INNER-OUT DALAM MERAIH MULTIPLE ACHIEVEMENT:
MENJAWAB TANTANGAN STUDI MASISIR
Oleh: Udo Yamin Majdi
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’d (13): 11]
Bismillâh. Ada asumsi bahwa prestasi mahasiswa Indonesia Mesir [Masisir] dalam empat tahun terakhir menurun. Dalam waktu yang bersamaan, terjadi perdebatan dan polemik tentang makna dan standar prestasi. Diperparah lagi, muncul paradigma salah: meletakkan prestasi akademis di atas prestasi sosial, atau sebaliknya, mengutamakan prestasi sosial dibandingkan prestasi akademis.
Paradigma dikotomis itu menawarkan pertanyaan simalakama: pilih mana antara bergelar Lc., MA., atau Dr., namun tidak memberikan kontribusi bagi masyarakat, atau sebaliknya, tidak bergelar namun memiliki segudang karya bermanfa’at bagi manusia? Tentu saja pilihan kita adalah memiliki para sarjana bergelar tinggi sekaligus menjadi problem solver dan agent of change di tengah masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Akan tetapi, untuk meraih prestasi majemuk [multiple achievement] —bergelar dan berilmu tinggi— itu, tak ubahnya seperti kita mendaki puncak gunung, penuh dengan rintangan dan tantangan.
Tulisan ini tidak bermaksud sebagai kajian representatif atas semua problematika Masisir, tapi hanyalah telaah awal —secara deduktif dan kajian kepustakaan— terhadap empat permasalahan ini: (1) apa makna, standar, dan sejauhmana prestasi Masisir?; (2) apa saja tantangan yang dihadapi oleh Masisir?; (3) bagaimana sikap Masisir terhadap tantangan?; dan, (4) bagaimana solusinya agar Masisir siap menghadapi tantangan?
Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin mendefisikan dulu makna Masisir yang kita maksud dalam tulisan ini. Masisir singkatan dari Mahasiswa Indonesia Mesir. Namun dalam kajian kita kali ini yang kita maksud dengan Masisir adalah para mahasiswa dan mahasiswi strata satu [S1] yang terdaftar di Universitas Al-Azhar Mesir.
MULTIPLE ACHIEVEMENT
Diskursus prestasi [achievement] sering mencuat di belantika Masisir bermula dari perbedaan paradigma di kalangan Masisir dalam memahami makna prestasi. Prestasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia {Balai Pustaka, 2001}, adalah hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan.
Untuk memahami letak perbedaan paradigma itu, kita perlu memetakan terlebih dahulu empat tipe Masisir yaitu: (1) mahasiswa study oriented yang hanya berfokus pada akademik [hard skills]; (2) mahasiswa social oriented yang terlalu berfokus pada organisasi kemahasiswaan [soft skills]; dan (3) mahasiswa ideal yang menjaga keseimbangan antara keduanya [hard skill and soft skills], dan mahasiswa tanpa tujuan [dis-oriented].
Tipe pertama secara akademis mereka lancar, namun secara sosial mereka mengalami banyak kendala. Misalnya, sulit untuk mengkomunikasikan ide atau gagasan mereka dalam bentuk lisan dan tulisan. Sulit untuk bekerjasama. Sebaliknya, tipe social oriented, secara akademis mereka sering tersendat, akan tetapi secara sosial mereka memiliki soft skill, diantaranya: (1) keterampilan komunikasi lisan dan tulisan [communication skills]; (2) keterampilan berorganisasi [organizational skills]; (3) kepemimpinan [leadership]; (4) kemampuan berfikir kreatif dan logis [logic]; (5) ketahanan menghadapi tekanan [effort]; (6) kerja sama tim dan interpersonal [group skills]; dan (7) etika kerja [ethics]. Adapun tipe ketiga, mereka berhasil dalam studi dan sosial. Sebaliknya, tipe keempat, mereka gagal dalam keduanya.
