Udo Yamin's posts with tag: kritik sastra
Berikut ini terjemahan dari sebagian artikel yang berjudul "How to Critique Fiction" karya Victory Crayne, diambil dari http://www.critters.org/resources </mail/sqwebmail?redirect=http%3A%2F%2Fwww.critters.org%2Fresources>.
Ceklis hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengkritik fiksi: 1. Kalimat Pembuka - Apakah beberapa kalimat atau paragraf pertama merebut perhatian Anda?
- Apakah kalimat atau paragraf pertama itu menampilkan persoalan utama sang protagonis?
- Apakah pengarang ini menarik perhatian Anda dengan cepat?
2. Konflik - Yang dimaksud dengan konflik adalah : "pertarungan mental atau moral yang disebabkan oleh kehendak dan tujuan yang tidak selaras. Konflik semacam inilah yang menghidupkan cerita." -- Ben Bova dalam The Craft of Writing Science Fiction That Sells.
- Adakah konflik emosional di dalam diri tokoh utama? Atau di antara tokoh-tokoh utama? Konflik emosional merupakan bagian yang membuat pembaca menjadi tertarik. Sebagai contoh: cinta vs kesetiaan; kerakusan vs kewajiban; ketakutan vs keinginan; balas dendam vs keraguan diri.
- Apakah konfliknya terlalu banyak atau terlalu sedikit? "Tugas penulis adalah menjadi seorang pembuat masalah! Bangkitkan konflik dan masalah untuk tokoh protagonis Anda sebanyak mungkin. Biarkan satu masalah tumbuh dari masalah lain. Dan jangan pecahkan permasalahan itu hingga Anda setidaknya telah membangkitkan dua masalah lainnya. Berbagai masalah tak terpecahkan inilah yang membentuk rantai ketertarikan pembaca." -- Ben Bova. Pada bagian akhir, tentu saja, seluruh konflik harus diselesaikan.
- Apakah ada konflik antara tokoh-tokoh? Apakah konflik itu terungkap melalui aksi, dialog, sikap, atau nilai-nilai antara tokoh-tokoh? Apakah tokoh-tokoh itu cukup kontras? Atau apakah mereka tampak sudah puas dengan peran mereka? Apakah mereka berpotensi untuk saling mengubah satu sama lain?
3. Plot - Apakah plot utama tampil dengan jelas dan dapat dipercaya?
- Apakah tokoh utama mempunyai masalah yang jelas untuk dipecahkan?
- Apakah Anda merasa pada akhirnya masalah ini terpecahkan atau tokoh itu bertekad untuk membiarkan masalah itu bagian dari hidupnya?
- Apakah Anda bisa menentukan waktu dan tempat cerita tersebut dengan cepat?
- Apakah cerita itu berawal di tempat yang tepat? Apakah cerita itu berakhir pada tempat yang tepat di dalam plotnya?
- Apakah ada adegan yang tampaknya mengulur-ulur plot?
- Apakah terlalu banyak kilas balik yang memecah perhatian Anda?
- Dalam kasus cerpen, apakah terlalu banyak sub-plot? Untuk kasus novel, dapatkah karya itu diperbaiki dengan memberi perhatian lebih kepada sub-plot atau dengan menambah sub-plot? Sebaliknya, apakah novel itu terlalu banyak sub-plot dan membuat Anda bingung tentang apa yang terjadi?
- Apakah setiap sub-plot itu bermanfaat, menambahkan sesuatu pada cerita keseluruhan atau hanya makin merumitkan?
Soal Kecepatan - Apakah plot/sub-plot berjalan cukup cepat untuk menjaga perhatian pembaca?
Penyelesaian Masalah - Apakah konflik dan ketegangan di dalam plot dan sub-plot tiba pada akhir yang masuk akal?
- Atau apakah pengarang membiarkan kita menggantung, penasaran tentang apa yang terjadi?
- Usai membacanya, apakah Anda merasa ada sesuatu yang masih perlu dijelaskan?
- Jika pengarang memang membiarkan beberapa konflik tidak terpecahkan, apakah pengarang memberi indikasi tentang cerita sambungannya?
4. Setting - Apakah terdapat deskripsi yang memadai tentang latar belakang cerita untuk melukiskan gambaran yang tampak cukup nyata bagi pembaca?
- Apakah Anda merasa dibawa ke dalam "waktu atau tempat itu"?
- Apakah deskripsinya berlebihan sehingga membosankan pembaca? Apakah deskripsi ditulis dalam bahasa klise?
