Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: about cairo

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag about cairo
Blog EntryPiknik ke Tempat Pameran Buku Kairo Yuk!Feb 1, '08 12:21 PM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Majdi

Sejak tiga hari (Jum'at, 26/01/2008) yang lalu, saya ingin sekali ke ma'rodh (Cairo International Book Fair 40) dan silaturahmi ke rombongan IKAPI, terutama sama Kang Abik, namun selalu batal. Ada-ada saja halangan, baik tugas di rumah, anak flu, hujan, dan orang yang ingin bertamu ke rumah. Ba'da sholat Jum'at, Maher dan temannya datang mengembalikan buku yang Maher pinjam. Ba'da Asar, Ahmad Syarif ke rumah, ingin mengambil Tahu pesanan untuk catering IKAPI di Wisma Nusantara. Malamnya, Teguh Hudaya (Ketua FLP Mesir), membicarakan tentang acara bersama Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy, penulis Ayat-ayat Cinta).

Keesok harinya, Sabtu, Andi dan dua temannya, datang ingin berkonsultasi tentang dunia tulis menulis dan dunia perbukuan. Ba'da Maghrib, BPH (Badan Pengurus Harian) dan Pjs Ketum Pwk Persis (Perwakilan Persatuan Islam Mesir); Risyan, Zainal, Asep Sopyan, dan Syarif, datang membicarakan sebuah persoalan organisasi.

Hari Ahadnya, saya dan isteri sudah siap akan berangkat, namun ternyata gerimis dan anak kami flu, akhirnya batal. Padahal saya ingin ikut Nadwah bersama Dr. "Aidh Al-Qorny (penulis buku La Tahzan). Selain itu, rencana untuk menemui Pak Bambang Trimansyah, juga tidak jadi.

Al-hamdulillah, hari ini (Senin, 28/01/2007), keinginan untuk ke ma'rodh tercapai. Saya hubungan teman saya yang sudah berkeluarga untuk bersama-sama ke ma'rodh. Dindin dan isterinya, tadi malam datang ke rumahku dan minap, agar kami bersama-sama berangkat dari Nasr City. Sedangkan Ahmad beserta isterinya dan Sahuri beserta isterinya, berangkat dari Rob'ah El-'Adaweyah.

Tujuan kami, bukan untuk beli buku, tapi piknik. Wajar jika, sebelum berangkat, isteriku dan isteri Dindin, sibuk menanak nasi, menggoreng ayam, merebus kol, kentang, wortel, dan telor, membuat bumbu untuk Bakso Tahu (Somay) bekal kami piknik. Seumur hidup, baru kali ini, ke ma'arodh untuk piknik, biasanya untuk beli buku.

Mengapa kami piknik? Sebab, selama satu bulan kami konsentrasi imtihan (ujian semester) termin awal. Biasanya, kalau piknik, kami ke Hadiqoh Athfal (Taman Anak) di Abbas Aqqod atau ke Hadiqoh Dawliyah (Taman International) di Masakin Otsman. Kebetulan sedang ma'rodh, maka kami gunakan taman di tengah-tengah tempat ma'rodh sebagai tempat rekreasi.

Di taman ma'rodh itu, ternyata banyak orang-orang Mesir, baik telah berkeluarga, maupun pasangan belum nikah melakukan hal sama, alias piknik. Jadi deh rame. Karena kami ingin piknik, maka yang pertama kali kami lakukan, bukan melihat-lihat buku, tapi langsung makan bersama. Ahmad berserta isteri dan Sahuri berserta isterinya, sudah duluan dan ternyata mereka juga bawa bekal, mulai dari goreng ayam, rendang, gorengan kentang, dan seterusnya.
Sambil makan, kami ta'aruf, meskipun sebagian kami sudah saling mengenal, tapi isteri Dindin dan Sahuri, baru beberapa bulan datang dari Indonesia. Suasana ukhuwwah begitu nikmat, senikmat makanan yang sedang kami habiskan. Kami pun ngobrol berbagai hal, sampai kami berhenti makan.

