Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Blog EntryBetulkah Ayat-Ayat Cinta adalah Novel Dakwah?Feb 26, '08 7:43 PM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Majdi

Bismillahirrahmanirrahim...

Sebelumnya, saya haturkan terima kasih kepada sahabat Ahmad Fatih sudah menjawab tiga pertanyaan saya. Baik, untuk menganalisa, apakah novel [untuk film, dalam diskusi yg lain] Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El-Shirazy adalah buku dakwaha atau bukan, ada tiga variabel yang perlu kita kaji, sehingga kesimpulan kita tidak keliru, apalagi membabi buta, tanpa ilmu. Pertama: penulis, kedua: buku AAC, dan ketiga pembaca.

WASHILAH DAKWAH

Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya, jika kita sepakati dulu makna dakwah yang kita pakai dalam menganalisis AAC. Karena Ahmad Fatih, telah mengatakan bahwa dakwah adalah melanjutkan tugas para nabi dan rasul (waritsatu al-anbiya). Oke, definisi ini, akan kita gunakan.

Sebagai waritsatu al-anbiya, kita perlu mengkaji, bagaimana dakwah para nabi dan rasul itu? Terlalu panjang, jika saya memaparkan 25 rasul di sini. Saya hanya ingin menyuguhkan 5 rasul yang kita kenal dengan ulul 'azmi. Mereka adalah Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad Saw..

Sebagaimana kita ketahui, setiap nabi memiliki mu'jizat. Begitupun dengan beliau berlima. Mu'jizat Nabi Nuh membuat kapal. Nabi Ibrahim, tahan bakar dan tahan direndam. Nabi Musa, tongkat menjadi ular. Nabi Isa, bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Nabi Muhammad, Al-Quran.

Mengapa mu'jizat mereka berbeda-beda? Karena tantangan yang mereka hadapi berbeda. Zaman Nabi Nuh, membuat kapal adalah hal yang besar, maka nabi Nuh juga membuat kapal, tapi beda dengan yang dilakukan kaumnya, membuat kapal di pantai. Sebaliknya nabi Nuh, membuat kapal di atas gunung. Begitu pula dengan nabi Ibrahim, waktu itu kaum berkeyakinan nabi Ibrahim akan hancur (mati) seperti hancurnya patung yang dipenggal dan dihayutkan nabi Ibrahim. Zaman Nabi Musa, terkenal dengan ahli sihir, maka Allah memberi mu'jizat tongkat bisa berubah jadi ular, sedangkan ahli sihir hanya menggelabui mata tali menjadi ular. Nabi Isa memiliki mu'jizat seperti yang saya katakan tadi, karena ilmu pengobatan di zamannya sedang berkembang. Dan nabi Muhammad Saw. mendapat mu'jizat Al-Quran, sebab pada zaman beliau, sedang marak dan jayanya sastrawan dan keahlian bersyair. Dari sini, saya berkesimpulan, bahwa bentuk, metode, atau cara dakwah, harus sesuai dengan kontek zaman, harus sesuai dengan tantangan, dan dengan alat seperti sama padahal berbeda --kapal Nuh sama seperti hasil tukang kapal, tapi tujuan nabi Nuh bukan mau buat kapal, melainkan menyelamatkan kaumnya. Kekebalan Ibrahim, bukan untuk pamer ilmu, tapi untuk meruntuhkan kepongahan kaum kafir. Tongkat Musa seperti sihir, tapi bukan sihir. Pengobatan Nabi Isa seperti ilmu kedokteran, tapi beliau bukan dokter. Al-Quran memiliki sastra sangat tinggi, tapi bukan kitab sastra. Lalu, mengapa tidak kita buat novel, tapi tidak seperti novel orang sekuler?

Perbedaan mu'jizat antara 4 nabi sebelum Nabi Muhammad Saw., dengan beliau adalah kalau Nabi yang empat mu'jizatnya bisa disaksikan ketika peristiwa terjadi, sedangkan mu'jizat nabi Muhammad Saw masih bisa saksikan sampai detik ini, yaitu Al-Quran. Dan Al-Quran, tidak akan berbicara apa-apa, kalau tidak kita sampaikan. Untuk menyampaikan Al-Quran ini, maka kita menggunakan alat, metode, atau cara, yang bisa dikenal dan difahami oleh umat manusia saat ini, alias harus sesuai dengan tantangan zaman ini.

Apa tantangan zaman ini? Menurut saya, tantangan kita saat ini adalah majunya Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK). Nah, dalam menyampaikan pesan dakwah atau Al-Quran (termasuk hadis, sebab untuk memahami Al-Quran kita butuh hadis), hendaknya kita mengunakan TIK itu. Dan salah satu bentuk dari TIK tersebut adalah buku. Dari sekian macam bentuk dan jenis buku adalah novel. Dari sekian ribu novel itu adalah Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Jadi novel atau film AAC, hanya sebuah washilah, alat, sarana, atau cara untuk menyampaikan dakwah dalam kontek zaman ini.

SIAPAKAH KANG ABIK ITU?

Saya mengenal beliau delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2001, ketika saya, Kang Abik, dan beberapa teman Masisir, mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir. Selama saya bergaul dengan beliau, sangat mencintai Al-Quran dan as-sunnah, mencintai ilmu, dan memiliki semangat dakwah yang tinggi. Karakter ini, cukup mempengaruhi program yang kami lakukan, sehingga berusaha semaksimal mungkin, apa yang kami lakukan harus sesuai dengan ajaran Islam dan bisa mendekatkan diri kepada Allah swt, diantaranya adalah acara Pesantren Karya, sebuah pelatihan menulis, tapi kami awali dengan khatam Al-Quran dan diakhiri dengan ifthor jama'i.

Dalam sebuah acara, Kang Abik, mengungkapkan kepada saya, bahwa salah satu latar belakang mengapa FLP Mesir harus ada, karena waktu itu FLP di Indonesia sedang gencar-gencarnya diserang oleh kelompok tertentu yang tidak senang terhadap FLP sebab FLP menjadikan pena (tulisan) sebagai sarana dakwah; da'wah bil qolam, atau dakwah bil kitabah. Ada tuduhan bahwa aktifis FLP hanya mengandalkan semangat saja, tanpa dibarengi ilmu keislaman yang kuat. Maka, kami sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar yang mendalami Islam, harus bergabung untuk mendukung dakwah yang diusung oleh FLP.

Bahkan, dalam obrolan saya dengan Kang Abik di Wisma Nusantara bulan Januari kemaren, beliau berkata: "Yang penting, tugas kita sebagai penulis, harus meluruskan niat, lillahi ta'ala!" Beliau berkata demikian, karena saya menyampaikan beberapa tanggapan orang terhadap AAC. Dalam kesempatan lain, Kang Abik bercerita, bahwa AAC muncul, sebab beliau merasakan betapa dekatnya maut (AAC ditulis, saat Kang Abik harus istirahat total, setelah kecelakaan) dan merasa belum memberikan apa-apa untuk umat.
 
Intinya, untuk menilai apakah Kang Abik ingin menjauhkan umat dari Islam, atau sebaliknya, mendekatkan manusia terhadap Islam, kita lihat berdasarkan standar Al-Quran, bahwa sastrawan (penyair) yang diridla oleh Allah, apabila memiliki tiga sifat ini: 1) beriman kepada Allah; 2) beramal sholeh; dan 3) banyak mengingat Allah swt (silahkan kaji Qs. Asyu'araa; 221-227). Dan ketiga hal ini, ada pada diri Kang Abik.

APA ISI NOVEL AAC?

Saya sepakat dengan Hadi Susanto, saat memberikan Kata Pengantar terhadap novel AAC, beliau tulis bahwa "kemampuan penulis (Kang Abik) untuk menyampaikan dakwah sangat halus sebagai bagian cerita. Kehalusan ini sangat berarti untuk tidak menimbulkan persaan pembaca bahwa dakwah itu sengaja diselipkan dengan terpaksa.Bahkan tanpa kita sadari ilmu fikih dan akidah kita bertambah setelah kita mengikuti dialog-dialog yang disampaikan." Tentu saja pernyataan doktor Twenty Universiteit dan pemerhati sastra ini, tidak "asbun" (asal bunyi), sebab beliau menilai AAC setelah membacanya dengan serius.

