Oleh: Udo Yamin MajdiDari sudut manapun, setiap kali aku memandang tingkah laku kedua anakku, seolah-olah aku melihat batu permata —semuanya berkilau dan cahayanya berlapis-lapis. Dulu, ketika mereka lahir, aku seolah-olah mendapatkan dunia beserta isinya. Pertama kali mereka tengkurap dan tangannya menggapai-gapai udara, aku begitu bahagia, seperti sedang menonton lomba renang kesukaanku. Saat baru merangkak, aku teriak-teriak tak ubah men-support para pelari mendekati garis finish. Sewaktu belajar berdiri, mereka bagaikan penari yang menghilangkan rasa penatku. Tatkala mereka bisa berjalan, aku pun mendapatkan semangat bahwa aku harus terus melangkah —sebab, sebesar apapun ujian dalam hidup ini, jika aku terus berjalan, insya Allah, di tengah jalan, aku akan banyak menemukan jalan (solusi).
Dan pagi tadi, bersamaan dengan kicauan burung di atas pohon dekat apartemenku, aku benar-benar merasakan bahwa anak-anak adalah "qurratu a'yun" [penyejuk mata]. Betapa tidak, di ruang tamu rumah, depan rak bukuku, kedua anakku —Aburrahman Vira El-Fatih dan Fathin Vira Rahima— duduk berdamping dan di hadapan mereka ada empat piring berisi nasi kuning buatan isteriku.
"Bunda", tanyaku heran saat keluar dari kamar, "ada apa nih?"
"Buya lupa ya, hari inikan Dedek Fathin, umurnya satu tahun!" jawab isteriku.
"Wah, dedek dengan gaun pink dan topi pink ini, kayak putri kerajaan aja!"
"Jelas dong, siapa dulu bundanya?"
"Yeee..., yang betul, siapa dulu buyanya!"
"Udah ah, mendingan buya foto dedek dan Aa!"
Aku pun beraksi seperti fotografer profesional. Aku suruh kedua anakku berakting, mulai dari depan Nasi Kuning, di atas motor, di atas jungkat-jangkit, dan seterusnya.
Selesai memotret kedua anakku, tiba-tiba berkelebat dalam benakku saat putriku lahir. Aku pun menonton kisah itu dalam layar di kepalaku.
* * *
15 JUNI 2007
"Buya", kata isteriku sewaktu menghampiriku di depan komputer, "boleh minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Pengen Nasi Pattaya!"
"Lho, bukannya di dapur masih banyak makanan?"
"Iya sih, tapi... dedek pengen Nasi Pattaya!" jawab isteriku sambil mengelus perutnya yang sedang hamil sembilan bulan. Mendengar alasan isteriku itu, aku langsung faham, bahwa aku harus memenuhinya, bila tidak, maka urusannya jadi panjang. Aku menelpon Teguh Hudaya —adik kelasku di pesantren dulu— yang sedang masak di Rumah Makan Az-Zahra di mahattoh Gami'.
Tidak berapa lama, Teguh datang ke rumah dengan Nasi Pattaya. Setelah Teguh pulang, isteriku langsung melahap nasi khas Thailand —semacam nasi goreng yang dibungkus dengan dadar telor— itu. Aku senang, sebab, selama hamil, isteriku sering malas makan.
Dalam hitungan menit, Nasi Pattaya itu ludes. Aku kembali menulis, sedangkan isteriku bermain dengan putraku.
Setengah jam kemudian isteriku berkata, "Buya, kok perut bunda sakit ya?"
"Mungkin gara-gara bunda terlalu banyak makan saus, atau karena kekenyangan!"
"Bukan..., sakitnya, kayak Aa mau lahir dulu!"
"Masa sih?"
"Iya, frekuensi sakitnya semakin cepat nih!"
Aku kembali meraih Hp. Aku telpon dr. Aidha. Aku ceritakan rasa sakit isteriku. Mendengar keteranganku, beliau memintaku segera datang ke rumah sakit.
