Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Blog EntryBAGAIMANA MELUAPKAN MAKNA DALAM TULISAN?May 13, '08 5:44 PM
for everyone

Oleh: Udo Yamin Majdi

 

"Anakku," sapa Robin kepada seorang anak muda, "ceritakanlah masalahmu, dan jangan ragu-ragu. Aliran kata-kata akan meringankan hati yang berduka. Ini seperti saat dibukanya saluran pembuangan air di bendungan luber. Datanglah di sampingku. Dan bicaralah dengan nyaman kepadaku!"

Paragraf yang dikutip oleh kang Hernowo dari buku The Merri Adventures of Robin Hood karya Howard Pyle tersebut, membantu saya untuk mendefisikan apa itu menulis. Menurut saya, menulis adalah meluapkan makna atau perasaan dan pikiran dalam bentuk kata-kata melalui alat tulis. Kata "meluapkan makna" ini jadi kunci bagi kita untuk memahami proses menulis. Lebih jelasnya, sebagaimana dikatakan oleh Robin di atas, bahwa menulis itu seperti bendungan yang salurannya terbuka. Semakin banyak air dalam bendungan itu semakin deras air memancar. Sebaliknya, apabila sedikit airnya, maka akan sedikit juga yang mengalir.

Begitu halnya dengan dunia tulis-menulis. Semakin banyak makna dalam diri kita, maka akan semakin mudah kita menulis. Akan tetapi, manakala makna itu minim, maka kita akan sulit menulis, karena kering akan ide.

Lantas, apa itu makna? "Makna adalah," ujar Sayid Muhammad Naguib Al-Attas, "pengenalan tempat-tempat segala sesuatu di dalam sistem. Pengenalan seperti itu terjadi jika relasi sesuatu dengan yang lain dalam sistem tersebut menjadi terjelaskan dan terpahamkan. Relasi tersebut harus menguraikan suatu keteraturan tertentu."

Sederhananya begini, ketika kita menemukan atau membaca tujuh huruf, misalnya, huruf N, T, I, A, S, U, dan L. Kira-kira makna apa yang dapat kita tangkap dari tujuh huruf ini? Ada banyak kombinasi. Di antaranya adalah kombinasi "Sunalti". Adakah makna yang kita pahami? Kombinasi yang lain, misalnya, "Tilansun". Adakah makna bagi kita? Demikian seterusnya hingga kita memperoleh kombinasi yang sudah akrab dan memberikan makna, misalnya, kata “Tulisan”. Inilah contoh ringan, tentang makna.

Apa sih yang terjadi?

Jadi, kalau begitu, menulis itu mudah dong, kan cuma meluapkan makna dalam diri kita? Teorinya memang demikian, namun dalam realitas tidak semudah itu lho! Buktinya, dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh para peserta pelatihan menulis kepada saya, yang paling sering adalah pertanyaan seputar kesulitan untuk menuangkan ide.

Cuma cara mereka mengungkapkannya saja yang berbeda-beda. Ada yang bilang: “Napa ya, sebelum menulis, ide itu udah ada dalam otak saya, namun ketika udah megang pulpen atau di depan komputer kong hilang?” Ada lagi yang berkata: “Aneh, gagasan itu udah berkecamuk di kepala saya, akan tetapi kok bingung mau menulis dari mana?’ Ada juga yang bercerita: “Saya sih udah ngerti apa yang saya baca, hanya saja saat menuangkan dalam tulisan, kok sulit banget?”

Mengapa hal itu terjadi?

Hal itu tidak terjadi kepada mereka saja, tapi juga kepada saya. Atau bisa jadi, kepada Anda juga? Terlepas, apakah itu terjadi kepada mereka, saya, atau Anda, yang jelas sebelum kita mencari solusinya, mari kita jawab dulu pertanyaan ini: mengapa hal itu terjadi?

