Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: dinamika masisir

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag dinamika masisir

INNER-OUT: 10 KIAT MENGHADAPI TANTANGAN

Dari penjelasan saya sebelumnya, terlihat dengan jelas bahwa akar masalah Masisir adalah pada respon Masisir terhadap tantangan, bukan pada tantangan itu tersendiri. Dengan kata lain, inti problematika prestasi Masisir, ada pada kata kunci (password) ini: kesadaran, baik itu kesadaran diri [self-awarness] maupun kesadaran kolektif [colective-awarness].

Karena persoalannya berada pada kesadaran dalam diri Masisir, maka solusinya juga ada dalam diri Masisir. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan prestasi Masisir, harus memakai strategi inner-out, yaitu perubahan dari dalam ke luar—dari pikiran dan mental ke tingkah laku; dari individu ke komunitas; dari personality menuju environment; dari Masisir ke stakeholder.

Ada dua alasan saya mengajukan solusi strategi inner-out ini. Pertama, berdasar Al-Quran surat Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Dalam ayat ini, dengan jelas bahwa perubahan itu berawal dari dalam diri [mâ bi anfusihim] dan atas bantuan Allah Swt..

Alasan kedua adalah saya sependapat dengan Stephen R. Covey yang berkeyakinan bahwa perubahan itu “dari dalam ke luar” [inner-out] berdasarkan prinsip yang benar dan berasal dari Sang Pencipta. “Saya percaya”, tulis Covey dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People {Aksara, 1987}, “bahwa ada bagian dari sifat manusia yang tidak dapat dicapai melalui undang-undang atau pendidikan, tetapi memerlukan kekuatan Tuhan untuk mengatasinya. Saya percaya bahwa sebagai manusia, kita tidak dapat menyempurnakan diri sendiri. Sampai tingkat dimana kita menyelaraskan diri kita dengan prinsip benar, anugrah ilahi akan diserahkan pada sifat kita sehingga memungkinkan kita untuk memenuhi ukuran ciptaan kita [baca: taqdir]”.

Dari dua alasan tersebut, saya ingin menegaskan bahwa semua pihak yang terkait [stakeholder], dalam menyelesaikan persoalan Masisir, harus sesuai dengan keyakinan Masisir beragama Islam dan selaras dengan bahasa Masisir, dalam istilah Al-Quran, bi lisâni qaumihi [dengan bahasa kaumnya], atau istilah hadis, bi qadri ‘uqûlihim [dengan kadar akal mereka], sehingga bahasa perubahan itu difahami oleh Masisir. Oleh sebab itu, tugas kita adalah bagaimana menerjemahkan prinsip-prinsip Islam —selama ini dipelajari oleh Masisir— dalam kiat-kiat praktis, rasional, terukur, dan sistimatis.

Secara sederhana, lingkaran perubahan itu, saya bagi menjadi empat lapisan sistim: (1) lapisan terdalam adalah individu Masisir; (2) lapisan tempat tinggal [sistim mikro]; (3) lapisan tempat aktif [sistim meso]; dan (4) stakeholder[sistim makro]. Perubahan itu kita mulai dari dalam ke luar —dari individu ke stakeholder. Karena lapisan nomor 1 dalam diri, sedangkan nomor 2 hingga 4 di luar diri dan melibatkan banyak orang, maka saya bagi kiat-kiat Masisir untuk menghadapi tantangan sekaligus sebuah upaya meningkatkan prestasi menjadi dua bagian ini: pendidikan Masisir

·        Secara Individual

  1. Merubah paradigma.

Perubahan di Masisir, tidak pernah akan terjadi, manakala tidak diawali dengan perubahan paradigma individu-individu Masisir. Lalu, apa itu paradigma? “Paradigma —lazim digunakan sekarang dengan arti model, teori, persepsi, asumsi, atau kerangka acuan”, menurut Covey dalam bukunya tersebut di atas, “adalah cara kita ‘melihat’ dunia —bukan berkaitan dengan pergertian visual dari tindakan melihat, melainkan berkaitan dengan persepsi, mengerti, menafsirkan”. Ia ibaratkan paradigma seperti peta untuk menjelaskan sebuah wilayah.

Merubah paradigma Masisir, berarti merubah persepsi, pemahaman, atau penafsiran Masisir terhadap hal-hal yang selama ini dianggap penyebab kesuksesan dan kegagalan studi mereka. Untuk merubah paradigma Masisir hal yang pertama kali menyadarkan individu-individu Masisir bahwa ada paradigma yang salah, diantaranya, paradigma belajar hanya menghadapi ujian —belajar sistim kebut semalam (SKS), prestasi terukur hanya di atas kertas, organisasi menghambat studi, universitas Al-Azhar tidak punya sistim, kondisi Mesir yang kurang menyenangkan, dan seterusnya, diganti dengan paradigma yang benar.

Untuk merubah paradigma itu adalah dengan mempelajari atau mencari informasi berdasarkan metode ilmiah, bukan berdasarkan rekaan dan “mitos”. Bila paradigma berubah, maka secara otomatis mental dan sikap pun akan berubah. Manakala Masisir memiliki paradigma yang benar, maka penyakit cemas dan sedih akan hilang.

  1. Membangun kepemimpinan, manajemen diri, dan manajemen.

Kepemimpinan diri, akan melahirkan manajemen diri. Manajemen diri akan melahirkan manajemen waktu. Kepemimpinan diri tentang naskah hidup —visi, misi, dan nilai: Apa yang ingin saya capai selama di Mesir?, sedangkan manajemen fakus pada garis dasar —strategi dan taktik: Bagaimana cara terbaik untuk mencapai keinginan saya itu? Adapun manajemen waktu tertuju pada penentuan skala prioritas [fiqh awlawiyât] —dahulukan yang utama [put first things first]: Bagaimana cara saya menggunakan waktu sebaik mungkin agar target saya selama di Mesir tercapai? Apabila tiga hal itu —kepemimpinan diri, manajemen diri, dan manajemen waktu— terbangun dalam diri individu Masisir, saya sangat yakin, penyakit tak berdaya dan malas akan hilang.

  1. Meningkatkan rasa peka sosial.

Cara meningkat peka sosial adalah dengan banyak bergaul dengan manusia. Manakala kiat sebelumnya —nomor 2— sudah dilaksanakan oleh Masisir, maka untuk aktif di berbagai organisasi atau komunitas, bukan sesuatu yang membuat studi terhambat. Justru sebaliknya, sebagai wahana untuk mengamalkan ilmu yang telah Masisir peroleh. Dengan banyak berintraksi sesama Masisir, maka rasa peka sosial akan meningkat. Ujung dari peka sosial ini adalah terobati penyakit pengecut dan kikir.