Saya membaca tamat Novel AAC dua kali, pertama cetakan I tahun 2004, dan kedua kalinya, cetakan XXVII tahun 2008. Novel setebal 420 halaman itu, menurut saya, sangat kental dengan dakwah. Ini terlihat dari karakter tokoh Fahri sebagai mahasiswa Al-Azhar yang hapal Al-Quran, semangat menuntut ilmu, dan  berjuang menghidupi diri sendiri dengan cara menerjemah buku. Atau tokoh Aisha yang makai cadar dan sholehah. Tokoh Nurul, anak kiyai dan mahasiswi Al-Azhar, sangat menjaga pergaulan, sehingga untuk mengungkapkan cintanya harus minta bantuan pamannya. Begitu pun tokoh Maria seorang Nashrani Qibtiyah yang semangat mencari kebenaran dan akhirnya masuk Islam karena melihat keagungan Islam pada diri Fahri. Secara jelas, amanat novel itu adalah dakwah Islam. Ini terlihat dari cara membangun setting tempat, plot, adegan, dialog, dan unsur-unsur intrinsik lainnya. Sebaiknya, saya copy-kan contoh isi novel AAC:

Bab 9. Merancang Peta Hidup

Dari National Library aku langsung pulang. Di dalam metro aku memaksakan diri membaca dengan seksama pertanyaan-pertanyaan yang diajukan nona Alicia dari Amerika itu. Rasa penasaran mengalahkan perut lapar belum sarapan dan badan yang terasa meriang. Lembar pertama berisi pertanyaan tentang bagaimana Islam memperlakukan wanita. Tentang beberapa hadits yang dianggap merendahkan wanita. Tentang poligami, warisan dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak asing namun terus menerus ditanyakan. Pertanyaan yang seringkali memang dipakai oleh mereka yang tidak bertanggung jawab untuk mendiskreditkan Islam. Di Barat masalah poligami dalam Islam dipertanyakan. Mereka menganggap poligami merendahkan wanita. Mereka lebih memilih anak puterinya berhubungan di luar nikah dan kumpul kebo dengan ratusan lelaki bahkan yang telah beristeri sekalipun daripada hidup berkeluarga secara resmi secara poligami. Menurut mereka pelacur yang memuaskan nafsu biologisnya secara bebas dengan siapa saja yang ia suka lebih baik dan lebih terhormat daripada perempuan yang hidup berkeluarga baik-baik dengan cara poligami.

Untuk semua pertanyaan tentang bagaimana Islam memperlakukan perempuan aku sudah membayangkan semua jawaban yang aku akan tulis, lengkap dengan sejarah perlakuan manusia terhadap perempuan. Sejak zaman Yunani kuno sampai zaman postmo. Aku ingat bahwa para pendeta di Roma sebelum Islam datang, pernah sepakat untuk menganggap perempuan adalah makhluk yang najis dan boneka perangkap setan. Mereka bahkan mempertanyakan, perempuan sebetulnya manusia apa bukan? Punya ruh apa tidak? Sementara Baginda Nabi sangat memuliakan makhluk yang bernama perempuan, beliau pernah bersabda bahwa siapa memiliki anak perempuan dan mendidiknya dengan baik maka dia masuk surga.

Aku tinggal meringkas jawaban yang telah banyak ditulis para sejarawan, cendekiawan dan ulama Mesir. Pertanyaan yang berkaitan dengan perempuan aku anggap selesai. Nanti malam akan aku jawab lengkap dengan data dan dalil-dalil utama dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hadits yang ditanyakan Alicia yang mengatakan katanya Nabi pernah bersabda perempuan adalah perangkap setanadalah bukan hadits. Itu adalah perkataan seorang Sufi namanya Basyir Al Hafi. Sebagaimana dijelaskan dengan seksama dalam kitab Kasyful Khafa. Itu adalah pendapat pribadi Basyir Al Hafi yang kemungkinan besar terpengaruh oleh perkataan para pendeta Roma. Itu bukan hadits tapi disiarkan oleh orang-orang yang tidak memahami hadits sebagai hadits. Bagaimana mungkin Islam akan menghinakan perempuan sebagai perangkap setan padahal dalam Al-Qur’an jelas sekali penegasan yang berulang-ulang bahwa penciptaan perempuan sebagai pasangan hidup kaum lelaki adalah termasuk tanda-tanda kebesaran Tuhan. Dalam surat Ar Ruum ayat dua puluh satu Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Jika perempuan adalah perangkap setan atau panah setan bagaimana mungkin baginda nabi menyuruh memperlakukan perempuan dengan baik. Bahkan beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Orang pilihan di antara kalian adalah yang paling berbuat baik kepada perempuan (isteri)nya.”79 Baginda nabi juga menyuruh umatnya untuk mengutamakan ibunya daripada ayahnya. Ibu disebut nabi tiga kali. Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu!.

Pada lembaran kedua, Alicia bertanya bagaimana Islam memperlakukan nonmuslim? Bagaimana Islam memandang Nasrani dan Yahudi? Apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, sebab media massa Amerika memandang umat Islam berlaku tidak adil? Bagaimana pandangan Islam terhadap perbudakan? Dan lain sebagainya.

Aku teringat sebuah buku yang menjawab semua pertanyaan Alicia ini. Buku apa, dan siapa penulisnya? Aku terus mengingat-ingat. Otakku terus berputar, dan akhirnya ketemu juga. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi yang pernah menjadi sekretaris Grand Syaikh Al Azhar, Syaikh Abdul Halim Mahmud. Aku merasa sebaiknya menerjemahkan buku berjudul Limadzayakhaafunal Islam80 itu ke dalam bahasa Inggris untuk menjawab pertanyaan Alicia. Supaya Alicia dan orang-orang Barat tahu jawabannya dengan jelas dan gamblang. Supaya mereka lebih tahu begaimana sebenarnya Islam memuliakan manusia.

Untuk pertanyaan, apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, yang paling tepat sebenarnya, biarlah umat koptik Mesir sendiri yang menjawabnya. Dan Pope Shenouda pemimpin tertinggi umat kristen koptik Mesir sudah membantah semua tuduhan yang bertujuan tidak baik itu. Pope Shenouda tidak akan bisa melupakan masa kecilnya. Dia adalah anak yatim di sebuah pelosok desa Mesir yang disusui oleh seorang wanita muslimah. Dan wanita muslimah itu sama sekali tidak memaksa Shenouda untuk mengikuti keyakinannya. Wanita muslimah itu mengalirkan air susunya ke tubuh si kecil Snouda murni karena panggilan Ilahi untuk menolong bayi tetangganya yang membutuhkan air susunya. Adakah toleransi melebihi apa yang dilakukan ibu susu Pope Shenouda yang muslimah itu?

Dalam sejarah pemerintahan Mesir, pada tanggal 10 Mei 1911 ada laporan kolonial Inggris ke London yang menjelaskan hasil sensus di Mesir. Dari sensus penduduk waktu itu jumlah umat Islam 92 persen, umat kristen koptik hanya 2 persen, selebihnya Yahudi dan lain sebagainya. Pada waktu itu jumlah pegawai yang bekerja di kementerian seluruhnya 17.569 orang. Dengan komposisi 9.514 orang dari kaum muslimin yang berarti 54,69 persen, dan selebihnya dari kaum koptik, yaitu 8.055 orang dan berarti, 45,31 persen. Bagaimana mungkin jumlah umat koptik yang cuma 2 persen itu mendapatkan jatah 45,31 persen di departemen-departemen kementerian. Dan umat Islam mesir tidak pernah mempesoalkan komposisi yang sangat menganakemaskan umat kristen koptik ini. Apakah tidak wajar jika para pendeta koptik ebih dahulu bersuara lantang menolak tuduhan Amerika sebelum Al Azhar bersuara?

