Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Terlalu banyak yang istimewa, untuk aku abadikan dari acara Walimatul 'Ursy temanku Hasanudin Azali Lc., dengan Rahimatus Sa'diyah dan Ahmad Tirmidzi Lc., dengan Salma Lestari. Karena keterbatasan ruang dan waktu, aku hanya ingin mengikat makna yang disampaikan oleh Ust. Khairon MA. sebagai penceramah pada acara itu. Beliau menyampaikan pesan nikah dengan tema: Rumus 4 T dalam Membina Rumah Tangga.

Sebelum aku memaparkan rumus itu, karena banyak yang ingin tahu tentang Mesir [terutama teman-teman MP di Indonesia dan AS], maka aku ingin ceritakan proses Walimatul 'Ursy ala Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Selama tujuh tahun aku menyaksikan Walimatul Ursy teman-teman Masisir, rata-rata ingin memformat acara sesederhana mungkin. Persoalannya bukan hanya ingin hemat biaya saja, tapi ingin walimahan itu penuh berkah.

Sebelum tahun 2003, aqad nikah banyak dilaksanakan di KBRI, sedangkan Walimahan di flat-flat mahasiswa. Biasanya dicari, dua flat yang berdekatan dalam satu apartemen. Misalnya, satu di lantai dua, sedangkan satu lagi di lantai empat. Nah, di lantai bawah, pengantin perempuan dan tamu undangan akhwat, sedangkan di lantai atas pengantin laki-laki dan tamu undangan ikhwan. Acara sentral ada di lantai atas. Agar yang di lantai bawah melihat, maka dihubungankan dengan camera yang langsung disiarkan dengan televisi.

Setelah tahun itu, 2004, format acara mulai berubah. Tidak lagi di KBRI, tapi banyak di masjid, wisma, atau di rumah-rumah daerah [saat ini beberapa Pemda Tk I memberikan sumbangan dengan membelikan rumah untuk mahasiswa & masyarakat asal daerahnya yang berada di Mesir, misalnya Pemda Jawa Barat memberikan dana 1 milyar untuk membeli 2 flat dan rumah ini diberi nama Pasangrahan, Pemda Jawa Tengah memberikan Griya Jateng, Jawa Timur memberikan Graha Jatim, Sulawesi ada Baruga, Medan ada Istana Maimun, Jakarta ada Wisma KPJ, dst].

Di antara masjid yang paling sering dipakai nikah adalah Masjid As-Salam. Masjid yang berada di Bawwabah Ula atau Mahattah Syurthoh Nasr City ini menjadi tempat nikah empat temanku kemaren.

Acara empat temanku itu, sangat sederhana. Sang MC dengan berpantun-ria [setiap membacakan atau mempersilahkan pembicara, ia awali dengan pantun, maklum orang Melayu]. Pertama acara sambutan, sambutan dari pihak mempelai laki-laki disampaikan oleh Salman Alfarisi Lc, sedangkan aku menyampaikan sambutan pihak mempelai perempuan. Acara kedua ceramah, disampaikan oleh Ust Khairon MA. Acara ketiga, hiburan, nasyid dibawakan oleh bapak Qodar [tamu dari Indonesia yg sedang mengadakan penelitian di Cairo], dan acara terakhir, ramah tamah sekaligus foto-foto bersama pengantin. Seperti yang aku ceritakan tadi, pengantin laki-laki dan perempuan di pisah. Seperti itulah nikah ala Masisir.

Baik, kembali ke "Rumus 4 T Membina Rumah Tangga". Apa yang disampaikan oleh Ust. Khairon, sebenarnya materi liqa' yang aku terima 10 tahun yang lalu. Aku masih ingat, judul materi itu adalah Marahil al-Ukhuwwah Islamiyah (Tingkatan-tingkatan Persaudaraan Islami). Tujuh tahun yang lalu, aku juga pernah membaca di sebuah buku, kalau tidak salah Fiqh Ukhuwwah, ma'af aku lupa lagi pengarangnya. Nah, dari tingkatan-tingkatan ukhuwah --sampai sembilan tingkat itu-- yang disampaikan oleh sang penceramah hanya empat ini:

Pertama: TA'ARUF (Saling Mengenal).

