Oleh: Udo Yamin Majdi
"Anakku," sapa Robin kepada seorang anak muda, "ceritakanlah masalahmu, dan jangan ragu-ragu. Aliran kata-kata akan meringankan hati yang berduka. Ini seperti saat dibukanya saluran pembuangan air di bendungan luber. Datanglah di sampingku. Dan bicaralah dengan nyaman kepadaku!"
Paragraf yang dikutip oleh kang Hernowo dari buku The Merri Adventures of Robin Hood karya Howard Pyle tersebut, membantu saya untuk mendefisikan apa itu menulis. Menurut saya, menulis adalah meluapkan makna atau perasaan dan pikiran dalam bentuk kata-kata melalui alat tulis. Kata "meluapkan makna" ini jadi kunci bagi kita untuk memahami proses menulis. Lebih jelasnya, sebagaimana dikatakan oleh Robin di atas, bahwa menulis itu seperti bendungan yang salurannya terbuka. Semakin banyak air dalam bendungan itu semakin deras air memancar. Sebaliknya, apabila sedikit airnya, maka akan sedikit juga yang mengalir.
Begitu halnya dengan dunia tulis-menulis. Semakin banyak makna dalam diri kita, maka akan semakin mudah kita menulis. Akan tetapi, manakala makna itu minim, maka kita akan sulit menulis, karena kering akan ide.
Lantas, apa itu makna? "Makna adalah," ujar Sayid Muhammad Naguib Al-Attas, "pengenalan tempat-tempat segala sesuatu di dalam sistem. Pengenalan seperti itu terjadi jika relasi sesuatu dengan yang lain dalam sistem tersebut menjadi terjelaskan dan terpahamkan. Relasi tersebut harus menguraikan suatu keteraturan tertentu."
Sederhananya begini, ketika kita menemukan atau membaca tujuh huruf, misalnya, huruf N, T, I, A, S, U, dan L. Kira-kira makna apa yang dapat kita tangkap dari tujuh huruf ini? Ada banyak kombinasi. Di antaranya adalah kombinasi "Sunalti". Adakah makna yang kita pahami? Kombinasi yang lain, misalnya, "Tilansun". Adakah makna bagi kita? Demikian seterusnya hingga kita memperoleh kombinasi yang sudah akrab dan memberikan makna, misalnya, kata “Tulisan”. Inilah contoh ringan, tentang makna.
Apa sih yang terjadi?
Jadi, kalau begitu, menulis itu mudah dong, kan cuma meluapkan makna dalam diri kita? Teorinya memang demikian, namun dalam realitas tidak semudah itu lho! Buktinya, dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh para peserta pelatihan menulis kepada saya, yang paling sering adalah pertanyaan seputar kesulitan untuk menuangkan ide.
Cuma cara mereka mengungkapkannya saja yang berbeda-beda. Ada yang bilang: “Napa ya, sebelum menulis, ide itu udah ada dalam otak saya, namun ketika udah megang pulpen atau di depan komputer kong hilang?” Ada lagi yang berkata: “Aneh, gagasan itu udah berkecamuk di kepala saya, akan tetapi kok bingung mau menulis dari mana?’ Ada juga yang bercerita: “Saya sih udah ngerti apa yang saya baca, hanya saja saat menuangkan dalam tulisan, kok sulit banget?”
Mengapa hal itu terjadi?
Hal itu tidak terjadi kepada mereka saja, tapi juga kepada saya. Atau bisa jadi, kepada Anda juga? Terlepas, apakah itu terjadi kepada mereka, saya, atau Anda, yang jelas sebelum kita mencari solusinya, mari kita jawab dulu pertanyaan ini: mengapa hal itu terjadi?
