Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: pengembangan diri...

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pengembangan diri...
Blog EntryTHE 7 PRINCIPLES OF ISLAMIC SELF DEVELOPMENTDec 22, '07 3:53 AM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

Saya sempat kaget, ketika saya menjadi pemandu acara pelatihan yang mengundang Mas Bowo dan Mas Budi dari TRUSTCO. Waktu itu, session tanya-jawab. Dari 500 lebih peserta yang memadati auditorium Sholah Kamil Universitas Al-Azhar Cairo, ada seorang yang berkomentar. Intinya, ia keberatan para trainer membawa-bawa persoalan agama, terutama firman Allah swt dalam pelatihan. Sebab, menurutnya, itu akan menodai kesucian Al-Quran. Saya langsung teringat dengan cerita Ustadz Anis Matta --dalam buku Model Manusia Muslim: Pesona Abad ke-21-- bahwa tidak sedikit yang beranggapan bahwa Islam tidak membicarakan tentang pengembangan diri.

Wallahu a'lam, saya tidak tahu mengapa ada orang yang memiliki paradigma seperti itu. Mungkin itu adalah warisan pola pikir yang dikembangkan oleh penjajah Belanda untuk mendangkalkan aqidah umat Islam, atau mungkin juga itu keberhasilan rezim Soeharto yang meminggirkan Islam dan membuat kaum muslimin merasa malu-malu, bahkan takut mengaku beragama Islam, atau juga itu buah dari sekulerisasi yang digembar-gemborkan oleh Barat dan orang-orang yang silau dengan peradaban Barat.

Terlepas dari mana akar masalah atau asal-usul pikiran yang memisahkan urusan agama dengan kehidupan sehari-hari itu, yang jelas saya memiliki paradigma kebalikannya, yaitu apapun yang kita lakukan dalam seluruh aspek kehidupan harus bermula dan berpijak ad-din (Islam) yang saya yakini. Dan ajaran Islam termaktub dalam Al-Quran dan hadis nabi. Saya tidak tahu, apakah mereka yang berkeyakinan pemisahan urusan agama dengan kehidupan itu telah membaca Al-Quran secara keseluruhan atau tidak. Kalau memang mereka telah membaca Al-Quran khatam, lalu mengapa mereka tidak memahami ayat ini?

"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. An-Nahl: 16:89)

Dengan jelas dalam ayat ini, Allah swt menegaskan: "Tibyanan li kulli syai in" (sebagai penjelas atas segala sesuatu). Segala sesuatu itu mencakup seluruh aspek kehidupan, baik itu urusan pribadi, keluarga, masyarakat, negara, bangsa, maupun urusan idiologi, sosial, politik, ekonomi, keamanan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan seterusnya. Termasuk juga masalah pengembangan diri.

Namun ada yang berceloteh: "kalau memang Al-Quran menjelaskan segala sesuatu, tolong sebutkan ayat tentang cara mengembangkan diri, sebab saya tidak menemukannya?" Ini dia salah satu persoalannya, banyak orang memahami makna "menjelaskan segala sesuatu" dalam bentuk literlijk, tekstual, tersurat dan detail. Maka pernyataan "semuanya sudah ada penjelasannya dalam Al-Quran sama kelirunya tidak semua urusan dijelaskan dalam Al-Quran. Kok bisa begitu? Lha iya, mengatakan bahwa semuanya ada penjelasan dalam Al-Quran, buktinya tidak ada penjelasan secara detail tentang membuat Tempe, Tahu, Kapal Laut, Pesawat, Mobil, dan seterusnya. Sebaliknya, mengatakan tidak semua urusan dijelaskan dalam Al-Quran, tapi bukti semua fenomena, penemuan, dan apapun yang ada di alam semensta, secara "prinsipil" ada dalam Al-Quran.

