Aku bingung. Aku tertunduk lemas di atas kursi ruang tunggu Majlis A'la. Aku baca lagi, point-point yang tertulis di atas surat ikrar itu. Di sana termaktub bahwa apabila salah seorang kerabat mendapatkan beasiswa dari Universitas Al-Azhar atau lembaga beasiswa lainnya di Mesir, maka beasiswa dari Majlis A'la akan dihentikan. Satu sisi, aku sangat membutuhkan beasiswa dari Majlis A'la itu. Namun di sisi lain, isteriku telah mendapatkan beasiswa Universitas Al-Azhar.
"Gimana nih?" aku bertanya kepada temanku.
"Udahlah Do, cuek aja", jawabnya. "Lagian, ada lho, yang udah nikah mendaftarkan diri, sedangkan isterinya udah dapat minhah dari Azhar, sampai sekarang mereka enjoy aja, pihak Majlis A'la dan Azhar tidak tahu kok!"
"Justru ini yang jadi masalahku, kira-kira menurutmu, apa hukumnya, kita mendapatkan uang dengan cara bohong?"
"Wah, kalau dilihat dari sudut itu, memang bohong sih, tapi anggap saja ini darurat bro!"
Aku diam. Sementara temanku itu, ikut bergabung antri dengan puluhan mahasiswa Indonesia Mesir lainnya. Mereka menyerahkan berkas persyaratan. Aku memandang mereka dengan tatapan kosong. Jantungku, berdetak semakin kencang. Tubuhku pun berkeringat.
Aku bimbang. Kalau aku batalkan, berarti aku tidak menghargai perjuanganku selama tiga bulan untuk mendapatkan persyaratan dan surat pernyataan tidak mendapatkan beasiswa dari lima instansi di Mesir. Jika aku tetap ajukan, berarti aku melanggar aturan yang ada. Aku yakin, pihak Majlis A'la tidak pernah akan tahu bahwa isteriku telah mendapatkan beasiswa Al-Azhar. Begitu sebaliknya, pihak Al-Azhar, tidak akan tahu, bahwa aku mendapatkan beasiswa Majlis A'la. Sebab, baik persyaratanku maupun isteriku, tidak ada yang mencantumkan status pernikahan, apalagi nama dan identitas suami atau isterinya.
"Ya Allah, bimbing hamba-Mu ini!" pintaku dalam batin. Aku menundukkan kepala. Aku pejamkan mata. Kedua telapak tanganku, aku rapatkan. Lalu aku letakan di depan keningku. Dalam hening aku, meminta fatwa kepada hati nuraniku. Perlahan-lahan, ada cahaya muncul dalam hatiku. Dan itu menjadi solusi. Dengan semangat aku berdiri. Aku temui petugas registrasi beasiswa. Aku ceritakan, apa yang aku alami. Ibu berwajah Mesir yang dibungkus jilbab putih itu tersenyum. Kemudian, beliau berkata, "Aku hargai kejujuranmu. Aku ingin membantumu, tapi aku juga harus ta'at aturan. Begini saja, kalau masih penasaran, coba hubungi pihak Al-Azhar. Kalau kata mereka boleh, maka aku akan terima!"
Plong. Perasaan bagaikan ditindih pegunungan Himalaya, tiba-tiba menjadi seringan kapas. Beban batinku hilang. Aku pamit duluan pulang, kepada temanku. Aku keluar dari apartemen Majlis A'la. Aku melangkahkan kaki menuju mahattoh (halte). Mini bus nomor 132 datang. Aku melampaikan tangan. Mobil berhenti. Aku naik.
Di atas mobil, aku merenungi pergulatan batinku tadi. Bayangan isteriku yang sedang hamil hadir dalam benakku. Aku telah berjanji kepada Allah, aku tidak pernah akan memberikan barang syubhat, apalagi haram kepada diriku, isteriku, anak-anakku, dan keluargaku. Dalam mobil menuju rumahku itu, aku teringat dengan kisah Al-Majlisi al-Awwal wa ats-Tsani: Maula Muhammad Taqi Isfahani, dan putranya, Maula Muhammad Bagir.
Seperti biasanya, bapak dan anak itu, selalu barengan ke masjid. Ba'da sholat, sang bapak memberikan ceramah kepada jama'ah, sedangkan sang anak bermain.
