Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: artikel

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag artikel
Blog Entry"Rayuan" Membuatnya "Bertekuk Lutut"Apr 23, '08 7:10 PM
for everyone
Assalamu'alaikum Wr Wb

Sahabat semua...
Untuk memenuhi permintaan teman-teman agar saya menampilkan di MP, artikel yang saya kirim ke Sekolah Menulis Online (SMO), maka ini dia "rayuan" yang membuat SMO "bertekuk lutut"! Mudah-mudahan artikel saya ini, ada manfa'atnya. Mohon ma'af, jika artikel saya terkesan sangat persuasif dan subjektif. Sebab itu yang diinginkan oleh pihak SMO.

Selamat membaca!

Wassalamu'alaikum Wr Wb

*  *  *


SMO, Izinkan Aku Menjadi Terusan Suez!

Oleh: Udo Yamin Majdi

 

"Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan memberikan kepadanya pemahaman terhadap ad-dîn (agama). Aku hanya seorang pembagi, sedangkan Allah sebagai Pemberi." [HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud & Tirmidzi]

Bismillâh. Dulu, sebelum tahun 1870, kalau orang Asia mau ke Eropa, atau sebaliknya, orang Eropa ingin ke Asia, memakai transportasi air, maka ada dua jalur: (1) harus mengelilingi benua Afrika, dan (2) jika ingin lebih cepat lewat Laut Merah atau Laut Tengah, tapi harus membongkar dulu isi kapal, lalu barang dibawa jalur darat antara kedua laut itu. Namun, setelah ada Terusan Suez (Qana El-Suways) yang digagas oleh insinyur Prancis, Ferdinand Vicomte de Lesseps, pelayaran kapal dari Asia dan Eropa semakin cepat dan lancar.

Begitu juga halnya dengan para mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Selama ini, jika mereka ingin belajar menulis kepada para penulis di Indonesia, pilihannya ada dua: (1) para penulis Indonesia datang ke Mesir, atau sebaliknya, (2) Masisir harus pulang ke Indonesia. Penulis dan jurnalis yang pernah ke Mesir untuk mengisi pelatihan menulis, antara lain: Helvy Tiana Rosa, Ahmadun Yosi Herfanda, Irwan Kelana, Asma Nadia, Mohammad Fauzil Adhim, Pipiet Senja, Gola Gong, dan Habiburrahman El-Shirazy. Tentu saja, tiket pesawat mendatangkan para penulis atau pulang ke Indonesia, sangat mahal dibandingkan pelatihan menulis gratis yang digelar oleh belasan, bahkan puluhan organisasi di Masisir.

Mengapa Masisir harus belajar dari para penulis di Indonesia? Sebab, meskipun Masisir sangat kaya literatur atau referensi —terutama tentang keislaman, namun masih miskin dalam skill meracik tulisan bergizi, kurang mampu menangkap bacaan yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan tidak bersentuhan langsung dengan dunia perbukuan di Indonesia. Oleh sebab itu, butuh solusi agar Masisir tidak perlu mendatangkan tokoh dari Indonesia sekaligus tanpa harus pulang ke Indonesia, namun tetap bisa belajar kepada para penulis di Indonesia dan biayanya terjangkau.

Apa bentuk solusi tersebut? Menurut saya, Sekolah-Menulis Online (SMO) adalah solusinya. Pertanyaan selanjutnya adalah, SMO memasuki angkatan ke-3, lalu mengapa Masisir tidak berbondong-bondong mendaftarkan diri? Wallâhu a'lâm, saya belum tahu jawaban pastinya. Saya belum melakukan riset. Hanya saja, kalau boleh saya berasumsi, jawabannya ada empat, yaitu: (1) para Masisir belum mengetahui keberadaan SMO; (2) para Masisir belum biasa atau familier dengan pelatihan online; (3) mereka terbiasa mengikuti pelatihan gratis [hampir 100% pelatihan menulis di Masisir gratis]; dan (4) sebenarnya mereka sudah tahu, namun uang mereka belum terjangkau untuk membayar uang pendaftaran di SMO.

Nah, alasan terakhirlah, yang membuat saya sampai detik ini belum bisa mendaftarkan diri di SMO. Sungguh, sejak pertamakali saya tahu keberadaan SMO, saya sangat ingin mendaftar. Akan tetapi, karena kondisi ekonomi saya sebagai seorang mahasiswa sekaligus kepala rumah tangga yang harus membiayai isteri dan dua anak saya, keinginan itu saya tunda dulu. Tidak ada jatah uang untuk ikut SMO. Apalagi saat ini, Mesir sedang krisis ekonomi. Semua kebutuhan sehari-hari naik hingga 300%. Dalam waktu yang sama, saya tidak memiliki beasiswa, apalagi dikirim keluarga di Indonesia. Pemasukan keuangan selama ini, hanya dari bisnis Tahu dan royalti buku. Coba Anda bayangkan, apa yang harus Anda lakukan, apabila menghadapi kondisi seperti ini: satu sisi pengeluaran melambung, namun di sisi lain pemasukan tidak meningkat?

