"Di antara orang-orang mu'min itu ada "pahlawan" yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya)", (QS. 33:[Al-Ahzab]: 23)
Tadi siang (Selasa, 04/03/08) seorang aktivis mahasiswi Indonesia Cairo meng-add ID ku. Kami langsung chatting. Namanya Dhorifah. Untuk kesekian kalinya, ada yang memberikan apresiasi terhadap tulisanku "Ketika Vira Bicara" dan "Visi Kepahlawan". Kurang lebihnya, mahasiswi yang pernah mumtaz meskipun aktif di banyak organisasi itu, merasa termotivasi dan terinspirasi untuk melahirkan generasi pahlawan seperti yang aku cita-cita.
Selesai chatting, tiba-tiba aku ingat dengan obrolan singkat antara aku dengan Ahmad Syarif Hidayat Lc., saat aku dan isteriku datang ke rumahnya, untuk memberikan selamat atas lahirnya Muhammad Rijal Ash-Shiddiq Hidayat.
"Ahmad", aku bertanya, "gimana asal muasal kok ngasih nama seperti itu?" "Ya, kalau nama Muhammad, karena sudah jelas ada hadis yang menyukai nama Muhammad. Sedangkan Rijal Ash-Shiddiq, bukan hanya sekedar menunjukan kata "laki-laki", tapi saya terinspirasi dari Al-Quran bahwa diantara mukmin itu ada "Rijaalun Shdaquu Maa 'Ahadallahu 'Alaihi (artinya: para pahlawan yang komitmen dengan janji mereka kepada Allah). Dan kata Hidayat, sebab ingin menisbatkan anak kepada bapaknya!"
Dalam hatiku bersyukur, ternyata adik kelas di pesantren sekaligus temanku di Mesir, punya visi yang sama denganku. Mendengarkan jawabannya tentang alasan memberi nama anaknya itu, aku sangat yakin, ia sangat ingin anaknya menjadi "ar-rijaal". Betul, di kalangan orang Arab, "ar-rijaal" tidak hanya bermakna laki-laki, tapi juga bisa berati "pahlawan, tokoh, bintang, dan sejenisnya".
Hari ini, yang mengingatkanku akan visi kepahlawan, selain Dhorifah dan Ahmad Syarif, ada juga Teh Tati di Yunani dan teman Masisir. Teh Tati menyapa saya lewat YM. Beliau memotivasi saya untuk menulis buku tentang mendidik anak. Beliau memang pernah memberi komentar pada tulisan yang saya muat di MP ini, setelah saya posting di milis sekolah-kehidupan [setiap hari kamis saya menulis di milis itu dengan tema: Mendidik Anak jadi Pahlawan].
Sedangkan mahasiswa itu, adalah teman Hasanudin [ini calon pengantin, besok ia akan nikah, dan saya jadi wali calon isterinya. hihihi dalam minggu ini, dua kali jadi wali nikah] datang ke rumah. Teman itu memperhatikan tulisan dalam figura di dinding rumahku, di sana tertulis: "Komitmen Keluarga: PENDIDIKAN BERBASIS KASIH SAYANG [Tujuh Prinsip Mendidik Anak Menjadi Pahlawan]. Teman itu berkata: "Wah menarik tuh, komitmen antum!" "Ah antum bisa aja..., itu saya tulis agar saya ingat janji kepada Allah, soalnya saya orangnya pelupa, maka saya tulis!" ujarku sambil tertawa.
Semua kejadian hari ini, menambah harapan sekaligus optimis, sebesar apapun persoalan bangsa Indonesia, manakala para orang tua saat ini memiliki visi kepahlawanan, insya Allah, semua krisis dan lingkaran syetan di Indonesia akan terselesaikan. Dari visi itu akan melahirkan komitmen. Dari komitmen melahirkan aksi. Dari aksi melahirkan generasi.
Aku sangat sepakat dengan perkataan bang Anis Matta bahwa tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini. Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing untuk meginginkan kehancuran bangsa ini.
Masih mungkin, dengan satu kata: para pahlawan. Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggoda untuk hadir ke sini. Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya, seperti orang lugu yang tertindas itu, mereka menunggu datangnya "ratu adil" yang tak pernah datang.
Mereka tidak pernah akan datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain.
Kalau dalam buku "Mencari Pahlawan Indonesia" itu Bang Anis melanjutkan penjelasannya bahwa "mereka hanya belum memulai", maka inilah saatnya kita memulai dan berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan. Nah, sudahkah Anda menjadi bagian dari "rijaal" yang termaktub dalam suart Al-Ahzab ayat 23 di atas, yaitu orang-orang yang berjanji kepada Allah swt untuk merebut takdir kepahlawanan?
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | siiiipppphhh.... semakin tersebar luas "virus" visi kepahlawanan maka semakin buessaaarrrr harapan akan lahirnya orang-orang besar yang akan mengikis habis ironi-ironi yang sangat nyata melanda negeri kita. dan itu bukan lagi cucu atau cicit kita, melainkan anak-anak kita, anak-anak kita yang sekarang kita gendong ketika dia menangis ingin tidur... Allahumma Amiiin... |
 | Jazakallahu khairan akh... Sangat bermanfaat dan menginspirasi" Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang senantiasa bermanfat Menebar kebaikan dan bukanya seorang yang keberadaanya hanyalah sia-sia Sedang waktu semakin sempit Jalan semakin terjal Dan akhir perjalanan semakin dekat menjemput" Jazakallah sekali lagi.. |
 | Wah, jadi pengen cepet2 cari nama buat si Janin nih ^_^ |
 |  Jazakallahu khairan akh... Sangat bermanfaat dan menginspirasi" Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang senantiasa bermanfat Menebar kebaikan dan bukanya seorang yang keberadaanya hanyalah sia-sia Sedang waktu semakin sempit Jalan semakin terjal Dan akhir perjalanan semakin dekat menjemput" Jazakallah sekali lagi..  afwan. ya hanya ini yg bisa ana lakukan saat ini, mudah2an Allah membantu ana menulis sesuatu berharga bagi siapa saja. amin smoga doa antum jadi kenyataan. |
 | hmm.. Udo.. Iwana Nashaya itu rencn utk nama anakku suatu saat nanti, lo. :) nyarinya kira2 sdh 8 tahun yg lalu :( tapi skrg mau nyari lg (ganti). |
 | Masya ALLAH... ALLAHu Akbar... amin.. amin..amiiinn.. Setuju bgt udo. Mudah-mudahan kita bisa mendidik anak2 kita kelak untuk tumbuh menjadi pahlawan2 bangsa, semoga ALLAH membantu kita dalam mendidik anak2 kita menjadi generasi penerus bangsa yg bisa memperjuangkan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yg besar, yg punya kepercayaan diri yg kuat terhadap agama dan bangsanya, bukan cuma budak negara adidaya aja. AMiiiinnn.. amiiinnn.. amiiinnn. |
| |