INNER-OUT: 10 KIAT MENGHADAPI TANTANGAN
Dari penjelasan saya sebelumnya, terlihat dengan jelas bahwa akar masalah Masisir adalah pada respon Masisir terhadap tantangan, bukan pada tantangan itu tersendiri. Dengan kata lain, inti problematika prestasi Masisir, ada pada kata kunci (password) ini: kesadaran, baik itu kesadaran diri [self-awarness] maupun kesadaran kolektif [colective-awarness].
Karena persoalannya berada pada kesadaran dalam diri Masisir, maka solusinya juga ada dalam diri Masisir. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan prestasi Masisir, harus memakai strategi inner-out, yaitu perubahan dari dalam ke luar—dari pikiran dan mental ke tingkah laku; dari individu ke komunitas; dari personality menuju environment; dari Masisir ke stakeholder.
Ada dua alasan saya mengajukan solusi strategi inner-out ini. Pertama, berdasar Al-Quran surat Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Dalam ayat ini, dengan jelas bahwa perubahan itu berawal dari dalam diri [mâ bi anfusihim] dan atas bantuan Allah Swt..
Alasan kedua adalah saya sependapat dengan Stephen R. Covey yang berkeyakinan bahwa perubahan itu “dari dalam ke luar” [inner-out] berdasarkan prinsip yang benar dan berasal dari Sang Pencipta. “Saya percaya”, tulis Covey dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People {Aksara, 1987}, “bahwa ada bagian dari sifat manusia yang tidak dapat dicapai melalui undang-undang atau pendidikan, tetapi memerlukan kekuatan Tuhan untuk mengatasinya. Saya percaya bahwa sebagai manusia, kita tidak dapat menyempurnakan diri sendiri. Sampai tingkat dimana kita menyelaraskan diri kita dengan prinsip benar, anugrah ilahi akan diserahkan pada sifat kita sehingga memungkinkan kita untuk memenuhi ukuran ciptaan kita [baca: taqdir]”.
Dari dua alasan tersebut, saya ingin menegaskan bahwa semua pihak yang terkait [stakeholder], dalam menyelesaikan persoalan Masisir, harus sesuai dengan keyakinan Masisir beragama Islam dan selaras dengan bahasa Masisir, dalam istilah Al-Quran, bi lisâni qaumihi [dengan bahasa kaumnya], atau istilah hadis, bi qadri ‘uqûlihim [dengan kadar akal mereka], sehingga bahasa perubahan itu difahami oleh Masisir. Oleh sebab itu, tugas kita adalah bagaimana menerjemahkan prinsip-prinsip Islam —selama ini dipelajari oleh Masisir— dalam kiat-kiat praktis, rasional, terukur, dan sistimatis.
Secara sederhana, lingkaran perubahan itu, saya bagi menjadi empat lapisan sistim: (1) lapisan terdalam adalah individu Masisir; (2) lapisan tempat tinggal [sistim mikro]; (3) lapisan tempat aktif [sistim meso]; dan (4) stakeholder[sistim makro]. Perubahan itu kita mulai dari dalam ke luar —dari individu ke stakeholder. Karena lapisan nomor 1 dalam diri, sedangkan nomor 2 hingga 4 di luar diri dan melibatkan banyak orang, maka saya bagi kiat-kiat Masisir untuk menghadapi tantangan sekaligus sebuah upaya meningkatkan prestasi menjadi dua bagian ini: pendidikan Masisir
· Secara Individual
- Merubah paradigma.
Perubahan di Masisir, tidak pernah akan terjadi, manakala tidak diawali dengan perubahan paradigma individu-individu Masisir. Lalu, apa itu paradigma? “Paradigma —lazim digunakan sekarang dengan arti model, teori, persepsi, asumsi, atau kerangka acuan”, menurut Covey dalam bukunya tersebut di atas, “adalah cara kita ‘melihat’ dunia —bukan berkaitan dengan pergertian visual dari tindakan melihat, melainkan berkaitan dengan persepsi, mengerti, menafsirkan”. Ia ibaratkan paradigma seperti peta untuk menjelaskan sebuah wilayah.
Merubah paradigma Masisir, berarti merubah persepsi, pemahaman, atau penafsiran Masisir terhadap hal-hal yang selama ini dianggap penyebab kesuksesan dan kegagalan studi mereka. Untuk merubah paradigma Masisir hal yang pertama kali menyadarkan individu-individu Masisir bahwa ada paradigma yang salah, diantaranya, paradigma belajar hanya menghadapi ujian —belajar sistim kebut semalam (SKS), prestasi terukur hanya di atas kertas, organisasi menghambat studi, universitas Al-Azhar tidak punya sistim, kondisi Mesir yang kurang menyenangkan, dan seterusnya, diganti dengan paradigma yang benar.