Selesai makan, baru kemudian kami melihat-lihat buku. Saya bersama Agus (O iya, Agus temanku yang masih jomlo, sengaja aku bawa agar menggendong anak tertuaku sekaligus jadi fotografer) ke tempat ma'rodh dawly yang memamerkan buku lengkap dari berbagai negara dari lima benua, terutama dari negara Timur Tengah. Namun sayang, Fatih (anak tertuaku), tertidur, sehingga ketika badut penjaga stand buku anak-anak itu ngajak foto dan di shooting sebuah televisi Mesir, tidak terlihat wajahnya. Padahal, mereka ingin lihat wajah anakku, bukan wajahku. Hehehe...

Karena tujuan kami piknik,maka kami tidak beli buku, paling nyari buku, cd, poster, dan mushaf Al-Quran gratis. Ahmad dan Sahuri dapat, namun sayang aku tidak dapat, kehabisan. Disuruh nunggu ba'da maghrib, ya enggak mungkin, sebab harus pulang sebelum maghrib, agar kedua anakku tidak kedinginan. Aku hanya beli buku-buku dan Fuzle untuk Fatih. Aku pilih buku tentang nama-nama binatang, tumbuhan, burung, dan tentang tata cara sholat. Ya, dari pada enggak bawa apa-apa, minimal anakku dapat sesuatu dari ma'rodh. Padahal, hatiku sedih banget, begitu banyak buku bagus, namun sayang, jatah untuk beli buku tidak ada. Sebab, tersedot kebutuhan kedua anakku, baik itu untuk beli popok, susu, cerelag, madu, maupun jajan sehari-hari. Belum untuk sewa rumah, bayar internet, listrik, air, gas, kebutuhan dapur, dan seterusnya. Ya gimana lagi, ketika beasiswa tidak ada dan tidak dikirim dari Indonesia, saya harus kerja keras buat Tahu dan isteri saya kerja keras mengatur duit agar tidak defisit.

Sebelum pulang, kami sempatkan masuk ke beberapa stand buku, tentu saja selain melihat-lihat buku baru, kami abadikan kunjungan itu dengan berfoto ria. Orang Mesir, senyum-senyum, melihat tingkah kami itu. Tapi kami coba cuek aja, sebab ternyata banyak juga yang melakukannya. Salah satu stand yang kami masuki, adalah maktabah Ubaikan, penerbit karya-karya Dr. Aidh Al-Qorny. Lagi-lagi aku nelangsa, banyak buku menarik, tapi uang disaku hanya cukup untuk ongkos pulang. Hik, hik, hik, sedih ya?

Saat pulang, aku pandangi tempat ma'rodh yang penuh dengan papan nama penerbit buku itu, dengan sebuah azzam. Suatu saat nanti, aku akan memborong buku-buku di sana. Bahkan aku membayangkan, saat aku di Indonesia dan secara ekonomi sudah mapan, aku akan datang ke Mesir, seperti yang dilakukan Kang Abik bersama rombongan IKAPI. Aku akan borong buku-buku ini. Dari balik jendela mobil, tempat itu semakin tidak terlihat karena malam telah menyelimuti kota Cairo. Adzan maghrib bersahutan di menara masjid. Aku pun melupakan impian membeli kitab-kitab itu, sebab bayangan Soeharto berkelebat. Aku pun ingat bahwa aku akan mati dan akan bertemu dengan Allah Swt.

Cairo, Senin, 28 Januari 2008

NB: Untuk memperjelas catatan harian ini, silahkan lihat album foto berjudul "Cairo Book Fair...Rihlah ah...."

Blog EntryDAFTAR NAMA PESERTA IKAPI KE MESIRJan 22, '08 5:13 AM
for everyone

Rombongan IKAPI berangkat hari ini (Selasa, 22/01/08) sampai di Mesir besok naik pesawat El-Ittahad. Semoga data ini bermanfa'at, terutama bagi teman-teman di Mesir, saatnya berkonsultasi, berdiskusi, dan belajar dari para praktisi perbukuan di Indonesia.

NO

NAME

PASSPORT NO.

1.

Abdul Raup

N 493020

2.

Awod Said

AF 484622

3.

Habiburrahman

B 274127

4.

Abdul Aziz Saleh

N 647760

5.

