Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: ayat-ayat cinta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ayat-ayat cinta
Blog EntryKata Kang Abik: 'Likulli ro'sin, ro'yun'Apr 29, '08 11:49 PM
for everyone
Aku bersama isteri dan kedua anakku menunggu bus di mahattoh (halte) Darmalak. Kami agak jauh dari bangku. Bus jurusan Nasr City, belum juga datang. Karena kakiku pegal berdiri, aku  dekati bangku halte. Di sana, ada orang Mesir sedang duduk. Bajunya compang-camping. Celananya sangat kotor. Kulitnya penuh daki. Rambutnya acak-acakan. Setelah agak dekat, aku dengar ia bicara seorang diri. Tak berapa lama ia tertawa. Aku kembali mendekati isteriku.

"Buya, kok gak jadi duduk?" tanya isteriku.
"Enggak ah, ternyata yang duduk itu orang gila!"
"Pantesan, orang-orang pada berdiri, tidak mau duduk sama orang gila!"
"Ih bunda, gak boleh gitu sama orang gila, tahu enggak, apa yang buya pikirkan?
"Emang buya mikirin apa?"
"Enggak ah, enggak jadi!"

Aku tertawa sendiri. Sebab, aku membayangkan orang gila itu bicara denganku dan orang yang berdiri di sekitar halte: "Aneh, apa kalian gila ya, kursi pada kosong kok malah kalian berdiri gitu? Dasar orang-orang gila, disediain kursi, malah capek-capek berdiri"

Huahahaaaa...., jadi yang gila itu siapa? Orang yang duduk di kursi, atau kami yang berdiri?

*   *   *

Dalam dua hari ini, dalam inbox e-mailku, ada beberapa e-mail mengangkat kembali novel dan film Ayat-Ayat Cinta. Dalam milis Apresiasi Sastra itu, Hudan Hidayat, menulis e-mail bersubject: ayat-ayat ("politik") cinta. Ini isi e-mailnya:

dulu sinetron siti nurbaya menghebohkan masyarakat, tapi apa kenyataannya terhadap daya baca masyarakat - buku siti nurbaya itu sendiri? nihil: sastra tetap saja menjadi medan yang terpencil.

saya menduga ayat-ayat cinta digerakkan oleh gerakan yang bukan dalam spirit "gemar membaca", tapi dalam bingkai politik. lebih tepatnya: politik pada suatu nilai tertentu yang bersesuaian atas novel itu.

kalau benar demikian, maka jangan bersenang hati dulu, karena cobalah buat survey siapa pembaca novel ayat-ayat cinta, dan darimana datangnya kegemaran membaca yang seolah jatuh dari langit itu.

dugaan saya ini dikuatkan oleh kenyataan: kok tiba-tibanya petinggi negeri ini seolah gemar benar menonton film - film ayat-ayat cinta. lalu kemana mereka selama ini?

tapi ayat-ayat cinta ini diberi anugerah oleh pusat bahasa sebagai novel yang berhasil menggugah daya baca masyarakat.

tapi kalau dugaan saya itu benar, maka persoalan yang tersisa adalah: berhentilah mempolitikkan segala sesuatu, demi tujuan politik yang entah untuk apa itu.

sebab lawan kita dalam konteks global, bukanlah dunia seolah-olah, tapi dunia riel dimana kerjasama dan kompetisi demikian amat kerasnya. dunia seolah-olah itu pada saatnya nanti akan menenggelamkan kita dalam kubangan yang mungkin membuat kita sukar bangkit lagi.

tapi saya menghargai takdir penulis dan pembuat film ayat-ayat cinta. itu namanya rejeki nomplok.

tapi sampai kapan kreator di negeri yang gemah ripah loh jenawi ini bisa bangkit atas kakinya sendiri? dimana segala sesuatu berjalan apa adanya tanpa harus direkayasa. tanpa harus seolah tebak-tebak buah manggis: rejeki nomplok.

tapi kalau dugaan saya salah mohon dimaafkan. tapi rasa-rasanya benar sih.
aih.

(hudan Hidayat)

Lalu, hari ini, di milis lingkar_pena_ciputat, ada e-mail Arief Mahmudi, dengan subjek ini: KECAMAN UNTUK FLP DI KAMPUS UIN JAKARTA

Ini potongan e-mailnya:

Sahabat milis yang baik,
Selasa kemarin (29/4), di sela-sela acara Bedah Novel Kalam Cinta dari Tuhan yang berlangsung di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terjadi sebuah peristiwa yang—menurut hemat penulis—menarik untuk kita diskusikan dalam forum yang mulia ini.

Adalah Eddy A. Effendi, salah seorang pembicara dalam acara bedah novel tersebut, yang mengemukakan kritik (baca: kecaman) terhadap eksistensi Forum Lingkar Pena (FLP). Ia mengecam (walau secara tak langsung) karya-karya yang dilahirkan dari para penulis FLP sebagai karya-karya yang kurang bermutu. Tak terkecuali novel (dan juga film layar lebar) Ayat Ayat Cinta, yang—seperti kita ketahui bersama—merupakan salah satu karya paling populer yang dihasilkan oleh
penulis FLP.

Dari kecaman yang disampaikan oleh pria yang menjadi redaktur budaya di salah satu surat kabar nasional itu, penulis jadi teringat kembali dengan materi yang pernah disampaikan oleh Kang Aep Saefulloh dalam pelatihan tanggal 1 Desember 2007 lalu. Saat itu, Kang Aep menyinggung (walaupun hanya sekilas) tentang adanya dua "mazhab" dalam seni, yaitu (1) seni untuk seni, dan (2) seni untuk kemanusiaan. Penulis memandang, bahwa Eddy A. Effendi menganut "mazhab" seni untuk seni, dan dengan demikian berbeda dengan FLP sebagai komunitas yang menganut "mazhab" seni untuk kemanusiaan. Lantas, apa sih perbedaan antara
"mazhab" seni untuk seni dan seni untuk kemanusiaan?