Yang dimaksud dengan "tibyanan likulli syai in" itu adalah dalam tataran prinsip atau strategis, bukan persoalan taktis dan teknis. Masalah taknis dan teknis ini, Allah swt serahkan kepada kemampuan akal manusia. Allah swt telah menciptakan aqal untuk membaca Al-Quran sebagai perkataan Alllah swt (ayat qawliyah) dan membaca alam semesta sebagai perbuatan-Nya (ayat fi'liyah atau kauniyah). Dengan demikian, tidak mungkin antara perkataan Allah swt dan perbuatan-Nya; antara ayat Qawliyah dengan ayat Fi'liyah; antara Al-Quran dan alam semesta, kontradiksi atau bertentangan. Tapi sebaliknya, saling menjelaskan, apa yang tertulis dalam Al-Quran bisa dibuktikan di alam semesta, dan apa yang kita temukan di alam semesta, ada dalam Al-Quran. Inilah maksud firman Allah berikut ini:

"(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al-Qur'an (ayat Qawliyah). Dia menciptakan manusia. Mengajarnya al-Bayan (ayat Fi'liyah). (QS. Ar-Rahman: 55:1-4)

Jadi, kalau ada yang berkata tunjukkan ayat tentang membuat Tempe, Tahu, Pesawat, Mobil, dan seterusnya, cukup kita bacakan ayat ini: "Bertanyalah kepada orang yang mempunyai ahlinya, jika kamu tidak mengetahui" (QS. An-Nahl [16]:43) Dari ayat ini ada prinsip "BERTANYALAH KEPADA AHLINYA". Nah, jika kita tidak tahu cara buat tempe, bertanyalah kepada ahli tempe. Jangan sampai ingin tahu teknik membuat Tempe, bertanya kepada ustadz yang sehari-harinya ngajar ngaji, atau bertanya kepada Bj. Habibie yang ahli membuat pesawat. Begitu juga kalau mau tahu teknik menulis cerpen dan novel, jangan bertanya kepada seorang yang sehari-harinya mencari ikan di laut, tapi bertanyalah kepada para cerpenis dan novelis. Begitu seterusnya.

Baik, kembali dengan pertanyaan, adakah ayat yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip pengembangan diri? Tentu saja ada. Bahkan banyak sekali, asal kita benar-benar mau menggalinya. Bahkan ada beberapa ayat yang begitu jelas meminta kita untuk mengkaji "diri" kita. Misalnya dua ayat ini:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (keberadaan dan kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS Fushshilat [41]: 53).

“Dan di bumi ini terdapat 'ayat-ayat' (tanda keberadaan Allah) bagi orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz-Dzariyat [51]: 20--21).

Saya tidak akan membahas dua ayat itu, sebab sudah saya jelaskan secara panjang lebar --apa itu makna ayat (simbol), apa itu makna anfus (diri), apa itu makna ufuq (alam semesta)-- dalam buku saya, berjudul: ":QURANIC QUOTIENT: MENGGALI & MELEJITKAN POTENSI DIRI MELALAUI AL-QURAN" (Qultum Media, 2007). Tapi saya akan langsung memaparkan Tujuh Prinsip Pengembangan Diri Islami. Tujuh prinsip ini juga sudah saya tulis dalam bab terakhir dalam buku saya tersebut, baik mengenai penjelasannya, maupun langkah praktisnya agar bisa kita melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Di sini saya hanya memaparkan ringkasannya saja.

Tujuh prinsip itu muncul tatkala saya merenungi makna surat Al-Fatihah. Dalam kitab At-Tafsîr al-Munîr fî al-'Aqîdah wa as-Syarî'ah wa al-Manhaj (Darul Fikri. 1998), Al-Ustadz Dr. Wahbah Az-Zuhaily meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas, “Al-Fatihah adalah inti dari Al-Qur`an. Dan basmalah —bismillâhirrahmânirrahîm— adalah inti dari surah Al-Fatihah!" Tentu saja kesimpulan shahabat Nabi yang mendapat gelar dari Khalid Muhammad Khalid —penulis Rijâlu Haula Rasûl (Darul Muqatham. 1994)— sebagai “Kyai Umat” adalah benar. Apalagi, sejak kecil beliau sering bersama Rasulullah Saw dan beberapa kali beliau menepuk-nepuk punggungnya sambil berdoa, “Ya Allah, berikanlah ilmu agama yang mendalam dan ajarakan kepadanya ta’wil (Al-Qur`an)!”

Dari dua belas nama surah Al-Fatihah —Fâtihah Al-Kitâb, Ummu Al-Kitâb, Ummu Al-Qur`an, Al-Qurân Al-‘Adhîm, As-Sab’u Al-Matsâni, Ash-Shalâh, Ar-Ruqiyah, Al-Asâs, Asy-Syifa’, Al-Kâfiyah, Al-Wâfiyah, dan Al-Hamdu— yang disepakati oleh ulama, ada tiga nama yang menguatkan kesimpulan Ibnu Abbas tersebut, yaitu Fâtihah Al-Kitâb, Ummu Al-Kitâb dan Ummu Al-Qur`an. Iya, Al-Fatihah memang sebagai pembuka dan induk dari Al-Qur`an.