Hari itu, penulis ensiklopedia Bihar al-Anwar 110 jilid yang masih berusia tujuh tahun itu, bermain di depan masjid. Di sana, ada girbah (wadah air minum terbuat dari kulit). Calon ulama itu, menemukan jarum di tanah. Ia ambil. Ia tusukkan jarum itu ke girbah. Dengan senangnya, ia bermain dengan air yang memancar. Girbah itu pun kosong. Ia kembali bergabung dengan pengajian bapaknya.
Tiba-tiba, beberapa jama'ah ribut. Mereka kaget, girbah itu bolong. Itu belum pernah terjadi sebelumnya. Muhammad Bagir kecil, hanya diam. Namun tak berapa lama, marbot (petugas) masjid melaporkan kepada Muhammad Taqi, bahwa pelakunya adalah putranya. Al-Allamah Majlisi meminta ma'af kepada jama'ah atas kelakuan anaknya. Selesai pengajian, sang bapak tidak berkata apa-apa. Namun dari raut wajahnya, terlihat sedih dan menahan amarah.
Sesampai di rumah, ulama keturunan Hafidz Abu Nua'im al-Isfahani (penulis kitab Hilyatul Awliya) itu, menceritakan kepada isterinya. Kemudian berkata, "Sayang, seingat saya, saya telah menjaga ajaran Islam sebelum pembentukan nuthfah hingga anak kita lahir. Saya juga telah menjaga diri, dari makanan haram. Apa yang dilakukan oleh anak kita hari ini adalah cermin bahwa kita telah melakukan dosa. Nah, cobalah ingat, apakah adinda pernah melakukan sebuah kesalahan waktu hamil?"
Sang isteri merenung. Tak berapa lama, terlintas sebuah kejadian yang membuat wajahnya berubah. Ia menatap wajah suaminya, selanjutnya berkata, "Iya, itu memang salah saya!"
"Sayang, kesalahan apa yang telah engkau lakukan?"
"Gini", ujar sang isteri mulai bercerita, "dulu, waktu saya hamil, saya main ke tetangga. Tatkala pulang dari sana, saya melewati pohon anggur. Entah bagaimana, tiba-tiba saya sangat ingin anggur masam. Makanya, saya cicipi anggur itu dengan melubanginya pakai jarum. Ternyata tidak masam, tapi manis. Maka saya tidak jadi memetiknya. Tadinya, saya berniat untuk memberitahu sekaligus minta izin sama tetangga kita atas perbuatan saya itu. Namun, lagi-lagi entah mengapa sampai detik ini belum saya lakukan!"
Selesai membayangkan kisah itu. Aku merasa bersyukur sekali atas keputusanku di Majlis A'la. Aku sangat yakin, sebagaimana pernah dituturkan oleh nabi Muhammad Saw, bahwa kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga. Dan sebelum aku mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah Swt di akhirat nanti, aku telah merasakan surga di dunia: rasa bahagia; tak ada tekanan batin.
* * *
"Buya", tanya isteriku sambil memberikan segelas air minum, "gimana sukses?" "Alhamdulillah sukses!" jawabku setelah mereguk air putih dari kulkas itu. Rasa haus yang aku tahan sejak di mobil langsung hilang. Aku ambil tas. Aku keluarkan map hijau, isinya persyaratan Majlis A'la. Aku berikan kepada isteriku, sembari berseloroh, "Bunda, ini titipan dari petugas Majlis A'la!"
Isteri membuka map itu. Beliau kaget, setengah berseru bertanya, "Kok, berkasnya masih buya pegang?"
Aku ceritakan semua kejadian di Majlis A'la kepada isteriku. Isteriku diam. Aku tidak tahu, apa yang ada dalam benaknya. Namun, aku lihat beliau tersenyum, "Yah, gak apa-apa buya, namanya juga usaha. Belum rizkinya kali!"
"Buya sih nyantai, berarti sukses dong?" godaku.
"Yeee... sukses apaan?"
