Sepulang dari Wisma Nusantara —mengantar Mas Imam Tantowi; penulis skenario film "Ketika Cinta Bertasbih" [KCB] dan Ustadz Abu Ridlo, konsultan keagamaan film KCB ke super market TAWHID wa NUR dan GANENA— aku mampir ke Restoran SEHATI. Di restoran milik Perwakilan Persatuan Islam (Persis) Mesir ini, ada Teguh dan Pian sedang jaga.
"Do makan", kata Teguh, "sayur Sabanakh banyak tuh, kalau malam ini gak habis, besok basi!"
Mendengar nama sayuran kesukaanku; Sabanakh (Bayam Mesir), perutku yang dari tadi sore keroncongan, langsung bereaksi. Namun aku tahan. Dengan halus tawaran itu aku tolak, "Enggak ah, masih kenyang!"
Sambil nonton tv, aku temani Teguh dan Pian. Di sela-sela menunggu pembeli datang, kami ngobrol berbagai hal. Aku ceritakan rencana pembuatan film KCB di Mesir. Berdasarkan obrolan dengan Mas Imam Tantowi di Wisma Nusantara, insya Allah, besar kemungkinan film KCB yang ber-setting Mesir, bisa shooting di Mesir. Meskipun memang mahal. Semuanya harus bayar. Sebab, shooting di tengah jalan atau tempat umum lainnya, kalau di Indonesia gratis, di Mesir harus bayar mahal, apalagi di tempat-tempat wisata.
"Do, makan yuk, ntar mau tutup, sedangkan sayur banyak dan tidak boleh ada sisa!" ajak Pian yang membawa sepiring nasi, lalu duduk di sebelah kananku.
"Silahkan!" jawabku.
"Gratis lho!"
Aku tersenyum. Bukan masalah bayar atau tidak, sebab ada uang dalam saku bajuku. Bukan masalah lapar atau tidak, karena dari tadi siang aku belum makan. Bukan pula enak atau tidaknya menu makanan, sebab aku tahu makanan itu kesukaanku. Bukan malu atau tidak, karena Teguh dan Pian adik kelasku selama di pesantren, ditambah aku salah seorang perintis mendirikan Restoran SEHATI itu. Tapi...,
"Udo mah, gak mau makan, tanpa teh Ami ya?" celetuk Teguh, mahasiswa Al-Azhar asal Sukabumi.
Lagi-lagi aku tersenyum. Mendengar perkataan mantan Ketua FLP Mesir yang sekarang menjadi direktur sekaligus koki handalan Restoran SEHATI itu, aku teringat dengan salah satu perubahan dalam hidupku setelah menikah. Iya, dulu sebelum nikah, aku tidak pernah menolak jika diajak makan. Namun sejak aku menikah, aku sering menolak makan di luar. Biasanya, apabila aku selesai mengisi sebuah acara mahasiswa Indonesia Mesir, panitia akan menawarkan makan. Namun, berbagai alasan, aku menolak. Bila aku kenal dekat dengan panitia, maka dengan rada sungkan, aku meminta panitia membungkus makanan itu agar aku bawa pulang. Namun rata-rata, panitia faham, dan berkata, "Kalau begitu, kita bungkus aja ya, sekaligus untuk keluarga Udo!"
"Oh boleh!" sahutku dengan malu-malu. Sebenarnya, aku tidak perlu malu, sebab itu memang hakku setelah meluangkan waktu untuk mereka. Mengisi acara di Mesir sangat beda dengan di Indonesia. Di Mesir, para pemateri, sebanyak apapun waktu yang mereka keluarkan, hanya mendapatkan piagam, makan, dan ucapan terima kasih. Beda dengan di Indonesia, aku dengar, ada amplopnya. Tentu saja, kondisi di Mesir ini, sangat mendukung keikhlasan para pemateri bahwa mereka mengisi acara bukan untuk amplop, tapi benar-benar ingin berbagi dan sebagai bekal untuk menjumpai Allah di surga.