Dengan demikian, jika surah Al-Fatihah inti Al-Qur`an dan Al-Qur`an adalah sebagai prinsip hidup kita, maka sudah barang tentu dalam surah Al-Fatihah ada prinsip hidup, termasuk prinsip-prinsip untuk pengembangan diri. Tinggallah kemauan kita, apakah mau mencari prinsip itu atau tidak? Bukankah dalam ‘ulûmi Al-Qur`an (ilmu-ilmu Al-Qur`an), kita telah mempelajari tentang manthûq (arti tersurat) dan mafhûm (arti tersirat)? Nah, berikut ini ada arti tersirat yang saya fahami dari surat AL-Fatihah yang kita baca minimal 17 kali  dalam sehari.

1. AWALI DENGAN BASMALAH

“Sesungguhnya (hasil) setiap amal perbuatan,” sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “tergantung dengan niat.” Buah yang akan kita petik dari proses pengembangan diri, itu sangat tergantung pada benih yang kita tabur. Dan benih itu bernama niat.

Nah, apakah niat kita, ketika ingin melakukan pengembangan diri? Apakah hanya sebatas ingin meraih pujian dari orangtua, adik-kakak, teman, atau dari yang lainnya? Apakah karena merasa iri dengan prestasi dan apa yang orang lain raih? Apakah sekadar ingin mendapatkan pekerjaan? Apakah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah dan untuk mencari ridha-Nya?

Ayat pertama —Bismillâhirrahmânirrahîm (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang)— dari surah Al-Fatihah ini, mengajarkan kepada kita, apa pun yang kita lakukan harus kita niatkan atas nama Allah; karena-Nya; dan untuk-Nya semata. Semakin ikhlas niat kita maka semakin bermakna aktivitas kita. Sebaliknya, semakin jauh kita dari-Nya maka apa yang kita lakukan akan kehilangan makna. Di sinilah, perbedaan antara pengembangan diri dengan konsep kecerdasan dari Barat dengan Islam. Pengembangan diri Islami berpusat kepada Allah swt (Allah-sentris), sedang konsep pengembangan diri sekuler berpusat kepada manusia (antroposentris).

Lebih jauhnya lagi, dari ayat pertama surat Al-Fatihah itu, memberi kita sebuah paradigma, yang saya sebut "paradigma rahmat", untuk menjelaskan hubungan antara Allah (al-uluhiyah), manusia (al-insaniyah), alam semesta (al-kauniyah) dan kehidupan (al-hayat). Paradigma ini, telah saya posting secara berkala di milis sekolah-kehidupan@yahoo.com dan saya dokumentasikan di multiply saya, silah klik:http://udoyamin.multiply.com/

2. TERIMALAH DIRI APA ADANYA

Salah satu ciri utama orang Islam adalah beriman sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Maka dalam melihat diri harus dengan kaca mata iman. “Iman itu,” sabda Nabi Muhammad saw, “setengahnya berada pada syukur dan separonya lagi ada pada sabar.” Kita harus bersyukur terhadap nikmat dari Allah, yaitu berupa apa saja yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebaliknya, kita harus bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, yaitu apa saja yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Selanjutnya, kita harus mampu membedakan, mana yang bisa kita ubah, dan mana yang tidak bisa kita ubah dalam diri kita. Contoh yang bisa kita ubah adalah pikiran, perasaan, kebiasaan kita, dan seterusnya. Contoh yang tidak bisa kita ubah adalah hari lahir kita, orangtua kita, semua pengalaman hidup kita, dan seterusnya. Maka ubahlah terhadap hal-hal yang bisa kita ubah! Sebaliknya, terimalah apa adanya yang tidak bisa kita ubah.

Misalnya, ada yang tidak mengakui orangtuanya orang kampung, karena ia ingin mengembangkan diri di kota. Di hadapan teman-temannya, ia mengaku anak ningrat dan orangtuanya sudah lama meninggal, padahal kedua orangtuanya masih ada di kampung bertarung dengan lumpur di sawah. Itu bukan langkah ke arah kemajuan, tapi ia sedang memotong cabang pohon tempatnya berpijak; lambat laun, tapi pasti, ia akan jatuh oleh kebohongan itu.

