Ketika Cinta Bertasbih Saat Pantai Cleopatra Tergerus Ombak
Habiburrahman El Shirazy yakin film ini akan menyedot lima juta penonton.
Semuanya demi mengurus shooting film Ketika Cinta Bertasbih 1 (KCB 1) di Kairo, Mesir. Maka, selama 10 hari berkunjung ke Kairo dan Alexandria, Mesir, tim rumah produksi Sinemart tak henti bergerak. Mereka menghubungi empat rumah produksi, studio, laboratorium film, penyewaan peralatan, dan tidak lupa berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia. ''Semua menyambut baik keinginan kami. Tapi, kami ingin one stop production,'' ujar Dani Sapawie, produser Sinemart.
Boleh dibilang pihak Sinemart tidak ingin terlalu direpotkan karena harus berhubungan dengan banyak pihak. Mereka lebih suka menggandeng satu rumah produksi yang lantas bertugas mengurus segala sesuatunya. Dan, ujung semua itu adalah ketika harapan mulai menjadi kenyataan. ''Alhamdulillah, perizinan yang sejak awal paling kami khawatirkan, kini telah mendapat titik terang dari pihak Badan Sensor Film dan pihak terkait lainnya,'' ujar Dani menjelang kepulangan ke Indonesia.
Film KCB 1 adalah pengalaman pertama Sinemart melakukan shooting luar negeri. Tak cuma berhadapan dengan masalah perizinan yang tentu saja tidak mudah, mereka juga harus berurusan dengan biaya yang tidak sedikit.
Seperti diungkap seorang sumber di Sinemart, anggaran pembuatan film KCB 1 ini akan menghabiskan biaya sekitar Rp 16 miliar. Dana ini sebagian besar tersedot lantaran pengambilan gambar yang harus dilakukan di Mesir. Selain biaya perizinan, transportasi, akomodasi, penyewaan peralatan, dan honor pemain setempat, pihak perfilman Mesir juga akan menarik 'iuran' bagi setiap kru film dan pemain asing sebesar Rp 6 juta per minggu.
Dengan biaya yang besar ini, Sinemart tidak boleh berlama-lama melakukan pengambilan gambar di Mesir. Menurut rencana, Sinemart akan melakukan shooting di Kairo dan Alexandria sekitar dua minggu saja. Sisanya, akan dilakukan di Indonesia. ''Ada yang bisa kita lakukan di Jakarta. Seperti interior apartemen Azzam. Kalau dilakukan di Mesir terlalu mahal. Argonya jalan terus. Kalau di Jakarta tidak pakai argo,'' ujar El Badrun, penata artistik. Untuk menyiasati hal ini, sekitar seminggu sebelum shooting dilakukan, El Badrun dan Rudi Kurwet (director of photography) akan berangkat lebih awal untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Sementara untuk persiapan shooting di Jakarta, Sinemart telah banyak membuat dokumentasi tempat-tempat di Kairo dan Alexandria yang terdapat dalam novel KCB.
El Badrun juga telah membeli cukup banyak barang untuk properti seperti shisha, tanda pangkat polisi Mesir, karpet, serta kitab-kitab. Pada saat shooting nanti, El Badrun tinggal melengkapi kekurangan yang dianggap perlu.
Jika semuanya lancar, Sinemart akan datang kembali ke Mesir untuk melakukan pengambilan gambar. ''Insya Allah, sepuluh hari setelah Idul Fitri, kegiatan shooting akan dilakukan,'' ujar Dani Sapawie. Diperkirakan, film KCB baru dapat disaksikan di gedung-gedung bioskop pada awal tahun depan.
Akan tetapi, pertanyaan demi pertanyaan yang lain pun bermunculan. Apakah KCB 1 akan memecahkan rekor jumlah penonton bioskop di Indonesia? Apakah Sinemart dapat meraup keuntungan dari KCB? Pada saat keberangkatan ke Kairo, penulis novel KCB, Habiburrahman El Shirazy, punya optimisme tersendiri. Syaratnya, film KCB 1 harus shooting di Kairo.
Bila ini terjadi, maka Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman, dengan yakin berujar, ''KCB akan mampu menyedot hingga lima juta penonton.'' Tentu, jawaban optimisme itu baru akan kita ketahui awal tahun depan.
Agar Seindah Novel
Demi menghadirkan gambar-gambar yang seindah kisah dalam novel asli, tim Sinemart giat berburu lokasi. Persis seperti dalam novel. Selama proses ini, Habiburrahman El Shirazy, penulis novel KCB, selalu menemani. Mereka mendatangi di antaranya halte dan terminal bus, tempat tinggal Azzam, Furqon, Eliana, dan Anna, kampus Al Azhar, rumah sakit, pasar, yang menjadi latar cerita KCB 1.
Sinemart tidak hanya berburu di Kairo. Mereka bahkan menyempatkan pergi ke kota Alexandria dan tinggal di sana selama dua hari. Seperti terungkap dalam novel, sebagian cerita KCB 1 terjadi di Alexandria.