Bila dilihat dari segi etika, "mazhab" seni untuk seni adalah seni tanpa mengindahkan etika. Mereka menganggap seni sebagai sebuah hal yang bebas-nilai, jauh dari etika dan norma. Sedangkan "mazhab" seni untuk kemanusiaan memandang seni sebagai sebuah hal yang amat berkaitan dengan nilai-nilai, norma, dan etika kemanusiaan. FLP, sejak awal berdirinya telah memproklamirkan diri sebagai komunitas yang "menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan masyarakat/ummat". Demikian tulis Helvy Tiana Rosa, salah seorang pendiri FLP.

*  *  *

Aku tidak akan panjang lebar menanggapi pendapat Hudan Hidayat dan Eddy A. Effendi. Aku hanya ingin menjadi penyambung lidah Kang Abik saja. Aku telah menyampaikan kritikan-kritikan yang beredar di internet kepada Kang Abik. Dengan tawadhu, Kang Abik menerima dan mengucapkan terima kasih.

Dari obrolan beberapa kali dengan Kang Abik selama di Mesir, ada satu pernyataan Kang Abik yang perlu aku sampaikan kepada Anda. "Likulli ro'sin, ro'yun ya akhi!" kata Kang Abik kepadaku.

"Sudahlah", kata beliau, "kita tidak perlu pusing dengan omongan orang. Setiap orang punya pendapat kok. Biarkan para kritikus itu terus mengkritik, itu memang kerjaan mereka. Sedangkan tugas kita, sebagai penulis, adalah menulis. Mendingan kita fokuskan pikiran, semangat, tenaga, waktu, dan dana untuk melahirkan karya yang berkualitas!"

Aku sepakat dengan pendapat Kang Abik, Likulli ra'sin ra'yun: setiap orang punya pendapat. Kita tidak perlu marah jika ada yang mengkritik. Jadikan itu sebagai in put atau feed back untuk meningkatkan kualitas tulisan kita.

*  *  *

Nah, ketika aku baca pendapat Hudan Hidayat dan Eddy A Effendi itu, tiba-tiba aku ingat kejadian di halte yang aku ceritakan di awal. Aku bertanya-tanya: Jadi, yang gila itu siapa ya? Dengan kata lain, yang menulis karya tidak bermutu dan tidak memiliki nilai sastra itu siapa ya: Hudan Hidayat Cs, Eddy dkk, atau Kang Abik bersama teman-teman FLP?

Auuuwww gelaaap ah! CAPEK DEH!!


NB:
Tadi saya baca novelet "Dalam Mihrob Cinta" karya Kang Abik
dalam novelet itu, saya menemukan kalimat ini:

"Menanggapi omongan orang gila berarti ikut jadi gila.
Menanggapi sikap orang dungu berarti ikut jadi dungu."
(Halaman 37)






Blog EntryBetulkah Ayat-Ayat Cinta adalah Novel Dakwah?Feb 26, '08 7:43 PM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Majdi

Bismillahirrahmanirrahim...

Sebelumnya, saya haturkan terima kasih kepada sahabat Ahmad Fatih sudah menjawab tiga pertanyaan saya. Baik, untuk menganalisa, apakah novel [untuk film, dalam diskusi yg lain] Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman El-Shirazy adalah buku dakwaha atau bukan, ada tiga variabel yang perlu kita kaji, sehingga kesimpulan kita tidak keliru, apalagi membabi buta, tanpa ilmu. Pertama: penulis, kedua: buku AAC, dan ketiga pembaca.

WASHILAH DAKWAH

Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya, jika kita sepakati dulu makna dakwah yang kita pakai dalam menganalisis AAC. Karena Ahmad Fatih, telah mengatakan bahwa dakwah adalah melanjutkan tugas para nabi dan rasul (waritsatu al-anbiya). Oke, definisi ini, akan kita gunakan.

Sebagai waritsatu al-anbiya, kita perlu mengkaji, bagaimana dakwah para nabi dan rasul itu? Terlalu panjang, jika saya memaparkan 25 rasul di sini. Saya hanya ingin menyuguhkan 5 rasul yang kita kenal dengan ulul 'azmi. Mereka adalah Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad Saw..

Sebagaimana kita ketahui, setiap nabi memiliki mu'jizat. Begitupun dengan beliau berlima. Mu'jizat Nabi Nuh membuat kapal. Nabi Ibrahim, tahan bakar dan tahan direndam. Nabi Musa, tongkat menjadi ular. Nabi Isa, bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Nabi Muhammad, Al-Quran.

Mengapa mu'jizat mereka berbeda-beda? Karena tantangan yang mereka hadapi berbeda. Zaman Nabi Nuh, membuat kapal adalah hal yang besar, maka nabi Nuh juga membuat kapal, tapi beda dengan yang dilakukan kaumnya, membuat kapal di pantai. Sebaliknya nabi Nuh, membuat kapal di atas gunung. Begitu pula dengan nabi Ibrahim, waktu itu kaum berkeyakinan nabi Ibrahim akan hancur (mati) seperti hancurnya patung yang dipenggal dan dihayutkan nabi Ibrahim. Zaman Nabi Musa, terkenal dengan ahli sihir, maka Allah memberi mu'jizat tongkat bisa berubah jadi ular, sedangkan ahli sihir hanya menggelabui mata tali menjadi ular. Nabi Isa memiliki mu'jizat seperti yang saya katakan tadi, karena ilmu pengobatan di zamannya sedang berkembang. Dan nabi Muhammad Saw. mendapat mu'jizat Al-Quran, sebab pada zaman beliau, sedang marak dan jayanya sastrawan dan keahlian bersyair. Dari sini, saya berkesimpulan, bahwa bentuk, metode, atau cara dakwah, harus sesuai dengan kontek zaman, harus sesuai dengan tantangan, dan dengan alat seperti sama padahal berbeda --kapal Nuh sama seperti hasil tukang kapal, tapi tujuan nabi Nuh bukan mau buat kapal, melainkan menyelamatkan kaumnya. Kekebalan Ibrahim, bukan untuk pamer ilmu, tapi untuk meruntuhkan kepongahan kaum kafir. Tongkat Musa seperti sihir, tapi bukan sihir. Pengobatan Nabi Isa seperti ilmu kedokteran, tapi beliau bukan dokter. Al-Quran memiliki sastra sangat tinggi, tapi bukan kitab sastra. Lalu, mengapa tidak kita buat novel, tapi tidak seperti novel orang sekuler?

