Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi
* * *
Desir pasir di padang tandus Segersang pemikiran hati Terkisah ku di antara cinta yang ruhi Bila keyakinanku datang Kasih bukan sekadar cinta Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan
Maafkan bila ku tak sempurna Cinta ini tak mungkin kucegah Ayat-ayat cinta bercerita Cintaku padamu Bila bahagia mulai menyentuh Seakan ku bisa hidup lebih lama Namun harus kutinggalkan cinta Ketika ku bersujud
Bila keyakinanku datang Kasih bukan sekedar cinta Pengorbanan cinta yang agung Kupertaruhkan Maafkan bila ku tak sempurna
Cinta ini tak mungkin ku cegah Ayat-ayat cinta bercerita Cintaku padamu Bila bahagia mulai menyentuh Seakan ku bisa hidup lebih lama Namun harus kutinggalkan cinta Ketika ku bersujud
* * *
Aku terbangun dari tidur. Bukan hanya kerena kesyahduan suara Rossa. Bukan disebabkan oleh keharmonisan musiknya. Juga bukan karena keindahan bait-bait lagu yang aku cantumkan di atas. Tapi seperti yang terungkap dalam bait lagi itu, "Ayat-ayat cinta bercinta, cintaku padamu". Ya, Ayat-ayat Cinta, punya sejarah dalam hidupku. Sebab, saat aku jatuh cinta kepada calon isteri, aku menghadiahkan novel itu kepadanya. Dan kini, isteriku sedang menyetel lagu Ayat-Ayat Cinta di komputerku, sedangkan aku masih berbaring di samping anak tertuaku, Abdurrahman Vira Al-Fatih.
Sambil menyimak lagu Ayat-Ayat Cinta itu, pikiranku terbang saat aku pertama kali berkenalan dengan Kang Abik. Seperti sedang nonton film, cuplikan ketika aku, kang Abik, dan beberapa teman mahasiswa Al-Azhar berkumpul di sekretariat KEMASS (Kekeluargaan Masyarakat Sumatera bagian Selatan), kami sepakat mendirikan FLP (Forum Lingkar Pena) Mesir, dan Kang Abik sebagai Ketua Umum. Sejak itu aku dekat dengan Kang Abik. Sebab, pada periode Kang Abik, aku menjabat sebagai Koordinator Divisi Fiksi. Dari sanalah kami sering bertemu, apalagi acara Bengkel Karya kami lakukan di flat (kontrakan) Kang Abik. Aku masih ingat komentar Kang Abik saat menghadiri acara “Launching Kumcer Bara Musa di Taman Terpasung", karya pertamaku --diselenggarakan oleh FLP Mesir pada hari Ahad tanggal 15 September 2002 di Wisma Nusantara Cairo-- beliau berkata, "Wah, tulisan ini nyindir saya harus berkarya!" Itu beliau katakan saat membaca copy-an tulisan ringan saya (berjudul Eureka! klik: http://udoyamin.multiply.com/journal/item/49) yang saya bagikan kepada para peserta. Memang waktu itu, Kang Abik belum memiliki karya buku sendirian, hanya ikutan antologi kumcer FLP pusat.
Aku juga sedang melihat diriku, duduk bersama Kang Abik di Wisma Nusantra ketika beliau mau pulang dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Fera Andriani Djakfar. Aku pun masih tetap menjadi pengurus sebagai Ketua I (Bidang Pengembangan Tabiat Madani). Dalam otakku, bermunculan potongan kisahku bersama teman-teman FLP baik periode Kang Abik, maupun setelah beliau, yaitu periode Fera, Mukhlis Rais, lalu Indra Gunawan dan sekarang Teguh Hudaya. Ya, seperti yang dikatakan oleh Kang Abik sewaktu bedah novel Ayat-Ayat Cinta di Auditorium Kedokteran Universitas Al-Azhar bahwa proses kreativitas menulis Ayat-ayat Cinta, tidak terlepas dari pengalamannya aktif di FLP Mesir.
