Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: dunia tulis menulis

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag dunia tulis menulis
Blog EntryINGIN MENJADI PENULIS PROFESIONAL?Jul 16, '08 4:37 AM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Majdi

“Udo, apa saja modal dasar kita untuk menjadi penulis profesional?” tanya seorang peserta, saat saya mengisi pelatihan jurnalistik di sebuah organisasi mahasiswa Indonesia Mesir.

Mendapatkan pertanyaan seperti itu, tentu saja membuat saya harus berpikir keras. Waktu itu, tiba-tiba di benak saya muncul sebuah jawaban singkat, bahwa modal tersebut cuma satu, yaitu membiasakan diri menulis. Bagi Anda, mungkin jawaban saya ini, terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Tentu saja tidak! Sebab, dari sana muncul lagi sebuah pertanyaan, apa itu kebiasaan?

Dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People (Bina rupa, 1997), Stephen R. Covey mengatakan bahwa kebisaan adalah titik pertemuan dari pengetahuan (apa dan mengapa), keterampilan (bagaimana), dan keinginan (untuk apa). Dari teori Covey inilah, saya akhirnya bisa menjelaskan secara panjang lebar tentang tiga modal dasar menjadi seorang penulis profesional ini: motivasi menulis (writing motivation), pengetahuan menulis (writing knowladge), dan keterampilan menulis (writing skill).

Dalam kesempatan lain, panitia pelatihan menulis sebuah organisasi mahasiswa Indonesia Mesir yang lain menelpon saya. Ia meminta saya untuk menjadi pemateri. Saya terima, meskipun pemintaan itu mendadak. Kalau hanya sekedar berbagi pengalaman menulis, itu tidak masalah bagi saya. Namun, setelah surat permohonan dan tentatif acara saya terima, ternyata temanya terlalu berat bagi saya. Mereka meminta saya menyampaikan bagaimana caranya menjadi penulis profesional.

Wallâhu a'lâm, apa yang ada dalam benak panitia, mengenai makna "penulis profesional" . Apakah yang mereka maksud adalah penulis yang melahirkan karya yang bermutu dan berkualitas, atau penulis yang menjadikan dunia menulis sebagai profesi? Dan yang saya fahami, penulis profesinal adalah makna yang kedua. Dan inilah yang membuat saya agak berat, karena saya belum memiliki pengalaman banyak menjadikan kepenulisan sebagai profesi. Selama ini saya menulis, selain masih dalam tahap menyalurkan hobi dan mengembangkan bakat terpendam, saya jadikan menulis sebagai sarana untuk berbagi ilmu kepada siapa saja.

Walaupun agak berat, saya tetap menerima tema itu. Saya anggap ini adalah tantangan sekaligus sebagai langkah awal bagi saya untuk merumuskan kiat sukses menjadi penulis profesional. Ya, saya memang bermimpi, suatu saat nanti, mudah-mudahan saya menjadi penulis profesional yang saya maksud. Amîn. 

Kisah yang ketiga adalah saat saya ikut di sebuah milis kepenulisan. Dalam milis tersebut, ada diskusi panjang, bahkan sampai berdebat, untuk menjawab pertanyaan ini: “apa dan siapakah penulis sukses itu?” Masing-masing peserta milis, mengemukakan pendapat yang berbeda-beda, bahkan berseberangan.

Diskusi dalam milis itu, mengingatkan saya akan sebuah buku. Judulnya, Bagaimana Menjadi Penulis Yang Sukses (Sinar Baru, tt.). Dalam buku ini, sang penyusun sekaligus penerjemah, Wilson Nadeak, menjelaskan panjang lebar bahwa makna “penulis sukses” di kalangan para penulis dan pengarang Baratpun, tidak ada kata sepakat, satu sama lainnya berbeda dalam mendefinisikan dan dalam memberikannya standar kesuksesan.

Dari tiga cerita saya itu, mungkin Anda bertanya-tanya: apa itu profesional? ; siapa itu penulis profesional? ; apa itu sukses?; siapa itu penulis sukses?; bagaimana caranya agar menjadi penulis profesional dan sukses?

Temukan jawabannya di sini: Sekolah Menulis SMART! Segerakan daftarkan diri Anda menjadi peserta! Saat ini yang telah mendaftar sebanyak 54 orang.