Perbedaan mu'jizat antara 4 nabi sebelum Nabi Muhammad Saw., dengan beliau adalah kalau Nabi yang empat mu'jizatnya bisa disaksikan ketika peristiwa terjadi, sedangkan mu'jizat nabi Muhammad Saw masih bisa saksikan sampai detik ini, yaitu Al-Quran. Dan Al-Quran, tidak akan berbicara apa-apa, kalau tidak kita sampaikan. Untuk menyampaikan Al-Quran ini, maka kita menggunakan alat, metode, atau cara, yang bisa dikenal dan difahami oleh umat manusia saat ini, alias harus sesuai dengan tantangan zaman ini.

Apa tantangan zaman ini? Menurut saya, tantangan kita saat ini adalah majunya Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK). Nah, dalam menyampaikan pesan dakwah atau Al-Quran (termasuk hadis, sebab untuk memahami Al-Quran kita butuh hadis), hendaknya kita mengunakan TIK itu. Dan salah satu bentuk dari TIK tersebut adalah buku. Dari sekian macam bentuk dan jenis buku adalah novel. Dari sekian ribu novel itu adalah Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Jadi novel atau film AAC, hanya sebuah washilah, alat, sarana, atau cara untuk menyampaikan dakwah dalam kontek zaman ini.

SIAPAKAH KANG ABIK ITU?

Saya mengenal beliau delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2001, ketika saya, Kang Abik, dan beberapa teman Masisir, mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir. Selama saya bergaul dengan beliau, sangat mencintai Al-Quran dan as-sunnah, mencintai ilmu, dan memiliki semangat dakwah yang tinggi. Karakter ini, cukup mempengaruhi program yang kami lakukan, sehingga berusaha semaksimal mungkin, apa yang kami lakukan harus sesuai dengan ajaran Islam dan bisa mendekatkan diri kepada Allah swt, diantaranya adalah acara Pesantren Karya, sebuah pelatihan menulis, tapi kami awali dengan khatam Al-Quran dan diakhiri dengan ifthor jama'i.

Dalam sebuah acara, Kang Abik, mengungkapkan kepada saya, bahwa salah satu latar belakang mengapa FLP Mesir harus ada, karena waktu itu FLP di Indonesia sedang gencar-gencarnya diserang oleh kelompok tertentu yang tidak senang terhadap FLP sebab FLP menjadikan pena (tulisan) sebagai sarana dakwah; da'wah bil qolam, atau dakwah bil kitabah. Ada tuduhan bahwa aktifis FLP hanya mengandalkan semangat saja, tanpa dibarengi ilmu keislaman yang kuat. Maka, kami sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar yang mendalami Islam, harus bergabung untuk mendukung dakwah yang diusung oleh FLP.

Bahkan, dalam obrolan saya dengan Kang Abik di Wisma Nusantara bulan Januari kemaren, beliau berkata: "Yang penting, tugas kita sebagai penulis, harus meluruskan niat, lillahi ta'ala!" Beliau berkata demikian, karena saya menyampaikan beberapa tanggapan orang terhadap AAC. Dalam kesempatan lain, Kang Abik bercerita, bahwa AAC muncul, sebab beliau merasakan betapa dekatnya maut (AAC ditulis, saat Kang Abik harus istirahat total, setelah kecelakaan) dan merasa belum memberikan apa-apa untuk umat.
 
Intinya, untuk menilai apakah Kang Abik ingin menjauhkan umat dari Islam, atau sebaliknya, mendekatkan manusia terhadap Islam, kita lihat berdasarkan standar Al-Quran, bahwa sastrawan (penyair) yang diridla oleh Allah, apabila memiliki tiga sifat ini: 1) beriman kepada Allah; 2) beramal sholeh; dan 3) banyak mengingat Allah swt (silahkan kaji Qs. Asyu'araa; 221-227). Dan ketiga hal ini, ada pada diri Kang Abik.

APA ISI NOVEL AAC?

Saya sepakat dengan Hadi Susanto, saat memberikan Kata Pengantar terhadap novel AAC, beliau tulis bahwa "kemampuan penulis (Kang Abik) untuk menyampaikan dakwah sangat halus sebagai bagian cerita. Kehalusan ini sangat berarti untuk tidak menimbulkan persaan pembaca bahwa dakwah itu sengaja diselipkan dengan terpaksa.Bahkan tanpa kita sadari ilmu fikih dan akidah kita bertambah setelah kita mengikuti dialog-dialog yang disampaikan." Tentu saja pernyataan doktor Twenty Universiteit dan pemerhati sastra ini, tidak "asbun" (asal bunyi), sebab beliau menilai AAC setelah membacanya dengan serius.