Atau, ada yang tidak menerima kenyataan pengalaman hidup yang pahit. Hari demi hari, ia terbelenggu dengan masa lalu. Segala upaya ia lakukan agar melupakan pengalaman itu. Padahal masa lalu tidak mungkin bisa kita ubah. Bahkan, tidak bisa kita lupakan. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai atau menerima masa lalu itu apa adanya. Yang kita ubah, bukan masa lalu itu, tapi pikiran, perasaan, dan sikap kita terhadap masa lalu itu. Alias respons kita.

Seburuk apa pun yang kita miliki —orangtua, adik-kakak, rumah, kampung halaman, daerah, negara, dst— terimalah apa adanya. Sekelabu apa pun masa lalu, biarkanlah ia berlalu dan jangan merasa terbelenggu. Kesempatan menghirup udara detik ini adalah nikmat yang terbesar untuk kita syukuri. Artinya, Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk mengubah apa yang bisa kita ubah dan menerima apa yang tidak bisa kita ubah. Gunakan detik ini dan detik berikutnya untuk merubah diri. Paling tidak, ucapkan dengan tulus: “Al-hamdulillahi rabbil ‘âlamîn!” (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam) atas semua nikmat dari Allah —otak, telinga, mata, kaki, tangan, jantung, dan seluruh anggota tubuh lainnya— yang masih berfungsi sampai detik ini.

Intinya, dengan kaca mata iman, semuanya menjadi kebaikan; bila kita meraih sesuatu sesuai dengan keinginan, kita akan bersyukur. Sebalik, jika mendapatkan sesuatu yang tidak kita inginkan, kita akan sabar. Sabar bagi orang beriman, tidak ada bedanya antara sehat dan sakit, keduanya tetap mendatangkan rasa bahagia. Wajar jika Nabi bersabda, “Sungguh sangat mengagumkan orang yang beriman. Segala urusannya adalah baik baginya. Dan itu terjadi, kecuali hanya pada orang yang beriman. Jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Apabila ditimpa musibah, ia  bersabar. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya." (Muslim & Ahmad).

3. BERIKANLAH YANG TERBAIK

“Tidak pernah akan rugi orang yang beristikharah,” petuah Nabi Muhammad  yang dituturkan oleh Imam Malik, “dan tidaklah menyesal orang yang bermusyawarah.” Istikharah adalah mendiskusikan persoalan kepada Allah . Sedangkan musyawarah adalah mendiskusikan masalah kepada manusia. Keduanya bertujuan ingin mencari solusi terbaik dari apa yang kita hadapi.

Namun sayang, terkadang kita begitu menginginkan Allah swt dan manusia memberikan yang terbaik untuk kita, sedangkan kita sendiri enggan memberikan yang terbaik untuk-Nya dan manusia. Maka sebelum memohon petunjuk kepada Allah swt dan minta pendapat kepada manusia, berikanlah yang terbaik untuk Allah dan manusia dengan cara menyambungkan tali kasih sayang kepada-Nya (hablum minallâh) dan kepada manusia (hablum minannâs).
Sebaik apa pun yang kita berikan —seperti waktu, tenaga, pikiran, dan harta— untuk mengabdi kepada Allah sebagai bukti menyambungkan kasih sayang kepada-Nya, maka semua itu tidak pernah mampu membalas apa kasih sayang-Nya kepada kita. Wajar, jika Allah, mengulangi kalimat, “Arrahmânirrahîm”. Dan sebanyak apa pun rahmat yang kita terima di dunia ini, itu hanya seper-sekian dari satu persen (1%) nikmat-Nya.

“Allah menciptakan rahmat menjadi seratus bagian,” ujar Imam Bukhari menyampaikan Hadits dari Nabi, “kemudian menetapkan 99 bagian di sisi-Nya dan menyempurnakan satu bagian inilah semua makhluk saling mengasihi, hingga seekor kuda mengangkat kaki dari anaknya karena khawatir menginjaknya.” Dalam riwayat Imam Muslim, Hadits itu ada lanjutannya, yaitu “Maka bila datang Hari Kiamat, Allah menyempurnakan rahmat-Nya (99 rahmat di sisi-Nya) menjadi seratus rahmat dengan tambahan rahmat ini (rahmat dunia).”