Desir pasir di padang tandus Segersang pemikiran hati Terkisah ku di antara cinta yang ruhi Bila keyakinanku datang Kasih bukan sekadar cinta Pengorbanan cinta yang agung kupertaruhkan
Isteriku kembali memutar lagu Ayat-ayat Cinta. Aku pun kembali hayut dalam arus pikiran masa lalu. Setiap bait lagu, aku coba mencari maknanya dalam kisah cintaku. Desir pasir di padang tandus itu, mengingatkanku pada pasir yang aku lewati setiapkali aku ke Tafahna Al-Asyraf, tempatku kuliah dan aku tinggal di sana selama satu tahun. Waktu itu pemikiran dan hatiku gersang. Aku coba menyendiri di sana melupakan masa laluku, ketika aku harus menerima kenyataan orang yang telah aku khitbah dinikah secara paksa oleh kakaknya kepada orang lain. Aku pun berdamai dengan takdir. Aku hadapi semua dengan senjata iman. Aku ingin membuka lembaran baru, dan melupakan impian untuk menikah. Aku ingin konsentrasi dulu dengan kuliah.
Namun..., taqdir berkata lain. Tiba-tiba, cinta itu hadir. Padahal prosesnya sangat sederhana. Bermula dari sebuah e-mail. Adik kelasku di pesantren dulu, memintaku untuk menjadi navigator selama ia kuliah Mesir. Aku siap menjadi navigatornya, dengan satu syarat, harus resmi dan minta izin dulu dengan kedua orang tuanya, alias kami harus menikah. Itu aku tawarkan, sebab aku tidak mau menabur benih cinta di luar pernikahan. Dan ternyata, sang mahasiswi yang baru tiga bulan kuliah di fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar itu pun setuju. Lalu kami minta restu dari kedua orang tua kami. Tidak sampai satu minggu, kedua orang tua kami setuju kami menikah di Mesir. Wisma Nusantara menjadi saksi, tatkala aku mengucapkan mitsaqon ghalidzan begitu lancar di hadapan wali bidadariku. Di sinilah, aku baru memahami makna jodoh yang tidak bisa dimatematiskan; diukur hanya dengan rasional saja. Lebih jauhnya jodoh itu adalah taqdir Allah yang tak terhalang oleh apa, siapa, kapan, dan dimana.
Keputusan nikah itu, bukan karena Cinta Misykat (cinta yang muncul karena keindahan atau keagungan yang dilihat oleh mata kepala). Sebab, aku bertemu dengan calon isteriku hanya tiga kali dalam acara yang digelar oleh almamater pesantrenku. Pun juga bukan Cinta Zujajah (cinta yang timbul karena sisi dalam; atau batin seseorang), walaupun aku tahu selama di pesantren calon isteriku itu selalu juara umum. Tapi hadir karena Cinta Misbah (cinta berdasarkan prinsip iman dan semata-mata karena Allah). Cinta mishbah inilah, mungkin, yang dimaksud dengan "cinta yang ruhi" dalam bait lagu itu. (Pembagian cinta itu, bisa Anda baca dalam tulisanku ini: http://udoyamin.multiply.com/journal/item/20)
Ya, yang muncul lebih dahulu dalam hatiku pertama kali --sebelum mengambil keputusan nikah-- adalah "kasih", aku ingin menyaksikan saudari seimanku sukses kuliah di Mesir. Aku pun berkorban untuk itu. Studiku pun harus aku pertaruhkan. Dengan terpaksa, aku harus tawaquf (cuti kuliah). Karena aku harus tinggal di Cairo menemani isteriku untuk menyelesaikan kuliahnya. Jadwal kuliah dan imtihan, kami berdua sering bentrok. Ditambah, kehadiran anak kami, yang tidak bisa kami titipkan kepada orang lain, apalagi kami tinggalkan sendiri. Akhirnya aku yang harus ngalah, biarkan isteriku terlebih dahulu tamat kuliah, sementara itu aku mengasuh anak kami dan banting tulang mencari nafkah.
