Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Blog Entry(Serial Anak Pahlawan 5): Taqwa dan DisiplinApr 24, '08 5:22 AM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Majdi

Baik, mari kita lanjutkan diskusi kita. Dalam obrolan kita sebelumnya http://udoyamin.multiply.com/journal/item/73 saya mengajukan pertanyaan ini: 1) mengapa setelah Allah menegur kita supaya khawatir memiliki keturunan lemah dan tidak sejahtera, tiba-tiba Dia berpesan dengan taqwa dan berkata benar?; 2) apa hubungan antara taqwa dan berkata benar dengan disiplin dan komunikasi? Saat ini kita hanya akan menjawab pertayaan pertama, dan kita fokuskan pada tema taqwa dan disiplin.

Sebelum kita melangkah lebih lanjut, alangkah baik kita bicarakan dulu makna taqwa. Taqwa, secara sederhana, definisi --menurut jumhur ulama-- adalah imtitsalu awamirillah wa ijtinabu nawahihi (melaksanakan beberapa perintah Allah dan menjauhi semua larangannya). Dengan kata lain, taqwa adalah ta'at pada syari'at (aturan) Allah Swt..

Pembahasan tentang taqwa, baik dalam Al-Quran maupun hadis, sangat panjang. Hanya saja, kita ingin melihat taqwa ini dalam tiga hal: (1) taqwa sebagai barometer kemuliaan seseorang; (2) taqwa jalan memperoleh ilmu; dan (3) taqwa sebagai solusi sekaligus cara mengundang rizki-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, standar kemuliaan terukur dari empat hal: (1) tingkat ekonomi; orang kaya dianggap lebih mulia dibandingkan orang miskin; (2) jenjang pendidikan; tamatan S3 akan lebih dihormati dibandingkan tamatan SLTP; (3) status sosial; keturunan kiyai atau tokoh akan lebih dihargai dibandingkan dari keluarga biasa.

Namun tiga hal itu, tidak ada artinya, manakala tidak dibingkai dengan keta'atan kepada Allah Swt.. Apa artinya, orang kaya, jika kekayaannya bukan untuk membantu orang miskin, melainkan menjadi kelas borjuis atau kapitalis yang menghisap darah rakyat? Apa gunanya gelar doktor, kalau toh,  bukan tambah takut kepada Allah (khosyiyatullah), malahan semakin berani menggugat bahwa Islam bukan satu-satunya agama yang benar, Nabi Muhammad Saw bukan nabi terakhir, Al-Quran tidak relevan lagi dengan zaman, dan seterusnya? Apa maknanya keturunan kiyai atau tokoh, kalau hanya numpang nama, namun tidak memiliki sesuatu yang bisa ia banggakan?

Oleh sebab itu, Allah Swt memberitahu kita bahwa parameter mulia atau tidaknya seseorang adalah taqwa. Ini termaktub dalam Al-Quran: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujaraat [49]:13). Dengan taqwa, orang miskin akan disegani. Dengan taqwa, orang yang tidak punya gelar, akan dihargai. Dengan taqwa, orang biasa, akan dihormati.

Selanjutnya, taqwa sebagai jalan memperoleh ilmu. Kalau kita membaca siroh nabi dan kehidupan para sahabatnya, maka kita akan menemukan kebiasaan mengamalkan ilmu, bukan mengumpulkan ilmu. Mereka tidak mau menambah hapalan Al-Quran lebih dari 10 ayat, sebelum mereka mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ilmu yang sedikit, tapi langsung diamalkan itu, lahirlah generasi unik, cerdas, dan menakjubkan.

Mengapa hal itu terjadi? Sebab, yang mengajari mereka, bukan hanya manusia, tapi Pencipta manusia. Ini ditegaskan oleh Allah Swt: "Dan bertaqwalah kepada Allah; maka Allah akan mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 282) Bahkan dalam sebuah hadis, nabi Muhammad Saw menegaskan bahwa man 'amila ma 'alima, warotsahullah ma lam ya'lam (Barang siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui). Subhanallah, adakah guru yang lebih baik dibandingkan Allah Swt?!

Adapun taqwa sebagai solusi sekaligus cara mendapat rizki, ditegaskan oleh Allah Swt, dalam ayat ini: "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya". (QS. Ath-Thalaq [65]:2) Dalam ayat 4, Allah berfirman: "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya".