Untuk merubah paradigma itu adalah dengan mempelajari atau mencari informasi berdasarkan metode ilmiah, bukan berdasarkan rekaan dan “mitos”. Bila paradigma berubah, maka secara otomatis mental dan sikap pun akan berubah. Manakala Masisir memiliki paradigma yang benar, maka penyakit cemas dan sedih akan hilang.
- Membangun kepemimpinan, manajemen diri, dan manajemen.
Kepemimpinan diri, akan melahirkan manajemen diri. Manajemen diri akan melahirkan manajemen waktu. Kepemimpinan diri tentang naskah hidup —visi, misi, dan nilai: Apa yang ingin saya capai selama di Mesir?, sedangkan manajemen fakus pada garis dasar —strategi dan taktik: Bagaimana cara terbaik untuk mencapai keinginan saya itu? Adapun manajemen waktu tertuju pada penentuan skala prioritas [fiqh awlawiyât] —dahulukan yang utama [put first things first]: Bagaimana cara saya menggunakan waktu sebaik mungkin agar target saya selama di Mesir tercapai? Apabila tiga hal itu —kepemimpinan diri, manajemen diri, dan manajemen waktu— terbangun dalam diri individu Masisir, saya sangat yakin, penyakit tak berdaya dan malas akan hilang.
- Meningkatkan rasa peka sosial.
Cara meningkat peka sosial adalah dengan banyak bergaul dengan manusia. Manakala kiat sebelumnya —nomor 2— sudah dilaksanakan oleh Masisir, maka untuk aktif di berbagai organisasi atau komunitas, bukan sesuatu yang membuat studi terhambat. Justru sebaliknya, sebagai wahana untuk mengamalkan ilmu yang telah Masisir peroleh. Dengan banyak berintraksi sesama Masisir, maka rasa peka sosial akan meningkat. Ujung dari peka sosial ini adalah terobati penyakit pengecut dan kikir.
- Memiliki karakter mandiri dan sinergitas.
Ada tiga tahap perkembangan diri manusia, dari ketergantungan [dependence], mandiri [independence], sampai saling tergantung [interindependence]. Tiga kiat sebelumnya, akan melahirkan karakter mandiri dan bersinergi antara satu sama lainnya. Dan dua karakter ini akan mengikis habis persoalan terlilit hutang dan tekanan orang lain. Sebab, dari karakter mandiri dan sinergitas, maka membuat Masisir mandiri secara ekonomi [terbebas dari hutang] dan terbebas tekanan orang lain.
Keempat kiat di atas, akan melahirkan Adversity Quotient (AQ). Dan AQ ini akan membuat individu Masir siap menghadapi tantangan; tahan banting; tidak pernah menyerah dalam meraih multiple achievement.
· Secara Kolektif
- Melakukan penelitian [research] ilmiah.
Untuk mencari akar masalah dan solusi yang paling tepat, hendaknya KBRI bekerjasama dengan PPMI untuk melakukan penelitian ilmiah. Semua tulisan peserta lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh KBRI dan PPMI sejak tahun 2002 yang bertemakan Masisir —termasuk tulisan ini, pada hakikatnya adalah data dasar untuk melakukan penelitikan ilmiah. Oleh sebab itu dari lomba ini perlu follow up dengan mengadakan penelitian ilmiah ke Masisir langsung oleh sebuah tim yang dibiayai oleh KBRI. Teknis rekrutmen anggota dan pembentukan tim ini ada dua: (1) anggota tim ditunjuk langsung oleh KBRI dan PPMI dengan melihat kemampuan untuk melakukan riset; dan (2) lewat sayembara dengan mengajukan Proposal Penelitian, siapa yang menang, maka ditunjuk sebagai Tim Penelitian terhadap Masisir.
- Membuat buku untuk meningkat prestasi.
Laporan penelitian Tim Penelitian tersebut, sebagai bahan untuk membuat buku-buku yang dibutuhkan oleh Masisir, terutama mahasiswa baru. Buku tersebut berisi tiga hal: (1) merubah paradigma Masisir agar berprestasi; (2) memberikan motivasi, inspirasi, dan dorongan untuk berprestasi; dan (3) memberikan kiat-kiat praktis dari seluruh persoalan Masisir sejak sampai di Mesir hingga tamat kuliah. Setidaknya memuat tiga tema —kepemimpinan diri, manajemen diri, dan manajemen waktu— pada kiat nomor 2 secara individu di atas.
- Merubah format OMABA.
