"Assalamu'alaikum", ujar suara laki-laki di ujung telpon, "Mang Udo, ana Arif nih. Gini Mang, insya Allah, besok Mbak Asma datang ke Cairo!"
"Oh ya", tanggapku dengan kaget setelah menjawab salamnya, "dengan siapa dan dalam rangka apa Rif?"
"Wah, ana enggak tahu juga sih, yang jelas ada kok e-mail Mbak Asma di milis FLP Pusat!"
"Trus, gimana Rif, ada pertemuan enggak sama FLP Mesir?"
"Itu dia Mang, ana minta pendapat Mang Udo, ana udah SMS Mbak Asma Nadia, dan beliau pengen ketemu sama kita, kira-kira format acaranya gimana ya?"
"Ya, itu tergantung sama seberapa banyak waktu Mbak Asma untuk kita, paling gini Rif, cari info dulu tentang acara beliau di Cairo. Trus, kalau udah datang, tinggal antum bicarakan saja sama beliau, oke?"
"Yup mang, makasih ya atas waktunya. Wassalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wa Barakatuh!"
Itulah percakapanku sebagai Majlis Penulis FLP Mesir dengan Arif Friyadi sebagai Ketua Umum FLP Mesir, dua hari yang lalu. Hampir setiap ada acara FLP Mesir, Arif meminta pendapatku. Apalagi menyangkut acara-acara penting dan melibatkan orang luar.
Aku langsung mengecek e-mail. Di milis FLP Pusat, Mbak Asma memposting e-mail dengan subject: "ke Mesir (FLP Mesir?)". Setelah membaca e-mail itu, aku baru tahu bahwa Mbak Asma ke Cairo menghadiri Konferensi Internasional tentang Palestina. Beliau datang bersama Teh Yoyoh Yusroh dan rombongan LSM Adara.Di milis FLP Mesir, Arif menulis e-mail dengan subject: "Mbak Asma Nadya, mau ke Mesir sore ini". Sedangkan di MP temanku, Ardiansyah, dalam Calender tertulis: "Konferensi Internasional Melawan Imperialisme Amerika-Zionis. Di sana termuat data berikut ini:
| Start: | Mar 27, '08 8:00p |
| End: | Mar 30, '08 9:00p |
| Location: | Niqabah Shahafiyyin (Asosiasi Wartawan), Tahrir, Cairo-Egypt |
Materi-materi penting konferensi:
- Boikot Akademis Yahudi
- Membaca ulang Sejarah Palestina
- Hakekat Permusuhan Zionis Israel
- Front Pembebasan Palestina, Konstelasi Terakhir Perkembangan Palestina
- Wanita Palestina Melawan Embargo
- Strategi Konfrontasi Melawan Zionis Yahudi
Alhamdulillah Indonesia mendapat kehormatan sebagai undangan dalam acara konferensi. Utusan yang menjadi duta-duta Indonesia pada acara ini diantaranya adalah Ustadzah Yoyoh Yusroh, Mbak Asma Nadia.
Tadi malam, Arif nelpon lagi. Memintaku hadir pada acara "Silaturahmi Pengurus FLP Wilayah Mesir Periode 2008-2010 Bersama Mbak Asma Nadia" di ruang PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Mesir) Wisma Nusantara Rabe'ah Al-Adaweyah. Aku belum bisa memberi jawaban pasti, sebelum musyawarah dulu dengan isteriku. Sebab, rencananya, kami sekeluarga mau silaturahmi ke rumah saudara isteriku --di Darmalak-- yang mau pulang ke Indonesia tanggal 2 April 2008.
Ditambah, setelah maraton dengan berbagai agenda --Talk Show dan Lima Hari Lima Malam menjadi instruktur Leadership Intemediate Training (LIT) Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (Pwk PII) Mesir, pemateri Pelatihan Jurnalistik di KPJ (Keluarga Pelajar Jakarta), trainer pada acara Manajemen Diri DPD-PPMI Propinsi Zagaziq, perpanjangan visi di Manshurah-- juga persiapan mengisi acara Peresmian Lembaga Riset dan Kursus Pemandu Pwk PII Mesir, membimbing riset ke Masisir, dan Pelatihan Jurnalistik KMKM (Keluarga Mahasiswa Kalimantan Mesir).
Belum lagi, target bulan ini aku harus menyelesaikan naskah buku saya, mengedit Jurnal HIMMAH DPP-PPMI, mengedit tulisan members LIT untuk buku Warna-Warni PII, membuat proposal Riset Sosial tentang Pengaruh Tokoh Mahasiswa terhadap dinamika Masisir, surat dan proposal pengumpulan tulisan untuk buku kado seorang diplomat KBRI Mesir yang mau pulang belum saya sebarkan semua, publikasi Lomba Kisah Nyata Eska Mesir belum merata, ingin ikut lomba nulis esai Mbak Helvy, tulisan serial pendidikan anak untuk milis sekolah kehidupan belum aku lanjutkan, dan masih banyak tugas lain yang harus segera aku selesaikan satu persatu.
Ah, bila mengingat semua target-target tersebut, sebenarnya, aku sulit untuk keluar rumah, apalagi semuanya deadlinenya 1 April 2008. Namun, aku sangat ingin bertemu dengan Mbak Asma. Aku butuh motivasi dari beliau untuk istiqomah menulis. Paling tidak, aku ingin mendengarkan informasi beliau tentang dunia kepenulisan dan perbukuan di Indonesia. Alhamdulillah, setelah aku obrolkan dengan isteri, aku boleh menghadiri acara FLP Mesir.