Maafkan bila ku tak sempurna Cinta ini tak mungkin ku cegah Ayat-ayat cinta bercerita Cintaku padamu
Aku harus minta ma'af kepada isteriku. Berkelebat perjuangan isteriku. Seharusnya, beliau konsentrasi belajar, tapi malahan turun tangan membantuku untuk membelikan anak-anak kami susu dan popok. Isteriku tanpa sungkan, disela-sela kesibukannya mendidik anak, belajar, dan mengurus rumah, beliau masih menyempatkan diri untuk membuat kue dan Tahu Isi untuk kami titipkan di restoran yang aku rintis bersama teman-temanku di Perwakilan Persatuan Islam Mesir, Restoran Sehati. Aku sempat melarangnya, tapi isteriku berkata, "Lho, kan dulu buya bilang, bahwa bunda harus bisa belajar mandiri!"
Awal-awal nikah, aku memang sempat berkata kepada isteriku, "Bunda, kita tidak tahu taqdir hari esok, misalnya buya meninggal dunia, atau masuk penjara gara difitnah orang sebagai teroris, atau kecelakaan sehingga lumpuh, dan itu semua mengakibatkan buya tidak bisa menafkahimu, sedangkan anak-anak kita masih kecil dan butuh pendidikan, nah apa yang akan bunda lakukan?"
"Insya Allah, bunda akan menggantikan peran buya", jawab isteriku, "bunda harus mandiri dan meneruskan perjuangan buya, tidak mau menggantungkan diri kepada siapapun, selain kepada Allah Swt!"
Dan isteriku telah membuktikan kata-katanya itu. Disaat aku tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup kami, isteriku hadir membantuku. Aku telah berusaha menafkahi isteriku dan anak-anakku dengan menulis. Tentu saja hasil menulis tidak cash, selain proses pembuatannya membutuhkan waktu, di penerbit juga butuh waktu, ditambah menerima royalti 6 bulan sekali. Nah, untuk membayar rumah, listrik, air, telpon, internet, kebutuhan dapur, keperluan anak-anak, beli diktat kuliah, transfortasi, dan kebutuhan sehari-hari, uang dari mana, kalau hanya mengandalkan dari menulis? Maka, aku memutuskan untuk membuat tahu.
Sebagaimana pilihan menjadi penulis, aku memilih "tukang tahu" sebagai "pekerjaan" pun, berawal dari komitmen kami bahwa kami ingin bersama-sama mendidik anak kami, maka aku tidak boleh kerja di luar rumah. Ada teman yang merasa aneh, atas pilihanku atas pekerjaanku ini. Menurutnya "rendah". Dan memang tidak sedikit yang kaget, ketika tahu aku jualan tahu. Sebab selama ini, mereka kenal aku sebagai seorang aktivis, trainer, penulis, dan public speaker yang sering mengisi acara Seminar, Pelatihan, Diskusi, dan acara-acara kemahasiswaan lainnya.
Pernah suatu ketika, aku mengisi acara OMABA (Orientasi Mahasiswa Baru) di Sholah Kamil Universitas Al-Azhar Cairo. Keesok harinya, aku jualan tahu --door to door-- kepada teman-teman mahasiswa. Aku ketuk sebuah flat. Keluar seorang mahasiswa tidak aku kenal. Setelah aku tawarkan Tahu, ia masuk sambil berbisik kepada temannya, "Lho, bukankah itu Udo yang ngisi acara kemaren, kok jualan tahu ya?" Aku yang berdiri di depan pintu, tersenyum. Kemudian mahasiswa baru itu, keluar bersama tiga temannya. Mereka melihatku seperti polisi yang sedang menilik maling. Diantara mereka bertanya, "Ustadz, betulkah ustadz Udo yang mengisi materi Manajemen Diri kemaren!"
"Iya betul", jawabku sambil menahan tawa, "emangnya ada apa ya?"
"Ah enggak, nanya aja tadz!"
