Oleh: Udo Yamin Majdi Bismillâh. Selama ini, karena saya tinggal di Mesir, maka buku yang saya baca lebih banyak buku berbahasa Arab. Dalam minggu ini, selain buku-buku akademis, hari-hari saya ditemani oleh buku “Sayyid Quthub: Al-Adîb an-Nâqid, wa ad-Dâ’iyah al-Mujâhid, wa al-Mufassir al-Râid. Buku terbitan Damaskus ini, ditulis oleh Sholah Abdul Fattah Al-Khalidy. Karena saya ikutan Sekolah Menulis Online [SMO] dan penyelenggaranya berada di Indonesia, maka saya meminjam buku milik FLP Mesir —dan dari teman— yang berbahasa Indonesia, agar saya bisa memahami struktur, gaya, diksi, dan cita rasa (zawwuq) bahasa Indonesia. Akhirnya, saya pinjam buku ini: FSQ: Memahami, Mengukur, dan Melejitkan Financial Spiritual Quotient untuk Keunggulan Diri, Perusahaan & Masyarakat karya Iman Supriyono, Catatan Hati Seorang Isteri karya Asma Nadia, Tuhan Jangan Tinggalkan Aku karya Pipiet Senja, Kumcer Kelopak Mawar Terakhir karya Irwan Kelana, dan Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Al-hamdulillâh, dalam tiga hari, lima buku itu, saya baca tamat. Terlalu panjang, jika saya ceritakan semua buku tersebut. Saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang buku terakhir: Sang Pemimpi. Bagaimana buku ini menurut saya? Untuk buku ini, saya angkat dua jempol tangan saya. Betapa tidak? Jika —salah satu— fungsi buku adalah menghibur, maka buku ini telah menghibur saya. Setidaknya, selama saya membaca buku itu, saya seperti orang gila. Sehingga ketika saya baca di atas bus, penumpang di sekitar saya menatap saya dengan pandangan aneh. Atau, saat saya baca dekat isteri dan dua anak saya, mereka jadi ikut tertawa: menertawakan saya, karena saya tertawa sendirian. Seperti buku sebelumnya —Laskar Pelangi, buku Sang Pemimpi ini, mampu mengajak saya untuk bernostalgia ketika saya seusia Arai dan Ikal. Sebab, apa yang Andrea Hirata ceritakan di Belitong, juga terjadi pada saya dan teman-teman saya di daerah pesisir Lampung Barat. Ditambah lagi, proses mereka menuju Univesite de Paris di Sarbonne, Prancis, mengingatkan perjalanan hidup saya hingga kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Kami memang sama-sama mendapat beasiswa. Hanya saja bedanya antara saya dan tokoh Sang Pemimpi —Ikal dan Arai— itu, saya ke Cairo, sedangkan mereka ke Sarbonne. Saya dapat beasiswa, karena semata-mata rahmat Allah Swt, sedangkan mereka memang orang pintar. Saya berawal dari "mimpi" dalam tidur, sedangkan mereka "impian" dalam kelas.
O iya, sedikit menyimpang dari obrolan kita, saya ceritakan tentang "mimpi" saya itu. selama enam tahun menjadi santri, saya tinggal di asrama putra pondok pesantren. Di sinilah pertama kali saya "melihat" Mesir. Dalam tidur saya, saya bermimpi sedang berada di Mesir. Saya anggap hal yang biasa.
Mimpi saya kelas dua mu'allimin (SLTA) itu, baru sadari ketika dua tahun kemudian saya berada di "Negeri Ayat-Ayat Cinta". Sebab, saya merasa aneh, ketika saya sedang jalan-jalan, saya seolah-olah pernah melakukannya. Padahal saya baru pertama kali ke sana.Ternyata apa yang saya saksikan di Cairo, ternyata dulu saya "lihat" dalam mimpi.