  1. Memiliki karakter mandiri dan sinergitas.

Ada tiga tahap perkembangan diri manusia, dari ketergantungan [dependence], mandiri [independence], sampai saling tergantung [interindependence]. Tiga kiat sebelumnya, akan melahirkan karakter mandiri dan bersinergi antara satu sama lainnya. Dan dua karakter ini akan mengikis habis persoalan terlilit hutang dan tekanan orang lain. Sebab, dari karakter mandiri dan sinergitas, maka membuat Masisir mandiri secara ekonomi [terbebas dari hutang] dan terbebas tekanan orang lain.

Keempat kiat di atas, akan melahirkan Adversity Quotient (AQ). Dan AQ ini akan membuat individu Masir siap menghadapi tantangan; tahan banting; tidak pernah menyerah dalam meraih multiple achievement.

·        Secara Kolektif

  1. Melakukan penelitian [research] ilmiah.

Untuk mencari akar masalah dan solusi yang paling tepat, hendaknya KBRI bekerjasama dengan PPMI untuk melakukan penelitian ilmiah. Semua tulisan peserta lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh KBRI dan PPMI sejak tahun 2002 yang bertemakan Masisir —termasuk tulisan ini, pada hakikatnya adalah data dasar untuk melakukan penelitikan ilmiah. Oleh sebab itu dari lomba ini perlu follow up dengan mengadakan penelitian ilmiah ke Masisir langsung oleh sebuah tim yang dibiayai oleh KBRI. Teknis rekrutmen anggota dan pembentukan tim ini ada dua: (1) anggota tim ditunjuk langsung oleh KBRI dan PPMI dengan melihat kemampuan untuk melakukan riset; dan (2) lewat sayembara dengan mengajukan Proposal Penelitian, siapa yang menang, maka ditunjuk sebagai Tim Penelitian terhadap Masisir. 

  1. Membuat buku untuk meningkat prestasi.

Laporan penelitian Tim Penelitian tersebut, sebagai bahan untuk membuat buku-buku yang dibutuhkan oleh Masisir, terutama mahasiswa baru. Buku tersebut berisi tiga hal: (1) merubah paradigma Masisir agar berprestasi; (2) memberikan motivasi, inspirasi, dan dorongan untuk berprestasi; dan (3) memberikan kiat-kiat praktis dari seluruh persoalan Masisir sejak sampai di Mesir hingga tamat kuliah. Setidaknya memuat tiga tema —kepemimpinan diri, manajemen diri, dan manajemen waktu— pada kiat nomor 2 secara individu di atas. 

  1. Merubah format OMABA.

Buku-buku tersebut sebagai buku pegangan Masisir yang diberikan saat acara Orientasi Mahasiswa Baru (OMABA). Saya mengusulkan OMABA —sekaligus try out—dilaksanakan oleh 16 kekeluargaan dengan alasan ini: 1) OMABA yang dilaksanakan DPP-PPMI selama ini tidak efektif; tidak efisien; dan tidak sesuai dengan target sebagai “orientasi”. Karena dilakukan secara massif [stadium general], memakai metode kuliah [The Lecture Method] atau strategi pembelajaran konvensional [pedagogi] yang tidak relevan lagi untuk para mahasiswa. Sebagai gantinya adalah strategi pembelajaran orang dewasa [andragogi] atau strategi pembelajaran partisipatori; (2) selama ini terjadi tumpang tindih [over laping] agenda antara DPP-PPMI dengan kekeluarga —padahal dalam AD/ART, keduanya sama-sama dalam lingkungan PPMI. Oleh sebab itu perlu penataan dan pembagian aktivitas yang jelas. Sebagai contoh penataan itu adalah DPP-PPMI hendak menyerahkan OMABA kepada kekeluargaan, selanjutnya DPP-PPMI lebih fokus menjalin hubungan di luar Masisir baik itu Himpunan Mahasiswa Asia Tenggara [Majlis Tadhomun] di Mesir, BKSPPI, maupun PPI di seluruh dunia —PPI Asia, PPI Afrika, PPI Australia, PPI Amerika, dan PPI Eropa.

Namun semua persoalan strategis dan pembuatan konsep OMABA —diantara pembuatan buku modul tersebut, standar soal dan nilai try out, dst— tetap berada pada DPP-PPMI. Kekeluarga hanya sebatas tempat pelaksana saja Executive Committe [EC], sedangkan Organizing Committee [OC] dan Steering Committe [SC]nya dari DPP-PPMI.

  1. Mengaktifkan Senat Mahasiswa.

Untuk melahirkan Masisir yang memiliki spesialisasi sehingga bisa menyelesaikan berbagai persoalan umat di Indonesia, maka sebuah keniscayaan Masisir harus mengaktifkan Senat Mahasiswa [SEMA] seperti senat diberbagai kampus di Indonesia. Dan membutuhkan konsensus serta komitmen bersama seluruh organisasi yang ada, baik organisasi di bawah PPMI, organisasi afiliatif, dan organisasi independen, agar dengan lapang dada memberikan programnya yang seharusnya dilakukan SEMA.  .

  1. Membangun sinergitas organisasi.

Peningkatan prestasi Masisir, bukan persoalan orang lain [the others], melainkan persoalan kita bersama. Oleh sebab itu, perlu sinergitas dalam meraihnya. Ini perlu kerja keras seluruh komponen untuk merumuskan secara bersama sistim yang tepat untuk membangun sinergitas organisasi. Setidaknya, ini menjadi agenda utama dalam Sidang Umum DPP-PPMI tahun ini.

  1. Stakeholder bersatu untuk membantu masisir.

Stakeholder —menurut TOR Panitia Lokakarya Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia Di Mesir— adalah para pemangku kebijakan terkait dengan mahasiswa Indonesia di Mesir serta pihak-pihak yang concern terhadap kesuksesan studi mahasiswa di Mesir. Stakeholder itu ada 19 komponen ini: (1) Universitas Al-Azhar; (2) Kementerian Dalam Negeri Mesir; (3) Kementerian Pendidikan Tinggi Mesir; (4) State Security Mesir; (5) Imigrasi Mesir; (6) Kementerian Luar Negeri Mesir; (7) Kedutaan Mesir di Jakarta; (8) DPR RI (Komisi X); (9) Departemen Luar Negeri RI; (10) Departemen Agama RI; (11) Departemen Pendidikan Nasional RI; (12) Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara RI; (13) Pemda di Indonesia; (14) Ormas Islam [NU; Muhammadiyah, PERSIS, ICMI]; (15) KBRI Cairo; (16) Alumni; (17) Asosiasi Pesantren; (18) PPMI Mesir; dan (19) Lembaga Beasiswa.

