Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Blog EntryMerebut Takdir KepahlawananMar 4, '08 2:44 PM
for everyone
"Di antara orang-orang mu'min itu ada "pahlawan" yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya)", (QS. 33:[Al-Ahzab]: 23)

Tadi siang (Selasa, 04/03/08) seorang aktivis mahasiswi Indonesia Cairo meng-add ID ku. Kami langsung chatting. Namanya Dhorifah. Untuk kesekian kalinya, ada yang memberikan apresiasi terhadap tulisanku "Ketika Vira Bicara" dan "Visi Kepahlawan". Kurang lebihnya, mahasiswi yang pernah mumtaz meskipun aktif di banyak organisasi itu, merasa termotivasi dan terinspirasi untuk melahirkan generasi pahlawan seperti yang aku cita-cita.

Selesai chatting, tiba-tiba aku ingat dengan obrolan singkat antara aku dengan Ahmad Syarif Hidayat Lc., saat aku dan isteriku datang ke rumahnya, untuk memberikan selamat atas lahirnya Muhammad Rijal Ash-Shiddiq Hidayat.

"Ahmad", aku bertanya, "gimana asal muasal kok ngasih nama seperti itu?"
"Ya, kalau nama Muhammad, karena sudah jelas ada hadis yang menyukai nama Muhammad. Sedangkan Rijal Ash-Shiddiq, bukan hanya sekedar menunjukan kata "laki-laki", tapi saya terinspirasi dari Al-Quran bahwa diantara mukmin itu ada "Rijaalun Shdaquu Maa 'Ahadallahu 'Alaihi (artinya: para pahlawan yang komitmen dengan janji mereka kepada Allah). Dan kata Hidayat, sebab ingin menisbatkan anak kepada bapaknya!"

Dalam hatiku bersyukur, ternyata adik kelas di pesantren sekaligus temanku di Mesir, punya visi yang sama denganku. Mendengarkan jawabannya tentang alasan memberi nama anaknya itu, aku sangat yakin, ia sangat ingin anaknya menjadi "ar-rijaal". Betul, di kalangan orang Arab, "ar-rijaal" tidak hanya bermakna laki-laki, tapi juga bisa berati "pahlawan, tokoh, bintang, dan sejenisnya".

Hari ini, yang mengingatkanku akan visi kepahlawan, selain Dhorifah dan Ahmad Syarif, ada juga Teh Tati di Yunani dan teman Masisir. Teh Tati menyapa saya lewat YM. Beliau memotivasi saya untuk menulis buku tentang mendidik anak. Beliau memang pernah memberi komentar pada tulisan yang saya muat di MP ini, setelah saya posting di milis sekolah-kehidupan [setiap hari kamis saya menulis di milis itu dengan tema: Mendidik Anak jadi Pahlawan].

Sedangkan mahasiswa itu, adalah teman Hasanudin [ini calon pengantin, besok ia akan nikah, dan saya jadi wali calon isterinya. hihihi dalam minggu ini, dua kali jadi wali nikah] datang ke rumah. Teman itu memperhatikan tulisan dalam figura di dinding rumahku, di sana tertulis: "Komitmen Keluarga: PENDIDIKAN BERBASIS KASIH SAYANG [Tujuh Prinsip Mendidik Anak Menjadi Pahlawan]. Teman itu berkata: "Wah menarik tuh, komitmen antum!"

"Ah antum bisa aja..., itu saya tulis agar saya ingat janji kepada Allah, soalnya saya orangnya pelupa, maka saya tulis!" ujarku sambil tertawa.

Semua kejadian hari ini, menambah harapan sekaligus optimis, sebesar apapun persoalan bangsa Indonesia, manakala para orang tua saat ini memiliki visi kepahlawanan, insya Allah, semua krisis dan lingkaran syetan di Indonesia akan terselesaikan. Dari visi itu akan melahirkan komitmen. Dari komitmen melahirkan aksi. Dari aksi melahirkan generasi.

Aku sangat sepakat dengan perkataan bang Anis Matta bahwa tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini. Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing untuk meginginkan kehancuran bangsa ini.

Masih mungkin, dengan satu kata: para pahlawan. Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggoda untuk hadir ke sini. Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya, seperti orang lugu yang tertindas itu, mereka menunggu datangnya "ratu adil" yang tak pernah datang.

Mereka tidak pernah akan datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain.

Kalau dalam buku "Mencari Pahlawan Indonesia" itu Bang Anis melanjutkan penjelasannya bahwa "mereka hanya belum memulai", maka inilah saatnya kita memulai dan berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan. Nah, sudahkah Anda menjadi bagian dari "rijaal" yang termaktub dalam suart Al-Ahzab ayat 23 di atas, yaitu orang-orang yang berjanji kepada Allah swt untuk merebut takdir kepahlawanan?