Namun, tak urung kondisi di lapangan yang ditemui menyulitkan untuk pengambilan gambar atau kondisinya telah berubah. ''Tidak semua tempat yang ada dalam novel layak diangkat ke layar lebar, karena film membutuhkan gambar yang layak ditonton,'' papar Imam Tantowi, penulis skenario film KCB 1.
Untuk menyiasati hal tersebut, kata Imam, perlu dicarikan alternatif tempat lain, tanpa perlu mengganggu jalan cerita. Seperti Hotel El Haram di Alexandria yang menjadi tempat Azzam menginap. Setelah didatangi, ternyata secara visual hotel itu tidak layak jika diangkat ke layar lebar.
Untuk memilih hotel pengganti sebagai tempat menginap Azzam dalam film nantinya, tim Sinemart sampai harus membagi tim menjadi tiga kelompok yang masing-masing menginap di hotel yang berbeda. Akhirnya, pilihan jatuh pada hotel Sofitel. Ini lantaran, selain memiliki bangunan yang layak tonton, hotel ini juga memiliki pemandangan yang lebih bagus jika dilihat dari kamar ke arah Sungai Nil.
Tidak hanya itu. Hotel Le Meridien di Kairo, yang dikisahkan menjadi tempat Furqon menginap, ternyata telah berubah menjadi Hotel Grand Hyatt. ''Untuk menyiasati, kita tidak perlu menyebut nama hotelnya,'' ungkap Kang Abik.
Demikian juga dengan terminal bus Hayysabe, tempat Azzam naik bus ketika akan pergi ke rumah Ustadz Mujab. Terminal bus ini ternyata tidak seperti terminal bus yang kerap kita temui di Indonesia. Tidak ada bangunan khusus di terminal bus Hayysabe. Hanya terdapat satu rumah-rumahan mirip tempat menjual tiket yang merupakan tempat kondektur bus melapor jumlah karcis yang terjual.
Sedangkan Pantai Cleopatra di Alexandria, tempat Azzam berjalan bersama Pak Ali, sopir kedubes Indonesia, sudah tidak ada karena tergerus ombak. Perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan membuat tim Sinemart harus kerap berembuk. Hampir tiap hari mereka mengevaluasi hasil temuan di lapangan dan pertemuan dengan pihak rumah produksi di Mesir.
Untuk masalah yang kelihatannya sepele pun -seperti tempat tinggal Azzam, Furqon, Ustadz Mujab, Anna- Sinemart pun cukup direpotkan untuk menentukan pilihan. Mereka mengunjungi cukup banyak tempat tinggal mahasiswa Indonenesia yang kuliah di Al Azhar. Bahkan, mereka juga menyempatkan untuk berkunjung ke tempat tinggal staf lokal kedubes Indonesia, karena agak sulit menemukan tempat tinggal yang layak seperti tuntutan cerita dalam novel.
Ide-ide baru juga muncul seperti menampilkan Sungai Nil dan piramid dalam tayangan film. Tujuannya, tak lain agar secara gambar, film menjadi lebih menarik untuk dilihat. Dan, akhirnya penonton percaya bahwa pengambilan gambar memang benar dilakukan di Mesir.
Berlanjut di Jakarta
Untuk memenuhi tuntutan alur cerita, film KCB 1 akan berdurasi agak panjang. Dari diskusi tim Sinemart, diperkirakan KCB akan berdurasi sekitar 2,5 jam. Padahal, bila harus mengikuti alur cerita persis seperti novelnya, filmnya bisa berdurasi hingga enam jam. Apalagi, cerita pada KCB 1 akan mengambil sebagian cerita pada novel KCB 2 karena tuntutan keindahan cerita. ''Agar filmnya tidak terlalu panjang, ada bagian-bagian cerita yang harus dipadatkan dan bagian yang tidak terlalu penting dapat dihilangkan, asal tidak mengganggu jalan cerita,'' ujar Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman.
Untuk itulah Imam Tantowi, penulis skenario, harus bekerja keras untuk membuat skenario yang pas. Bahkan, sampai kepulangan tim Sinemart ke Jakarta, skenario pun belum final. ''Saya masih harus mengubah lagi. Sekarang yang sudah saya kerjakan draft 2,'' ujar Imam Tantowi. Pekerjaan yang bakal terus berlanjut di Jakarta.
Setibanya di Jakarta, Sinemart harus segera menyelesaikan beberapa 'pekerjaan rumah'. Besar anggaran harus segera dipastikan dan dibandingkan dengan perkiraan pendapatan. Skenario harus segera diterjemahkan ke dalam bahasa Arab untuk diserahkan ke Badan Sensor Film Mesir. Audisi untuk mencari lima pemeran utama yang rencananya akan dilaksanakan mulai bulan Mei hingga bulan Agustus harus segera disiapkan. Jika rencana ini berjalan lancar, audisi akan dilakukan di sembilan kota, yaitu Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Padang, Medan, Surabaya, Banjarmasin, Makassar, dan Semarang.
Dewan juri audisi juga telah ditetapkan. Selain Habiburrahman, penulis novel KCB, dan Chaerul Umam, sutradara film KCB, Sinemart juga telah menunjuk Didi Petet dan Neno Warisman. Pada saat final audisi, Deddy Mizwar akan bergabung sebagai juri.