Wallâhu a’lâm. Saya tidak tahu pasti jawabannya. Saat ini, saya ingin mencoba merumuskan apa yang saya alami dan analisa saya terhadap pengalaman orang lain. Menurut saya, kesulitan kita menuangkan makna, karena tujuh sebab berikut ini:

  1. Salah Paradigma. Ada yang menganggap menulis hanya untuk orang yang telah diakui sebagai "penulis" saja. Atau menyangka menulis itu sangat sulit; hal yang luar biasa; dan tidak bisa dilakukan oleh siapa saja. Atau memandang menulis adalah aktivitas orang yang kurang kerjaan; orang punya banyak luang waktu; dan orang yang hebat. Dan seterusnya;
  2. Kurang membaca. Tidak dapat kita pungkiri, tanpa diawali dengan membaca, maka kita akan kesulitan dalam menulis. Karena membaca adalah sarana agar makna meluap dalam diri kita. Kurang membaca, selain informasi kita kurang, kita juga akan sulit mencerna isi buku, sehingga bacaan kita tidak efektif.
  3. Sedikit pengalaman. Sebenarnya sumber tulisan tidak hanya lewat membaca —aktivitas mata (al-abshâr) kita dalam menyerap segala sesuatu di luar diri kita, diantaranya buku— saja, tapi juga hasil aktivitas telinga (as-sam’a) kita dalam mendengar dan hati serta pikiran (fuâd) dalam menganalisa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari;
  4. Tidak biasa berpikir ilmiah dan berimajinasi. Berpikir ilmiah menggabungkan berpikir deduktif (mengambil kesimpulan dimulai dari pernyataan umum menuju pernyataan-pernyataan khusus dengan menggunakan penalaran atau rasio) dengan induktif (sebaliknya, mengambil kesimpulan dimulai dari pernyataan khusus menuju pernyataan-pernyataan umum dengan menggunakan penalaran atau rasio) atau otak kiri. Sedangkan berimajinasi tidak menggunakan berpikir rasional, tapi menggunakan daya khayal, atau otak kanan.
  5. Tidak percaya diri. Betapa banyak orang yang sebenarnya berbakat menjadi seorang penulis, tapi tidak mereka lakukan karena kurang percaya diri. Sama halnya dengan orang yang memiliki ide atau gagasan brilian, namun tidak pernah menjelma dalam tulisan, akibat dari kurang percaya diri.
  6. Rasa malas atau bad mood. Inilah penyakit yang membuat kita sulit menuangkan ide. Sebagus apapun ide kita, kalau kita dililit rasa malas atau bad mood, maka besar kemungkinan kita hanya bisa berpikir tentang menulis, tanpa pernah melakukan aktivitas menulis.  
  7. Jarang latihan menulis. Latihan menulis, seperti kita latihan olah-raga. Semakin sering kita olah raga, maka akan semakin lentur otot tubuh kita. Sama halnya dalam menulis, kita butuh latihan agar “otot emosi” kita lebih lentur dan terbiasa menuangkan ide.

Jadi, gimana solusinya dong?
 

Sekarang pertanyaannya adalah: Gimana solusinya? Sebenarnya solusinya gampang, yaitu menulis, menulis, dan terus menulis. Namun, jawaban itu, terkesan terlalu menyederhanakan persoalan. Maka mari kita cari solusinya berdasarkan tujuh penyebab kesulitan meluapkan makna di atas. Baik kita bicarakan satu persatu:

  1. Ubahlah paradigma! Ya, ubahlah paradigma kita! Menulis itu mudah. Menulis itu gampang. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Menulis bukan kurang kerjaan. Menulis bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja. Dan seterusnya.
  2. Banyaklah membaca! Pilihlah buku atau bahan bacaan yang benar-benar bergizi. Buku itu sangat banyak. Sedangkan waktu dan dana yang kita miliki, sangat terbatas. Maka, dalam membaca, kita harus memilih buku sesuai dengan spesialisasi yang akan kita geluti atau sesuai dengan hobi kita. Kita butuh skala prioritas. Dari sekian banyak buku dalam bidang yang kita geluti, kita harus mendahulukan buku yang bergizi; menggerakkan dan mencerahkan. Salah satu cara menentukan buku bergizi adalah carilah buku yang ditulis oleh pakarnya. Dan sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Qur'an dan Hadis Nabi.
  3. Cari pengalaman hidup sebanyak-banyaknya! Catat hal-hal yang menarik atau yang penting selama Anda bergaul. Sa'ad bin Jubair (wafat 714 M) bercerita, "Dalam kuliah-kuliah Ibnu Abbas, aku biasa mencatat pada lembaran; bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku"; dan "ayahku sering berpesan kepadaku, "Hapalkanlah, tapi paling penting adalah catatlah! Bila sampai di rumah maka tuliskanlah! Jika kau memerlukan atau tidak ingat lagi, maka bukumu akan membantumu!" Itulah tradisi ulama Islam zaman dulu. Hingga, pengalaman mereka mendengar dan hasil catatan mereka, menjadi rujukan umat Islam dari masa ke masa.
  4. Biasakan berpikir ilmiah dan berimajinasi! Belajarlah melatih otak untuk melakukan proses metode ilmiah berikut ini: (a) merumuskan masalah; (b) mengajukan hipotesa; (c) verikasi data; (d) menarik kesimpulan. Belajarlah melatih otak dengan metode kreatif berikut ini: (a) mengkhayal sesuatu; (b) merubah —mengurang, menambah, atau menyempurnakan— apa yang ada; dan berani mencoba.
  5. Percayalah pada diri sendiri! Kalau bukan kita yang percaya terhadap karya kita, lalu siapa lagi yang akan menghargainya? Maka, seburuk apapun tulisan kita, percayalah itu adalah yang terbaik dibandingkan dengan hanya berkata: “Ah, kalo tulisan kayak gini, saya juga bisa!”
  6. Disiplin menulis! Tanpa disiplin; teratur dalam menulis, maka kita akan kesulitan menuangkan ide. Yang dibutuhkan adalah kontinunitas (dawam)(istiqamah). Menulis satu paragraf tiap hari jauh lebih baik dari seratus halaman sebulan. Menulis satu jam dalam sehari, jauh lebih baik dari menulis 24 jam atau seharian tapi hanya sekali dalam sebulan.
  7. Seringlah latihan! menulis itu adalah habit. Betapa terkejut saya, saat saya silaturahmi dengan penulis muslim produktif, H. Adian Husaini, MA. —Ketua DDII Pusat Peneliti INSISTS— pada hari Sabtu, 25 Februari 2006, di Griya KSW Cairo, saya bertanya, “Pak, bagaimana proses bapak menjadi seorang penulis produktif?’’ Beliau menjawab,’’menulis itu habit!" Subhânallâh, teryata ungkapan beliau sama dengan kesimpulan saya selama bertahun-tahun; bahwa menulis adalah habit atau kebisaaan.

'Ala kulli hal, apa yang telah saya kemukakan tadi, hanya sebatas lontaran ide dan dalam rangka berbagi pengalaman. Saya sangat yakin, setiap orang memiliki latar belakang berbeda-beda ketika mengalami kesulitan menuangkan makna, seperti perbedaan sidik jari kita. Secara otomatis, solusinya juga akan berbeda-beda. Semakin jelas kita merumuskan masalah kita, maka akan semakin mudah mencari solusi.

Ditambah lagi, apa yang saya paparkan masih bersifat umum, belum secara mendetail membicara persoalan kesulitan menulis. Ada yang sulit membuat judul, ada yang sulit membuat paragraf pertama, ada yang sulit menentukan tema, ada yang sulit mensinkronkan antar kata, antar kalimat, dan antar paragraf dalam tulisan, ada yang sulit memilih diksi yang baik, ada yang sulit menemukan gaya menulis, ada yang sulit mengakhiri tulisan, dan seterusnya.

Semoga tulisan sederhana ini, dapat menggerakkan pikiran Anda dan menggugah hati Anda untuk bersama-sama saling berbagi ilmu. Akhirnya, saran, masukan, dan kritikan membangun dari Anda, selalu saya nantikan. Wallâhu a'lâm.  