Ada yang menarik bagiku, saat Hasanudin datang ke rumahku. Ia memberitahuku bahwa maharnya selain cincin mas senilai 3 gram, juga ada hapalan surat At-Taghabun. Aku bertanya, "Hasan, kok Rohima minta surat At-Taghabun, mengapa tidak surat lain?"

"Katanya sih Do, karena dalam surat itu, banyak peringatan tentang harta, isteri, dan anak!" jawab Hasan.

Dua hari kemudian, Rohima datang ke rumahku. Untuk menyakinkanku, aku kembali bertanya: "Rohima, boleh udo tahu mengapa kamu minta mahar hapalan surat At-Taghabun?"

"Iya ustadz... saya ingin, baik saya maupun suami saya, selalu ingat tentang kehidupan dunia ini!"

Sebenarnya, aku telah terbayang isi surat itu. Sebab, ketika aku kelas 1 tsanawiyah, sudah menghapal surat itu. Namun, aku kembali ingin mempelari makna surat itu. Aku coba hubungkan surat At-Taghabun dengan surat sebelumnya Al-Munaafiquun dan surat sesudahnya Ath-Thaalaq. Tiba-tiba aku tersentak, bahwa makna At-Taghabun [Hari ditampakkan kesalahan-kesalahan] tidak hanya di akhirat nanti, tapi sejak di dunia ini, terutama dalam rumah tangga.

Perkenal (ta'aruf) sebelum nikah, tidak sedikit yang munafiq --hanya memunculkan kebaikan saja, sedangkan kejelekan ditutupi, bahkan parahnya mengatakan kebaikan, sedangkan kebaikan itu tidak pernah dilakukan. Dan kemunafikan ini, tidak mungkin di lakukan oleh sepasang suami-isteri, segala kebaikan dan kejelekan, akan terbongkar dalam rumah tangga. Tidak ada rahasia lagi bagi suami-isteri. Semuanya terbuka. Maka wajar kalau Al-Quran mentamtsilan sepasang suami isteri itu ibarat "pakaian". Sedangkan fungsi pakaian adalah: 1) menutup aurat; 2) menjaga keamanan; 3) menghiasi tubuh; 4, identitas [pakaian seragam, seperti seragam militer, PNS, dsb], dan  4) memenuhi selera [ini pakaian para artis atau bintang film]. Ya, begitulah fungsi suami isteri. Bila fungsi itu tidak mereka lakukan, maka kemungkian besar akan terjadi perceraian. Siapa yang mau, kalau pasangannya, selalu menebarkan aib diri? Nah, kurang lebih begitu yang aku fahami, mengapa susunan surat Al-Quran itu adalah Al-Munaafiquun [0rang-0rang Munafik], At-Taghaabuun [Kesalahan ditampakan], dan At-Thalaq [Perceraian]. Wallahu a'lam.

Maka agar perceraian itu tidak terjadi, sepasang suami isteri harus melakukan ta'aruf berkelanjutan. Tidak hanya di awal nikah saja, tapi sepanjang hayat. Sebab, secara fisik dan psikologis manusia terus berubah seiring dengan bergulir dengan  waktu, maka cara pandang terhadap pasangan harus berubah. Apalagi peran pun terus berganti, awalnya hanya menjadi "suami-isteri", tak berapa lama menjadi "ayah-ibu", lalu menjadi "kakek-nenek". Tentu dalam menjalani peran ini kita harus tetap saling mengenal. Bila ada kelebihan kita sokong, bila ada kelemahan kita tutupi.

Kedua: TAFAHUM (Saling Memahami).