Keempat tipe mahasiswa itu memiliki paradigma berbeda tentang makna prestasi. Bagi mahasiswa study oriented, prestasi adalah manakala kuliah lancar tepat waktu empat tahun dan meraih indeks prestasi istimewa [natîjah mumtâz]. Sedangkan prestasi menurut social oriented adalah ketika mampu melakukan peran sebagai agent of change. Adapun menurut mahasiswa ideal, kedua hal itu sama-sama penting. Sebaliknya, bagi mahasiswa tanpa tujuan, keduanya tidak penting.
Perbedaan paradigma itu memunculkan perbedaan standar dalam menentukan apakah seorang mahasiswa itu berprestasi atau tidak. Terutama dari dua tipe awal —study oriented dan social oriented— sering berbeda, bahkan ketika berada di titik ekstrim, satu sama lainnya saling mencemoohkan; meremehkan; dan menghina. Tipe study oriented menganggap para aktivis hanya membuang waktu, tidak konsisten dengan tugas sebagai mahasiswa, tidak memiliki ilmu mendalam apalagi spesialisasi, dan seterusnya. Sebaliknya, tipe social oriented, mereka anggap tipe study oriented anti sosial, bukan mahasiswa sejati yang berperan sebagai agent of change di masyarakat, tidak mengamalkan ilmunya, dan seterusnya.
Untuk menghentikan perdebatan dan polemik itu, maka kita memerlukan paradigma dan standar yang sama tentang prestasi. Di sini saya mengajukan paradigma multiple achievement [prestasi majemuk] sebagai jembatan untuk menghubungkan berbagai tipe Masisir di atas. Paradigma multiple achievement adalah cara pandang; kerangka berpikir bahwa prestasi tidak tunggal, tapi beraneka-ragam sebagaimana keunikan setiap individu, beragamnya potensi, dan kemajemukan kecerdasan.
Ada dua alasan saya mengajukan multiple achievement. Pertama, karena Al-Quran dalam membicarakan kecerdasan memakai kata jama’ [plural]. “Sebagian lafazh [kata] dalam Al-Qur`an,” tulis Manna’ Khalil Al-Qattan dalam kitab Mabâhîts fî ‘Ulûmi Al-Qur`an {Maktabah Wahbah. 2000}, “di-mufrad-kan untuk sesuatu makna tertentu dan di-jama’-kan untuk sesuatu isyarat khusus, lebih diutamakan jama’ dari mufrad atau sebaliknya. Oleh karena itu dalam Al-Qur`an sering dijumpai sebagian kata yang hanya dalam bentuk majemuk [plural] dan ketika diperlukan bentuk tunggalnya maka yang digunakan adalah kata sinonim [muradif]-nya. Misalnya, kata “al-lubb” yang selalu disebutkan dalam bentuk jama’, albâb, seperti dalam surah Az-Zumar [39] ayat 21. Kata ini tidak pernah dipergunakan dalam Al-Qur`an dalam bentuk mufradnya, namun sinonimnya, yaitu lafadz “al-qalbu” [hati], seperti dalam surah Qaf [50]: 37.”
Berangkat dari penuturan Khalil Al-Qattan, saya memahami kata majemuk pada al-lub menjadi albâb, itu sebuah isyarat bahwa kecerdasan manusia majemuk, tidak tunggal. Secara bahasa, ulil albâb, terdiri dari dua kata, yaitu ulû jamak dari kata âla dan al-albâb jamak dari al-lubb. Kata âla, artinya bisa ilâ bermakna intaha [mencapai], washala [berakhir pada], shara [menjadi], atau intiqalahlu [keluarga, sanak, kaum kerabat]. Sedangkan al-lubb berarti al-‘aqlu [akal], al-qalbu [hati], lubâb [bagian terpenting], atau jawhar [inti]. Jadi, ulil albab adalah orang yang telah mengoptimalkan seluruh potensi dirinya —baik potensi intelektual [al-‘aqlu], emosional [an-nafs], spiritual [ar-ruh], dan fisik [al-jasad] sehingga menjadi keahlian, kompetensi, atau kecerdasan. [berpindah], bisa juga berarti
Alasan kedua adalah berdasarkan penemuan ilmuan Barat bahwa kecerdasan itu adalah majemuk. Dalam buku Seven Kinds of Smart: Identifying and Developing Your Multiple Intelligences {Gramedia, 2002}, Thomas Armstrong, Ph.D., menjelaskan pendapat Dr. Howard Gadner bahwa kecerdasan ganda [multiple intelligences] ada tujuh, yaitu (1) kecerdasan Verbal-Linguistik; (2) Matematis-Logis; (3) Spasial-Gambar; (5) Musical-Irama; (5) Kinestis-Tubuh; (6) Intrapersonal; dan (7) Interpersonal. Tujuh kecerdasan ini, ada pada Masisir. Sayangnya, selama ini kita hanya mengakui kecerdasan Verbal-Logis saja, sedangkan yang lainnya sering kita remehkan.