Wallâhu a’lâm. Saya tidak tahu pasti jawabannya. Saat ini, saya ingin mencoba merumuskan apa yang saya alami dan analisa saya terhadap pengalaman orang lain. Menurut saya, kesulitan kita menuangkan makna, karena tujuh sebab berikut ini:
- Salah Paradigma. Ada yang menganggap menulis hanya untuk orang yang telah diakui sebagai "penulis" saja. Atau menyangka menulis itu sangat sulit; hal yang luar biasa; dan tidak bisa dilakukan oleh siapa saja. Atau memandang menulis adalah aktivitas orang yang kurang kerjaan; orang punya banyak luang waktu; dan orang yang hebat. Dan seterusnya;
- Kurang membaca. Tidak dapat kita pungkiri, tanpa diawali dengan membaca, maka kita akan kesulitan dalam menulis. Karena membaca adalah sarana agar makna meluap dalam diri kita. Kurang membaca, selain informasi kita kurang, kita juga akan sulit mencerna isi buku, sehingga bacaan kita tidak efektif.
- Sedikit pengalaman. Sebenarnya sumber tulisan tidak hanya lewat membaca —aktivitas mata (al-abshâr) kita dalam menyerap segala sesuatu di luar diri kita, diantaranya buku— saja, tapi juga hasil aktivitas telinga (as-sam’a) kita dalam mendengar dan hati serta pikiran (fuâd) dalam menganalisa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari;
- Tidak biasa berpikir ilmiah dan berimajinasi. Berpikir ilmiah menggabungkan berpikir deduktif (mengambil kesimpulan dimulai dari pernyataan umum menuju pernyataan-pernyataan khusus dengan menggunakan penalaran atau rasio) dengan induktif (sebaliknya, mengambil kesimpulan dimulai dari pernyataan khusus menuju pernyataan-pernyataan umum dengan menggunakan penalaran atau rasio) atau otak kiri. Sedangkan berimajinasi tidak menggunakan berpikir rasional, tapi menggunakan daya khayal, atau otak kanan.
- Tidak percaya diri. Betapa banyak orang yang sebenarnya berbakat menjadi seorang penulis, tapi tidak mereka lakukan karena kurang percaya diri. Sama halnya dengan orang yang memiliki ide atau gagasan brilian, namun tidak pernah menjelma dalam tulisan, akibat dari kurang percaya diri.
- Rasa malas atau bad mood. Inilah penyakit yang membuat kita sulit menuangkan ide. Sebagus apapun ide kita, kalau kita dililit rasa malas atau bad mood, maka besar kemungkinan kita hanya bisa berpikir tentang menulis, tanpa pernah melakukan aktivitas menulis.
- Jarang latihan menulis. Latihan menulis, seperti kita latihan olah-raga. Semakin sering kita olah raga, maka akan semakin lentur otot tubuh kita. Sama halnya dalam menulis, kita butuh latihan agar “otot emosi” kita lebih lentur dan terbiasa menuangkan ide.
Jadi, gimana solusinya dong?
Sekarang pertanyaannya adalah: Gimana solusinya? Sebenarnya solusinya gampang, yaitu menulis, menulis, dan terus menulis. Namun, jawaban itu, terkesan terlalu menyederhanakan persoalan. Maka mari kita cari solusinya berdasarkan tujuh penyebab kesulitan meluapkan makna di atas. Baik kita bicarakan satu persatu:
- Ubahlah paradigma! Ya, ubahlah paradigma kita! Menulis itu mudah. Menulis itu gampang. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Menulis bukan kurang kerjaan. Menulis bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja. Dan seterusnya.
- Banyaklah membaca! Pilihlah buku atau bahan bacaan yang benar-benar bergizi. Buku itu sangat banyak. Sedangkan waktu dan dana yang kita miliki, sangat terbatas. Maka, dalam membaca, kita harus memilih buku sesuai dengan spesialisasi yang akan kita geluti atau sesuai dengan hobi kita. Kita butuh skala prioritas. Dari sekian banyak buku dalam bidang yang kita geluti, kita harus mendahulukan buku yang bergizi; menggerakkan dan mencerahkan. Salah satu cara menentukan buku bergizi adalah carilah buku yang ditulis oleh pakarnya. Dan sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Qur'an dan Hadis Nabi.