Saya membaca tamat Novel AAC dua kali, pertama cetakan I tahun 2004, dan kedua kalinya, cetakan XXVII tahun 2008. Novel setebal 420 halaman itu, menurut saya, sangat kental dengan dakwah. Ini terlihat dari karakter tokoh Fahri sebagai mahasiswa Al-Azhar yang hapal Al-Quran, semangat menuntut ilmu, dan  berjuang menghidupi diri sendiri dengan cara menerjemah buku. Atau tokoh Aisha yang makai cadar dan sholehah. Tokoh Nurul, anak kiyai dan mahasiswi Al-Azhar, sangat menjaga pergaulan, sehingga untuk mengungkapkan cintanya harus minta bantuan pamannya. Begitu pun tokoh Maria seorang Nashrani Qibtiyah yang semangat mencari kebenaran dan akhirnya masuk Islam karena melihat keagungan Islam pada diri Fahri. Secara jelas, amanat novel itu adalah dakwah Islam. Ini terlihat dari cara membangun setting tempat, plot, adegan, dialog, dan unsur-unsur intrinsik lainnya. Sebaiknya, saya copy-kan contoh isi novel AAC:

Bab 9. Merancang Peta Hidup

Dari National Library aku langsung pulang. Di dalam metro aku memaksakan diri membaca dengan seksama pertanyaan-pertanyaan yang diajukan nona Alicia dari Amerika itu. Rasa penasaran mengalahkan perut lapar belum sarapan dan badan yang terasa meriang. Lembar pertama berisi pertanyaan tentang bagaimana Islam memperlakukan wanita. Tentang beberapa hadits yang dianggap merendahkan wanita. Tentang poligami, warisan dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak asing namun terus menerus ditanyakan. Pertanyaan yang seringkali memang dipakai oleh mereka yang tidak bertanggung jawab untuk mendiskreditkan Islam. Di Barat masalah poligami dalam Islam dipertanyakan. Mereka menganggap poligami merendahkan wanita. Mereka lebih memilih anak puterinya berhubungan di luar nikah dan kumpul kebo dengan ratusan lelaki bahkan yang telah beristeri sekalipun daripada hidup berkeluarga secara resmi secara poligami. Menurut mereka pelacur yang memuaskan nafsu biologisnya secara bebas dengan siapa saja yang ia suka lebih baik dan lebih terhormat daripada perempuan yang hidup berkeluarga baik-baik dengan cara poligami.

Untuk semua pertanyaan tentang bagaimana Islam memperlakukan perempuan aku sudah membayangkan semua jawaban yang aku akan tulis, lengkap dengan sejarah perlakuan manusia terhadap perempuan. Sejak zaman Yunani kuno sampai zaman postmo. Aku ingat bahwa para pendeta di Roma sebelum Islam datang, pernah sepakat untuk menganggap perempuan adalah makhluk yang najis dan boneka perangkap setan. Mereka bahkan mempertanyakan, perempuan sebetulnya manusia apa bukan? Punya ruh apa tidak? Sementara Baginda Nabi sangat memuliakan makhluk yang bernama perempuan, beliau pernah bersabda bahwa siapa memiliki anak perempuan dan mendidiknya dengan baik maka dia masuk surga.

Aku tinggal meringkas jawaban yang telah banyak ditulis para sejarawan, cendekiawan dan ulama Mesir. Pertanyaan yang berkaitan dengan perempuan aku anggap selesai. Nanti malam akan aku jawab lengkap dengan data dan dalil-dalil utama dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Hadits yang ditanyakan Alicia yang mengatakan katanya Nabi pernah bersabda perempuan adalah perangkap setanadalah bukan hadits. Itu adalah perkataan seorang Sufi namanya Basyir Al Hafi. Sebagaimana dijelaskan dengan seksama dalam kitab Kasyful Khafa. Itu adalah pendapat pribadi Basyir Al Hafi yang kemungkinan besar terpengaruh oleh perkataan para pendeta Roma. Itu bukan hadits tapi disiarkan oleh orang-orang yang tidak memahami hadits sebagai hadits. Bagaimana mungkin Islam akan menghinakan perempuan sebagai perangkap setan padahal dalam Al-Qur’an jelas sekali penegasan yang berulang-ulang bahwa penciptaan perempuan sebagai pasangan hidup kaum lelaki adalah termasuk tanda-tanda kebesaran Tuhan. Dalam surat Ar Ruum ayat dua puluh satu Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Jika perempuan adalah perangkap setan atau panah setan bagaimana mungkin baginda nabi menyuruh memperlakukan perempuan dengan baik. Bahkan beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Orang pilihan di antara kalian adalah yang paling berbuat baik kepada perempuan (isteri)nya.”79 Baginda nabi juga menyuruh umatnya untuk mengutamakan ibunya daripada ayahnya. Ibu disebut nabi tiga kali. Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu!.

Pada lembaran kedua, Alicia bertanya bagaimana Islam memperlakukan nonmuslim? Bagaimana Islam memandang Nasrani dan Yahudi? Apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, sebab media massa Amerika memandang umat Islam berlaku tidak adil? Bagaimana pandangan Islam terhadap perbudakan? Dan lain sebagainya.

Aku teringat sebuah buku yang menjawab semua pertanyaan Alicia ini. Buku apa, dan siapa penulisnya? Aku terus mengingat-ingat. Otakku terus berputar, dan akhirnya ketemu juga. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi yang pernah menjadi sekretaris Grand Syaikh Al Azhar, Syaikh Abdul Halim Mahmud. Aku merasa sebaiknya menerjemahkan buku berjudul Limadzayakhaafunal Islam80 itu ke dalam bahasa Inggris untuk menjawab pertanyaan Alicia. Supaya Alicia dan orang-orang Barat tahu jawabannya dengan jelas dan gamblang. Supaya mereka lebih tahu begaimana sebenarnya Islam memuliakan manusia.