Manakala proses ta'aruf itu berjalan dengan baik, maka lahirlah sikap Tafahum. Aku yakin, antara Hasan-Rohima dan Tirmidzi-Salma punya persamaan banyak hal, sama-sama sebagai pemeluk dinul Islam, sama-sama kuliah di Universitas Al-Azhar, sama-sama aktif di parpol Islam, sama-sama tinggal di Mesir, dan seterusnya. Namun, perbedaan itu tetap ada, yang paling jelas ada beda jenis kelamin, beda keturunan, beda suku, beda bahasa, beda daerah, beda almamater dan seterusnya. Hasan orang Jepara Jawa Tengah, sedangkan Rohima orang Sumudang-Jawa Barat. Tentu saja, jika tidak saling mengenal watak, adat, atau bahasa, masing-masing suku (Sunda & Jawa), maka tidak mungkin terjadi tafahum [saling memhami].

Aku sendiri, secara jujur, untuk tahun-tahun awal, bahkan saat ini, terkadang begitu susah untuk mencapai tingkat "tafahum" itu. Aku orang Lampung Barat, isteri orang Jawa Barat. [Sama-sama Baratnya, tapi beda pulau]. Aku kelahiran tahun 1977, isteri kelahiran tahun 1985. Dari segi bahasa dan berpikir saja kami berbeda, aku memakai bahasa Lampung dan berpikir orang  berusia 30 tahun, sedangkan isteriku berbahasa Sunda dan berpikir 23 tahun. Diperparah lagi bila rasa superiorku kambuh dan rasa minder isteriku kumat, wah... enggak kebayang betapa jauhnya jarak antara kami.

Tapi al-hamdulillah, setelah aku curhat sama Mas Faudzil (Moehammad Faudzil Adhim, penulis Kupinang Engkau dengan Hamdalah) ketika beliau datang ke Mesir, aku dan isteri mempraktekan sarannya. Mas Faudzi berkata, "Sebelum mata terpejam, ajaklah dia bicara!" Ya, intinya di komunikasi. Dan al-hamdulillah, diskusi panjang sebelum tidur itu, telah melahirkan "visi kepahlawanan" yang sering aku tulis. Itu adalah hasil dari obrolanku bersama isteriku.

Ketiga: TA'AWUN (Saling Membantu).

Banyak teman chatting yang aneh. Setiap mereka menyapaku, lalu aku terlambat jawab, atau aku tidak jawab, atau aku tinggalkan tiba-tiba, dengan alasan ini: "Afwan, ana lagi ngasuh anak, afwan anak saya nangis, afwan ana ganti popok anak saya, dst"

Iya, sejak aku menikahi isteriku, konsep ta'awun ini berusaha kami praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyaknya pekerjaan rumah tangga aku hendel, apalagi ketika isteri baru melahirkan, aku yang jaga anak, aku mencuci, aku masak, aku bersih-bersih rumah, dan seterusnya.

Begitu juga dengan isteriku, mencari nafkah itu adalah tugasku, tapi dengan suka rela isteriku membuat beraneka-ragam kue, bahkan terkadang dalam kondisi tertentu, isteriku membantuku membuat tahu [memblender kacang kedelai, memotong tahu, dan membungkus tahu].

Itulah yang kami lakukan. Kami tidak butuh kampanye, apalagi konsep feminisme, kesetaraan gender, atau emansipasi wanita. Wong sejak 14 abad yang lalu Al-Quran dan hadis mengajarkan untuk hidup sejajar antara laki-laki dan perempuan. Masing-masing punya hak dan kewajiban. Bagiku status suami-isteri itu tidak bisa diubah, sedangkan peran dalam menjalakan hak dan kewajiban itu bisa saja berubah sesuai dengan kondisi dan kesepakatan bersama. Sampai kapan pun statusku akan tetap menjadi suami sekaligus kepala rumah tangga, namun peran bisa saja berubah-ubah, terkadang aku berperan sebagai "seorang ibu" yang ganti popok anakku, "sebagai isteri" yang mencuci baju, dan seterusnya. Ini yang jarang difahami, sehingga banyak yang terjebak "gebyah uyah" [meng-genalisir] bahwa semua hal harus sama antara perempuan dan laki-laki. Bagaimana kita mau menyamakan sesuatu yang berbeda, bukankah perempuan itu punya fungsi reproduksi [melahirkan], sedang laki-laki tidak?