Sebenarnya, saya sangat berat untuk menceritakan kondisi ekonomi keluarga saya itu, bukan untuk mengeluh atau tidak mensyukuri apa yang ada. Saya ikut pelatihan, bukan karena “aji mumpung” —mumpung gratis. Saya mengikuti peluang beasiswa, bukan karena gratisnya, tapi karena saat ini memang saya sangat butuh pelatihan SMO. Bukan pula saya bermental pengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Na'ûdzubillâh min dzâlik! Hal-hal itu sangat saya hindari. Sebab, saya punya mindset bahwa hidup ini sebenarnya untuk memberi.

Saya menceritakan kondisi saya, sebagai bahan pertimbangan bagi pihak SMO untuk memutuskan apakah saya berhak —menjadi salah seorang dari 5 orang yang akan mendapatkan beasiswa— atau tidak. Dengan kata lain, sebagai sarana bagi SMO untuk memposisikan diri seperti nabi Muhammad Saw. yang mampu "membaca simbol" (simât) orang yang seharusnya mendapatkan bantuan, sebagaimana termaktub di bawah ini:

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad, salah satu bentuk jihad adalah orang yang sedang menuntut ilmu) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui". (QS. Al-Baqarah [2]: 273)

Selanjutnya, mungkin dalam benak penyelenggara SMO, muncul sebuah pertanyaan, mengapa Udo Yamin Majdi merasa harus ikut SMO, bukankah sudah bisa menulis; telah melahirkan karya; dan sering mengisi acara pelatihan menulis? Ada lima alasan saya merasa wajib ikut SMO, (1) seumur hidup, saya belum pernah ikutan pelatihan menulis secara intensif —selama tiga bulan, seperti masa belajar SMO. Pelatihan yang pernah saya ikuti hanya sehari atau dua hari. Bahkan, ketika para tokoh dari Indonesia datang, saya lebih banyak jadi panitia dibandingkan menjadi peserta. Maka dengan ikutnya SMO, saya berharap punya pengalaman utuh menjadi peserta pelatihan penulisan secara intensif; (2) saya butuh teman atau patner untuk berdiskusi ketika saya mengalami banyak kendala dalam menulis. Betul selama ini, saya bisa bertanya dengan para penulis di Indonesia yang saya kenal —bahkan dari 5 mentor SMO, ada 3 orang (Bang Jonru, Kang Arul, dan Uda Melvy) sempat bertegur sapa dengan saya lewat chatting. Akan tetapi, akan beda rasanya, jika saya bertanya sebagai peserta dan beliau bertiga menjawab sebagai mentor. Sedangkan untuk berkonsultasi dengan yang lain, misalnya Mbak Helvy, Mbak Asma, Teh Pipiet, dan senior yang lainnya, mereka punya kesibukan tersendiri; (3) salah satu persoalan FLP Mesir adalah belum ada sistim kaderisasi yang jelas, hanya mengandalkan Bengkel Karya saja. Dan minggu yang lalu, Mbak Asma datang ke Mesir dan menyarankan agar dibuat Lokakarya dengan kelompok kecil secara intensif. Ide ini sebenarnya, empat tahun yang lalu, sudah saya lontarkan kepada pengurus. Namun belum berjalan, mungkin masih bingung bagaimana mengawalinya. Dan setelah saya membaca tentang SMO, apa yang dilakukan oleh SMO, sebenarnya inilah yang saya inginkan. Oleh sebab itu, sebagai senior FLP Mesir, saya bertanggungjawab dan berencana mengawali sistim kaderisasi itu. Namun, sebelum melaksanakannya, saya harus mengalaminya dulu; dan terakhir, (5) saya ingin memperbaiki metode saya melatih orang agar mampu menulis. Selama ini, metode dan materi yang saya sampaikan, lebih dominan berdasarkan pengalaman pribadi, dibandingkan pengalaman orang lain, apalagi teori dari buku. Nah, saya berharap, setelah saya ikut SMO, maka ada hal yang baru dan perlu saya perbaiki saat menjadi seorang trainer atau pemateri pelatihan menulis.

'Alâ kulli hâl, manakala SMO memberikan beasiswa atau menerima saya sebagai peserta SMO Angkatan Ke-3, maka ada 2 hal yang akan diperoleh oleh SMO: (1) saya akan menjadi “penyambung lidah” untuk mempublikasikan keberadaan SMO di kalangan Masisir; (2) bila saya menjadi peserta, lalu saya menyebarkan ilmu dari SMO kepada Masisir dan ternyata ada 1% Masisir (50 orang, dari 5000 Masisir) menjadi pejuang Islam lewat pena seperti Habiburahman El-Shirazy, maka ini adalah sumbangan besar terhadap Islam dan investasi untuk meraih surga. Intinya, izinkan saya melakoni peran nabi sebagai “pembagi ilmu” —sedangkan SMO sebagai pemberi— atau untuk menyambungkan Masisir dengan para penulis di Indonesia, seperti Terusan Suez yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah. Wallâhu a’lâm.


*  *  *

Setelah membaca artikel saya, menurut Anda apa kelebihan yang patut saya pertahankan dan apa kekurangan yang harus saya perbaiki? Intinya, saya minta komentar Anda. Sebelumnya, saya haturkan terima kasih atas kedermawan Anda untuk meluangkan sedikit waktu, mengomentari tulisan ini.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help