Ulama-ulama besar dan terkemuka Mesir tidak pernah menyapa umat kristen koptik sebagai orang lain. Mereka dianggap dan disapa sebagai ‘ikhwan’ sebagai saudara. Saudara setanah air, sekampung halaman, sepermainan waktu kecil, bukan saudara dalam keyakinan dan keimanan. Syaikh Yusuf Qaradhawimenyapa umat koptik dengan ‘ikhwanuna al Aqbath’, saudara-saudara kita umat koptik. Sebuah sapaan yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui adanya persaudaraan di luar keimanan dan keyakinan. Dalam sejarah nabi-nabi, kaum nabi Nuh adalah kaum yang mendustakan para rasul. Mereka tidak mau seiman dengan nabi Nuh. Meskipun demikian, Al-Qur’an menyebut Nuh adalah saudara mereka. Tertera dalam surat Asy Syuara ayat 105 dan 106: ‘Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata pada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’ Apakah ajaran yang indah dan sangat humanis seperti ini masih juga dianggap tidak adil? Kalau tidak adil juga maka seperti apakah keadilan itu? Apakah seperti ajaran Yahudi yang menganggap orang yang bukan Yahudi adalah budak mereka. Atau ajaran yang diyakini ratu Isabela yang memancung jutaan umat Islam di Spayol karena tidak mau mengikuti keyakinannya?
Aku merasa isi buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi harus dibaca masyarakat Amerika, Eropa, dan belahan dunia lainnya yang masih sering tidak bisa memahami ruh ajaran Islam. Termasuk juga masyarakat Indonesia. Tapi aku bimbang, apakah aku punya waktu yang cukup untuk menerjemahkan buku itu. Kontrak terjemahan harus segera aku tuntaskan. Jakarta sedang menunggu naskah yang aku kerjakan. Proposal tesis juga harus segera kuajukan ke universitas. Dan kondisi kesehatan yang sedikit terganggu.

* * *

Nah, apakah itu bukan sebuah dakwah? Apakah itu akan melenakan umat Islam, atau justru mengingatkan manusia akan betapa agungnya Islam dan Al-Quran?

SEJAUHMANA PENGARUH AAC TERHADAP PARA PEMBACA?

Sampai detik ini, komentar yang saya dengar baik langsung, maupun tidak langsung lewat e-mail, YM, multiply, milis, dan seterusnya, mayoritas merasakan pengaruh positif setelah membaca AAC. Ada yang semakin yakin akan kebenaran Islam; ada yang tambah semangat ingin mengenal Islam; ada yang tambah rajin sholat, dst. Kang Abik sendiri menceritakan bahwa ada orang Kristen merasa tertarik untuk masuk Islam setelah membaca novel itu. Bukankah ini menunjukan betapa dakwah Islam yang terkandung dalam novel AAC berhasil?

Toh kalau pun ada yang tidak tertarik sama novel AAC, jika ia muslim/muslimah, bukan perkara novel itu melalaikan atau tidak, mereka sepakat bahwa novel itu adalah novel dakwah, namun mereka punya selera yang berbeda terhadap jenis tulisan. Lebih dari itu, hampir 100% orang-orang yang tidak senang dengan Islam, mengutuk, mencibir, dan menghina novel AAC.

Dari analisa saya terhadap tiga variabel --penulis, karya, dan pembaca-- itu, maka saya simpulkan: BETUL bahwa novel ACC memang BUKU DAKWAH!!

BEBERAPA MASUKAN UNTUK AHMAD FATIH

Sahabatku Ahmad Fatih, ada beberapa catatan kecil yang perlu antum renungkan, antara lain:

1. Saya, mungkin teman mahasiswa Indonesia Mesir lainnya (ini terungkap dari komentar Mas Romli, Bang Samsu, Mas Rozi, dkk), merasa bahagia dan husnudzon bahwa niat antum baik, tulus, serta positif. Hanya saja sayang, sebuah nasehat akan tidak efektif jika tidak memahami persoalan, apalagi memiliki paradigma salah. Pola pikir memisahkan Islam dari kehidupan (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya (di dalamnya ada seni), keamanan, dst) sama berbahayanya dengan orang yang memisahkan kehidupan dengan agama atau kita kenal dengan sekulerisme;

2. Antum salah fatal, sebab menilai novel dan film AAC sama seperti novel 1001 malam. Ini qiyas ma'al fariq. Lebih parahnya lagi, antum terlalu gegabah menyimpulkan, sedangkan antum sama sekali belum membaca novel AAC dan menonton filmnya. Lucu kan, kalau kita menilai sebuah kitab tafsir ada kisah Israiliyat atau tidaknya, sedangkan kita tidak mempelajri Ilmu Dakhil dan membaca kitab tafsir itu? Apa enggak aneh, kita menyeleksi hadis shahih dan dha'if, tapi kita tidak belajar ilmu musthalah hadis dan tidak membaca hadis? Sungguh ajaib, kita bisa menghukumi halal, haram, makruh, mubah, sunnah, dan wajib sesuatu, sedangkan kita tidak tahu ilmu ushul fiqh dan tidak pernah membaca kitab-kitab fiqh? Sama geleng kepalanya, ketika saya tahu, antum berbicara novel dan film, sementara antum tidak tahu ilmunya dan sama sekali belum baca dan nonton.

3. Satu sisi antum menasehati kami agar mencintai ilmu, namun di sisi lain, antum tidak memperlihatkan sama sekali mencintai ilmu, apalagi mengamalkan ilmu. Antum berbicara tanpa dasar ilmu. Sedangkan Islam sangat menekankan bahwa sebelum berpendapat dan memposisikan diri terhadap suatu hal harus berdasarkan ilmu. Bukankah Allah telah berfirman: "Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ilmun" artinya: Jangan kamu mengikuti; bicara; berpendapat, tanpa ilmu [kaji Qs. Al-Isra [17]:36]

4. Antum mengatakan dakwah itu adalah untuk melanjutkan perjuangan para nabi dan rasul, namun sayang antum tidak mau berusaha keras untuk belajar bagaimana para nabi dan rasul itu berdakwah. Sehingga antum tidak bisa membedakan mana prinsip dakwah yang tsawabit (permanen), dan mana washilah dakwah yang mutaghyyirat (berubah);

5. Dari mana antum punya fikroh bahwa Kang Abik seperti sastrawan menjauhkan diri dari Islam, sedangkan antum belum pernah ketemu? Lebih mirisnya lagi, antum menafikan adanya sastrawan dan majlis sastra Islami, sedangkan Allah sendiri membagi sastrawan menjadi dua: 1) sastrawan perpanjangan tangan syetan; dan sastrawan yang beriman. Seseorang akan disebut sastrawan (penyair), apabila ia memiliki karya sastra (syair). Jadi, kesimpulannya adalah sastra Islam itu ada. [Masalah perdebatan ada tidaknya sastra islami, ini bukan hal yang baru, sudah terlalu sering, lalu mengapa antum tidak mengkajinya secara serius, sehingga antum bisa menghargai pendapat orang lain?]

6. Antum tergesa-gesa menilai novel AAC (juga filmnya) adalah sesuatu yang melalaikan, sehingga antum memposisikan seperti "syetan" yang harus berlindung darinya, sebab antum berkata: "Dan a'udzubillah jika Abang menasehati saya nonton filmnya". Kalau antum memang belajar hadis, antum pasti hapal hadis ini: "Al-'ajalah minasy syaithon" [tergesa-gesa itu dari syetan]. Jadi, siapa nih yang barus berlindung, saya menasehati antum baca dan nonton AAC, atau saya berlindung dari sikap tergesa-gesa antum?

7. Hukum novel (buku) --sebagai washilah, alat, sarana-- sama dengan hukum produk TIK yang lainnya, misal komputer dan internet yang antum pakai untuk membaca e-mail saya ini. Hukumnya mubah. Jadi masalahnya, bukan pada novel (buku), komputer, dst, tapi pada cara kita menggunakan alat-alat itu untuk apa, buku kalau untuk dakwah, insya Allah berpahala, sebaliknya buku untuk mengumbar hawa nafsu, ya berdosa. Jadi yang melenakan kita itu bukan novel saja, tapi apapun di muka bumi ini, baik itu anak, isteri/suami, mobil, rumah, sawah, dst. Makanya, jangan "gebyah uyah" --menggeneralisir-- persoalan, tanpa melihatnya secara mendalam. Kalau antum mengharamkan novel, lalu mengapa tidak mengharamkan komputer yang sedang antum pakai ini, bukankah sama-sama alat?

