Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Saya pikir, setelah materi film sebanyak 7 Rheel dibawa dari India menuju Jakarta, saya bisa sujud syukur dan berseru 'akhirnya film ini selesai juga.’ Sejauh yang saya bayangkan, tidak akan ada lagi persoalan besar yang menghadang. Tapi tidak sangka, hasil film ketika diperbanyak di lab Jakarta, hasilnya scratch, seperti nonton film ‘Janur Kuning’. Dua lab Film yang ada di Jakarta (yang ternyata satu-satunya lab di Negeri ini) tidak bisa menanggulangi persoalan itu. Belum lengkap seminggu ada di Jakarta, 7 Rheel Film Ayat-Ayat Cinta diterbangkan di Bangkok untuk diperbanyak sekaligus diberi Subtitle. Lagi-lagi kita kejar-kejaran dengan waktu karena paling tidak film harus sudah jadi tanggal 18 Februari untuk Gala Premiere di Plaza Senayan-Jakarta.

    Di Bangkok, persoalan scratch terselesaikan dengan baik dengan cara melakukan duplicate negative film tersebut. Akhirnya, 70 copy film Ayat-Ayat Cinta terselesaikan dalam waktu satu minggu. Pada saat dilakukan pengiriman melalui bandara Swarnabhumi-bangkok, kita terganjal maskapai penerbangan Garuda. 70 Copy tidak boleh di bawa, harus melalui Kargo. Padahal beberapa producer pernah melakukan itu sebelumnya dalam airlines yang sama. Kita sempat berdebat panjang di depan counter check in. Akhirnya hanya 10 copy saja yang bisa kebawa, sisanya harus lewat Kargo. 4 orang yang semula menyertai saya membawa 70 copy tersebut akhirnya harus tinggal di Bangkok untuk mengurus pengiriman lewat Kargo. Saya semakin was-was karena isyu birokrasi di lembaga Bea Cukai bandara terkenal rumit dan banyak preman. Salah-salah film AAC terganjal di Bea Cukai.

    Pada saat saya melakukan pengecekan ulang atas 10 Copy untuk keperluan Gala Premiere di Plaza Senayan, saya mendapatkan sms dari teman saya kalau AAC sudah ada bajakannya. Saya kaget, karena belum pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang bahkan pernah bilang ‘Kita tidak membajak film-film Indonesia. Kasihanlah, film Indonesia kan lagi tumbuh. Sayang kalau dibajak. Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kan udah kaya.’  Saya tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari jenis manusia seperti apa.

    Persoalan moralitas dan manusia itu kemudian yang membawa saya menelusuri kebenaran berita pembajakan film AAC. Manusia seperti apa yang tega melakukannya? Moralitas seperti apa yang dia anut, kalau manusia kelas pembajak glodok (yang menyikapi bajakan sebagai bisnisnya) saja bisa menerapkan ukuran nilai atas produk yang dia bajak.

    ‘Saya sangat menyesal mendengar itu, Mas. Kini di Malang sedang geger’  begitu bunyi sms dari teman saya di Malang. Seperti sebuah bola salju yang tergulir, sms-sms lain datang dari Surabaya, Makasar, Jogja. Mereka tidak sekedar mengabarkan, tapi memberikan analisa detil gambar, suara dan hasil edit atas film bajakan AAC. Bahkan ada yang bilang kalau hasil bajakan tersebut sudah di komentari di internet. Subhanalloh!

    Saya cuma bisa diam. Hati saya bergolak. Bukan karena film saya di bajak yang kemudian keuntungan yang saya terima sedikit. (Ah, lagi-lagi kalau kita bicara materi tidak akan ada habisnya). Mari kita membebaskan diri dari kecenderungan menilai pembajakan dari unsur materi. Hal paling besar dari pengaruh bajakan adalah: Penonton tidak dididik menghargai kualitas terbaik dari sutradara. Film Ayat-Ayat Cinta, sekalipun di bajakan bisa diikuti jalan ceritanya, tapi  bukan kualitas terakhir dari sutradara-producer dan kru serta pemain. Bajakan tersebut diambil dari hasil mentah yang masih ada di mesin editing studio MD. Artinya belum ada music yang layak (Masih musik kasar yang diambil dari film Schindler list, Kamasutra, Pasion of Christ, dsb), belum ada tata suara yang mendukung seperti suara Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, suara Fahri di masjid Al Azhar saat Talaqi masih suara cewek, suara-suara atmosfer lalu lintas di Kairo juga belum masuk. Pendeknya, hasil dari bajakan tersebut belum layak untuk menjadi bahan apresiasi penonton. Jika sudah begitu, apakah penonton juga layak menilai sebuah produk yang memang belum layak untuk di apresiasi?