Sebuah harapan, pertemuan stakeholder pada acara Lokakarya Lokakarya Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia Di Mesir tanggal 12-13 April 2008 nanti akan menemukan solusi terbaik untuk meningkatkan prestasi Masisir.

Sebagai pamungkas, saya ingin menyimpulkan dan menyampaikan dua saran saya. Kesimpulan saya bahwa untuk menghentikan perdebatan dan polemik tentang prestasi, maka harus ada paradigma dan standar yang sama, dan saya mengajukan multiple achievement sebagai solusinya. Adapun persoalan inti Masisir, ada dalam diri para individu Masisir, yaitu pada cara mereka dalam merespon tantangan —ada yang tidak siap, ada yang setengah hati, dan ada yang siap. Oleh sebab itu, solusinya, juga ada dalam diri, yaitu membangun kesadaran diri mereka melalui 10 kiat di atas. Inilah yang saya sebut dengan strategi perubahan dari dalam diri [inner-out].

Dua saran saya adalah (1) agar tulisan ini menjadi data dasar bagi melakukan penelitian ilmiah terhadap Masisir; dan (2) semoga tulisan ini bahan pertimbangan dan renungan bagi Masisir bahwa yang bermasalah adalah Masisir, yang tahu akar masalahnya juga Masisir, maka yang tahu solusinyajuga Masisir. Lalu, mengapa tidak Masisir bersinergi menyelesaikan masalah Masisir bersama? Wallâhu a’lâmu bish shawâb.

“Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih. Aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari takut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”

 


SIKAP MASISIR TERHADAP TANTANGAN

Sikap Masisir terhadap dua tantangan di atas ada tiga, yaitu (1) tidak siap; (2) setengah hati; dan (3) siap. Untuk deskripsikan tiga kelompok Masisir ini, saya meminjam istilah Paul G. Stoliz, Ph. D. Dalam —klasifikasi manusia terhadap tantangan— konsep Advesity Quotient [AQ], ia memakai istilah ini  The Quitter, The Camper, dan The Climber. Begitu juga sikap Masisir terhadap tantangan terbagi menjadi tiga kelompok:

1.      The Quitter adalah Masisir yang tidak siap dengan tantangan dan tanpa ragu pulang ke Indonesia, atau melanjutkan studi di negara lain;

2.      The Camper adalah Masisir yang terkadang siap dan terkadang tidak siap terhadap terhadap tantangan studi di Mesir. Biasanya mereka bisa menamatkan S1, namun dengan limit waktu yang cukup lama, atau terkadang pulang di tengah perjalanan, tidak menamatkan kuliahnya.   

3.      The Climber adalah Masisir yang siap dengan segala tantangan, semakin banyak cobaan membuatnya semakin kreatif dan tahan banting, mereka biasanya dapat menyelesaikan studi tepat waktu dengan natijah yang memuaskan.

Kelompok pertama dan kedua inilah, yang sering terjangkit virus delapan patalogi psikologis dan tidak siap dengan tantangan environment tersebut. Sedangkan kelompok ketiga, mereka patut menjadi contoh, sebab mereka memiliki Adversity Quotient [AQ], yaitu kecedasan atau kemampuan untuk mengubah tantangan menjadi peluang dan dalam diri mereka terkumpul empat kecerdasan —IQ, EQ, SQ, dan PQ— secara sinergis. Bagaimana Masisir memiliki Adversity Quotient [AQ] itu? Jawabannya ada pada pembahasan selanjutnya.


Bersambung ke "Renungan Masisir 4: Inner-Out: 10 Kiat Menghadapi Tantangan"

TANTANGAN MASISIR

Dua tahun yang lalu (2006) dalam tulisan Faktor-Faktor Penunjang Kesuksesan dan Kegagalan Masisir —terpilih sebagai juara pertama dalam lomba karya tulis populer KBRI— saya memasukkan kondisi almamater Masisir sebagai variabel yang sangat menentukan sukses atau tidaknya Masisir. Namun, setelah saya melakukan observasi ulang sebagai verifikasi data untuk tulisan ini, maka saya menganulir kesimpulan saya itu, sebab saya menemukan fakta bahwa ada Masisir yang sewaktu di Indonesia tidak sekolah di pesantren atau madrasah, melainkan hanya sekolah umum dan tidak mempelajari bahasa Arab, namun mampu menyelesaikan ujian atau lulus (najâh) dengan baik di Universitas Al-Azhar Cairo, karena belajar sungguh-sungguh.

Sebagai ganti dari kesimpulan tersebut, saya punya hipotesa baru bahwa masa lalu atau latar belakang pendidikan tidak terlalu menentukan bila dibandingkan dengan upaya Masisir untuk menghadapi segala tantangan ketika sudah di Mesir. Kesimpulan sementara ini semakin kuat, tatkala saya menemukan data yang dikemukakan oleh Kurt Lewin, tokoh Psikologi Gestal yang kemudian hijrah ke Psikologi Kognitif, dalam teori medan [fiel theory], menyanggah adanya peran masa lalu yang terlalu penting.

Menurut Kurt, tulis Ahmad Thoha Faz dalam buku Titik Ba; Paradigma Revolusioner dalam Kehidupan dan Pembelajaran {Mizan, 2007}, manusia merupakan salah satu unsur dalam lingkungan fisika, maka prilaku [behavior][personality] dari individu yang bersangkutan dan lingkungan [environment] yang mempengaruhinya pada saat kejadian, bukan oleh pengalaman masa lalu apalagi masa kecil. seseorang ditentukan oleh kepribadian

Terinspirasi oleh pendapat Kurt tersebut, saya membagi dua tantangan yang dihadapi oleh Masisir, yaitu tantangan internal atau personality; dan tantangan eksternal atau invironment. Sebelum saya merumuskan; mendeskripsikan, sekaligus menganalisis dua tantangan itu, sebaiknya kita lihat dulu makna tantangan —berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia {Balai Pustaka, 2001}— adalah hal atau objek yang perlu ditanggulangi dan menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; tantangan untuk berusaha lebih keras. Mari kita diskusikan dua tantangan ini:

PERSONALITY

Untuk membedah tantangan personality ini, saya memakai pisau analisis berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw. bahwa kita harus berlindung dari delapan patologi psikologis —cemas, sedih, tak berdaya, malas, pengecut, kikir, tertekan, dan terlilit hutang. Dalam mendefisikan masing-masing delapan hal ini, saya meminjam terminologi yang disampaikan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab Al-Jawâb al-Kâfy liman ‘an ad-Dawâ ats-Tsâfy, atau sering dikenal dengan judul lain, Ad-Dâ wa ad-Dawâ {Maktabah Darul Bayan, 1998}. Delapan patologi psikologis itu adalah:

  • Cemas dan Sedih

Cemas [al-ham] dan sedih [al-hazn], keduanya muncul dari “sesuatu yang tidak kita inginkan”, tidak kita sukai; tidak kita senangi, atau rasa benci dalam hati kita. Bedanya, cemas berkaitan dengan sesuatu yang “belum” terjadi. Sedangkan sedih berhubungan dengan perkara yang “telah” terjadi.