8. Antum bilang: "Tidak ada seorang ulama pun mengajak manusia untuk mendalami kitab 1001 malam kecuali hanya untuk mendalami bahasa arab". Nah, gimana kalau saya membaca AAC untuk mendalami bahasa Indonesia, apakah juga haram? Saya balik tanya, ulama mana yang mengharamkan kita membaca buku 1001 malam?"

9. Jika antum mengajak saya dan teman-teman di Mesir untuk mencintai ilmu, maka saya mengajak antum untuk berpikir dahulu sebelum bicara dan bertanya dulu jika tidak tahu. Bukankah suka bertanya itu adalah kebiasaan para sahabat nabi, sehingga terabadikan dalam Al-Quran dengan ayat-ayat diawali dengan "Yas aluuun..."? Bukankah nabi juga  pernah bersabda: "Hidupnya ilmu karena bertanya". Makanya, sebelum bicara ttg novel dan film AAC, nanya dulu dong, biar gak nyesal gara-gara salah bicara!

Wallahu a'lam. Mudah-mudahan tanggapan saya ini antum baca dengan pikiran jernih, hati yang lapang, dan sikap dewasa, supaya tidak "menggigau" lagi. Kan kalau antum jawab yang bukan-bukan,  ntar e-mail-email termasuk yang melalaikan manusia dari Allah lho!

Terakhir, saya jadi ingat obrolan dengan Kang Abik beberapa minggu yang lalu. Beliau berkata: "Likulli ra'sin, royun" [Setiap kepala, pasti memiliki pendapat]. Nah, saya hanya memaparkan pendapat saya dan tidak akan melakukan seperti yang antum lakukan, memaksa orang lain untuk mengikuti pendapat antum. Antum mau menerima atau menolak, itu urusan antum, tugas saya hanya menyampaikan saja.

'Ala kulli hal, saya ucapkan terima kasih, atas kejadian ini, saya bisa belajar bahwa LEBIH BAIK DIAM, DARI PADA BICARA TANPA ILMU.

# # #

E-MAIL TANGGAPAN AHMAD FATIH

Sahabat Ahmad Fatih...
    #Ya saya sendiri.....

Membaca e-mail antum, hati saya tergerak untuk belajar banyak dari antum. Namun, sebelum saya menanggapi tulisan antum, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan:

1. menurut antum, seperti apakah dakwah itu?
 
   # Abang Udo, saya bukan ahli ilmu sehingga abang tidak perlu belajar dari saya, setahu saya Dakwah itu adalah melanjutkan tugas para Nabi dan Rasul, bagaimana agar manusia kembali pada Allah, mengenal Allah, mensyukuri Allah, tidak mengajak pada syirik, dan takut dan harap pada Allah. QS Al-Ra'd:36, QS Al-Jin:20. Dan apabila kita setuju bahwa dakwah adalah hal yang saya tulis diatas, lalu pada waktu yang sama Abang bilang bahwa AAC itu dakwah, saya justru balik bertanya: AAC itu mendakwahkan Apa? Cinta? Seni? Hiburan? Novel dan Film ini apakah tidak melalaikan manusia? Coba saja kita lihat komentar dari para pembaca dan penonton. Wallahu AlMusta'an

2. pernahkah antum bertemu dgn Kang Abik lalu bertanya, apa yg menggerakan beliau menulis novel AAC? 3. apakah antum pernah baca AAC dan nonton filmnya?

   # Terus terang saya belum pernah ketemu dengan beliau ataupun baca buku beliau bahkan menonton film AAC. Saya tidak meremehkan beliau, ataupun tidak menghargai jasanya sama sekali. Tapi untuk ketemu rasanya kaki saya ini tidak mengizinkan melangkah jauh layaknya pencari kelayakan hadits, tidak ada dalam sejarah Islam majlis cerita islamiy, tidak ada seorang ulama pun mengajak manusia untuk mendalami kitab 1001 malam kecuali hanya untuk mendalami bahasa arab,
Ulama yang ilmunya diabaikan
Pengarang novel dan sutradara yang ceritanya dibuaikan
Manalah umat ini akan menang, jika menolong sunnah bukan dengan sunnah... Dakwah yang melalaikan
Dan a'udzubillah jika Abang menasehati saya nonton filmnya

Jika tiga hal itu antum jawab, insya Allah, kita lanjutkan diskusi.
 
   # Saya rasa cukup itu dulu jawabannya

Demikian, afwan bila ada kata yg kurang berkenan
 
   # Saya juga minta maaf sekali jika ada kata-kata saya yang tidak enak dibaca

wassalamu'alaikum wr wb
 
#  #  #

E-MAIL TANGGAPAN SAYA

Udo Yamin Majdi <udoyamin_majdi@ yahoo.com> wrote:

Sahabat Ahmad Fatih...

Membaca e-mail antum, hati saya tergerak untuk belajar banyak dari antum. Namun, sebelum saya menanggapi tulisan antum, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan:

  1. menurut antum, seperti apakah dakwah itu?
  2. pernahkah antum bertemu dgn Kang Abik lalu bertanya, apa yg menggerakan beliau menulis novel AAC?
  3. apakah antum pernah baca AAC dan nonton filmnya?

Jika tiga hal itu antum jawab, insya Allah, kita lanjutkan diskusi.

Demikian, afwan bila ada kata yg kurang berkenan

wassalamu'alaikum wr wb


#  #  #

E-MAIL AHMAD FATIH

   # Wa'alaikum salam warahmatullai wabarakaatuhu

Ahmad Fatih <fatihahmad@yahoo. com> wrote:
Wallahi sahabat-sahabat yang di mesir, antum mau jadi ulama atau mau jadi sutradara... ...
apa buku ayat-ayat cinta yang di karang oleh alumni azhar ini buku dakwah? sehingga kalian besar-besarkan? pohon yang jelek itu tidak mngeluarkan buah kecuali yang jelek pula...dari buku yang mengundang untuk menjauhkan kalian dari ilmu sampai ke film yang mengundang kalian keluar dari lahan ilmu....
Kalian Ahli ilmu.....
Kenapa sibuk dengan masalah seni....film. ....dsb.. ..
Kenapa sibuk dengan megurus partai ketimbang menuntut ilmu....
Kenapa terlalu banyak kegiatan...acara. ..dsb...
Wallahi kami butuh ulama yang hafizd quran dan paham sunnah....
Wallahi kami tidak butuh film, tidak butuh seni....
Kami Haus akan ilmu yang bersih dari hawa dan nafsu...

53 CommentsChronological   Reverse   Threaded
catatankecil wrote on Feb 26
Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ilmun. Sepakat Udo!
udoyamin wrote on Feb 26
Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ilmun. Sepakat Udo!
sip, terkadang udo harus tegas dan lugas, ketika berhadapan dgn org yang merasa paling Islam di hadapan umat Islam
sonofamaria wrote on Feb 26
apapun yg terjadi Novel Ayat² Cinta adalah salah satu dari beberapa Novel terbaik yang pernah saya baca,terserah orang mau berkicau apa..
udoyamin wrote on Feb 26
apapun yg terjadi Novel Ayat² Cinta adalah salah satu dari beberapa Novel terbaik yang pernah saya baca,terserah orang mau berkicau apa..
alhamdulillah, ada tergerak untuk berkata jujur, bahwa AAC sgt mempengaruhi pembaca. Nah siapa lagi yg ingin menjadi saksi bahwa novel itu bermanfaat, biar orang yg menjelek AAC tapi blon baca, yakin?
abahsaidan wrote on Feb 26
Alhamdulillah, wawasan saya bertambah dari mengikuti diskusi Udo di atas. Terima kasih, Jazakallaahu khairan katsiiraa, semoga Allah melapangkanjalan Udo dalam mencari ilmu.
multa2001 wrote on Feb 26, edited on Feb 26
menurut saya untuk orang orang yang pemahaman agamanya sudah tinggi/bnyak mungkin tidak memerlukan lagi dakwah dari novel film dsb. Jangan lupa banyak orang Indonesia yang beragama Islam tetapi pemahaman agamanya masih kurang dan masih ingin belajar. Seperti saya dan jika saya belajar dari kitab kitab atau dakwah dengan tulisan tulisan yang berat tentu akan sulit dicerna. Dengan adanya novel yang berisi dakwah tetapi saya merasa novel itu tidak menggurui membuat saya membaca dengan sangat amat menikmati dan menambah wawasan tentang keislaman saya.