"Sekali-kali makan di luar dong!" rayu Teguh kembali.
"Syukron, suatu saat nanti, kalau antum udah menikah, maka akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini!"
"Perasaan apaan tuh Do?"
"Perasaan ada cinta dalam nasi!"
Teguh tertawa. Mungkin ia tidak percaya, seperti aku dulu menertawakan akan ada cinta di segelas juz mangga. Empat atau lima tahun yang lalu, aku membaca sebuah buku. Aku lupa lagi judul buku itu. Yang jelas, kisahnya, masih melekat dalam otakku.
Ceritanya begini: dalam sebuah acara di Iskandariyah, ustadz Umar Tilmisani diundang ifthor (buka puasa) Ramadlan. Para ikhwah, menghidangkan segelas juz mangga. Tiba-tiba, wajah sang mursyid gerakan Ikhwan al-Muslimin (IM) tersebut langsung berubah pucat. Saat adzan berkumandang, beliau sama sekali tidak menyentuh minuman itu, bahkan ketika ditawarkan ia menolak. Para ikhwah penasaran dan bertanya, "Wahai ustadz, apakah antum alergi minum juz mangga?"
Sambil tersenyum, beliau menjawab, "Ah enggak juga!"
Seusai ifthor, ada ikhwah yang masih ingin menguak rahasia penolakan Ustadz Tilmisani terhadap juz mangga. Beliau menolak untuk menjelaskannya. Namun, setelah terus didesak, beliaupun bercerita,
"Begini, dulu, terkadang saya pulang kerja agak terlambat, dan isteri saya dengan setia menanti. Biasanya, saya membawa juz mangga dan kami minum bersama-sama. Setelah isteri saya meninggal, saya tidak bisa minum juz mangga tanpa dia. Saya senantiasa berdo'a kepada Allah, agar mempertemukan kami di surga dan minum juz bersama dari buah-buahan yang ada di surga!"
Saat membaca cerita itu, aku anggap itu hanya ada dalam novel atau film romantis. Namun, setelah tiga tahun lebih aku berumah tangga, ternyata aku merasakan apa yang dirasakan oleh Al-Ustadz Umar Tilmisani itu.
Suatu ketika aku mengisi acara sarasehan budaya di sebuah organisasi pegiat sastra di Mesir. Usai acara, panitia mengajakku bincang-bincang di kamar sebentar. Ternyata, sambil ngobrol santai, mereka menghidangkan makan malam. Aku tidak bisa menghindar. Aku makan. Akan tetapi, baru beberapa suap, aku teringat isteriku. Seluruh kenikmatan nasi mutiara dan daging ayam dalam piring di depanku hilang. Aku hampir menangis. Aku tidak melanjutkan makananku. Para panitia merasa aneh.
Mengapa aku ingin menangis? Sebab, di rumah, aku tahu isteriku belum makan. Di rumah, tidak ada beras walaupun sebutir. Kami benar-benar lagi tidak punya uang. Mau minjam ke tetangga malu. Minhah (beasiswa) turun, tiga hari lagi. Maka kami putuskan, selama tiga hari itu, kami hanya minum dan makan roti.
Nah, sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi makan di luar rumah, kecuali bersama isteriku. Aku baru sadar, tatkala aku tidak bisa memberikan sesuatu kepada isteriku, maka merasakan penderitaannya; tidak bisa berbahagia di atas penderitaannya, dan merasa senasib, adalah salah satu bentuk dari cinta. Atau, inikah yang disebut setia?
* * *
Sepuluh menit Restoran SEHATI tutup. Aku pulang ke rumah, yang tidak jauh dari restoran itu. Sesampai di rumah, isteriku sedang membaca muqarar (diktat kuliah). Kedua anakku, Fatih dan Fathin sudah tidur.
"Bunda, udah makan, belum?" tanyaku.
Isteriku berhenti membaca, lalu mendekati meja makanan dan berkata, "Belum. Lapar sih dari tadi, tapi bunda nunggu buya, agar makan barengan!"