Betapa banyaknya, orang yang dihadapkan dengan persoalan hidup, namun tiba-tiba menemukan solusi setelah melaksanakan sholat dua raka'at (sebagai manifestasi taqwa) meminta kepada Allah Swt., agar diberi jalan keluar. Mungkin Anda pernah mengalaminya?

Itu sekilas tentang taqwa. Sekarang mari kita memasuki pembahasan disiplin. Menurut saya, antara taqwa dan disiplin bermakna sama: sama-sama ta'at aturannya. Hanya perbedaannya, kalau taqwa aturan itu datang dari Allah, sedangkan disiplin datang dari manusia.

Sedikit kita selami kata "disiplin". Kata ini serapan dari bahasa Inggris, akar katanya disciple. Lebih jauhnya lagi, kata disciple sendiri berasal kata discipulus dalam bahasa Latin. Kedua kata —disciple dan discipulus— itu, bermakna sama, yaitu murid; pengikut. Kata murid itu sendiri, masih kata serapan asing, dari bahasa Arab, artinya: orang yang punya keinginan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin memiliki 3 arti: (1) tata tertib; (2) keta'atan (kepatuhan) kepada aturan (tata tertib); dan (3) bidang studi yang memiliki objek, sistem, dan metode tertentu. Jadi, disiplin adalah mengarahkan keinginan kita agar sesuai aturan.

Bila kita bertaqwa sekaligus disiplin, maka telinga kita tidak liar; mata kita tidak liar; pikiran kita tidak liar; hati kita tidak liar; mulut kita tidak liar; kaki kita tidak liar; dan seterusnya. Semuanya terfokus pada satu titik, yaitu Allah Swt.. Ini bukti bahwa kita mencintai Allah sekaligus mencintai diri kita sendiri. Maka Allah pun akan mengungkapkan cinta: "(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janjinya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran [3]: 76)

Lantas, apa yang terjadi jika Allah telah mencintai seseorang? Apakah mungkin Allah akan membiarkan dalam keadaan lemah --lemah ekonomi, lemah ilmu, dan lemah keturunan? Apakah Allah akan tega menyaksikan hamba yang Dia cintai bergelimangan dalam kekurangan? Tentu saja tidak!

Dari pamaran singkat saya itu, dapat kita fahami, mengapa sebelum Allah meletakkan taqwa setelah khawatir memiliki keturunan lemah dan tidak sejahtera, sebab --seolah-olah-- Allah ingin mengatakan bahwa tingkat mungkin orang yang ta'at aturan-Nya (taqwa) dan ta'at aturan manusia (disiplin) akan lemah dan tidak sejahtera. Suatu hal yang mustahil orang bertaqwa --yang mulia di sisi Allah, dapat pengajaran Allah langsung, dan selalu diberi solusi-- bisa lemah dan tidak sejahtera? Kalau sampai saat ini kita masih lemah dan tidak sejahtera, itu bukan salah Allah, tapi salahkan diri, sebab belum taqwa dan disiplin dalam hidup ini!

Oleh sebab itu, dalam kontek tema utama kita --pendidikan anak-- sebaiknya, sebelum mengajarkan sesuatu kepada anak kita, maka mari kita ajarkan makna taqwa dan disiplin kepada anak kita sedini mungkin. Bagaimana caranya? Insya Allah, dalam tulisan-tulisan saya berikutnya, akan kita bahas bersama.

faridrifai wrote on Apr 24
meskipun belum punya istri, apalagi anak, tapi ilmu pendidikan anak perlu bang udo...jzklh
udoyamin wrote on Apr 25
meskipun belum punya istri, apalagi anak, tapi ilmu pendidikan anak perlu bang udo...jzklh
sip, farid, ini hanya sebatas cara udo berbagi kepada siapa saja
malwapati wrote on Apr 25
taqwa dan disiplin,bagaimana menurut udo,menyikapi tentang minat dan kecenderungan diri seorang anak? terima kasih sebelumnya..!
udoyamin wrote on Apr 27
taqwa dan disiplin,bagaimana menurut udo,menyikapi tentang minat dan kecenderungan diri seorang anak? terima kasih sebelumnya..!
disiplin bukan berarti tidak menerima minat dan kencenderungan anak, justru setiap ortu harus faham betul apa minat dan kecenderungan anak, lalu mendkung anaknya berdisiplin untuk meraih apa yg mereka inginkan
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help