Oleh: Udo Yamin Majdi
Bismillâh. Ketika saya menjadi pemateri dalam beberapa pelatihan menulis dan jurnalistik, para peserta —teman-teman mahasiswa Indonesia Mesir [Masisir]— sering mengajukan pertanyaan ini: “Apa yang menggerakkan atau memotivasi Udo untuk menulis?” Dengan kata lain, “Apa yang saya harapkan dari kegiatan menulis?”
Sebagai seorang muslim, apapun yang saya lakukan selalu berpijak pada tujuan hidup sekaligus kaidah ini: hayâtunâ kulluhâ ‘ibâdah [Hidup kami semuanya untuk ibadah]. Dan makna ibadah, bukan hanya urusan vertikal (mahdhoh) —sholat, puasa, zakat, haji, dst, melainkan pada tataran horizontal (ghairu mahdhoh) —mencari rizki, mencari ilmu, dan mencari teman hidup. Tiga hal inilah yang dicari dan dibutuhkan oleh manusia.
Menurut nabi Muhammad Saw., mencari rizki, ilmu, dan teman hidup, sebagai bekal setelah mati. Sedangkan bagi Stephen R. Covey, ketiganya, sebagai warisan setelah mati. Nabi memakai istilah shadaqah jâriyah, al-‘ilmu yuntaf’u bihî, dan waladin shâlihin yad’u lahu. Adapun Covey menyebutnya to live, to learn, dan to love.
Meskipun mereka berdua berbeda istilah dan memfungsikannya, namun pada hakikatnya mereka sama, bahwa shodaqah jariyah atau to live tidak mungkin kita capai kecuali dengan bekerja; al-‘ilmu yuntafu’i bihi atau to learn bisa kita raih dengan belajar, dan waladin shalihin atau to love terwujud dengan ikatan atau komitmen.
Lantas, apa hubungan antara motivasi atau harapan menulis saya dengan tiga hal itu? Begini, kalau saya coba rumuskan, yang menggerakan; memotivasi; harapan saya menulis, sebenarnya, tidak pernah lepas dari tiga hal ini:
Pertama, saya menulis untuk shadaqah jariyah atau to live. Sebagai pribadi, apalagi sebagai kepala rumah tangga, saya membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis lainnya. Dan semuanya itu, tidak mungkin saya dapatkan dengan gratis. Butuh yang namanya duit. Untuk dapat duit, saya butuh sebuah pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang memungkinkan untuk saya lakukan —sesuai dengan sikon, kemampuan, dan kemauan atau hobi saya — saat ini adalah menulis.
Sekarang ini, hasil dari menulis saya, baru bisa menutupi sebagian kebutuhan sehari-hari. Saya hanya mampu shadaqoh untuk isteri dan anak-anak saya. Namun saya punya impian, suatu saat nanti —mudah-mudahan Allah mengizinkan— dari kegiatan menulis saya mampu membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ini banyak dilakukan oleh para ulama sejak dahulu hingga saat ini. Dalam konteks Indonesia dan saat ini, itu dilakukan oleh Gola Gong dengan Rumah Dunia; Mohammad Fauzil Adhim dengan SDIT; oleh Habiburrahman El-Shirazy dengan Pesantren Karya BASMALA; Andre Hirata dengan Laskar Pelangi in Action (sekolah gratis), dan yang lainnya.
Kedua, saya menulis untuk al-ilmu yuntafa’u bihi atau to learn. Sebagai santri dan da’i, saya memiliki kewajiban untuk menyampaikan ilmu yang telah saya peroleh selama ini. Kalau kita meneliti metode dakwah para nabi dan rasul serta salafush shalih, mereka berdakwah menggunakan sarana yang sedang berkembang pada saat itu.
