Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Blog EntryMENULIS: WARISAN & BEKAL MATIMay 16, '08 4:38 AM
for everyone

Oleh: Udo Yamin Majdi
 

Bismillâh. Ketika saya menjadi pemateri dalam beberapa pelatihan menulis dan jurnalistik, para peserta —teman-teman mahasiswa Indonesia Mesir [Masisir]— sering mengajukan pertanyaan ini: “Apa yang menggerakkan atau memotivasi Udo untuk menulis?” Dengan kata lain, “Apa yang saya harapkan dari kegiatan menulis?”

Sebagai seorang muslim, apapun yang saya lakukan selalu berpijak pada tujuan hidup sekaligus kaidah ini: hayâtunâ kulluhâ ‘ibâdah [Hidup kami semuanya untuk ibadah]. Dan makna ibadah, bukan hanya urusan vertikal (mahdhoh) —sholat, puasa, zakat, haji, dst, melainkan pada tataran horizontal (ghairu mahdhoh) —mencari rizki, mencari ilmu, dan mencari teman hidup. Tiga hal inilah yang dicari dan dibutuhkan oleh manusia.

Menurut nabi Muhammad Saw., mencari rizki, ilmu, dan teman hidup, sebagai bekal setelah mati. Sedangkan bagi Stephen R. Covey, ketiganya, sebagai warisan setelah mati. Nabi memakai istilah shadaqah jâriyah, al-‘ilmu yuntaf’u bihî, dan waladin shâlihin yad’u lahu. Adapun Covey menyebutnya to live, to learn, dan to love.

Meskipun mereka berdua berbeda istilah dan memfungsikannya, namun pada hakikatnya mereka sama, bahwa shodaqah jariyah atau to live tidak mungkin kita capai kecuali dengan bekerja; al-‘ilmu yuntafu’i bihi atau to learn bisa kita raih dengan belajar, dan waladin shalihin atau to love terwujud dengan ikatan atau komitmen.

Lantas, apa hubungan antara motivasi atau harapan menulis saya dengan tiga hal itu? Begini, kalau saya coba rumuskan, yang menggerakan; memotivasi; harapan saya menulis, sebenarnya, tidak pernah lepas dari tiga hal ini:

Pertama, saya menulis untuk shadaqah jariyah atau to live. Sebagai pribadi, apalagi sebagai kepala rumah tangga, saya membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis lainnya. Dan semuanya itu, tidak mungkin saya dapatkan dengan gratis. Butuh yang namanya duit. Untuk dapat duit, saya butuh sebuah pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang memungkinkan untuk saya lakukan —sesuai dengan sikon, kemampuan, dan kemauan atau hobi saya — saat ini adalah menulis.

Sekarang ini, hasil dari menulis saya, baru bisa menutupi sebagian kebutuhan sehari-hari. Saya hanya mampu shadaqoh untuk isteri dan anak-anak saya. Namun saya punya impian, suatu saat nanti —mudah-mudahan Allah mengizinkan— dari kegiatan menulis saya mampu membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ini banyak dilakukan oleh para ulama sejak dahulu hingga saat ini. Dalam konteks Indonesia dan saat ini, itu dilakukan oleh Gola Gong dengan Rumah Dunia; Mohammad Fauzil Adhim dengan SDIT; oleh Habiburrahman El-Shirazy dengan Pesantren Karya BASMALA; Andre Hirata dengan Laskar Pelangi in Action (sekolah gratis), dan yang lainnya. 

Kedua, saya menulis untuk al-ilmu yuntafa’u bihi atau to learn. Sebagai santri dan da’i, saya memiliki kewajiban untuk menyampaikan ilmu yang telah saya peroleh selama ini. Kalau kita meneliti metode dakwah para nabi dan rasul serta salafush shalih, mereka berdakwah menggunakan sarana yang sedang berkembang pada saat itu.