Aku tahu, mereka bertanya seperti itu, karena kaget sebagaimana keheranan para peserta pelatihan menulis. Biasanya, para peserta bertanya bagaimana proses aku menulis buku. Lalu, aku jawab apa adanya. Aku menulis, bukan karena aku kelebihan waktu. Tapi aku menulis di tengah kesibukanku menjaga anakku dan membuat Tahu. Ya, terkadang aku membaca dan menulis, sembari membuat Tahu. Bahkan, terkadang ide itu muncul saat aku buat Tahu. Maka aku buru-buru mencatatnya. Begitu juga ketika aku sedang mengasuh kedua anakku, itu aku manfa'atkan untuk membaca dan menulis. Biasanya, peserta latihan menulis tidak percaya, bahwa aku menulis sambil buat Tahu atau ngasuh anak. Aku maklum, sebagian mereka punya mindset seperti itu. Sebab, memang sebagian orang masih berpegang dengan pandangan warisan penjajah Belanda bahwa menjadi pegawai pemerintah (priyayi) jauh lebih terhormat daripada menjadi seorang tukang tempe, tukang tahu, dan sejenisnya. Mereka anggap kerjaan "kotor". Bahkan, di zaman orba, kalau ada KTP tercantum pekerjaan "wiraswasta", maka orang akan malu, sebab itu artinya tidak memiliki pekerjaan. Karena orang memahami, yang disebut kerja bila jadi PNS atau di kantoran.
Tapi setelah aku beri penjelasan, mereka baru mengerti. Aku ceritakan bahwa semua nabi pernah menjadi pengembala. Nabi Muhammad sendiri, sejak umur 8 tahun. Usia 12 tahun, nabi ikut paman dalam bisnis export-inport ke Syam (sekarang Syria). Ketika 25 tahun, beliau bekerjasama dengan perempuan konglomerat terkaya sejazirah Arab masa itu dan akhirnya menjadi isteri beliau, yaitu Siti Khadijah. Begitu juga kalau mempelajari sejarah para sahabat beliau, tidak sedikit yang berbisnis dan menjadi orang kaya. Bahkan dari sepuluh sahabat yang terjamin masuk surga, hanya satu orang yang hidup sederhana. Dan satu orang itu pun gemar bekerja, dan tidak suka dengan kemiskinan, sehingga beliau --Ali bin Abi Thalib--berkata: "Demi Allah, Andaikan kemiskinan itu berwujud seperti manusia, maka akan aku penggal lehernya!" Begitu juga kalau kita pelajari riwayat hidup para salafush shaleh, tidak sedikit yang berbisnis. Misalnya, Imam Hanafi. Beliau pedagang minyak dan kain sutera, bahkan dia punya toko untuk berdagang kain yang berada di rumah Amr bin Harits.Urusan dagang itu, tidak menghalangnya untuk menuntut ilmu dan menulis, sehingga beliau menjadi salah satu dari empat imam madzhab yang terkenal. Setelah aku menceritakan para panutan itu, biasanya aku menjelaskan, bagaimana konsep kerja dalam Islam.
Begitu juga dengan diriku, aku jualan Tahu, bukan untuk selamanya ingin jadi penjual Tahu. Tapi ini hanya sebatas batu loncatan. Biar aku tahu bagaimana rasa menjadi tukang Tahu. Bahkan, sempat aku bercita-cita, daripada aku menceramahi para pencuri dan pengangguran agar berhenti mencuri dan menganggur, lebih baik mereka aku ajari buat tahu. Secara otomatis, kalau mereka menjadi tukang tahu, mencuri dan menganggur akan mereka tinggalkan. Aku jadi ingat, ada seorang teman asal Kongo datang ke rumah minta aku ajari cara buat tahu. Ia dulunya beragama Kristen, lalu ia diusir oleh keluarganya. Lalu, ada sebuah lembaga Islam, mengirimnya belajar di Universitas Al-Azhar Mesir. Ia bercerita, di negaranya banyak Kacang Kedelai, tapi tidak pernah diolah seperti dibuat tahu. Dan katanya, di negaranya, para muslim kebanyakan jadi orang kaya, karena memiliki usaha sendiri. Dari sanalah, mereka bisa mendakwahkan Islam kepada non-muslim yang bekerja di perusahaannya. Nah, temanku itu bercita-cita ingin buka usaha Tahu, sebagai awal dakwah dan untuk menafkahi hidupnya. Maka dengan senang hati aku ajari dia. Dan sekarang ia telah pulang ke Kongo.