Aneh ya? Saya juga aneh. Bukan satu-dua kali saya mengalami hal ini —bermimpi, lalu terjadi. Sebagai contoh, ketika satu tahun saya di Mesir, tahun 2001, saya bermimpi Aa Gym poligami. Tentu saja teman-teman saya menertawakan saya, mana mungkin Aa Gym nikah lagi, sebab apa yang Aa Gym butuhkan ada pada Teh Ninih? Namun setelah Aa Gym menikah lagi tahun kemaren, 2007, maka saya tersenyum mengingat mimpi saya enam tahun yang lalu. Kok bisa gitu? Wallahu a'lam.
Baik, kembali ke tokoh Sang Pemimpi. Saya begitu mudah berteman dengan sang tokoh, baik Ikal maupun Arai. Jadi betul, kata Josip Novkovich bahwa pada umumnya orang membaca cerita bukan karena plotnya, melainkan (karena tokohnya) bisa dijadikan teman pada waktu senggang. “Ceritakan kepadaku tentang diriku. Aku ingin lebih hidup. Beri aku diri”, tulis Josip dalam buku Berguru kepada Sastrawan Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi (Kaifa, 2003). Dan Andrea Hirata mampu menghadirkan diri saya dalam novelnya, maka menurut saya —sekali lagi— novel itu sangat menarik, meskipun kalau saya takar dengan timbangan sastra, tentu saja ada kekurangan, terutama tentang plotnya. Wallahu a’lâm
 | Ulasan yg menarik. Sampai skr aku kurang paham dengan istilah plot ini Udo, bisa jelaskan lebih lanjut???
Eh, Udo skr sudah tambah jago dung ya semenjak ikutan SMO :-p |
 | Berani bermimpi, asal jangan mimpi yang jelek-jelek aja :). |
 | assalamu'alaikum,,,salam kenal udo. *bener ga sih manggilnya gitu*
nice posting,,, ^_^
mimpi terkadang memang awal dari sebuah perjalanan menuju cita ya udo. Akmal juga dulu pas baru2 kuliah S1 (skitar 7 tahun lalu) pernah mimpi kuliah ke negri Lady Dy,,,eh skrg alhamdulillah lagi disini nih nerusin master...Subhanallah Allah maha Kuasa atas segalanya *_*
Menurut akmal, kalo mau mendaki puncak tinggi sebuah bukit keberhasilan,,,maka jangan pernah takut bermimpi ~_^ (btw, mimpi disini dikasi Allah kali ya hehehe)
mampir2 ke site akmal yg sederhana ya udo :)
mau kabur dulu ya (maaf ni udo), akmal pusing liat glipse di site udo yg kelap-kelip (secara mata akmal punya masalah ama silinder jd ga tahan deh),,,,see u n lam kenal dr kejauhan england ;) |
 | Ditunggu karya terbarunya, yang lebih dari "Sang Pemimpi". Mungkin Penakluk Mimpi :D Tetap semangat berkarya!!! |
 | mimpi saya hanya ingin bahagia saja.. :) |
 | Ulasan yg menarik. Sampai skr aku kurang paham dengan istilah plot ini Udo, bisa jelaskan lebih lanjut???