10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
Comment deleted at the request of the thread owner.
zawwadroom wrote on Mar 4
siiiipppphhh.... semakin tersebar luas "virus" visi kepahlawanan maka semakin buessaaarrrr harapan akan lahirnya orang-orang besar yang akan mengikis habis ironi-ironi yang sangat nyata melanda negeri kita. dan itu bukan lagi cucu atau cicit kita, melainkan anak-anak kita, anak-anak kita yang sekarang kita gendong ketika dia menangis ingin tidur... Allahumma Amiiin...
arrohwany wrote on Mar 4, edited on Mar 4
Jazakallahu khairan akh...
Sangat bermanfaat dan menginspirasi"
Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang senantiasa bermanfat
Menebar kebaikan dan bukanya seorang yang keberadaanya hanyalah sia-sia
Sedang waktu semakin sempit
Jalan semakin terjal
Dan akhir perjalanan semakin dekat menjemput"
Jazakallah sekali lagi..
catatankecil wrote on Mar 4
Wah, jadi pengen cepet2 cari nama buat si Janin nih ^_^
udoyamin wrote on Mar 5
siiiipppphhh.... semakin tersebar luas "virus" visi kepahlawanan maka semakin buessaaarrrr harapan akan lahirnya orang-orang besar yang akan mengikis habis ironi-ironi yang sangat nyata melanda negeri kita. dan itu bukan lagi cucu atau cicit kita, melainkan anak-anak kita, anak-anak kita yang sekarang kita gendong ketika dia menangis ingin tidur... Allahumma Amiiin...
amin. mudah2an kita ikut menyaksikan se-abad Indonesia (2045) saat anak-anak kita menjadikan Indonesia sejajar dengan AS, Jepang, dan negara maju lainnya. Lebih jauh lagi, ketika izzul Islam wal muslimin menjadi kalung di zamrut khatulistiwa. ya, setelah kita ikrarkan "visi kepahlawan", maka kewajiban kita menyebarkannya kepada siapa saja.
udoyamin wrote on Mar 5
Jazakallahu khairan akh...
Sangat bermanfaat dan menginspirasi"
Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang senantiasa bermanfat
Menebar kebaikan dan bukanya seorang yang keberadaanya hanyalah sia-sia
Sedang waktu semakin sempit
Jalan semakin terjal
Dan akhir perjalanan semakin dekat menjemput"
Jazakallah sekali lagi..
afwan. ya hanya ini yg bisa ana lakukan saat ini, mudah2an Allah membantu ana menulis sesuatu berharga bagi siapa saja. amin smoga doa antum jadi kenyataan.
udoyamin wrote on Mar 5
Wah, jadi pengen cepet2 cari nama buat si Janin nih ^_^
iya atuh, udo aja jauh hari sebelum punya anak, bahkan sebelum nikah, udah mikirkan, apa ttg nama anak udo
iwananashaya wrote on Mar 5
hmm.. Udo.. Iwana Nashaya itu rencn utk nama anakku suatu saat nanti, lo. :) nyarinya kira2 sdh 8 tahun yg lalu :( tapi skrg mau nyari lg (ganti).
udoyamin wrote on Mar 5
hmm.. Udo.. Iwana Nashaya itu rencn utk nama anakku suatu saat nanti, lo. :) nyarinya kira2 sdh 8 tahun yg lalu :( tapi skrg mau nyari lg (ganti).
hehe... kok sama dgn udo, thn 1992, udo bercita-cita kl punya anak laki2 semuanya mau makai awalan "Abdu" --Abdul Majid, Abdul Khaliq, Abdur Razaq, dst. Namun seiring dengan perubahan paradigma, ternyata udo hanya milih satu saja, yaitu Abdurrahman dan udo kaitan dgn visi kepahlawan yg sedang udo bangun, jadi deh Abdurrahman Vira ElFatih
y4n4utomo wrote on Mar 19
Masya ALLAH... ALLAHu Akbar... amin.. amin..amiiinn.. Setuju bgt udo. Mudah-mudahan kita bisa mendidik anak2 kita kelak untuk tumbuh menjadi pahlawan2 bangsa, semoga ALLAH membantu kita dalam mendidik anak2 kita menjadi generasi penerus bangsa yg bisa memperjuangkan bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yg besar, yg punya kepercayaan diri yg kuat terhadap agama dan bangsanya, bukan cuma budak negara adidaya aja. AMiiiinnn.. amiiinnn.. amiiinnn.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help