Dengan melihat data prestasi akademis 2006-2007 di atas, sangat menarik untuk kita teliti adalah mengapa persentasi ketidak-lulusan tingkat satu dan tingkat empat lebih besar dibandingkan tingkat dua dan tiga? Sebab, tingkat satu —mahasiswa baru— dan tingkat empat, terjangkit penyakit cemas. Bagi tingkat satu, mereka cemas, sebab belum mengenal sistim belajar dan ujian di Al-Azhar. Sebaliknya, tingkat empat cemas, karena terlalu mengkhawatirkan pasca tamat belajar. Setidaknya mereka akan dihadapkan tiga pilihan: melanjutkan kuliah, menikah, mencari pekerjaan, dan gabungan dari dua atau ketiganya sekaligus.

Selain kecemasan itu, tingkat satu dan empat, juga merasakan kesedihan. Bagi tingkat satu, mereka sedih sebab apa yang mereka bayangkan tentang Universitas Al-Azhar, kehidupan para mahasiswa Indonesia, dan lingkungan Mesir, tidak seindah yang mereka impikan sebelum berangkat ke Mesir. Sedangkan kesedihan yang dirasakan oleh tingkat empat, sebab merasa bahwa antara gelar sarjana yang akan mereka sandang tidak berbanding lurus dengan ilmu yang mereka peroleh dan mereka menyesali atas kesia-sian mereka selama ini.

Dengan kata lain, sebuah kewajaran, jika mahasiswa baru dan mahasiswa tingkat akhir banyak yang tidak lulus, sebab beban psikologis yang mereka rasakan dua sekaligus, yaitu rasa cemas dan sedih secara bersamaan. Sedangkan tingkat dua dan tingkat tiga, biasanya hanya merasakan kesedihan, sebab satu sisi sangat rindu dengan keluarga di Indonesia, sedangkan di sisi lain, tidak memiliki ongkos untuk pulang. Adapun rasa cemas itu hilang, karena ternyata ketakutan yang mereka rasakan selama ini, hanya sebatas perasaan yang dibangun oleh diri sendiri; tidak menjadi kenyataan.

  • Tak Berdaya dan Malas

Bila kita gagal atau kalah untuk melakukan sebab-sebab berbuat kesuksesan; kebaikan dan kebahagiaan, maka itulah yang disebut dengan lemah [al-‘ajzi] dan malas [al-kasali]. Namun keduanya berbeda dalam hal “sebab”, lemah akibat ketidak-mampuan; tidak memiliki kekuatan [al-qudrah], sedangkan malas akibat ketidak-mauan; tidak memiliki keinginan [al-irâdah].

Tantangan Masisir, bila ditinjau dari segi bisa diubah atau tidak bisa diubah, maka akan terbagi menjadi tiga wilayah: (1) wilayah kendali; (2) wilayah pengaruh; dan (3) wilayah kepedulian. Wilayah kendali adalah sesuatu dalam diri kita yang dapat kita ubah sesuai dengan keinginan kita. Misalnya, ketika kita dihadapkan kondisi belajar di Mesir tidak sesuai dengan harapan, maka kita bisa mengendalikan respon kita, apakah kita akan sedih, atau sebaliknya memilih bahagia atau bersabar.

Wilayah pengaruh adalah sesuatu di luar diri kita, namun masih dapat kita ubah atau pengaruhi. Misalnya, di tempat tinggal atau komunitas —almamater, kekeluargaan, ormas afiliatif, dst— kita tidak ada bimbingan belajar, maka kondisi itu bisa kita ubah dengan mengusulkan kepada pihak yang terkait [stakeholder] untuk menyelenggarakannya.

Dan wilayah kepedulian, adalah wilayah di luar diri kita dan kecil kemungkinan bisa kita ubah, misalnya jumlah bus yang sedikit dan sering terlambat sehingga kita harus menunggu lama di halte [mahattoh], sewa flat [saqoh] naik dan barang-barang kebutuhan mahal, sehingga mengurangi jatah transportasi, beli diktat kuliah [muqoror], dan kebutuhan belajar lainnya. Nah, ketak-berdayaan terjadi manakala kita dihadapkan pada wilayah kepedulian. Satu sisi kita mau belajar, namun di sisi lain kita tidak bisa belajar, karena sesuatu di luar kemampuan kita untuk mengatasinya, seperti masalah bus tersebut, masalah lampu tiba-tiba mati saat belajar, sekonyong-konyong diusir tuan rumah saat mendekati waktu ujian, dan seterusnya.

Sedangkan malas terjadi akibat sesuatu yang kita anggap terlalu mudah atau sebaliknya terlalu sulit. Ada Masisir yang gagal karena mereka menganggap kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir sangat mudah, masuknya tidak perlu tes, yang penting ijazah terakreditasi [mu’âdalah]; saat kuliah tidak wajib masuk setiap hari dan tidak ada absensi, sangat jarang ada tugas kuliah untuk membuat paper, makalah, dan skripsi [bagi S1], dan seterusnya. Sebaliknya, ada yang mengganggap kuliah sangat sulit, menunggu mobil harus berjam-jam, sesampai di kampus duduk di kursi renyot, tidak ada AC, dan ruangan penuh debu, dosen menyampaikan ceramah kuliah [muhâdharah] memakai bahasa populer [‘Ammiyah], dan seterusnya. Dua persepsi ini, akhirnya membuat mereka malas.

Selain itu, rasa malas muncul akibat tidak memiliki target, atau sebaliknya, terlalu banyak target. Orang yang tidak punya target, tentu saja akan santai, karena memang tidak memiliki tuntutan apa-apa. Sebaliknya, orang yang terlalu banyak target tanpa diimbangi dengan manajemen diri dan manajemen waktu yang baik, maka merasa kewalahan terhadap banyak tuntutan dan banyak tidak terlaksanakan. Akibat dari banyak target tidak tercapai, maka ia akan merasa malas untuk melakukannya lagi.

