Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi
Adalah dua ekor Ikan hidup di sebuah kolam nan jernih. Secara tiba-tiba seekor Ikan mendengar percakapan dua orang Insan yang kebetulan berada di pinggir kolam. Mereka berbicara tentang “air” yang merupakan sumber segala kehidupan. Salah seekor Ikan tertarik dengan cerita “air” tersebut kemudian menghampiri Ikan yang lainnya dan mengajukan sebuah pertanyaan: “Saya ingin mencari benda yang namanya air, yang merupakan sumber segala kehidupan itu”.
Kisah itu diceritakan oleh Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual” dalam menggambarkan bagaimana manusia mencari pengetahuan untuk membimbing keberhasilan, padahal sebenarnya dia memiliki, dan itu ada dalam dirinya, yaitu suara hati nurani; fithrah.
Ironisnya, kita terkadang melakukan hal yang sama seperti Ikan di atas. Bingung mencari sesuatu, sedangkan sesuatu itu sangat dekat dengan diri kita. Contohnya, kita sering melontarkan sebuah pertanyaan: “Bagaimana sih cara nulis cerpen? Bagaimana caranya supaya saya menjadi penulis handal? Atau bagaimana supaya tulisan saya punya “ruh”, tidak terlihat kering?”. Sehingga beberapa pertanyaan yang semakna dengan tiga pertanyaan tadi, banyak mewarnai ajang tanya-jawab bersama Mas Ahmadun, Kang Irwan, dan Mbak Helvy, saat “Pelatihan Jurnalistik dan Penulis Profesional” yang digelar ICMI orsat Cairo bulan April (2002) yang lalu.
“Eureka …eureka…yess! (Saya dapat, saya dapat, yes!)” teriak penulis seraya mengepalkan jemari dan meninju udara kosong, ala Archimides minum Ekstra Joss, kali? Yah, penulis mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut! Lewat coretan singkat ini, izinkan penulis akan berbagi kepada anda. Sehingga pertemuan kita ini cukup berkesan dan bermakna. Pengalaman imtihânlah yang telah memberikan jawabannya. Benar kata hikmah “pengalaman adalah guru yang terbaik”.
Begini, saya teringat dengan pernyataan Kang Hernowo dalam bukunya “Mengikat Makna” bahwa membaca dan menulis adalah dua aktivitas “mencerna”. Membaca adalah upaya untuk mencerna dan menyerap sari sekumpulan gagasan. Dan menulis adalah salah satu aktifitas yang dapat mempercepat proses pencernaan dan penyerapan sebuah gagasan.
Nah, mari kita renungkan tentang imtihân (ujian kuliah) yang kita jalani selama ini. Bukankah kedua aktivitas (membaca dan menulis) itu telah kita lakoni? Pra-imtihân, dengan sekuat tenaga kita berusaha “mencerna” isi muqârar. Caranya tak lain dengan membaca. Bahkan kita sempat membuat “talkhish-an”. Dengan ringkasan ini berarti kita telah belajar mencerna dan menyerap sari sekumpulan gagasan yang ada dalam muqârar. Kemudian, sewaktu hari “H”, saat ujian, kita berusaha mencurahkan apa yang ada dalam otak kita. Dengan demikian, kita telah belajar menjadi seorang penulis. Sebab kata Kang Hernowo, secara sederhana, menulis ia artikan sebagai merumuskan hal-hal yang kita simpan “di dalam” untuk kemudian dapat kita pahami “di luar”. Syarat menulis yang dapat menghasilkan rumusan yang baik adalah adanya kongruensi. Dengan kata lain, bahwa segala yang ada “di dalam” (yang kita pikir dan rasakan) harus sama persis dengan segala sesuatu yang ada “di luar” (yang kita tulis dan kita lakukan). Kalau penulis sendiri mengartikan menulis adalah luapan perasaan yang tertumpah di atas lembaran kertas.
Oleh sebab itu, untuk menjadi seorang penulis, harus memiliki perasaan yang “meluap” untuk membaca dan menulis. Wajar kalau Mbak Helvy bisa menulis dengan baik, sebab beliau memiliki perasaan meluap tadi. Sebuah rasa “pemberontakan” terhadap pemutar-balikan fakta di beberapa media massa. Di sela-sela pelatihan mbak Helvy bilang: “Saya merasa dzalim bila tidak mengangkat persoalan orang lain dalam tulisan!” Mbak Helvy telah mampu memamah realita dengan baik dan menghidangkannya dalam bentuk cerpen yang menarik.
