Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh; dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (Qs. Asy-Syu’ara: 83-84)
Tahun Baru telah kita jalani. Mari sejenak kita renungkan, percakapan yang terjadi antara seorang kakek dengan seorang pejabat dinasti Bani Abbasiyyah. “Kek, berapakah umurmu?” tanya sang pejabat. Sambil tersenyum kakek itu menjawab: “Baru sepuluh tahun!” Agak sedikit kaget pejabat berkomentar: “Ah, yang benar kek!” Kemudian Si pejabat kaget. Tapi, sang kakek buru-buru menjelaskan: “Benar paduka, umurku baru sepuluh tahun. Enam puluh tahun dari usiaku, kuhabiskan dalam dosa dan maksiat. Baru sepuluh tahun terakhir inilah hidupku aku pergunakan dengan sesuatu yang memakmurkan!”
Selanjutnya dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar, bahkan bisa jadi sering terluncur dari mulut kita: “Wah panjang umur nih, baru aja kita omongin kok udah nongol!” Karena terlalu seringnya, hingga kita anggap sepele dan makna yang terkandung di dalamnya luput dari renungan kita.
Dari kisah dan percakapan kita sehari-hari (dialog) di atas, setidaknya ada dua hal yang hendak kita pahami, yaitu: “Umur dan panjang umur.” Uraian kakek tadi, cukup memberikan pemahaman menjelaskan kepada kita yang sejalan dengan akar kata “umur” yang memang bisa berarti: “Memakmurkan”. Umur lebih dikaitkan dengan perbuatan sholeh yang telah kita lakukan. Jelas bagi kita bahwa aktifitas memiliki hubungan erat dengan umur kita, termasuk dalam memperpanjang umur. Untuk mencapai hal positif dalam bentuk kemakmuran ini, yang yang harus kita lakukan adalah amal shaleh.
Acap kali kita dalam memahami “panjang umur” terlalu sederhana. Kita identikkan panjang umur dengan ukuran waktu tertentu saja. Padahal sejatinya, panjang umur adalah sejauhmana kita memanfa’atkan waktu untuk beramal sholeh; berbuat kebaikan dan memakmurkan dunia ini. Sesingkat apapun usia kita, bila kita mampu beraktifitas, berbuat, berkarya, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfa’at bagi kehidupan seluruh manusia, maka sebenarnya kita telah panjang umur. Panjang umur tidak terukur dengan waktu, melainkan dengan peranggai dan karya baik kita. Sehingga kepribadian, sikap, dan karya kita selalu dikenang oleh generasi selanjutnya. Kekasih Allah SWT; Nabi Ibrahim a.s. telah telah mengajar kita tentang hakikat panjang umur ini lewat do’anya: “Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.”(Qs. 26:85) Do’a Nabi Ibrahim a.s. ternyata diijabah oleh Allah Swt, umur beliau dipanjangkan lewat bacaan Tasyahhud (Allâhumma sholli ‘alâ ibrâhîm) dan pelaksanaan ibadah haji. Beliau selalu dikenang banyak orang. Nama beliau selalu di sebut-sebut.
Rasulullah saw. memberi tahu kita salah satu upaya memperjang umur adalah: “Barang siapa yang berkeinginan diperpanjang umurnya serta di luaskan, maka hendaknya ia bershilaturrahmi.” (al-Hadits). Di sini mengandung makna, kita harus berbuat banyak di tengah masyarakat, banyak berintraksi dengan manusia, dengan kata lain kita harus sholeh sosial. Semakin banyak kebaikan yang kita tebarkan kepada orang lain, maka semakin banyak peluang untuk dikenang. Inti panjang umur adalah bila kita jadi bahan perbincangan orang lain karena kebaikan kita.
