| |
Udo Yamin's posts with tag: diary
Oleh: Udo Yamin MajdiDari sudut manapun, setiap kali aku memandang tingkah laku kedua anakku, seolah-olah aku melihat batu permata —semuanya berkilau dan cahayanya berlapis-lapis. Dulu, ketika mereka lahir, aku seolah-olah mendapatkan dunia beserta isinya. Pertama kali mereka tengkurap dan tangannya menggapai-gapai udara, aku begitu bahagia, seperti sedang menonton lomba renang kesukaanku. Saat baru merangkak, aku teriak-teriak tak ubah men-support para pelari mendekati garis finish. Sewaktu belajar berdiri, mereka bagaikan penari yang menghilangkan rasa penatku. Tatkala mereka bisa berjalan, aku pun mendapatkan semangat bahwa aku harus terus melangkah —sebab, sebesar apapun ujian dalam hidup ini, jika aku terus berjalan, insya Allah, di tengah jalan, aku akan banyak menemukan jalan (solusi).
Dan pagi tadi, bersamaan dengan kicauan burung di atas pohon dekat apartemenku, aku benar-benar merasakan bahwa anak-anak adalah "qurratu a'yun" [penyejuk mata]. Betapa tidak, di ruang tamu rumah, depan rak bukuku, kedua anakku —Aburrahman Vira El-Fatih dan Fathin Vira Rahima— duduk berdamping dan di hadapan mereka ada empat piring berisi nasi kuning buatan isteriku.
"Bunda", tanyaku heran saat keluar dari kamar, "ada apa nih?"
"Buya lupa ya, hari inikan Dedek Fathin, umurnya satu tahun!" jawab isteriku.
"Wah, dedek dengan gaun pink dan topi pink ini, kayak putri kerajaan aja!"
"Jelas dong, siapa dulu bundanya?"
"Yeee..., yang betul, siapa dulu buyanya!"
"Udah ah, mendingan buya foto dedek dan Aa!"
Aku pun beraksi seperti fotografer profesional. Aku suruh kedua anakku berakting, mulai dari depan Nasi Kuning, di atas motor, di atas jungkat-jangkit, dan seterusnya.
Selesai memotret kedua anakku, tiba-tiba berkelebat dalam benakku saat putriku lahir. Aku pun menonton kisah itu dalam layar di kepalaku.
* * *
15 JUNI 2007
"Buya", kata isteriku sewaktu menghampiriku di depan komputer, "boleh minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Pengen Nasi Pattaya!"
"Lho, bukannya di dapur masih banyak makanan?"
"Iya sih, tapi... dedek pengen Nasi Pattaya!" jawab isteriku sambil mengelus perutnya yang sedang hamil sembilan bulan. Mendengar alasan isteriku itu, aku langsung faham, bahwa aku harus memenuhinya, bila tidak, maka urusannya jadi panjang. Aku menelpon Teguh Hudaya —adik kelasku di pesantren dulu— yang sedang masak di Rumah Makan Az-Zahra di mahattoh Gami'.
Tidak berapa lama, Teguh datang ke rumah dengan Nasi Pattaya. Setelah Teguh pulang, isteriku langsung melahap nasi khas Thailand —semacam nasi goreng yang dibungkus dengan dadar telor— itu. Aku senang, sebab, selama hamil, isteriku sering malas makan.
Dalam hitungan menit, Nasi Pattaya itu ludes. Aku kembali menulis, sedangkan isteriku bermain dengan putraku.
Setengah jam kemudian isteriku berkata, "Buya, kok perut bunda sakit ya?"
"Mungkin gara-gara bunda terlalu banyak makan saus, atau karena kekenyangan!"
"Bukan..., sakitnya, kayak Aa mau lahir dulu!"
"Masa sih?"
"Iya, frekuensi sakitnya semakin cepat nih!"
Aku kembali meraih Hp. Aku telpon dr. Aidha. Aku ceritakan rasa sakit isteriku. Mendengar keteranganku, beliau memintaku segera datang ke rumah sakit.
Aku telpon Fauzi, adik kelasku yang sering jadi sopir dan guide tamu-tamu dari Indonesia untuk mencari mobil rental. Aku nelpon teman dekatku Arif Rahman Hakim yang menikahi adik kelasku Sarah Abdurrahmah. Mereka tinggal di Rab'ah El-'Adaweyah. Aku minta mereka datang ke rumah di Nasr City. Aku telpon adik kelasku dan temanku yang lain, Uci Supiani dan Herdi Nurmuharram.
Tidak sampai 30 menit, mereka semua sudah ada di rumahku. Setelah kami sholat Asar, kami turun dari flatku yang berada di lantai lima. Aku menuntun isteriku. Arif membawa barang-barang —pakaian isteri dan anakku yang akan lahir— yang telah aku persiapan seminggu yang lalu. Sarah membawa anaknya, Dzakwan. Uci dan Herdi membawa kebutuhan kami yang lain.
Di bawah apartemen, mobil sedan merah sudah menunggu. Fauzi memberitahuku bahwa mobil hanya muat untuk lima orang. Akhirnya, aku, isteriku, anakku, Sarah, Dzakwan, dan Uci, berangkat bersama Fauzi. Sedangkan Arif dan Herdi menyusul lewat mobil umum.
Selama dalam perjalanan, isteriku merintih sembari memegang perutnya. Dari kaca spion, aku lihat wajahnya sedang menahan rasa sakit. Aku mencoba menangkan hati dengan memeluk anak tertuaku.
Kami sampai di Rumah Sakit El-Rahmah milik Jam'iyah Syar'iyyah. Fauzi langsung pulang, sebab ada yang akan memakai mobil. Aku ke loket resepsionis. Yang lain duduk di sofa ruang tunggu. Setelah registrasi, kami langsung ke kamar 302 di lantai tiga. Di dalam kamar itu, ternyata sudah ada dua pasien yang masuk terlebih dahulu. Ranjang antara satu pasien yang lainnya, hanya dibatasi dengan kain. Isteriku menempati ranjang dekat pintu dan dekat kamar mandi.
Adzan maghrib mengumandang. Aku dan teman-temanku sholat di mushalla lantai bawah. Selesai sholat, kami menunggu isteriku masuk ruang operasi —isteriku operasi caesar, sebab anak tertuaku operasi caesar dan jarak dengan adiknya hanya setahun tiga bulan.
Ba'da Isya, isteriku masuk ruang operasi di lantai dua. Aku tidak diperbolehkan masuk. Aku bergabung dengan beberapa tamu yang menunggu keluarganya sedang dioperasi. Awalnya, hatiku begitu tegar menunggu isteriku, namun karena diantara tamu itu ada yang menangis, tak urung membuatku ikut menangis. Aku khawatir, perjuangan antara hidup dan mati untuk melahirkan isteriku, berakhir dengan kematian. Maka aku tinggalkan tempat itu, dan aku bantu perjuangan isteri dengan sholat dan do'a di mushalla.
Dua jam kemudian, aku kembali. Aku duduk di kursi depan pintu. Selama menunggu, aku melakukan isi pesan yang tertempel di dinding depanku duduk. Pesan itu berbahasa Arab, dengan arti ini: "PERGUNAKAN DETIK-DETIK ANDA UNTUK MINTA AMPUN" Sambil beristighfar, aku mengirim SMS ke mertuaku, adik dan kakakku agar mereka memberitahu ortuku di Lampung. Tiba-tiba pintu terkuak. Seorang suster, memberitahuku, "Alhamdulilah, anak dan isteri Anda selamat!"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan, mari ikut saya untuk melihatnya!"
Dalam ruangan itu, ada beberapa kamar. Aku masuk sebuah kamar besar, aku tidak menemukan isteriku, tapi ada belasan bayi dalam inkubator. Suster itu memperlihatkan putriku. Aku menangis bahagia. Aku memberikan popok dan baju anakku.
Aku kemudian ke ruang tempat isteri melahirkan. Isteriku belum sadar. Sesekali dari mulutnya keluar suara seperti sedang menahan rasa sakit. Aku hanyut dalam lautan perasaan seorang ibu yang berjuang demi anaknya.
Menjelang pukul 24:00 malam, isteriku sadar dan kembali ke kamar di lantai tiga. Arif, Sarah, Dzakwan, Herdi, dan anakku, Fatih, pulang. Uci menemani isteriku di kamar. Sedangkan aku, setelah membantu isteriku membersihkan tubuhnya di kamar mandi, membawa anakku ke isteriku, memperdengarkan adzan dan iqomat serta do'a di dekat telingan anakku, aku langsung tidur di sofa panjang di ruang tunggu di lantai pertama.
16 JUNI 2007
Adzan Shubuh membangunkanku dari tidur. Aku berwudlu dan sholat berjama'ah bersama para tamu, dokter, dan pegawai rumah sakit. Dalam sujudku, aku mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran putriku.
Aku ke kamar isteriku. Aku lihat mereka sedang tidur pulas. Aku kembali ke ruang tamu. Setelah pintu gerbang rumah sakit dibuka, aku keluar mencari makanan untuk sarapan pagi.
Beberapa menit setelah kami sarapan, teman-teman isteriku dan ibu-ibu dari Bidang Kewanitaan PIP PKS Mesir, datang menjenguk. Aku keluar untuk menjawab telpon dan SMS dari teman-temanku yang mengucapkan selamat. Ternyata, dari beberapa orang yang aku kirim SMS, berita kelahiran putri sudah menyebar lewat SMS dan milis.
Ba'da Dhuhur, dokter Aidha datang dan membolehkan kami untuk pulang. Sebelum meninggalkan rumah sakit, aku menyelesaikan urusan administrasi sekaligus mengurus persyaratan untuk membuat akte kelahiran.
Ba'da Asar, temanku Wawan datang menjemput kami dengan mobil sedan. Kami pun pulang. Sesampai di rumah, adik-adik kelasku sudah berkumpul. Ada yang masak. Ada yang menyiapkan minuman. Ada yang membereskan rumah. Ada yang menyiapkan tempat tidur anak dan isteriku.
Sejak kami pulang, baik temanku maupun teman isteriku, berdatangan ke rumah untuk ikut bersama-sama merasakan kebahagiaan kami.
17 JUNI 2007
Pagi-pagi, aku ditemani adik kelasku yang lain, Rashid Satari —Ketua Umum PII Mesir 2006-2008— ke Rumah Sakit Jam'iyyah Syar'iyah di Hayyu Sadis. Sudah menjadi aturan di Mesir, setiap bayi yang lahir, harus dicek lagi ke rumah sakit di hari ketiga.
Sesampai di Hayyu Sadis, ternyata sedang direnovasi dan pindah ke daerah Al-Madzah. Akhirnya, kami kembali mencari taxi untuk ke Al-Madzah.
Rumah Sakit Al-Madzah, masih di bawah Jam'iyyah Sayr'iyyah. Dari segi fisik rumah sakit ini bagus, bersih, dan peralatan lengkap. Begitu juga dari segi pelayanannya, ramah dan bersahabat. Di ruang tamu, tertulis: "RUMAH SAKIT INI DIBANGUN DARI SHADAQOH UMAT DAN MELAYANI MASYARAKAT DENGAN GRATIS".
Setelah di-cek, kadar "sakit kuning" anakku tinggi dan harus dirawat selama tiga hari. Namun, setelah tiga hari kemudian aku datang, belum juga boleh dibawa pulang. Selama 15 hari, setiap hari Ahad dan Rabu, aku datang ke sana.
Minggu pertama, aku membesuk tidak bersama isteriku, sebab dia belum kuat jalan. Aku bersama teman-temanku. Dan selama minggu pertama ini, isteriku tabah berpisah dengan anak kami.
Namun memasuki minggu kedua, hampir tiap hari isteriku menangis karena rindu dengan anak kami. Makanya, setiap aku menjenguk anak kami, isteri dan anakku aku bawa ke sana. Tatkala kami melihat anak kami dalam inkubator, dengan berkaca-kaca isteriku berkata, "Buya, kasihan dedek, mendingan kita bawa pulang aja, atau bunda yang minap di sini!"
Aku mengerti perasaan isteriku. Aku sudah berusaha meminta putriku agar kami bawa pulang. Namun, pihak rumah sakit belum bisa memenuhi permintaan. Makanya, setiap keluar dari ruang inkubator, isteriku tidak mau pulang, malah duduk di ruang tamu dan ingin kembali melihat anak kami.
Selama seminggu kedua itu pula, setiapkali malam isteriku menggelar kasur kecil di sampingnya. Di atas kasur itu, isteriku meletakkan pakaian putri kami. Lalu, isteriku elus-elus, seolah-olah anak kami ada di sana. Kadang-kadang, isteriku mengajak baju dan celana putriku ngobrol. Bila aku dekati, isteriku berkata, "Buya, bunda rindu sama dedek, kasihan ya dedek sendirian diinkubator!"
Setelah itu isteriku menangis. Baru berhenti setelah aku ajak bicara. Sambil memeluk isteriku, aku berkata, "Bunda, serahkan dedek sama Allah saja, dan percayalah, apa yang terjadi, inilah yang terbaik bagi kita. Coba bayangkan, apa yang terjadi jika dedek bersama kita saat ini, bukankah suhu udara kemarin saja 41 derajat?"