============ ========= ========= ========= ========= =========
============ ========= ========= ========= ========= ========= ==

 

"SEKOLAH MENULIS SMART (Sistim Menulis Asik, Reguler, dan Terpadu)"

  • ASIK. Tempat belajar in door dan out door gabungan dari metode Quantum Learning dan strategi pembelajaran Partisipatori;
  • REGULER.. Masa belajar 2 bulan, belajar seminggu sekali (8 pertemuan: 4 Agustus s/d 28 September 2008);
  • TERPADU. Kurikulum perpaduan dari: motivasi kepenulisan (Writing Motivation), pengetahuan kepenulisan (Writing Knowlage) baik fiksi maupun non-fiksi, dan keterampilan kepenulisan (Writing Skill). Materi mencakup fiksi dan non-Fiksi. Lebih banyak praktek, bahkan selesai pembelajaran langsung menggarap proyek buku untuk diterbitkan di Indonesia.

 

SIAPA MENTORNYA?

  1. Mentor Utama, Udo Yamin Majdi, mantan Ketua 1 FLP Mesir 2002-2003, Direktur Community of Self-Research and Development 2005-sekarang, Ketua Umum Perwakilan Sekolah Kehidupan Mesir 2007-sekarang, Direktur Utama Word Smart Center Cairo, meraih Trobosan Award sebagai penulis dan pegiat sastra terbaik, juara dalam beberapa lomba menulis, diantaranya: Juara 1 Lomba Karya Tulis Populer KBRI, Juara 1 Jaizah Prof Dr. Bachtiar Aly, MA., Juara 1 Lomba buletin Manggala KPMJB, dan penulis beberapa buku, diantaranya: Bara Musa di Taman Terpasung, Kidung Cinta di Taman Surga, Seperti akan datang Kematian, Persembahan Cinta, Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran, dan yang lainnya.
  2. Mentor Asisten 1, Rashid Satari, Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Republik Arab Mesir 2006-sekarang, Ketua Komisi Pengawas Lembaga Dana Abadi Umat (LDAU) Perwakilan Persatuan Islam Mesir, 2008-2009, perwakilan imprint Hikmah penerbit Mizan, dan penulis freelance di beberapa media massa, diantaranya Harian Umum Republika.
  3. Mentor Asisten 2, Teguh Hudaya, Mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir, Sekretaris Eska Mesir 2007-sekarang, dan cerpenis Masisir.
  4. Mentor Tamu, para penulis, pengarang, jurnalis, wartawan, penerjemah, dan praktisi perbukuan, baik dari Masisir maupun dari Indonesia.

 

DAPAT FASILITAS APA?

1.      Sertifikat

2.      Modul dan buku panduan:

  • MENJADI PENULIS PROFESIONAL: Tiga Modal Dasar dan Sepuluh Kiat Menjadi Penulis Sukses;
  • THE BEST STORY: Fiqh Menulis Sastra Islami;
  • JOURNALIST or FREELANCE WRITER: Teknik Menulis Berita, Feature, Opini, Kolom, Esai, dan Tulisan Ilmiah Populer;
  • MEMBUAT KARYA TULIS ILMIAH ITU GAMPANG!: Panduan Penulisan Makalah dan Artikel Ilmiah;
  • AKU MENULIS, AKU ABADI: Kiat Sukses Menulis dan Menerbitkan Buku
  • SMART BLOGGER: Kiat-kiat Menulis di Website & Blog

 

APA SAJA SYARATNYA?

          1.      Mengisi formulir;

          2.      Pas Foto ukuran 2x3 sebanyak 3 lembar;

          3.      Biaya registrasi 40 Pound/orang;

          4.      Peserta terbatas maksimal 60 orang (tiga kelas)

 

DI MANA DAN KAPAN PENDAFTARANNYA?


  1. Lewat Telp/Hp 24484236/0100380728 (Ami Rahmawati) 2244837 (Agus Solahudin) bisa telpon langsung, atau kirim SMS dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
  2. Lewat e-mail eska_mesir@yahoo. com/wordsmartcen ter@yahoo. com dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
  3. Lewat Restoran SEHATI        : Mahattoh Mutsallats Nasr City Cairo

 

Waktu pendaftan : 1 s/d 31 Juli 2008

Registrasi ulang  : 2 Agustus 2008 di Pasangrahan KPMJB bersamaan dengan acara “TALK SHOW KEPENULISAN: Mencerdaskan Indonesia Lewat Budaya Literasi dan Dunia Perbukuan” bersama Tokoh & Praktisi Perbukuan Masisir.



