Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: my vira

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag my vira
VideoFirst day Vira II (Fathin Vira Rahima)Apr 26, '08 12:58 PM
for everyone
Setelah merasakan kebahagiaan sebagai orangtua dari seorang bayi laki-laki, 1 thn 3 bln berikutnya hadir bidadari kecil itu....Welcome to the world my daughter...
Bahagia di atas bahagia...


IMAG0014.AVI (4.0 MB)

VideoSaat Vira I Lahir (Abdurrahman Vira Al-Fatih)Apr 26, '08 12:36 AM
for everyone
Mengenang saat-saat ajaib merasakan jadi orang tua, welcome to the world my son...
17 maret 2006,hari jumat jam 6.06 AM


Saat Fatih Lahir.mpg (7.5 MB)

Blog EntryKETIKA VIRA BICARANov 10, '07 5:53 AM
for everyone

KETIKA VIRA BICARA
 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ammu/'ammah, Om/Tante, Paman/Bibi, Vira mau kenalan, boleh khan?

Apa sih arti "VIRA"? Kata buyaku, Vira artinya "Pahlawan". Maka dalam sehari-hari, buya dan bundaku memanggilku selain "Al-Fatih", aku sering dipanggil "Pahlawan". Kadang pula dipanggil Vira Satu, alias Pahlawan Pertama. Aku sempat bertanya, "Mengapa aku dipanggil pahlawan?"  

"Sebab", kata buyaku lagi, "kegelisahan yang buya rasakan, sama persis dengan apa yang Anis Matta tuangkan dalam buku "Mencari Pahlawan Indonesia", yaitu tatkala bangsa Indonesia --mayoritas muslim-- ditimpa multi-krisis, saat itu pula para perempuan kebanyakan "mandul" melahirkan pahlawan. Buyaku tak mau bundaku termasuk perempuan mandul itu. Sebelum memutuskan ingin punya anak, buyaku bertanya kepada bundaku, "Nda, siap enggak jadi bunda pahlawan?" Dengan optimis bundaku mengatakan kesiapannya. 

Sejak itu, dengan Basmalah, buya dan bundaku belajar bagaimana mendidik anaknya menjadi pahlawan. Kata buyaku, betapa banyaknya orang tua yang ingin punya anak sholeh, cerdas, kreatif, mandiri, dan jadi pahlawan, tapi mereka tidak mendidik anak mereka agar keinginan itu tercapai. Malahan pendidikan diserahkan kepada orang lain. Jadi mereka hanya punya keinginan, tapi "how to"nya terkadang bingung dan meraba-raba. Untuk jadi guru TK saja harus ada test dan butuh ilmu pendidikan, apalagi untuk jadi orang tua sebagai "guru" seumur hidup bagi anak-anak mereka? Makanya, kata buya, selama aku dalam kandungan, buya dan bundaku mendidik dan meng-test diri mereka sendiri, apakah layak atau tidak jadi orang tua. Caranya? 

Setiap hari buya dan bundaku baca Al-Quran dan hadis, yang berhubungan dengan anak. Dan buku-buku pendidikan anak, misalnya "Tarbiyatul Awlad" karya Dr. Abdullah Nashih 'Ulwan. Tidak hanya itu, buya dan bundaku juga, mengkaji literatur-literatur barat, misalnya karya Thomas Armstrong, Merian Edelman Borden, Laurel, Goleman, dan yang lainnya. Mereka banyak menjelaskan konsep multiple intellegence yang dirumuskan oleh Howard Gadner.

Setelah baca, buya dan bundaku diskusikan. Lalu mereka praktekan. Terkadang, ketika aku dalam kandungan, kata bundaku, buyaku pura-pura jadi "bayi" dan bundaku mempraktekan bagaimana cara mendidik "bayi". Atau, sebaliknya. Contohnya, bagaimana cara menyuapi bayi makan, cara bercerita dengan baik, cara mengajar anak membaca, menulis, mendengar, berbicara, berhitung, dst. Ih lucu juga tuh buya dan bundaku, kok pakai simulasi segala? Kata buya, al-hamdulillah, dengan simulasi itu, ketika aku lahir, buya dan bundaku tidak terlalu canggung. Sebab, sebelumnya, buya dan bundaku telah merasakan kehadiranku.