Walaupun sebenarnya, saat berkata seperti itu, hati kecilku juga menangis, sebab khawatir terjadi apa-apa kepada anak kami. Akan tetapi, aku berusaha menyembunyikan perasaanku di depan isteriku.
* * *
"Buya ayo makan, kok malah melamun!" suara isteriku membuyarkan bayangan kenanganku bersama putriku setahun yang lalu.
"Buya bukan melamun, buya merasa bersyukur, setelah dedek masuk rumah sakit di Al-Madzah, alhamdulillah sampai detik ini senantiasa sehat!"
"Makanya, bunda buat Nasi Kuning ini, bukan mau Ultah, tapi hanya sekedar ucapan tasyakur atas nikmat Allah, diantara nikmat umur dedek satu tahun!"
Kami pun makan, tanpa ada acara apapun, tanpa nyanyian Happy Birthday, tanpa tiupan lilin, tanpa tepukan tangan, tanpa ada pesta, dan tanpa mengundang siapapun, melainkan hanya makan dengan nasi berwarna kuning, dadar telor diris kecil-kecil, gorengan kacang kedelai, potongan tomat, dan mentimun. Meskipun acara ini sangat sederhana, namun mampu menggetarkan hatiku dan membuatku bertanya, "SUDAHKAH AKU MENJADI BUYA YANG BAIK BAGI ANAK-ANAKKU?"
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu ceritakan sebagai ungkapan rasa syukur." (QS. Adh-Dhuha; 93:11)
* * *
Cairo, 15 Juni 2008
Cathar ini sebagai kado pada TASYAKURAN SATU TAHUN putriku; Fathin Vira Rahima.
Oleh: Udo Yamin Majdi “Saya sempat menangis ketika di Sungai Nil tak kutemukan Musa. Hanya Fir'aun dan Cleopatra yang masih bercerita di sepanjang Sungai Nil”. (Mohammad Fauzil Adhim, penulis Best Seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah) Aku silaturahmi ke rumah teman. Dia memberitahuku bahwa ada alumni Al-Azhar menulis buku baru. Dia memperlihatkan kepadaku, cover buku itu. Aku terkejut, melihat judul, cover, dan sinopsisnya. Mirip dengan Jakarta Undercover. “Kok bisa ya, ia menulis buku seperti ini?” Tanya batinku. Aku benar-benar heran. Apa manfa’atnya menulis tentang dunia selingkuh dan perzinaan? Lalu, di manakah ilmu keislaman yang mereka pelajari di bangku pesantren dan universitas Al-Azhar selama ini? Belum juga selesai rasa tak percayaku, tiba-tiba aku terkejut kembali melihat nama dan identitas pemberi endorsment. Di sampul belakang buku itu, tertulis: nama pena mirip dengan nama Habiburrahman El-Shirazy dan judul bukunya mirip dengan Ayat-Ayat Cinta. Akhirnya, aku melupakan buku latah Jakarta Undercover, malahan ingat novel yang latah Ayat-Ayat Cinta. Saat membaca komentar orang itu, aku teringat dengan cerita Kang Abik pada acara Sarasehan bersama Kru Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) di Wisma Nusantra Cairo. Dalam acara itu, Kang Abik menjelaskan bahwa yang menodai kebangkitan sastra dakwah atau sastra Islami, bukan orang lain, tapi mahasiswa universitas Al-Azhar Mesir sendiri. Kang Abik tidak menyebutkan nama orang itu. Selesai acara, aku dan teman-teman yang dulu pernah aktif di FLP Mesir kumpul. Dalam obrolan ini, karena aku penasaran dengan mahasiswa yang Kang Abik sebutkan dalam Sarasehan, maka aku bertanya. Setelah mendapatkan info dari Kang Abik, aku tidak merasa aneh, sebab orang itu, selama di Mesir, memang selalu berseberangan dengan pegiat sastra Islami. Bahkan dia menulis di republika dengan judul “Tidak Ada Sastra Islami”. Tentu saja sangat lucu, ketika 2003-2005 ia mengkritik habis-habisan sastra Islami, namun ketika Ayat-Ayat Cinta dari penulis yang ia tidak sukai booming, maka tahun kemaren ia, menulis novel dengan setting Cairo, peran tokoh sebagai mahasiswa Al-Azhar, dan simbol-simbol Timur Tengah —yang dulu dia kritik, mirip dengan novel Ayat-Ayat Cinta. Namun, tentu saja dari segi muatannya, sangat berbeda, sebab Kang Abik menulis untuk dakwah, sebaliknya, orang itu menulis bukan untuk dakwah. Selain itu, bedanya, Kang Abik berusaha meretas nuansa sastra baru dan berperan sebagai trend setter (sunnah hasanah), sedangkan orang itu —meminjam pengantar seorang sastrawan terhadap novel pertamanya— tidak ada hal yang baru, bahkan terkesan klise, hanya menghabiskan halaman tanpa makna. Dan ia, termasuk karnaval orang “latah” ingin cepat sukses di balik bayangan Ayat-Ayat Cinta. Sebenarnya, kalau ia menulis novel dengan warnanya sendiri, maka mungkin aku tidak akan mempermasalahkannya. Namun yang membuatku tergerak untuk menulis adalah karena ia —dan orang-orang sepertinya— ternyata suka “menjilat ludah mereka sendiri”. Mereka benci dan caci sastra Islami, namun setelah sastra Islami itu terbukti disukai banyak orang, eee... mereka tanpa rasa malu, mereka ikut-ikutan. Demi apakah itu? Apakah demi memperjuangkan sastra Islami? Tentu saja tidak! Sebab, dalam tulisannya, ia tidak setuju ada sastra Islami. “Membebaskan fungsi sastra”, tulisannya di koran republika, “dari pemahaman agama sastra islami berarti melepaskan kungkungan dalam sebuah bangunan struktur yang merujuk pada penafsiran tunggal dengan pagar agama. Bagaimanapun, sastra itu bermain dalam wilayah estetika. Bukan dalam wilyah idiologi. Dengan demikian, bangunan estetis yang terkonstruksi dalam sastra tidak perlu mengacu pada dogma yang berlaku di dalam agama karena sastra itu sendiri bermain dalam tataran hukum positivisme sama seperti agama. Jadi, sebenarnya sastra islami tak ada”. Bukankah sangat jelas bahwa mereka menulis tidak berangkat dari sebuah idiologi? Lantas apa yang menggerakkan mereka menulis meskipun harus mengekor kepada apa yang mereka caci? Silahkan tanya langsung kepada mereka! Aku hanya ingin mengatakan, meskipun sama-sama kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, maka belum tentu akan sama-sama memperjuangkan Al-Islam. Sama halnya dengan Fir’aun dan nabi Musa, walaupun mereka pernah satu rumah, makan, minum, dan tidur bersama, namun apa yang mereka perjuangkan tetap berbeda. Dan aku merasakan kesedihan Mas Fauzil Adhim, setiapkali ada alumni atau mahasiswa Al-Azhar yang menulis sesuatu yang bertolak belakang dengan ajaran Islam yang mereka pelajari selama ini. Lebih sedih lagi, ketika yang mereka nodai sastra Islami dan teman mereka sendiri. Seharusnya mereka berusaha membantu agar sastra Islami tetap mesra di hati para pembaca, namun yang terjadi sebaliknya, justru mereka berusaha menceraikannya. Wallahu a’lam.
Oleh: Udo Yamin Majdi Bismillâh. Selama ini, karena saya tinggal di Mesir, maka buku yang saya baca lebih banyak buku berbahasa Arab. Dalam minggu ini, selain buku-buku akademis, hari-hari saya ditemani oleh buku “Sayyid Quthub: Al-Adîb an-Nâqid, wa ad-Dâ’iyah al-Mujâhid, wa al-Mufassir al-Râid. Buku terbitan Damaskus ini, ditulis oleh Sholah Abdul Fattah Al-Khalidy. Karena saya ikutan Sekolah Menulis Online [SMO] dan penyelenggaranya berada di Indonesia, maka saya meminjam buku milik FLP Mesir —dan dari teman— yang berbahasa Indonesia, agar saya bisa memahami struktur, gaya, diksi, dan cita rasa (zawwuq) bahasa Indonesia. Akhirnya, saya pinjam buku ini: FSQ: Memahami, Mengukur, dan Melejitkan Financial Spiritual Quotient untuk Keunggulan Diri, Perusahaan & Masyarakat karya Iman Supriyono, Catatan Hati Seorang Isteri karya Asma Nadia, Tuhan Jangan Tinggalkan Aku karya Pipiet Senja, Kumcer Kelopak Mawar Terakhir karya Irwan Kelana, dan Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Al-hamdulillâh, dalam tiga hari, lima buku itu, saya baca tamat. Terlalu panjang, jika saya ceritakan semua buku tersebut. Saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang buku terakhir: Sang Pemimpi. Bagaimana buku ini menurut saya? Untuk buku ini, saya angkat dua jempol tangan saya. Betapa tidak? Jika —salah satu— fungsi buku adalah menghibur, maka buku ini telah menghibur saya. Setidaknya, selama saya membaca buku itu, saya seperti orang gila. Sehingga ketika saya baca di atas bus, penumpang di sekitar saya menatap saya dengan pandangan aneh. Atau, saat saya baca dekat isteri dan dua anak saya, mereka jadi ikut tertawa: menertawakan saya, karena saya tertawa sendirian. Seperti buku sebelumnya —Laskar Pelangi, buku Sang Pemimpi ini, mampu mengajak saya untuk bernostalgia ketika saya seusia Arai dan Ikal. Sebab, apa yang Andrea Hirata ceritakan di Belitong, juga terjadi pada saya dan teman-teman saya di daerah pesisir Lampung Barat. Ditambah lagi, proses mereka menuju Univesite de Paris di Sarbonne, Prancis, mengingatkan perjalanan hidup saya hingga kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir. Kami memang sama-sama mendapat beasiswa. Hanya saja bedanya antara saya dan tokoh Sang Pemimpi —Ikal dan Arai— itu, saya ke Cairo, sedangkan mereka ke Sarbonne. Saya dapat beasiswa, karena semata-mata rahmat Allah Swt, sedangkan mereka memang orang pintar. Saya berawal dari "mimpi" dalam tidur, sedangkan mereka "impian" dalam kelas.
O iya, sedikit menyimpang dari obrolan kita, saya ceritakan tentang "mimpi" saya itu. selama enam tahun menjadi santri, saya tinggal di asrama putra pondok pesantren. Di sinilah pertama kali saya "melihat" Mesir. Dalam tidur saya, saya bermimpi sedang berada di Mesir. Saya anggap hal yang biasa.
Mimpi saya kelas dua mu'allimin (SLTA) itu, baru sadari ketika dua tahun kemudian saya berada di "Negeri Ayat-Ayat Cinta". Sebab, saya merasa aneh, ketika saya sedang jalan-jalan, saya seolah-olah pernah melakukannya. Padahal saya baru pertama kali ke sana.Ternyata apa yang saya saksikan di Cairo, ternyata dulu saya "lihat" dalam mimpi.
Aneh ya? Saya juga aneh. Bukan satu-dua kali saya mengalami hal ini —bermimpi, lalu terjadi. Sebagai contoh, ketika satu tahun saya di Mesir, tahun 2001, saya bermimpi Aa Gym poligami. Tentu saja teman-teman saya menertawakan saya, mana mungkin Aa Gym nikah lagi, sebab apa yang Aa Gym butuhkan ada pada Teh Ninih? Namun setelah Aa Gym menikah lagi tahun kemaren, 2007, maka saya tersenyum mengingat mimpi saya enam tahun yang lalu. Kok bisa gitu? Wallahu a'lam.
