bahkan dunia tulis menulis, bayangkan aja jika semua buku dicarut marut seperti itu, bisa menambah banyak fitnah, orang bisa menzinahi fikirannya sendiri, ketika orang membaca novelnya dan bisa beranganggapan bahwa zamannya dia di Cairo dan zamanya Habiburahman di Cairo berbeda, sehingga interpretasinya beda-beda. masih banyak lagi kemungkinan yang jelek akan timbul akibat ulah orang2 seperti itu, saya rasa dia gk ngerti sastra dan islam, sehingga sastra di anoni demi kenikmatan sendiri-sendiri, dan menjilat untung dari sastra orang lain, mungkin bahasa saya agak kasar buat orang yang mencoreng islam, tapi Wallahu 'alam saya sendiri belum lihat bukunya, kalau boleh tau apa judulnya do? plis deh do! hehehe.. saya juga jadi semngat pengen nulis do. tapi gk tau cara nulis kayanya harus belajar sama udo. :) ehehhe sekali lagi makasi infonya do. |
 | Ngga bisa kasi komentar.. Secara ngga begitu mendalam mengenai sastra. Tapi kadang memang kalo didalam hati masi ada sifat ria, ya jadinya begitulah... Merasa yang paling benar, yang paling tahu dan mengesampingkan pikiran orang lain. Semoga para pejuang sasta islam bisa bersatu, meski beda pemikiran. |
 | assalamualaikum udo... akhirnya terjawab sudah pertanyaan yang menggelantung di benak saya selama ini mengenai banyaknya mahasiswa mesir yang tiba-tiba jadi penulis menyambut keberhasilan kang Abik, bahkan saudari saya yang kurang peka masalah nyastra menyastra pernah terjebak dalam fanatiknya akan tulisan2 yang mengatasnamakan sastra islami tersebut, sampai akhirnya ia kecewa membeli dan membacanya... bahkan sampai sekarang buku itu masih tergeletak rapi di rak paling atas lemarinya tanpa tersentuh lagi... lantas bagi yang begitu awam dan menganggap bahwa novel "itu" adalah novel yang setara oleh oleh novel yang pernah ditulis oleh kang abik gmn? akankah pemahaman mereka mengenai islam menjadi semakin terombang ambing demi niat penulisnya yang wallahualam???? |
 | mengenai banyaknya mahasiswa mesir yang tiba-tiba jadi penulis menyambut keberhasilan kang Abik  sebenarnya, diantara teman alumni Mesir, tidak semuanya latah mengikuti jejak Kang Abik, ada yang memang sejak awal, bahkan bersamaan dgn Kang Abik belajar menulis. Ada diantara mereka yg alhamdulillah bisa menahan diri untuk tidak latah, meskipun godaan sangat besar bagi mereka, sebab pihak penerbit menawarkan kepada mereka untuk menulis sesuai dgn keinginan penerbit. tapi mereka tolak. ada yg memang berusaha menulis sebanyak-banyak dan trus meningkatkan kualitas tulisannya, namun belum mereka terbitkan. Bahkan ada teman udo, sudah 3 tahun tahun ia merampungkan novelnya, tapi belum mau ia terbitkan, karena merasa harus trus memperbaikinya. dan alhamdulillah sekarang sudah terbit, judulnya TAKDIR CINTA, ini novel sejarah keruntuhan Baghdad. diterbitkan Lingkar Pena. Coab baca buku itu, menurut udo bagus, dulu udo baca saat dimuat di buletin Pena FLP Mesir, dan masih berjudul "Makar Sang Wazir". Novel ini ditulis teman udo, namanya Indra Gunawan, tapi makai nama pena Indra San Meazza |
 | WAdduhhh mas ... angel mocone ... ra cetak je! Eh tapi dah saya copy paste ke word ko ... dan ya patut disayangkan sosok munafik dan matre seperti si penulis ini ...! Laa haula wa laa quwwata illa billaah ... |
 | Astaghfirullah haladziim, mudah2a kita bukan termasuk orang2 yg munafik itu , mudah2an Allah SWT memberi kita kekuatan dan menetapkan hati2 kita semua untuk berjuang demi Islam dan dijalan Allah dengan ikhlas apapun profesi kita dan semata2 beribadah karena-NYA, mari rapatkan bariskan, ga hanya dilingkup aspek ilmu seni or sastra , masih banyak aspek2 lain yg perlu kita waspadai, karena mereka tetap tidak akan pernah suka dan gembira kalo Islam berjaya dimuka bumi ini, yap ni berlaku ampe hari akhir...mereka akan mencoba pelbagai cara untuk memecah belah Islam.....Makasih Do..tulisannya...karena dulu ane suka baca novel , kalo ane pulang pengen beli bukunya buat differensiasi. jazakillah |
 | Rasanya saya tau... Yg Udo kasih komen di MP saya kan? Udo saya add ya? |
 | Ya. Penerbitnya pernah mengirimkan ke koran tempat saya kerja untuk diresensi. Kami di redaksi saling mengernyitkan kening....... |
| |