Eh, Udo skr sudah tambah jago dung ya semenjak ikutan SMO :-p  dari sedikit yg udo fahami, plot=alur=jalan cerita. Sederhananya plot itu seperti hubungan antara otak dan otot dalam tubuh kita sehingga terjadi sesuatu. Kalau di jurnalistik kita kenal 5W+1H, maka plot menjawab 2W+1H = what (apa yang terjadi?), why (mengapa hal itu terjadi), dan how (bagaimana sih proses kejadian itu). Biasanya plot muncul dari karakter tokoh dan seting (baik itu seting waktu maupun tempat). Untuk mempelajari plot ini, mari kita lihat Al-Quran, surat Yusuf. Pertama Al-Quran menceritakan mimpi di awal cerita (ayat 3) tentang 11 bintang, matahari, dan rembulan, dan makna mimpi ini ada di akhir cerita (ayat 100). Nah, jalan cerita dari ayat 3 hingg 100 itulah yang disebut plot. Di sana ada kisah Nabi Yusuf masuk sumur, trus dijaul pedagang, tinggal di rumah pejabat, di rayu isteri pejabat (Zulaikha), difitnah dan masuk penjara, dakwah di penjara, keluar penjara jadi menteri keuangan, bertemu dengan suadara kandung (Bunyamin), dan akhirnya ketemu sama seluruh keluarga (nabi Ya'qub). Dari sana kita lihat, plotnya berbentuk "penyingkapan" (efipani) dari sebuah mimpi. Dan kita lihat, karakter yang dimunculkan adalah optimis, sabar, dan pema'af. Coba, kalau misalnya nabi Yusuf seorang putus asa dan bunuh diri ketika dalam sumur, apakah ada kejadian lain setelah itu? Lebih baiknya, coba baca surat Yusuf. Sebab Allah telah memberikan endorsment bahwa surat Yusuf adalah Ahsanul Qashash (The Best Story). Insya Allah, suatu saat nanti udo akan menulis buku tentang kisah nabi Yusuf ini. Minta do'anya, biar umat Islam punya pegangan, ketika orang lain mencibir "Sastra Islami" itu tidak ada. |
Comment deleted at the request of the author.
 | setuju,sang pemimpi emang menghibur banget,,udo bikin juga donk perjalanan sampe bisa k mesir..d tunggu..he.. |
 | baca juga totto chan - tetsuko kuroyanagi dan roald dahl yang boy tales of childhood |
 | hmm.. sya coba cari dulu ya |
 | baca juga totto chan - tetsuko kuroyanagi dan roald dahl yang boy tales of childhood  waaaaaa,,,,,akmal suka banget baca "Totto Chan"....subhanallah nice story...
Buku itu salah satu buku motivator buat Akmal pribadi,,,,akmal salut deh ama gurunya Totto chan...
btw, resume buku Totto chan yg akmal tulis pas disurabaya itu jg salah satu yg bikin akmal jd semangat 45 ikut test IELTS ^_^
Ganbatte Kudasai!!!!
|
 | iya nih, kalo ada 20 orang yg belajar negeri nulis pengalamannya, udo mau nyunting dan nyarikan penerbitnya... misalnya kita buat buku judulnya: MENDAKI MIMPI: Memoar Penuntut Ilmu di Luar Negeri, hehehe, ayo siapa lagi nih, mau ikut?  wah makin semangat nih udo....jd semacam challenge juga kan. siapa tau beneran bisa terlaksana ya udo,,,,,asal ada niat insy dipermudahNya kan...so mari kita bermimpi dan berbuat skrg juga!!!!!!!! *halaah semangat 45 hihihi*
ayoooo sapa lagi yg mau ikutannnnnn.....cepetan2...cepetan2.....stok terbatas,,,,harga terjangkau,,,,buy one get one free (halaaaaaaaahh malah kaya lelang barang hahaha) |
 | Wah, jadi tertarik membaca ulasan kang udo tentang mimpi :) jadi ingat mimpi saya yang kadang juga kejadian. Memang inilah yang disebut rahasia mimpi. |
 | Penulis yang baik adalah yang bisa mengajak kita dalam alur ceritanya,seolah kita hadir di situ...... Saya temukan hal ini pada Laskar Pelangi......dan mungkin juga yang lain nya, sebab saya baru baca Laskar Pelangi.... |
 | Jika membaca cerita lebih lanjutnya sambungan "sang pemimpi" yaitu "endensor" maka disana benar2 mimpi yang menjadi kenyataan... Benar kata kang Udo ketika "mengingat mimpi enam tahun yang lalu" yang menjadi kenyataan, begitu juga yang terjadi dengan buku "endensor" jadi Wallahu a'lam mengapa itu bisa terjadi.... |
 | oya udooo,,,,akmal dah betah lama2 ni soalnya glipse nya udah ga ada ~_^ |
 | wah... jangan-jangan udo pernah mimpi bahwa saya bakalan ngisi comment disini... hihihi...