Dan sebaik dan sebanyak apa pun yang kita berikan kepada manusia, itu tak mampu menggerakkan manusia untuk membalas kebaikan kita, tanpa bantuan Allah swt. Allah-lah yang membukakan hati manusia untuk membalas atas kebaikan kita (baca: QS Al-Anfâl [8]: 63). Kuncinya, sekali lagi, minta bantuan kepada Allah swt.

Apabila hubungan kita dengan Allah sudah harmonis, insya Allah, kita akan mudah berhubungan dengan manusia. Sebaliknya, bila hubungan kita dengan Allah terputus, kita akan sulit harmonis dengan manusia, bahkan dengan diri kita sendiri, kita tidak harmonis. Lantas, bagaimana kita melejitkan potensi diri, jika diri kita berantakan?

4. LIHATLAH IMPIAN

“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai impiannya,” pesan Rasulullah  dalam kesempatan lain, “Allah akan menjadikan kekayaan dan rasa cukup dalam hatinya, mengumpulkan yang tercerai-berai darinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai impiannya, Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya, mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali yang telah disempitkan kepadanya.”

"Hai Harits,” sapa Nabi Muhammad  kepada Harits bin Malik r.a., “gimana keadaanmu pagi ini?" Harits menjawab, "Pagi ini, saya dalam keadaan beriman, ya Rasulallah!" Rasulullah  kembali bertanya, "Setiap perkataan itu ada hakikatnya. Nah, apa buktinya imanmu itu?" Dengan mantap Harits menanggapi, "Diriku menjauhi dunia. Malamnya aku begadang (qiyamullail), sedangkan siangnya, aku shaum. Dan aku seolah-olah telah melihat 'Arsy Tuhanku dengan begitu jelas. Aku juga, seakan-akan telah melihat para ahli surga yang saling datang berkunjung, sedangkan ahli neraka meliuk-liuk kelaparan!" Mendengar curhat Harits bin Malik r.a, Rasulullah saw baru yakin seraya bersabda, "Hai Harits, sekarang saya baru percaya. Maka, pertahankanlah!" Kemudian Rasulullah memberitahukan bahwa Harits telah sampai kepada yang menjadi tujuan hidupnya, lalu beliau bersabda, "Barangsiapa yang ingin melihat ahli surga, maka coba perhatikan Harits!" (HR Thabrani).

“Mâliki yaumi ad-dîn” (Yang menguasai Hari Pembalasan). Ini adalah prinsip lebih dahsyat dari prinsip “Mulai dengan Akhir dalam Pikiran” —Merujuk Pada Tujuan Akhir— milik Stephen R. Covey. Allah  mengajak kita untuk membayangkan “yaumi addîn” (Hari Pembalasan), semakin jelas Hari Pembalasan itu dalam hati dan pikiran kita, maka hidup kita akan semakin baik.

Dalam Al-Qur`an dan Hadits, Allah dan Rasul-Nya, menjelaskan semua kejadian pada Hari Pembalasan ini. Bagi yang mendapatkan buku catatan dengan tangan kanan, berat timbangan kebaikannya banyak, bisa melewati “shirâth al-mustaqîm”, dan seterusnya, ia akan bertemu dengan Allah di dalam surga. Sebaliknya, bagi yang mendapatkan buku catatan dengan kanan kiri, timbangan kejelekannya berat, tidak bisa melewati “shirâth al-mustaqîm”, dan seterusnya, ia akan bersama setan di dalam neraka. Perhitungan pada hari itu, semuanya adil, sebab Allah Maha Melihat, Mengetahui, dan Mendengar semua yang kita lakukan, apalagi semua saksi akan dihadirkan, mulai dari malaikat, Rasul, manusia, benda-benda, bahkan seluruh anggota tubuh kita.

Sedangkan Stephen R. Covey —dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People— mengajak kita membayangkan upacara pemakaman. Di sana ada empat kelompok manusia yang akan memberikan sambutan; (1) keluarga dekat —anak, kakak, adik, sepupu, bibi, paman, keponakan, kakek, dan nenek; (2) perwakilan teman; (3) dari tempat kerja; dan (4) dari gereja atau Ormas. Lalu, ia suruh kita membayangkan, apa yang kita inginkan dalam sambutan keempat perwakilan itu?

