Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

TANTANGAN MASISIR

Dua tahun yang lalu (2006) dalam tulisan Faktor-Faktor Penunjang Kesuksesan dan Kegagalan Masisir —terpilih sebagai juara pertama dalam lomba karya tulis populer KBRI— saya memasukkan kondisi almamater Masisir sebagai variabel yang sangat menentukan sukses atau tidaknya Masisir. Namun, setelah saya melakukan observasi ulang sebagai verifikasi data untuk tulisan ini, maka saya menganulir kesimpulan saya itu, sebab saya menemukan fakta bahwa ada Masisir yang sewaktu di Indonesia tidak sekolah di pesantren atau madrasah, melainkan hanya sekolah umum dan tidak mempelajari bahasa Arab, namun mampu menyelesaikan ujian atau lulus (najâh) dengan baik di Universitas Al-Azhar Cairo, karena belajar sungguh-sungguh.

Sebagai ganti dari kesimpulan tersebut, saya punya hipotesa baru bahwa masa lalu atau latar belakang pendidikan tidak terlalu menentukan bila dibandingkan dengan upaya Masisir untuk menghadapi segala tantangan ketika sudah di Mesir. Kesimpulan sementara ini semakin kuat, tatkala saya menemukan data yang dikemukakan oleh Kurt Lewin, tokoh Psikologi Gestal yang kemudian hijrah ke Psikologi Kognitif, dalam teori medan [fiel theory], menyanggah adanya peran masa lalu yang terlalu penting.

Menurut Kurt, tulis Ahmad Thoha Faz dalam buku Titik Ba; Paradigma Revolusioner dalam Kehidupan dan Pembelajaran {Mizan, 2007}, manusia merupakan salah satu unsur dalam lingkungan fisika, maka prilaku [behavior][personality] dari individu yang bersangkutan dan lingkungan [environment] yang mempengaruhinya pada saat kejadian, bukan oleh pengalaman masa lalu apalagi masa kecil. seseorang ditentukan oleh kepribadian

Terinspirasi oleh pendapat Kurt tersebut, saya membagi dua tantangan yang dihadapi oleh Masisir, yaitu tantangan internal atau personality; dan tantangan eksternal atau invironment. Sebelum saya merumuskan; mendeskripsikan, sekaligus menganalisis dua tantangan itu, sebaiknya kita lihat dulu makna tantangan —berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia {Balai Pustaka, 2001}— adalah hal atau objek yang perlu ditanggulangi dan menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; tantangan untuk berusaha lebih keras. Mari kita diskusikan dua tantangan ini:

PERSONALITY

Untuk membedah tantangan personality ini, saya memakai pisau analisis berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw. bahwa kita harus berlindung dari delapan patologi psikologis —cemas, sedih, tak berdaya, malas, pengecut, kikir, tertekan, dan terlilit hutang. Dalam mendefisikan masing-masing delapan hal ini, saya meminjam terminologi yang disampaikan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Jawâb al-Kâfy liman ‘an ad-Dawâ ats-Tsâfy, atau sering dikenal dengan judul lain, Ad-Dâ wa ad-Dawâ {Maktabah Darul Bayan, 1998}. Delapan patologi psikologis itu adalah:

  • Cemas dan Sedih

Cemas [al-ham] dan sedih [al-hazn], keduanya muncul dari “sesuatu yang tidak kita inginkan”, tidak kita sukai; tidak kita senangi, atau rasa benci dalam hati kita. Bedanya, cemas berkaitan dengan sesuatu yang “belum” terjadi. Sedangkan sedih berhubungan dengan perkara yang “telah” terjadi.

Dengan melihat data prestasi akademis 2006-2007 di atas, sangat menarik untuk kita teliti adalah mengapa persentasi ketidak-lulusan tingkat satu dan tingkat empat lebih besar dibandingkan tingkat dua dan tiga? Sebab, tingkat satu —mahasiswa baru— dan tingkat empat, terjangkit penyakit cemas. Bagi tingkat satu, mereka cemas, sebab belum mengenal sistim belajar dan ujian di Al-Azhar. Sebaliknya, tingkat empat cemas, karena terlalu mengkhawatirkan pasca tamat belajar. Setidaknya mereka akan dihadapkan tiga pilihan: melanjutkan kuliah, menikah, mencari pekerjaan, dan gabungan dari dua atau ketiganya sekaligus.