Acara ini terselenggara atas kerjasama antara PERWAKILAN SEKOLAH KEHIDUPAN MESIR dengan WORD SMART CENTER CAIRO



Blog Entry[Kiat Menulis] BERCOCOK IDEJul 13, '08 2:14 PM
for everyone

Oleh: Udo Yamin Majdi

 
Ide itu ibarat benih. Sedangkan otak kita bagaikan tanah. Di ladang otaklah, selama ini kita “bercocok ide”. Sama halnya dengan bercocok tanam, “bercocok ide” juga punya tahap-tahapan agar dari satu benih ide, tumbuh menjadi tujuh tangkai gagasan dan dari satu tangkai gagasan memiliki seratus butir pemikiran atau wacana. Lantas, apa saja tahapan —agar dari satu butir gagasan menjadi tujuh ratus wacana— itu?

Pertama, tahap mengolah “ladang otak”.

Para petani, sebelum bercocok tanam, biasanya mereka mengolah tanah. Kalau di sawah, kita kenal dengan mencangkul. Ini sebagai langkah awal, agar benih padi yang akan mereka tanam nanti, tumbuh dengan mudah.

Begitu pula halnya dengan bercocok ide. Sebelum kita menaburkan benih ide, sebaiknya kita mengolah ladang otak kita. Ladang otak yang kita maksud adalah cara kita menyerap informasi dan cara kita mengatur informasi tersebut. Atau —kita meminjam istilah Bobbi De Porter dan Mike Hernacki— modalitas dan dominasi otak. Dan kombinasi dari keduanya, kita sebut dengan gaya belajar.

Dalam buku Quantum Learning, beliau berdua menjelaskan bahwa modalitas kita terbagi menjadi tiga: 1) visual, yaitu belajar dengan cara melihat; 2) audio, yaitu belajar dengan cara mendengar; dan 3) kinestetik, yaitu belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.

Selanjutnya, beliau berdua mengutip pendapat Anthony Gregore —profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticut— bahwa dominasi otak atau gaya berpikir kita terbagi menjadi empat: 1) sekuensial konkret; 2) sekuensial abstrak; 3) acak konkret; dan 4) acak abstak.

Dengan memahami gaya belajar —modalitas dan dominasi otak— kita, maka kita akan lebih mudah menanam gagasan dalam otak kita, alias mudah mencerna informasi, sehingga menjadi sebuah gagasan. Selama ini, tidak sedikit yang stres dalam mencari ide, karena mereka tidak memahami gaya belajar mereka. Dapat kita bayangkan, apa yang terjadi ketika kita yang bermodalitas audio, tapi mencari ide dengan cara membaca buku?

Oleh sebab itu, langkah awal untuk menangguk ide adalah kita harus memahami gaya belajar kita. Kalau gaya belajar kita lebih dominan visual, maka cara mendapatkan ide adalah banyak membaca, memperhatikan orang atau lingkungan di sekitar kita, atau kegiatan apapun yang membutuhkan penglihatan kita. Jika gaya belajar kita audio, langkah yang terbaik mencari ide adalah dengan cara wawancara, diskusi, atau kegiatan yang berhubungan dengan pendengaran. Dan manakala ternyata gaya belajar kita kinestetik, maka cara yang tepat menemukan ide adalah melakukan trial and error, investigasi, dan kegiatan yang membutuhkan pengalaman.