Dan menurut saya, yang berkembang saat ini adalah teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Sudah barang tentu, jika saya hanya menggunakan mulut (ceramah, khutbah, pengajian, dan sejenisnya) saja, maka seruan saya itu tidak ada artinya di tengah banjirnya pengetahuan, ilmu, dan ajakan dari orang lain yang mempergunakan TIK. Oleh sebab itu, selain berdakwah bil lisan, maka saya harus dakwah bil qalam lewat media TIK tersebut, baik itu lewat buku, e-book, blog, milis, media massa, dan yang lainnya. Melalui tulisan, saya menyampaikan dan mengajak manusia kepada Al-Islam.

Menulis dalam rangka al-ilmu yuntaf’u bihi itu, sudah menjadi tradisi ulama terdahulu. Dalam bidang tafsir, kita mengenal Imam Ath-Thobari, Imam Qurtubi, dan seterusnya. Dalam bidang hadis, kita mengetahui Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Abu Dawud, dan seterusnya. Dalam bidang fiqh, kita dapat membaca karya Imam Syafi’i, Imam Hanbali, Imam Maliki, Imam Hanafi, dan yang lainnya. Nah, semangat menyebarkan ilmu untuk memenuhi kebutuhan psikologis itulah, yang memotivasi saya untuk terus menulis.

Ketiga, saya menulis untuk waladin shalihin yad’u lahu atau to love. Sebelum menikah saya berjuang melakukan proses “Qû anfûsakum”, saya juga harus Qû ahlikum [menjaga keluarga] dari an-nâr [api neraka]. Dalam rangka Qû anfusakum ahlikum nârâ [menjaga diri dan keluarga dari api neraka], maka saya dan isteri saya merumuskan visi, misi, dan strategi agar keturunan kami termasuk waladin sholihin yad’u lahi atau generasi sholeh. [menjaga diri sendiri], maka setelah nikah, selain itu

Namun, tak ada artinya, segala rencana untuk meraih impian kami itu, jika saya meninggal dunia. Agar proses pembentukan anak sholeh itu terus berlanjut, maka saya harus mendokumentasikan ilmu, pengetahuan, pemikiran, dan pesan dalam bentuk tulisan, agar dibaca oleh anak-cucu saya nanti.

Menulis untuk anak-cucu itu, lagi-lagi menjadi tradisi para ulama terdahulu, misalnya Imam Ibnu Hajar menulis kitab Bulûghul Marâm untuk anaknya yang ketika itu berumur tujuh tahun. Dan ternyata kitab itu, tidak hanya bermanfa’at untuk anak-cucu Ibnu Hajar saja, melainkan untuk kaum muslimin, bahkan kitab itu menjadi buku pegangan para ustadz dan santri di berbagai pesantren di Indonesia. Dan saya pun, selama ini menulis sebagai bentuk cinta saya terhadap keluarga, khususnya untuk anak-cucu saya nanti agar mereka bisa belajar kepada saya meskipun saya telah lama tiada nanti.

Dari pemaparan singkat saya tadi, terlihat bahwa saya menulis adalah sebuah proses bagi saya untuk menjadi pekerja sejati, pembelajar sejati, dan pecinta sejati. Dan tiga peran ini, jika saya kaitkan dengan duniawiyah, maka berfungsi sebagai warisan setelah mati. Sebaliknya, jika saat kaitkan dengan ukhrawiyah, maka berfungsi sebagai bekal setelah mati. Oleh karena itu, menulis bagi saya adalah warisan sekaligus bekal untuk menjemput kematian.

Keinginan untuk meninggalkan warisan dan mempersiapkan bekal itu terungkap dengan indah dalam do’a nabi Ibrahim as, “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi generasi selanjutnya serta jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” Wallâhu a’lâmu. (QS. Asy-Syu’raa [26]: 85). Jadi, sekali lagi, saya menulis merupakan sebuah upaya untuk memberikan warisan yang terbaik untuk anak-cucu saya nanti dan sebagai bekal untuk meraih surga.