Aku telpon Fauzi, adik kelasku yang sering jadi sopir dan guide tamu-tamu dari Indonesia untuk mencari mobil rental. Aku nelpon teman dekatku Arif Rahman Hakim yang menikahi adik kelasku Sarah Abdurrahmah. Mereka tinggal di Rab'ah El-'Adaweyah. Aku minta mereka datang ke rumah di Nasr City. Aku telpon adik kelasku dan temanku yang lain, Uci Supiani dan Herdi Nurmuharram.
Tidak sampai 30 menit, mereka semua sudah ada di rumahku. Setelah kami sholat Asar, kami turun dari flatku yang berada di lantai lima. Aku menuntun isteriku. Arif membawa barang-barang —pakaian isteri dan anakku yang akan lahir— yang telah aku persiapan seminggu yang lalu. Sarah membawa anaknya, Dzakwan. Uci dan Herdi membawa kebutuhan kami yang lain.
Di bawah apartemen, mobil sedan merah sudah menunggu. Fauzi memberitahuku bahwa mobil hanya muat untuk lima orang. Akhirnya, aku, isteriku, anakku, Sarah, Dzakwan, dan Uci, berangkat bersama Fauzi. Sedangkan Arif dan Herdi menyusul lewat mobil umum.
Selama dalam perjalanan, isteriku merintih sembari memegang perutnya. Dari kaca spion, aku lihat wajahnya sedang menahan rasa sakit. Aku mencoba menangkan hati dengan memeluk anak tertuaku.
Kami sampai di Rumah Sakit El-Rahmah milik Jam'iyah Syar'iyyah. Fauzi langsung pulang, sebab ada yang akan memakai mobil. Aku ke loket resepsionis. Yang lain duduk di sofa ruang tunggu. Setelah registrasi, kami langsung ke kamar 302 di lantai tiga. Di dalam kamar itu, ternyata sudah ada dua pasien yang masuk terlebih dahulu. Ranjang antara satu pasien yang lainnya, hanya dibatasi dengan kain. Isteriku menempati ranjang dekat pintu dan dekat kamar mandi.
Adzan maghrib mengumandang. Aku dan teman-temanku sholat di mushalla lantai bawah. Selesai sholat, kami menunggu isteriku masuk ruang operasi —isteriku operasi caesar, sebab anak tertuaku operasi caesar dan jarak dengan adiknya hanya setahun tiga bulan.
Ba'da Isya, isteriku masuk ruang operasi di lantai dua. Aku tidak diperbolehkan masuk. Aku bergabung dengan beberapa tamu yang menunggu keluarganya sedang dioperasi. Awalnya, hatiku begitu tegar menunggu isteriku, namun karena diantara tamu itu ada yang menangis, tak urung membuatku ikut menangis. Aku khawatir, perjuangan antara hidup dan mati untuk melahirkan isteriku, berakhir dengan kematian. Maka aku tinggalkan tempat itu, dan aku bantu perjuangan isteri dengan sholat dan do'a di mushalla.
Dua jam kemudian, aku kembali. Aku duduk di kursi depan pintu. Selama menunggu, aku melakukan isi pesan yang tertempel di dinding depanku duduk. Pesan itu berbahasa Arab, dengan arti ini: "PERGUNAKAN DETIK-DETIK ANDA UNTUK MINTA AMPUN" Sambil beristighfar, aku mengirim SMS ke mertuaku, adik dan kakakku agar mereka memberitahu ortuku di Lampung. Tiba-tiba pintu terkuak. Seorang suster, memberitahuku, "Alhamdulilah, anak dan isteri Anda selamat!"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan, mari ikut saya untuk melihatnya!"
Dalam ruangan itu, ada beberapa kamar. Aku masuk sebuah kamar besar, aku tidak menemukan isteriku, tapi ada belasan bayi dalam inkubator. Suster itu memperlihatkan putriku. Aku menangis bahagia. Aku memberikan popok dan baju anakku.
Aku kemudian ke ruang tempat isteri melahirkan. Isteriku belum sadar. Sesekali dari mulutnya keluar suara seperti sedang menahan rasa sakit. Aku hanyut dalam lautan perasaan seorang ibu yang berjuang demi anaknya.