48 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kasihbunda wrote on May 13
The Great, Bang. Jazakallah
erwinkusnandar wrote on May 13
terima kasih :) berkat tulisan di atas, jadi pingin nulis lagi :)
hampala wrote on May 13
Very inspiring
udoyamin wrote on May 13
The Great, Bang. Jazakallah
syukron 'ala qira'atik
udoyamin wrote on May 13
berkat tulisan di atas, jadi pingin nulis lagi :)
Ayo, semangat! Inilah saatnya kita untuk menulis! Dengan tulisan kita akan menjadi buah tutur yang baik pada generasi berikutnya
udoyamin wrote on May 13
hampala said
Very inspiring
makasih ya atas komentnya
bambangpriantono wrote on May 13
Ngenetpun jadi inspirasi
udoyamin wrote on May 13
Ngenetpun jadi inspirasi
Makasih Mas, udah mampir. Piye kabare Mas?
bambangpriantono wrote on May 13
Apik-apik byaen ring kene Om....
Lama ndak mampir2 kesini..maklum....hehehehe
inihelfi wrote on May 13
bagaimana cara menyiasati waktu yang sempit?
sal3ho wrote on May 13
sukron akh...ana jadi pengen nulis buku komputer lagi nech...udah 5 bulan tidak aktif nulis buku, tiap hari kerjaannya cuma ngeblog doank.heheheheh pokoknya menulis, menulis dan menulis !!!! Jadikan Penamu sebagai Pembuka Jalan pikiran dan hatimu serta ladang amal jariyah fil yaumil akhir nanti....:)
hampala wrote on May 13
sama2 Mas... pengagum Mas Hernowo juga ya.. di blog saya banyak tuh artikel Mas Hernowo...
udoyamin wrote on May 13
Apik-apik byaen ring kene Om....
Lama ndak mampir2 kesini..maklum....hehehehe
alhamdulillah kalo gitu Mas... hehehe
udoyamin wrote on May 13
bagaimana cara menyiasati waktu yang sempit?
di sinilah peran manajemen waktu sangat penting. Hanya saja, manajemen waktu itu akan bisa kita lakukan bila kepemimpinan pribadi sudah terbangun dalam diri kita. kepemimpinan berbicara apa dan mengapa kita menulis, sedangkan manjemen lebih pada bagaimana kita meraih apa dan mengapa itu. sederhananya, bentuk kepemimpinan pribadi dalam menulis adalah disiplin. cobalah kita mendisiplinkan diri untuk menulis setiap hari, misalnya setiap ba'da shubuh, atau menjelang tidur. jika ini telah berjalan, insya Allah, kita bisa mengatur waktu nulis sesibuk apapun kita. sebenarnya kalau kita mau jujur, masalahnya bukan sibuk atau tidak sibuk, tapi ada pada "kemauan" kita. wallahu a'lam
ciciatjeh wrote on May 13
udo.. thanks... tak mudah memang menulis... disiplin menulis.... menarik!
udoyamin wrote on May 13
sal3ho said
ana jadi pengen nulis buku komputer lagi nech
wah, udo bisa belajar dong ttg komputer, udo lagi gaptek nih...
udoyamin wrote on May 13
hampala said
pengagum Mas Hernowo juga ya
iya, udo suka baca buku2, artikel, dan chatting sama beliau
udoyamin wrote on May 13
disiplin menulis..
ini dia persoalan yg harus kita bangun "DISIPLIN"
sal3ho wrote on May 13
wah, udo bisa belajar dong ttg komputer, udo lagi gaptek nih...
kalau udo gaptek..ana malah gaplis (gagap menulis) heheheheh
udoyamin wrote on May 13
sal3ho said
kalau udo gaptek..ana malah gaplis
kalo gitu, kita barter yuk... hehehe
idnasrsa wrote on May 13
ayo teruskan semangat menulisya.... saya nanti tulisan2 berikutnya... thx.
udoyamin wrote on May 13
ayo teruskan semangat menulisya.... saya nanti tulisan2 berikutnya... thx.
makasih atas supportnya, insya Allah, selama Allah memberikan kesehatan dan kekuatan, akan udo pergunakan waktu untuk menulis
niwanda wrote on May 13
TFS...
dewiekresna wrote on May 13
mksh udo,artikelny bikin ak semangat untuk menulis,soalny ganjalan2 menulis d atas terjadi sama ak jg...
nafi12 wrote on May 13
Wah...syukron katsir ya... menjadi pemicu semangat sy utk lebih banyak membaca dan menulis... ^_^
dartz wrote on May 13, edited on May 13
bang, bolehkah saya post ulang di blog saya ? tetap dengan menyertakan identitas abang sebagai penulis aslinya tentu ?
salam hormat!
Comment deleted at the request of the author.