Selain kecemasan itu, tingkat satu dan empat, juga merasakan kesedihan. Bagi tingkat satu, mereka sedih sebab apa yang mereka bayangkan tentang Universitas Al-Azhar, kehidupan para mahasiswa Indonesia, dan lingkungan Mesir, tidak seindah yang mereka impikan sebelum berangkat ke Mesir. Sedangkan kesedihan yang dirasakan oleh tingkat empat, sebab merasa bahwa antara gelar sarjana yang akan mereka sandang tidak berbanding lurus dengan ilmu yang mereka peroleh dan mereka menyesali atas kesia-sian mereka selama ini.

Dengan kata lain, sebuah kewajaran, jika mahasiswa baru dan mahasiswa tingkat akhir banyak yang tidak lulus, sebab beban psikologis yang mereka rasakan dua sekaligus, yaitu rasa cemas dan sedih secara bersamaan. Sedangkan tingkat dua dan tingkat tiga, biasanya hanya merasakan kesedihan, sebab satu sisi sangat rindu dengan keluarga di Indonesia, sedangkan di sisi lain, tidak memiliki ongkos untuk pulang. Adapun rasa cemas itu hilang, karena ternyata ketakutan yang mereka rasakan selama ini, hanya sebatas perasaan yang dibangun oleh diri sendiri; tidak menjadi kenyataan.

  • Tak Berdaya dan Malas

Bila kita gagal atau kalah untuk melakukan sebab-sebab berbuat kesuksesan; kebaikan dan kebahagiaan, maka itulah yang disebut dengan lemah [al-‘ajzi] dan malas [al-kasali]. Namun keduanya berbeda dalam hal “sebab”, lemah akibat ketidak-mampuan; tidak memiliki kekuatan [al-qudrah], sedangkan malas akibat ketidak-mauan; tidak memiliki keinginan [al-irâdah].

Tantangan Masisir, bila ditinjau dari segi bisa diubah atau tidak bisa diubah, maka akan terbagi menjadi tiga wilayah: (1) wilayah kendali; (2) wilayah pengaruh; dan (3) wilayah kepedulian. Wilayah kendali adalah sesuatu dalam diri kita yang dapat kita ubah sesuai dengan keinginan kita. Misalnya, ketika kita dihadapkan kondisi belajar di Mesir tidak sesuai dengan harapan, maka kita bisa mengendalikan respon kita, apakah kita akan sedih, atau sebaliknya memilih bahagia atau bersabar.

Wilayah pengaruh adalah sesuatu di luar diri kita, namun masih dapat kita ubah atau pengaruhi. Misalnya, di tempat tinggal atau komunitas —almamater, kekeluargaan, ormas afiliatif, dst— kita tidak ada bimbingan belajar, maka kondisi itu bisa kita ubah dengan mengusulkan kepada pihak yang terkait [stakeholder] untuk menyelenggarakannya.

Dan wilayah kepedulian, adalah wilayah di luar diri kita dan kecil kemungkinan bisa kita ubah, misalnya jumlah bus yang sedikit dan sering terlambat sehingga kita harus menunggu lama di halte [mahattoh], sewa flat [saqoh] naik dan barang-barang kebutuhan mahal, sehingga mengurangi jatah transportasi, beli diktat kuliah [muqoror], dan kebutuhan belajar lainnya. Nah, ketak-berdayaan terjadi manakala kita dihadapkan pada wilayah kepedulian. Satu sisi kita mau belajar, namun di sisi lain kita tidak bisa belajar, karena sesuatu di luar kemampuan kita untuk mengatasinya, seperti masalah bus tersebut, masalah lampu tiba-tiba mati saat belajar, sekonyong-konyong diusir tuan rumah saat mendekati waktu ujian, dan seterusnya.

Sedangkan malas terjadi akibat sesuatu yang kita anggap terlalu mudah atau sebaliknya terlalu sulit. Ada Masisir yang gagal karena mereka menganggap kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir sangat mudah, masuknya tidak perlu tes, yang penting ijazah terakreditasi [mu’âdalah]; saat kuliah tidak wajib masuk setiap hari dan tidak ada absensi, sangat jarang ada tugas kuliah untuk membuat paper, makalah, dan skripsi [bagi S1], dan seterusnya. Sebaliknya, ada yang mengganggap kuliah sangat sulit, menunggu mobil harus berjam-jam, sesampai di kampus duduk di kursi renyot, tidak ada AC, dan ruangan penuh debu, dosen menyampaikan ceramah kuliah [muhâdharah] memakai bahasa populer [‘Ammiyah], dan seterusnya. Dua persepsi ini, akhirnya membuat mereka malas.