Menjelang pukul 24:00 malam, isteriku sadar dan kembali ke kamar di lantai tiga. Arif, Sarah, Dzakwan, Herdi, dan anakku, Fatih, pulang. Uci menemani isteriku di kamar. Sedangkan aku, setelah membantu isteriku membersihkan tubuhnya di kamar mandi, membawa anakku ke isteriku, memperdengarkan adzan dan iqomat serta do'a di dekat telingan anakku, aku langsung tidur di sofa panjang di ruang tunggu di lantai pertama.
16 JUNI 2007
Adzan Shubuh membangunkanku dari tidur. Aku berwudlu dan sholat berjama'ah bersama para tamu, dokter, dan pegawai rumah sakit. Dalam sujudku, aku mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran putriku.
Aku ke kamar isteriku. Aku lihat mereka sedang tidur pulas. Aku kembali ke ruang tamu. Setelah pintu gerbang rumah sakit dibuka, aku keluar mencari makanan untuk sarapan pagi.
Beberapa menit setelah kami sarapan, teman-teman isteriku dan ibu-ibu dari Bidang Kewanitaan PIP PKS Mesir, datang menjenguk. Aku keluar untuk menjawab telpon dan SMS dari teman-temanku yang mengucapkan selamat. Ternyata, dari beberapa orang yang aku kirim SMS, berita kelahiran putri sudah menyebar lewat SMS dan milis.
Ba'da Dhuhur, dokter Aidha datang dan membolehkan kami untuk pulang. Sebelum meninggalkan rumah sakit, aku menyelesaikan urusan administrasi sekaligus mengurus persyaratan untuk membuat akte kelahiran.
Ba'da Asar, temanku Wawan datang menjemput kami dengan mobil sedan. Kami pun pulang. Sesampai di rumah, adik-adik kelasku sudah berkumpul. Ada yang masak. Ada yang menyiapkan minuman. Ada yang membereskan rumah. Ada yang menyiapkan tempat tidur anak dan isteriku.
Sejak kami pulang, baik temanku maupun teman isteriku, berdatangan ke rumah untuk ikut bersama-sama merasakan kebahagiaan kami.
17 JUNI 2007
Pagi-pagi, aku ditemani adik kelasku yang lain, Rashid Satari —Ketua Umum PII Mesir 2006-2008— ke Rumah Sakit Jam'iyyah Syar'iyah di Hayyu Sadis. Sudah menjadi aturan di Mesir, setiap bayi yang lahir, harus dicek lagi ke rumah sakit di hari ketiga.
Sesampai di Hayyu Sadis, ternyata sedang direnovasi dan pindah ke daerah Al-Madzah. Akhirnya, kami kembali mencari taxi untuk ke Al-Madzah.
Rumah Sakit Al-Madzah, masih di bawah Jam'iyyah Sayr'iyyah. Dari segi fisik rumah sakit ini bagus, bersih, dan peralatan lengkap. Begitu juga dari segi pelayanannya, ramah dan bersahabat. Di ruang tamu, tertulis: "RUMAH SAKIT INI DIBANGUN DARI SHADAQOH UMAT DAN MELAYANI MASYARAKAT DENGAN GRATIS".
Setelah di-cek, kadar "sakit kuning" anakku tinggi dan harus dirawat selama tiga hari. Namun, setelah tiga hari kemudian aku datang, belum juga boleh dibawa pulang. Selama 15 hari, setiap hari Ahad dan Rabu, aku datang ke sana.
Minggu pertama, aku membesuk tidak bersama isteriku, sebab dia belum kuat jalan. Aku bersama teman-temanku. Dan selama minggu pertama ini, isteriku tabah berpisah dengan anak kami.
Namun memasuki minggu kedua, hampir tiap hari isteriku menangis karena rindu dengan anak kami. Makanya, setiap aku menjenguk anak kami, isteri dan anakku aku bawa ke sana. Tatkala kami melihat anak kami dalam inkubator, dengan berkaca-kaca isteriku berkata, "Buya, kasihan dedek, mendingan kita bawa pulang aja, atau bunda yang minap di sini!"
Aku mengerti perasaan isteriku. Aku sudah berusaha meminta putriku agar kami bawa pulang. Namun, pihak rumah sakit belum bisa memenuhi permintaan. Makanya, setiap keluar dari ruang inkubator, isteriku tidak mau pulang, malah duduk di ruang tamu dan ingin kembali melihat anak kami.