Ya itulah hidupku, tidak seperti Fahri, tokoh utama, dalam Ayat-Ayat Cinta. Lebih dekat, kayak Azzam --mahasiswa Al-Azhar yang tidak lulus karena jadi tukang tempe untuk membiayai hidup keluarganya di Indonesia-- dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Kang Abik. Ketulusan isteriku membantuku, membuat cinta dalam hatiku tidak bisa aku cegah. Setiap kali aku menatap "ayat-ayat cinta" --kedua anak kami, di sana ada cerita bahwa di sana ada perjuangan isteriku, seorang calon sarjana fakultas tafsir sekaligus pembuat Tahu Isi. (Do'a ya, supaya tahun ini isteriku tamat kuliah).
Aku semakin bahagia, ternyata Allah swt menganugrahiku, isterinya mau hidup mandiri, seperti diriku yang sejak kecil dididik oleh bapakku menjadi orang yang mandiri. Betapa tidak? Aku masih ingat, sewaktu aku masih kecil, bapakku mengajakku untuk bertani. Bapakku punya lima petak sawah, satu petak diserahkan kepadaku untuk mengolahnya. Hasilnya sepenuhnya untukku. Baru aku sadar, ternyata itulah cara bapakku mendidikku untuk hidup mandiri. Didikkan itu, sangat membekas dalam diriku, sehingga aku tidak pernah takut kelaparan di mana pun berada. Sebab, aku siap kerja apapun asalah halal. Ini membuatku berani berangkat ke Mesir, meskipun tidak berbekal uang banyak dan tidak akan dikirim uang oleh ortu. Ibuku sempat bertanya, "Nak, dari mana biaya kuliah, jangankan keluar negeri, kuliah di sini aja, dari mana kami membiayaimu!"
"Mak, jangan takut, sebab Allah yang telah memberiku rizki selama merantau di pulau Jawa" jawabku menyakinkan ibuku, "pasti juga Ada di Mesir. Yang penting mak merestui dan mendo'akan anakmu. Serahkan saja anakmu ini kepada Allah, maka Dia akan mengurus anakmu ini, seperti ibu nabi Musa menghayutkan nabi Musa di sungai Nil!" Ya, selama enam tahun merantau, aku tidak menggantungkan biaya dari ortuku. Toh kalau pun mereka mengirim duit, itu aku tabung dalam bentuk buku. Setiap ada wesel dari ortu, langsung aku habiskan beli buku. Sehingga ketika tamat pesantren, ortuku kaget dari mana aku bisa beli buku yang hargaan jutaan. Aku cuma bilang, "Ini uang Mak-Bak dulu, tidak aku pakai jajan atau beli baju, tapi aku tabungkan dalam bentuk buku!" Aku lihat kedua mata ortuku berair. Terharu, mungkin.
* * *
Bila bahagia mulai menyentuh Seakan ku bisa hidup lebih lama Namun harus kutinggalkan cinta Ketika ku bersujud
Semua bayangan dan pikiran itu hilang, aku berdiri dan langsung keluar kamar. Aku menghampiri isteriku yang sedang serius di depan komputer Aku lihat ia lagi membuka MP (multiply) kami. Isteriku sedang up load lagu "Ayat-ayat Cinta" ke MP kami (klik http://udoyamin.multiply.com/music/item/6/AYAT-AYAT_CINTA). Isteriku tidak sadar, bahwa aku ada di samping kirinya. Aku berkata, "Bunda, kok nyetel musik ini sih?"