Nur Khozin

R 253062

6

Burhanuddin

B 065771

7

Jaharuddin

AG 862729

8

Mohamt Yasir

P 375656

9

Fadhilah Sonani

N 326201

10

Wisnu Wardani

A 161049

11

Rosidayati Rozalina

N 199665

12

Arief Ismail

B 520252

13

Kamaruddin

A 932823

14

Kurniawan Abdullah

R 330690

15

Cecep Romli

R 424772

16

Afrizal JM

R 332476

17

Hasan Ali Albugis

N 313620

18

Evi Afrizal

P 439858

19

Djunjunan Purnama Sidik

P 396911

20

Bambang Trimansyah

N 420494

21

Syaifullah Sirin Latief

A 057178

22

Mira Safira Sirin

B 145687

23

Tri Juda Airlangga

P 971442

24

Ade Iwan Setiawan

R 074283

25

Rusdi Azenda

R 074231

26

Muhammad Abdul Gofar

P 058420

27

Bambang Hermanto

A 056384

28

Wito Hariyadi

A 063466

29

Erna Uliantari

A 063465

30

Rochma Nurdiyani

A 036171

31

Deden Ridwan

P 478656

32

Ali Achmad Badjrai

N 623665

33

Iskandar Muhammad Anwar

AG 631691

34

Muhammad In`am Esha

R 326558

35

Ismudiyanto Ismail

P 745699

36

Arief Isrefidianto

N 295965

37

Ahmad Fadilham

 

38

Salafiah Saidin Murkana

A 057178

 


Blog EntryLembaga PAUD di Nasr CityNov 9, '07 10:08 AM
for everyone

Bismillâh. Dalam acara "One Day Seminar: Refleksi 50 Tahun Sekolah Indonesia Cairo (SIC)", Habiebie Idrus mewakili SIC menceritakan dan menuliskan dalam makalahnya, bahwa Sekolah Indonesia Cairo (SIC) berdiri atas inisiatif para mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Mesir. Kemudian 21 Desember 1956 lembaga ini dikukuhkan oleh KBRI sebagai Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) bernama SIC. 

Pada acara itu pula, saya sebagai salah dari tiga pemateri —Slamet Sholeh, M. Ed., Cecep Taufikurrahman, S. Ag., dan saya— mengemukakan bahwa ada lima faktor eksternal atau environmental input yang menyebabkan mutu pendidikan Indonesia rendah antara lain: (1) Arus Modernisasi dan Globalisasi; (2) Hegemoni dan Dominasi Rezim; (3) Konglomeratisasi dan Elitisasi; (4) Partisipasi masyarakat sangat kurang; (5) Calo Karya Ilmiah dan Sertifikasi. 

Dari lima hal tersebut, yang banyak menjadi sorotan peserta ketika itu adalah tentang calo karya ilmiah. Disinyalir, ada mahasiswa Indonesia yang menjadi "calo" —menerima pembuatan— risalah bagi mahasiswa Indonesia, Malaysia, Turki dan yang lainnya. Tentu saja, ini sangat kita sayangkan. Dan perlu kita sikapi dan tindak-lanjuti. 

Namun persoalan pendidikan yang terjadi di kalangan mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir) tidak hanya itu, melainkan juga point 3 —elitisasi— dan point 4 —partisipasi masyarakat sangat kurang. Di awal tulisan ini, saya telah menyebutkan bahwa SIC berdiri hasil jerih para mahasiswa. Akan tetapi, saat ini, keberadaan SIC kurang begitu dirasakan oleh Masisir, terutama bagi yang telah memiliki putra-putri usia sekolah. Ada kesan, SIC hanya untuk putra-putri para diplomat KBRI saja. Diperparah lagi, biaya pendidikan tidak terjangkau oleh para Masisir. Ditambah, tempat terlalu jauh dari lokasi tempat tinggal mayoritas Masisir dan masyarakat Indonesia lainnya.   

Oleh sebab itu, Masisir dan masyarakat Indonesia, menyekolah putra-putri mereka di sekolah Mesir. Dari segi kurikulum dan materi, terutama materi keislaman, Al-Quran, dan bahasa Arab, sekolah Mesir memang cukup bagus. Akan tetapi, menurut sebagian ortu yang menyekolahkan anak mereka di sekolah Mesir, metode dan pola pendekatan guru terhadap murid kurang sesuai dengan budaya Indonesia. Belum lagi, persoalan lainnya. 