Selain itu, rasa malas muncul akibat tidak memiliki target, atau sebaliknya, terlalu banyak target. Orang yang tidak punya target, tentu saja akan santai, karena memang tidak memiliki tuntutan apa-apa. Sebaliknya, orang yang terlalu banyak target tanpa diimbangi dengan manajemen diri dan manajemen waktu yang baik, maka merasa kewalahan terhadap banyak tuntutan dan banyak tidak terlaksanakan. Akibat dari banyak target tidak tercapai, maka ia akan merasa malas untuk melakukannya lagi.

  • Pengecut dan Kikir

Pengecut [al-jubni] dan kikir [al-bukhli] itu beda. Takut berhubungan dengan fisik [badan; diri], sedangkan kikir berkenaan dengan harta. Walaupun demikian, keduanya tetap sama dalam hal tidak bisa memberikan manfa’at.

Di Indonesia, para alumni Universitas Al-Azhar, ada yang mengecewakan keluarga, masyarakat, dan umatnya. Sebab, meskipun mereka telah sarjana, ternyata mereka tidak mampu menyampaikan dan transformasi ilmu, apalagi melakukan mobilitas sosial. Mereka bukan saja kurang mampu mengartikulasikan gagasan lewat tulisan dan lisan, melainkan mereka merasa asing di tengah hiruk-pikuknya kemajuan peradaban manusia.

Parahnya, mereka tidak mampu melaksanakan tugas utamanya sebagai juru dakwah [dâ’i], misalnya tidak bisa khutbah Jum’at, khubah nikah, ceramah, pengajian, dan sejenisnya. Mereka bukan berusaha merubah diri agar memiliki kemampuan untuk melaksanakan tuntutan masyarakat, tapi malahan secara tidak bertanggungjawab meninggalkan kampung halaman dan lari ke kota dengan alasan mencari pekerjaan.

Mengapa hal itu terjadi? Sebab, selama mereka menuntut ilmu di Mesir mereka adalah para pengecut dan kikir. Mereka tidak mau aktif di organisasi dengan alasan tidak mau terganggu studi. Sebenarnya, itu sebuah alasan yang dibuat-buat. Alasan sesungguhnya adalah mereka takut sebelum mencoba; mereka tidak mau meluangkan diri —pikiran, tenaga, dan waktu— untuk orang lain, alias pengecut.

Sedangkan kikir, terjadi pada Masisir anak orang kaya. Namun kekayaan itu, tidak bisa dirasakan oleh teman-temannya. Mereka pergunakan untuk mereka diri sendiri dan cenderung untuk hiburan saja. Uang mereka habis untuk membeli fasilitas hiburan in-door, misalnya untuk membeli komputer atau laptop super canggih, tentu saja dilengkapi dengan alat permainan seperti PS [Play Station].out-door, mereka berkelana dari tempat wisata satu ke wisata lain. Sedangkan hiburan

Baik yang pengecut maupun yang kikir, sama-sama mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan manusia. Sebab, mereka tidak memiliki soft skill —sebagaimana telah kita bahas di tipe mahasiswa— untuk bermasyarakat. Yang pengecut lebih dekat dengan kitab; buku; muqarrar, maka mereka memperlakukan manusia seperti kitab; buku; muqarrar yang tidak memiliki perasaan. Diperparah lagi, konsep ilmu hadis “al-jarhu wa at-ta’dil” dipakai untuk menganalisa manusia, sehingga ketika ada kesalahan atau kekeliruan pada seseorang, mereka langsung cela dan jauhi, bukan berusaha untuk mendakwahnya secara lemah lembut dan sabar. Sama halnya dengan orang kikir, karena mereka lebih banyak bersentuhan dengan alat teknologi dan alam, kurang memahami keunikan individu. Toh pun kalau mereka bergaul, maka mereka bergaul dengan sesama orang kaya saja.