"Kan dari awal, buya merasa keberatan mengajukan minhah. Mendingkan buya berpikir dan berusaha keras mengoptimalkan potensi yang ada, daripada ngejar pemberian orang. Dari sekarang kita harus punya mental mandiri dan selalu ingin memberi, dari pada mengharap bantuan orang. Nah, sukses itu kan kalau kita meraih apa yang kita inginkan, maka buya sukses dong, sebab keinginan tidak mendapat bantuan orang tercapai? Hehehe!"
"Enggak mau... enggak mau..., ini kesempatan buya, itu hak kita. Kita kan fi sabililillah, ibnu sabil, dan termasuk fuqoro!"
"Iiih, kalau fi sabilillah dan ibnu sabil ya, tapi fuqora wal masakin, tunggu dulu. Sebab, buya masih punya panca indra, punya tangan, punya kaki, badan sehat, dan masih bisa usaha!"
"Terserah buya, yang penting besok buya ke muraqib. Tanya apa yang disarankan oleh pihak Majlis A'la. Kalau memang tidak bisa, baru bunda terima!"
"Oke deh, buya mau istirahat dulu!" ujarku, lalu berbaring di atas kasur.
* * *
Keesok harinya, aku ke muraqib (kantor administrasi) Al-Azhar. Di sana aku menemui mudirnya. Aku ceritakan persoalan yang aku hadapi. Lagi-lagi, jawabannya, seperti petugas Majlis A'la, "Afwan, betapa inginnya saya bantu Anda, tapi sayang aturannya sudah demikian!"
Aku pun pulang. Selama dalam perjalanan, aku membayangkan kemenanganku atas keinginan isteriku. Aku ingin cepat-cepat menemui isteriku.
* * *
Aku ingat kejadian di Majlis A'la itu, sebab beberapa hari lalu, seorang teman bertanya, "Kok Fatih dan Fathin, sehat selalu; jarang sakit, enerjik, dan kreatif, apa rahasianya?"
Aku menceritakan kejadian di Majlis A'la itu. Lalu aku menambahkan, "Ya mungkin juga, karena Fatih dan Fathin sering saya kasih madu dan diperdengarkan bacaan Al-Quran. Bukankah dalam Al-Quran, kata "asy-syifa", yang artinya obat, tertuju untuk dua hal: pertama, Al-Quran; kedua, Madu. Saya yakin, siapapun yang sering minum madu dan membaca atau mendengar Al-Quran akan sehat. Sebab, madu membantu menyeimbangkan fisik, sedangkan Al-Quran menyeimbangkan psikologis. Bukankah yang namanya sehat, tatkala tubuh kita seimbang, sedangkan sakit manaka tubuh kita tidak seimbang?"
Temanku mengangguk-anggukkan kepala. Aku tidak tahu, apakah ia benar-benar memahaminya, atau sebaliknya. Yang jelas, aku lihat ia seperti serius mencerna penjelasanku.
* * *
Peristiwa di Majlis A'la tiga tahun yang lalu itu, selalu aku ingat, setiap aku melakukan sesuatu dalam mencari nafkah. Aku telah merasakan, ketika aku tidak dapat minhah dari Majlis A'la itu, alhamdulillah, dengan cara lain Allah membukakan pintu rizki-Nya. Tidak terbayang, apa yang terjadi, jika aku mengikuti hawa nafsu untuk mendapatkan beasiswa itu dengan cara berbohong. Bukankah itu ibarat tanah hijau di atas batu cadas? Seperti subur, namun ketika ada air hujan, maka mudah tergusur, sehingga akhirnya tidak memiliki apa-apa. Lebih ngerinya lagi, jika putra Majlis hanya diberi "cicipan" sebesar jarum sudah demikian, apalagi kalau bertahun-tahun anak makan barang syubhat atau haram?
Aku merasakan, manakala apa yang aku minum, makan, dan apa yang aku pakai benar-benar jelas kehalalannya, penuh dengan berkah. Meskipun saat ini, rizki yang aku terima pas-pasan, namun aku melihat penuh dengan berkah. Seperti tanah subur, meskipun hanya mendapatkan gerimis, maka akan menumbuhkan pepohonan yang lebat. Ya, lebih baik rizki sedikit, badan tetap sehat, jauh dari tekanan batin, hidup tentram, damai, dan sejahtra, daripada rizki melimpah, namun sering sakit, merasa dikejar-kejar dosa, dan hidup penuh dengan masalah. Inilah yang aku maksud, Tiada Hujan, Gerimis Pun Jadi! Wallahu a'lam.