Akhirnya, hasil kajian dan diskusi panjang itu, buya dan bundaku rumuskan dalam sebuah konsep pendidikan keluarga: "Pendidikan Berbasis Kasih Sayang". Atau, sering buya dan bunda sebut "Tujuh Prinsip Mendidik Anak Menjadi Pahlawan". Tujuh prinsip ini, terinspirasi dari makna surat Al-Fatihah. Yah, tujuh prinsip itu sekaligus jadi komitmen buya dan bundaku. Bunyinya begini:

1.          Kami Mendidik Anak Kami dengan Kasih Sayang.

2.          Kami Menghargai Setiap Tindakan dan Memuji Setiap Prestasi Anak Kami.

3.          Kami Memberikan Sesuatu yang Terbaik untuk Anak Kami.

4.          Kami Membantu Anak Kami Merumuskan Impiannya.

5.        Kami Membimbing Anak Kami Menemukan Potensi Diri dan Peluang Hidupnya.

6.     Kami Menunjukkan dan Mendukung Sepenuh Hati Cara Meraih Impian Anak Kami.

7.     Kami Menjadi Contoh Pertama Orang Sukses dan Menceritakan tentang Kisah Orang Sukses dan Orang Gagal kepada Anak Kami

Nah, karena buya dan bundaku berniat mendidikku menjadi pahlawan, maka beliau berdua memberiku nama Vira. Kata Vira, selain berasal dari bahasa India (Sanskerta), juga sudah menjadi kata serapan dalam "bahasa ibu" bundaku: bahasa Sunda, yaitu kata "Vera" atau "fera" artinya pahlawan perempuan. Sedangkan "Wira" artinya pahlawan laki-laki. Wah, kalo gitu namaku, nama cewek dong?  

"O tidak!" kata buyaku. Kata Vira tidak hanya untuk perempuan. Sebab, dalam buku "Seratus Tokoh Yang Paling Berpengatuh Dalam Sejarah" karya Michael H. Hart, Vira dipakai untuk laki-laki, yaitu Mahavira (Pahlawan Besar) --sebutan kaum Jain untuk Vardhamana. Lagian, kata buyaku, kata Vira bukan hanya untuk namaku saja, tapi untuk semua adik-adikku nanti, termasuk adik perempuanku. 

Untuk nama, buyaku punya rumus sendiri. Setiap nama anak buya dan bundaku memiliki tiga kata. Semuanya memakai kata yang terambil dari kata mengandung makna "rahmat", untuk laki-laki pada awal nama memakai kata "Abdurrahman", sedangkan untuk perempuan pada akhir nama memakai kata "Rahima". Sebab, selain termotivasi dengan sabda nabi "Sebaik-baiknya nama adalah Abdullah dan Abdurrahman", buya dan bundaku memiliki motto keluarga "Kullunâ Ibâdurrahmân" (Kami semua adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) yang sifat-sifatnya tercantum dalam Al-Quran surat Al-Furqan ayat 63 sampai 77. Agar kami punya pijakan dalam mencari jati diri sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al-Furqan itu. Dengan kata lain, buya ingin kami melanjutkan peran nabi Muhammad Saw. sebagai rahmatan lil 'alamin. 

Dengan demikian, perbedaan namaku dengan nama saudara-saudariku nanti, bila laki-laki pada akhir namanya, sedangkan jika perempuan pada awal namanya. Dan suku katanya, buyaku ambil dari kata-kata yang berawalan dengan huruf "F" dari bahasa Arab dalam bentuk Isim Fa'il (agar kami menjadi subjek; pelaku; aktor, bukan jadi objek perubahan), contohnya, Al-Fatih untuk laki-laki, dan Fathin untuk perempuan. Untuk lebih jelasnya, ini beberapa nama yang buya dan bundaku rencanakan sebelum aku lahir: 

Laki-laki

1.    Abdurrahman Vira Al-Fatih

2.    Abdurrahman Vira Al-Farid

3.    Abdurrahman Vira Al-Faiq

4.    Abdurrahman Vira Al-Fadhil

 
Perempuan

1.    Fathin Vira Rahima

2.    Faizah Vira Rahima

3.    Fairuz Vira Rahima

Trus, napa buyaku memberi namaku Al-Fatih? Gini, ketika merantau ke pulau Jawa, buyaku berazam akan membangun daerahnya. Buyaku sering sedih, di pulau Jawa, betapa banyaknya orang yang sedaerah dengan buyaku menjadi orang berhasil. Ada yang jadi konglomerat, ada jadi rektor, ada yang jadi direktur rumah sakit, ada yang jadi ulama kondang, tapi mereka lupa dengan tanah leluhur mereka. Ini bukan muncul dari sikap 'ashobiyah, tapi untuk mengamalkan firman Allah: "Ku anfusakum ahlikum nara": Jagalah diri dan keluargamu dari neraka! (Qs. At-Tahrim [66]:6). Jangankan pulang dan membangun daerahnya, ingat saja tidak. Alasan mereka, rata-rata, kalo pulang ke daerah, akan sulit maju. Sebab, di daerah, berbagai fasilitas sangat terbatas. Mereka tak mau berjuang dari nol.