Untuk pertanyaan, apa sebetulnya yang terjadi antara umat Islam dan umat Koptik di Mesir, yang paling tepat sebenarnya, biarlah umat koptik Mesir sendiri yang menjawabnya. Dan Pope Shenouda pemimpin tertinggi umat kristen koptik Mesir sudah membantah semua tuduhan yang bertujuan tidak baik itu. Pope Shenouda tidak akan bisa melupakan masa kecilnya. Dia adalah anak yatim di sebuah pelosok desa Mesir yang disusui oleh seorang wanita muslimah. Dan wanita muslimah itu sama sekali tidak memaksa Shenouda untuk mengikuti keyakinannya. Wanita muslimah itu mengalirkan air susunya ke tubuh si kecil Snouda murni karena panggilan Ilahi untuk menolong bayi tetangganya yang membutuhkan air susunya. Adakah toleransi melebihi apa yang dilakukan ibu susu Pope Shenouda yang muslimah itu?

Dalam sejarah pemerintahan Mesir, pada tanggal 10 Mei 1911 ada laporan kolonial Inggris ke London yang menjelaskan hasil sensus di Mesir. Dari sensus penduduk waktu itu jumlah umat Islam 92 persen, umat kristen koptik hanya 2 persen, selebihnya Yahudi dan lain sebagainya. Pada waktu itu jumlah pegawai yang bekerja di kementerian seluruhnya 17.569 orang. Dengan komposisi 9.514 orang dari kaum muslimin yang berarti 54,69 persen, dan selebihnya dari kaum koptik, yaitu 8.055 orang dan berarti, 45,31 persen. Bagaimana mungkin jumlah umat koptik yang cuma 2 persen itu mendapatkan jatah 45,31 persen di departemen-departemen kementerian. Dan umat Islam mesir tidak pernah mempesoalkan komposisi yang sangat menganakemaskan umat kristen koptik ini. Apakah tidak wajar jika para pendeta koptik ebih dahulu bersuara lantang menolak tuduhan Amerika sebelum Al Azhar bersuara?

Ulama-ulama besar dan terkemuka Mesir tidak pernah menyapa umat kristen koptik sebagai orang lain. Mereka dianggap dan disapa sebagai ‘ikhwan’ sebagai saudara. Saudara setanah air, sekampung halaman, sepermainan waktu kecil, bukan saudara dalam keyakinan dan keimanan. Syaikh Yusuf Qaradhawimenyapa umat koptik dengan ‘ikhwanuna al Aqbath’, saudara-saudara kita umat koptik. Sebuah sapaan yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui adanya persaudaraan di luar keimanan dan keyakinan. Dalam sejarah nabi-nabi, kaum nabi Nuh adalah kaum yang mendustakan para rasul. Mereka tidak mau seiman dengan nabi Nuh. Meskipun demikian, Al-Qur’an menyebut Nuh adalah saudara mereka. Tertera dalam surat Asy Syuara ayat 105 dan 106: ‘Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata pada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’ Apakah ajaran yang indah dan sangat humanis seperti ini masih juga dianggap tidak adil? Kalau tidak adil juga maka seperti apakah keadilan itu? Apakah seperti ajaran Yahudi yang menganggap orang yang bukan Yahudi adalah budak mereka. Atau ajaran yang diyakini ratu Isabela yang memancung jutaan umat Islam di Spayol karena tidak mau mengikuti keyakinannya?
Aku merasa isi buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi harus dibaca masyarakat Amerika, Eropa, dan belahan dunia lainnya yang masih sering tidak bisa memahami ruh ajaran Islam. Termasuk juga masyarakat Indonesia. Tapi aku bimbang, apakah aku punya waktu yang cukup untuk menerjemahkan buku itu. Kontrak terjemahan harus segera aku tuntaskan. Jakarta sedang menunggu naskah yang aku kerjakan. Proposal tesis juga harus segera kuajukan ke universitas. Dan kondisi kesehatan yang sedikit terganggu.

* * *

Nah, apakah itu bukan sebuah dakwah? Apakah itu akan melenakan umat Islam, atau justru mengingatkan manusia akan betapa agungnya Islam dan Al-Quran?

SEJAUHMANA PENGARUH AAC TERHADAP PARA PEMBACA?

Sampai detik ini, komentar yang saya dengar baik langsung, maupun tidak langsung lewat e-mail, YM, multiply, milis, dan seterusnya, mayoritas merasakan pengaruh positif setelah membaca AAC. Ada yang semakin yakin akan kebenaran Islam; ada yang tambah semangat ingin mengenal Islam; ada yang tambah rajin sholat, dst. Kang Abik sendiri menceritakan bahwa ada orang Kristen merasa tertarik untuk masuk Islam setelah membaca novel itu. Bukankah ini menunjukan betapa dakwah Islam yang terkandung dalam novel AAC berhasil?

Toh kalau pun ada yang tidak tertarik sama novel AAC, jika ia muslim/muslimah, bukan perkara novel itu melalaikan atau tidak, mereka sepakat bahwa novel itu adalah novel dakwah, namun mereka punya selera yang berbeda terhadap jenis tulisan. Lebih dari itu, hampir 100% orang-orang yang tidak senang dengan Islam, mengutuk, mencibir, dan menghina novel AAC.

Dari analisa saya terhadap tiga variabel --penulis, karya, dan pembaca-- itu, maka saya simpulkan: BETUL bahwa novel ACC memang BUKU DAKWAH!!