"Emang napa buya?" tanya isteri agak terkejut karena aku bangun tidur. "Sebab, lagu itu, mengingatkan kisah buya selama ini, terutama cinta buya sama bunda!" "Ciyeee, meni romantis gitu?" "Sueeer bunda, lagu Ayat-ayat Cinta ini mengingatkan buya ketika aktif di FLP, juga ingat kisah cinta kita. Bunda ingat kan, waktu itu, buya kasih hadiah novel Ayat-Ayat Cinta!"
Isteriku pun tertawa. Kami pun bernostalgia. Ah rasanya, seperti yang aku rasakan tadi siang di Hadiqoh Dawliyah (Taman Internasional) Cairo. Menjelang dhuhur tadi, aku mengantar isteriku ke markaz shihhi (puskesmas) untuk men-tath'im (imunisasi) kedua anakku. Sepulang dari sana, kami ke Hadiqah Dawliyah. Di taman inilah, aku dan isteriku, menghabiskan hari-hari bulan madu kami dulu. Biasa, pengantin baru, merasa di atas dunia ini hanya mereka berdua. Begitu juga dengan kami. Aku dan isteriku duduk berduaan di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba ada polisi adab yang mengusir kami, karena ia sangka kami pacaran, padahal kami memang pacaran, tapi sudah nikah. Hehehe...
Ada rasa bahagia, ketika aku di samping isteri. Anak tertuaku bangun. Ia langsung meminta aku pangku. Maka aku menggantikan posisi isteriku. Isteri melanjutkan menghapal, sebab lusa ada imtihan syafawy (ujian lisan), sedangkan aku ditemani anakku, membaca e-mail, lalu merangkai tulisan ini, sambil mendengarkan lagu Ayat-Ayat Cinta. Ya, rasa bahagia bersama anak isteri, terkadang melenakan, seakan-akan aku bisa hidup lebih lama lagi. Tapi aku sadar, belum sholat. Maka aku serahkan anakku kepada isteriku, aku pun melakukan makna dari bait lagu "Namun harus kutinggalkan cinta, ketika ku bersujud". Ya, aku pun meninggalkan tulisan, isteriku dan anakku. Aku pun sholat Isya, untuk bersujud kepada-Nya.
* * *
Terima kasih untuk isteriku yang telah melengkapi sayapku sehingga bisa mengepak di angkasa cita-cita. Do'akan suamimu, bisa menghadiahkan sebuah novel seperti Kang Abik terhadap isterinya.
 | Subhanallah...Merinding saya membaca kisah Abang. Terimakasih telah berbagi. Saya sudah pernah mendengar lagu ini. Namun baru ketika saya membaca tulisan abang, saya memaknai "ayat - ayat" yang terkandung di dalam syair - syairnya. Salam buat istri Abang. Doa saya dan suami, semoga ujian istri Abang dimudahkan Allah SWT. Amin |
 | "menggantungkan hidup pada Allah SWT bukan pasrah tanpa arah tapi mandiri yang bakal teruji" makasih Pak Udo atas tafsir tawakal-nya. Ditunggu nasihat selanjutnya! |
 | himma wrote on Dec 26, '07 ammu masih ingat saya nggak....saya ummu muhammad yg dulu disharkia,..terharu saya baca tulisannya..semua manusia pasti punya kisah indah dan pernak pernik hidup namun ammu bisa menuliskan dg indah sehingga pembacapun ikut menikmatinya. sekarang anak ammu udah dua ya?.....salam dari kami ya ammu. |
 | to "cinta sempurna", makasih ya dah baca "tafsir ayat-ayat cinta". sy menulis, bukan itu bukan hanya untuk menceritakan kisah cinta sy. tapi itu cara sy mengapresiasi karya Kang Abik. sebab di balik keberhasilan AAC bukan hanya untuk kang Abik maupun FLP, tapi bagi saya itu adalah anugrah Allah swt untuk menunjukan bahwa al-islam ya'lu wa yu'la 'alaihi, sebab selama ini org (penerbit) bilang: sastra islam gak laku, dan buktinya ACC melebih smua buku best seller di indo. |