Jadi wajar, jika Masisir yang terkena virus pengecut dan kikir ini, tidak peka sosial dan tidak mampu mencair dan melebur diri bersama masyarakat. Sang pengecut akan merasakan rendah diri, tidak percaya diri, dan putus asa, sebab umat membutuhkan sebuah penjelasan sesuai dengan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi [TIK] —sedangkan selama di Mesir TIK itu justru mereka jauhi. Sebaliknya, yang kikir tidak bisa mengabdi di masyarakat dan ummat yang mayoritas miskin, bodoh, dan terjangkit patalogi sosial, sebab mereka sudah terbiasa dengan TIK, mana mungkin tahan hidup di pedalaman yang tidak ada listrik, internet, dan teknologi. Akhirnya, para pengecut dan kikir itu, menjadi mesin di tengah industri perkotaan. Mereka bukan menjadi subjek, tapi menjadi objek perubahan. Mereka bukan problem solver, tapi mereka menjadi trouble maker dan bagian dari masalah. Na’udzubillahi min dzâlik! 

  • Terlilit Hutang dan Tekanan Orang Lain

Dari segi dampak psikologis, lilitan hutang [dhol’i ad-dain] dan tekanan orang lain [ghalabat ar-rijâl], keduanya sama, yaitu membuat hati kita tidak nyaman; tertekan. Namun keduanya tetap memiliki perbedaan. Lilitan hutang tertekan dari orang yang memang “berhak” untuk menekan kita. Sedangkan tekanan orang lain adalah dari orang yang “tidak berhak” atau “tidak benar” [bâthil].

Tidak bisa kita pungkiri pula bahwa mayoritas Masisir berlatar-belakang keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Maka tidak sedikit, yang belajar ke Mesir bermodalkan “nekad”, hanya bawa uang untuk tiga bulan saja, bahkan ada yang kurang, sedangkan keluarga mereka tidak mungkin untuk mengirim duit. Ada juga yang memang tertipu oleh “mediator” yang mengatakan bahwa kuliah di Mesir gratis, disediakan asrama, langsung dapat beasiswa, dan seterusnya.

Apa yang terjadi, di saat biaya rumah mahal, harga barang-barang melonjak, muqarrar semakin banyak dan mahal, transfortasi naik, dan seterusnya naik, sedangkan mereka tidak punya duit sama sekali, tidak punya beasiswa atau kafalah, dan tidak bakalan dikirim keluarga di Indonesia? Kemungkinan ada dua, (1) mencari sebuah pekerjaan —baik itu kerja di warnet, rumah makan, maupun jualan tiket, tahu, tempe, dst— atau (2) meminjam duit atau berhutang.

Masisir yang berhutang, selain keterdesakan atau kondisi di atas, ada juga karena memaksakan diri di luar kemampuan, misalnya, karena ingin menunaikan ibadah haji atau umroh, dan membayangkan bisa sambil kerja di Saudi, mereka meminjam uang. Dan ternyata jangankan bisa membayar utang, pulang kembali ke Mesir saja mereka sudah untung.

Bagaimana seseorang akan konsentrasi belajar, jika ia merasa tertekan —sekarang tertekan karena merasa tidak aman sebab penodongan, penjambretan, penusukan, tidak hanya terjadi di jalan saja, melainkan mulai merambah ke rumah—, terlilit hutang, dan dalam waktu yang sama sewa rumah naik serta harga barang melonjak, sedangkan pemasukan tidak bertambah, bahkan ada?

Tidak sedikit yang kuliah ke Mesir, bukan karena kemauan sendiri, melainkan atas desakan orang tua atau keluarganya. Satu sisi mereka sangat ingin berbakti dengan ibu-bapak atau keluarga mereka, namun di sisi lain, mereka punya keinginan, cita-cita, dan panggilan hidup sendiri. Misalnya, ada Masisir kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, karena tuntutan bapaknya, sebab bapaknya seorang kyai dan ingin anaknya melanjutkan pesantren yang telah puluhan tahun dirintis oleh nenek-moyang mereka. Sedangkan sang anak sangat ingin kuliah di umum.

Ketika keinginan mereka sangat kuat, namun tidak mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata, maka lahirlah sebuah ketertekanan. Dari ketertekanan ini muncul pemberontak “tersembunyi”. Dari pemberontakan, mereka tidak peduli dengan prestasi. Akhirnya, kuliah mereka berantakan. Nah, rasa tertekan dari luar, siapapun itu, termasuk ortu, sebenarnya tidak berhak untuk setiap individu. Sebab, setiap individu adalah merdeka, unik, dan punya pilihan sendiri yang harus dihormati oleh siapa saja.