    Kabarnya, saya mendengar justru yang mengkonsumsi AAC bajakan kebanyakan umat muslim pecinta novel AAC. Semoga berita itu tidak benar. Tapi terlepas dari semua itu, saya menyayangkan sikap siapapun yang terlibat, baik membajak maupun mengkonsumsi bajakan tersebut. Apalagi melakukan penilaian atas dasar film bajakan tersebut yang kemudian menghasut, mencerca dan menjelek-jelekkan filmnya dan calon penonton yang mau menonton di bioskop. Saya hanya bisa berharap kepada Alloh untuk memaafkan orang-orang yang melakukan itu. Bagi yang tidak melakukannya, saya ucapkan terima kasih yang paling dalam. Kepadanya, saya hanya berharap doa untuk saya tetap sabar dan tidak terpengaruh.

    Jujur, sekali lagi bukan materi yang saya kejar. Lebih dari itu, film ini telah membuat saya mencintai lebih dalam agama Islam, karena keindahan Quran yang menekankan kesabaran dan keikhlasan umatnya.

Robbana Afrigh alaina Sabran, Wa tsabit Aghdamana wan surna 'alalqoumil kafiriin ...

sumber: http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/12/AAC_BAJAKAN


18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
arifah97 wrote on Feb 24
saya mendengar justru yang mengkonsumsi AAC bajakan kebanyakan umat muslim pecinta novel AAC.
saya juga telah mendengar akan film bajakan AAC, sungguh amat di sesalkan. Menurut saya karena rasa penasaran yang begitu tinggi para pecinta novel AAC akan film ini. Karena berulang kali di tunda penayangannya sehingga ketika ada rumor bajakan ini mereka secara otomatis mencarinya. Hikmahnya, jangan menunda lagi penayangan film perdana karena itu hanya memberi peluang bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Salam....
nverad wrote on Feb 24
jadi seniman memang susah ya udo...
jerih payah sering dipotong orang setelah ada wujudnya
semoga mas hanung dan lain2 gak putus berkarya yang baik ya
cahayahati wrote on Feb 24
sayang sekali ya ... terbayang masih repot ngurus pengiriman copy film tiba-tiba mendengar sudah ada yang bajak, pasti sangat terpukul
zulfigitu wrote on Feb 24
Waa... merasa bersalah sekali nih. Tapi, semoga yang udah nonton bajakan tetep mau nonton di bioskop....
kelasajaib wrote on Feb 24
sedih bacanya .... tolong yang masang di blog atau multiply dihapus. kalo mau nonton ya ke bioksop aja. nunggu aja nomat biar murah.
zawwadroom wrote on Feb 24
inna lillaahi... ternyata masih saja ada orang yang tega ya.. seperti para penipu di bandara yang menipu para TKW yang sudah bertahun-tahun kerja. tak punya hati! kepada para Pengkarya terus berkarya, zawwad mendukung kalian!! (*menggebu-gebu.com*)
guruhprast wrote on Feb 24
turut bersedih.. susah menjadi orang indonesia, karena novelnya aja gak lepas dari pembajakan apalagi filmnya..
rifadisini wrote on Feb 24
kasian,,
tp sy jg penasaran dan akhirnya nonton bajakannya,,
tp ttp niat mau nonton di bioskop,,:)
arvenda wrote on Feb 24
:(
niwanda wrote on Feb 25
Semoga dvd aslinya juga cepat keluar... Kasihan yang di kotanya nggak ada bioskop (seperti saya)...
niswah wrote on Feb 25
jujur... ana tertarik tuk nonton bajakannya juga... tp ana apresiasi pada bang hanung... ana usahakan istiqomah gak nonon bajakan... walaupun didepan mata telah terhidang dengan mudahnya.
santiportalinfaq wrote on Feb 25
Kemarin saya juga ditawari untuk nonton DVDnya...... sy fikir itu asli, saya jadi kefikiran kok cepat banget dvdnya dah beredar sementara belum ada pemutaran filmnya... ternyata bajakan rupanya. yang sabar Bang Hanung.... insya Allah ada himah dibalik semua jerih payah, Alloh gak akan pernah menyianyiakan keringat kita..selama itu untuk menegakkan dien ini
myraniy wrote on Feb 25
i love AAC, great film!!
Nonton tetep di bioskop loh kang,.....
ibnuabiihi wrote on Feb 25
Di Cairo kapan yah ada yang asli nya ? Penasaran pengen liat visualisasi background ceritanya...
Semoga sukses selalu...
udoyamin wrote on Feb 25
terima kasih atas solidaritas teman2 smua. kita doakan smoga mas hanung sabar san mendapatkan ganjaran berlipat dari Allah swt
olink2000 wrote on Mar 13
yang penting dah liat filmnya, tp koq gak seheboh beritanya ya...???
udoyamin wrote on Mar 13
yang penting dah liat filmnya, tp koq gak seheboh beritanya ya...???
oh ya?
uhangkito wrote on Apr 14
SORY MASUK NGAK MINTA IZIN,,,, GUA CABUT YA
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help