Baik, kembali ke tokoh Sang Pemimpi. Saya begitu mudah berteman dengan sang tokoh, baik Ikal maupun Arai. Jadi betul, kata Josip Novkovich bahwa pada umumnya orang membaca cerita bukan karena plotnya, melainkan (karena tokohnya) bisa dijadikan teman pada waktu senggang. “Ceritakan kepadaku tentang diriku. Aku ingin lebih hidup. Beri aku diri”, tulis Josip dalam buku Berguru kepada Sastrawan Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi (Kaifa, 2003). Dan Andrea Hirata mampu menghadirkan diri saya dalam novelnya, maka menurut saya —sekali lagi— novel itu sangat menarik, meskipun kalau saya takar dengan timbangan sastra, tentu saja ada kekurangan, terutama tentang plotnya. Wallahu a’lâm
Oleh: Udo Yamin Majdi Bismillâh. Ketika saya menjadi pemateri dalam beberapa pelatihan menulis dan jurnalistik, para peserta —teman-teman mahasiswa Indonesia Mesir [Masisir]— sering mengajukan pertanyaan ini: “Apa yang menggerakkan atau memotivasi Udo untuk menulis?” Dengan kata lain, “Apa yang saya harapkan dari kegiatan menulis?” Sebagai seorang muslim, apapun yang saya lakukan selalu berpijak pada tujuan hidup sekaligus kaidah ini: hayâtunâ kulluhâ ‘ibâdah [Hidup kami semuanya untuk ibadah]. Dan makna ibadah, bukan hanya urusan vertikal (mahdhoh) —sholat, puasa, zakat, haji, dst, melainkan pada tataran horizontal (ghairu mahdhoh) —mencari rizki, mencari ilmu, dan mencari teman hidup. Tiga hal inilah yang dicari dan dibutuhkan oleh manusia. Menurut nabi Muhammad Saw., mencari rizki, ilmu, dan teman hidup, sebagai bekal setelah mati. Sedangkan bagi Stephen R. Covey, ketiganya, sebagai warisan setelah mati. Nabi memakai istilah shadaqah jâriyah, al-‘ilmu yuntaf’u bihî, dan waladin shâlihin yad’u lahu. Adapun Covey menyebutnya to live, to learn, dan to love. Meskipun mereka berdua berbeda istilah dan memfungsikannya, namun pada hakikatnya mereka sama, bahwa shodaqah jariyah atau to live tidak mungkin kita capai kecuali dengan bekerja; al-‘ilmu yuntafu’i bihi atau to learn bisa kita raih dengan belajar, dan waladin shalihin atau to love terwujud dengan ikatan atau komitmen. Lantas, apa hubungan antara motivasi atau harapan menulis saya dengan tiga hal itu? Begini, kalau saya coba rumuskan, yang menggerakan; memotivasi; harapan saya menulis, sebenarnya, tidak pernah lepas dari tiga hal ini: Pertama, saya menulis untuk shadaqah jariyah atau to live. Sebagai pribadi, apalagi sebagai kepala rumah tangga, saya membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis lainnya. Dan semuanya itu, tidak mungkin saya dapatkan dengan gratis. Butuh yang namanya duit. Untuk dapat duit, saya butuh sebuah pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang memungkinkan untuk saya lakukan —sesuai dengan sikon, kemampuan, dan kemauan atau hobi saya — saat ini adalah menulis. Sekarang ini, hasil dari menulis saya, baru bisa menutupi sebagian kebutuhan sehari-hari. Saya hanya mampu shadaqoh untuk isteri dan anak-anak saya. Namun saya punya impian, suatu saat nanti —mudah-mudahan Allah mengizinkan— dari kegiatan menulis saya mampu membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ini banyak dilakukan oleh para ulama sejak dahulu hingga saat ini. Dalam konteks Indonesia dan saat ini, itu dilakukan oleh Gola Gong dengan Rumah Dunia; Mohammad Fauzil Adhim dengan SDIT; oleh Habiburrahman El-Shirazy dengan Pesantren Karya BASMALA; Andre Hirata dengan Laskar Pelangi in Action (sekolah gratis), dan yang lainnya. Kedua, saya menulis untuk al-ilmu yuntafa’u bihi atau to learn. Sebagai santri dan da’i, saya memiliki kewajiban untuk menyampaikan ilmu yang telah saya peroleh selama ini. Kalau kita meneliti metode dakwah para nabi dan rasul serta salafush shalih, mereka berdakwah menggunakan sarana yang sedang berkembang pada saat itu. Dan menurut saya, yang berkembang saat ini adalah teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Sudah barang tentu, jika saya hanya menggunakan mulut (ceramah, khutbah, pengajian, dan sejenisnya) saja, maka seruan saya itu tidak ada artinya di tengah banjirnya pengetahuan, ilmu, dan ajakan dari orang lain yang mempergunakan TIK. Oleh sebab itu, selain berdakwah bil lisan, maka saya harus dakwah bil qalam lewat media TIK tersebut, baik itu lewat buku, e-book, blog, milis, media massa, dan yang lainnya. Melalui tulisan, saya menyampaikan dan mengajak manusia kepada Al-Islam. Menulis dalam rangka al-ilmu yuntaf’u bihi itu, sudah menjadi tradisi ulama terdahulu. Dalam bidang tafsir, kita mengenal Imam Ath-Thobari, Imam Qurtubi, dan seterusnya. Dalam bidang hadis, kita mengetahui Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Abu Dawud, dan seterusnya. Dalam bidang fiqh, kita dapat membaca karya Imam Syafi’i, Imam Hanbali, Imam Maliki, Imam Hanafi, dan yang lainnya. Nah, semangat menyebarkan ilmu untuk memenuhi kebutuhan psikologis itulah, yang memotivasi saya untuk terus menulis. Ketiga, saya menulis untuk waladin shalihin yad’u lahu atau to love. Sebelum menikah saya berjuang melakukan proses “Qû anfûsakum”, saya juga harus Qû ahlikum [menjaga keluarga] dari an-nâr [api neraka]. Dalam rangka Qû anfusakum ahlikum nârâ [menjaga diri dan keluarga dari api neraka], maka saya dan isteri saya merumuskan visi, misi, dan strategi agar keturunan kami termasuk waladin sholihin yad’u lahi atau generasi sholeh. [menjaga diri sendiri], maka setelah nikah, selain itu Namun, tak ada artinya, segala rencana untuk meraih impian kami itu, jika saya meninggal dunia. Agar proses pembentukan anak sholeh itu terus berlanjut, maka saya harus mendokumentasikan ilmu, pengetahuan, pemikiran, dan pesan dalam bentuk tulisan, agar dibaca oleh anak-cucu saya nanti. Menulis untuk anak-cucu itu, lagi-lagi menjadi tradisi para ulama terdahulu, misalnya Imam Ibnu Hajar menulis kitab Bulûghul Marâm untuk anaknya yang ketika itu berumur tujuh tahun. Dan ternyata kitab itu, tidak hanya bermanfa’at untuk anak-cucu Ibnu Hajar saja, melainkan untuk kaum muslimin, bahkan kitab itu menjadi buku pegangan para ustadz dan santri di berbagai pesantren di Indonesia. Dan saya pun, selama ini menulis sebagai bentuk cinta saya terhadap keluarga, khususnya untuk anak-cucu saya nanti agar mereka bisa belajar kepada saya meskipun saya telah lama tiada nanti. Dari pemaparan singkat saya tadi, terlihat bahwa saya menulis adalah sebuah proses bagi saya untuk menjadi pekerja sejati, pembelajar sejati, dan pecinta sejati. Dan tiga peran ini, jika saya kaitkan dengan duniawiyah, maka berfungsi sebagai warisan setelah mati. Sebaliknya, jika saat kaitkan dengan ukhrawiyah, maka berfungsi sebagai bekal setelah mati. Oleh karena itu, menulis bagi saya adalah warisan sekaligus bekal untuk menjemput kematian. Keinginan untuk meninggalkan warisan dan mempersiapkan bekal itu terungkap dengan indah dalam do’a nabi Ibrahim as, “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi generasi selanjutnya serta jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan” Wallâhu a’lâmu. (QS. Asy-Syu’raa [26]: 85). Jadi, sekali lagi, saya menulis merupakan sebuah upaya untuk memberikan warisan yang terbaik untuk anak-cucu saya nanti dan sebagai bekal untuk meraih surga. * * *
NB: Minta do'anya, agar Allah Swt. membantu dan memberikan kemudahan kepada saya untuk menuliskan hal-hal yang bisa menjadi warisan terbaik sekaligus bekal saya untuk meraih surga
Aku bingung. Aku tertunduk lemas di atas kursi ruang tunggu Majlis A'la. Aku baca lagi, point-point yang tertulis di atas surat ikrar itu. Di sana termaktub bahwa apabila salah seorang kerabat mendapatkan beasiswa dari Universitas Al-Azhar atau lembaga beasiswa lainnya di Mesir, maka beasiswa dari Majlis A'la akan dihentikan. Satu sisi, aku sangat membutuhkan beasiswa dari Majlis A'la itu. Namun di sisi lain, isteriku telah mendapatkan beasiswa Universitas Al-Azhar.
"Gimana nih?" aku bertanya kepada temanku.
"Udahlah Do, cuek aja", jawabnya. "Lagian, ada lho, yang udah nikah mendaftarkan diri, sedangkan isterinya udah dapat minhah dari Azhar, sampai sekarang mereka enjoy aja, pihak Majlis A'la dan Azhar tidak tahu kok!"
"Justru ini yang jadi masalahku, kira-kira menurutmu, apa hukumnya, kita mendapatkan uang dengan cara bohong?"
"Wah, kalau dilihat dari sudut itu, memang bohong sih, tapi anggap saja ini darurat bro!"
Aku diam. Sementara temanku itu, ikut bergabung antri dengan puluhan mahasiswa Indonesia Mesir lainnya. Mereka menyerahkan berkas persyaratan. Aku memandang mereka dengan tatapan kosong. Jantungku, berdetak semakin kencang. Tubuhku pun berkeringat.
Aku bimbang. Kalau aku batalkan, berarti aku tidak menghargai perjuanganku selama tiga bulan untuk mendapatkan persyaratan dan surat pernyataan tidak mendapatkan beasiswa dari lima instansi di Mesir. Jika aku tetap ajukan, berarti aku melanggar aturan yang ada. Aku yakin, pihak Majlis A'la tidak pernah akan tahu bahwa isteriku telah mendapatkan beasiswa Al-Azhar. Begitu sebaliknya, pihak Al-Azhar, tidak akan tahu, bahwa aku mendapatkan beasiswa Majlis A'la. Sebab, baik persyaratanku maupun isteriku, tidak ada yang mencantumkan status pernikahan, apalagi nama dan identitas suami atau isterinya.
"Ya Allah, bimbing hamba-Mu ini!" pintaku dalam batin. Aku menundukkan kepala. Aku pejamkan mata. Kedua telapak tanganku, aku rapatkan. Lalu aku letakan di depan keningku. Dalam hening aku, meminta fatwa kepada hati nuraniku. Perlahan-lahan, ada cahaya muncul dalam hatiku. Dan itu menjadi solusi. Dengan semangat aku berdiri. Aku temui petugas registrasi beasiswa. Aku ceritakan, apa yang aku alami. Ibu berwajah Mesir yang dibungkus jilbab putih itu tersenyum. Kemudian, beliau berkata, "Aku hargai kejujuranmu. Aku ingin membantumu, tapi aku juga harus ta'at aturan. Begini saja, kalau masih penasaran, coba hubungi pihak Al-Azhar. Kalau kata mereka boleh, maka aku akan terima!"
Plong. Perasaan bagaikan ditindih pegunungan Himalaya, tiba-tiba menjadi seringan kapas. Beban batinku hilang. Aku pamit duluan pulang, kepada temanku. Aku keluar dari apartemen Majlis A'la. Aku melangkahkan kaki menuju mahattoh (halte). Mini bus nomor 132 datang. Aku melampaikan tangan. Mobil berhenti. Aku naik.
Di atas mobil, aku merenungi pergulatan batinku tadi. Bayangan isteriku yang sedang hamil hadir dalam benakku. Aku telah berjanji kepada Allah, aku tidak pernah akan memberikan barang syubhat, apalagi haram kepada diriku, isteriku, anak-anakku, dan keluargaku. Dalam mobil menuju rumahku itu, aku teringat dengan kisah Al-Majlisi al-Awwal wa ats-Tsani: Maula Muhammad Taqi Isfahani, dan putranya, Maula Muhammad Bagir.
Seperti biasanya, bapak dan anak itu, selalu barengan ke masjid. Ba'da sholat, sang bapak memberikan ceramah kepada jama'ah, sedangkan sang anak bermain.
Hari itu, penulis ensiklopedia Bihar al-Anwar 110 jilid yang masih berusia tujuh tahun itu, bermain di depan masjid. Di sana, ada girbah (wadah air minum terbuat dari kulit). Calon ulama itu, menemukan jarum di tanah. Ia ambil. Ia tusukkan jarum itu ke girbah. Dengan senangnya, ia bermain dengan air yang memancar. Girbah itu pun kosong. Ia kembali bergabung dengan pengajian bapaknya.
Tiba-tiba, beberapa jama'ah ribut. Mereka kaget, girbah itu bolong. Itu belum pernah terjadi sebelumnya. Muhammad Bagir kecil, hanya diam. Namun tak berapa lama, marbot (petugas) masjid melaporkan kepada Muhammad Taqi, bahwa pelakunya adalah putranya. Al-Allamah Majlisi meminta ma'af kepada jama'ah atas kelakuan anaknya. Selesai pengajian, sang bapak tidak berkata apa-apa. Namun dari raut wajahnya, terlihat sedih dan menahan amarah.
Sesampai di rumah, ulama keturunan Hafidz Abu Nua'im al-Isfahani (penulis kitab Hilyatul Awliya) itu, menceritakan kepada isterinya. Kemudian berkata, "Sayang, seingat saya, saya telah menjaga ajaran Islam sebelum pembentukan nuthfah hingga anak kita lahir. Saya juga telah menjaga diri, dari makanan haram. Apa yang dilakukan oleh anak kita hari ini adalah cermin bahwa kita telah melakukan dosa. Nah, cobalah ingat, apakah adinda pernah melakukan sebuah kesalahan waktu hamil?"
Sang isteri merenung. Tak berapa lama, terlintas sebuah kejadian yang membuat wajahnya berubah. Ia menatap wajah suaminya, selanjutnya berkata, "Iya, itu memang salah saya!"