‘Ala kulli hâl, faktor penyebab dari delapan patologi psikologis itu sangat banyak dan bisa menjangkiti siapa saja dan kapan saja, tanpa melihat jenis kelamin, latar belakang, jenjang pendidikan, tingkat sosial dan seterusnya. Yang jelas, betapa banyak Masisir yang tidak lulus ujian akibat terjangkit salah satu atau lebih dari delapan hal itu.

ENVIRONMENT

Setelah kita membahas tantangan personality, sekarang kita akan mendiskusikan tantangan environment. Yang saya maksud dengan tantangan evironment adalah masalah atau tantangan yang berada di luar diri individu Masisir. Tantangan ini terpetakan dalam tiga tempat:

1.      Tempat tinggal yang tidak kondusif.

Tempat tinggal Masisir terbagi menjadi dua: (1) tinggal di asrama, misalnya asrama putra [bu’ûts kubro] dan asrama putri [bu’ûts sughro] di Abbasea, asrama putri Muqotom, asrama putri Hayyul ‘Asyir, asrama putri Majlis A’la Tahrir, dan seterusnya; (2) tinggal di luar asrama; tinggal di flat [saqoh] baik di Cairo maupun luar Cairo —Zaqazig, Tafahna, Thanta, Manshurah, Dimyath, dan seterusnya.

Yang tinggal di asrama, mungkin tidak terlalu bermasalah, sebab suasana mendukung untuk belajar. Berbeda dengan tinggal di rumah sewaan, tantangannya sangat banyak. Ini sangat tergantung dengan komitmen para penghuninya dalam membangun sistim di rumah itu. Setidaknya, berdasarkan observasi, ada empat tipe suasana rumah Masisir: (1) tipe terminal: antara satu penghuni rumah kurang begitu mengenal, hanya kenal wajah, mereka jarang berintraksi, sebab masing-masing punya kegiatan di luar rumah, dan rumah hanya sebatas tempat istirahat saja; (2) tipe mall: suasana rumah sebagai tempat nongkrong bersama, nonton bersama, atau main game bersama; (3) tipe sekolah: suasana rumah penuh dengan kajian ilmu, diskusi, dan hal yang bermanfa’at lainnya; dan (4) tipe masjid: selain berfungsi seperti tipe sekolah [tempat belajar] di rumah ini sering dipergunakan untuk beribadah misalnya dzikir, sholat, muhâsabah, dan seterusnya, baik itu dilakukan sendirian maupun bersama-sama.

2.      Tempat kuliah yang tidak sesuai dengan keinginan.

Mahasiswa baru yang datang ke Mesir, hampir 100% memiliki kesan yang sama bahwa kuliah di Mesir tidak seindah yang mereka bayangkan sewaktu di Indonesia. Antara apa yang mereka inginkan, jauh berbeda dengan kenyataan. Diantara kenyataan itu adalah: (1) sarana —gedung, kursi, papan tulis, dst— tidak sebagus di universitas di Indonesia;  (2) sistim perkuliahan yang tidak memiliki kalender pendidikan selama satu tahun sehingga untuk mengetahui kapan mulai ujian sering berubah-ubah; (3) pelayanan administrasi manual, belum menggunakan sistim komputerisasi; (4) suasana, iklim, dan proses pembelajaran masih bersifat konvensional [pedagogis], belum bersifat partisipatoris [andragogi]; (5) dosen yang sering tidak hadir dan sering menggunakan bahasa ‘ammiyah; (6) kurikulum memakai sistim gugur, bukan sistim kredit; (7) disiplin kuliah tidak terbangun, kehadiran tanpa absensi, dan seterusnya.