 | to "herdi", makasih bantuanmu salama ini. sungguh, sy tak bisa membalasnya, selain dari do'a smoga Allah mengganjarnya lipat ganda. eh ya, jgn lupa, do'akan kami di mesir di baitullah dan masjid nabawi, agar kami menjadi salah satu batu bata perjuangan umat Islam. tahun depan, insya Allah, kalo ada rizki, kami sklg mau pulang dulu. nah, kita ngumpul yuk, biar fatih, fathin, dan lukman bisa main. |
 | to "mbak yuni", jelas sgt ingat. sebab, mbak + mas Eko, tokoh dalam hidup udo. meskipun kita berjumpa singkat, tapi dalam hati udo byk mencatat dan mengambil ilmu. bahkan sosok keluarga mbak yuni, menjadi inspirasi tulisan2 udo. ya, udo abadikan dlm tulisan. do'akan mbak, udo nulis novel yg menceritakan perjuangan para mahasiswi yg menikah di mesir. siapa tahu, tokoh "akhwat" dlm novel, bisa mengimbangi tokoh "fahri" dan "azzam", dlm karya kang Abik. amin |
 | keren..keren... ganbatte ya udo!!
semoga dengan cinta, bisa terwujud seluruh citanya... selamat berkarya..n_n |
 | Tulisan yang menggugah Saya banyak belajar dari Anda Danke Udo.. (^_^) |
 | Hidup yang penuh hikmah Pelajaran yang tiada habis... Jazakallahu khairan saudaraku Udo Yamin |
 | yup, hikmah itu sebanyak apa yg bis kita dengar, kita lihat, dan kita rasakan. sy byk belajar di sekolah-kehidupan ini (ada milisnya lho, sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, kok malah promosi?) hehehe |
Comment deleted at the request of the author.
 | yup, ditunggu di kampung, Insya Allah kita ketemu. Saya masih perlu banyak belajar dari Antum, tentang pengejewantahan cita yg pernah selalu kita diskusikan. Salam buat Pahlawan ! |
 | Subhanalloh! Ketika aku membaca tulisan ini perasaanku sama ketika aku membaca Ayat-ayat Cinta..... Sampai tidak bisa bernafas Bang.... Insya Alloh, Allah memberikan berkah yang baik dari suatu hikmah... |
 | makasih dah mau membaca coretan udo. moga manfaat |
 | Alhamdulilah... berkat novel ayat2 cinta dan konsultasi langsung tentang jodoh dengan Kang Abib saat di Hongkong.... aku menghindar pacaran... aku ingin menjalankan perintahNya... meskipun keislamanku baru tiga tahu..... salam kenal dari niswana ilma dari flp hk |
 | @ to Herdi. Amin, smoga Allah mempertemukan kita selalu pada jalan-Nya. |
 | @ to Wana, smoga istiqomah dalam iman dan amal sholeh. amin |
 | terenyuh aku membacanya. salam ke istrinya ya akhi. |
 | @ to Zuhriyah, makasih dah baca coretan udo. yup, insya allah, salamu akan udo sampaikan |
 | to thinkthank... wa'alaikumussalam wr wb |
 | Kisah yang penuh perjuangan... makasih udo atas ceritanya.. :) sarat hikmah..beneran! |
 | wah... justru udo harus belajar darimu, dr namanya aja (mujahidah) sudah penuh perjuangan. hehe  |
 | Udo, salute... Semoga Allah selalu mendengar dan mengabulkan do'a Udo sekeluarga... Intinya, kita harus selalu bisa menikmati rahmat apapun yang Allah berikan kepada kita ya Udo... |
 | Terima kasih ya Yanti, atas do'amu. Yup, kebahagiaan itu memang butuh proses, maka kita harus bahagia dalam menjalani proses itu, sehingga ketika kita meraih cita-cita, kita akan merasakan bahagia di atas bahagia. amin. |
 | wah, itu dia.. bahagia di atas bahagia...amin ya rabbal 'alamiin... |
 | subhanallah,saya sampai berkaca2 membacanya saya sering denger lagu ini,tapi baru kali ini mengetahui tafsirnya dalam banget dan sangat berarti semoga abang sekeluarga di berikan kemudahan hidup dunia wal akhirat
|
 | terima kasih atas do'anya, semoga Allah mengabulkannya. dan mudah2an kita semua termasuk hamba yang diridhai-Nya. |
 | Hmmmm,,masya alloh romantis sekali,,sambil ngebayangin membacanya,,hehhehe..