"Sayang, kesalahan apa yang telah engkau lakukan?"
"Gini", ujar sang isteri mulai bercerita, "dulu, waktu saya hamil, saya main ke tetangga. Tatkala pulang dari sana, saya melewati pohon anggur. Entah bagaimana, tiba-tiba saya sangat ingin anggur masam. Makanya, saya cicipi anggur itu dengan melubanginya pakai jarum. Ternyata tidak masam, tapi manis. Maka saya tidak jadi memetiknya. Tadinya, saya berniat untuk memberitahu sekaligus minta izin sama tetangga kita atas perbuatan saya itu. Namun, lagi-lagi entah mengapa sampai detik ini belum saya lakukan!"
Selesai membayangkan kisah itu. Aku merasa bersyukur sekali atas keputusanku di Majlis A'la. Aku sangat yakin, sebagaimana pernah dituturkan oleh nabi Muhammad Saw, bahwa kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga. Dan sebelum aku mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah Swt di akhirat nanti, aku telah merasakan surga di dunia: rasa bahagia; tak ada tekanan batin.
* * *
"Buya", tanya isteriku sambil memberikan segelas air minum, "gimana sukses?" "Alhamdulillah sukses!" jawabku setelah mereguk air putih dari kulkas itu. Rasa haus yang aku tahan sejak di mobil langsung hilang. Aku ambil tas. Aku keluarkan map hijau, isinya persyaratan Majlis A'la. Aku berikan kepada isteriku, sembari berseloroh, "Bunda, ini titipan dari petugas Majlis A'la!"
Isteri membuka map itu. Beliau kaget, setengah berseru bertanya, "Kok, berkasnya masih buya pegang?"
Aku ceritakan semua kejadian di Majlis A'la kepada isteriku. Isteriku diam. Aku tidak tahu, apa yang ada dalam benaknya. Namun, aku lihat beliau tersenyum, "Yah, gak apa-apa buya, namanya juga usaha. Belum rizkinya kali!"
"Buya sih nyantai, berarti sukses dong?" godaku.
"Yeee... sukses apaan?"
"Kan dari awal, buya merasa keberatan mengajukan minhah. Mendingkan buya berpikir dan berusaha keras mengoptimalkan potensi yang ada, daripada ngejar pemberian orang. Dari sekarang kita harus punya mental mandiri dan selalu ingin memberi, dari pada mengharap bantuan orang. Nah, sukses itu kan kalau kita meraih apa yang kita inginkan, maka buya sukses dong, sebab keinginan tidak mendapat bantuan orang tercapai? Hehehe!"
"Enggak mau... enggak mau..., ini kesempatan buya, itu hak kita. Kita kan fi sabililillah, ibnu sabil, dan termasuk fuqoro!"
"Iiih, kalau fi sabilillah dan ibnu sabil ya, tapi fuqora wal masakin, tunggu dulu. Sebab, buya masih punya panca indra, punya tangan, punya kaki, badan sehat, dan masih bisa usaha!"
"Terserah buya, yang penting besok buya ke muraqib. Tanya apa yang disarankan oleh pihak Majlis A'la. Kalau memang tidak bisa, baru bunda terima!"
"Oke deh, buya mau istirahat dulu!" ujarku, lalu berbaring di atas kasur.
* * *
Keesok harinya, aku ke muraqib (kantor administrasi) Al-Azhar. Di sana aku menemui mudirnya. Aku ceritakan persoalan yang aku hadapi. Lagi-lagi, jawabannya, seperti petugas Majlis A'la, "Afwan, betapa inginnya saya bantu Anda, tapi sayang aturannya sudah demikian!"
Aku pun pulang. Selama dalam perjalanan, aku membayangkan kemenanganku atas keinginan isteriku. Aku ingin cepat-cepat menemui isteriku.
* * *
Aku ingat kejadian di Majlis A'la itu, sebab beberapa hari lalu, seorang teman bertanya, "Kok Fatih dan Fathin, sehat selalu; jarang sakit, enerjik, dan kreatif, apa rahasianya?"
Aku menceritakan kejadian di Majlis A'la itu. Lalu aku menambahkan, "Ya mungkin juga, karena Fatih dan Fathin sering saya kasih madu dan diperdengarkan bacaan Al-Quran. Bukankah dalam Al-Quran, kata "asy-syifa", yang artinya obat, tertuju untuk dua hal: pertama, Al-Quran; kedua, Madu. Saya yakin, siapapun yang sering minum madu dan membaca atau mendengar Al-Quran akan sehat. Sebab, madu membantu menyeimbangkan fisik, sedangkan Al-Quran menyeimbangkan psikologis. Bukankah yang namanya sehat, tatkala tubuh kita seimbang, sedangkan sakit manaka tubuh kita tidak seimbang?"
Temanku mengangguk-anggukkan kepala. Aku tidak tahu, apakah ia benar-benar memahaminya, atau sebaliknya. Yang jelas, aku lihat ia seperti serius mencerna penjelasanku.
* * *
Peristiwa di Majlis A'la tiga tahun yang lalu itu, selalu aku ingat, setiap aku melakukan sesuatu dalam mencari nafkah. Aku telah merasakan, ketika aku tidak dapat minhah dari Majlis A'la itu, alhamdulillah, dengan cara lain Allah membukakan pintu rizki-Nya. Tidak terbayang, apa yang terjadi, jika aku mengikuti hawa nafsu untuk mendapatkan beasiswa itu dengan cara berbohong. Bukankah itu ibarat tanah hijau di atas batu cadas? Seperti subur, namun ketika ada air hujan, maka mudah tergusur, sehingga akhirnya tidak memiliki apa-apa. Lebih ngerinya lagi, jika putra Majlis hanya diberi "cicipan" sebesar jarum sudah demikian, apalagi kalau bertahun-tahun anak makan barang syubhat atau haram?
Aku merasakan, manakala apa yang aku minum, makan, dan apa yang aku pakai benar-benar jelas kehalalannya, penuh dengan berkah. Meskipun saat ini, rizki yang aku terima pas-pasan, namun aku melihat penuh dengan berkah. Seperti tanah subur, meskipun hanya mendapatkan gerimis, maka akan menumbuhkan pepohonan yang lebat. Ya, lebih baik rizki sedikit, badan tetap sehat, jauh dari tekanan batin, hidup tentram, damai, dan sejahtra, daripada rizki melimpah, namun sering sakit, merasa dikejar-kejar dosa, dan hidup penuh dengan masalah. Inilah yang aku maksud, Tiada Hujan, Gerimis Pun Jadi! Wallahu a'lam.
Sepulang dari Wisma Nusantara —mengantar Mas Imam Tantowi; penulis skenario film "Ketika Cinta Bertasbih" [KCB] dan Ustadz Abu Ridlo, konsultan keagamaan film KCB ke super market TAWHID wa NUR dan GANENA— aku mampir ke Restoran SEHATI. Di restoran milik Perwakilan Persatuan Islam (Persis) Mesir ini, ada Teguh dan Pian sedang jaga.
"Do makan", kata Teguh, "sayur Sabanakh banyak tuh, kalau malam ini gak habis, besok basi!"
Mendengar nama sayuran kesukaanku; Sabanakh (Bayam Mesir), perutku yang dari tadi sore keroncongan, langsung bereaksi. Namun aku tahan. Dengan halus tawaran itu aku tolak, "Enggak ah, masih kenyang!"
Sambil nonton tv, aku temani Teguh dan Pian. Di sela-sela menunggu pembeli datang, kami ngobrol berbagai hal. Aku ceritakan rencana pembuatan film KCB di Mesir. Berdasarkan obrolan dengan Mas Imam Tantowi di Wisma Nusantara, insya Allah, besar kemungkinan film KCB yang ber-setting Mesir, bisa shooting di Mesir. Meskipun memang mahal. Semuanya harus bayar. Sebab, shooting di tengah jalan atau tempat umum lainnya, kalau di Indonesia gratis, di Mesir harus bayar mahal, apalagi di tempat-tempat wisata.
"Do, makan yuk, ntar mau tutup, sedangkan sayur banyak dan tidak boleh ada sisa!" ajak Pian yang membawa sepiring nasi, lalu duduk di sebelah kananku.
"Silahkan!" jawabku.
"Gratis lho!"
Aku tersenyum. Bukan masalah bayar atau tidak, sebab ada uang dalam saku bajuku. Bukan masalah lapar atau tidak, karena dari tadi siang aku belum makan. Bukan pula enak atau tidaknya menu makanan, sebab aku tahu makanan itu kesukaanku. Bukan malu atau tidak, karena Teguh dan Pian adik kelasku selama di pesantren, ditambah aku salah seorang perintis mendirikan Restoran SEHATI itu. Tapi...,
"Udo mah, gak mau makan, tanpa teh Ami ya?" celetuk Teguh, mahasiswa Al-Azhar asal Sukabumi.
Lagi-lagi aku tersenyum. Mendengar perkataan mantan Ketua FLP Mesir yang sekarang menjadi direktur sekaligus koki handalan Restoran SEHATI itu, aku teringat dengan salah satu perubahan dalam hidupku setelah menikah. Iya, dulu sebelum nikah, aku tidak pernah menolak jika diajak makan. Namun sejak aku menikah, aku sering menolak makan di luar. Biasanya, apabila aku selesai mengisi sebuah acara mahasiswa Indonesia Mesir, panitia akan menawarkan makan. Namun, berbagai alasan, aku menolak. Bila aku kenal dekat dengan panitia, maka dengan rada sungkan, aku meminta panitia membungkus makanan itu agar aku bawa pulang. Namun rata-rata, panitia faham, dan berkata, "Kalau begitu, kita bungkus aja ya, sekaligus untuk keluarga Udo!"
"Oh boleh!" sahutku dengan malu-malu. Sebenarnya, aku tidak perlu malu, sebab itu memang hakku setelah meluangkan waktu untuk mereka. Mengisi acara di Mesir sangat beda dengan di Indonesia. Di Mesir, para pemateri, sebanyak apapun waktu yang mereka keluarkan, hanya mendapatkan piagam, makan, dan ucapan terima kasih. Beda dengan di Indonesia, aku dengar, ada amplopnya. Tentu saja, kondisi di Mesir ini, sangat mendukung keikhlasan para pemateri bahwa mereka mengisi acara bukan untuk amplop, tapi benar-benar ingin berbagi dan sebagai bekal untuk menjumpai Allah di surga.
"Sekali-kali makan di luar dong!" rayu Teguh kembali.
"Syukron, suatu saat nanti, kalau antum udah menikah, maka akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini!"
"Perasaan apaan tuh Do?"
"Perasaan ada cinta dalam nasi!"
Teguh tertawa. Mungkin ia tidak percaya, seperti aku dulu menertawakan akan ada cinta di segelas juz mangga. Empat atau lima tahun yang lalu, aku membaca sebuah buku. Aku lupa lagi judul buku itu. Yang jelas, kisahnya, masih melekat dalam otakku.
Ceritanya begini: dalam sebuah acara di Iskandariyah, ustadz Umar Tilmisani diundang ifthor (buka puasa) Ramadlan. Para ikhwah, menghidangkan segelas juz mangga. Tiba-tiba, wajah sang mursyid gerakan Ikhwan al-Muslimin (IM) tersebut langsung berubah pucat. Saat adzan berkumandang, beliau sama sekali tidak menyentuh minuman itu, bahkan ketika ditawarkan ia menolak. Para ikhwah penasaran dan bertanya, "Wahai ustadz, apakah antum alergi minum juz mangga?"
Sambil tersenyum, beliau menjawab, "Ah enggak juga!"
Seusai ifthor, ada ikhwah yang masih ingin menguak rahasia penolakan Ustadz Tilmisani terhadap juz mangga. Beliau menolak untuk menjelaskannya. Namun, setelah terus didesak, beliaupun bercerita,
"Begini, dulu, terkadang saya pulang kerja agak terlambat, dan isteri saya dengan setia menanti. Biasanya, saya membawa juz mangga dan kami minum bersama-sama. Setelah isteri saya meninggal, saya tidak bisa minum juz mangga tanpa dia. Saya senantiasa berdo'a kepada Allah, agar mempertemukan kami di surga dan minum juz bersama dari buah-buahan yang ada di surga!"
Saat membaca cerita itu, aku anggap itu hanya ada dalam novel atau film romantis. Namun, setelah tiga tahun lebih aku berumah tangga, ternyata aku merasakan apa yang dirasakan oleh Al-Ustadz Umar Tilmisani itu.
Suatu ketika aku mengisi acara sarasehan budaya di sebuah organisasi pegiat sastra di Mesir. Usai acara, panitia mengajakku bincang-bincang di kamar sebentar. Ternyata, sambil ngobrol santai, mereka menghidangkan makan malam. Aku tidak bisa menghindar. Aku makan. Akan tetapi, baru beberapa suap, aku teringat isteriku. Seluruh kenikmatan nasi mutiara dan daging ayam dalam piring di depanku hilang. Aku hampir menangis. Aku tidak melanjutkan makananku. Para panitia merasa aneh.