Setelah saya coba visualisasi pemakaman tersebut, yang saya rasakan adalah: pertama, membangun diri kita untuk riya`, sebab berpusat kepada manusia (antroposentris); dan kedua, sambutan (penilaian) dari perwakilan empat komponen itu tidak pernah akan objektif, sebab mereka tidak setiap detik menyertai kita. Jauh berbeda dengan cara Al-Qur`an dan Hadits mengajak kita membayangkan Hari Akhirat bahwa kaki, tangan, telinga, mata, kulit kita akan berbicara; jadi saksi atas semua perbuatan kita di hadapan Allah  (baca: QS Yasin [36]: 65 atau Fushshilat [41]: 20--21). Visualisasi berpusat kepada Allah ini lebih menyentuh hati dan menggerakkan jiwa untuk berbuat baik.

Nah, jika kita mampu membayangkan semua kejadian di akhirat nanti, lalu mengapa kita tidak mampu membayangkan impian hidup kita beberapa tahun yang akan datang? Ingat, salah satu ciri orang sukses adalah dapat melihat sebelum segala sesuatu itu terjadi, seperti Harits bin Malik di atas.     

5. TEMUKAN POTENSI DIRI DAN PELUANG DIRI

“Mukmin yang kuat,” sabda Nabi Muhammad , “lebih baik dan lebih Allah dicintai daripada mukmin yang lemah. Walaupun keduanya tetap memiliki kebaikan —potensi. Seriuslah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu dan minta bantuan kepada Allah, serta jangan bersikap lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu, jangan bilang, “Andaikan aku melakukan ini, pasti deh akan begini. Andaikan aku melakukan itu, pasti deh akan begitu!” Tetapi katakan, “Inilah takdir Allah, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi!” Sebab, kata “berandai-andai” —kalau begini, kalau begitu— akan membuka tindakan setan.” (HR Muslim).

Suatu hari, seorang pengemis datang kepada Nabi Muhammad saw. Ia minta sedekah, tapi Nabi tidak memberinya. Padahal kita tidak meragukan kedermawanan Nabi. Lantas, mengapa beliau tidak memberi pengemis itu sesuatu? Baik kita lanjutkan kisah ini.

"Apa yang Anda miliki?" tanya Nabi. Pengemis itu menjawab, "Saya hanya memunyai selembar permadani dan sebuah nampan." Beliau berkata lagi, "Bawa kedua barang itu ke sini!" Lantas, Nabi menawarkan barang itu kepada para sahabatnya, "Siapa yang mau membeli barang ini?" tanya Nabi. Salah seorang sahabat mengajukan harga, "Saya berani beli lima Dirham!" Maka tanya beliau lagi, "Siapa yang berani membayar lebih?" Lalu, sahabat yang lain memberikan harga lebih. Nabi pun mengedarkan pandang dan bertanya lagi, "Siapa yang berani membayar lebih?" Akhirnya, barang itu dilelang seharga 15 Dirham. Hasil lelang ini, Nabi perintahkan, setengahnya untuk keperluan rumah tangga pengemis, separuh lagi untuk beli kampak, seraya berpesan, "Pergilah ke hutan dan carilah kayu bakar, dan jangan perlihatkan dirimu selama tujuh hari, sebelum kamu berhasil!"

Dari kisah itu, ada enam strategi Nabi dalam membantu orang supaya hidup mandiri, antara lain, 
  1. Mempelajari posisi dan mendudukan masalah sesuai dengan porsinya;
  2. Mengundang para sahabatnya dan menganjurkan untuk bergotong-royong, meringankan beban saudaranya dengan jalan membeli barangnya;
  3. Menyisihkan separuh hasil lelang untuk keperluan keluarganya;
  4. Memerintahkan agar menginvestasikan sisa uang untuk membeli alat yang dapat digunakan untuk mencari nafkah;
  5. Melalui cara investasi modal, produksi dapat digalakkan dan pembangunan dapat ditingkatkan. Semua ini adalah sarana yang tepat untuk memecahkan problem ekonomi;
  6. Mengawasi pelaksanaan anjuran atau perintah tersebut, apakah sudah berjalan sesuai dengan yang dimaksud.