|
 | ah mbak, udo jadi malu, masa iya tulisan udo romantis? hehe |
 | Udooo... daku jadi terharu, tersentuh, tersentil, macem2 deh rasanya.. baca tulisan udo ini. Pantes.. waktu itu udo tanya ya ttg syair nya ini. Aku suka syairnya.. suka bgt, tp jadinya yg berasa romantisnya gitu, romantis yg "ruhi" mungkin ya, spt yg aku bilng dulu, beda ama syair Taufik Ismail di lagunya Chrisye alm. Eh udo mo nulis novel? aku gak boleh ketinggalan nih beritanya :) Btw udo, lanjutan seri Mendidik Anak nya mana? aku dah tunggu2 di milist kok gak muncul2? ohya, salam buat istri udo yaa ... - Yana - |
 | Udooo... daku jadi terharu, tersentuh, tersentil, macem2 deh rasanya.. baca tulisan udo ini. Pantes.. waktu itu udo tanya ya ttg syair nya ini. Aku suka syairnya.. suka bgt, tp jadinya yg berasa romantisnya gitu, romantis yg "ruhi" mungkin ya, spt yg aku bilng dulu, beda ama syair Taufik Ismail di lagunya Chrisye alm. Eh udo mo nulis novel? aku gak boleh ketinggalan nih beritanya :) Btw udo, lanjutan seri Mendidik Anak nya mana? aku dah tunggu2 di milist kok gak muncul2? ohya, salam buat istri udo yaa ... - Yana -  aduuuh, udo jadi malu nih, masa iya tulisan jelek udo membuat perasaan kayak koktel --macam2 gitu lho? insya allah, doanya, udo bisa menyelesaikan novel secepatnya. maklum udo mah tukang buat tahu, blon jadi penulis. oh ya, serial anaknya udah yg kedua tuh. besok yg ketiganya. |
 | eh Udo, aku mo tanya ttg tulisan serial anak nya. aku PM boleh gak? ohya Udo, disini AlhamduliLLAH yana udah mulai jalan nih jualan batagor nya, hahahahaha...- Yana - |
 | Btw udo, itu syair/lirik lagu AAC, emang udo yg nulis? jadi penasaran nih. Semoga study istri udo bisa segera selesai, dan dimudahkan segala urusannya yaa. Semoga kita semua bisa masuk dalam golongan hamba-hamba ALLAH yg shaleh yg saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Kupanjatkan doa ikhlas ku buat kalian sekeluarga ya. |
 | Hiks3x... menitiskan air mana akhi... Subhanallah.. Indah sekali... |
 | allahumma atini ma ataita ibadaka assalihin ana nangis bacanya........ doain ana ust agar bisa niru jejak antum jadi penulis tuk bekal akhirat.
|
 | semuga cinta udo pada bunda langgeng selamanya amien :-) |
 | subhanalloh....... romatis sekali... memang kalau Tuhan menghendaki, apapun jadi. begitu juga pertemuan dua insan yang tidak pernah merencarakan untuk menikah sebelumnya. doa saya, semoga abadi dan barokah. jadi kepingin belajar buat tahu nih..... lain kali di tulis tip and trik bikin tahu ya.... barangkali berguna bg yang lain... khususnya buat saya nanti kalau sdh pulkam... |
| |