emang serasa dejavu kala impian terwujud jadi kenyataan... itu juga yang saya alami... perwujudan sebuah kemustahilan dari logika berpikir manusia... ALLAH memang Maha Pembuat Skenario Terbaik... dari awal sampai ending pasti terselip misteri.... ;)... Subhanallah... |
 | oya udooo,,,,akmal dah betah lama2 ni soalnya glipse nya udah ga ada ~_^  iya nih, dlm sebulan ini udah 3 kali ganti background, karena ada masukan dari teman2, tadi dicoba makai backgroun foto "Edensor", tapi loadingnya berat, terpaksa deh, cuma menghilang glipseya aja |
 | betul, saya juga merasa menemukan bagian diri saya di buku itu
sedang baca lanjurtannya nih Edensor, hehehe |
 | Hello udo, saya juga suka baca buku buku andrea, totto chan bahkan punya roald dahl sudah baca semua. Apakah mimpi yang kita alami beneran bisa dikatakan de ja vu ? |
 | Alhamdulillah ketika kita selalu berpikir&brperasaan positif kenikmatan2 dibukakan 1/satu.... walo dlm wujud2 yang kecil, ketika disyukuri terasa nikmat luar biasa sedikit sedikit lama2 jadi bukit heheheh...
wahh sy sih blum dapet kesempatan "study abroad" nih tp mengenal temen2 yang bnyk kuliah diluar negeri seperti udo salah satu keajaiban buat saya .. nambah ilmu tambah pahala siapa tau, saya jadi ketularan dpt berkah sekolah lagi heheheh amiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnn |
 | hehehe... itu jelas, wa ilaihi turja'ul umur (kepada-Nya persoalan bermuara), cuma sebagai makhluk yg telah diberi otak, terkadang kita butuh sebuah penjelasan..., mudah2an kalo ada waktu dan memang dibutuhkan udo akan menulis tema ini: THE SECRET OF DREAM, cuma udo ingin minta masukan dari teman2, kira2 dari tema mimpi ini, fokusnya di mana? Biar apa yg udo tulis, bermanfa'at dan nyambung. Gitu loh! Hehehe  udo udah baca "quantum ikhlas, law of attraction, dll ?" mungkin bisa membantu dari sisi ilmiah-nya |
 | Wah... ikutan SMO ya? Kerren .... Udo mqn jago aza dong tulis-menulisnya ... Jadi pengen mau de .... ^_^ Hehehe
Buku2nya Andrea emang ttg 'kisah pendidikan'nya dia sndiri..memotivasi, saya jadi ingin lbih banyak b'mimpi nih ... (mdh2n bukan mimpi buruk He..) 'mimpi' blajar di negri org spt Udo ...
Chayo, Udo, saya dukung de 'The Secret of Dream' nya ...
Keep Hamasah ....!!! (^_^)V
|
 | Wah, bakalan ada best seller berikutnya niiih... sata tunggu ya! |
 | wah, keren, berarti memang mas udo itu orang yang shaleh ^_^ mimpi yang kuat :) |
 | saya juga sudah baca seri Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Enderson. nice story. segala sesuatu memang berasal dari mimpi ya mas Udo. mimpi yanbg kita kejar dgn sungguh2 dalam doa dan ihtiar. selamat bermimpi mas... |
 | bang udo, saya juga pengen ke mesir. malah kalo bisa, tinggal selamanya di Makkah. mudah2an tercapai ya.... saya sedang mencari jalan kesana |
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | Saya membaca Sang Pemimpi rasanya seperti membaca kumpulan Cerpen. Seperti Udo bilang bahasa dan penokohannya sangat memikat, tapi alur ceritanya, plot,...aduh..jauh dah., apalagi kalau dibandingkan dengan Da Vinci Code misalnya. Apa mungkin karena ini adalah Tetralogi, Andrea Hirata sengaja menyimpan potongan puzzlenya untuk buku ke empat (Endersor)? |
| |