Saya tidak akan membicarakan enam hal itu. Tapi kita perhatikan pertanyaan beliau, “Apa yang Anda miliki?” Ini sebuah pertanyaan yang menuntut kita untuk hidup mandiri (independensi) seperti yang dikatakan oleh Stephen R. Covey. Menurutku, kunci utama untuk melakukan kemandirian itu adalah dengan menggantungkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah  semata; tidak kepada makhluk-Nya.

Sebab, bila kita masih menggantungkan diri kepada makhluk-Nya, kita tidak pernah mandiri, hingga pada tingkat tertentu rasa ketergantungan kita terhadap makhluk-Nya —manusia—, maka diri kita akan terjatuh dalam perilaku menghambakan diri kepada selain-Nya. Bila sudah demikian, maka kemandirian itu hilang, akhirnya berubah menjadi keterjajahan. Jiwa yang terjajah, tidak pernah akan mengalami perkembangan.

Maka ungkapan kita dalam surah Al-Fatihah ayat 5 —“Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în” (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)— merupakan sebuah penguatan terhadap diri agar kita hidup mandiri.Pengakuan untuk menyembah dan minta tolong, sebuah isyarat bahwa betapa lemahnya kita di hadapan Allah . Semakin kita merasa lemah di hadapan-Nya, rasa ketergantungan terhadap-Nya juga akan semakin besar. Kita pun semakin banyak beribadah kepada-Nya. Ibadah itu akan mengembangkan seluruh potensi diri kita. Buahnya adalah kekuatan diri. Saat itu pula, akan muncul rasa kuat di hadapan manusia. Dua perasaan itu bersatu dalam diri kita: satu sisi merasa lemah di hadapan Allah, dan di sisi lain, merasa kuat di hadapan manusia. Inilah salah satu ciri kecerdasan Quranic Quotient --yang saya jelaskan dalam buku saya, yaitu kemampuan kita untuk menggabungkan dua hal yang berbeda dalam diri kita secara bersamaan dan keduanya membuahkan kebaikan.
 
Kecerdasan Quranic Quotient itu kita arahkan untuk menjadi rahmatan lil âlamin. Makna rahmatan lil ‘alamin adalah ketika kita mampu memberikan manfaat kepada manusia dan inilah manusia yang paling Allah cintai, "Sejatinya, seluruh makhluk adalah satu keluarga Allah. Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat terhadap keluarga-Nya." (HR Abu Ya'la).

Maka jika makna surah Al-Fatihah ayat 5 kita hayati betul, maka akan muncul sifat tawadhu’ (QS Al-Furqan [25]: 63). Orang tawadhu adalah orang yang melihat dirinya secara objektif; apa adanya tanpa imbuhan. Mereka tidak menutupi kelebihan dan kekurangan dirinya. Orang yang suka menutupi kelebihannya, ini tanda ia kurang percaya diri dan rendah diri, akhirnya mereka akan jadi manusia putus asa. Sebaliknya, orang yang suka menutupi kelebihannya, ini tanda ia terlalu percaya diri, akhirnya ia akan sombong. Jadi, orang yang tawadhu adalah orang yang mensyukuri kelebihannya dengan cara memberikan apa yang ia miliki untuk membantu orang lain dan bersabar atas kekurangan dirinya dengan cara belajar dari siapa saja yang memiliki apa yang ia butuhkan.

6. RUMUSKAN CARA MERAIH IMPIAN

 "Iman itu bukan sekadar angan-angan kosong, bukan buah bibir,” tutur Nabi Muhammad saw, “tapi tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan tindakan." Hadis yang diceritakan oleh Ad-Dailami ini, menegaskan kepada kita, sebuah impian harus ada tindakan nyata untuk meraihnya. Iman itu keyakinan. Keyakinan akan bertemu dengan Allah, inilah impian. Misalnya, bila kita yakin akan bertemu dengan Allah di surga dan sudah tergambar di benak kita di dunia ini, tercapai atau tidaknya apa yang kita lihat melalui kekuatan imajinasi ini, tergantung pada usaha. Sekadar yakin tanpa tindakan, itulah yang disebut Nabi dengan angan-angan kosong atau khayalan. Sedangkan keyakinan yang disertai tindakan, inilah yang disebut ‘harapan’ oleh C.R. Snyder, ahli psikologi dari Universitas of Kansas. Menurutnya, harapan adalah “yakin bahwa kamu mempunyai kemauan maupun cara untuk mencapai sasaran kamu, apa pun sasaran kamu itu.”