Selama seminggu kedua itu pula, setiapkali malam isteriku menggelar kasur kecil di sampingnya. Di atas kasur itu, isteriku meletakkan pakaian putri kami. Lalu, isteriku elus-elus, seolah-olah anak kami ada di sana. Kadang-kadang, isteriku mengajak baju dan celana putriku ngobrol. Bila aku dekati, isteriku berkata, "Buya, bunda rindu sama dedek, kasihan ya dedek sendirian diinkubator!"
Setelah itu isteriku menangis. Baru berhenti setelah aku ajak bicara. Sambil memeluk isteriku, aku berkata, "Bunda, serahkan dedek sama Allah saja, dan percayalah, apa yang terjadi, inilah yang terbaik bagi kita. Coba bayangkan, apa yang terjadi jika dedek bersama kita saat ini, bukankah suhu udara kemarin saja 41 derajat?"
Walaupun sebenarnya, saat berkata seperti itu, hati kecilku juga menangis, sebab khawatir terjadi apa-apa kepada anak kami. Akan tetapi, aku berusaha menyembunyikan perasaanku di depan isteriku.
* * *
"Buya ayo makan, kok malah melamun!" suara isteriku membuyarkan bayangan kenanganku bersama putriku setahun yang lalu.
"Buya bukan melamun, buya merasa bersyukur, setelah dedek masuk rumah sakit di Al-Madzah, alhamdulillah sampai detik ini senantiasa sehat!"
"Makanya, bunda buat Nasi Kuning ini, bukan mau Ultah, tapi hanya sekedar ucapan tasyakur atas nikmat Allah, diantara nikmat umur dedek satu tahun!"
Kami pun makan, tanpa ada acara apapun, tanpa nyanyian Happy Birthday, tanpa tiupan lilin, tanpa tepukan tangan, tanpa ada pesta, dan tanpa mengundang siapapun, melainkan hanya makan dengan nasi berwarna kuning, dadar telor diris kecil-kecil, gorengan kacang kedelai, potongan tomat, dan mentimun. Meskipun acara ini sangat sederhana, namun mampu menggetarkan hatiku dan membuatku bertanya, "SUDAHKAH AKU MENJADI BUYA YANG BAIK BAGI ANAK-ANAKKU?"
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu ceritakan sebagai ungkapan rasa syukur." (QS. Adh-Dhuha; 93:11)
* * *
Cairo, 15 Juni 2008
Cathar ini sebagai kado pada TASYAKURAN SATU TAHUN putriku; Fathin Vira Rahima.
 | very touching,,,
tak sanggup menahan haru,,,
Selamat hari lahir untuk adik Fathin..... |
 | saya bisa merasakan perasaaan istri udo yamin, tak kala tidak bisa melihat anaknya yang harus tinggal beberapa hari di rumahsakit. Tapi yang harus kita syukuri sekarang Allah masi memberi kesempatan kepada udo dan istri untuk membesarkan buah hati udo dan istri. Insyallah menjadi keluarga yang bahagia dunia dan akhirat.Amin |
 | hiks... Saya terharu.. menitikkan air mata...
Ya Allah.. jika kelak aku ditakdirkan menjadisorang ayah... jadikan hamba-Mu ini mejdi ayah yang mampu membawa anak2nya menuju Syurga-Mu..
Nyentuh sekali pa... |
 | subhanallah terharu........hiks..hiks......
Subhanallah perjuangan dan besarnya cinta seorang bunda.....
semoga suatu saat nanti akmal berkenan diberiNya kesempatan berada disamudera biru cinta itu...amin
dek fathin jd anak shalihah ya sayang ^_^ |
 | Ughhh pengeeeeeeeeeeeeen... |
 | Semoga sehat wal afiat, saleh amin. |
 | kenapa setiap lahir bayi selalu ada pertanyaan awal laki atau perempuan yah ?