Afwan, obrolan kita tentang kiat menulis, kita pending sampai di sini, adapun lima tahapan lagi: 2) tahap menabur “benih ide”; 3) tahap “memupuk dan mengobati gagasan”; 4) tahap “merawat wacana”, dan 5) tahap “menuai karya”, insya Allah, akan kita bahas tuntas pada Sekolah Menulis SMART. Makanya, cepat buruan daftar, mumpung masih ada 9 kursi kosong untuk peserta! (Yang sudah mendaftar sebanyak 51 orang)


============ ========= ========= ========= ========= ========= =======

 

"SEKOLAH MENULIS SMART (Sistim Menulis Asik, Reguler, dan Terpadu)"

  • ASIK. Tempat belajar in door dan out door gabungan dari metode Quantum Learning dan strategi pembelajaran Partisipatori;
  • REGULER. Masa belajar 2 bulan, belajar seminggu sekali (8 pertemuan: 4 Agustus s/d 28 September 2008);
  • TERPADU. Kurikulum perpaduan dari: motivasi kepenulisan (Writing Motivation), pengetahuan kepenulisan (Writing Knowlage) baik fiksi maupun non-fiksi, dan keterampilan kepenulisan (Writing Skill). Materi mencakup fiksi dan non-Fiksi. Lebih banyak praktek, bahkan selesai pembelajaran langsung menggarap proyek buku untuk diterbitkan di Indonesia.

 

SIAPA MENTORNYA?

  1. Mentor Utama, Udo Yamin Majdi, Direktur Community of Self-Research and Development 2005-sekarang, Ketua Umum Perwakilan Sekolah Kehidupan Mesir 2007-sekarang, Direktur Utama Word Smart Center Cairo, meraih Trobosan Award sebagai penulis dan pegiat sastra terbaik, juara dalam beberapa lomba menulis, diantaranya: Juara 1 Lomba Karya Tulis Populer KBRI, Juara 1 Jaizah Prof Dr. Bachtiar Aly, MA., Juara 1 Lomba buletin Manggala KPMJB, dan penulis beberapa buku, diantaranya: Bara Musa di Taman Terpasung, Kidung Cinta di Taman Surga, Seperti akan datang Kematian, Persembahan Cinta, Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran, dan yang lainnya.
  2. Mentor Asisten 1, Rashid Satari, Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) Republik Arab Mesir 2006-sekarang, Ketua Komisi Pengawas Lembaga Dana Abadi Umat (LDAU) Perwakilan Persatuan Islam Mesir, 2008-2009, perwakilan imprint Hikmah penerbit Mizan, dan penulis freelance di beberapa media massa, diantaranya Harian Umum Republika.
  3. Mentor Asisten 2, Teguh Hudaya, Mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir, Sekretaris Eska Mesir 2007-sekarang, dan cerpenis Masisir.
  4. Mentor Tamu, para penulis, pengarang, jurnalis, wartawan, penerjemah, dan praktisi perbukuan, baik dari Masisir maupun dari Indonesia.

 

DAPAT FASILITAS APA?

1.      Sertifikat

2.      Modul dan buku panduan:

  • MENJADI PENULIS PROFESIONAL: Tiga Modal Dasar dan Sepuluh Kiat Menjadi Penulis Sukses;
  • THE BEST STORY: Fiqh Menulis Sastra Islami;
  • JOURNALIST or FREELANCE WRITER: Teknik Menulis Berita, Feature, Opini, Kolom, Esai, dan Tulisan Ilmiah Populer;
  • MEMBUAT KARYA TULIS ILMIAH ITU GAMPANG!: Panduan Penulisan Makalah dan Artikel Ilmiah;
  • AKU MENULIS, AKU ABADI: Kiat Sukses Menulis dan Menerbitkan Buku
  • SMART BLOGGER: Kiat-kiat Menulis di Website & Blog

 

APA SAJA SYARATNYA?

          1.      Mengisi formulir;

          2.      Pas Foto ukuran 2x3 sebanyak 3 lembar;

          3.      Biaya registrasi 40 Pound/orang;

          4.      Peserta terbatas maksimal 60 orang (tiga kelas)

 

DI MANA DAN KAPAN PENDAFTARANNYA?


  1. Lewat Telp/Hp 24484236/0100380728 (Ami Rahmawati) 2244837 (Agus Solahudin) bisa telpon langsung, atau kirim SMS dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
  2. Lewat e-mail eska_mesir@yahoo. com/wordsmartcen ter@yahoo. com dengan memberikan data: Nama Lengkap, no Hp/telp, e-mail, dan asal daerah/kekeluargaan .
  3. Lewat Restoran SEHATI        : Mahattoh Mutsallats Nasr City Cairo

 

Waktu pendaftan : 1 s/d 31 Juli 2008

Registrasi ulang  : 2 Agustus 2008 di Pasangrahan KPMJB bersamaan dengan acara “TALK SHOW KEPENULISAN: Mencerdaskan Indonesia Lewat Budaya Literasi dan Dunia Perbukuan” bersama Tokoh & Praktisi Perbukuan Masisir.