Mengapa aku ingin menangis? Sebab, di rumah, aku tahu isteriku belum makan. Di rumah, tidak ada beras walaupun sebutir. Kami benar-benar lagi tidak punya uang. Mau minjam ke tetangga malu. Minhah (beasiswa) turun, tiga hari lagi. Maka kami putuskan, selama tiga hari itu, kami hanya minum dan makan roti.
Nah, sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi makan di luar rumah, kecuali bersama isteriku. Aku baru sadar, tatkala aku tidak bisa memberikan sesuatu kepada isteriku, maka merasakan penderitaannya; tidak bisa berbahagia di atas penderitaannya, dan merasa senasib, adalah salah satu bentuk dari cinta. Atau, inikah yang disebut setia?
* * *
Sepuluh menit Restoran SEHATI tutup. Aku pulang ke rumah, yang tidak jauh dari restoran itu. Sesampai di rumah, isteriku sedang membaca muqarar (diktat kuliah). Kedua anakku, Fatih dan Fathin sudah tidur.
"Bunda, udah makan, belum?" tanyaku.
Isteriku berhenti membaca, lalu mendekati meja makanan dan berkata, "Belum. Lapar sih dari tadi, tapi bunda nunggu buya, agar makan barengan!"
Deghhh... ada gemuruh dalam hatiku. Aku terharu. Apa jadinya, jika aku tadi makan di Sehati? Isteriku saja rela menahan lapar demi aku, lalu mengapa aku tidak bisa? Apakah yang membuat isteriku mau menungguku?
Satu persatu peralatan makan: piring, sendok, nasi, dan sayur, isteriku letakkan di depanku. Dengan duduk bersila di atas karpet, kami makan sepiring berdua. Tiba-tiba, aku lihat isi piring itu, bukan lagi nasi dan sayuran, tapi di sana ada cinta berkilauan seperti yang terjadi dalam etalase hatiku. Tumpukan nasi putih itu bagaikan cahaya di atas cahaya. Aroma dalam makanan itu seperti cinta di atas cinta.
* * *
Tulisan ini aku rangkai, setelah beberapa menit aku makan bersama kekasihku: Ami Rahmawati Muslimah.
"Be hubbik, ya habibaty [I Love You, My Honey]..., semoga kisah cinta kita di Negeri Anbiya ini, bisa menjadi cerita dan warisan untuk anak cucu kita nanti".
Tengah malam aku bangun. Aku langsung ke kamar mandi. Aku wudlu. Sebelum qiyamullail, aku lihat jam di komputer. Pukul 02:22 waktu Kairo. Tiba-tiba, aku lihat ada yang komentar di Mpku. Dari Haryoso. Di home Mpku, ada pesan ini: assalamu'alaikum... dengar-dengar menang beasiswa gratis dari sekolah menulis online... selamat yah... ^__^.
Aku penasaran. Aku kunjungi Mp Haryoso dan bertanya, tahu dari mana? Aku coba buka e-mail udoyamin@yahoo.com. Jreeeng... di milis FLP ada berita pemenang dari Bang Jonru. Tapi tidak disebutkan namanya. Aku deg-degan. Aku klik link yang ada di e-mail itu. Di sana ada pengumuman ini:
Ini Dia: Pemenang Beasiswa Gratis dari Sekolah-Menulis Online
Assallamualaikum,
Sejak awal April 2008 lalu, Sekolah-Menulis Online BelajarMenulis.com (SMO) membuka peluang bagi siapa saja yang ingin bergabung sebagai siswa secara gratis. Beasiswa tersebut kami berikan kepada 5 (lima) orang dengan syarat yang sangat mudah.
Alhamdulillah, antusiasme rekan-rekan penulis untuk mendapatkan beasiswa ini cukup besar. Ada 44 pelamar yang mengirimkan naskah mereka. Semuanya menulis naskah yang sangat bagus.
Sebenarnya, kami ingin agar semua pelamar mendapatkan beasiswa tersebut. Tapi apa daya, kursi yang tersedia sangat sedikit. Dari ke-44 orang pelamar, tidak mudah bagi kami untuk memilih SIAPA yang paling berhak atas beasiswa tersebut. Sebenarnya, mereka semua berhak. Tapi sekali lagi, tidaklah mungkin untuk memilih mereka semuanya.
Maka, kami pun melakukan seleksi yang cukup ketat. Kriteria utama yang kami tetapkan adalah “siapa yang rayuannya paling maut”. Ini sesuai dengan persyaratan yang kami tetapkan pada pengumuman lomba:
Tulislah sebuah ARTIKEL dengan tema “Kenapa Saya Berhak Mendapat Beasiswa Gratis Mengikuti SMO?” Bila Anda bingung dengan syarat ini, anggap saja tulisan tersebut sebagai sebuah RAYUAN agar kami bersedia memilih Anda untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Sebagai sebuah “rayuan”, tulisan Anda harus benar-benar persuasif dan ditulis dengan penuh percaya diri.
Dari kriteria ini, terjaring tiga nama:
1. Udo Yamin Majdi (30 tahun, tinggal di Kairo, Mesir) 2. Afiyan (23 tahun, tinggal di Semarang) 3. Tripomo (32 tahun, tinggal di Bekasi)
Udo Yamin dan Afian berhasil lolos karena mereka juga menyertakan janji yang membuat kami “bertekuk lutut”. Mereka bertekad untuk menyebarluaskan ilmu yang mereka dapatkan di SMO untuk kepentingan umat. Hm… sebuah alasan yang sangat mengharukan, sehingga kami tidak punya alasan lagi untuk menolak mereka.
Maka, pesan kami untuk Anda berdua: Semoga Anda benar-benar konsisten dengan janji tersebut, sebab Tuhan dan saya beserta pembaca telah menjadi saksi.
Lantas untuk Tripomo, kami melihat semangat dan antusiasme dirinya selama ini yang sangat besar terhadap SMO, PenulisLepas.com dan BelajarMenulis.com. Kami tidak hanya membaca naskah yang dia kirim. Kami juga sempat membaca sejumlah email yang dia kirim ke milis-milis penulisan. Hal-hal yang dia lakukan selama ini membuat kami terharu, sehingga satu kursi beasiswa pun kami berikan pada dia.
* * *
Ada dua kursi lagi yang tersisa. Kami pun harus kembali melakukan seleksi. Ini bukan urusan mudah, sebab ke-41 peserta yang tersisa menulis “rayuan” dengan gaya yang lebih kurang sama. Tak ada yang menonjol.
Kami harus bekerja ekstra keras. Kami harus melihat sisi-sisi lain dari cerita mereka.
Dan akhirnya, terpilihlah dua nama:
4. Mena Larasati (28 tahun, tinggal di Bekasi) Dia terpilih karena kami melihat semangatnya yang luar biasa untuk mengukir eksistensi diri di tengah ujian yang dia hadapi dalam hidupnya.
5. Adriyeni (30 tahun, tinggal di Padang, Sumatera Barat) Kami memilihnya karena ia menulis kalimat berikut pada naskahnya:
“…Menulis adalah hidup saya, tanpa menulis saya seperti orang yang bisu, yang tidak bisa ngomong apa-apa….”
Juga kalimat-kalimat berikut ini:
“…saya menyadari bahwa hobi menulis yang saya miliki bukan hanya sekedar hobi belaka tetapi juga bisa bermanfaat bagi orang lain…. Tetapi akhirnya saya menyadari bahwa menulis tidak hanya berguna sebagai penyaluran hobi saja bagi saya tapi juga sebagai lahan ibadah.”
* * *
Oke, mungkin Anda beranggapan bahwa naskah Anda jauh lebih baik dari naskah ke-5 pemenang di atas. Anda mungkin merasa memiliki alasan-alasan yang lebih kuat - dibanding mereka - untuk mendapatkan beasiswa SMO. Karena itu, kami hanya berharap semoga Anda tidak kecewa. Kegagalan bukanlah bencana. Bencana yang sesungguhnya adalah ketika kita tidak bisa belajar dari kegagalan (demikian kata bijak dari seorang teman).
Insya Allah, di lain waktu masih ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa serupa. Kami akan berusaha untuk mengadakan beasiswa seperti ini sesering mungkin, sebab ini adalah salah satu wujud komitmen kami untuk memajukan dunia penulisan di Indonesia.
* * *
Penting: Buat Pemenang:
Selamat kami ucapkan kepada ke-5 penerima beasiswa SMO angkatan ke-3. Khusus buat Udo Yamin dan Afiyan, ingatlah bahwa janji adalah janji. Berusaha keraslah untuk menepati janji yang telah Anda ikrarkan :)
* * *
Selesai membaca pengumuman itu, aku langsung bersujud. Aku sujud syukur, atas ni'mat-Nya. Di awal tahun 2008 ini, banyak hal yang patut aku syukuri. Dalam bidang tulis-menulis, setidaknya ada empat lomba/senyembara yang aku ikuti, dan semuanya terpilih sebagai pemenang:
- Lomba Menulis Esai "Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia Mesir", terpilih sebagai Juara II dari 46 peserta (kata salah seorang juri, seharusnya, karyaku juara I seperti sebelumnya, tapi pihak juri salah menafsirkan --mereka anggap terlalu pede-- pencantuman kata "pemenang juara I tahun sebelumnya" dan 2 usulanku dalam tulisan itu. Enggak tahu tuh, apa betul atas nama etika, juri bisa menilai penulis, bukan tulisannya? Kalau iya, lalu mengapa dalam dunia kritik wacana/tulisan/sastra, yang kita nilai adalah karya, bukan pembuat karya?);
- Menulis Cathar Pasutri bersama Teh Pipiet Senja, alhamdulillah, terpilih (aku tidak tahu, berapa banyak yang ikutan, yang jelas kata Teh Pipiet, ada banyak yang belum beliau pilih);
- Lomba menulis esai tentang Helvy Tiana Rosa, karya, dan dunianya, alhamdulillah juga terpilih (padahal tulisanku itu belum sempat aku edit dan masih banyak kekurangan, maklum esai itu aku tulis hanya beberapa menit di tengah kesibukan menjadi instruktur selama seminggu di PII), dan sekarang...
- Beasiswa Sekolah Menulis Online, alhamdulillah, terpilih 1 dari 44 pelamar (tadinya aku gak pede, sebab aku tidak bisa merayu orang, soalnya aku terbiasa to the point).
* * *
Ya Allah, hamba sadar betul, apapun kenikmatan yang hampa peroleh adalah rahmat-Mu. Tanpa rahmat-Mu, apalah artinya hamba-Mu ini. Engkaulah segalanya bagi hamba.
Ya Allah, jadikan tahun ini sebagai tahun epifani bagi hamba untuk lebih produktif dan berkualitas dalam menulis. Bimbing dan bantulah hamba, untuk mencerdaskan dan mencerahkan manusia lewat tulisan. Jadikan setiap tulisan hamba sebagai bekal mati dan investasi meraih surga. Amin
Tidak lupa, aku haturkan terima kasih kepada pengelola SMO, terutama Bang Jonru dkk, juga teman-teman yang senantiasa mendukung dan mendo'akanku selama ini.
Oleh: Udo Yamin MajdiMasih ada yang tersisa, untuk aku ceritakan, dari pertemuan dengan Bu Marwah Daud, dalam acara Pelatihan Basic Life Skill MHMMD (Merencanakan Hidup dan Mengelola Masa Depan). Aku sangat terkesan, dengan cerita beliau. "Awalnya, saya sangat berat ke Mesir", Bu Marwah mulai bercerita, "sebab, saat ini, anak saya sedang ujian. Selama ini, setiapkali anak saya ujian, saya selalu menemani mereka. Saya akan tinggalkan semua agenda saya, sepenting apapun, baik itu di ICMI, Golkar, maupun pertemuan dengan presiden, apabila anak saya ujian. Urusan yang lain, masih ada orang lain yang bisa melakukannya. Tapi, urusan anak-anak saya, hanya satu orang yang bisa melakukannya, yaitu saya sebagai ibunya. Alhamdulillah, setelah saya tanya anak saya, ternyata ujian anak saya ini hanya ujian olahraga. Ini masih bisa saya tinggalkan. Beda kalau ujian eksak, saya akan temani anak saya. Saya akan bantu anak saya belajar. Dan sebelum berangkat ujian, saya akan akan menepuk-nepuk punggung anak saya, mencium keningnya, dan mendo'akan anak saya!"Subhanallah, cerita ini sangat menyentuh labirin hatiku, sebab aku dan isteriku memiliki "frekuensi" yang sama dengan Bu Marwah, yaitu lebih mengutamakan anak dibandingkan urusan lain. Inilah yang membuatku tidak bisa melupakan cerita Bu Marwah. Mengapa aku dan isteriku lebih mementingkan anak dibandingkan yang lain? Sebab, menurut kami, anak adalah warisan untuk dunia sekaligus bekal untuk akhirat. Menurutku, apa yang dicari oleh setiap orang dalam hidup ini, tidak lebih dari tiga hal: (1) mencari rizki; (2) mencari ilmu; dan (3) mencari pasangan hidup.Proses mencari rizki, itu kita sebut dengan "bekerja". Coba, Anda perhatikan, apa yang dilakukan oleh manusia, baik itu di sawah, di kebun, di laut, di jalan, di kantor, dan di mana saja, bukankah semua itu dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan perut, alias kebutuhan fisik? Hanya namanya saja yang berbeda, kalau di sawah kita sebut petani, di kebun disebut peladang, di laut disebut nelayan, di jalan ada yang disebut sopir, polisi lalu lintas, pedagang asongan, dst; di kantor kita sebut pegawai, karyawan, atau buruh. Namun, hakikatnya satu yaitu bekerja.Selanjutnya, proses mencari ilmu, kita kenal dengan "belajar". Lagi-lagi, coba Anda perhatikan, apa yang dicari oleh anak-anak TK, murid SD, siswa SLTP dan SLTA, dan mahasiswa PT? Atau apa yang dicari orang di tempat kursus? Atau, apa yang dicari oleh orang sampai ke luar negeri, termasuk saya ke Mesir? Bukankah, yang mereka dan saya cari adalah ilmu? Iya, yang kami cari adalah ilmu. Kalau bekerja lebih pada pemenuhan kebutuhan fisik --makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan seterusnya--, maka belajar untuk mencukupi kebutuhan batin atau psikologis.Adapun, proses mencari teman hidup, kita beri nama "mencintai" atau "menyayangi". Di dunia ini, manusia terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu laki-laki dan perempuan. Kalau pun ada jenis lain, itu menyalahi kodrat. Lalu, coba Anda tanya, apa yang dicari oleh seseorang, baik ia sebagai laki-laki, perempuan, atau jenis lain --banci atau waria? Jawabannya adalah sangat sederhana, yaitu mencari teman hidup.