*  *  *


NB: Minta do'anya, agar Allah Swt. membantu dan memberikan kemudahan kepada saya untuk menuliskan hal-hal yang bisa menjadi warisan terbaik sekaligus bekal saya untuk meraih surga


38 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ratnajanuarita wrote on May 16
betul sekali udo ... saya baru saja menulis di jurnal saya juga demikian ... paling tidak, kita bisa mengomunikasikan gagasan atau renungan kita kepada generasi mendatang yang tidak akan kita jumpa. pemikiran ini muncul saat saya ingin sekali ada yang menerbitkan draft naskah buku memoar haji saya. dengan suami, kami sudah berdiskusi, kalo sampe pun tidak ada penerbit yang bersedia nerbitin :-( ... insya Allah mau self-publishing aja ... kalo gak pede jual ... ya cetak 1000 aja, lalu bagikan kepada kerabat dan terutama untuk keturunan kami kelak yang tidak akan kami jumpai ... bayangan saya, mereka akan membaca buyut-nya pernah punya pemikiran ini dan itu melalui buku itu ... dan ... kalo dibaca orang ... lalu yang baca itu tergugah ... mudah2an menjadi jariyah yang terus mengalir kepada kami kelak ... nah ... sekarang saya sedang memperjuangkannya :-) mohon doanya ya udo ... kalo sedang adawaktu, mampir ya tengok2 jurnal saya ada posting terbaru tentang draft naskah buku saya ini :-) wass
sal3ho wrote on May 16
subhanalloh akhi udo...sukron artikelnya yach...sangat bermanfaat sekali. jadi teringat surat al qolam dech....:)
abusyamil wrote on May 16
jazakallah sdh berbagi
nafi12 wrote on May 16
subhanallah.... keep writing yaa...
*memotivasi diri sendiri juga utk nulis*
bundaafkar wrote on May 16
semoga tercapai semua yang dicita2kan dan diridhoi oleh Allah SWT, amin...:)
TFS very valuable article
ikhwanlampung wrote on May 16
amiin........
ilalanggurun wrote on May 16
bagus tuh, mang..
elazhar wrote on May 16
TFS.
semoga segala tulisan Udo menjadi pemberat timbangan amal kebaikan yang akan mengantar Udo ke surga-Nya yang kekal.
AMIN.
udoyamin wrote on May 16
mudah2an menjadi jariyah yang terus mengalir kepada kami kelak ... nah ... sekarang saya sedang memperjuangkannya :-) mohon doanya ya udo
amiin, udo berdo'a mudah2an cepat terbit, sehingga pengalamanmu menjadi warisan bagi generasi selanjutnya dan bekal meraih surga
udoyamin wrote on May 16
sal3ho said
sukron artikelnya yach.
terima kasih juga ya, udah menyempatkan diri membaca tulisan udo
Comment deleted at the request of the author.
udoyamin wrote on May 16
jazakallah sdh berbagi
sama2, makasih ya dah berkunjung
udoyamin wrote on May 16
nafi12 said
*memotivasi diri sendiri juga utk nulis*
tetap semangat, truslah menulis, maka akan abadi
udoyamin wrote on May 16
semoga tercapai semua yang dicita2kan dan diridhoi oleh Allah SWT, amin...:)
amiiin ya rabbal 'alamiiin
udoyamin wrote on May 16
syukron atas do'anya
udoyamin wrote on May 16
bagus tuh, mang..
terus semangat Rif, jgn berhenti menulis
udoyamin wrote on May 16
elazhar said
semoga segala tulisan Udo menjadi pemberat timbangan amal kebaikan yang akan mengantar Udo ke surga-Nya yang kekal.
amiin allhumma amin ya rabb!
kopiradix wrote on May 16
Terima kasih atas motivasi menulis yang diberikan, jadi saya jadi termotivasi utk menulis lebih banyak lagi. Menurut Bapak, tulisan yang sudah ada di blog kita harus kita buat jadi apa lagi, apakah perlu dibukukan atau disebarluaskan?
udoyamin wrote on May 16
Menurut Bapak, tulisan yang sudah ada di blog kita harus kita buat jadi apa lagi, apakah perlu dibukukan atau disebarluaskan?
Menurut saya, tergantung dgn kita, kalau kita memang berniat untuk diterbitkan alam bentuk buku, mengapa tidak? Betapa banyak tulisan berawal dari blog.
arrohwany wrote on May 16, edited on May 16
Visi yang hampir sama persis akh...
awal dulu ana suka nulis (masih imut-imut SMP)

