Ole: Udo Yamin Majdi
Buat adikkku Udo:
Berjuang 1000 daya!
Belajar & berkarya
setiap saat!
Ttd
Helvy TR
* * *
Setiap aku membaca pesan Mbak Helvy itu, aku teringat waktu beliau menulisnya di Wisma Nusantara Cairo. Tahun 2002, beliau datang ke Negeri Seribu Menara. Disela-sela pelatihan, para peserta minta tanda tangan beliau. Meskipun aku peserta, aku tidak melakukan hal yang sama. Aku hanya memperhatikan saja.
Di Mesir, aku sering bertemu dengan para tokoh Indonesia. Namun aku tidak tertarik minta tanda tangan mereka. Aku hanya minta kartu nama. Tapi aneh, saat bertemu dengan Mbak Helvy, tiba-tiba aku ingin nasehat dari beliau.
"Mbak", tanyaku sembari duduk di dekat Mbak Helvy, "boleh udo minta nasehat dari Mbak?"
"Boleh!" ujar Mbak Helvy.
Karena dari awal aku tidak berniat minta pesan dari Mbak Helvy, maka buku aku tinggalkan di ruang pelatihan. Di saku bajuku, ada pulpen dan Al-Quran kecil.
"Afwan Mbak, tulis aja di sini!" pintaku, lalu aku membuka lembaran kosong, sebelah dalam cover Al-Quranku. Dengan tinta hitam, Mbak Helvy menulis pesan di atas.
Seusai pelatihan, bahkan sepulangnya Mbak Helvy ke Indonesia, aku tidak tahu manfaat pesan itu. Tulisan itu tidak berbicara apa-apa. Sampai suatu hari, aku mengalami bad mood, aku membaca lagi pesan itu. Aneh bin ajaib, pesan itu mengobarkan semangatku. Bukan hanya isi pesan itu yang menggerakanku, tapi pesan itu berubah menjadi "lorong waktu" bagi imajinasiku untuk menjumpai Mbak Helvy. Makanya, salah satu terapi untuk menghilangkan bad mood, aku membaca pesan Mbak Helvy itu.
Iya, lewat tulisan itu, aku seolah-olah sedang berhadapan langsung dengan Mbak Helvy. Di sinilah, aku menyaksikan kepribadian, karya, dan perjuangan Mbak Helvy yang aku ketahui dari perjumpaan di Mesir, milis, multiply, atau dari orang lain. Karena pesan itu ada di sampul dalam Al-Quran, maka setiap aku tilawah Al-Quran, pesan itu juga sering aku baca. Semakin sering aku merenungkannya, sosok Mbak Helvy semakin dekat dalam batinku. Bahkan, dalam banyak hal beliau mempengaruhi proses kreatif dan perjuanganku dalam dunia tulis menulis. Seberapa besarkah pengaruh Mbak Helvy terhadap diriku?
Baik, untuk melihat pengaruh Mbak Helvy terhadap diriku, aku akan menceritakan proses kreatifku dalam bidang tulis-menulis. Dulu, aku tidak pernah bermimpi menjadi penulis. Cita-citaku menjadi guru agama yang dicintai oleh para muridnya. Aku lahir di daerah terpencil, bahkan listrik saja tidak masuk, di kabupaten Lampung Barat. Bapakku petani, sedangkan ibuku, selain ibu rumah tangga, beliau membantu bapakku di sawah. Secara otomatis, sebagai anak tertua laki-laki, akupun harus membantu beliau berdua. Tak ada waktu bagiku untuk membaca buku, apalagi menulis, sebab pulang sekolah langsung ke sawah dan pulang dari sawah aku kelelahan. Dua kakakku, juga tidak mengajariku membaca dan menulis. Begitu juga lingkunganku, tak ada perpustakaan dan komunitas kepenulisan.
Pasca gemba bumi Liwa, aku merantau ke pulau Jawa. Aku mondok di Kota Dodol. Walaupun di pesantren tempatku belajar dan di kota Garut ada perpustakaan, namun tidak membuatku rajin membaca dan menulis. Apalagi membaca jenis tulisan fiksi, paling aku hindari, sebab sejak kelas SLTP, aku tidak mau membaca, kecuali Al-Quran, Hadis, dan buku-buku keislaman. Bacaan selain ketiga hal itu, bagiku adalah sia-sia dan membuang waktu.
Semuanya itu berakhir, tatkala ada seorang teman menyodorkan Annida. Awalnya hanya iseng baca. Namun setelah satu persatu aku membaca tulisan dalam majalah Islami itu, paradigmaku berubah. Tadinya aku tidak suka baca, akhirnya aku kutu buku, bahkan berlangganan 11 majalah Islam. Sebelumnya, aku tidak suka cerpen, akhirnya aku ketagihan. Dulu aku paling tidak suka menulis, tiba-tiba aku merasa wajib merekam pengalaman hidupku dalam buku diary.
Mengapa aku bisa berubah sedrastis itu? Sebab, aku tersentuh dengan tulisan Mbak Helvy. Tulisan beliau selain menggerakan, menggugah, mencerahkan, dan penuh dengan dakwah, juga enak serta mudah aku fahami.