BEBERAPA MASUKAN UNTUK AHMAD FATIH

Sahabatku Ahmad Fatih, ada beberapa catatan kecil yang perlu antum renungkan, antara lain:

1. Saya, mungkin teman mahasiswa Indonesia Mesir lainnya (ini terungkap dari komentar Mas Romli, Bang Samsu, Mas Rozi, dkk), merasa bahagia dan husnudzon bahwa niat antum baik, tulus, serta positif. Hanya saja sayang, sebuah nasehat akan tidak efektif jika tidak memahami persoalan, apalagi memiliki paradigma salah. Pola pikir memisahkan Islam dari kehidupan (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya (di dalamnya ada seni), keamanan, dst) sama berbahayanya dengan orang yang memisahkan kehidupan dengan agama atau kita kenal dengan sekulerisme;

2. Antum salah fatal, sebab menilai novel dan film AAC sama seperti novel 1001 malam. Ini qiyas ma'al fariq. Lebih parahnya lagi, antum terlalu gegabah menyimpulkan, sedangkan antum sama sekali belum membaca novel AAC dan menonton filmnya. Lucu kan, kalau kita menilai sebuah kitab tafsir ada kisah Israiliyat atau tidaknya, sedangkan kita tidak mempelajri Ilmu Dakhil dan membaca kitab tafsir itu? Apa enggak aneh, kita menyeleksi hadis shahih dan dha'if, tapi kita tidak belajar ilmu musthalah hadis dan tidak membaca hadis? Sungguh ajaib, kita bisa menghukumi halal, haram, makruh, mubah, sunnah, dan wajib sesuatu, sedangkan kita tidak tahu ilmu ushul fiqh dan tidak pernah membaca kitab-kitab fiqh? Sama geleng kepalanya, ketika saya tahu, antum berbicara novel dan film, sementara antum tidak tahu ilmunya dan sama sekali belum baca dan nonton.

3. Satu sisi antum menasehati kami agar mencintai ilmu, namun di sisi lain, antum tidak memperlihatkan sama sekali mencintai ilmu, apalagi mengamalkan ilmu. Antum berbicara tanpa dasar ilmu. Sedangkan Islam sangat menekankan bahwa sebelum berpendapat dan memposisikan diri terhadap suatu hal harus berdasarkan ilmu. Bukankah Allah telah berfirman: "Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ilmun" artinya: Jangan kamu mengikuti; bicara; berpendapat, tanpa ilmu [kaji Qs. Al-Isra [17]:36]

4. Antum mengatakan dakwah itu adalah untuk melanjutkan perjuangan para nabi dan rasul, namun sayang antum tidak mau berusaha keras untuk belajar bagaimana para nabi dan rasul itu berdakwah. Sehingga antum tidak bisa membedakan mana prinsip dakwah yang tsawabit (permanen), dan mana washilah dakwah yang mutaghyyirat (berubah);

5. Dari mana antum punya fikroh bahwa Kang Abik seperti sastrawan menjauhkan diri dari Islam, sedangkan antum belum pernah ketemu? Lebih mirisnya lagi, antum menafikan adanya sastrawan dan majlis sastra Islami, sedangkan Allah sendiri membagi sastrawan menjadi dua: 1) sastrawan perpanjangan tangan syetan; dan sastrawan yang beriman. Seseorang akan disebut sastrawan (penyair), apabila ia memiliki karya sastra (syair). Jadi, kesimpulannya adalah sastra Islam itu ada. [Masalah perdebatan ada tidaknya sastra islami, ini bukan hal yang baru, sudah terlalu sering, lalu mengapa antum tidak mengkajinya secara serius, sehingga antum bisa menghargai pendapat orang lain?]

6. Antum tergesa-gesa menilai novel AAC (juga filmnya) adalah sesuatu yang melalaikan, sehingga antum memposisikan seperti "syetan" yang harus berlindung darinya, sebab antum berkata: "Dan a'udzubillah jika Abang menasehati saya nonton filmnya". Kalau antum memang belajar hadis, antum pasti hapal hadis ini: "Al-'ajalah minasy syaithon" [tergesa-gesa itu dari syetan]. Jadi, siapa nih yang barus berlindung, saya menasehati antum baca dan nonton AAC, atau saya berlindung dari sikap tergesa-gesa antum?

7. Hukum novel (buku) --sebagai washilah, alat, sarana-- sama dengan hukum produk TIK yang lainnya, misal komputer dan internet yang antum pakai untuk membaca e-mail saya ini. Hukumnya mubah. Jadi masalahnya, bukan pada novel (buku), komputer, dst, tapi pada cara kita menggunakan alat-alat itu untuk apa, buku kalau untuk dakwah, insya Allah berpahala, sebaliknya buku untuk mengumbar hawa nafsu, ya berdosa. Jadi yang melenakan kita itu bukan novel saja, tapi apapun di muka bumi ini, baik itu anak, isteri/suami, mobil, rumah, sawah, dst. Makanya, jangan "gebyah uyah" --menggeneralisir-- persoalan, tanpa melihatnya secara mendalam. Kalau antum mengharamkan novel, lalu mengapa tidak mengharamkan komputer yang sedang antum pakai ini, bukankah sama-sama alat?

8. Antum bilang: "Tidak ada seorang ulama pun mengajak manusia untuk mendalami kitab 1001 malam kecuali hanya untuk mendalami bahasa arab". Nah, gimana kalau saya membaca AAC untuk mendalami bahasa Indonesia, apakah juga haram? Saya balik tanya, ulama mana yang mengharamkan kita membaca buku 1001 malam?"

9. Jika antum mengajak saya dan teman-teman di Mesir untuk mencintai ilmu, maka saya mengajak antum untuk berpikir dahulu sebelum bicara dan bertanya dulu jika tidak tahu. Bukankah suka bertanya itu adalah kebiasaan para sahabat nabi, sehingga terabadikan dalam Al-Quran dengan ayat-ayat diawali dengan "Yas aluuun..."? Bukankah nabi juga  pernah bersabda: "Hidupnya ilmu karena bertanya". Makanya, sebelum bicara ttg novel dan film AAC, nanya dulu dong, biar gak nyesal gara-gara salah bicara!

Wallahu a'lam. Mudah-mudahan tanggapan saya ini antum baca dengan pikiran jernih, hati yang lapang, dan sikap dewasa, supaya tidak "menggigau" lagi. Kan kalau antum jawab yang bukan-bukan,  ntar e-mail-email termasuk yang melalaikan manusia dari Allah lho!