  • Pengecut dan Kikir

Pengecut [al-jubni] dan kikir [al-bukhli] itu beda. Takut berhubungan dengan fisik [badan; diri], sedangkan kikir berkenaan dengan harta. Walaupun demikian, keduanya tetap sama dalam hal tidak bisa memberikan manfa’at.

Di Indonesia, para alumni Universitas Al-Azhar, ada yang mengecewakan keluarga, masyarakat, dan umatnya. Sebab, meskipun mereka telah sarjana, ternyata mereka tidak mampu menyampaikan dan transformasi ilmu, apalagi melakukan mobilitas sosial. Mereka bukan saja kurang mampu mengartikulasikan gagasan lewat tulisan dan lisan, melainkan mereka merasa asing di tengah hiruk-pikuknya kemajuan peradaban manusia.

Parahnya, mereka tidak mampu melaksanakan tugas utamanya sebagai juru dakwah [dâ’i], misalnya tidak bisa khutbah Jum’at, khubah nikah, ceramah, pengajian, dan sejenisnya. Mereka bukan berusaha merubah diri agar memiliki kemampuan untuk melaksanakan tuntutan masyarakat, tapi malahan secara tidak bertanggungjawab meninggalkan kampung halaman dan lari ke kota dengan alasan mencari pekerjaan.

Mengapa hal itu terjadi? Sebab, selama mereka menuntut ilmu di Mesir mereka adalah para pengecut dan kikir. Mereka tidak mau aktif di organisasi dengan alasan tidak mau terganggu studi. Sebenarnya, itu sebuah alasan yang dibuat-buat. Alasan sesungguhnya adalah mereka takut sebelum mencoba; mereka tidak mau meluangkan diri —pikiran, tenaga, dan waktu— untuk orang lain, alias pengecut.

Sedangkan kikir, terjadi pada Masisir anak orang kaya. Namun kekayaan itu, tidak bisa dirasakan oleh teman-temannya. Mereka pergunakan untuk mereka diri sendiri dan cenderung untuk hiburan saja. Uang mereka habis untuk membeli fasilitas hiburan in-door, misalnya untuk membeli komputer atau laptop super canggih, tentu saja dilengkapi dengan alat permainan seperti PS [Play Station].out-door, mereka berkelana dari tempat wisata satu ke wisata lain. Sedangkan hiburan

Baik yang pengecut maupun yang kikir, sama-sama mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan manusia. Sebab, mereka tidak memiliki soft skill —sebagaimana telah kita bahas di tipe mahasiswa— untuk bermasyarakat. Yang pengecut lebih dekat dengan kitab; buku; muqarrar, maka mereka memperlakukan manusia seperti kitab; buku; muqarrar yang tidak memiliki perasaan. Diperparah lagi, konsep ilmu hadis “al-jarhu wa at-ta’dil” dipakai untuk menganalisa manusia, sehingga ketika ada kesalahan atau kekeliruan pada seseorang, mereka langsung cela dan jauhi, bukan berusaha untuk mendakwahnya secara lemah lembut dan sabar. Sama halnya dengan orang kikir, karena mereka lebih banyak bersentuhan dengan alat teknologi dan alam, kurang memahami keunikan individu. Toh pun kalau mereka bergaul, maka mereka bergaul dengan sesama orang kaya saja.

Jadi wajar, jika Masisir yang terkena virus pengecut dan kikir ini, tidak peka sosial dan tidak mampu mencair dan melebur diri bersama masyarakat. Sang pengecut akan merasakan rendah diri, tidak percaya diri, dan putus asa, sebab umat membutuhkan sebuah penjelasan sesuai dengan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi [TIK] —sedangkan selama di Mesir TIK itu justru mereka jauhi. Sebaliknya, yang kikir tidak bisa mengabdi di masyarakat dan ummat yang mayoritas miskin, bodoh, dan terjangkit patalogi sosial, sebab mereka sudah terbiasa dengan TIK, mana mungkin tahan hidup di pedalaman yang tidak ada listrik, internet, dan teknologi. Akhirnya, para pengecut dan kikir itu, menjadi mesin di tengah industri perkotaan. Mereka bukan menjadi subjek, tapi menjadi objek perubahan. Mereka bukan problem solver, tapi mereka menjadi trouble maker dan bagian dari masalah. Na’udzubillahi min dzâlik! 

  • Terlilit Hutang dan Tekanan Orang Lain

Dari segi dampak psikologis, lilitan hutang [dhol’i ad-dain] dan tekanan orang lain [ghalabat ar-rijâl], keduanya sama, yaitu membuat hati kita tidak nyaman; tertekan. Namun keduanya tetap memiliki perbedaan. Lilitan hutang tertekan dari orang yang memang “berhak” untuk menekan kita. Sedangkan tekanan orang lain adalah dari orang yang “tidak berhak” atau “tidak benar” [bâthil].

Tidak bisa kita pungkiri pula bahwa mayoritas Masisir berlatar-belakang keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Maka tidak sedikit, yang belajar ke Mesir bermodalkan “nekad”, hanya bawa uang untuk tiga bulan saja, bahkan ada yang kurang, sedangkan keluarga mereka tidak mungkin untuk mengirim duit. Ada juga yang memang tertipu oleh “mediator” yang mengatakan bahwa kuliah di Mesir gratis, disediakan asrama, langsung dapat beasiswa, dan seterusnya.

Apa yang terjadi, di saat biaya rumah mahal, harga barang-barang melonjak, muqarrar semakin banyak dan mahal, transfortasi naik, dan seterusnya naik, sedangkan mereka tidak punya duit sama sekali, tidak punya beasiswa atau kafalah, dan tidak bakalan dikirim keluarga di Indonesia? Kemungkinan ada dua, (1) mencari sebuah pekerjaan —baik itu kerja di warnet, rumah makan, maupun jualan tiket, tahu, tempe, dst— atau (2) meminjam duit atau berhutang.

Masisir yang berhutang, selain keterdesakan atau kondisi di atas, ada juga karena memaksakan diri di luar kemampuan, misalnya, karena ingin menunaikan ibadah haji atau umroh, dan membayangkan bisa sambil kerja di Saudi, mereka meminjam uang. Dan ternyata jangankan bisa membayar utang, pulang kembali ke Mesir saja mereka sudah untung.