Bagi yang menghadapi imtihân dengan perasaan meluap (Baca: bersemangat), maka peluang untuk menjadi seorang penulis cukup besar. Dan selanjutnya butuh “pembiasaan, habit”. Sebab, kata Aristoteles, “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah perbuatan sekali-jadi, melainkan sebuah kebiasaan”. Ya kebiasaan. “We first make our habits, then our habits make us”. Pada mulanya, kitalah yang menciptakan kebiasaan. Lama-kelamaan, kebiasaan yang kita ciptakan itulah yang membangun watak kita.
Dan sayang, kebiasaan (membaca/menulis) inilah yang sering hilang dari kita. Justru kebiasaan kita adalah “keterpaksaan” atau mau membaca muqârar hanya sekedar ingin najâh dalam imtihân. Bahkan ada yang hanya mengandalkan foto copy talkhis-an orang lain. Malu-malu-in ya???
Juga, harus kita pahami imbuhan awalan “Pe” pada kata Penulis, menunjukkan sebuah aktivitas/pekerjaan, atau kebiasaan. Contoh lain, perenang adalah orang yang sudah biasa berenang. Penyanyi adalah orang yang pekerjaannya menyanyi. Begitu juga dengan kata Penulis, artinya orang yang terbiasa menulis. Seorang yang tahu teori berenang dan menyanyi, belum bisa disebut perenang dan penyanyi. Sama halnya, seorang yang sudah mahir tentang teori menulis dan pernah mengikuti sekian banyak Training Jurnalistik, tapi belum pernah menulis, maka kurang tepat dikatakan sebagai penulis.
Betul, apa yang dikatakan Gede Prama, Kereta bukanlah kereta, sebelum ia dijalankan. Nyanyian bukanlah nyanyian, sebelum ia dinyanyikan. Genta bukanlah genta, sebelum ia dibunyikan. Cinta bukanlah cinta, sebelum ia dilaksanakan. Dan…, Penulis bukanlah penulis, sebelum ia menulis.
Untuk mengubah kebiasaan ini, terlebih dahulu kita merubah persepsi kita. Sebagaimana tertulis dalam The 7 Habits of Highly Effective People karya Stepen R. Covey: “Jika anda ingin mengubah suatu situasi, anda harus mengubah diri anda terlebih dahulu. Dan untuk mengubah diri anda secara efektif, anda lebih dahulu harus mengubah persepsi anda”. Kita harus mempersepsi bahwa membaca itu indah, menulis itu mudah, dan keduanya termasuk ibadah. Semua buku kita jadikan sebagai muqârar. Cuma, kerena buku sangat banyak dan waktu kita di Mesir hanya beberapa tahun, maka kita harus menetapkan aulâwiyat; skala prioritas. Yang jelas kita punya hobi membaca. Syukur-syukur kalau kita memang mampu membaca alam dalam diri kita (mikro kosmos) dan alam semesta (makro kosmos), keduanya sebagai buku yang maha besar (ayat Kawniyah) yang tidak habis-habisnya untuk kita baca. Tentu diimbangi dengan pembacaan ayat Qowliyah, yaitu Al-Qur’an. Bila kita benar-benar mencerna dan “ngeh” (paham sekali) kedua ayat tersebut, maka kita tidak akan mengalami kesulitan untuk mengungkapkannya dalam bentuk tulisan. “Sebenarnya dari segi “setting”, mahasiswa Indonesia Cairo sangat berpeluang menjadi penulis atau sastrawan!” ujar Mas Ahmadun ketika datang ke Mesir. Sekali lagi penulis tegaskan: “Siapapun yang mampu mencerna muqârar dengan baik, pada hakikatnya ia adalah calon penulis handal dan anda termasuk diantara mereka!”
Hanya saja, terkadang kita sadar bahwa untuk menjadi penulis harus banyak membaca dan menulis, tapi mengapa kita tidak melakukannya? Maka kata Carmel Bird, pengarang buku “Menulis dengan emosi”, Malaikat Penolongnya bernama “keinginan”. Seberapa besarkah keinginan kita untuk jadi penulis? Bedakan antara keinginan dengan berkhayal. Keinginan selalu disertai dengan usaha. Sedangkan khayalan hanya sebatas angan-angan kosong.
