Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Blog EntryKata Kang Abik: 'Likulli ro'sin, ro'yun'Apr 29, '08 11:49 PM
for everyone
Aku bersama isteri dan kedua anakku menunggu bus di mahattoh (halte) Darmalak. Kami agak jauh dari bangku. Bus jurusan Nasr City, belum juga datang. Karena kakiku pegal berdiri, aku  dekati bangku halte. Di sana, ada orang Mesir sedang duduk. Bajunya compang-camping. Celananya sangat kotor. Kulitnya penuh daki. Rambutnya acak-acakan. Setelah agak dekat, aku dengar ia bicara seorang diri. Tak berapa lama ia tertawa. Aku kembali mendekati isteriku.

"Buya, kok gak jadi duduk?" tanya isteriku.
"Enggak ah, ternyata yang duduk itu orang gila!"
"Pantesan, orang-orang pada berdiri, tidak mau duduk sama orang gila!"
"Ih bunda, gak boleh gitu sama orang gila, tahu enggak, apa yang buya pikirkan?
"Emang buya mikirin apa?"
"Enggak ah, enggak jadi!"

Aku tertawa sendiri. Sebab, aku membayangkan orang gila itu bicara denganku dan orang yang berdiri di sekitar halte: "Aneh, apa kalian gila ya, kursi pada kosong kok malah kalian berdiri gitu? Dasar orang-orang gila, disediain kursi, malah capek-capek berdiri"

Huahahaaaa...., jadi yang gila itu siapa? Orang yang duduk di kursi, atau kami yang berdiri?

*   *   *

Dalam dua hari ini, dalam inbox e-mailku, ada beberapa e-mail mengangkat kembali novel dan film Ayat-Ayat Cinta. Dalam milis Apresiasi Sastra itu, Hudan Hidayat, menulis e-mail bersubject: ayat-ayat ("politik") cinta. Ini isi e-mailnya:

dulu sinetron siti nurbaya menghebohkan masyarakat, tapi apa kenyataannya terhadap daya baca masyarakat - buku siti nurbaya itu sendiri? nihil: sastra tetap saja menjadi medan yang terpencil.

saya menduga ayat-ayat cinta digerakkan oleh gerakan yang bukan dalam spirit "gemar membaca", tapi dalam bingkai politik. lebih tepatnya: politik pada suatu nilai tertentu yang bersesuaian atas novel itu.

kalau benar demikian, maka jangan bersenang hati dulu, karena cobalah buat survey siapa pembaca novel ayat-ayat cinta, dan darimana datangnya kegemaran membaca yang seolah jatuh dari langit itu.

dugaan saya ini dikuatkan oleh kenyataan: kok tiba-tibanya petinggi negeri ini seolah gemar benar menonton film - film ayat-ayat cinta. lalu kemana mereka selama ini?

tapi ayat-ayat cinta ini diberi anugerah oleh pusat bahasa sebagai novel yang berhasil menggugah daya baca masyarakat.

tapi kalau dugaan saya itu benar, maka persoalan yang tersisa adalah: berhentilah mempolitikkan segala sesuatu, demi tujuan politik yang entah untuk apa itu.

sebab lawan kita dalam konteks global, bukanlah dunia seolah-olah, tapi dunia riel dimana kerjasama dan kompetisi demikian amat kerasnya. dunia seolah-olah itu pada saatnya nanti akan menenggelamkan kita dalam kubangan yang mungkin membuat kita sukar bangkit lagi.

tapi saya menghargai takdir penulis dan pembuat film ayat-ayat cinta. itu namanya rejeki nomplok.

tapi sampai kapan kreator di negeri yang gemah ripah loh jenawi ini bisa bangkit atas kakinya sendiri? dimana segala sesuatu berjalan apa adanya tanpa harus direkayasa. tanpa harus seolah tebak-tebak buah manggis: rejeki nomplok.

tapi kalau dugaan saya salah mohon dimaafkan. tapi rasa-rasanya benar sih.
aih.

(hudan Hidayat)

Lalu, hari ini, di milis lingkar_pena_ciputat, ada e-mail Arief Mahmudi, dengan subjek ini: KECAMAN UNTUK FLP DI KAMPUS UIN JAKARTA

Ini potongan e-mailnya:

Sahabat milis yang baik,
Selasa kemarin (29/4), di sela-sela acara Bedah Novel Kalam Cinta dari Tuhan yang berlangsung di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terjadi sebuah peristiwa yang—menurut hemat penulis—menarik untuk kita diskusikan dalam forum yang mulia ini.

Adalah Eddy A. Effendi, salah seorang pembicara dalam acara bedah novel tersebut, yang mengemukakan kritik (baca: kecaman) terhadap eksistensi Forum Lingkar Pena (FLP). Ia mengecam (walau secara tak langsung) karya-karya yang dilahirkan dari para penulis FLP sebagai karya-karya yang kurang bermutu. Tak terkecuali novel (dan juga film layar lebar) Ayat Ayat Cinta, yang—seperti kita ketahui bersama—merupakan salah satu karya paling populer yang dihasilkan oleh
penulis FLP.