Teman buyaku sempat bertanya, "Udo, kok lebih memilih ingin tinggal di kampung yang tak ada apa-apanya, dibandingkan di kota yang udo sudah banyak link?" Jawab buyaku, "Kalau tidak ada orang seperti nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail, akankah kita menikmati keindahan kota Makkah saat ini? Bukankah dulu di lembah Makkah itu tidak ada apa-apanya. Jangankan manusia, binatang pun tidak ada. Namun, dengan kekuatan iman, di tempat yang tidak ada apa-apa itu, akhirnya menjadi pusat ummat Islam seluruh dunia. Yah, saya ingin jadikan Lampung Barat seperti itu. Dalam bidang prinsip dan nilai --keadilan, kebaikan, kebenaran, dll., saya memimpikan daerah saya seperti kota yang dibangun oleh rasulullah Saw., yaitu kota Madinah. Sedangkan dalam bidang fasilitas, saya ingin menjadikan Lampung Barat seperti kota-kota di Amerika dan Jepang, yang maju ITC (Information, Technologi, dan Communication) dan R & D (Research and Develompment). Jadi, kita harus ubah paradigma, jangan berpikir "bagaimana meraih gemerlap kota Makkah", tapi berpikirlah "bagaimana merubah tanah tandus" jadi sebuah kota seperti Makkah!"

Buya dan bundaku, mengharapkan aku melanjutkan perjuangan mereka. Sebagai anak pertama, buya dan bundaku sangat berharap agar aku menjadi "PEMBUKA" (Fatihah) pintu para pahlawan itu. Biar adik-adikku nanti, ikut jejakku dalam melanjutkan master plan buyaku. Maka, aku diberi nama "Al-Fatih". Emang sih, adat orang Sumatera, para orang tua berusaha sekuat tenaga agar anak tertuanya jadi orang, biar nanti bisa bantu adik-adiknya untuk sukses juga.

Iyya, buya merindukan masyarakat Lampung Barat berbondong-bondong kembali kepada ajaran Islam sejati, seperti berbondong-bondong manusia ketika "Futuh Makkah". Buyaku juga menginginkanku seperti Muhammad Al-Fatih, yang gagah perkasa, menakluk Konstantinopel. Dan kata buyaku, Al-Fatih artinya orang yang menang atau sukses secara sempurna, totalitas, dan mutlak. Ini saripati dari Qs. 48:1 dan 110:1.

Intinya, namaku "Abdurrahman Vira Al-Fatih", tak ubah sebuah judul dari naskah hidup yang akan aku jalani nanti. Eh ya, saat ini buyaku menulis biograpiku "Vira di Negeri Anbiya" --isinya perjalanan hidupku sejak pertama bundaku hamil hingga hari ini. Buya tulis, untuk jadi buku bacaanku nanti ketika aku belajar membaca, atau untuk bahan cerita "Dongeng Sebelum Tidur". Jadi, sambil belajar, aku membaca riwayat hidupku sendiri.

Kata buyaku, setiap bayi itu adalah anak panah zaman. Kemana anak panah itu meluncur, itu tergantung dengan kedua orangtuanya sebagai pemegang tali busurnya. Nah, buya dan bundaku sedang membidikkan nasib hidupku ke arah titik "pahlawan" di jalan Allah. Do'ain ya, biar aku mampu memenuhi harapan buya dan bundaku untuk jadi pahlawan demi 'izzul Islam wal muslimin.
 

Eh ya, al-hamdulillah, sekarang aku punya adik. Seperti yang telah buya dan bundaku rencanakan, kalau perempuan namanya Fathin Vira Rahima. Itulah nama adikku. Dan di tengah nama kami, sama-sama memakai "Vira". Buya dan bundaku, manggil adiku panggil Vira Dua, sesuai dengan nomor urut lahirnya. Kalau lahir anak ketujuh, mau dipanggil Vira Tujuh. Ah, buya dan bunda ada-ada aja ya? Do'akan ya, kami jadi Vira, atau pahlawan yang buya-bundaku impikan.

Gitu aja ya Ammu/'ammah, Om/Tante, Paman/Bibi...

 

Salam Hormat Saya

a/n Abdurrahman Vira Al-Fatih

 

Tulisan ini diambil dari Catatan Harian Udo Yamin Efendi Majdi


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help