Carmel melanjutkan kembali: “Buatlah daftar keinginan anda di kolom A, misalnya: “Saya ingin mengarang cerpen yang bagus, saya ingin menulis essay yang menarik, saya ingin tulisan ini termuat, dan seterusnya. Lantas buat kolom B tentang kendala, misalnya: Kekurangan ide, takut salah, tidak tahu bagaimana memulainya, dan lain sebagainya. B bisa diringkaskan sebagai Kecemasan dan Ragu pada diri sendiri. Anda tidak perlu takut, tinggalkan dan tidur saja. Menyerahlah dan dan tidurlah. Tapi…, jangan tidur terus. Ntar kapan nulisnya?
Sebelum tidur, letakkan kertas dan pena di samping Anda. Kemudian ketika anda bangun, segeralah mulai menulis. Tulislah apa saja. Tidak masalah apa pun yang Anda tulis. Anda telah diizinkan untuk menulis, menulis, dan menulis. Enggak ada yang ngelarang, bro! Latihlah cara menulis seperti ini setiap hari sewaktu bangun tidur. Hal terpenting dari menulis setelah tidur ini adalah Anda mendapat kesempatan untuk meraih keadaan santai ketika Anda bisa memperoleh keyakinan diri dan kebebasan, serta malaikat penolong anda bisa bernyanyi.
Lebih heboh lagi, konon kata Fatima Mernissi dalam karyanya “Women’s rebellion & Islamic Memory” bahwa menulis tidak sekedar medium untuk berlatih menjadi seorang penulis handal saja, lebih jauh dari itu menulis adalah rahasia jitu “awet muda”, menulis lebih baik ketimbang operasi pengencangan kulit wajah. Betulkah itu? Lengkapnya ia tulis begini: “Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfa’atnya yang luar biasa. Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan segera lenyap dan kulit Anda akan terasa segar kembali. Menjelang tengah hari, kondisi prima. Dengan kandungan aktifnya, menulis menguatkan struktur kulit ari Anda. Pada akhir hari, kerut-kerut Anda sudah memudar dan wajah Anda akan lembut kembali.
Anda boleh percaya atau tidak dengan pendapat Carmel dan Mernissi, yang jelas, Kumpulan Cerpen berjudul “Bara Musa di Taman Terpasung” berawal dari sebuah “Iseng” dicelah-celah kegiatan dan kebingungan penulis “apa yang harus saya tulis?” Hasilnya, ya sebagian rekan-rekan telah baca sendiri khan?
Saya sangat sadar, Kumcer itu tidak se-Wah seperti para penulis yang lainnya. Jauh dari katagori bagus. Sebab kumcer itu, saya tulis dengan keterbatasan wawasan tentang cerpen itu sendiri. Yang saya lakukan adalah menuliskan apa yang meluap dalam perasaan. Lebih jauhnya, Kumcer itu tak lebih sebagai “wadah” hasil baca saya terhadap realitas yang ada agar tidak tercecer dan akan menjadi catatan sejarah saya. Karena setiap cerpen memiliki latar belakang tersendiri, yang hanya difahami oleh saya.
Saya tak pernah berpikir, bahwa cerpen-cerpen yang selama ini “iseng nebeng” di beberapa buletin Mahasiswa Indonesia Cairo akan diterbitkan dalam bentuk buku. Tapi…, alur cerita yang dibuat oleh Allah berkata lain. Ada ikhwah di Indonesia yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk mengabadikan beberapa cerpen itu dalam bentuk buku. Al-hamdulillâh!
Intinya, saya sepakat dengan pendapat Kuntowijoyo: “Bagi Penulis, langkah pertama adalah menulis, langkah kedua menulis, dan langkah ketiga menulis!” Oh ya, sebagai kata pamungkas, sedikit ada cerita neh, di tengah kebingungan saya “Apa yang harus saya sampaikan saat acara Launching Kumcer Bara Musa di Taman Terpasung besok?”, saya hanya mengikuti gerak nurani dan jari-jemari terus “mijit-in” huruf-huruf di Keyboard dengan sebelas jari dan akhirnya berkata: “Aha, eureka…eureka…tulisan ini dapat saya selesaikan euy! Ternyata, manusia lebih pintar dibandingkan dengan Ikan di atas ya?” He…he…he…! Kita punya perasaan; nurani, maka dengarkan dan tulislah suara nurani itu. Kita nulis yuk!!! Wallâhu a’alamu bish shawâb. Ilâhy anta maqsûdy wa ridlâka mathlûby
* * *