Intinya, saling membantu itu, jika di jalani secara ikhlas, benar-benar karena Allah swt, maka tidak mungkin ada kedzaliman.

Keempat: TAKAMUL (Saling Melengkapi).

Dulu ketika aku masih "jomlo", aku sering bilang: "Kapan ya, aku menemukan sayapku satu lagi?" Aku membayangkan suami-isteri itu seperti burung, sayap kanan ada pada laki-laki, dan sayap kiri ada pada perempuan. Mungkinkah burung bisa terbang dengan satu sayap?

Sebelah sayap tidak ada artinya, jika hanya satu. Dan ketika ada dua sayap, tidak ada yang lebih baik nilainya, antara sayap kanan dan kiri. "Kanan" dan "kiri", bukan untuk menyimbolkan bahwa kanan itu bagus, sedangkan kiri adalah jelek. Bukan itu yang aku maksud. Kanan dan kiri hanya sebatas "identitas" saja. Justru sayap kanan dikatakan kanan, karena ada sapa kiri, begitu sebaliknya. Maka kedua sangat berari dan saling melengkapi.

Begitu pun dalam rumah tangga, sepasang suami isteri harus saling melengkapi. Ketika satu menjadi duri, satu lagi menjadi mawar. Satu menjadi racun, satu jadi penawarnya. Satu membara jadi api, satu lagi hadir jadi air untuk memadamkannya. Dan seterusnya.

Ala kulli hal, saling melengkapi, atau dalam istilah Stephen R. Covey, interindependesi [saling ketergantungan] jauh lebih baik dari independensi [mandiri]. Tapi interindependensi bukan berarti membuat kita tidak mandiri. Keseluruhan itu bukan kumpulan dari bagian-bagian, tapi bagian-bagian untuk membentuk keseluruhan. Komputer bukanlah kumpulan dari alat-alat komputer --CPU, monitor, mouse, keyboard, dll-- yang kita tumpuk [tidak kita rakit]. Komputer yang kita kenal adalah ketika alat-alat itu kita rakit dan antara satu sama lainnya saling melengkapi, maka nyalalah komputer itu.

Sama halnya rumah tangga, bukan kumpulan dari laki-laki dan perempuan dalam satu rumah, melain seperti komputer ada sistim yang menghubungkan antara satu sama lainnya, baik itu yang bersifat hardware maupun shoftwarenya. Dan sangat beruntunglah bagi orang yang meng-install rumah tangganya dengan program Islam. Wallahu a'lam.

#  #  #

Tolong luruskan bila aku keliru ya...

Ditulis menanti sholat shubuh 04:42 waktu Cairo

35 CommentsChronological   Reverse   Threaded
catatankecil wrote on Mar 5
Sama halnya rumah tangga, bukan kumpulan dari laki-laki dan perempuan dalam satu rumah, melain seperti komputer ada sistim yang menghubungkan antara satu sama lainnya, baik itu yang bersifat hardware maupun shoftwarenya. Dan sangat beruntunglah bagi orang yang meng-install rumah tangganya dengan program Islam. Wallahu a'lam.
Dan hati-hati terhadap viruz2 yang membahayakan, harus sering2 di upgrade Ustadz. Seperti mbak HTR pernah tulis
"Setiap hari cinta harus ditumbuhkan dengan berbagai cara. Cinta harus tumbuh menembus semua rintangan. Kuncup-kuncupnya tak boleh merekah semua seketika, untuk kemudian layu. Ranting dan pokoknya harus kuat menjulang. Cinta harus ditumbuhkan sepanjang usia dengan bunga-bunganya yang bertaburan di sepanjang jalan kesetiaan. Jalan yang ditapaki dengan riang di bumi dan semoga kelak mempertemukan kita kembali dengannya di surga"
— Helvy Tiana Rosa
varsyalink wrote on Mar 5
syukron atas tausyiahnya. saya sepakat sekali dengan konsep 4 T tsb udo.
alinasheart wrote on Mar 5
Wah, trimakasih ya, Pak Ustadz Udo atas tulisannya. :) Bermanfaat sekali bagi yg masih muda alias belum menikah.. Katsir khoir.. :)
whiteoxa wrote on Mar 5
Subhanallah.. Tulisannya sangat menginspirasi sekali terutama bagi saya yang berencana akan menikah. Kalau udo orang sumatera asli, saya campuran sumatera (lampung) jawa tengah dan sedikit cina. Nah kan lebih rumit tentunya, hehehe...Oya, bagaimana dengan pasangan atau calon pasangan yang sama umurnya udo? Kata orang justru lebih susah karena sama2 besar egonya. Bagaimana pendapat udo? Terima kasih banyak..
bardrockshady wrote on Mar 5
alhamdulillah jazakallohu khoiron