Acara ini terselenggara atas kerjasama antara PERWAKILAN SEKOLAH KEHIDUPAN MESIR dengan WORD SMART CENTER CAIRO

 


Blog EntryBAGAIMANA MELUAPKAN MAKNA DALAM TULISAN?May 13, '08 5:44 PM
for everyone

Oleh: Udo Yamin Majdi

 

"Anakku," sapa Robin kepada seorang anak muda, "ceritakanlah masalahmu, dan jangan ragu-ragu. Aliran kata-kata akan meringankan hati yang berduka. Ini seperti saat dibukanya saluran pembuangan air di bendungan luber. Datanglah di sampingku. Dan bicaralah dengan nyaman kepadaku!"

Paragraf yang dikutip oleh kang Hernowo dari buku The Merri Adventures of Robin Hood karya Howard Pyle tersebut, membantu saya untuk mendefisikan apa itu menulis. Menurut saya, menulis adalah meluapkan makna atau perasaan dan pikiran dalam bentuk kata-kata melalui alat tulis. Kata "meluapkan makna" ini jadi kunci bagi kita untuk memahami proses menulis. Lebih jelasnya, sebagaimana dikatakan oleh Robin di atas, bahwa menulis itu seperti bendungan yang salurannya terbuka. Semakin banyak air dalam bendungan itu semakin deras air memancar. Sebaliknya, apabila sedikit airnya, maka akan sedikit juga yang mengalir.

Begitu halnya dengan dunia tulis-menulis. Semakin banyak makna dalam diri kita, maka akan semakin mudah kita menulis. Akan tetapi, manakala makna itu minim, maka kita akan sulit menulis, karena kering akan ide.

Lantas, apa itu makna? "Makna adalah," ujar Sayid Muhammad Naguib Al-Attas, "pengenalan tempat-tempat segala sesuatu di dalam sistem. Pengenalan seperti itu terjadi jika relasi sesuatu dengan yang lain dalam sistem tersebut menjadi terjelaskan dan terpahamkan. Relasi tersebut harus menguraikan suatu keteraturan tertentu."

Sederhananya begini, ketika kita menemukan atau membaca tujuh huruf, misalnya, huruf N, T, I, A, S, U, dan L. Kira-kira makna apa yang dapat kita tangkap dari tujuh huruf ini? Ada banyak kombinasi. Di antaranya adalah kombinasi "Sunalti". Adakah makna yang kita pahami? Kombinasi yang lain, misalnya, "Tilansun". Adakah makna bagi kita? Demikian seterusnya hingga kita memperoleh kombinasi yang sudah akrab dan memberikan makna, misalnya, kata “Tulisan”. Inilah contoh ringan, tentang makna.

Apa sih yang terjadi?

Jadi, kalau begitu, menulis itu mudah dong, kan cuma meluapkan makna dalam diri kita? Teorinya memang demikian, namun dalam realitas tidak semudah itu lho! Buktinya, dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh para peserta pelatihan menulis kepada saya, yang paling sering adalah pertanyaan seputar kesulitan untuk menuangkan ide.

Cuma cara mereka mengungkapkannya saja yang berbeda-beda. Ada yang bilang: “Napa ya, sebelum menulis, ide itu udah ada dalam otak saya, namun ketika udah megang pulpen atau di depan komputer kong hilang?” Ada lagi yang berkata: “Aneh, gagasan itu udah berkecamuk di kepala saya, akan tetapi kok bingung mau menulis dari mana?’ Ada juga yang bercerita: “Saya sih udah ngerti apa yang saya baca, hanya saja saat menuangkan dalam tulisan, kok sulit banget?”

Mengapa hal itu terjadi?

Hal itu tidak terjadi kepada mereka saja, tapi juga kepada saya. Atau bisa jadi, kepada Anda juga? Terlepas, apakah itu terjadi kepada mereka, saya, atau Anda, yang jelas sebelum kita mencari solusinya, mari kita jawab dulu pertanyaan ini: mengapa hal itu terjadi?