Menurut saya bagi yang tidak suka sebaiknya jangan menjelek2an karena ini akan berpengaruh tethadap orang2 yang baru ingin belajar /memahami agama karena menjadi bingung.....
sonofamaria wrote on Feb 26
saya juga rada kecewa dengan reviewnya mbak asma nadia,padahal beliau sudah baca novelnya,no offense tapi Ayat² Cinta JAUHHHHHHHHH lebih tinggi kualitasnya di banding Aisyah putri yang pas Valentine saya seperti baca kisah cerpen yg di majalah Kawanku,saya belum nonton filmnya tapi secara MD ,lha kita ga bisa berharap banyak mau dari production house lain kek sama aja..yang penting Novelnya maknyuss abiez!!!! karena kata mbak Asma novel Ayat2 cinta sama seperti kisah percintaan biasa yang dibumbui nafas2 islami dan sekedar cinta 4 bendera,padahal menurut saya
Fahri emang benar2 Loveable pisann ga perlu main rasis,setiap cewek pasti mendambakan pria seperti Fahri!!!!!!!!
Comment deleted at the request of the thread owner.
multa2001 wrote on Feb 26
saya juga rada kecewa dengan reviewnya mbak asma nadia,padahal beliau sudah baca novelnya,no offense tapi Ayat² Cinta JAUHHHHHHHHH

Sama dunk saya juga kecewa berat dengan review buku AAC oleh mba Asma apalagi dengan kritikannya dan mengatakan tidak bisa menikmati buku nya..........halah itu soal selera kali ya...berarti selera aku dan selera mba asma beda ya.....haaaaaa jadi mungkin novel2 mbak asma pun gak selera aku kali ya........Kaleee
sonofamaria wrote on Feb 26
karena bahkan ketika si Fedi nuril ini di wawancarai di Ceriwis,dia mengaku jadi lebih banyak belajar tentang Islam yang selama ini cuman tau aturannya ga boleh begini dan begitu tapi masih bingung soal kenapanya,eh skrg jadi rada lumayannpan Alhamdulillah tuh.. soal nyampe konek ga koneknya soal Dakwah itu mah urusan Sang Kholiq dan makhluknya..kita sebagai hamba pan cuma bisa berikhtiar..betul atau betul??...

eh mbak multa..selera kita SAMA ATUH!!! da setiap temen2 wanita saya yg baca semuanya jatuh cinta sama buku itu da..namanya juga selera.. tapi curiga bacanya sambil merem atau pas lagi bagian ilmu²nya di skip ke bagian yang ada si maria yg lagi ngejenguk si fahri sakit..hihihi itu mah saya pisan
hahahahhaa becanda ding..pokoknya saya takjub pisan pas si Fahri ngejelasin soal yg di Tram dan bagaimana kita memperlakukan seorang Bule..hihihi mantabhh tuhh ga dipelajarin di sekolahan disini...^__^
arrohwany wrote on Feb 26, edited on Feb 26
Wuah puanjaaang bangeeet...
Belum habis-habis juga nih bacanya :)
maydays wrote on Feb 26, edited on Feb 26
Assalam alaikum.
Udooooo.......AAC emang setuju. Tapi filmnya buat kecewa....saya emang malesa nonton seh.
Ketika ada seminar di Griyajateng jg mw ana tanyain kenapa kok bisa tuh dibuat film, yg ana takurkan ternyata terjadi juga, keabsahan AAC sebagai novel yg [mengandung unsur] dakwah jadi sedikit ternoda....
alinasheart wrote on Feb 26, edited on Feb 26
Terus terang, membacanya jadi merinding, Udo. Aline makin penasaran terhadap AAC. InsyaAllah, semoga aline juga bs baca. Mungkin, aline kayak gitu kali ya? hehehe... kadang sok tahu.com ^_^ Padahal, aline cuma pengen mendapat tanggapan dan jawaban. Jujur, aline pengen banyak belajar dari Udo. Mohon maaf yg sebesar2nya jika ada salah2 kata. Itu karena aline masih pengen terus belajar dan suka bertanya yg aneh2. Jazakumullah khiaran katsira.

Oh ya, Udo. Aline bisa pesan buku "Quronic Quotient" sama Udo? Soalnya, kk sy gak menemukannya di Palu. Ini saran dari Mbak Iwanna. :)

Wassalamu'alaikum wr.wb.
azzamq wrote on Feb 26
bagi saya (*pribadi) lebih enak dan lebih baik untuk membaca bukunya saja.....
~walaupun belum secara tuntas melihat filmnya (hanya beberapa penggalan hasil donlod yang gagal)~ tetepi bagi saya (*pribadi lagi) bebarapa "tampilan" peran di film tersebut berbeda jauh dari yang dijelaskan di buku....
disampingbeberpa pertimbangan yang laen
Allahu a'lam
arrohwany wrote on Feb 26
Sebuah masukan semoga berharga:
http://arrohwany.multiply.com/journal/item/2781/Kritis_Dengan_Novel_Cerpen_Puisi_dan_Hidup_Kita...

Dan berhubung akhirnya adalah amalan yang begitu berat menuntut)
Maka alangkah baik (berkaitan hal ini) ana diam...
Alangkah bahaya dan keburukan semata, sekiranya mengucapkan sesuatu yang kita sendiri tiada sungguh berhati-hati denganya...

“Yaa Allah, hamba mengakui dosa-dosa hamba, teguhkan iman hamba dan teguhkan keikhlasan hati ini…”
burhanshadiq wrote on Feb 26
memang ini bagian dari resiko yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Bola menggelinding terlalu jauhd an tertallu besar. Buku itu akhirnya menjadi produk pop culture yang terjamah oleh industri bernama kapitalisme. Novel berbeda dengan film, karena pembahasan tentang filem islami sampe kini belum juga tuntas. Definisinya masih diperdebatkan antara filem yang menjaga konsep syar'i dalam pembuatannya, ataukah filem yang secara konten berbau islamy.
udoyamin wrote on Feb 26
assalamualaikum.. selamat pagi untuk semuanya.. alhamdulillah.. akhirnya tercipta sebuah filem yang berunsur dakwah Ayat Ayat Cinta (AAC) yang amat bermanfaat untuk penggemarnya mahupun penonton amnya, insya-Allah.. semoga ianya menjadi sandaran bagi mereka yang kurang arif pengetahuannya mengenai ajaran Islam, terutama tata susila mengenai hukum pergaulan yang bukan muhrimnya! saya mengucapkan syabas kepada insan-insan yang terbabit yang telah melahirkan filem ini, tahniah!!! semoga dilain kesempatan agar dapat menciptakan lebih banyak lagi filem-filem dakwah yang berwibawa dan bermutu... amin... wassalam...

To Nuur5050
Makasih atas tanggapannya, tapi Quote original massage, jgn semuanya ditampilkan, kasihan yg lain buka MP udo jadi lama.
udoyamin wrote on Feb 26
Alhamdulillah, wawasan saya bertambah dari mengikuti diskusi Udo di atas. Terima kasih, Jazakallaahu khairan katsiiraa, semoga Allah melapangkanjalan Udo dalam mencari ilmu.
sama2, udo juga haturkan terima kasih udah mau membaca tulisan udo. amin allahumma amin, semoga do'amu jadi kenyataan
indahmasruroh wrote on Feb 27
TFS nya Pak..
nurulizzaishak wrote on Feb 27
salam...
ana belom lagi membaca keseluruhan novel ini...
jadi xdapat mengulas lanjut...

apa2 pun,terima kasih dengan diskusi yang di kongsi yea..
moga ia bermanfaat untuk semua...
salam perjuangan untuk semua sahabat...

teruskan menimba ilmu yang
terlalu byk ALLAH telah tebarkan untuk kita...
di Muka Bumi ini...

Sekian, Wassalam
sultanhaidar wrote on Feb 27
Mas/mba Udo, salam kenal dan numpang komentar

:-)
Kalau boleh saran ke Ahmad Fatih, setiap muslim bagusnya sebelum komentar ya mbok mengerti dulu apa bahan yang sedang dikomentari. Kita bukan sedang berteka-teki dengan perasaan (feeling) dan praduga (pretensi). Masa belum baca bukunya saja sudah dilabrak bukan buku dakwah. Sepertinya etika dakwah-nya Ahmad Fatih yang nyaris hilang. Selain itu, mas Ahmad Fatih harus lebih peka mana yang dinamakan film dan mana yang dinamakan buku. Dua term yang berbeda.