- Cari pengalaman hidup sebanyak-banyaknya! Catat hal-hal yang menarik atau yang penting selama Anda bergaul. Sa'ad bin Jubair (wafat 714 M) bercerita, "Dalam kuliah-kuliah Ibnu Abbas, aku biasa mencatat pada lembaran; bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku"; dan "ayahku sering berpesan kepadaku, "Hapalkanlah, tapi paling penting adalah catatlah! Bila sampai di rumah maka tuliskanlah! Jika kau memerlukan atau tidak ingat lagi, maka bukumu akan membantumu!" Itulah tradisi ulama Islam zaman dulu. Hingga, pengalaman mereka mendengar dan hasil catatan mereka, menjadi rujukan umat Islam dari masa ke masa.
- Biasakan berpikir ilmiah dan berimajinasi! Belajarlah melatih otak untuk melakukan proses metode ilmiah berikut ini: (a) merumuskan masalah; (b) mengajukan hipotesa; (c) verikasi data; (d) menarik kesimpulan. Belajarlah melatih otak dengan metode kreatif berikut ini: (a) mengkhayal sesuatu; (b) merubah —mengurang, menambah, atau menyempurnakan— apa yang ada; dan berani mencoba.
- Percayalah pada diri sendiri! Kalau bukan kita yang percaya terhadap karya kita, lalu siapa lagi yang akan menghargainya? Maka, seburuk apapun tulisan kita, percayalah itu adalah yang terbaik dibandingkan dengan hanya berkata: “Ah, kalo tulisan kayak gini, saya juga bisa!”
- Disiplin menulis! Tanpa disiplin; teratur dalam menulis, maka kita akan kesulitan menuangkan ide. Yang dibutuhkan adalah kontinunitas (dawam)(istiqamah). Menulis satu paragraf tiap hari jauh lebih baik dari seratus halaman sebulan. Menulis satu jam dalam sehari, jauh lebih baik dari menulis 24 jam atau seharian tapi hanya sekali dalam sebulan.
- Seringlah latihan! menulis itu adalah habit. Betapa terkejut saya, saat saya silaturahmi dengan penulis muslim produktif, H. Adian Husaini, MA. —Ketua DDII Pusat Peneliti INSISTS— pada hari Sabtu, 25 Februari 2006, di Griya KSW Cairo, saya bertanya, “Pak, bagaimana proses bapak menjadi seorang penulis produktif?’’ Beliau menjawab,’’menulis itu habit!" Subhânallâh, teryata ungkapan beliau sama dengan kesimpulan saya selama bertahun-tahun; bahwa menulis adalah habit atau kebisaaan.
'Ala kulli hal, apa yang telah saya kemukakan tadi, hanya sebatas lontaran ide dan dalam rangka berbagi pengalaman. Saya sangat yakin, setiap orang memiliki latar belakang berbeda-beda ketika mengalami kesulitan menuangkan makna, seperti perbedaan sidik jari kita. Secara otomatis, solusinya juga akan berbeda-beda. Semakin jelas kita merumuskan masalah kita, maka akan semakin mudah mencari solusi.
Ditambah lagi, apa yang saya paparkan masih bersifat umum, belum secara mendetail membicara persoalan kesulitan menulis. Ada yang sulit membuat judul, ada yang sulit membuat paragraf pertama, ada yang sulit menentukan tema, ada yang sulit mensinkronkan antar kata, antar kalimat, dan antar paragraf dalam tulisan, ada yang sulit memilih diksi yang baik, ada yang sulit menemukan gaya menulis, ada yang sulit mengakhiri tulisan, dan seterusnya.
Semoga tulisan sederhana ini, dapat menggerakkan pikiran Anda dan menggugah hati Anda untuk bersama-sama saling berbagi ilmu. Akhirnya, saran, masukan, dan kritikan membangun dari Anda, selalu saya nantikan. Wallâhu a'lâm.