Bagaimana seseorang akan konsentrasi belajar, jika ia merasa tertekan —sekarang tertekan karena merasa tidak aman sebab penodongan, penjambretan, penusukan, tidak hanya terjadi di jalan saja, melainkan mulai merambah ke rumah—, terlilit hutang, dan dalam waktu yang sama sewa rumah naik serta harga barang melonjak, sedangkan pemasukan tidak bertambah, bahkan ada?

Tidak sedikit yang kuliah ke Mesir, bukan karena kemauan sendiri, melainkan atas desakan orang tua atau keluarganya. Satu sisi mereka sangat ingin berbakti dengan ibu-bapak atau keluarga mereka, namun di sisi lain, mereka punya keinginan, cita-cita, dan panggilan hidup sendiri. Misalnya, ada Masisir kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, karena tuntutan bapaknya, sebab bapaknya seorang kyai dan ingin anaknya melanjutkan pesantren yang telah puluhan tahun dirintis oleh nenek-moyang mereka. Sedangkan sang anak sangat ingin kuliah di umum.

Ketika keinginan mereka sangat kuat, namun tidak mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata, maka lahirlah sebuah ketertekanan. Dari ketertekanan ini muncul pemberontak “tersembunyi”. Dari pemberontakan, mereka tidak peduli dengan prestasi. Akhirnya, kuliah mereka berantakan. Nah, rasa tertekan dari luar, siapapun itu, termasuk ortu, sebenarnya tidak berhak untuk setiap individu. Sebab, setiap individu adalah merdeka, unik, dan punya pilihan sendiri yang harus dihormati oleh siapa saja.

‘Ala kulli hâl, faktor penyebab dari delapan patologi psikologis itu sangat banyak dan bisa menjangkiti siapa saja dan kapan saja, tanpa melihat jenis kelamin, latar belakang, jenjang pendidikan, tingkat sosial dan seterusnya. Yang jelas, betapa banyak Masisir yang tidak lulus ujian akibat terjangkit salah satu atau lebih dari delapan hal itu.

ENVIRONMENT

Setelah kita membahas tantangan personality, sekarang kita akan mendiskusikan tantangan environment. Yang saya maksud dengan tantangan evironment adalah masalah atau tantangan yang berada di luar diri individu Masisir. Tantangan ini terpetakan dalam tiga tempat:

1.      Tempat tinggal yang tidak kondusif.

Tempat tinggal Masisir terbagi menjadi dua: (1) tinggal di asrama, misalnya asrama putra [bu’ûts kubro] dan asrama putri [bu’ûts sughro] di Abbasea, asrama putri Muqotom, asrama putri Hayyul ‘Asyir, asrama putri Majlis A’la Tahrir, dan seterusnya; (2) tinggal di luar asrama; tinggal di flat [saqoh] baik di Cairo maupun luar Cairo —Zaqazig, Tafahna, Thanta, Manshurah, Dimyath, dan seterusnya.

Yang tinggal di asrama, mungkin tidak terlalu bermasalah, sebab suasana mendukung untuk belajar. Berbeda dengan tinggal di rumah sewaan, tantangannya sangat banyak. Ini sangat tergantung dengan komitmen para penghuninya dalam membangun sistim di rumah itu. Setidaknya, berdasarkan observasi, ada empat tipe suasana rumah Masisir: (1) tipe terminal: antara satu penghuni rumah kurang begitu mengenal, hanya kenal wajah, mereka jarang berintraksi, sebab masing-masing punya kegiatan di luar rumah, dan rumah hanya sebatas tempat istirahat saja; (2) tipe mall: suasana rumah sebagai tempat nongkrong bersama, nonton bersama, atau main game bersama; (3) tipe sekolah: suasana rumah penuh dengan kajian ilmu, diskusi, dan hal yang bermanfa’at lainnya; dan (4) tipe masjid: selain berfungsi seperti tipe sekolah [tempat belajar] di rumah ini sering dipergunakan untuk beribadah misalnya dzikir, sholat, muhâsabah, dan seterusnya, baik itu dilakukan sendirian maupun bersama-sama.

2.      Tempat kuliah yang tidak sesuai dengan keinginan.

Mahasiswa baru yang datang ke Mesir, hampir 100% memiliki kesan yang sama bahwa kuliah di Mesir tidak seindah yang mereka bayangkan sewaktu di Indonesia. Antara apa yang mereka inginkan, jauh berbeda dengan kenyataan. Diantara kenyataan itu adalah: (1) sarana —gedung, kursi, papan tulis, dst— tidak sebagus di universitas di Indonesia;  (2) sistim perkuliahan yang tidak memiliki kalender pendidikan selama satu tahun sehingga untuk mengetahui kapan mulai ujian sering berubah-ubah; (3) pelayanan administrasi manual, belum menggunakan sistim komputerisasi; (4) suasana, iklim, dan proses pembelajaran masih bersifat konvensional [pedagogis], belum bersifat partisipatoris [andragogi]; (5) dosen yang sering tidak hadir dan sering menggunakan bahasa ‘ammiyah; (6) kurikulum memakai sistim gugur, bukan sistim kredit; (7) disiplin kuliah tidak terbangun, kehadiran tanpa absensi, dan seterusnya.

3.      Tempat aktif atau komunitas yang kurang mendukung studi.

Tempat aktif atau komunitas Masisir, kita bagi menjadi empat: (1) organisasi di bawah PPMI, (2) organisasi berafiliasi ke Indonesia baik ormas maupun orpol; (3) organisasi independen, tidak di bawah PPMI maupun afiliatif. Organisasi di bawah PPMI diantaranya: MPA, BPA, DPP-PPMI, DPD-PPMI (Zaqaziq, Thanta, Manshurah, dan terbaru DPD Tafahna), Lembaga Otonom: 16 organisasi kekeluargaan (KMA, HMM, KMM, KPTS, KSMR, KMJ, KEMASS, KPJ, KMB, KPMJB, KSW, GAMAJATIM, FOSGAMA, KMKM, KKS, dan KMNTB), organisasi keputrian (Wihdah), 5 organisasi fakultatif: SEMA Fakultas Ushuluddin, Syariah Islamiyah, Syari’ah wal Qonun, Lughah al-‘Arabiyah, dan Dirasah Islamiyah.