Dari persoalan di atas, maka sejak dua tahun yang lalu, muncul ide untuk mendirikan Taman Kanak-Kanak di Nasr City. Hanya saja gagasan itu tidak terealisasi, sebab masalah dana dan kurang dukungan dari masyarakat Indonesia lainnya. Akhirnya, ide itu terpendam dalam lorong waktu. Baru kemudian muncul kembali ke permukaan, tatkala terjadi komunikasi non-formal antara bapak Jawhar sebagai Kepala Sekolah SIC dengan beberapa masyarakat Indonesia. Akhirnya, utusan dari beberapa organisasi masyarakat dan organisasi induk (PPMI) berkumpul dan sepakat membuat tim untuk mem-follow up rencana pembentukan cabang Sekolah Indonesia Cairo di Nasr City. Setelah beberapa kali pertemuan, dan berdasarkan SK Nomor 24-A12/DPP-PPMI/XII/Vi/1428-2007, lahirlah Tim Pembentukan Sekolah Indonesia di Nasr City. 

Tim tersebut telah melakukan sosialisasi, mendata, sekaligus menyebarkan angket untuk mengukur sejauhmana animo masyarakat tentang pembentukan cabang SIC di Nasr City. Data dan hasil angket itu menjadi acuan bagi Tim untuk menentukan jalur (formal, non-formal, atau informal, jenjang (pra-sekolah, SD, atau SLTP, dan jenis pendidikan (umum atau agama) yang akan dibentuk. Dan al-hamdulillâh, dari data yang masuk hampir 100% pengisi angket sepakat dan mendukung berdirinya sekolah Indonesia tersebut. Sedangkan umur anak yang masuk dalam data, mayoritas 0-6 tahun. Dengan kata lain, yang kita butuhkan adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dan tim menyepakati, untuk awal ini, yang akan didirikan adalah Taman Kanak-kanak (TK).

Selain itu, Tim juga mencoba mendengarkan aspirasi dari berbagai pihak, terima dari Komite Sekolah dalam Keputusan Mendiknas Nomor 044/2002 disebutkan bahwa Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan, baik pada pendidikan pra-sekolah, jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah— SIC, yang diketuai oleh Bapak Saiful Bahri Siregar. Beliau sangat mendukung tentang gagasan yang dikemukakan oleh Tim.

Dari apa yang saya paparkan di atas, intinya, baik masyarakat maupun Komite Sekolah SIC, sepakat; setuju, dan merasa perlu untuk mendirikan lembaga PAUD bagi putra-putri Masisir dan masyarakat Indonesia di Nasr City. Persoalan selanjutnya adalah di manakah posisi lembaga pendidikan itu, apakah di bawah SIC, swadaya masyarakat, atau Komite Sekolah? Ini masih dalam pengkajian Tim. Yang jelas, bagi Masisir dan masyarakat Indonesia, siapapun yang menjadi penyelenggara lembaga tersebut, yang penting lembaga itu ada dan didukung sepenuhnya oleh pihak pemberintah (baca: KBRI), terutama dalam subsidi dana. Dan ini menjadi titik persoalannya. Sebab, sekali lagi, siapapun yang menyelenggarakannya, bila mendapatkan subsidi penuh —sebagaimana SIC dulu swadaya masyarakat, lalu didukung penuh oleh KBRI, dan akhirnya, meminjam perkataan Habiebie dalam makalahnya, menjadi Semi Negeri— dari KBRI, maka lembaga tersebut, insya Allah, akan berjalan lancar.

Di sinilah, dukungan KBRI sangat penting, sebagai upaya pemerataan pendidikan sekaligus meningkatkan angka partisipasi pendidikan anak usia dini (PAUD). Sebab, menurut hasil studi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) —lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)— bahwa angka partisipasi pendidikan anak usia dini (PAUD) atau pendidikan untuk anak usia 0-6 tahun di Indonesia merupakan salah satu yang terendah di dunia. UNESCO menyebut angka 20 persen saja. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara miskin di belahan dunia lain. Dibandingkan Vietnam yang baru membangun sejak 1970-an pun, Indonesia kalah. Angka PAUD mereka jauh lebih tinggi, yakni 43 persen.

Nah, menurut saya, untuk mem-follow up aspirasi masyarakat tentang kebutuhan akan adanya lembaga pendidikan anak usia dini bagi Masisir dan masyarakat Indonesia di Nasr City, maka berbagai pihak, dalam hal ini adalah: Tim Pembentukan Sekolah Nasr City, Komite Sekolah, Sekolah Indonesia Cairo, dan KBRI Mesir untuk mencari solusi terbaik. Wallâh a'lâm.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help