Dan menurut saya, yang berkembang saat ini adalah teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Sudah barang tentu, jika saya hanya menggunakan mulut (ceramah, khutbah, pengajian, dan sejenisnya) saja, maka seruan saya itu tidak ada artinya di tengah banjirnya pengetahuan, ilmu, dan ajakan dari orang lain yang mempergunakan TIK. Oleh sebab itu, selain berdakwah bil lisan, maka saya harus dakwah bil qalam lewat media TIK tersebut, baik itu lewat buku, e-book, blog, milis, media massa, dan yang lainnya. Melalui tulisan, saya menyampaikan dan mengajak manusia kepada Al-Islam.
Menulis dalam rangka al-ilmu yuntaf’u bihi itu, sudah menjadi tradisi ulama terdahulu. Dalam bidang tafsir, kita mengenal Imam Ath-Thobari, Imam Qurtubi, dan seterusnya. Dalam bidang hadis, kita mengetahui Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Abu Dawud, dan seterusnya. Dalam bidang fiqh, kita dapat membaca karya Imam Syafi’i, Imam Hanbali, Imam Maliki, Imam Hanafi, dan yang lainnya. Nah, semangat menyebarkan ilmu untuk memenuhi kebutuhan psikologis itulah, yang memotivasi saya untuk terus menulis.
Ketiga, saya menulis untuk waladin shalihin yad’u lahu atau to love. Sebelum menikah saya berjuang melakukan proses “Qû anfûsakum”, saya juga harus Qû ahlikum [menjaga keluarga] dari an-nâr [api neraka]. Dalam rangka Qû anfusakum ahlikum nârâ [menjaga diri dan keluarga dari api neraka], maka saya dan isteri saya merumuskan visi, misi, dan strategi agar keturunan kami termasuk waladin sholihin yad’u lahi atau generasi sholeh. [menjaga diri sendiri], maka setelah nikah, selain itu
Namun, tak ada artinya, segala rencana untuk meraih impian kami itu, jika saya meninggal dunia. Agar proses pembentukan anak sholeh itu terus berlanjut, maka saya harus mendokumentasikan ilmu, pengetahuan, pemikiran, dan pesan dalam bentuk tulisan, agar dibaca oleh anak-cucu saya nanti.
Menulis untuk anak-cucu itu, lagi-lagi menjadi tradisi para ulama terdahulu, misalnya Imam Ibnu Hajar menulis kitab Bulûghul Marâm untuk anaknya yang ketika itu berumur tujuh tahun. Dan ternyata kitab itu, tidak hanya bermanfa’at untuk anak-cucu Ibnu Hajar saja, melainkan untuk kaum muslimin, bahkan kitab itu menjadi buku pegangan para ustadz dan santri di berbagai pesantren di Indonesia. Dan saya pun, selama ini menulis sebagai bentuk cinta saya terhadap keluarga, khususnya untuk anak-cucu saya nanti agar mereka bisa belajar kepada saya meskipun saya telah lama tiada nanti.
Dari pemaparan singkat saya tadi, terlihat bahwa saya menulis adalah sebuah proses bagi saya untuk menjadi pekerja sejati, pembelajar sejati, dan pecinta sejati. Dan tiga peran ini, jika saya kaitkan dengan duniawiyah, maka berfungsi sebagai warisan setelah mati. Sebaliknya, jika saat kaitkan dengan ukhrawiyah, maka berfungsi sebagai bekal setelah mati. Oleh karena itu, menulis bagi saya adalah warisan sekaligus bekal untuk menjemput kematian.
Keinginan untuk meninggalkan warisan dan mempersiapkan bekal itu terungkap dengan indah dalam do’a nabi Ibrahim as, “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi generasi selanjutnya serta jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” Wallâhu a’lâmu. (QS. Asy-Syu’raa [26]: 85). Jadi, sekali lagi, saya menulis merupakan sebuah upaya untuk memberikan warisan yang terbaik untuk anak-cucu saya nanti dan sebagai bekal untuk meraih surga.
* * *
NB: Minta do'anya, agar Allah Swt. membantu dan memberikan kemudahan kepada saya untuk menuliskan hal-hal yang bisa menjadi warisan terbaik sekaligus bekal saya untuk meraih surga