Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Oleh: Udo Yamin Majdi

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisa [4]: 9)

Bismillah. Selemah apapun; semiskin apapun; sebodoh apapun orang tua, pasti mereka ingin anak mereka tidak seperti mereka, melainkan ingin punya anak yang kuat dan sejahtera. Begitu juga saya, dan mungkin juga Anda, ingin punya anak melebih apa yang telah kita capai saat ini.

Persoalannya adalah bagaimana cara anak kita meraih melebih kesuksesan kita? Jawabannya ada dalam firman Allah di atas. Dengan jelas,  ayat itu mengingatkan kita akan sebuah tanggungjawab. Dan tanggungjawab itu bernama mendidik anak. Jadi, caranya cuma satu: DIDIKLAH ANAK KITA!

Diawali dengan kalimat "dan hendaklah takut kepada Allah", Allah ingin menegaskan kepada kita, bahwa pertanggungjawaban dari proses pendidikan anak kita, bukan kepada siapa-siapa, tapi hanya kepada-Nya. Betapa seringnya, saya mendengar pertanyaan orang tua: bagaimana ya, caranya agar anak saya jadi anak pintar, anak kreatif, anak mandiri, dan seterus? Sayangnya, mereka melupakan pertanyaan ini: bagaimana cara mendidik anak sholeh-sholehah?

Mereka berlomba-lomba menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang berlabel "wah" dan bayaran setinggi puncak Himalaya. Kalau tujuan agar anak-anak mereka pintar, mungkin bisa saya mafhumi. Tapi yang membuat saya geleng kepala adalah sikap mereka seperti sikap para pembeli di Pasar Senen Jakarta: lebih baik membeli baju palsu seharga 500 ribu rupiah, dibandingkan baju aslinya seharga 50 ribu rupiah, atau lebih baik shoping di Singapur daripada belanja di Singaparna [Tasikmalaya, kampung halaman Galih tuh!] Jadi masalahnya di mana? Masalahnya ada pada kata ini: GENGSI.

Gengsi dong, kalau anaknya belajar di sekolah biasa, meskipun bermutu. Lebih mirisnya, mereka pandang sebelah mata lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren. Gengsi mereka baru rontok, tatkala anak-anak mereka terampil tawuran, kecanduan narkoba, dan terjerat free sex. Dan lucunya, akhirnya mereka memelas dan menitipkan anak mereka di pesantren. Mungkin dalam bayangan mereka, pesantren adalah "bengkel" untuk memperbaiki anak mereka yang telah "bonyok".

Ya, gengsi itu muncul manakala keputusan kita lebih dominan dipengaruhi oleh citra sosial, atau lingkungan (environment). Gengsi terjadi tatkala kita berpusat kepada manusia (antropo-sentris), bukan hanya merujuk pada penilaian Allah Swt. (Allah-sentris). Jadi, makna kalimat "
dan hendaklah takut kepada Allah", seolah-olah Allah menegur kita: "Ngapain pusing sama penilaian manusia, cukuplah dengan mencari perhatian-Ku saja!"

Apakah karena kita ingin mendidik semata-mata karena Allah Swt., lantas kita tidak perlu memperhatikan tentang kecerdasan, kemandirian, dan kreatifitas anak kita? O tentu tidak! Justru Allah ingin menjadi tiga hal --cerdas, mandiri, dan kreatif-- itu berada di atas pondasi yang kuat. Sebab jika tidak, maka ketiga hal itu akan mudah runtuh. Dan pondasi itu kita sebut Dienul Islam.

Agama yang kita yakini itu, perpaduan dari tiga hal: Ilmu, Iman, Amal. Menurut saya, ujung dari ilmu adalah cerdas, betapa tidak, ilmu dalam Islam tidak sekedar mengajarkan sesuatu yang bisa dicerap oleh panca indera saja, melainkan menerobos jauh di balik realitas dunia ini, alias alam ghaib.
Ujung dari iman adalah mandiri, sebab semakin kita hanya menggantungkan diri kepada Allah saja, maka kita akan semakin mandiri di hadapan manusia. Dan ujung dari amal, adalah kreatifitas. Bukankah Allah meminta kita untuk kreatif [bekerja], lalu Dia, rasul-Nya, dan orang beriman akan melihat karya kita?

Maka subhanallah, dalam ayat itu Allah mengemukakan bahwa kita harus khawatir memiliki anak yang "lemah" dan "tidak sejahtera". Bukankah ini sebuah seruan untuk menguasai urusan dunia --kuat dan kaya? Sebagai umat Islam, yang mayoritas tinggal di negara berkembang, kita terkapar tak berdaya dan terlilit kemiskinan di hadapan kepongahan dan keserakahan Amerika Serikat.

Dengan kata lain, untuk saat ini yang memiliki "power" dan "kesejahtraan" itu adalah Negara Paman Sam. Oleh sebab itu, menurut saya, setelah mendidik anak kita dengan ilmu, iman, dan amal, maka kita harus mendidik buah hati kita secerdas mungkin, semandiri mungkin, dan sekreatif mungkin, agar bisa menyaingi imperium Barat itu.