Wallâhu a’lâm. Saya tidak tahu pasti jawabannya. Saat ini, saya ingin mencoba merumuskan apa yang saya alami dan analisa saya terhadap pengalaman orang lain. Menurut saya, kesulitan kita menuangkan makna, karena tujuh sebab berikut ini:

  1. Salah Paradigma. Ada yang menganggap menulis hanya untuk orang yang telah diakui sebagai "penulis" saja. Atau menyangka menulis itu sangat sulit; hal yang luar biasa; dan tidak bisa dilakukan oleh siapa saja. Atau memandang menulis adalah aktivitas orang yang kurang kerjaan; orang punya banyak luang waktu; dan orang yang hebat. Dan seterusnya;
  2. Kurang membaca. Tidak dapat kita pungkiri, tanpa diawali dengan membaca, maka kita akan kesulitan dalam menulis. Karena membaca adalah sarana agar makna meluap dalam diri kita. Kurang membaca, selain informasi kita kurang, kita juga akan sulit mencerna isi buku, sehingga bacaan kita tidak efektif.
  3. Sedikit pengalaman. Sebenarnya sumber tulisan tidak hanya lewat membaca —aktivitas mata (al-abshâr) kita dalam menyerap segala sesuatu di luar diri kita, diantaranya buku— saja, tapi juga hasil aktivitas telinga (as-sam’a) kita dalam mendengar dan hati serta pikiran (fuâd) dalam menganalisa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari;
  4. Tidak biasa berpikir ilmiah dan berimajinasi. Berpikir ilmiah menggabungkan berpikir deduktif (mengambil kesimpulan dimulai dari pernyataan umum menuju pernyataan-pernyataan khusus dengan menggunakan penalaran atau rasio) dengan induktif (sebaliknya, mengambil kesimpulan dimulai dari pernyataan khusus menuju pernyataan-pernyataan umum dengan menggunakan penalaran atau rasio) atau otak kiri. Sedangkan berimajinasi tidak menggunakan berpikir rasional, tapi menggunakan daya khayal, atau otak kanan.
  5. Tidak percaya diri. Betapa banyak orang yang sebenarnya berbakat menjadi seorang penulis, tapi tidak mereka lakukan karena kurang percaya diri. Sama halnya dengan orang yang memiliki ide atau gagasan brilian, namun tidak pernah menjelma dalam tulisan, akibat dari kurang percaya diri.
  6. Rasa malas atau bad mood. Inilah penyakit yang membuat kita sulit menuangkan ide. Sebagus apapun ide kita, kalau kita dililit rasa malas atau bad mood, maka besar kemungkinan kita hanya bisa berpikir tentang menulis, tanpa pernah melakukan aktivitas menulis.  
  7. Jarang latihan menulis. Latihan menulis, seperti kita latihan olah-raga. Semakin sering kita olah raga, maka akan semakin lentur otot tubuh kita. Sama halnya dalam menulis, kita butuh latihan agar “otot emosi” kita lebih lentur dan terbiasa menuangkan ide.

Jadi, gimana solusinya dong?
 

Sekarang pertanyaannya adalah: Gimana solusinya? Sebenarnya solusinya gampang, yaitu menulis, menulis, dan terus menulis. Namun, jawaban itu, terkesan terlalu menyederhanakan persoalan. Maka mari kita cari solusinya berdasarkan tujuh penyebab kesulitan meluapkan makna di atas. Baik kita bicarakan satu persatu:

  1. Ubahlah paradigma! Ya, ubahlah paradigma kita! Menulis itu mudah. Menulis itu gampang. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Menulis bukan kurang kerjaan. Menulis bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja. Dan seterusnya.
  2. Banyaklah membaca! Pilihlah buku atau bahan bacaan yang benar-benar bergizi. Buku itu sangat banyak. Sedangkan waktu dan dana yang kita miliki, sangat terbatas. Maka, dalam membaca, kita harus memilih buku sesuai dengan spesialisasi yang akan kita geluti atau sesuai dengan hobi kita. Kita butuh skala prioritas. Dari sekian banyak buku dalam bidang yang kita geluti, kita harus mendahulukan buku yang bergizi; menggerakkan dan mencerahkan. Salah satu cara menentukan buku bergizi adalah carilah buku yang ditulis oleh pakarnya. Dan sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Qur'an dan Hadis Nabi.
  3. Cari pengalaman hidup sebanyak-banyaknya! Catat hal-hal yang menarik atau yang penting selama Anda bergaul. Sa'ad bin Jubair (wafat 714 M) bercerita, "Dalam kuliah-kuliah Ibnu Abbas, aku biasa mencatat pada lembaran; bila telah penuh, aku menuliskannya di kulit sepatuku, dan kemudian di tanganku"; dan "ayahku sering berpesan kepadaku, "Hapalkanlah, tapi paling penting adalah catatlah! Bila sampai di rumah maka tuliskanlah! Jika kau memerlukan atau tidak ingat lagi, maka bukumu akan membantumu!" Itulah tradisi ulama Islam zaman dulu. Hingga, pengalaman mereka mendengar dan hasil catatan mereka, menjadi rujukan umat Islam dari masa ke masa.
  4. Biasakan berpikir ilmiah dan berimajinasi! Belajarlah melatih otak untuk melakukan proses metode ilmiah berikut ini: (a) merumuskan masalah; (b) mengajukan hipotesa; (c) verikasi data; (d) menarik kesimpulan. Belajarlah melatih otak dengan metode kreatif berikut ini: (a) mengkhayal sesuatu; (b) merubah —mengurang, menambah, atau menyempurnakan— apa yang ada; dan berani mencoba.
  5. Percayalah pada diri sendiri! Kalau bukan kita yang percaya terhadap karya kita, lalu siapa lagi yang akan menghargainya? Maka, seburuk apapun tulisan kita, percayalah itu adalah yang terbaik dibandingkan dengan hanya berkata: “Ah, kalo tulisan kayak gini, saya juga bisa!”
  6. Disiplin menulis! Tanpa disiplin; teratur dalam menulis, maka kita akan kesulitan menuangkan ide. Yang dibutuhkan adalah kontinunitas (dawam)(istiqamah). Menulis satu paragraf tiap hari jauh lebih baik dari seratus halaman sebulan. Menulis satu jam dalam sehari, jauh lebih baik dari menulis 24 jam atau seharian tapi hanya sekali dalam sebulan.
  7. Seringlah latihan! menulis itu adalah habit. Betapa terkejut saya, saat saya silaturahmi dengan penulis muslim produktif, H. Adian Husaini, MA. —Ketua DDII Pusat Peneliti INSISTS— pada hari Sabtu, 25 Februari 2006, di Griya KSW Cairo, saya bertanya, “Pak, bagaimana proses bapak menjadi seorang penulis produktif?’’ Beliau menjawab,’’menulis itu habit!" Subhânallâh, teryata ungkapan beliau sama dengan kesimpulan saya selama bertahun-tahun; bahwa menulis adalah habit atau kebisaaan.

'Ala kulli hal, apa yang telah saya kemukakan tadi, hanya sebatas lontaran ide dan dalam rangka berbagi pengalaman. Saya sangat yakin, setiap orang memiliki latar belakang berbeda-beda ketika mengalami kesulitan menuangkan makna, seperti perbedaan sidik jari kita. Secara otomatis, solusinya juga akan berbeda-beda. Semakin jelas kita merumuskan masalah kita, maka akan semakin mudah mencari solusi.

Ditambah lagi, apa yang saya paparkan masih bersifat umum, belum secara mendetail membicara persoalan kesulitan menulis. Ada yang sulit membuat judul, ada yang sulit membuat paragraf pertama, ada yang sulit menentukan tema, ada yang sulit mensinkronkan antar kata, antar kalimat, dan antar paragraf dalam tulisan, ada yang sulit memilih diksi yang baik, ada yang sulit menemukan gaya menulis, ada yang sulit mengakhiri tulisan, dan seterusnya.

Semoga tulisan sederhana ini, dapat menggerakkan pikiran Anda dan menggugah hati Anda untuk bersama-sama saling berbagi ilmu. Akhirnya, saran, masukan, dan kritikan membangun dari Anda, selalu saya nantikan. Wallâhu a'lâm.  



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help