Dari Annidalah, aku pertamakali kenal dengan Mbak Helvy. Setamat dari pesantren, aku sangat ingin bertemu dengan beliau. Namun sayang, aku harus meninggalkan bumi pertiwi dan berangkat ke Negeri Para Nabi.
Sesampai di Mesir, aku mencari teman yang juga pembaca Annida. Sebab, dari Annida, aku tahu bahwa di Mesir ada teman yang suka baca Annida, bahkan sebagai koresponden, yaitu Fera Andriani Djakfar. Ternyata, tidak hanya Fera, ada juga yang lain, diantaranya, adalah Habiburrahman El-Shirazy (Penulis Novel Ayat-ayat Cinta). Akhirnya, kami sepakat mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir.
Setelah bergabung di FLP Mesir, semangat membaca dan menulis, lambat laun tumbuh. Apalagi setelah bertemu dengan Mbak Helvy. Beliau memberiku motivasi; dorongan; dukungan, tidak hanya dalam pelatihan, bahkan saat mereka berada di Indonesia. Ini terbukti ketika buku perdanaku, buku Kumcer "Bara Musa di Taman Terpasung" terbit, beliaulah orang yang pertama kali memberikan apresiasi terhadap karyaku di milis FLP Pusat. Dalam e-mailnya, beliau menulis:
"Buat adikku Udo Yamin tercinta (Pengurus Divisi Fiksi FLP Kairo), selamat ya! Dan jangan pernah berhenti menulis! Ditunggu karya selanjutnya!"
Mbak Helvy, tidak hanya memberiku semangat membaca dan menulis saja, melainkan juga semangat berdakwah. Betapa tidak, salah satu tulisan yang berkesan dalam hatiku adalah Ketika Mas Gagah Pergi. Cerpen itu mengajariku bagaimana cara mengajak kedua kakak dan satu adik perempuanku untuk menutup aurat. Semangat dakwah Mas Gagah, membuatku tidak pernah putus asa mengajak kakak dan adikku dan al-hamdulillah saat ini mereka bertiga telah berjilbab.
Enam tahun pun berlalu. Sampai detik ini, aku terus melaksanakan pesan Mbak Helvy: berjuang lewat pena, belajar, dan berkarya. Aku pilih dunia maya sebagai medan perjuangan. Sengaja aku memilih internet sebagai media perjuangan, sebab aku lebih bebas menyampaikan gagasan dan tanpa harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Walaupun demikian, tulisanku pernah dimuat di Annida, Republika, Era Muslim, Kota Santri, dan seterusnya. Bahkan saat ini, aku aktif menulis secara bersambung "Seri Mendidik Anak Menjadi Pahlawan" di sebuah milis dan blogku.
Aku tidak tahu, seberapa banyak tulisanku yang bertebaran di internet, baik itu memakai nama asli maupun nama samaran. Yang jelas, aku sering menemukan tulisanku ditampilkan di situs, di milis, bahkan dimuat di majalah.
Selain itu, aku juga sering menjuarai berbagai lomba menulis di Mesir, baik itu tingkat almamater hingga tingkat KBRI atau seluruh Mahasiswa Indinesia (Masisir). Misalnya, juara I Lomba Kolom buletin Manggala KPMJB (2003), juara II Lomba Esai Terobosan (2005), juara I Lomba Artikel Hikmah Jaizah Dubes Prof. Dr. Bachtiar Aly, MA., juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Populer KBRI (2006), dan seterusnya. Dan tiap tahun, aku menjadi editor, redaktur, atau kontributor di berbagai buletin, majalah, dan jurnal Masisir. Hampir tiap minggu aku mengisi acara pelatihan menulis dan jurnalistik di berbagai organisasi Masisir. Tak terhitung pula, aku menjadi juri dalam lomba menulis. Dan berbagai penghargaan pun aku terima, diantaranya aku menerima Terobosan Award sebagai "Pegiat Sastra Terbaik & Penulis Terbaik" (2006)
Nah, mungkinkah aku seperti itu, bila aku tidak pernah membaca Annida dan aktif di FLP? Mungkinkah Annida dan FLP ada tanpa sosok Helvy? Para ilmuan mengatakan bahwa kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh pengasuh (guru atau ortu), bacaan, dan lingkungan. Maka tidak salah, jika aku mengatakan bahwa pengasuhku dalam dunia tulis menulis adalah Mbak Helvy, bacaan yang mempengaruhiku adalah tulisan Mbak Helvy, dan komunitas yang mempengaruhiku adalah organisasi penulis yang didirikan oleh Mbak Helvy. Jadi, dengan jujur aku akui, secara tidak langsung, orang yang mengantarkanku menjadi penulis adalah Helvy Tiana Rosa!
* * *
NB:
Tulisan ini, akan udo sertakan dalam "LOMBA MENULIS ESAI TENTANG HELVY TIANA ROSA, KARYA DAN DUNIANYA". Oleh sebab itu, sebelum udo kirim ke panitia lomba, sebuah harapan besar, bagi Anda yang telah membaca tulisan ini, untuk memberikan komentar, sehingga udo dapat mengukur sejauhmana kualitasnya. Sebelumnya udo haturkan terima kasih atas kesediaan Anda meluangkan waktu untuk memberikan masukan. Hanya Allah Swt saja yang bisa membalas kebaikan Anda.