Jika orang menemukan "pasangan hidup" --sebagai tindak lanjut dari perteman-- dan dilakukan secara resmi, kita kenal dengan pernikahan, maka lahirlah sebutan suami dan isteri. Dari sini pula terciptalah peran-peran lain, yaitu sebagai ayah-ibu; kakek-nenek; dan seterusnya. Pernikahan atau keluarga ini untuk memenuhi gabungan dari dua kebutuhan sebelumnya. Kebutuhan ini kita sebut kebutuhan psiologis.Nah, dalam mencari tiga hal itu (mencari rizki, mencari ilmu, dan mencari teman hidup) atau dengan kata lain, dalam bekerja, belajar, dan mencintai, manusia banyak yang keliru, sehingga merasa kehilangan makna. Sebab, mereka lakukan hal itu tanpa tujuan jelas. Padahal, dalam Islam, tujuan kita melakukan tiga hal --bekerja, belajar, dan mencintai-- tersebut adalah memberikan warisan untuk dunia dan mengumpulkan bekal untuk akhirat, atau bekal untuk mati.Ya, bagiku, bekerja, belajar, dan mencintai adalah bekal untuk mati. Mengapa aku berpendapat demikian? Sebab, empat belas abad yang lalu, idola hidupku: Nabi Muhammad Saw., telah merumuskan tentang konsep bekerja, belajar, dan mencintai. Mari kita dengarkan sabda beliau: "Apabila manusia mati, maka semuanya terputus, kecuali tiga hal: (1) shodaqah jariyah; (2) aw ilmu yuntafa'u bihi; (3) aw waladin sholihin yad'u lahu.Sangat menarik dan sangat cerdas, Nabi merumuskan bekerja, belajar, dan mencintai dalam konsep Islam. Beliau menjelaskan "memulai dari akhir", menyebutkan tujuan dari bekerja, belajar, dan mencintai, tanpa harus menyebutkan caranya. Secara luar bisa pula, beliau menyimpulkan kebutuhan manusia di dunia ini sekaligus kebutuhan di akhirat nanti. Mari, secara satu persatu kita bahas secara singkat.Pertama, Nabi Muhammad Saw., menyebutkan bahwa amalan yang tidak terputus adalah shodaqah jariyah. Selama ini, makna shodaqoh jariyah, sering diartikan --oleh sebagian orang-- adalah membangun masjid, mewakafkan tanah, dan sejenisnya. Sedangkan membangun pabrik, lalu lintas, dan sejenisnya, seolah-olah bukan shodaqah jariyah. Padahl dalam hadis tersebut, shaqaqoh jariyah, lebih pada pembangunan karakter dermawan. Shadaqoh jariyah artinya memberi secara mengalir seperti air mengalir atau hembusan angin; tiada henti; terus menerus.Pertanyaannya adalah bisakah kita dermawan tanpa harta? Tentu saja tidak bisa! Betul, senyum itu shadaqah. Tapi, apakah bangunan masjid atau jalan raya akan selesai, hanya dengan senyuman? Oleh sebab itu, kita butuh harta yang banyak. Sedangkan harta kita peroleh dengan bekerja. Jadi, makna shadaqah jariyah adalah Bekerjalah, namun hasil kerja itu, jangan hanya untuk diri sendiri; jangan hanya untuk keluarga saja; tapi berikan kepada siapa saja yang membutuhkan uluran tangan kita. Dengan kata lain, tujuan kita bekerja, adalah agar kita bisa shadaqoh.Sebagai contoh, Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel Ayat-Ayat Cinta). Beliau menjadikan menulis sebagai profesi alias pekerjaan. Dan alhamdulillah, hasil kerja sebagai penulis itu, lebih dari 1,5 milyar. Sampai saat ini, Kang Abik, tetap hidup sederhana. Bahkan, mobil pun beliau tidak punya. Kemanakah uang sebanyak itu? Ternyata uang tersebut, beliau pergunakan untuk membangun Pesantren Basmala. Dan pesantren ini sebagai sarana untuk membina umat. Lantas, apa yang menggerakan Kang Abik tetap hidup sederhana dan mempergunakan hasil kerjanya untuk orang lain? Inilah yang menggerakan beliau: karena beliau butuh bekal mati.Kedua, al-'ilmu yuntaf'u bihi. Selama ini, kalimat ini sering orang artikan dengan kata "ilmu yang bermanfa'at". Sedangkan makna sebenarnya, lebih dari itu. Nabi mengunakan diksi "intafa'a", tidak memakai "nafa'a"? Apa beda dua kata ini?Nafa'a artinya berfaidah. Sedangkan intafa'a, selain berarti berfaidah, juga bermakna "berfungsi". Agar lebih memudahkan kita memahaminya, aku akan berikan contoh. Dalam acara Dialog Umum di Azhar Conference Center (ACC) kemaren, di hadapan ribuan mahasiswa Indonesia Mesir, KH. Hasim Muzadi bercerita, bahwa di Amerika, beliau bertemu dengan seorang profesor yang hapal Al-Quran, namun ia tidak mengimani Al-Quran sebagai wahyu alias tidak memeluk Islam. Namun, profesor yang mengajar Islamic Studies tersebut, berkontribusi memperkenalkan Islam dan Al-Quran di Barat.Apa yang terjadi pada profesor tersebut adalah contoh dari kata "nafa'a": ilmunya berfaidah pada orang lain, namun tidak berfungsi dalam dirinya. Di sini kita melihat bahwa antara ilmu dan karakter diri, dua hal yang berbeda. Ilmu tidak selamanya berbanding lurus dengan tingkah laku seseorang. Maka tidak aneh, ada ekonom yang mengajarkan ilmu ekonomi, namun ia seorang koruptor. Atau seorang agamawan, namun tindakannya jauh dari nilai-nilai agama yang ia ceramahkan. Dan seterusnya.Adapun intafa'a, selain berfaidah, ilmu itu berfungsi untuk dirinya sendiri. Sebagai contoh, kita lihat dua pendiri Forum Lingkar Pena (FLP): Mbak Helvy (Helvy Tiana Rosa) dan Mbak Asma Nadia (Asmarani Rosalba). Ilmu menulis kakak beradik ini, selain berfaidah untuk orang lain, namun berfungsi dalam diri beliau berdua: mereka menulis. Mereka berdua begitu semangat menulis sekaligus mengajarkan ilmu menulis. Sehingga FLP bukan hanya bertebaran di pelosok nusantara, namun juga sampai ke manca negara, termasuk di Mesir. Lebih menariknya lagi adalah Mbak Helvy bisa mendidik anaknya Faiz dan Mbak Asma mendidik anaknya Caca menjadi penulis. Apa yang menggerakkan Mbak Helvy dan Mbak Asma untuk membagikan ilmu lewat tulisan dan pelatihan --serta acara yang lainnya? Dari beberapa pertemuan dengan beliau berdua, aku menangkap semangat yang sama, seperti Kang Abik, beliau berdua lakukan sebagai bekal mati.Jadi, makna sabda nabi tersebut, belajarlah Anda, lalu jadikan ilmu itu berfungsi dalam dirimu dan berfaidah bagi orang lain.Ketiga, aw waladin shalihin yad'u lahu. Artinya, anak sholeh (sholehah) yang mendo'akan kedua orang tuanya. Apa hubungan anak sholeh dengan mencintai? Baik, untuk menjawabnya, kita kembali kepada kaidah di atas "Nabi memulai dari akhir" atau "menyebutkan tujuan, tapi tidak menyebutkan caranya".Ya, anak sholeh adalah akhir atau tujuan. Mungkinkah kita punya anak sholeh, tanpa pasangan hidup? Berarti jalan untuk memiliki anak sholeh adalah menikah. Apakah dengan menikah, serta merta akan punya anak sholeh? Tentu saja tidak! Air yang jernih, keluar dari mata air yang jernih. Begitu juga anak yang sholeh lahir dari orang tua yang sholeh. Maka sungguh aneh, jika ada yang mengharapkan anak sholeh, tapi dengan cara melacur, atau menikah sesama jenis (lesbian dan homo)!Dari sekian banyak ortu yang sungguh-sungguh mendidik anaknya menjadi anak sholeh adalah Mas Tamim (Mutammimul Ula, anggota DPR RI dari PKS) dan isterinya, Dra. Wirianingsing, sering dipanggil Mbak Wiwi. Aku mengenal Mas Tamim, sebab kami pernah aktif di organisasi yang sama, yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII) dan tahun 2004, kami bertemu di Mesir. Yang menarik bagiku, kedua ortu ini, mendidik anak mereka, mereka tidak tidak mendikotomi ilmu, agama dan umum. Mereka ajarkan semua, dan awalnya menghapal Al-Quran. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan biodata anak mereka ini:- Afzalurrahman, 21 tahun, semester 6 Teknik Geofisika ITB, Hapal Al-Qur'an sejak usia 13 tahun. Sekarang masuk dalam program PPSDMS, Ketua Pembina Majelis Taklim Salman ITB, terpilih peserta Pertamina Youth Programme 2007 dari ITB;
- Faris Jihady Hanifa, 20 thn, semester 4 Fakultas Syariah LIPIA hafal Al-Qur'an sejak usia 10 tahun (mumtaz). Juara 1 lomba tahfiz Al-Qur'an 30 Juz yang diselenggarakan Kerajaan Saudi di Jakarta 2003, Juara 1 lomba olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ 2004;
- Maryam Qonitat, 18 thn, semster 2 Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar Cairo (tinggal dekat apartemenku di Nasr City Cairo), hapal Al Qur'an usia 16 tahun. Pelajar teladan/lulusan terbaik Husnul Khotimah 2006;
- Scientia Afifah, 17 tahun, kelas 3 SMU 28 hapal 10 Juz Al Qur'an, juara mengarang tingkat SD se-Kab Bogor 2000, Pelajar Teladan, lulusan terbaik Mts Al Hikmah 2004;
- Ahmad Rosikh Ilmi, 15 thn, kelas 1 MA Khusnul Khotimah, baru hafal 6 juz, Pelajar Teladan SDIT Al Hikmah thn 2002, Lulusan terbaik MTs AlKahfi 2006
- Ismail Ghulam Halim, 13 tahun kelas 2 Mts Al Kahfi, baru hafal 8 juz, Juara Olimpiade IPA tkt SD Jaksel 2003, meraih 4 penghargaan Al-Kahfi 2006 (tahfiz terbaik, santri favorit, santri Teladan, Juara Umum) Ketua OSIS Pesantren Al-Kahfi;
- Yusuf Zain Hakim 12 thn, kls 1 Mts Al Kahfi, hafal 5 juz. rangking 1 dikelasnya;
- Muh Saihul Basyir 11 thn, kelas 5 SDIT Al Hikmah, hafal 2,5 juz;
- Hadi Sabila Rosyad, 9 tahun, kelas 4 SDIT Al HIkmah, hapal 2 Juz;
- Himmaty Musyassarah, 7 tahun, hapal 1 juz; dan
- Hasna wafat usia 3 thn 7 bulan, bulan Juli 2006