Deghhh... ada gemuruh dalam hatiku. Aku terharu. Apa jadinya, jika aku tadi makan di Sehati? Isteriku saja rela menahan lapar demi aku, lalu mengapa aku tidak bisa? Apakah yang membuat isteriku mau menungguku?
Satu persatu peralatan makan: piring, sendok, nasi, dan sayur, isteriku letakkan di depanku. Dengan duduk bersila di atas karpet, kami makan sepiring berdua. Tiba-tiba, aku lihat isi piring itu, bukan lagi nasi dan sayuran, tapi di sana ada cinta berkilauan seperti yang terjadi dalam etalase hatiku. Tumpukan nasi putih itu bagaikan cahaya di atas cahaya. Aroma dalam makanan itu seperti cinta di atas cinta.
* * *
Tulisan ini aku rangkai, setelah beberapa menit aku makan bersama kekasihku: Ami Rahmawati Muslimah.
"Be hubbik, ya habibaty [I Love You, My Honey]..., semoga kisah cinta kita di Negeri Anbiya ini, bisa menjadi cerita dan warisan untuk anak cucu kita nanti".
 | :) it is so nice:) semoga bahagia selalu teriringi:) |
 | solekha wrote on Apr 29, edited on Apr 29 Amin ya Robbal Alamin,,Semuga bahagia selalu buat kang udo dan de ami,,, Romantis banget,,heheh
kapan ya punya suami seprti itu,,hiihih |
 | ada sebutir nasi diluasnya cinta....... |
 | Semoga tambah Sakinah mawaddah warahmah... |
 | subhanalloh... indah sekali.. *jadi tersindir kalo makan gak pernah nungguin suami:( |
 | wah jadi terlintas pikiran untuk menikah :D |
Comment deleted at the request of the author.
 | jangan pernah menunggu, tapi coba sambut dan jalani, truslah berjalan, insya Allah, di tengah jalan akan menemukan banyak jalan  Amin,,mudah2an,,juga mohon do'anya dr kang udo,,, |
 | alhamdulliah,bisa menikmati nasi cinta.berbahagialah kalian sekelurga. |
 | tulisannya bagus ... romantis |
 | Romantis dan indah sekali hubungan Udo & Ami. |
 | menyentuh, do... bikin saya introspeksi diri. Hatur Nuhun, Jazakallaah.. |
 | subhanalloh.. indah banget kehidupan rumah tangganya so sweet, ini dia cinta yang dilandasi keimanan kepada Sang Pemilik Cinta jadinya walaupun sudah punya anak berapa? dua? masih tetep romantis uhhuy.... jadi punya bahan buat nanti kalo udah nikah nih, cieeeeeeee
|
 | duh, kalo tulisan bagus gini mah, penerbit mana aja pasti rebutan. hehhehe ... soal mengjara nulis, saya hanya bersedia yang dari nol/ kalo yg dah matang gini mah, ampyunnn dah ...  hehe bisaan aja akang mujamalah, padahal blum ke Mesir, apalagi kalo dah ke Mesir..., justru saat ini udo merasakan lagi nol, bahkan udo ikutan SMO (sekolah menulis online) sama Bang Jonru, makanya agar lengkap, udo talaqqi (bimbingan) nulis sama akang. bisa kan kang? kudu... |
 | ada cinta di halaman MP-mu ini udo... TFS, jadi inget istri yg selalu setia nunggu berjam2 untuk makan malam bersama di rumah.. |
 | kereeennn..
kapan2 boleh copas pengalamannya udo?.
salam kenal rinalda untuk teh ami ya.