Tadi pagi, aku bersama anak tertuaku, Abdurrahman Vira Al-Fatih, ke Wisma Nusantara. Seperti saat jumpa pertama kali, lima tahun yang lalu (2003), Mbak Asma langsung menyapa akrab. Aku merasakan, kehangatan dan kedekatan Mbak Asma, bagaikan seorang adik-kakak yang sudah lama tidak berjumpa. Tidak ada jarak antara kami.
Sebelum acara di PMIK, aku bersama sebagian teman-teman FLP Mesir, bincang-bincang bersama Mbak Asma di ruang tamu hotel Wisma Nusantara.
Berapa menit kemudian, obrolan kami pindah ke lantai empat. Di ruang PMIK itulah, FLP Mesir bersama Mbak Asma, ngobrol santai. Banyak hal yang Mbak Asma sampaikan, mulai dari perkembangan perbukuan di Indonesia, masalah kiat menulis, tentang FLP, dan saran-saran beliau terhadap FLP Mesir.
Ada satu saran yang paling menarik bagiku, Mbak Asma menyarankan sistim kaderisasi FLP Mesir melalui kelompok kecil; halaqoh; limited group. Ide ini, sebenarnya, aku sudah tawarkan empat tahun yang lalu kepada pengurus FLP Mesir, tepatnya pada periode Indra Gunawan dan Teguh Hudaya. Namun, belum mereka laksanakan, wallahu a'lam, apa yang menjadi kendalanya.
Bahkan, ketika Musywil dan terpilihnya Arif Friyadi, aku sampaikan kembali, agar membagi-bagi anggota FLP ke kelompok kecil, misalnya ada kelompok penulis cerpen, kelompok penulis novel, kelompok penulis buku keislaman, kelompok penulis pengembangan diri, kelompok penerjemah buku, dan seterusnya. Setiap kelompok di bimbing oleh satu senior yang memang ahli di bidangnya, misal yang ahli nulis cerpen membimbing kelompok cerpen, dan seterusnya.
Bila hal itu terlaksana, selain meningkatkan kualitas --karena instensitas karya anggota dibengkel dan pertemuan juga lebih banyak-- juga akan meningkat kuantitas. Selama ini, hanya satu pertemuan seminggu sekali untuk semua anggota, sehingga perputaran bengkel karya anggota sangat lamban dan kontrol terhadap perkembangan karya anggota kurang begitu terperhatikan.
Selesai pertemuan itu, aku perhatikan para pengurus dan anggota FLP begitu bersemangat untuk berkarya. Dan auranya, juga terasa dalam hatiku, sehingga aku pun muncul semangat baru untuk terus berkarya mengikuti dan melanjutkan langkah Mbak Asma. Paling tidak, jika selama ini limited group itu belum berjalan, maka aku harus back to FLP Mesir, untuk lebih sungguh-sungguh mengkader mujahid pena. Selama ini konsentrasiku terpecah oleh berbagai organisasi yang aku bina.
Sebelum pulang, aku masih bersama Mbak Asma. Kami ngobrol di ruang tamu hotel. Sambil menunggu, teman yang menjemput Mbak Asma ke tempat konferensi, aku membantu Mbak Asma menyusun foto copyan cerpen beliau yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Rencananya, mau dibagikan untuk perserta konferensi.
Aku dan anakku pulang bersama Arif. Selama di mini bus, kami ngobrol beberapa follow up dari pertemuan dengan Mbak Asma. Terutama tentang kaderisasi FLP Mesir. Aku menyatakan kesediaannya untuk all out menjadi salah seorang yang akan membimbing kelompok-kelompok kecil. Terbayang dibenakku, untuk membuat modul, perangkat, dan metodologi kaderisasi tersebut. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan. Amin
Sesampai di rumah, isteriku berkata, "Buya, tadi ada beberapa telpon nyari buya, diantaranya dari Trobosan dan Rumah Budaya!"
"Trus, ada apa?"
"Kalau Trobosan nanya tentang buya sebagai koordinator tim penyusun buku kado diplomat, sedangkan Rumah Budaya, meminta jadi pemateri!"
Mendengar laporan isteri itu, aku tersenyum. Baru saja aku berniat untuk all out di FLP, sudah ada tawaran mengisi acara. Padahal, dalam minggu ini, setidaknya ada lima tawaran jadi pemateri aku tolak, sebab bentrok dengan jadwal yang sudah lebih dahulu aku sanggupi. Dalam hatiku berkata, "Enak ya, kalau tubuhku bisa dibagi-bagi, maka akan aku penuhi semua permintaan mereka!" Sambil bercengkrama dengan kedua anakku, pikiranku untuk back to FLP terus berkecamuk di benakku. Seandainya ada 5 halaqoh dan masing-masing beranggotakan 10 orang, berarti ada 50 orang calon penulis handal. Nah, jika dengan satu mantan FLP Mesir, Habiburrahman El-Shirazy, Indonesia, bahkan Asia, geger dengan Ayat-ayat Cinta, apa yang terjadi jika ada 50 orang yang menulis sekualitas Kang Abik?!
* * *
NB:
Makasih ya Mbak Asma, atas hadiah buku dan pin untuk isteri udo.