Dari kecaman yang disampaikan oleh pria yang menjadi redaktur budaya di salah satu surat kabar nasional itu, penulis jadi teringat kembali dengan materi yang pernah disampaikan oleh Kang Aep Saefulloh dalam pelatihan tanggal 1 Desember 2007 lalu. Saat itu, Kang Aep menyinggung (walaupun hanya sekilas) tentang adanya dua "mazhab" dalam seni, yaitu (1) seni untuk seni, dan (2) seni untuk kemanusiaan. Penulis memandang, bahwa Eddy A. Effendi menganut "mazhab" seni untuk seni, dan dengan demikian berbeda dengan FLP sebagai komunitas yang menganut "mazhab" seni untuk kemanusiaan. Lantas, apa sih perbedaan antara
"mazhab" seni untuk seni dan seni untuk kemanusiaan?

Bila dilihat dari segi etika, "mazhab" seni untuk seni adalah seni tanpa mengindahkan etika. Mereka menganggap seni sebagai sebuah hal yang bebas-nilai, jauh dari etika dan norma. Sedangkan "mazhab" seni untuk kemanusiaan memandang seni sebagai sebuah hal yang amat berkaitan dengan nilai-nilai, norma, dan etika kemanusiaan. FLP, sejak awal berdirinya telah memproklamirkan diri sebagai komunitas yang "menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan masyarakat/ummat". Demikian tulis Helvy Tiana Rosa, salah seorang pendiri FLP.

*  *  *

Aku tidak akan panjang lebar menanggapi pendapat Hudan Hidayat dan Eddy A. Effendi. Aku hanya ingin menjadi penyambung lidah Kang Abik saja. Aku telah menyampaikan kritikan-kritikan yang beredar di internet kepada Kang Abik. Dengan tawadhu, Kang Abik menerima dan mengucapkan terima kasih.

Dari obrolan beberapa kali dengan Kang Abik selama di Mesir, ada satu pernyataan Kang Abik yang perlu aku sampaikan kepada Anda. "Likulli ro'sin, ro'yun ya akhi!" kata Kang Abik kepadaku.

"Sudahlah", kata beliau, "kita tidak perlu pusing dengan omongan orang. Setiap orang punya pendapat kok. Biarkan para kritikus itu terus mengkritik, itu memang kerjaan mereka. Sedangkan tugas kita, sebagai penulis, adalah menulis. Mendingan kita fokuskan pikiran, semangat, tenaga, waktu, dan dana untuk melahirkan karya yang berkualitas!"

Aku sepakat dengan pendapat Kang Abik, Likulli ra'sin ra'yun: setiap orang punya pendapat. Kita tidak perlu marah jika ada yang mengkritik. Jadikan itu sebagai in put atau feed back untuk meningkatkan kualitas tulisan kita.

*  *  *

Nah, ketika aku baca pendapat Hudan Hidayat dan Eddy A Effendi itu, tiba-tiba aku ingat kejadian di halte yang aku ceritakan di awal. Aku bertanya-tanya: Jadi, yang gila itu siapa ya? Dengan kata lain, yang menulis karya tidak bermutu dan tidak memiliki nilai sastra itu siapa ya: Hudan Hidayat Cs, Eddy dkk, atau Kang Abik bersama teman-teman FLP?

Auuuwww gelaaap ah! CAPEK DEH!!


NB:
Tadi saya baca novelet "Dalam Mihrob Cinta" karya Kang Abik
dalam novelet itu, saya menemukan kalimat ini:

"Menanggapi omongan orang gila berarti ikut jadi gila.
Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu."
(Halaman 37)






23 CommentsChronological   Reverse   Threaded
tintin1868 wrote on Apr 30
"Likulli ro'sin, ro'yun ya akhi!", katanya ga mo pusing kog jadi gelap sih kang udo hehehe.. lucu juga.. yang gila emang siapa ya, yang berdiri apa duduk.. yang nulis ga mutu ga nyastra sapa? sebenernya membaca ini mikir juga saya.. semua sama gilanya hehehe..
abahsaidan wrote on Apr 30
Wah, respon Kang Abik menyikapi semua kritikan itu bagus ya, Do. Tawadhu sekali, alih-alih marah dan berbalik mengeritik, dia malah menjadikan kritikan sebagai motivasi buat berkarya lebih baik lagi. Salut buat kang Abik.. :)
arikunto wrote on Apr 30
Xixixi.... anjing mengonggong... kafilah tetap berlalu Do!