Buku-buku tersebut sebagai buku pegangan Masisir yang diberikan saat acara Orientasi Mahasiswa Baru (OMABA). Saya mengusulkan OMABA —sekaligus try out—dilaksanakan oleh 16 kekeluargaan dengan alasan ini: 1) OMABA yang dilaksanakan DPP-PPMI selama ini tidak efektif; tidak efisien; dan tidak sesuai dengan target sebagai “orientasi”. Karena dilakukan secara massif [stadium general], memakai metode kuliah [The Lecture Method] atau strategi pembelajaran konvensional [pedagogi] yang tidak relevan lagi untuk para mahasiswa. Sebagai gantinya adalah strategi pembelajaran orang dewasa [andragogi] atau strategi pembelajaran partisipatori; (2) selama ini terjadi tumpang tindih [over laping] agenda antara DPP-PPMI dengan kekeluarga —padahal dalam AD/ART, keduanya sama-sama dalam lingkungan PPMI. Oleh sebab itu perlu penataan dan pembagian aktivitas yang jelas. Sebagai contoh penataan itu adalah DPP-PPMI hendak menyerahkan OMABA kepada kekeluargaan, selanjutnya DPP-PPMI lebih fokus menjalin hubungan di luar Masisir baik itu Himpunan Mahasiswa Asia Tenggara [Majlis Tadhomun] di Mesir, BKSPPI, maupun PPI di seluruh dunia —PPI Asia, PPI Afrika, PPI Australia, PPI Amerika, dan PPI Eropa.
Namun semua persoalan strategis dan pembuatan konsep OMABA —diantara pembuatan buku modul tersebut, standar soal dan nilai try out, dst— tetap berada pada DPP-PPMI. Kekeluarga hanya sebatas tempat pelaksana saja Executive Committe [EC], sedangkan Organizing Committee [OC] dan Steering Committe [SC]nya dari DPP-PPMI.
- Mengaktifkan Senat Mahasiswa.
Untuk melahirkan Masisir yang memiliki spesialisasi sehingga bisa menyelesaikan berbagai persoalan umat di Indonesia, maka sebuah keniscayaan Masisir harus mengaktifkan Senat Mahasiswa [SEMA] seperti senat diberbagai kampus di Indonesia. Dan membutuhkan konsensus serta komitmen bersama seluruh organisasi yang ada, baik organisasi di bawah PPMI, organisasi afiliatif, dan organisasi independen, agar dengan lapang dada memberikan programnya yang seharusnya dilakukan SEMA. .
- Membangun sinergitas organisasi.
Peningkatan prestasi Masisir, bukan persoalan orang lain [the others], melainkan persoalan kita bersama. Oleh sebab itu, perlu sinergitas dalam meraihnya. Ini perlu kerja keras seluruh komponen untuk merumuskan secara bersama sistim yang tepat untuk membangun sinergitas organisasi. Setidaknya, ini menjadi agenda utama dalam Sidang Umum DPP-PPMI tahun ini.
- Stakeholder bersatu untuk membantu masisir.
Stakeholder —menurut TOR Panitia Lokakarya Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia Di Mesir— adalah para pemangku kebijakan terkait dengan mahasiswa Indonesia di Mesir serta pihak-pihak yang concern terhadap kesuksesan studi mahasiswa di Mesir. Stakeholder itu ada 19 komponen ini: (1) Universitas Al-Azhar; (2) Kementerian Dalam Negeri Mesir; (3) Kementerian Pendidikan Tinggi Mesir; (4) State Security Mesir; (5) Imigrasi Mesir; (6) Kementerian Luar Negeri Mesir; (7) Kedutaan Mesir di Jakarta; (8) DPR RI (Komisi X); (9) Departemen Luar Negeri RI; (10) Departemen Agama RI; (11) Departemen Pendidikan Nasional RI; (12) Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara RI; (13) Pemda di Indonesia; (14) Ormas Islam [NU; Muhammadiyah, PERSIS, ICMI]; (15) KBRI Cairo; (16) Alumni; (17) Asosiasi Pesantren; (18) PPMI Mesir; dan (19) Lembaga Beasiswa.
Sebuah harapan, pertemuan stakeholder pada acara Lokakarya Lokakarya Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia Di Mesir tanggal 12-13 April 2008 nanti akan menemukan solusi terbaik untuk meningkatkan prestasi Masisir.
Sebagai pamungkas, saya ingin menyimpulkan dan menyampaikan dua saran saya. Kesimpulan saya bahwa untuk menghentikan perdebatan dan polemik tentang prestasi, maka harus ada paradigma dan standar yang sama, dan saya mengajukan multiple achievement sebagai solusinya. Adapun persoalan inti Masisir, ada dalam diri para individu Masisir, yaitu pada cara mereka dalam merespon tantangan —ada yang tidak siap, ada yang setengah hati, dan ada yang siap. Oleh sebab itu, solusinya, juga ada dalam diri, yaitu membangun kesadaran diri mereka melalui 10 kiat di atas. Inilah yang saya sebut dengan strategi perubahan dari dalam diri [inner-out].
Dua saran saya adalah (1) agar tulisan ini menjadi data dasar bagi melakukan penelitian ilmiah terhadap Masisir; dan (2) semoga tulisan ini bahan pertimbangan dan renungan bagi Masisir bahwa yang bermasalah adalah Masisir, yang tahu akar masalahnya juga Masisir, maka yang tahu solusinyajuga Masisir. Lalu, mengapa tidak Masisir bersinergi menyelesaikan masalah Masisir bersama? Wallâhu a’lâmu bish shawâb.
“Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih. Aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari takut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”