3.      Tempat aktif atau komunitas yang kurang mendukung studi.

Tempat aktif atau komunitas Masisir, kita bagi menjadi empat: (1) organisasi di bawah PPMI, (2) organisasi berafiliasi ke Indonesia baik ormas maupun orpol; (3) organisasi independen, tidak di bawah PPMI maupun afiliatif. Organisasi di bawah PPMI diantaranya: MPA, BPA, DPP-PPMI, DPD-PPMI (Zaqaziq, Thanta, Manshurah, dan terbaru DPD Tafahna), Lembaga Otonom: 16 organisasi kekeluargaan (KMA, HMM, KMM, KPTS, KSMR, KMJ, KEMASS, KPJ, KMB, KPMJB, KSW, GAMAJATIM, FOSGAMA, KMKM, KKS, dan KMNTB), organisasi keputrian (Wihdah), 5 organisasi fakultatif: SEMA Fakultas Ushuluddin, Syariah Islamiyah, Syari’ah wal Qonun, Lughah al-‘Arabiyah, dan Dirasah Islamiyah.

Organisasi afiliatif dan almamater: ormas (Pwk PII, Pwk Persis, PCI-M, PCI-NU, Washiliyah, Pw FLP, Orsat ICMI, PCI-Washiliyah, cabang KSI, Pwk Sekolah Kehidupan, dan seterusnya), orpol (PIP-PKS Mesir, PKB, dan PAN) dan Almamater tidak terhitung. Organisasi independen: SINAI, Ruhama, Asy-Syathibi, CSRD, SAS, dan masih banyak yang lainnya baik itu termasuk dalam kelompok studi, organisasi angkatan [marhalah], dan LSM.

Tentu saja, semua organisasi dan komunitas itu, memiliki peluang yang sama, baik itu sebagai tantangan bagi Masisir, atau sebaliknya, menjadi peluang bagi Masisir. Ini sangat tergantung dengan cara Masisir dalam menyikapi dan meresponnya.

Bersambung ke "Renungan Masisir 3: Sikap Masisir Terhadap Tantangan"


denriza wrote on Mar 29
"dhol’i ad-dain" => kalo ga salah yg bener "gholabatud dain" bang..:D
trus "gholabatur rijal" => yg bener kan "qohrur rijal"...kalo ga salah..:D
'ala kulli hal, subhanallah kepedulian antum ini utk menganalisa keadaan masisir...:D
kpan terbit bukunya bang..?
udoyamin wrote on Mar 29
denriza said
"dhol’i ad-dain" => kalo ga salah yg bener "gholabatud dain" bang..:D
trus "gholabatur rijal" => yg bener kan "qohrur rijal"...kalo ga salah..:D
'ala kulli hal, subhanallah kepedulian antum ini utk menganalisa keadaan masisir...:D
kpan terbit bukunya bang..?
terima kasih atas masukannya. ana dulu menghapal apa yang antum hapalkan, kalau gak salah di ma'tsurat juga sering ditulis "ghalabatud dain wa qohrur rijal". Namun, setelah ana kaji ternyata --baik sanad maupun matan-- hadis ini banyak. Setidaknya, yang ana tahu, sanadnya ada 5 jalur, diantaranya Sa'ad bin Abi Waqos, Amr bin Maimun, Mus'ab, Anas bin Malik, dan Aisyah. Dan matan (teks) hadis berliau berlima bermacam-macam. Silahkan antum chek di kitab Fathul Bary. Ada pun teks do'a yang ana pakai dalam tulisan ini, ana ambil dari kitab "Ad-Da' wa ad-Dawa'" Ibnu Al-Qoyyim. Karena hadis tersebut di riwayatkan oleh Imam Bukhari, maka ana chek dalam Fathul Bary, ada pada jilid XI kitab Ad-Da'wat, bab 40, hadis no 6369, halaman 212 (Penerbit, Darus Salam, Riyadh) Silahkan antum chek lagi. Ditambah lagi, antara dhol'i=ghalabat=qohr, maknanya tidak jauh beda, yaitu tertekan, terikat, atau terkalahkan. Jadi, secara makna tidak berpengaruh. Selamat belajar! Oke?! Buku terbit, secepatnya. minta do'anya, biar Allah senantiasa memberi ana kekuatan dan inayah-Nya. Salam tuk teman2. wassalam
denriza wrote on Mar 30
syukran bang masukannya...:)
vi3nzz wrote on Mar 30
Isi tulisannya bagus udo.
Hanya sedikit masukan, tampilannya agak bikin pusing yang baca. Mungkin karena bentuk font dan warnanya ya..atau mungkin juga spasinya yang terlalu rapat.
tomgoel wrote on Apr 3
Tulisan yang bagus....sangat ilmiah ya!!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help