Salut deh buat Kang Abik...!
ceumimin wrote on Apr 30
Thank's Mang Udo..
Wah Mang Aep saepulloh juga sudah mewacanakan seni yah, hebat mang Aep, bacaannya dia banyak sekali, salut mang sama dia tuh..
Begitulah Kang Abik, setiap masalah dia dpt ambil hikmahnya, tanpa membuat konfllik baru, seperti kekecewaan terhadap Film Ayat Ayat Cinta..
alekmuhibat wrote on Apr 30
Biarlah anjing menggonggong, karena itulah kerja anjing.
eh..eh..eh
udoyamin wrote on Apr 30
"Likulli ro'sin, ro'yun ya akhi!", katanya ga mo pusing kog jadi gelap sih kang udo hehehe.. lucu juga.. yang gila emang siapa ya, yang berdiri apa duduk.. yang nulis ga mutu ga nyastra sapa? sebenernya membaca ini mikir juga saya.. semua sama gilanya hehehe..
hehe gak tahu tuh siapa yg gila, mungkin yg nulis ya? hehehe
udoyamin wrote on Apr 30
Salut buat kang Abik.. :)
udo juga salut tuh sama beliau
udoyamin wrote on Apr 30
Xixixi.... anjing mengonggong... kafilah tetap berlalu Do!
ssttt... ntar yg menggonggong marah lho... hehehe
udoyamin wrote on Apr 30
Wah Mang Aep saepulloh juga sudah mewacanakan seni yah, hebat mang Aep, bacaannya dia banyak sekali, salut mang sama dia tuh..
iya teh, udo juga kagum sama Mang Aep, kapan ya, udo bisa kayak mang Aep?
udoyamin wrote on Apr 30
Biarlah anjing menggonggong, karena itulah kerja anjing.
eh..eh..eh
hehehe, gak boleh gitu, ntar yg menggongong lho... kalau ada yg marah, udo gak tanggungjawab lho...
pomponk wrote on Apr 30
Kalau nggak ada yg kritik gak bakalan seru :)
udoyamin wrote on Apr 30
pomponk said
Kalau nggak ada yg kritik gak bakalan seru :)
benar, org mengkritik berarti memperhatikan
pomponk wrote on Apr 30
jangan2 sang pengkritik cinta sama kang abis hehehehe bisa bahaya nee.....
missane wrote on Apr 30
Tadinya baca krn ad sangkutpautnya ma tempat tinggal lama; Direl Malak..Jd inget asrama lama,kpn mulai drehab ya,jd inget 3jam nungguin bis 179 ke nasr city,jd inget bpk tua pnjual tisu yg mondarmandir dhalte,tp kq nambah penghuni ya?! :D
iya guru lain kepala lain isinya,pilih husnudzon aj deh biar sehat:D
udoyamin wrote on Apr 30
pomponk said
jangan2 sang pengkritik cinta sama kang abis hehehehe bisa bahaya nee.....
hehehe... tulisan udo hanya intermezo aja lho... intinya, ketika kita berbeda, maka mari kita saling menghargai
tejorini wrote on Apr 30, edited on Apr 30
Kalo pekerjaan jadi tukang kritik tuh ada pahala nya nggak, udo...?
addp wrote on Apr 30
Klopt....eh maksudnya, saya setuju, setiap orang punya hak untuk mengeluarkan pendapat masing2, kita jg hormati yang kasih feedback baik yg +/-, tinggal gimana kita memikir kedepan untuk tetap berkarya apapun profesi anda, khan ibadah jg kepada AllahSWT??? toh...
tejorini wrote on Apr 30, edited on Apr 30
addp said
tinggal gimana kita memikir kedepan untuk tetap berkarya apapun profesi anda
wah.. ntar yang berprofesi kritikus makin seneng 'berkarya' di do'ain gitu mah hehehe
bundaelly wrote on Apr 30
kalo seluruh dunia berpendapat yang sama, tidak ada perbedaan, maka dunia sudah mati, pak :)
ummunaisha wrote on May 1
jadi inget pernah baca catatan harian seorang gila...jadi ceritanya justru yang gila adalah orang-orang yang katanya waras, menurut pandangan si orang gila ini hehehe
entamchengho wrote on May 3
ya jelas setiap orang punya pikiran masing-masing namun pikiran tersebut gak bisa juga berkembang klo hanya sendiri tanpa respon dari orang, ya... thogut mah temenya thogut lagi, malaikat temenya malaikat sama orang- orang sholeh, udah jelas kok, antara haq dan bathil,
udo idak perlu bingung, kito samo-samo doakan bae muga cepet insafnya
syukron udo
triandari wrote on May 10
Setuuuuuuuuj........
asepsetia wrote on May 18
Waaaahh filisofis sekali ya pembahasannya, AAC memang bisa menggugah banyak orang itu faktanya. Tentu yang mengkritik perlu juga tetapi anggap sebagai sebuah anugrah
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help