arrohwany wrote on May 14
Sangat sepakat sekali dengan yang ini:
"Dan sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Qur'an dan Hadis Nabi"
>>> Alquran menjadi pokok pengembangan bahkan hingga ke struktur (pola pengembangan), pola penulisan dan formatting penulisan kita secara jelas merujuk kesana"
Bahkan bukan sekedar pada tulisan kita, namuan dalam seluruh struktur hidup kita, sebagaimana ulama trerdfahulu yang tiuap menyikapi segala sesuatu langsung mengingat apa yang dari alquran dan assunnah
Insya kita akan diberi kekuatan Allah jalan yang lurus...
Insya Allah berkah dan Allah meridhai
Al-Qur'an dan Hadis adalah sebenar-benar ilmu...
elazhar wrote on May 14
TFS.
3amil eh Udo?
semoga selalu diberikan kemudahan dan keselamatan oleh Allah SWT.
AMIN.
arikunto wrote on May 14
TFS ya Do!
Memaknai "Makna"...
Pokoknya tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis ya...?! Hidup Udo...!*
*cepet-cepet nulis lagi... krn inspirasi datang dari Udo...*
udoyamin wrote on May 14
niwanda said
TFS...
makasih balik ya... hehehe
udoyamin wrote on May 14
artikelny bikin ak semangat untuk menulis
alhamdulillah, mudah2an trus semangat...
udoyamin wrote on May 14
nafi12 said
pemicu semangat sy utk lebih banyak membaca dan menulis
yup, mari kita sama2 meningkat daya baca dan tulis kita
udoyamin wrote on May 14
dartz said
bolehkah saya post ulang di blog saya ?
boleh, silahkan, moga bermanfaat
udoyamin wrote on May 14
Insya Allah berkah dan Allah meridhai
Al-Qur'an dan Hadis adalah sebenar-benar ilmu..
amiiin, do'akan smoga udo termasuk orang2 berpegang teguh dgn Al-Quran dan As-Sunnah
udoyamin wrote on May 14
elazhar said
3amil eh Udo?
alhamdulillah kulluna kuwaisyin... wa inta 'amel eh?
udoyamin wrote on May 14
tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis ya...?
iya, trus menulis, untuk berbagi ilmu kepada siapa saja, tidak harus diterbitkan jadi buku atau dimuat dimedia massa... intinya, kita menulis sarana menyampaikan dakwah, bukan ingin disebut penulis
adzdzaki wrote on May 14
Meluapkan makna? mmmm menarik.
udoyamin wrote on May 14
Meluapkan makna? mmmm menarik.
Yup, MELUAP!! Dan sesuatu akan "meluapkan" kalau ada isinya dan penuh. Mudah2an kita termasuk orang dalam dirinya ada "isi dan penuh" ilmu, sehingga kita bisa meluapkan ilmu itu lewat sungai tulisan
elazhar wrote on May 14
alhamdulillah kulluna kuwaisyin... wa inta 'amel eh?
al7amdulillah tamam.
aku pengen mampir nih ke mesir.
tapi kapan ya?
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
ratnajanuarita wrote on May 16
wah ... bagus banget analisanya ... draft naskah buku saya itu juga pernah saya sodorkan kepada pak hernowo ... sekitar oktober/november tahun lalu ... semata-mata untuk dapat kritik dan masukan ... setelah diedarkan juga ke temen2 lain ... akhirnya selesai februari lalu. tapi ... saat ini tidak pede saya-nya hehehe ... :-) mudah2an dgn semangat dari temen2 ... saya bisa mengumpulkan kembali semangat saya untuk menulis :-)

makasih artikelnya ... boleh saya co-pas untuk disimpan pribadi ya :-)
jejakmakna wrote on May 19
Blog ini memang bisa jadi referensi bagi yang mau terus belajar. Terima kasih Udo
udoyamin wrote on May 19
boleh saya co-pas untuk disimpan pribadi ya :-)
silahkan, moga bermanfa'at.... eh ya mbak trus semangat menulis ya! Truslah berjalan, insya Allah, di tengah jalan, akan banyak menemukan jalan.... banyak jalan untuk menulis lho! Kalau mandeg atau ingin cari inspirasi... ya jalan-jalan aja... hehehe
andhies3raxa wrote on May 21
kang udo, rasanya saya harus banyak-banyak belajar dari kang udo nih?
malwapati wrote on May 22
terima kasih, nambah spirit buat disiplin menulis. semoga lain kesempatan kita bisa ketemu..!! salam
sambalacan wrote on Jun 29
syukran ustadz... mencerahkan!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help