- Apakah pengarang menggunakan nama yang baik untuk orang, tempat dan benda-benda?
- Apakah pengarang membuat Anda yakin bahwa orang pada waktu dan tempat itu berperilaku seperti yang dijelaskannya?
5. Penokohan - Apakah orang-orangnya terasa nyata? Atau apakah tokoh utama penuh stereotip dan satu-dimensi?
- Apakah fakta-fakta tentang tokoh itu akurat dan konsisten?
- Orang tidak berada di ruang vakum. Mereka punya keluarga, teman, pekerjaan, kekhawatiran, ambisi. Adakah hal-hal ini terdapat di dalam tokoh utama?
- Apakah Anda mendapatkan gambaran yang baik tentang budaya, periode sejarah, lokasi, dan pekerjaan tokoh utama?
- Apakah Anda dapat merasakan paradoks di dalam tokoh itu? Ada emosi, sikap dan nilai-nilai?
- Apakah Anda terganggu oleh informasi latar yang berlebihan tentang satu tokoh?
- Apakah pengarang memberi terlalu banyak informasi latar tentang satu tokoh dalam satu atau dua paragraf panjang, atau apakah kita mengenal tokoh itu sedikit demi sedikit dari sana sini?
- Apakah protagonis mengalami perubahan di dalam cerita?
- Bisakah cerita itu diperbaiki dengan menambahkan lebih banyak detail tentang reputasi sang protagonis atau karakter lain: kepercayaan yang stereotip; jaringan relasi dengan orang lain; kebiasaan dan pola; bakat dan kemampuan; selera dan kesukaan; atau deskripsi fisik mereka?
- Apakah setiap bab/halaman memuat deskripsi indrawi yang memadai? Apakah pembaca dapat dengan mudah merasakan apa yang terjadi secara fisik pada tokoh utama?
- Jika cerita itu menggunakan seseorang sebagai antagonis, apakah tokoh ini juga terasa nyata? Atau, apakah dia tampak terlalu jahat atau satu-sisi sehingga ia tampak seperti seorang penjahat-ideal? Apakah mereka punya sifat-sifat yang baik juga? Apakah si penjahat ini merasa menjadi pahlawan dalam pikiran mereka sendiri?
6. Dialog - Apakah ucapan yang keluar dari mulut orang-orang di dalam cerita itu tampak konsisten dengan kepribadian mereka?
- Apakah dialognya terlalu banyak atau kurang mencukupi?
- Apakah ada tokoh yang cenderung berbicara sendirian (monolog) berkepanjangan?
- Apakah Anda bisa merasakan konflik, sikap, dan niat setiap tokoh dalam dialog mereka tanpa pengarang menyatakan hal-hal ini secara langsung?
- Apakah dialognya terasa mudah diucapkan? Bisakah Anda "mendengarkannya"? Jika terasa tidak alamiah, Anda bisa mengusulkan pengarangnya untuk membaca dialog itu keras-keras.
- Apakah dialognya terkesan terlalu menyerupai perbincangan normal, dengan terlalu banyak kalimat yang tidak lengkap, jeda, diulang-ulang, klise, dll, yang mengganggu pembacaan?
- Apakah pengarang menggunakan dialek yang terlalu kental sehingga membuatnya sulit dibaca?
- Apakah setiap tokoh mempunyai ritme bicara sendiri, aksen (jika perlu), kosakata, dan bahkan panjang kalimat yang khas?
- Dalam percakapan, apakah Anda bisa dengan mudah mengetahui siapa yang berbicara jika nama atau gender mereka tidak dilekatkan pada kalimat?
7. Sudut Pandang/Point of View (POV) - Apakah suatu bagian atau bab ditulis dari sudut pandang seseorang? Apakah terlalu banyak sudut pandang dalam cerita itu?
- Apakah cerita itu melompat antara sudut pandang orang pertama atau sudut pandang orang ketiga? Apakah perubahan sudut pandang itu cukup jelas? Tidak ada salahnya mengubah sudut pandang asalkan tidak terlalu sering.
- Jika cerita itu ditulis dalam sudut pandang orang ketiga, sebagaimana kebanyakan cerita, apakah sudut pandang itu mengambil mode serba tahu, terbatas (kita tidak mengetahui motiv seseorang kecuali melalui perkataan atau tindakannya), atau apakah pengarang menggabungkan keduanya? Apakah pilihan pengarang itu tepat menurut Anda?
- Ketika sudut pandang berubah, apakah Anda dengan cepat bisa merasakan dari siapa sudut pandang baru itu?
| |