baarokallohufiykum.. |
 | wow kang udo.. saya jadi jatuh cinta membaca ini.. ada cinta di piring yang setia menunggu.. senengnya makan berdua.. indah ya kalu kaya gini arti berkeluarga itu.. asli sirik nih sama udo dan istri.. alhamdulillah banget deh membacanya.. btw, anak2 sendiri yang sudah tidur sudah kenyang kan? tidak menunggu ayahnya pulang? jadi kang udo lain kali jangan pulang malam2, kasian istri loh.. |
 | Setting nya mesir bgt; toserba tawheed we nour,Genena mall,wisnu,sehati. Plot nya masisir bgt; nungguin minhah,sepiring bdua,ikhlas jd pembicara sukarela,b'sahaja jd ketua maupun koki,xixi.. Deskripsi,narasinya beraroma surga;) *mesq gy tulisan qt beda,tp ttp aq bs nikmatin baca (kykna ini ya yg bkin pointq b'kurang dmata juri:p) -peace guru,peace:D met ujian,doakan saia ya..Mg qt sama2 najah,amin! |
 | Subhanallah, romantis sekali :). |
 | romantisnya....tulisannya bagus banget, ngalir.... salam kenal dari Aceh! n_n |
 | Subhanallah, Udo... Semoga Allah mencatat semua ini Amien |
 | Hmmm, jadi malu neh mw comment afa ya........[:-?]
Yang penting doanya Udo, moga selalu, selalu dan selalu begitu. Dalam bingkai kasih sayang, dalam bingkai kebersamaan dan dalam bigkai kesetiaan. |
 | Subhanallah.. Makasih untuk renungannya yang menggugah rasa.. |
 | subhannallah,tulisan yg wajib direnungkan untuk kita sebagai suami isteri,sampe terharu udo:)))suamiku bisa nggak seperti udo ya. |
 | Setting nya mesir bgt; toserba tawheed we nour,Genena mall,wisnu,sehati. Plot nya masisir bgt; nungguin minhah,sepiring bdua,ikhlas jd pembicara sukarela,b'sahaja jd ketua maupun koki,xixi.. Deskripsi,narasinya beraroma surga;) *mesq gy tulisan qt beda,tp ttp aq bs nikmatin baca (kykna ini ya yg bkin pointq b'kurang dmata juri:p) -peace guru,peace:D met ujian,doakan saia ya..Mg qt sama2 najah,amin!  ahlaaan ya ukhty, udo bangga banget lho, melihat ukhty main biola ketika peresmian Rumah Budaya, jarang lho yg bisa memainkan alat seni, apalagi biola. udo berharap, mudah2an bisa menjadikan hobbi dan keahlian di bidang seni, sebagai sarana dakwah. bisa gak, isteri udo kursus main biola atau main gitar? biar nanti isteri udo bisa ngajar, anak2 kami |
 | :) luar biasanya cinta... |
 | subhanallah smoga kelak saya mendapatkan suami seperti kang udo.... |
 | subhanallah, keren euy tulisannya, menyentuh speechless bacanya
tfs udo, salam buat ami :) |
 | Itulah ya Do perbedaan sudah menikah atau belum,itupun aku alami disini,maksudku suami.. Setiap suami makan diluar dg prof / kawannya slalu ingat kita dirumah,karna buat menebus rasa bersalah itu sepulangnya suami dari kampus cerita dan ngajak kita juga makan diluar,indahnya suatu Ikatan rumah tangga.. |
 | Subhanallah....Indah sekali....moga Udo tambah langgeng sampai disyurga nanti Amiiin.... |
 | Allahu Yubarik fikum Bang Udo, gerimis hati membacanya. |
 | Jadi terharu bacanya, jadi malu kalo makan gak suka nungguin suami, trims udo..memberi saya inspirasi tuk lebih mencintai suamiku. |
 | subhanallah... smoga kelak saay tiba pada waktunya saya pun bisa mengalami kisah indah seperti ini.. suatu hubungan yang penuh dengan penghormatan dan kasih sayang |
 | Subhanallaaah... indaaaah.... |
 | Subhanallah.... membacanya bikin hati bergetar.... tnx for sharing... |
 | so sweet...so beautiful..very nice, indeed... |
| |