Terakhir, saya jadi ingat obrolan dengan Kang Abik beberapa minggu yang lalu. Beliau berkata: "Likulli ra'sin, royun" [Setiap kepala, pasti memiliki pendapat]. Nah, saya hanya memaparkan pendapat saya dan tidak akan melakukan seperti yang antum lakukan, memaksa orang lain untuk mengikuti pendapat antum. Antum mau menerima atau menolak, itu urusan antum, tugas saya hanya menyampaikan saja.

'Ala kulli hal, saya ucapkan terima kasih, atas kejadian ini, saya bisa belajar bahwa LEBIH BAIK DIAM, DARI PADA BICARA TANPA ILMU.

# # #

E-MAIL TANGGAPAN AHMAD FATIH

Sahabat Ahmad Fatih...
    #Ya saya sendiri.....

Membaca e-mail antum, hati saya tergerak untuk belajar banyak dari antum. Namun, sebelum saya menanggapi tulisan antum, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan:

1. menurut antum, seperti apakah dakwah itu?
 
   # Abang Udo, saya bukan ahli ilmu sehingga abang tidak perlu belajar dari saya, setahu saya Dakwah itu adalah melanjutkan tugas para Nabi dan Rasul, bagaimana agar manusia kembali pada Allah, mengenal Allah, mensyukuri Allah, tidak mengajak pada syirik, dan takut dan harap pada Allah. QS Al-Ra'd:36, QS Al-Jin:20. Dan apabila kita setuju bahwa dakwah adalah hal yang saya tulis diatas, lalu pada waktu yang sama Abang bilang bahwa AAC itu dakwah, saya justru balik bertanya: AAC itu mendakwahkan Apa? Cinta? Seni? Hiburan? Novel dan Film ini apakah tidak melalaikan manusia? Coba saja kita lihat komentar dari para pembaca dan penonton. Wallahu AlMusta'an

2. pernahkah antum bertemu dgn Kang Abik lalu bertanya, apa yg menggerakan beliau menulis novel AAC? 3. apakah antum pernah baca AAC dan nonton filmnya?

   # Terus terang saya belum pernah ketemu dengan beliau ataupun baca buku beliau bahkan menonton film AAC. Saya tidak meremehkan beliau, ataupun tidak menghargai jasanya sama sekali. Tapi untuk ketemu rasanya kaki saya ini tidak mengizinkan melangkah jauh layaknya pencari kelayakan hadits, tidak ada dalam sejarah Islam majlis cerita islamiy, tidak ada seorang ulama pun mengajak manusia untuk mendalami kitab 1001 malam kecuali hanya untuk mendalami bahasa arab,
Ulama yang ilmunya diabaikan
Pengarang novel dan sutradara yang ceritanya dibuaikan
Manalah umat ini akan menang, jika menolong sunnah bukan dengan sunnah... Dakwah yang melalaikan
Dan a'udzubillah jika Abang menasehati saya nonton filmnya

Jika tiga hal itu antum jawab, insya Allah, kita lanjutkan diskusi.
 
   # Saya rasa cukup itu dulu jawabannya

Demikian, afwan bila ada kata yg kurang berkenan
 
   # Saya juga minta maaf sekali jika ada kata-kata saya yang tidak enak dibaca

wassalamu'alaikum wr wb
 
#  #  #

E-MAIL TANGGAPAN SAYA

Udo Yamin Majdi <udoyamin_majdi@ yahoo.com> wrote:

Sahabat Ahmad Fatih...

Membaca e-mail antum, hati saya tergerak untuk belajar banyak dari antum. Namun, sebelum saya menanggapi tulisan antum, izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan:

  1. menurut antum, seperti apakah dakwah itu?
  2. pernahkah antum bertemu dgn Kang Abik lalu bertanya, apa yg menggerakan beliau menulis novel AAC?
  3. apakah antum pernah baca AAC dan nonton filmnya?

Jika tiga hal itu antum jawab, insya Allah, kita lanjutkan diskusi.

Demikian, afwan bila ada kata yg kurang berkenan

wassalamu'alaikum wr wb


#  #  #

E-MAIL AHMAD FATIH

   # Wa'alaikum salam warahmatullai wabarakaatuhu

Ahmad Fatih <fatihahmad@yahoo. com> wrote:
Wallahi sahabat-sahabat yang di mesir, antum mau jadi ulama atau mau jadi sutradara... ...
apa buku ayat-ayat cinta yang di karang oleh alumni azhar ini buku dakwah? sehingga kalian besar-besarkan? pohon yang jelek itu tidak mngeluarkan buah kecuali yang jelek pula...dari buku yang mengundang untuk menjauhkan kalian dari ilmu sampai ke film yang mengundang kalian keluar dari lahan ilmu....
Kalian Ahli ilmu.....
Kenapa sibuk dengan masalah seni....film. ....dsb.. ..
Kenapa sibuk dengan megurus partai ketimbang menuntut ilmu....
Kenapa terlalu banyak kegiatan...acara. ..dsb...
Wallahi kami butuh ulama yang hafizd quran dan paham sunnah....
Wallahi kami tidak butuh film, tidak butuh seni....
Kami Haus akan ilmu yang bersih dari hawa dan nafsu...