Jadi, maksud hadis nabi, waladin sholihin yad'u lahu adalah bila Anda mencintai lawan jenismu, maka menikahlah. Setelah menikah, bentuklah generasi yang sholeh-sholehah.Kesimpulan dari hadis nabi tersebut adalah apabila Anda bekerja, maka shodaqohlah; apabila Anda belajar, maka fungsikan dan manfa'atkanlah ilmu; dan jika Anda mencintai pasanganmu, maka menikahlah dan didiklah anak Anda menjadi sholeh-sholehah. Dan niatkan tiga hal ini --bekerja, belajar, dan mencintai-- sebagai bekal mati.Baik, kita kembali kepada kisah Bu Marwah dan alasanku bersama isteriku yang lebih mengutamakan pendidikan anak. Dari pemaparan di atas, aku ingin menegaskan bahwa mendidik anak adalah kebutuhan hidup, bukan sebuah kewajiban. Selama ini, tidak sedikit yang memahami bahwa pendidikan anak hanya sebuah kewajiban. Lebih parahnya lagi, ada tahu itu sebuah kewajiban, tapi tidak serius mendidik anaknya, mereka menganggap dengan memasukan ke sekolah atau perguruan tinggi, maka telah menunaikan kewajiban. Sedangkan mereka, terutama kaum ibu, dengan bangga menjadi wanita karir dan menggembar-gemborkan kesetaraan (emansipasi).Oleh sebab itu, dalam mementum Hari Kartini, aku mengajak isteriku dan siapa saja, untuk sebentar saja merenung tentang peran kita sebagai ortu, terutama sebagai ibu. Selama ini, banyak yang tidak tahu, bahkan keliru, memahami Hari Kartini. Para feminis, sering mengangkat sosok R.A. Kartini sebagai perjuangan seorang perempuan agar setara dengan kamu laki-laki. Lebih parahnya lagi, mereka menyembunyikan faktor yang menggerakkan Kartini berjuang, yaitu Islam. Malahan sekarang sebaliknya, seolah-olah, Islam menjadikan kaum perempuan terkungkung.Padahal perjuangan R.A. Kartini, bukan untuk kesetaraan gender (emansipasi), melainkan menuntut pendidikan untuk kaum wanita agar mereka bisa menjadi para ibu cerdas yang bisa mendidikan anak mereka dengan baik. Ini terlihat dari surat R.A Kartini yang beliau tujukan untuk Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902: "Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."Begitu juga halnya, sangat salah, kalau ada yang berpendapat bahwa Islam menjadikan kaum wanita terbelakang. Justru sebaliknya, sejak Islam datang, untuk memperjuangkan hak dan kedudukan perempuan pada posisi terhormat. Bahkan, Islamlah yang memberikan inspirasi kepada R.A. Kartini untuk berjuang. Ini dapat kita lihat pada surat beliau untuk Ny. Van Kol, 21 Juli 1902: "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." Lebih jelas lagi, kepada gurunya; Kyai Sholeh Darat, beliau berkata: "Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"Lebih lanjut, perjuangan Kartini bukan ingin meniru Barat seperti yang dilakukan feminis saat ini, melainkan ingin memperkenalkan Islam kepada Eropa. Ini terlihat dari tulisan beliau kepada kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang berbunyi: "Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?"Jika R.A Kartini berjuang setelah memahami Islam dan mengkaji isi al-Quran -- terutama terinspirasi dengan firman Allah SWT: minadh-dhulumati ilan-nur [mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) dalam surat Al-Baqarah [2]: 257, lalu diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, "Habis GelapTerbitlah Terang"-- lalu mengapa ada yang menuduh Islam sebagai pengekang kehidupan perempuan? Islam memposisikan perempuan sebagai pendidik anak, bukan untuk menindas mereka, melainkan hanya sebatas pembagian kerja saja. Islam juga tidak melarang wanita untuk menjadi wanita karir, aktif di luar rumah, dan berperan di dunia publik, tapi dengan syarat mereka tidak melupakan peran domestik mereka, yaitu mendidik anak.Dengan sengaja, aku memberikan contoh Bu Marwah Daud, Mbak Helvy, Mbak Asma, dan Mbak Wiwi, karena beliau berempat adalah perempuan yang super-sibuk dan seabrek dengan aktifitas di luar rumah, namun mereka tetap punya komitmen: lebih mendahulukan anak-anak mereka. Mereka memiliki integritas keislaman dan sibuk memperjuangkan Islam. Nah, sudahkah Anda menjadikan pendidikan anak sebagai skala prioritas utama? Dan siapkah Anda menjadi Kartini zaman ini?* * *Cathar ini awalnya sebagai kado untuk isteriku pada hari Wedding Anniversary ke-3 kami, namun aku persembahkan untuk siapa saja yang punya komitmen mendidik anak-anaknya dalam rangkat merenungi Hari Kartini.
Dalam buku "Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran (Qultum Media, 2007) aku menceritakan tiga tokoh penulis terkenal —Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), Mbak Helvy (Helvy Tiana Rosa), dan Mas Fauzil (Moehammad Fauzil Adhim)— dan dua tokoh trainer —Pak Ary (Ary Ginanjar Agustian) dan Bu Marwah (Marwah Daud Ibrahim, Ph. D). Mereka semua telah datang ke Mesir dan aku jumpai, kecuali Bu Marwah. Makanya, ketika mendengar Bu Marwah mau ke Mesir menghadiri acara Lokakarya yang diselenggarakan oleh KBRI sekaligus Training Basic Life Skill MHMMD oleh ICMI Orsat Cairo, aku sangat bahagia. Sebab, aku ingin berjumpa dengan beliau. Al-hamdulillah, hari ini, keinginanku itu tercapai.
Pukul 08:30, aku keluar rumah. Aku menunggu bus di mahattoh mutsallats. Lima menit kemudian, aku telah duduk dalam bus 993. Dalam perjalanan, aku perhatikan kehidupan orang Mesir seperti biasanya. Tidak ada perubahan. Seolah-olah tidak ada demonstrasi dalam dua hari ini. Padahal di internet, di mana-mana aku temukan berita yang meliput demonstrasi di Mesir. Bahkan, tanggal 6 April 2008 kemaren, disinyalir sebagai "Hari Revolusi Mesir". Sejak awal memang aku tidak percaya, ada revolusi yang dilakukan oleh masyarakat sipil itu. Sebab, kekuatan militer rezim Husni Mubarok, lebih kuat dibandingkan Soeharto. Dan menurutku, Husni Mubarok akan jatuh, manakala ditempuh seperti presiden sebelumnya, Anwar Sadat, yaitu ada dari militer yang menembaknya.
Bayangan carut-marut perpolitikan dan krisis ekonomi Mesir itu hilang. Aku turun di depan masjid Rob'ah El-'Adaweyah, Nasr City. Aku langsung menuju Darul Munasabat —tempat walimatul 'ursy Fahri dan Aisha dalam novel "Ayat-Ayat Cinta". Di sana, peserta sudah banyak yang datang. Di meja registrasi, seorang teman berkata, "Wah, kok Udo jadi peserta, Udo kan udah jadi trainer?"
"Bagi teman-teman Masisir, ana memang trainer. Namun, bagi tamu dari Indonesia, ana hanya seorang peserta. Maka siapapun yang datang dari Indonesia, aku ingin belajar banyak dari mereka. Inilah saatnya, aku menambah ilmu!" ujarku sambil menyodorkan uang 10 pound dan 2 lembar foto berukuran 4x6. Aku masuk ruangan. Ternyata, setengah kursi, sudah penuh. Aku duduk di bagian belakang. Namun, Ferli, protokoler Bu Marwah selama di Mesir, mempersilahkan aku untuk duduk di depan. Aku duduk di samping Bu Alita (Alita Marsandi, sekretaris Bu Marwah) yang mengoperasi Laptop selama pelatihan.
Aku memilih duduk di depan, bukan karena merasa orang penting. Tapi, mataku tidak jelas, sebab mataku sebelah kiri minus 3, sedangkan yang kanan hampir tidak berfungsi. O iya, sedikit cerita, mata kananku tidak berfungsi karena, ada pendarahan dalam syaraf mataku. Itu akibat sewaktu SMP, ada guru killer marah gara-gara teman-temanku sekelas ribut, dan ia ngamuk sambil membawa bendera kecil yang biasa di tarok di meja guru. Nah, bagian bawah bendara itu, ia pukulkan sekuat tenaga ke kepalaku tiga kali. Dan selama di Indonesia, aku telah berusaha berobat di tiga rumah sakit —RSU Slamet Garut, RS Mata Cicendo, dan RS Cibuluh Bogor. Namun, tidak sembuh. Ah, mudah-mudahan Allah mengampuni guruku itu dan aku tidak pernah melakukan seperti yang ia lakukan.
Kembali ke Darul Munasabat. Dengan kagum, aku memandang layar OHP. Di sana terpampang, foto-foto pelatihan MHMMD di Indonesia. Tiba-tiba, Afrina, ketua Wihdah —organisasi induk mahasiswi Indonesia Mesir, mendekati dan berkata, "Do, barusan saya cerita tentang buku Quranic Quotient Udo. Trus, Bu Marwah, pengen liat. Udo bawa gak?"
"Al-hamdulillah udo bawa" jawabku sambil mengambil Quranic Quotient dalam tas.
" Ya, udah, mumpung Bu Marwah lagi nyantai, udo aja yang ngasihin!" kata Afrina.
Aku mendekati Bu Marwah yang duduk paling depan di barisan peserta perempuan. Aku memberikan bukuku kepada beliau sebagai hadiah. Beliau melihat-lihatnya. Aku sedikit menceritakan isi buku itu, sekaligus minta izin, sebab aku menceritakan beliau dalam bukuku. Saat itu pula, aku teringat dengan buku yang sedang aku tulis, maka tanpa berpikir panjang aku berkata, "Bu, sekarang saya sedang menulis buku, lanjutan dari buku ini, bisa enggak Ibu, memberikan pengantar dalam buku itu?"
"Boleh, dengan senang hati!"
Karena acara akan dimulai, maka aku kembali ke tempat dudukku. Dari awal sampai akhir, acara itu aku ikuti dengan serius. Aku tidak hanya memperhatikan materi MHMMD, melainkan semua proses pembelajaran, cara berbicara Bu Marwah, metode, sarana-prasaran, kondisi, dan semua hal yang menyakut pelatihan itu. Sebab, aku ikut acara pelatihan MHMMD, selain ingin menambah ilmu dan memperbaiki diri, aku ingin belajar bagaimana menggelar sebuah pelatihan pengembangan diri. Selama ini, aku lebih banyak pelatihan menulis dan kaderisasi di sebuah organisasi. Insya Allah, libur musim panas nanti —Juni s/d Oktober 2008— rencananya, aku akan menggelar acara Manajemen Ahsanu TAqwim (MATA) sekaligus bedah buku Multiple Success: 7 Kunci Meraih Sukses Dunia Akhirat.
Pertemuan dengan Bu Marwah, benar-benar sebuah berkah bagiku. Betapa tidak, lewat beliau aku dapat ilmu baru, dapat motivasi, dapat pencerahan, dapat promosi gratis (sebab di tengah acara beliau memperlihatkan buku Quranic Quotient, sehingga para peserta tahu akan keberadaan bukuku), dan aku mendapat buku beliau; buku Mengelola Hidup & Merencanakan Masa Depan (MHMMD).
Waktu aku memberikan buku Quranic Quotient, beliau meminta tanda tanganku. Makanya, giliranku, yang meminta tanda tangan dalam buku beliau. Dalam buku MHMMD itu, ada juga pesan Bu Marwah. Ini bunyinya: "SALAM, SAYA TUNGGU KARYA-KARYA BESARNYA!" Dalam perjalanan pulang ke rumah, pesan itu menggema dalam hatiku. Aku pun berdo'a: "Ya Allah, bantulah hamba melahirkan karya besar itu!"
* * *
NB: Kepada yang telah membaca tulisan ini, Udo minta do'anya, semoga Udo dapat memenuhi pesan Bu Marwah itu.
"Assalamu'alaikum", ujar suara laki-laki di ujung telpon, "Mang Udo, ana Arif nih. Gini Mang, insya Allah, besok Mbak Asma datang ke Cairo!" "Oh ya", tanggapku dengan kaget setelah menjawab salamnya, "dengan siapa dan dalam rangka apa Rif?" "Wah, ana enggak tahu juga sih, yang jelas ada kok e-mail Mbak Asma di milis FLP Pusat!" "Trus, gimana Rif, ada pertemuan enggak sama FLP Mesir?" "Itu dia Mang, ana minta pendapat Mang Udo, ana udah SMS Mbak Asma Nadia, dan beliau pengen ketemu sama kita, kira-kira format acaranya gimana ya?" "Ya, itu tergantung sama seberapa banyak waktu Mbak Asma untuk kita, paling gini Rif, cari info dulu tentang acara beliau di Cairo. Trus, kalau udah datang, tinggal antum bicarakan saja sama beliau, oke?" "Yup mang, makasih ya atas waktunya. Wassalamu'alaikum!" "Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wa Barakatuh!"
Itulah percakapanku sebagai Majlis Penulis FLP Mesir dengan Arif Friyadi sebagai Ketua Umum FLP Mesir, dua hari yang lalu. Hampir setiap ada acara FLP Mesir, Arif meminta pendapatku. Apalagi menyangkut acara-acara penting dan melibatkan orang luar.