Dalam menanggapi film garapan mas Hanung, sebenarnya kang Abik sendiri secara jujur dan setengah hati mengungkapkan, bahwa film AAC tidak sepenuhnya (full-tumplek) menjiwai inspirasi dia atas AAC. Masih cukup jauh (dengan segala keterbatasan-nya).

Sebelum berkomentar terlalu banyak, coba deh mas Ahmad Fatih menelaah (kalau nggak mau dibilang membaca dan menghabiskan waktu) buku-buku kang Abik semisal: Ketika Cinta Berbuah Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Di atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih (ep.1), Ketika Cinta Bertasbih (ep. 2). InsyaAlloh akan didapat bahasa-bahasa dakwah kang abik. Dan setelah itu baru boleh berkomentar

Ps.
Saya komentar, dan alhamdulillah sudah baca semua buku-2nya di atas. Jadi bukan asal kritik :-)
udoyamin wrote on Feb 27
menurut saya untuk orang orang yang pemahaman agamanya sudah tinggi/bnyak mungkin tidak memerlukan lagi dakwah dari novel film dsb. Jangan lupa banyak orang Indonesia yang beragama Islam tetapi pemahaman agamanya masih kurang dan masih ingin belajar. Seperti saya dan jika saya belajar dari kitab kitab atau dakwah dengan tulisan tulisan yang berat tentu akan sulit dicerna. Dengan adanya novel yang berisi dakwah tetapi saya merasa novel itu tidak menggurui membuat saya membaca dengan sangat amat menikmati dan menambah wawasan tentang keislaman saya.

Menurut saya bagi yang tidak suka sebaiknya jangan menjelek2an karena ini akan berpengaruh tethadap orang2 yang baru ingin belajar /memahami agama karena menjadi bingung.....
Nabi mengumpamakan manusi seperti tanah. Ini saya baca dalam kitab Fathul Bâry. Dalam kitab Syarhu Shahih Al-Bukhâry karya Ibnu Hajar Al-Asqolany itu, Imam Bukhari meriwayat sebuah hadis dari Abu Musa. Bunyi hadis tersebut, kurang lebih begini:
"Hidayah dan ilmu yang Allah berikan kepadaku seperti air hujan lebat yang menyiram tanah. Tanah itu ada yang subur, bisa menyerap air sehingga menumbuhkan rumput dan pohon banyak. Ada tanah gersang, hanya bisa menampung air sehingga tempat orang untuk mengambil air minum, menyiram kebun dan untuk bertani. Ada juga tanah yang licin yang tak bisa menyerap dan menampung air sehingga tidak dapat menumbuhkan pepohona dan memberikan manfa'at apapun. Tanah pertama adalah perumpamaan orang memahami agama Allah dan apa yang Allah berikan kepadaku bermanfa'at bagi mereka, mereka senantiasa mempelajari dan mengajarkannya. Tanah kedua adalah perumpamaan orang yang belajar dan mengajarkan ilmu kepada orang lain, tapi ilmu itu tidak mereka amalkan. Dan tanah ketiga adalah perumpamaan orang yang tidak menerima hidayah Allah dan risalah nabi Muhammad Saw."
Maka dalam cara kita berdakwah juga tiga macam, 1) bil hikmah (bijak); 2) al-mau'dzah (nasehat); dan al-jidal (debat). (selanjutnya kaji Al-Quran surat An-Nahl [16]: 125). Nah, novel itu adalah salah satu bentuk dakwah secara bilhikmah. wallahu a'lam.
udoyamin wrote on Feb 27
saya juga rada kecewa dengan reviewnya mbak asma nadia,padahal beliau sudah baca novelnya,no offense tapi Ayat² Cinta JAUHHHHHHHHH

Sama dunk saya juga kecewa berat dengan review buku AAC oleh mba Asma apalagi dengan kritikannya dan mengatakan tidak bisa menikmati buku nya..........halah itu soal selera kali ya...berarti selera aku dan selera mba asma beda ya.....haaaaaa jadi mungkin novel2 mbak asma pun gak selera aku kali ya........Kaleee
Nabi pun pernah bersabda: "TERMASUK DUSTA BILA KITA MENGATAKAN SEMUA YANG KITA KETAHUI" Menyembuyikan kekecewaan kita terhadap novel dan AAC bukan sebuah ketidak-jujuran. Apalagi kalau posisi kita fublic figur, hendaknya bisa menahan diri tidak mengungkapkan kejelekan orang lain, apalagi saudara seiman. Saya sudah baca dan nonton film itu, apakah saya tidak kecewa jika penggambaran setting dlm buku dan film tidak sesuai dgn pengalaman 8 tahun tinggal di Mesir? Tapi aku memposisikan karya Kang Abik dan Mas Hanung sebagai ASET UMAT ISLAM, maka saya simpan kekecewaan itu untuk diri sendiri, tidak usah mengajak orang lain untuk kecewa. Yang paling tepat adalah ngomong langsung sama Kang Abik dan Mas Hanung. Sebab, seberapa manfa'atya kita menulis kekesalan kita di milis untuk perbaikan sebuah karya, atau sebalik itu membangun opini jelek? wallahu a'lam
udoyamin wrote on Feb 27
karena bahkan ketika si Fedi nuril ini di wawancarai di Ceriwis,dia mengaku jadi lebih banyak belajar tentang Islam yang selama ini cuman tau aturannya ga boleh begini dan begitu tapi masih bingung soal kenapanya,eh skrg jadi rada lumayannpan Alhamdulillah tuh.. soal nyampe konek ga koneknya soal Dakwah itu mah urusan Sang Kholiq dan makhluknya..kita sebagai hamba pan cuma bisa berikhtiar..betul atau betul??...

eh mbak multa..selera kita SAMA ATUH!!! da setiap temen2 wanita saya yg baca semuanya jatuh cinta sama buku itu da..namanya juga selera.. tapi curiga bacanya sambil merem atau pas lagi bagian ilmu²nya di skip ke bagian yang ada si maria yg lagi ngejenguk si fahri sakit..hihihi itu mah saya pisan
hahahahhaa becanda ding..pokoknya saya takjub pisan pas si Fahri ngejelasin soal yg di Tram dan bagaimana kita memperlakukan seorang Bule..hihihi mantabhh tuhh ga dipelajarin di sekolahan disini...^__^
# sebuah kebahagiaan tak terkira, bersamaan kesedihan sangat mendalam, setiap kali saya membaca tulisan Mas Hanung MPnya. bahagia, karena suatu saat Mas Hanung akan menjadi sustradara pembela Islam seperti Dedi Mizwar. Sedihnya, mengapa tidak ada orang kaya muslim yang tergerak hatinya untuk mendanai film2 Islam, sehingga banyak film islami kandas di tengah jalan, di antara KETIKA MAS GAGAH PERGI. Umat Islam hanya teriaaaaaaaaaak membabi buta terhadap film2 dan sinetron yg ada, tanpa pernah memberikan film/sinetron alternatif yg Islami. Suatau ketika para ulama kumpul bersama produser film. Ulama memarahi produser yg nota bene muslim: "Mengapa kalian hanya menampilkan film2 tdk Islami?" Jawab produser: "Di pasaran, kami tidak menemukan film2 Islami, kalau ada tolong kasihkan, nanti kami beli! Para ulama pun diam. Nah, jangan sampai hal ini terulang lagi. Balas novel dan film sekuler dgn novel dan film islami. Jangan hanya bisa mencaci, memaki, dan menjelek2kan. PERMASALAH TIDAK PERNAH SELESAI DENGAN KATA-KATA, APALAGI DENGAN UMPATAN!!
udoyamin wrote on Feb 27
Wuah puanjaaang bangeeet...
Belum habis-habis juga nih bacanya :)
iya nih, puanjaaaaaaaaang tenan, soalnya keenakan udo nulis. maklum udo mah orang cerewet! hehehe
moeja wrote on Feb 27
Saya telah berinteraksi dengan kang Abik waktu beliau tinggal di Solo,
Saya juga sudah baca novelnya.
insya Allah penilaian kang Udo itu benar adanya.
terus bergerak....bersama kereta dakwah ini
udoyamin wrote on Feb 27
maydays said
Assalam alaikum.
Udooooo.......AAC emang setuju. Tapi filmnya buat kecewa....saya emang malesa nonton seh.
Ketika ada seminar di Griyajateng jg mw ana tanyain kenapa kok bisa tuh dibuat film, yg ana takurkan ternyata terjadi juga, keabsahan AAC sebagai novel yg [mengandung unsur] dakwah jadi sedikit ternoda....
Antara buku dan layar film dua hal yang beda, yang satu hanya mengandalkan huruf (simbol) dan membebaskan imajinasi kita, sedangkan yg satu lagi mengunakan audio-visual (telinga dan mata) dan mengkrangkeng imajinasi. Maka kalau nonton AAC sebaiknya: 1) lupakan bahwa kita telah baca novelnya; 2) bagi kita yg tinggal di Mesir, lupakan sementara bahwa kita sedang di Mesir; 3) ketika melihat para tokohnya, lupakan bahwa kita pernah melihat akting mereka di film lain. Kalau kita tidak bisa melupakan 3 hal itu, maka jgn salahkan siapa2 kalau kita kecewa. sebab, untuk mengendalikan diri sendiri kita tidak bisa, apalagi mau ngatur orang lain (sustradara film etc)
udoyamin wrote on Feb 27
Terus terang, membacanya jadi merinding, Udo. Aline makin penasaran terhadap AAC. InsyaAllah, semoga aline juga bs baca. Mungkin, aline kayak gitu kali ya? hehehe... kadang sok tahu.com ^_^ Padahal, aline cuma pengen mendapat tanggapan dan jawaban. Jujur, aline pengen banyak belajar dari Udo. Mohon maaf yg sebesar2nya jika ada salah2 kata. Itu karena aline masih pengen terus belajar dan suka bertanya yg aneh2. Jazakumullah khiaran katsira.