Saya pikir, setelah materi film sebanyak 7 Rheel dibawa dari India menuju Jakarta, saya bisa sujud syukur dan berseru 'akhirnya film ini selesai juga.’ Sejauh yang saya bayangkan, tidak akan ada lagi persoalan besar yang menghadang. Tapi tidak sangka, hasil film ketika diperbanyak di lab Jakarta, hasilnya scratch, seperti nonton film ‘Janur Kuning’. Dua lab Film yang ada di Jakarta (yang ternyata satu-satunya lab di Negeri ini) tidak bisa menanggulangi persoalan itu. Belum lengkap seminggu ada di Jakarta, 7 Rheel Film Ayat-Ayat Cinta diterbangkan di Bangkok untuk diperbanyak sekaligus diberi Subtitle. Lagi-lagi kita kejar-kejaran dengan waktu karena paling tidak film harus sudah jadi tanggal 18 Februari untuk Gala Premiere di Plaza Senayan-Jakarta.

    Di Bangkok, persoalan scratch terselesaikan dengan baik dengan cara melakukan duplicate negative film tersebut. Akhirnya, 70 copy film Ayat-Ayat Cinta terselesaikan dalam waktu satu minggu. Pada saat dilakukan pengiriman melalui bandara Swarnabhumi-bangkok, kita terganjal maskapai penerbangan Garuda. 70 Copy tidak boleh di bawa, harus melalui Kargo. Padahal beberapa producer pernah melakukan itu sebelumnya dalam airlines yang sama. Kita sempat berdebat panjang di depan counter check in. Akhirnya hanya 10 copy saja yang bisa kebawa, sisanya harus lewat Kargo. 4 orang yang semula menyertai saya membawa 70 copy tersebut akhirnya harus tinggal di Bangkok untuk mengurus pengiriman lewat Kargo. Saya semakin was-was karena isyu birokrasi di lembaga Bea Cukai bandara terkenal rumit dan banyak preman. Salah-salah film AAC terganjal di Bea Cukai.

    Pada saat saya melakukan pengecekan ulang atas 10 Copy untuk keperluan Gala Premiere di Plaza Senayan, saya mendapatkan sms dari teman saya kalau AAC sudah ada bajakannya. Saya kaget, karena belum pernah sepanjang sejarah saya membuat film, pembajak membajak film Nasional. Saya punya kenalan pengusaha dvd bajakan di Glodok yang bahkan pernah bilang ‘Kita tidak membajak film-film Indonesia. Kasihanlah, film Indonesia kan lagi tumbuh. Sayang kalau dibajak. Film Amerika aja yang kita bajak. Mereka kan udah kaya.’  Saya tersenyum dalam hati. Moralitas kadang muncul tanpa kita duga dari jenis manusia seperti apa.

    Persoalan moralitas dan manusia itu kemudian yang membawa saya menelusuri kebenaran berita pembajakan film AAC. Manusia seperti apa yang tega melakukannya? Moralitas seperti apa yang dia anut, kalau manusia kelas pembajak glodok (yang menyikapi bajakan sebagai bisnisnya) saja bisa menerapkan ukuran nilai atas produk yang dia bajak.

    ‘Saya sangat menyesal mendengar itu, Mas. Kini di Malang sedang geger’  begitu bunyi sms dari teman saya di Malang. Seperti sebuah bola salju yang tergulir, sms-sms lain datang dari Surabaya, Makasar, Jogja. Mereka tidak sekedar mengabarkan, tapi memberikan analisa detil gambar, suara dan hasil edit atas film bajakan AAC. Bahkan ada yang bilang kalau hasil bajakan tersebut sudah di komentari di internet. Subhanalloh!

    Saya cuma bisa diam. Hati saya bergolak. Bukan karena film saya di bajak yang kemudian keuntungan yang saya terima sedikit. (Ah, lagi-lagi kalau kita bicara materi tidak akan ada habisnya). Mari kita membebaskan diri dari kecenderungan menilai pembajakan dari unsur materi. Hal paling besar dari pengaruh bajakan adalah: Penonton tidak dididik menghargai kualitas terbaik dari sutradara. Film Ayat-Ayat Cinta, sekalipun di bajakan bisa diikuti jalan ceritanya, tapi  bukan kualitas terakhir dari sutradara-producer dan kru serta pemain. Bajakan tersebut diambil dari hasil mentah yang masih ada di mesin editing studio MD. Artinya belum ada music yang layak (Masih musik kasar yang diambil dari film Schindler list, Kamasutra, Pasion of Christ, dsb), belum ada tata suara yang mendukung seperti suara Ustadz Jefri melantunkan ayat dan doa, suara Fahri di masjid Al Azhar saat Talaqi masih suara cewek, suara-suara atmosfer lalu lintas di Kairo juga belum masuk. Pendeknya, hasil dari bajakan tersebut belum layak untuk menjadi bahan apresiasi penonton. Jika sudah begitu, apakah penonton juga layak menilai sebuah produk yang memang belum layak untuk di apresiasi?

    Kabarnya, saya mendengar justru yang mengkonsumsi AAC bajakan kebanyakan umat muslim pecinta novel AAC. Semoga berita itu tidak benar. Tapi terlepas dari semua itu, saya menyayangkan sikap siapapun yang terlibat, baik membajak maupun mengkonsumsi bajakan tersebut. Apalagi melakukan penilaian atas dasar film bajakan tersebut yang kemudian menghasut, mencerca dan menjelek-jelekkan filmnya dan calon penonton yang mau menonton di bioskop. Saya hanya bisa berharap kepada Alloh untuk memaafkan orang-orang yang melakukan itu. Bagi yang tidak melakukannya, saya ucapkan terima kasih yang paling dalam. Kepadanya, saya hanya berharap doa untuk saya tetap sabar dan tidak terpengaruh.

    Jujur, sekali lagi bukan materi yang saya kejar. Lebih dari itu, film ini telah membuat saya mencintai lebih dalam agama Islam, karena keindahan Quran yang menekankan kesabaran dan keikhlasan umatnya.

Robbana Afrigh alaina Sabran, Wa tsabit Aghdamana wan surna 'alalqoumil kafiriin ...

sumber: http://hanungbramantyo.multiply.com/journal/item/12/AAC_BAJAKAN


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help