|
 | ya... Allah, indah sekali perjuangan itu. dan 3 minggu lagi La akan melaluinya... ust udo dan keluarga doakan kami ya, biar bisa lewati ini dengan indah... ela lagi nunggu mujahid pertama kami... |
 | Ayah yang tak segan ungkapkan kasih sayang... |
 | selamat bertambah umur untuk adik Vira, mudah2n sllu dalam lindunganNya dan sllu diberikan kesehatan amiin... |
 | Met milad ya Dedek Fathin, Barokallah, duh jadi inget waktu saya nunggu proses cesar istriku, Ustadz tfs. |
 | Panjang umur dan barokah untuk pahlawannya Udo sekeluarga. Wassalam wrwb
|
 | Saya di caesar 3x, sekarang anak sudah 3. Anak ke-3 juga ditinggal di rumah sakit karena kadar bilirubinnya tinggi. Sulit memang buat seorang ibu untuk tidak melihat putra putrinya dalam hitungan jam, apalagi hari. Anak pertama membuat saya tidak bisa bekerja, karena wajah dan harum badannya menempel di ujung hidung Saya. Anak... dia adalah anugerah terindah dari Allah untuk kita, para orangtua. Seharusnya kita menjaga mereka dengan baik, untuk menunjukkan rasa syukur kita kepadaNya. Selamat berjuang untuk menjadi orangtua.... untuk semua orang tua dan calon.... karena perjuangan untuk melahirkan anak itu ternyata tidak seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan membesarkan anak. Dari kecil hingga dewasa dan menikahkannya.. hufff sebuah jalan yang masih teramat sangat panjaaaaaaaaaaaaang. |
 | Subhanallah... mari kita jaga titipan Alloh.. selamat ya Udo.. salam hormat untuk keluarga.. |
 | kenapa setiap lahir bayi selalu ada pertanyaan awal laki atau perempuan yah ?  karena, kalau gak laki2 ya perempuan, hehehe..., menurut udo sih, karena hanya ingin membuktikan hasil USG dan prediksi dokter, seperti putri udo, dua kali di scan, kata dokter, anak udo perempuan, makanya udo langsung nanya, ingin tahu, apa benar perempuan? |
 | saya gak ambil pusing ama urusan kelamin... pas salma lahir, kebetulan saya ga nungguin,-- di luar kota--, saya baru tau dia laki apa perempuan 18 jam setelah kelahirannya...itupun karena ada yg ngomongin...kalo ga ya ga ngerti2.....toh bagi saya laki atau perempuan sama aja...  betul kang, laki2 & perempuan itu sama saja, hanya saja bagi orang yang teliti tentu identitas itu sangat penting, saya menghormati sikap Anda itu, tapi bagi saya bertanya seperti itu, sebagai data untuk memberikan informasi kepada ortu, kakak-adik, mertua, dan teman2 saya di Indonesia, setidaknya kalau mereka bertanya, saya bisa memberitahu bahwa anak saya perempuan, masa iya, ketika ada bertanya: "Laki2 atau perempuan?" Kita jawab, "Gak tahu tuh, saya gak ambil pusing urusan kelamin!"
Belum lagi dalam berdo'a, tentu saja dhomir untuk laki2 dan perempuan berbeda, ditambah lagi dalam menghadapi dan mendidiknya, tentu saja berbeda, saya kira hal yang wajar jika ada yang bertanya tentang jenis kelamin
|
 | mereka benar2 Allah jadikan qurrota'ayunin ya udo ... semoga kelak ketika mereka dewasa pun ... Allah senantiasa mewujudkan harapan baik kita atas mereka ... |
 | sewaktu saya melahirkan panglima muda kami yang kedua, zaki, dia juga sempat menginap dulu lebih dari 10 hari-2 minggu. di hari ketiga usai melahirkan saya pulang dengan perut berbalut gurita namun tanpa membawa bayi ... setiap hari saya harus datang ke rumkit, menungguinya sambil mengantarkan asi sekadarnya (karena harus dipompa) ... |
 | subhanallah, betapa berat perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya kedunia ini ngeri banget kalau liat vidionya,yaallah berikan kemudahan kepada para ibu yang melahirkan
|
 | Met milad ya dedek...semoga sehat selalu. Terharu baca cerita Udo. |
 | Selamat Ultah, semoga senantiasa menjadi penyejuk mata... Jadi teringat bapakku...yang senantiasa mengasihiku hingga kini... Ketika sudah menjadi seorang ibu, aku tetap anak perempuannya yang dulu. Aku akan terus berusaha selalu menjadi penyejuk matanya |
| |