Oh ya, Udo. Aline bisa pesan buku "Quronic Quotient" sama Udo? Soalnya, kk sy gak menemukannya di Palu. Ini saran dari Mbak Iwanna. :)

Wassalamu'alaikum wr.wb.
# Aline udo senang kok samamu yg benar2 ingin belajar, terus maju ya dek!
# Untuk buku Quranic Quotient, kata penerbit ada di Gramedia. Kalo pesan ke udo gimana? Udo juga pesan untuk Mesir gak juga kunjung datang. Ntar udo tanya sama penerbit, bisa gak mereka kirim buku itu, maka mana alamat Aline. biar mereka kirim. alamat aline via e-mail udo aja.
# untuk pertanyaan Aline di milis Eska, insya Allah, udo jawab besok, Kamis. Otreeee??
udoyamin wrote on Feb 27
azzamq said
bagi saya (*pribadi) lebih enak dan lebih baik untuk membaca bukunya saja.....
~walaupun belum secara tuntas melihat filmnya (hanya beberapa penggalan hasil donlod yang gagal)~ tetepi bagi saya (*pribadi lagi) bebarapa "tampilan" peran di film tersebut berbeda jauh dari yang dijelaskan di buku....
disampingbeberpa pertimbangan yang laen
Allahu a'lam
yup, hidup itu pilihan. maka sah2 saja, kita milih apa saja, asal siap dgn segala konsekuensinya. ya kala antum milih untuk tidak nonton, siap2lah antum hanya jadi pendengar saja, tatkala orang lain diskusi ttg film AAC.
udoyamin wrote on Feb 27
Sebuah masukan semoga berharga:
http://arrohwany.multiply.com/journal/item/2781/Kritis_Dengan_Novel_Cerpen_Puisi_dan_Hidup_Kita...

Dan berhubung akhirnya adalah amalan yang begitu berat menuntut)
Maka alangkah baik (berkaitan hal ini) ana diam...
Alangkah bahaya dan keburukan semata, sekiranya mengucapkan sesuatu yang kita sendiri tiada sungguh berhati-hati denganya...

“Yaa Allah, hamba mengakui dosa-dosa hamba, teguhkan iman hamba dan teguhkan keikhlasan hati ini…”
Amin. Allahumma Amin
udoyamin wrote on Feb 27
memang ini bagian dari resiko yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Bola menggelinding terlalu jauhd an tertallu besar. Buku itu akhirnya menjadi produk pop culture yang terjamah oleh industri bernama kapitalisme. Novel berbeda dengan film, karena pembahasan tentang filem islami sampe kini belum juga tuntas. Definisinya masih diperdebatkan antara filem yang menjaga konsep syar'i dalam pembuatannya, ataukah filem yang secara konten berbau islamy.
yup, ini PR kita sebagai umat Islam, untuk merumuskan seperti apa film Islami itu. Untuk menuju ke sana, maka harus ada sinergi antara semua komponen umat Islam, baik itu penulis novel, penulis naskah, produser, sutradara, bintang film, ulama, dst
udoyamin wrote on Feb 27
TFS nya Pak..
sip, TFS jg. hehe
udoyamin wrote on Feb 27
salam...
ana belom lagi membaca keseluruhan novel ini...
jadi xdapat mengulas lanjut...

apa2 pun,terima kasih dengan diskusi yang di kongsi yea..
moga ia bermanfaat untuk semua...
salam perjuangan untuk semua sahabat...

teruskan menimba ilmu yang
terlalu byk ALLAH telah tebarkan untuk kita...
di Muka Bumi ini...

Sekian, Wassalam
makasih atas supportny, moga ukhwah kita trus terjalin
udoyamin wrote on Feb 27
Mas/mba Udo, salam kenal dan numpang komentar

:-)
Kalau boleh saran ke Ahmad Fatih, setiap muslim bagusnya sebelum komentar ya mbok mengerti dulu apa bahan yang sedang dikomentari. Kita bukan sedang berteka-teki dengan perasaan (feeling) dan praduga (pretensi). Masa belum baca bukunya saja sudah dilabrak bukan buku dakwah. Sepertinya etika dakwah-nya Ahmad Fatih yang nyaris hilang. Selain itu, mas Ahmad Fatih harus lebih peka mana yang dinamakan film dan mana yang dinamakan buku. Dua term yang berbeda.

Dalam menanggapi film garapan mas Hanung, sebenarnya kang Abik sendiri secara jujur dan setengah hati mengungkapkan, bahwa film AAC tidak sepenuhnya (full-tumplek) menjiwai inspirasi dia atas AAC. Masih cukup jauh (dengan segala keterbatasan-nya).

Sebelum berkomentar terlalu banyak, coba deh mas Ahmad Fatih menelaah (kalau nggak mau dibilang membaca dan menghabiskan waktu) buku-buku kang Abik semisal: Ketika Cinta Berbuah Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Di atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih (ep.1), Ketika Cinta Bertasbih (ep. 2). InsyaAlloh akan didapat bahasa-bahasa dakwah kang abik. Dan setelah itu baru boleh berkomentar