Organisasi afiliatif dan almamater: ormas (Pwk PII, Pwk Persis, PCI-M, PCI-NU, Washiliyah, Pw FLP, Orsat ICMI, PCI-Washiliyah, cabang KSI, Pwk Sekolah Kehidupan, dan seterusnya), orpol (PIP-PKS Mesir, PKB, dan PAN) dan Almamater tidak terhitung. Organisasi independen: SINAI, Ruhama, Asy-Syathibi, CSRD, SAS, dan masih banyak yang lainnya baik itu termasuk dalam kelompok studi, organisasi angkatan [marhalah], dan LSM.

Tentu saja, semua organisasi dan komunitas itu, memiliki peluang yang sama, baik itu sebagai tantangan bagi Masisir, atau sebaliknya, menjadi peluang bagi Masisir. Ini sangat tergantung dengan cara Masisir dalam menyikapi dan meresponnya.

Bersambung ke "Renungan Masisir 3: Sikap Masisir Terhadap Tantangan"


Blog EntryRenungan Masisir 1: Multiple AchievementMar 29, '08 7:59 AM
for everyone

INNER-OUT DALAM MERAIH MULTIPLE ACHIEVEMENT:
MENJAWAB TANTANGAN STUDI MASISIR

Oleh: Udo Yamin Majdi

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’d (13): 11]

Bismillâh. Ada asumsi bahwa prestasi mahasiswa Indonesia Mesir [Masisir] dalam empat tahun terakhir menurun. Dalam waktu yang bersamaan, terjadi perdebatan dan polemik tentang makna dan standar prestasi. Diperparah lagi, muncul paradigma salah: meletakkan prestasi akademis di atas prestasi sosial, atau sebaliknya, mengutamakan prestasi sosial dibandingkan prestasi akademis.

Paradigma dikotomis itu menawarkan pertanyaan simalakama: pilih mana antara bergelar Lc., MA., atau Dr., namun tidak memberikan kontribusi bagi masyarakat, atau sebaliknya, tidak bergelar namun memiliki segudang karya bermanfa’at bagi manusia? Tentu saja pilihan kita adalah memiliki para sarjana bergelar tinggi sekaligus menjadi problem solver dan agent of change di tengah masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Akan tetapi, untuk meraih prestasi majemuk [multiple achievement] —bergelar dan berilmu tinggi— itu, tak ubahnya seperti kita mendaki puncak gunung, penuh dengan rintangan dan tantangan.

Tulisan ini tidak bermaksud sebagai kajian representatif atas semua problematika Masisir, tapi hanyalah telaah awal —secara deduktif dan kajian kepustakaan— terhadap empat permasalahan ini: (1) apa makna, standar, dan sejauhmana prestasi Masisir?; (2) apa saja tantangan yang dihadapi oleh Masisir?; (3) bagaimana sikap Masisir terhadap tantangan?; dan, (4) bagaimana solusinya agar Masisir siap menghadapi tantangan?

Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin mendefisikan dulu makna Masisir yang kita maksud dalam tulisan ini. Masisir singkatan dari Mahasiswa Indonesia Mesir. Namun dalam kajian kita kali ini yang kita maksud dengan Masisir adalah para mahasiswa dan mahasiswi strata satu [S1] yang terdaftar di Universitas Al-Azhar Mesir.

MULTIPLE ACHIEVEMENT

Diskursus prestasi [achievement] sering mencuat di belantika Masisir bermula dari perbedaan paradigma di kalangan Masisir dalam memahami makna prestasi. Prestasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia {Balai Pustaka, 2001}, adalah hasil yang telah dicapai dari apa yang telah dilakukan.

Untuk memahami letak perbedaan paradigma itu, kita perlu memetakan terlebih dahulu empat tipe Masisir yaitu: (1) mahasiswa study oriented yang hanya berfokus pada akademik [hard skills]; (2) mahasiswa social oriented yang terlalu berfokus pada organisasi kemahasiswaan [soft skills]; dan (3) mahasiswa ideal yang menjaga keseimbangan antara keduanya [hard skill and soft skills], dan mahasiswa tanpa tujuan [dis-oriented].

Tipe pertama secara akademis mereka lancar, namun secara sosial mereka mengalami banyak kendala. Misalnya, sulit untuk mengkomunikasikan ide atau gagasan mereka dalam bentuk lisan dan tulisan. Sulit untuk bekerjasama. Sebaliknya, tipe social oriented, secara akademis mereka sering tersendat, akan tetapi secara sosial mereka memiliki soft skill, diantaranya: (1) keterampilan komunikasi lisan dan tulisan [communication skills]; (2) keterampilan berorganisasi [organizational skills]; (3) kepemimpinan [leadership]; (4) kemampuan berfikir kreatif dan logis [logic]; (5) ketahanan menghadapi tekanan [effort]; (6) kerja sama tim dan interpersonal [group skills]; dan (7) etika kerja [ethics]. Adapun tipe ketiga, mereka berhasil dalam studi dan sosial. Sebaliknya, tipe keempat, mereka gagal dalam keduanya.

Keempat tipe mahasiswa itu memiliki paradigma berbeda tentang makna prestasi. Bagi mahasiswa study oriented, prestasi adalah manakala kuliah lancar tepat waktu empat tahun dan meraih indeks prestasi istimewa [natîjah mumtâz]. Sedangkan prestasi menurut social oriented adalah ketika mampu melakukan peran sebagai agent of change. Adapun menurut mahasiswa ideal, kedua hal itu sama-sama penting. Sebaliknya, bagi mahasiswa tanpa tujuan, keduanya tidak penting.

Perbedaan paradigma itu memunculkan perbedaan standar dalam menentukan apakah seorang mahasiswa itu berprestasi atau tidak. Terutama dari dua tipe awal —study oriented dan social oriented— sering berbeda, bahkan ketika berada di titik ekstrim, satu sama lainnya saling mencemoohkan; meremehkan; dan menghina. Tipe study oriented menganggap para aktivis hanya membuang waktu, tidak konsisten dengan tugas sebagai mahasiswa, tidak memiliki ilmu mendalam apalagi spesialisasi, dan seterusnya. Sebaliknya, tipe social oriented, mereka anggap tipe study oriented anti sosial, bukan mahasiswa sejati yang berperan sebagai agent of change di masyarakat, tidak mengamalkan ilmunya, dan seterusnya.

Untuk menghentikan perdebatan dan polemik itu, maka kita memerlukan paradigma dan standar yang sama tentang prestasi. Di sini saya mengajukan paradigma multiple achievement [prestasi majemuk] sebagai jembatan untuk menghubungkan berbagai tipe Masisir di atas. Paradigma multiple achievement adalah cara pandang; kerangka berpikir bahwa prestasi tidak tunggal, tapi beraneka-ragam sebagaimana keunikan setiap individu, beragamnya potensi, dan kemajemukan kecerdasan.