 | nice story, Udo... :) terima kasih sudah berbagi. btw, boleh saya bagi juga ke teman saya, Udo? |
 | btw, boleh saya bagi juga ke teman saya, Udo?  ahlan wa sahlan, silahkan tulisan ini disebarkan tuk teman2 yg lain, semoga pesan yg ingin udo sampaikan "kejujuran" dapat menyentuh nurani para pembaca. walaupun sebenarnya, tulisan ini menurut udo masih perlu diperbaiki, terutama endingnya. blum ada "greget"nya. maklum, udo nulis langsung di MP, jadi blon sempat udo edit lagi. Eh ya, bagi2 cerita dong ttg kehidupan di Amsterdam! Trutama, udo ingin tahu, bagaimana aktivitas dan cara mengelola masjid di negeri kincir. bisa kan cerita sama udo? |
 | makasih udo nasehatnya, nasehat untuk Berani berkata JUJUR. And specially for the Maulana Muhammad Bagir part.. bikin aku tercengang |
 | Salut buat kejujuran Udo. Integritas memang tak pantas untuk ditebas! :) |
 | nilai kejujuran itu lebih mahal dari sekedar minhah majlis a'la salut buat udo dah bisa ngalahin ego,,,,,itu tandanya orang dewasa,,,,,,,pintar merasa,,,bukan merasa pintar
|
 | Kejujuran, pemikiran jauh ke depan untuk mengendalikan diri... Subhanallah, jangan biarkan hal yang kelihatan sepele menodai perjalanan hidup kita ya Udo. |
 | Subhanallah... saya terharu banget baca ceritanya. benar-benar pelajaran yang sangat berharga dan contoh bagi saya dan siapa pun... |
 | Subhanallah.. speechless.. hampir mirip dengan saya pa... namun beberapa kali tergelincir.. Astagfirullh.. Jazakallah... mata berkaca-kaca.. sadar atas setiap kekurangn.. |
 | Inspiratif...mudah2an saya juga bisa meniru Anda
|
 | ,itu tandanya orang dewasa,,,,,,,pintar merasa,,,bukan merasa pintar  amin, mudah2an udo memiliki karakter ini slalu |
 | Terharu banget baca sharing ini. Jadi ingat masa laluku juga yg penuh perjuangan. Betul Udo, yang penting adalah berkahnya, insyaAllah :-)
Andai pemimpin2 di Indonesia [yg kerjanya naik haji tiap tahun] tapi makan barang haram [korupsi dkknya] dan syubhatnya tak berhenti juga membaca tulisan ini dan tersentuh iman islamnya, hiks...
Saya prihatin banget sama pemimpin Indonesia, mayoritas muslim, tapi akhlaq menjaga diri dari barang tak halalnya [korupsi] ya Allah, kenapa bisa bercampur baur begitu ya :-( Sediiiiiiiiiihhhhhhh banget, ihiks...
Btw, istri Udo kuliah juga skr??? Diajakin ngempih dung :-D |
 | Btw, istri Udo kuliah juga skr??? Diajakin ngempih dung :-D  Iya, isteri udo kuliah, skrg tingkat akhir fakultas ushuluddin jurusan tafsir universitas al-azhar cairo tingkat akhir, lusa mulai imtihan (ujian semester). minta do'anya mudah2an lancar dan tamat tahun ini. Hehehe... yg sering otak-atik MP ini adalah isteri udo, sedangkan udo cuma nulis aja. udo minta buat MP sendiri, tapi gak mau, ingin bantu MP suami aja katanya. Isteri udo juga buat MP tuk anak2, klik ini: http://virabersaudara.multiply.com/ |
 | الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة
Sebuah kisah yang patut kita teladani, Semoga orang-orang yang yang selalu jujur dapat mengantarkannya kedalam jannatu firdaus, dan semoga kita termasuk didalamnya. Ustadz,, klo boleh tahu antum kuliyah dsana pake bhasa Amiyah pa fushah? Ana jadi ingin kemesir nih... He.._^_^ |
 | Afwn mksd ana, kalau sedang kegiatan belajar mengajar... Syuron |
| |