bTw, kapan yang ku temukan sayapku yang satunya lagi????
iwananashaya wrote on Mar 5
^_^ syukron katsir, udo..
ariomuhammad wrote on Mar 5
TFS Ustad Udo...
udoyamin wrote on Mar 5
Dan hati-hati terhadap viruz2 yang membahayakan,
ini dia, virus bernama syetan sangat ganas tuh, kalo gak hati2, hati bisa jebol nih, doa-in ya, mudah2an udo sekeluarga terbebas virus2 itu
udoyamin wrote on Mar 5
syukron atas tausyiahnya. saya sepakat sekali dengan konsep 4 T tsb udo.
smoga manfa'at
udoyamin wrote on Mar 5
Wah, trimakasih ya, Pak Ustadz Udo atas tulisannya. :) Bermanfaat sekali bagi yg masih muda alias belum menikah.. Katsir khoir.. :)
ya Aline, mumpung belum nikah, banyak2 kumpulkan bekal ilmu nikah, jgn kayak udo, setelah nikah baru belajar ttg nikah. hehe
udoyamin wrote on Mar 5
Oya, bagaimana dengan pasangan atau calon pasangan yang sama umurnya udo? Kata orang justru lebih susah karena sama2 besar egonya. Bagaimana pendapat udo?
sebenarnya, persoalan itu bukan pada "perbedaan umur", tapi pada "cara kita merespon" perbedaan itu. Menurut udo, menikah dengan se-umur, bisa jadi lbh bagus, sebab frekuensi psikologis akan sama. kalo radio, kesamaan frekuensi itulah yang akan melahirkan suara. trus maju, insya allah, akan membantumu.
udoyamin wrote on Mar 5