Aku langsung mengecek e-mail. Di milis FLP Pusat, Mbak Asma memposting e-mail dengan subject: "ke Mesir (FLP Mesir?)". Setelah membaca e-mail itu, aku baru tahu bahwa Mbak Asma ke Cairo menghadiri Konferensi Internasional tentang Palestina. Beliau datang bersama Teh Yoyoh Yusroh dan rombongan LSM Adara.Di milis FLP Mesir, Arif menulis e-mail dengan subject: "Mbak Asma Nadya, mau ke Mesir sore ini". Sedangkan di MP temanku, Ardiansyah, dalam Calender tertulis: "Konferensi Internasional Melawan Imperialisme Amerika-Zionis. Di sana termuat data berikut ini:
| Start: | Mar 27, '08 8:00p | | End: | Mar 30, '08 9:00p | | Location: | Niqabah Shahafiyyin (Asosiasi Wartawan), Tahrir, Cairo-Egypt |
Materi-materi penting konferensi:
- Boikot Akademis Yahudi
- Membaca ulang Sejarah Palestina
- Hakekat Permusuhan Zionis Israel
- Front Pembebasan Palestina, Konstelasi Terakhir Perkembangan Palestina
- Wanita Palestina Melawan Embargo
- Strategi Konfrontasi Melawan Zionis Yahudi
Alhamdulillah Indonesia mendapat kehormatan sebagai undangan dalam acara konferensi. Utusan yang menjadi duta-duta Indonesia pada acara ini diantaranya adalah Ustadzah Yoyoh Yusroh, Mbak Asma Nadia.
Tadi malam, Arif nelpon lagi. Memintaku hadir pada acara "Silaturahmi Pengurus FLP Wilayah Mesir Periode 2008-2010 Bersama Mbak Asma Nadia" di ruang PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Mesir) Wisma Nusantara Rabe'ah Al-Adaweyah. Aku belum bisa memberi jawaban pasti, sebelum musyawarah dulu dengan isteriku. Sebab, rencananya, kami sekeluarga mau silaturahmi ke rumah saudara isteriku --di Darmalak-- yang mau pulang ke Indonesia tanggal 2 April 2008.
Ditambah, setelah maraton dengan berbagai agenda --Talk Show dan Lima Hari Lima Malam menjadi instruktur Leadership Intemediate Training (LIT) Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (Pwk PII) Mesir, pemateri Pelatihan Jurnalistik di KPJ (Keluarga Pelajar Jakarta), trainer pada acara Manajemen Diri DPD-PPMI Propinsi Zagaziq, perpanjangan visi di Manshurah-- juga persiapan mengisi acara Peresmian Lembaga Riset dan Kursus Pemandu Pwk PII Mesir, membimbing riset ke Masisir, dan Pelatihan Jurnalistik KMKM (Keluarga Mahasiswa Kalimantan Mesir).
Belum lagi, target bulan ini aku harus menyelesaikan naskah buku saya, mengedit Jurnal HIMMAH DPP-PPMI, mengedit tulisan members LIT untuk buku Warna-Warni PII, membuat proposal Riset Sosial tentang Pengaruh Tokoh Mahasiswa terhadap dinamika Masisir, surat dan proposal pengumpulan tulisan untuk buku kado seorang diplomat KBRI Mesir yang mau pulang belum saya sebarkan semua, publikasi Lomba Kisah Nyata Eska Mesir belum merata, ingin ikut lomba nulis esai Mbak Helvy, tulisan serial pendidikan anak untuk milis sekolah kehidupan belum aku lanjutkan, dan masih banyak tugas lain yang harus segera aku selesaikan satu persatu.
Ah, bila mengingat semua target-target tersebut, sebenarnya, aku sulit untuk keluar rumah, apalagi semuanya deadlinenya 1 April 2008. Namun, aku sangat ingin bertemu dengan Mbak Asma. Aku butuh motivasi dari beliau untuk istiqomah menulis. Paling tidak, aku ingin mendengarkan informasi beliau tentang dunia kepenulisan dan perbukuan di Indonesia. Alhamdulillah, setelah aku obrolkan dengan isteri, aku boleh menghadiri acara FLP Mesir.
Tadi pagi, aku bersama anak tertuaku, Abdurrahman Vira Al-Fatih, ke Wisma Nusantara. Seperti saat jumpa pertama kali, lima tahun yang lalu (2003), Mbak Asma langsung menyapa akrab. Aku merasakan, kehangatan dan kedekatan Mbak Asma, bagaikan seorang adik-kakak yang sudah lama tidak berjumpa. Tidak ada jarak antara kami.
Sebelum acara di PMIK, aku bersama sebagian teman-teman FLP Mesir, bincang-bincang bersama Mbak Asma di ruang tamu hotel Wisma Nusantara.
Berapa menit kemudian, obrolan kami pindah ke lantai empat. Di ruang PMIK itulah, FLP Mesir bersama Mbak Asma, ngobrol santai. Banyak hal yang Mbak Asma sampaikan, mulai dari perkembangan perbukuan di Indonesia, masalah kiat menulis, tentang FLP, dan saran-saran beliau terhadap FLP Mesir.
Ada satu saran yang paling menarik bagiku, Mbak Asma menyarankan sistim kaderisasi FLP Mesir melalui kelompok kecil; halaqoh; limited group. Ide ini, sebenarnya, aku sudah tawarkan empat tahun yang lalu kepada pengurus FLP Mesir, tepatnya pada periode Indra Gunawan dan Teguh Hudaya. Namun, belum mereka laksanakan, wallahu a'lam, apa yang menjadi kendalanya.
Bahkan, ketika Musywil dan terpilihnya Arif Friyadi, aku sampaikan kembali, agar membagi-bagi anggota FLP ke kelompok kecil, misalnya ada kelompok penulis cerpen, kelompok penulis novel, kelompok penulis buku keislaman, kelompok penulis pengembangan diri, kelompok penerjemah buku, dan seterusnya. Setiap kelompok di bimbing oleh satu senior yang memang ahli di bidangnya, misal yang ahli nulis cerpen membimbing kelompok cerpen, dan seterusnya.
Bila hal itu terlaksana, selain meningkatkan kualitas --karena instensitas karya anggota dibengkel dan pertemuan juga lebih banyak-- juga akan meningkat kuantitas. Selama ini, hanya satu pertemuan seminggu sekali untuk semua anggota, sehingga perputaran bengkel karya anggota sangat lamban dan kontrol terhadap perkembangan karya anggota kurang begitu terperhatikan.
Selesai pertemuan itu, aku perhatikan para pengurus dan anggota FLP begitu bersemangat untuk berkarya. Dan auranya, juga terasa dalam hatiku, sehingga aku pun muncul semangat baru untuk terus berkarya mengikuti dan melanjutkan langkah Mbak Asma. Paling tidak, jika selama ini limited group itu belum berjalan, maka aku harus back to FLP Mesir, untuk lebih sungguh-sungguh mengkader mujahid pena. Selama ini konsentrasiku terpecah oleh berbagai organisasi yang aku bina.
Sebelum pulang, aku masih bersama Mbak Asma. Kami ngobrol di ruang tamu hotel. Sambil menunggu, teman yang menjemput Mbak Asma ke tempat konferensi, aku membantu Mbak Asma menyusun foto copyan cerpen beliau yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Rencananya, mau dibagikan untuk perserta konferensi.
Aku dan anakku pulang bersama Arif. Selama di mini bus, kami ngobrol beberapa follow up dari pertemuan dengan Mbak Asma. Terutama tentang kaderisasi FLP Mesir. Aku menyatakan kesediaannya untuk all out menjadi salah seorang yang akan membimbing kelompok-kelompok kecil. Terbayang dibenakku, untuk membuat modul, perangkat, dan metodologi kaderisasi tersebut. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan. Amin
Sesampai di rumah, isteriku berkata, "Buya, tadi ada beberapa telpon nyari buya, diantaranya dari Trobosan dan Rumah Budaya!" "Trus, ada apa?" "Kalau Trobosan nanya tentang buya sebagai koordinator tim penyusun buku kado diplomat, sedangkan Rumah Budaya, meminta jadi pemateri!"
Mendengar laporan isteri itu, aku tersenyum. Baru saja aku berniat untuk all out di FLP, sudah ada tawaran mengisi acara. Padahal, dalam minggu ini, setidaknya ada lima tawaran jadi pemateri aku tolak, sebab bentrok dengan jadwal yang sudah lebih dahulu aku sanggupi. Dalam hatiku berkata, "Enak ya, kalau tubuhku bisa dibagi-bagi, maka akan aku penuhi semua permintaan mereka!" Sambil bercengkrama dengan kedua anakku, pikiranku untuk back to FLP terus berkecamuk di benakku. Seandainya ada 5 halaqoh dan masing-masing beranggotakan 10 orang, berarti ada 50 orang calon penulis handal. Nah, jika dengan satu mantan FLP Mesir, Habiburrahman El-Shirazy, Indonesia, bahkan Asia, geger dengan Ayat-ayat Cinta, apa yang terjadi jika ada 50 orang yang menulis sekualitas Kang Abik?!
* * *
NB: Makasih ya Mbak Asma, atas hadiah buku dan pin untuk isteri udo.
Terlalu banyak yang istimewa, untuk aku abadikan dari acara Walimatul 'Ursy temanku Hasanudin Azali Lc., dengan Rahimatus Sa'diyah dan Ahmad Tirmidzi Lc., dengan Salma Lestari. Karena keterbatasan ruang dan waktu, aku hanya ingin mengikat makna yang disampaikan oleh Ust. Khairon MA. sebagai penceramah pada acara itu. Beliau menyampaikan pesan nikah dengan tema: Rumus 4 T dalam Membina Rumah Tangga.
Sebelum aku memaparkan rumus itu, karena banyak yang ingin tahu tentang Mesir [terutama teman-teman MP di Indonesia dan AS], maka aku ingin ceritakan proses Walimatul 'Ursy ala Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir). Selama tujuh tahun aku menyaksikan Walimatul Ursy teman-teman Masisir, rata-rata ingin memformat acara sesederhana mungkin. Persoalannya bukan hanya ingin hemat biaya saja, tapi ingin walimahan itu penuh berkah.
Sebelum tahun 2003, aqad nikah banyak dilaksanakan di KBRI, sedangkan Walimahan di flat-flat mahasiswa. Biasanya dicari, dua flat yang berdekatan dalam satu apartemen. Misalnya, satu di lantai dua, sedangkan satu lagi di lantai empat. Nah, di lantai bawah, pengantin perempuan dan tamu undangan akhwat, sedangkan di lantai atas pengantin laki-laki dan tamu undangan ikhwan. Acara sentral ada di lantai atas. Agar yang di lantai bawah melihat, maka dihubungankan dengan camera yang langsung disiarkan dengan televisi.
Setelah tahun itu, 2004, format acara mulai berubah. Tidak lagi di KBRI, tapi banyak di masjid, wisma, atau di rumah-rumah daerah [saat ini beberapa Pemda Tk I memberikan sumbangan dengan membelikan rumah untuk mahasiswa & masyarakat asal daerahnya yang berada di Mesir, misalnya Pemda Jawa Barat memberikan dana 1 milyar untuk membeli 2 flat dan rumah ini diberi nama Pasangrahan, Pemda Jawa Tengah memberikan Griya Jateng, Jawa Timur memberikan Graha Jatim, Sulawesi ada Baruga, Medan ada Istana Maimun, Jakarta ada Wisma KPJ, dst].
Di antara masjid yang paling sering dipakai nikah adalah Masjid As-Salam. Masjid yang berada di Bawwabah Ula atau Mahattah Syurthoh Nasr City ini menjadi tempat nikah empat temanku kemaren.
Acara empat temanku itu, sangat sederhana. Sang MC dengan berpantun-ria [setiap membacakan atau mempersilahkan pembicara, ia awali dengan pantun, maklum orang Melayu]. Pertama acara sambutan, sambutan dari pihak mempelai laki-laki disampaikan oleh Salman Alfarisi Lc, sedangkan aku menyampaikan sambutan pihak mempelai perempuan. Acara kedua ceramah, disampaikan oleh Ust Khairon MA. Acara ketiga, hiburan, nasyid dibawakan oleh bapak Qodar [tamu dari Indonesia yg sedang mengadakan penelitian di Cairo], dan acara terakhir, ramah tamah sekaligus foto-foto bersama pengantin. Seperti yang aku ceritakan tadi, pengantin laki-laki dan perempuan di pisah. Seperti itulah nikah ala Masisir.
Baik, kembali ke "Rumus 4 T Membina Rumah Tangga". Apa yang disampaikan oleh Ust. Khairon, sebenarnya materi liqa' yang aku terima 10 tahun yang lalu. Aku masih ingat, judul materi itu adalah Marahil al-Ukhuwwah Islamiyah (Tingkatan-tingkatan Persaudaraan Islami). Tujuh tahun yang lalu, aku juga pernah membaca di sebuah buku, kalau tidak salah Fiqh Ukhuwwah, ma'af aku lupa lagi pengarangnya. Nah, dari tingkatan-tingkatan ukhuwah --sampai sembilan tingkat itu-- yang disampaikan oleh sang penceramah hanya empat ini:
Pertama: TA'ARUF (Saling Mengenal).
Ada yang menarik bagiku, saat Hasanudin datang ke rumahku. Ia m |
|