Dalam konteks Masisir, (1) kecerdasan Verbal-Linguistik —kemampuan untuk mengolah kata, baik secara lisan, tulisan, atau keduanya— kita temukan pada para orator, penceramah, pendongeng, presenter, politisi, pembicara publik, penulis, pengarang, penerjemah, editor, wartawan, sastrawan, dan seniman; (2) kecerdasan Matematis-Logis —kemampuan untuk menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar— ada pada peneliti, ahli statistik, ahli ilmu warits, programmer komputer, ahli logika, dan ahli ilmu manthiq; (3) kecerdasan Spasial-Gambar —kemampuan untuk mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikan persepsi spasial-visual— ada pada dekorator interior, arsitek, pelukis, ahli kaligrafi, ahli karikatur, desaigner, dan lay-outer; (4) kecerdasan Musical-Irama —kemampuan untuk menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara memersepsi, membedakan musik, menggubah, atau mengekspresikan— ada pada para penyanyi; munsyid, kritikus musik, juri musik; (5) kecerdasan Kinestis-Tubuh —kemampuan untuk mengekspresikan ide dan perasaan serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu— ada pada pemain pantonim, atlet, penari, pemain teater, karateka, dan ahli bela diri lainnya; (6) kecerdasan Intrapersonal —kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, dan perasaan orang lain— ini dimiliki para trainer motivasi dan pengembangan diri; dan (7) kecerdasan Interpersonal —kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut— ada pada Masisir yang mendalami ilmu tasawuf.
Adapun standar prestasi Masisir, ada dua: berdasarkan kuantitas dan berdasarkan kualitas. Secara kuantitas, prestasi Masisir bisa kita lihat dari dua hal, yaitu (1) limit waktu dalam menyelesaikan satu jenjang pendidikan [lama studi untuk S1 4 tahun]; dan (2) indeks prestasi kumulatif atau yudisium ujian akhir [natîjah imtihân], mulai dari rasib, manqûl bi madatain, maqbûl, jayyid, jayyid jiddan, sampai mumtâz. Kedua standar ini, kita sebut sebagai standar prestasi akademis. Sedangkan secara kualitas, prestasi Masisir terukur dari tiga hal ini: (1) dari segi kognitif [pikiran]; sejauhmana berpikir ilmiah terbentuk, setidaknya memahami pola berpikir deduktif, berpikir induktif, dan berpikir ilmiah atau metode berpikir logiko-hipotetiko-verifikatif; (2) dari segi afektif [mental]; sejauhmana cara merespon sesuatu dengan baik; dan (3) psikomotor [tindakan], terbangunnya integritas ilmuwan —perbuatan sama dengan ilmunya.
Setelah kita membahas makna prestasi, multiple achievement, dan standar prestasi, maka kita melongok prestasi Masisir. Sebagai sampel, kita akan melihat data prestasi akademis Masisir tahun 2006-2007 untuk strata satu (S1). Tingkat satu, yang lulus 48%, tidak lulus 52%. Tingkat dua, yang lulus 70%, tidak lulus 30%. Tingkat tiga, yang lulus 63%, tidak lulus 33%. Dan tingkat empat, lulus 48%, tidak lulus 52% {data dari TOR Lokakarya Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia Di Mesir}.
Bersambung ke Renungan Masisir 2: Tantangan Personality & Environment