Ps.
Saya komentar, dan alhamdulillah sudah baca semua buku-2nya di atas. Jadi bukan asal kritik :-)
setuju, tulisan di MP ini, udah udo kirim ke Ahmad Fatih
udoyamin wrote on Feb 27
moeja said
Saya telah berinteraksi dengan kang Abik waktu beliau tinggal di Solo,
Saya juga sudah baca novelnya.
insya Allah penilaian kang Udo itu benar adanya.
terus bergerak....bersama kereta dakwah ini
salam kenal ya, kapan udo bisa ke Solo? Apa nunggu jadi penulis kayak Kang Abik? Ngimpi kali ya? hehe
ibnuabiihi wrote on Feb 27
'Ala kulli hal, saya ucapkan terima kasih, atas kejadian ini, saya bisa belajar bahwa LEBIH BAIK DIAM, DARI PADA BICARA TANPA ILMU.
Terimakasih, Udo...
Bagian ini selalu saya ingat, dan saya pegang. Tapi mafhum muwafaqohnya, Boleh bicara asal punya ilmu kan ???
Syukron awwi, Udo...
rismandukhan wrote on Feb 27
jazakalloh khoiront katsiron atas sharing-nya bang udo.., wah ! saya belum bisa komentar ttg AAC krn di Qatar agak sulit dapat novel-nya apalgi film-nya ha..ha..ha... tapi yg pasti saya dukung banget kalo ada yg memperjuangkan demi izzatul islam asal sesuai dg apa yg di syariatkan oleh Rosulloh SAW
ajaibdesign wrote on Feb 28
:)
zawwadroom wrote on Feb 28
udooo..panjang banget blog nya:D, tp coba menanggapi inti permasalahannya neh, nurut bunda zawwad seh novel AAC itu muatan dakwahnya memang ada, kemasannya juga bagus. cuma filmnya aja agak menyayangkan, walopun lom nonton, sok tahu yeee:P, katanya ada adegan kissing segala ya. harusnya, justru filmnya harus lebih bernuansa dakwah dibandingkan novelnya. sebab anak muda sekarang gandrung banget ma bioskop plus tema-tema cinta seperti AAC. wallahua'lam
udoyamin wrote on Feb 28
jazakalloh khoiront katsiron atas sharing-nya bang udo.., wah ! saya belum bisa komentar ttg AAC krn di Qatar agak sulit dapat novel-nya apalgi film-nya ha..ha..ha... tapi yg pasti saya dukung banget kalo ada yg memperjuangkan demi izzatul islam asal sesuai dg apa yg di syariatkan oleh Rosulloh SAW
buku AAC ada pada udo, kl mau pinjam, asal kirim tiket Cairo-Qotar return. hehe
udoyamin wrote on Feb 28
:)
hmmm
udoyamin wrote on Feb 28
udooo..panjang banget blog nya:D, tp coba menanggapi inti permasalahannya neh, nurut bunda zawwad seh novel AAC itu muatan dakwahnya memang ada, kemasannya juga bagus. cuma filmnya aja agak menyayangkan, walopun lom nonton, sok tahu yeee:P, katanya ada adegan kissing segala ya. harusnya, justru filmnya harus lebih bernuansa dakwah dibandingkan novelnya. sebab anak muda sekarang gandrung banget ma bioskop plus tema-tema cinta seperti AAC. wallahua'lam
sengaja panjaaang, biar yg baca "kenyang". hehe... yup, idealnya filmny lbh bagus, tapi syang tdk PH film muslim yg mau mendanainya, malah MD yg non-muslim
himma wrote on Feb 28
saya sm novel aac mah biasa aja yg ttg cinta2annya..mungkin krn saya dah tuwa?..hehehe tp saya acung jempol sama dakwahnya yg dahsyat tuh dinovel detail dan kadang menyentuh hati.klo yg pilm buanyak kecewanya mungkin krn saya gak bisa nglupain bhw sy tinggal dimesir?..hehehe yg sy kecewa ya itu penggantian tokoh2 teman satu penjaranya fahri dimana teman2 yg sholeh dan saling nasihati utk sabar dan istiqomah diganti sm org gila? yg ngakak-ngakak gak jelas. dan juga si maria yg jadi kesannya kok sering ke rumah fahri,kumpul2 ihtilat makan bareng dll.ada penghapusan dakwah yg banyak disityu...btw tetep berdoa semoga bermanfaat dahsyat bagi pilm indonesia yg mulai aneh pilm2 hantu-hantuan gak jelas digeser dg aac dan film nuansa islam yg lainn...gak papa kan ya aku nulis gini ammu udo?.^_^tp klo yg asal nunjuk aneh2 kayak diatas yaah gimanaaa gitu yak.jangan asal nodong gitu donk yah apalagi belum bca khan maluw...org nashoro aja klo mau ndebat islam mrk rajin baca qur'an..
udoyamin wrote on Feb 28
himma said
saya sm novel aac mah biasa aja yg ttg cinta2annya..mungkin krn saya dah tuwa?..hehehe tp saya acung jempol sama dakwahnya yg dahsyat tuh dinovel detail dan kadang menyentuh hati.klo yg pilm buanyak kecewanya mungkin krn saya gak bisa nglupain bhw sy tinggal dimesir?..hehehe yg sy kecewa ya itu penggantian tokoh2 teman satu penjaranya fahri dimana teman2 yg sholeh dan saling nasihati utk sabar dan istiqomah diganti sm org gila? yg ngakak-ngakak gak jelas. dan juga si maria yg jadi kesannya kok sering ke rumah fahri,kumpul2 ihtilat makan bareng dll.ada penghapusan dakwah yg banyak disityu...btw tetep berdoa semoga bermanfaat dahsyat bagi pilm indonesia yg mulai aneh pilm2 hantu-hantuan gak jelas digeser dg aac dan film nuansa islam yg lainn...gak papa kan ya aku nulis gini ammu udo?.^_^tp klo yg asal nunjuk aneh2 kayak diatas yaah gimanaaa gitu yak.jangan asal nodong gitu donk yah apalagi belum bca khan maluw...org nashoro aja klo mau ndebat islam mrk rajin baca qur'an..
wah, senang banget mbak mau diskusi sama udo. yup, antara novel dgn film, memang jauh beda. amin mudah2an film2 di indo semakin bermutu. slm tuk Mas Eko
ariomuhammad wrote on Feb 29
ooohh....
mungkin mas fatih pernah memuatnya di Wordpress.. kalo ga salah sy pernah membacanya...
Intinya sy tetap menyukai AAC.. 13 kali sy sudah membacany... hehehe
bardrockshady wrote on Mar 6
jujur, AAC adalah Novel terbaik yang pernah saya baca

teruslah berkarya Kang Abik

Indonesia butuh seseorang sepertimu
fariedi wrote on Mar 7
Terus berkarya dan berkontribusi nyata...!!!
Salut....
budi1805 wrote on Mar 18
Numpang isi comment. Saya tau tulisan Udoyamin dari sebuah milis. Saya heran, koq di zaman supermodern ini masih ada orang primitif yang mudah memvonis tanpa pernah tahu segala sesuatu tentang hal yang divonisinya. Bagi saya, MILLION THUMBS UP for AAC (duh, koq waktu saya ngetik ini, warna fontnya merah ya? gimana cara ganti warnanya?).
biroeabiz wrote on Mar 19
ga benerrr... tuhh smua penyesatannn.... hahhahaa... jagan pecaya ma apaa apaa juga ma sapa sapaaa... musrikkk ntarrr... heheehee...
anpratomo wrote on Mar 27
Maaf Udo, pertanyaan saya sedikit OOT. Bisa minta tolong diperjelas mengenai riwayat hadits ini (juga mungkin bunyi lengkapnya)? Untuk referensi saya pribadi. Terimakasih sebelumnya.
cahpamulang wrote on Apr 2
Artikel ini saya share ya. trims sebelumnya.
djfely wrote on Apr 2
Novel AAC ...sebuah keajaiban..(untuk negara kita yang minat bacanya rendah..) baru kali ini ada buku,bacaan, novel.. yg dicari-cari untuk dibeli,laris ..di cetak puluhan kali..dibajak..(ngalahin vicidi..he he he) di bikin e-book ...Subhanallah..
sekarang banyak ummat yang punya hobby baru... membaca...! karena kalo belum baca AAC (yg populernya ngalahin AADC he hehe) belom trend..Sebuah hobby yang sempat langka..
sekarang novel - novel Islami lain pun laris manis dan jadi mencuri perhatian..sebut saja Karangan Andrea Hirata dengan triloginya...dll..
paling tidak kita bisa menyebarkan ilmu bagaimana pun caranya..
=====================================================================================================
dan FILMnya..? betul sekali kita hanya bisa protes terhadap sinetron...tak ada yg diperbuat..!
filmnya sungguh segar dan sekali Lagi.. cerita yg sangat Indah diantara film 2 misteri yg semakin klenik..
Aisha yang tergambar soleha..dan cerdas..! (tipikal muslimah idaman) dan Yaa.. Fahri yg loveable..(padahal dy ga tebar pesona .. ga kaya..)
Apakah bukan salah satu cara lagi---justru semakin mendekatkan diri kepada sang Khalik..?
"Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ilmun" artinya: Jangan kamu mengikuti; bicara; berpendapat, tanpa ilmu [kaji Qs. Al-Isra [17]:36]
Maaph panjang..
Keep spirit and Keep taushiyah
aldrinsyah wrote on Apr 28
saya mohon izin share pembahasan yang menarik ini ..... tks sebelumnya
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help