Ada dua alasan saya mengajukan multiple achievement. Pertama, karena Al-Quran dalam membicarakan kecerdasan memakai kata jama’ [plural]. “Sebagian lafazh [kata] dalam Al-Qur`an,” tulis Manna’ Khalil Al-Qattan dalam kitab Mabâhîts fî ‘Ulûmi Al-Qur`an {Maktabah Wahbah. 2000}, “di-mufrad-kan untuk sesuatu makna tertentu dan di-jama’-kan untuk sesuatu isyarat khusus, lebih diutamakan jama’ dari mufrad atau sebaliknya. Oleh karena itu dalam Al-Qur`an sering dijumpai sebagian kata yang hanya dalam bentuk majemuk [plural] dan ketika diperlukan bentuk tunggalnya maka yang digunakan adalah kata sinonim [muradif]-nya. Misalnya, kata “al-lubb” yang selalu disebutkan dalam bentuk jama’, albâb, seperti dalam surah Az-Zumar [39] ayat 21. Kata ini tidak pernah dipergunakan dalam Al-Qur`an dalam bentuk mufradnya, namun sinonimnya, yaitu lafadz “al-qalbu” [hati], seperti dalam surah Qaf [50]: 37.”

Berangkat dari penuturan Khalil Al-Qattan, saya memahami kata majemuk pada al-lub menjadi albâb, itu sebuah isyarat bahwa kecerdasan manusia majemuk, tidak tunggal. Secara bahasa, ulil albâb, terdiri dari dua kata, yaitu ulû jamak dari kata âla dan al-albâb jamak dari al-lubb. Kata âla, artinya bisa ilâ bermakna intaha [mencapai], washala [berakhir pada], shara [menjadi], atau intiqalahlu [keluarga, sanak, kaum kerabat]. Sedangkan al-lubb berarti al-‘aqlu [akal], al-qalbu [hati], lubâb [bagian terpenting], atau jawhar [inti]. Jadi, ulil albab adalah orang yang telah mengoptimalkan seluruh potensi dirinya —baik potensi intelektual [al-‘aqlu], emosional [an-nafs], spiritual [ar-ruh], dan fisik [al-jasad] sehingga menjadi keahlian, kompetensi, atau kecerdasan. [berpindah], bisa juga berarti

Alasan kedua adalah berdasarkan penemuan ilmuan Barat bahwa kecerdasan itu adalah majemuk. Dalam buku Seven Kinds of Smart: Identifying and Developing Your Multiple Intelligences {Gramedia, 2002}, Thomas Armstrong, Ph.D., menjelaskan pendapat Dr. Howard Gadner bahwa kecerdasan ganda [multiple intelligences] ada tujuh, yaitu (1) kecerdasan Verbal-Linguistik; (2) Matematis-Logis; (3) Spasial-Gambar; (5) Musical-Irama; (5) Kinestis-Tubuh; (6) Intrapersonal; dan (7) Interpersonal. Tujuh kecerdasan ini, ada pada Masisir. Sayangnya, selama ini kita hanya mengakui kecerdasan Verbal-Logis saja, sedangkan yang lainnya sering kita remehkan.

Dalam konteks Masisir, (1) kecerdasan Verbal-Linguistik —kemampuan untuk mengolah kata, baik secara lisan, tulisan, atau keduanya— kita temukan pada para orator, penceramah, pendongeng, presenter, politisi, pembicara publik, penulis, pengarang, penerjemah, editor, wartawan, sastrawan, dan seniman; (2) kecerdasan Matematis-Logis —kemampuan untuk menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar— ada pada peneliti, ahli statistik, ahli ilmu warits, programmer komputer, ahli logika, dan ahli ilmu manthiq; (3) kecerdasan Spasial-Gambar —kemampuan untuk mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikan persepsi spasial-visual— ada pada dekorator interior, arsitek, pelukis, ahli kaligrafi, ahli karikatur, desaigner, dan lay-outer; (4) kecerdasan Musical-Irama —kemampuan untuk menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara memersepsi, membedakan musik, menggubah, atau mengekspresikan— ada pada para penyanyi; munsyid, kritikus musik, juri musik; (5) kecerdasan Kinestis-Tubuh —kemampuan untuk mengekspresikan ide dan perasaan serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu— ada pada pemain pantonim, atlet, penari, pemain teater, karateka, dan ahli bela diri lainnya; (6) kecerdasan Intrapersonal —kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, dan perasaan orang lain— ini dimiliki para trainer motivasi dan pengembangan diri; dan (7) kecerdasan Interpersonal —kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut— ada pada Masisir yang mendalami ilmu tasawuf.

Adapun standar prestasi Masisir, ada dua: berdasarkan kuantitas dan berdasarkan kualitas. Secara kuantitas, prestasi Masisir bisa kita lihat dari dua hal, yaitu (1) limit waktu dalam menyelesaikan satu jenjang pendidikan [lama studi untuk S1 4 tahun]; dan (2) indeks prestasi kumulatif atau yudisium ujian akhir [natîjah imtihân], mulai dari rasib, manqûl bi madatain, maqbûl, jayyid, jayyid jiddan, sampai mumtâz. Kedua standar ini, kita sebut sebagai standar prestasi akademis. Sedangkan secara kualitas, prestasi Masisir terukur dari tiga hal ini: (1) dari segi kognitif [pikiran]; sejauhmana berpikir ilmiah terbentuk, setidaknya memahami pola berpikir deduktif, berpikir induktif, dan berpikir ilmiah atau metode berpikir logiko-hipotetiko-verifikatif; (2) dari segi afektif [mental]; sejauhmana cara merespon sesuatu dengan baik; dan (3) psikomotor [tindakan], terbangunnya integritas ilmuwan —perbuatan sama dengan ilmunya.

Setelah kita membahas makna prestasi, multiple achievement, dan standar prestasi, maka kita melongok prestasi Masisir. Sebagai sampel, kita akan melihat data prestasi akademis Masisir tahun 2006-2007 untuk strata satu (S1). Tingkat satu, yang lulus 48%, tidak lulus 52%. Tingkat dua, yang lulus 70%, tidak lulus 30%. Tingkat tiga, yang lulus 63%, tidak lulus 33%. Dan tingkat empat, lulus 48%, tidak lulus 52% {data dari TOR Lokakarya Dukungan Terhadap Peningkatan Prestasi Mahasiswa Indonesia Di Mesir}.


Bersambung ke Renungan Masisir 2: Tantangan Personality & Environment

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help