bTw, kapan yang ku temukan sayapku yang satunya lagi???
insya Allah, waktunya sangat dekat
udoyamin wrote on Mar 5
^_^ syukron katsir, udo..
afwan ya shofi
udoyamin wrote on Mar 5
TFS Ustad Udo...
TFS juga. hehe
bangdha wrote on Mar 6
keren banget mang udo menyampaikan nih...
hehe pas dengan judulnya. :D
udoyamin wrote on Mar 6
bangdha said
keren banget mang udo menyampaikan nih...
hehe pas dengan judulnya. :D
hehehe... udo jadi malu, afwan ya para "jomlo" jgn tersinggung ya atas tulisan udo. maklum baru belajar nulis nih.
faridrifai wrote on Mar 6
huee...mang udo...jadi nambah ilmu nih...apalagi jomblo nya didahulukan daripada yang bukan... ^_^
udoyamin wrote on Mar 6
huee...mang udo...jadi nambah ilmu nih...apalagi jomblo nya didahulukan daripada yang bukan... ^_^
hehehe... Farid jgn lama2 jadi jomlonya, ntar "bulukan" lho
faridrifai wrote on Mar 6
hihihi....setiap orang memiliki jodoh nya masing-masing mang udo... ana belum ketemu 'sungai nil' ana ajah... ^_^
y4n4utomo wrote on Mar 6
Sama, aku jadi terhenyak begitu membaca arti At-Taghabun. Thanks udah ngingetin yaa...
udoyamin wrote on Mar 6
hihihi....setiap orang memiliki jodoh nya masing-masing mang udo... ana belum ketemu 'sungai nil' ana ajah... ^_^
sip, mudah2an cepat ketemu
udoyamin wrote on Mar 6
Sama, aku jadi terhenyak begitu membaca arti At-Taghabun. Thanks udah ngingetin yaa...
sama2 mbak, makasih dah baca tulisan udo
fazyani wrote on Mar 6
syukron ya tulisannya.bagus sekali.Salam dari mutsallats depan.belum sempat berkunjung kerumah.mudah2an silaturrahmi kita tetap terjaga biarpun lewat Mp.
udoyamin wrote on Mar 7
fazyani said
syukron ya tulisannya.bagus sekali.Salam dari mutsallats depan.belum sempat berkunjung kerumah.mudah2an silaturrahmi kita tetap terjaga biarpun lewat Mp.
makasih bang dah berkunjung di Mp kami. amiiin
ummiss wrote on Mar 7
Terima kasih kiat2nya Udo...
udoyamin wrote on Mar 8
ummiss said
Terima kasih kiat2nya Udo...
terima kasih juga udah mau baca coretan udo, ada yg ingin nambah kiat-kiatnya?
lenakei wrote on Mar 10
numpang baca, bagus artikelnya ....
lenakei wrote on Mar 10
hmmm, ada enggak orang Indonesia yang menikah dengan orang Mesir, bisa cerita gimana tipikal laki-laki Mesir dan tradisi kehidupan keluarga disana (orang Mesir asli), trims ...
8671 wrote on Mar 27
Luar biasa pak ustadz ini
Jadi dapat pencerahan lagi nih
Memang awalnya sulit menjalankan 4 T tadi, tapi Alhamdulillah kami sudah sampai di usia 11 tahun April '08 nanti, Insya Allah
Ngomong2 kenal istilah ........terjebak "gebyah uyah".......... juga?
(jawa banget alias aku banget. he he...)
bundaafkar wrote on Apr 22
subhanAllah bagus ya tulisannya, paling terkesan yang ta'awun...sama seperti my dearest hubby yang tidak malu2 membantuku dimanapun kit aberada. Sampe gendong Afkar di publik dengan kain gendongan pun, my dearest hubby sudah ngelakoninya...:D Nah yang malu kan bundanya Afkar, ngapain aja tuh...:D Weits...masak dwong, kata bundana Afkar..:P
terimakasih pak
udoyamin wrote on Apr 22
lenakei said
numpang baca, bagus artikelnya ....
silahkan
udoyamin wrote on Apr 22
lenakei said
hmmm, ada enggak orang Indonesia yang menikah dengan orang Mesir, bisa cerita gimana tipikal laki-laki Mesir dan tradisi kehidupan keluarga disana (orang Mesir asli), trims ...
orang Indo yg nikah sama org Mesir ada, tapi sangat jarang. Tipikal laki2 Mesir, kalau tidak kuat memegang prinsip agama, rata2 kasar, mudah marah, suka canda terlaluan, namun mereka pema'af. Kehidupan org Mesir asli sangat sederhana, kurang teratur, cuek, dll
udoyamin wrote on Apr 22
8671 said
Ngomong2 kenal istilah ........terjebak "gebyah uyah".......... juga?
iya, ana kenal istilah ini setelah merantau di pulau jawa, soalnya di lampung jrg gaul sama org luar sih
udoyamin wrote on Apr 22
paling terkesan yang ta'awun
minta do'anya, agar ta'awan ini selalu dlm kehidupan kami, juga bundaafkar seklg
akuadlaku wrote on May 1
Wah mas... Subhanallah deh keterangannya. Jadi tau ni aku..
Tapi tlg donk kasih saran tentang ta'aruf yang bener. Syukran ya..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help