Ini coretan waktu ana masih cupu  :)

Ini puisiku
Syair yang menulis dirinya sendiri
Menulis yang terukir dikedalaman hati
Kucungkil dan kuhaluskan di lembar-lembar kosong
Dipilar-pilar baris yang lebih elok menjangkau langit
Dalam mysterinya sendiri mengucap keabadian
Huruf-huruf tersaput kabut





Puisiku lahir dari kata-katanya sendiri
Dari keindahan senja dimatahari terbenam
Meski kuingin terus menanam
Dijalan tak usai di mimpi tak kesampaian
Aku berlompatan…
Mungkin disanalah puisiku
Berkibar di panji-panji langit, pada do’a-do’aku
Pada jiwa tekun mengaji






Puisiku bermula dari kegetiran
Hingga do’a kuhambur-hambur
Dan kata-katanya adalah lidahnya sendiri
Jejak dari orang-orang terdahulu
Sebagaimana ini warisanku
Sesederhana apapun bahasanya…




Kutulis karya hatiku
Dalam coreng-moreng yang selalu latin
Karna hidup takkan bertitik
Dan untaian huruf inipun hanya draft belaka
Takkan sempurna akan terus berubah
Nafas ini kesayangan zaman masing-masing
Semoga puisiku buaian tiap masa
Meski agak buram
Maaf, tulisanku jelek amat…







Mungkin inilah jalanku
Diantara bertumpuk buku dan tulisan tak habis-habis
Didalam masjid merangkai lagi goresan
Ditiap dinding coretan berserakan
Tak lagi syair mabuk didunianya sendiri
Sedang dihati bumi penuh sepi
Tiap masjidku adalah bumi berkubah langit
I’tikaf dalam kata-kata terpilih
Untuk anak-cucuku kutinggal langkah
Harta karun tak habis-habis








Dengan izin Allah
Apa yang kutulis akan bermakna dan menjadi madu bersemayam ditiap hati
Namun Allahpun bisa membuat semuanya sia-sia
Kuserahkan segalanya pada-Nya…




Kredo

Tak perlu kau baca puisiku
Bila sekedar mengharap keindahan kata-kata
Sebab puisiku bukan kembang jalan
Puisiku bukan hiasan kamar
Puisiku penuh peluh, berasal dari luka-lukaku sendiri
Bahkan pedihnya tak sempat kuperban




Kuingin kakiku mampu berdiri
Beranjak dari keringkihanku sendiri
Meski dari langkah-langkah kecil
maka tinggalkan puisiku
Jika cuma terbuai kata-katanya sendiri
Tak ada silau keindahan disini
Sebab puisiku lahir dari jiwa tertatih
Masih merintih, mengaduh, gelisah
Tapi puisiku bukan rongsokan
Kuhaturkan jejakku pada Arrahman
Kepada-Nya segalanya kupersembahkan









Ini tentang kebenaran
Yang seringkali kalah oleh adonan-adonan istilah dan buku falsafah
Dibacakan sebagai puisi bagi perut lapar
Menjadi rumput kering bagi keledai
Apa arti wewangian?
Semoga bukan puisiku
Yang kucipta di kesepian
Syairku bukan sekedar hiasan
Hanya bagi-Nya takkan tersekutukan









Semoga kita semua bisa berusaha untuk bertanggung-jawab dnegan tulisan-tulisan kita...
Menjadi warisan yang mengantarkan pada kebaikan selanjutnya, dan dijauhkan Allah dari kesia-siaan dan keburukan amalan kita....