Lalu, bagaimana cara kita mendidik anak seperti itu? Kuncinya ada dua, pertama: Disiplin, dan kedua: Komunikasi. Dari mana saya punya kesimpulan ini? Ya dari mana lagi, kalau bukan dari ayat di atas. Saya sungguh kagum dengan "gaya bahasa" dalam firman Allah Swt itu.

Pada ayat tersebut, Allah memakai "fi'il mudhari" (kata kerja sedang berlangsung) dan didahului "lam al-amri" (hiruf lam perintah, melalui kata ini: "Falyattaqullahi" (Hendaklah kalian bertaqwa), bukan dengan kata perintah: "Fattaqullah" (Bertaqwalah). Begitu dalam kalimat selanjutnya, "Walyaquulu qawlan sadidan" (Hendaklah kalian berkata dengan benar), tidak memakai kata: "Quuluu qawlan sadidan" (Berkata benarlah kalian!).

Apa makna dari semua itu? Wallahu a'lam. Cuma izinkan saya menyampaikan pemahaman saya. Kalau Allah memakai fi'il amr (kata perintah), itu akan bisa bermakna "satu kali", beda kalau memakai fi'il mudhari, di sana ada makna "al-istimroriyah" (kontinunitas; berkelanjutan; terus menurus; tiada henti). Dengan demikian, seolah-olah Allah ingin menegaskan kepada kita agar "taqwa" dan "berkata benar" bukan hanya kadang-kadang, apalagi hanya "sekali" {seperti para artis main bingtang film atau tampil dalam acara di bulan suci Ramadlan), melainkan kita terus-menerus tiada henti dalam koridor taqwa dan berkata benar, ini yang kita kenal dengan kalimat integritas [tindakan sesuai dengan ucapan] dan kejujuran [ucapan selaras dengan perbuatan].

Trus, apa hubungan penjelasan itu dengan dua kunci utama --disiplin dan komunikasi-- yang menjadi tema besar dalam diskusi kita kali ini? Sabar, atuh! [hehehe, makai "atuh" segala, kayak orang Sunda aja, padahal orang sebrang, alias Sumatra sana]

Baik, mari kita lanjutkan. Sebelumnya, saya ingin bertanya kepada Anda: 1) mengapa setelah Allah menegur kita supaya khawatir memiliki keturunan lemah dan tidak sejahtra, tiba-tiba Dia berpesan dengan taqwa dan berkata benar?; 2) apa hubungan antara taqwa dan berkata benar dengan disiplin dan komunikasi?

Silahkan Anda cari jawabannya. Dan dengan berat hati, sembari mohon ma'af sebesar-besarnya, diskusi kita hari saya akhiri. Sebab, selain adzan Dhuhur sudah bersautan di Negeri Seribu Menara, saya juga ada rapat instruktur untuk Leadership Intermedite Training (LAT) bersama teman-teman PII Mesir. [hihihi, mungkin Anda bilang: "Yah udo, bikin saya jadi penasaran aja!]

Insya, diskusi ini, akan saya sambung dengan judul: "DUA KUNCI UTAMA MENDIDIK ANAK". Oke??

Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi
Wassalamu'alaikum Wr Wb

Cairo, Kamis 13 Maret 2008

mufaqqih wrote on Mar 13
Subhanallah,,,,,,,,,,
ibnuabiihi wrote on Mar 13
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisa [4]: 9)
Saya jadi ingat sama Bapak Pimpinan Pondok saya dulu, beliau selalu menekankan pentingnya pendidikan dengan ayat di atas...Syukron Udo, ana copas ya buat bacaan pribadi.. :)
elfillah wrote on Mar 13
kalau boleh jawab: Taqwa ada hubungannya dengan disiplin, sebab makna takwa adalah imtitsaalu awamirihi wajtinabu nawahihi. sedangkan perkataan yang benar ada hubungannya dengan komunikasi, karena ia termasuk kunci sukses untuk berkomunikasi.
eh...nyambung gak yah?
arrohwany wrote on Mar 13
Membaca penuturan diatas jadi penegen angis... :((
y4n4utomo wrote on Mar 14, edited on Mar 14
SETUJUUUUUUUUUU!!!! cuma itu hal yg bisa saya ucapkan. Iman, Ilmu, dan Amal. Ketiga hal itu harus menjadi bekal yg matang bagi anak2 kita, amiiinnn. Dan fyi udo, negara Paman Sam yg banyak di agungkan orang2 indo (dan dari manapun) jg gak se"wah " yg kita kira dan kita liat di film2 hollywood. Negara ini jg lagi pusing kok mengatasi degradasi moral para generasi mudanya. Maka dari itu, marilah.. kita generasi muda indonesia, mulai sadar dan bangkit membangun negara indonesia tercinta.
Comment deleted at the request of the author.
agungkencana wrote on Mar 15
Baik, mari kita lanjutkan. Sebelumnya, saya ingin bertanya kepada Anda: 1) mengapa setelah Allah menegur kita supaya khawatir memiliki keturunan lemah dan tidak sejahtra, tiba-tiba Dia berpesan dengan taqwa dan berkata benar?; 2) apa hubungan antara taqwa dan berkata benar dengan disiplin dan komunikasi?
Assalamualaikum
Subhanallah, saya kagum pada Ustadz Udo karena bisa menemukan relevansi antara taqwa, berkata benar+disiplin,komunikasi
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help