Maka momentum tahun baru ini, jangan sampai kita pergunakan waktu dengan sia-sia atau aktifitas yang kurang begitu manfa’at bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Ingat, setiap kali Tahun Baru datang, setiap kali itu pula sisa umur kita berkurang. Wallâhu ‘alamu bish shawâb.
 | Semoga kita semua bisa mengisi sisa umur kita yang semakin berkurang ini dnegan kebaikan Allah menyempurnakan iman kita, jauh dari segala kesia-siaan |
 | To Iwana dan Ulin, mudah2an malaikat dan makhlu lain-Nya ikut mengaminkan dan Allah kabulkan. Ya Allah, jadikan detik2 tersisa, hanya untuk-Mu. |
 | Lagi, dan lagi, tulisan udo memberikan refleksi bagi para pembacanya. terima kasih sudah menulis artikel ini.
|
 | sekarang semakin banyak orang yang saling curiga satu sama lain (walopun itu karena pengalaman hidup), senyum jadi mahal... mungkin tujuannya biar selalu waspada aja. Tapi kayaknya gak perlu gitu2 banget deh, waspada tapi tetap menebarkan pesona juga bisa, ya gak Ustadz... Senyum itu gak mahal, bikin hati yang senyum dan menikmati senyum sejuk (asal jangan senyum2 sendirian saat orang lagi dlanda musibah, ntar dikeroyok massa brouw...).. So, tebarkan senyum, silaturami juga akan berjalan dengan baik... Udo, udah ke 2 toko buku (bukan Gramedia sih...), belum ketemu Quranic Quotient-nya... Padahal penasaran juga... |
 | Memang harus dimulai dari sekarang kalau mau mengoptimalkan sisa usia... |
 | Terima kasih tulisannya Udo |
 | @ to sahabat Galih, makasih udah mau membaca coret-coret udo yang sedang belajar nulis. do'a-in ya, biar udo bisa nulis dgn baik. |
 | @ Yanti, senyum itu untuk siapa saja, asal niat kita yg tulus untuk membahagiakan org lain, insya Allah, ada pahalanya. Trus, ttg buku Quranic Quotient, coba cari di Gramedia, kalo gak ada di Gunung Agung, Trisera, atau yg lainnya. temukan sampai dapat. hehehe |
 | @ Niwanda, yup, memang harus dari sekarang, sebab kita tidak tahu kapan "tanggal kematian" kita. Doa-in ya, biar udo termasuk org yg panjang umur spt dlm tulisan udo. |
 | @ to Aishah, sama2, moga tulisan udo ada manfa'atnya. |
 | Wah dalem banget refleksinya,inspiratif banget dech,tapi kenapa ya kenapa ya,kok gak ada ilmuan yang ngebikin alat untuk "reparasi waktu" hueheheheh,eee eee Ustadz Udo,kalo misal ada waktu bisa gak ya,kapan kapan Ustadz bagi ilmu menulisnya buat Masisir Tanta..?Trim's |
 | Nasruli, makasih dah berkunjung ke MP udo. Gimana imtihannya, dah selesai? Alat untuk "reparasi waktu", wah bagus tuh! Insya Allah, suatu saat udo akan nulis tentang ilmu itu, dgn judul "Manajemen Waktu Islami (Kiat Sukses Mengelola Hidup dan Mengatur Waktu)". Untuk bagi ilmu di Thanta, ahlan wa sahlan. Bahkan kalo mau kita buat acara QURANIC QUOTIENT TRAINING di Thanta, setelah udo laksanakan di Cairo bulan Maret nanti. |
 | hehe, makasih Yanti, udo cuma canda kok, tapi gpp kalo dianggap serius, biar bisa baca buku udo, lalu ngasih komentar, biar udo bisa memperbaiki karya2 udo selanjutnya |
 | aku mulai gelisah setelah membacanya Masih berapa masa lagi jatah umurku
|
 | to Agus, smoga kita sama2 semakin mawas diri dan menyambut kematian dgn iman-amal sholeh. |
 | to Heri, terima kasih kembali |
 | salam,,terima kasih pak udo,,sanget bermanfaat sekali,,semuga kita bisa mengambil hikmahnya,amin, |
 | terima kasih mbak, atas kesediaannya membaca coret-coret udo yg sedang belajar nulis |
| |