Merenungi....
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi generasi selanjutnya serta jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” Wallâhu a’lâmu. (QS. Asy-Syu’raa [26]: 85)

"Minta do'anya, agar Allah membantu dan memberikan kemudahan kepada saya untuk menuliskan hal-hal yang bisa menjadi warisan terbaik sekaligus bekal saya untuk meraih surga"
>>> Aamiin.....
iwananashaya wrote on May 16
*mengaminkan doa semuanya dan doa saya sendiri.*

barakallaah.. amiin..
udoyamin wrote on May 17
Semoga kita semua bisa berusaha untuk bertanggung-jawab dnegan tulisan-tulisan kita...
Menjadi warisan yang mengantarkan pada kebaikan selanjutnya, dan dijauhkan Allah dari kesia-siaan dan keburukan amalan kita....
amiiin ya rabbal 'alamin
udoyamin wrote on May 17
*mengaminkan doa semuanya dan doa saya sendiri.*

barakallaah.. amiin..
terima kasih atas do'anya
heyrina wrote on May 17
Tulisan yang mencerahkan.. ^^
trmksh udh di share
semoga karya-karya bang udo barokah untuk kita semua...
amin..
lafatah wrote on May 17
makasih atas tulisannya, udo...
saya makin termotivasi untuk nulis hal2 yang bermanfaat nih!!!
udoyamin wrote on May 17
heyrina said
semoga karya-karya bang udo barokah untuk kita semua...
amiiin ya rabb... udo skrg lagi belajar nulis nih
udoyamin wrote on May 17
lafatah said
saya makin termotivasi untuk nulis hal2 yang bermanfaat nih!!!
yup, mari kita tulis sesuatu yg bermanfa'at, sehingga terjauh dr hal sia2
heyrina wrote on May 17
amiiin ya rabb... udo skrg lagi belajar nulis nih
salut untuk udo..
udo yg fasih menulis aja terus belajar
sungguh malu kami yg awam jika msh malas belajar..
smoga saya & temen2 bisa belajar banyak dari udo ^_^
udoyamin wrote on May 17
heyrina said
udo yg fasih menulis aja terus belajar
wah, justru udo yg malu, masa disebut fasih? justru karena merasa belum bisa nulis, udo saat ini ikutan SMO (sekolah menulis online), eh ya, gimana khabarmu?
heyrina wrote on May 18, edited on May 18
wah, justru udo yg malu, masa disebut fasih? justru karena merasa belum bisa nulis, udo saat ini ikutan SMO (sekolah menulis online), eh ya, gimana khabarmu?
Alhamdulillah baik udo.. trimakasih
mudah2an udo&keluarga jg baik ya..

saya ambil kelas fiksi, bimbingan pak jonru
mudah2an udo berkenan membagi ilmu
skaligus mengomentari tulisan sy yg buruk biar bisa terus belajar sperti udo
^_^
zulfigitu wrote on May 18
Jzk....

di bloginteraktif tempo juga disebutkan kalau menulis tu juga bagian dari ikhtiar mereduksi 'lupa'....

Semoga kita bisa terus menulis dengan baik. Amien
rajabahak wrote on May 18
hmmm...,di Mesir kuliah?
jejakmakna wrote on May 19
Luar biasa !!!! Saya mendapat cara pandang baru dan tambahan energi dari tulisan ini
Terima kasih banyak Udo
udoyamin wrote on May 19
heyrina said
saya ambil kelas fiksi, bimbingan pak jonru
mudah2an udo berkenan membagi ilmu
skaligus mengomentari tulisan sy yg buruk biar bisa terus belajar sperti udo
hehehe, kalo udo ngambil Non-Fiksi, tutor Kang Olih. Yup, selama udo sanggup, insya allah, udo akan bantu. kita belajar barengan aja ya
udoyamin wrote on May 19
menulis tu juga bagian dari ikhtiar mereduksi 'lupa'....
Yup, sarana tidak lupa, itu termasuk pada tujuan kedua: al'ilmu yuntafa'u bihi
udoyamin wrote on May 19
,di Mesir kuliah?
iya kuliah bersama isteri sambil ngasuh anak... hehehe
udoyamin wrote on May 19
mendapat cara pandang baru dan tambahan energi
alhamdulillah... memang ini tujuan udo nulis, ingin mengajak para penulis untuk merubah paradigma kapitalis; industri; dan sekuler..., tak ada artinya best seller jika toh itu menjadi jalan menjerumuskan diri ke dasar neraka
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help