Nah, sebagus dan sebesar apa pun impian kita, jika kita tidak mampu menerjemahkannya dalam bentuk sasaran atau target, kecil kemungkinan akan tercapai. Di antara kita, banyak yang memimpikan masuk surga, tapi dalam kehidupan sehari-hari tidak sungguh-sungguh menempuh jalan menuju surga. Atau, memimpikan jadi orang sukses, tapi cara menjadi orang sukses itu tidak dilakoni.

Biasanya, manakala ada kesenjangan antara impian dengan tindakan, akan melahirkan tidak percaya diri, kemalasan, keputusasaan, kehilangan arah hidup (disorientasi), dan akhirnya, keterpecahan pribadi (split personality). Sebaliknya, sekecil apa pun tindakan yang kita targetkan dan itu dapat kita raih, akan mendatangkan rasa percaya diri, semangat, harapan, hidup bermakna, dan integritas.

Dalam bertindak, kita memerlukan Juknis (petunjuk teknis) atau Juklak (petunjuk pelaksana). Petunjuk, dalam bahasa Al-Qur`annya adalah “hidâyah”. Di sinilah surah Al-Fatihah ayat 6: “Ihdinash shirâth al-mustaqîm” (Tunjukilah kami jalan yang lurus), menemukan maknanya. Ya, untuk meraih impian surga, kita butuh petunjuk “jalan lurus” atau Islam.

Dalam Al-Qur`an, kata “shirath” (jalan) —sinonim (murâdif) dari kata “sabîl” (jalan)— selalu dalam bentuk tunggal (mufrad) dan selalu berkaitan dengan al-haqq (kebenaran). Sedangkan jalan menuju al-bâthil (kesesatan) memakai kata plural (jama’), yaitu kata “as-subul” (sebagai contoh, baca: QS Al-An’am [6]: 153). Ini menunjukkan jalan kebenaran itu hanya satu, yaitu Islam, sedangkan jalan kesesatan itu sangat banyak dan tidak terhitung. Maka sangat keliru, orang yang meyakini pluralisme agama; menganggap semua agama benar dan sebagai jalan menuju surga.

Islam diturunkan oleh Allah di muka bumi ini untuk menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidup ini. Ajaran Islam begitu canggih dalam menjelaskan cara untuk meraih impian surga. Islam mengajarkan kita untuk membuat misi pribadi berupa dua kalimat syahadat. Lalu, disusul dengan sasaran target —,baik yang wajib maupun sunah— yang berskala waktu seumur hidup (haji), tahunan (shaum dan zakat fitrah), bulanan (shaum ayyâm al-bidh: puasa 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah), mingguan (shalat Jum’at; shaum Senin-Kamis), harian (shalat lima waktu), pagi dan sore, bahkan skala detik (dzikir).
Nah, bila kita mampu menjalankan ajaran Islam itu dengan baik, maka akan lebih mudah lagi dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan. Karena semua ajaran Islam mengajak kita untuk hidup disiplin. Misalnya, kemampuan kita untuk shalat lima waktu tepat waktu dan di masjid, ini akan membangun berbagai karakter baik dalam diri kita, seperti hidup bersih, komitmen, integritas, disiplin, dan seterusnya. Begitu juga dengan ajaran Islam lainnya, selalu mendidik kita untuk meraih kesuksesan pribadi dan publik seperti yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey.

7. BELAJAR DARI PENGALAMAN

“Bukanlah orang cerdas, kecuali pernah tergelincir. Bukan pula orang yang bijak, kecuali berpengalaman,” pesan Nabi Muhammad  kepada kita lewat Imam Tirmidzi. Ini sebuah isyarat bahwa Nabi sepakat dengan metode belajar trial and error —berani mencoba, meskipun nanti bisa jadi salah— dalam menjalani hidup ini.

Lebih lengkap lagi, kita dengarkan cerita Thalhah bin Abdullah, “Aku bersama Rasulullah ,” ujar Thalhah mulai bercerita, “melewati sekelompok orang yang berada di pucuk pohon-pohon kurma. Rasulullah  bertanya, “Apa yang sedang mereka perbuat?” Jawab para sahabat, “Mereka sedang mengawinkan pohon kurma. Mereka masukkan yang jantan ke dalam betina agar berbuah.” Lalu Nabi bersabda, “Aku rasa, hal itu tidak akan berhasil.” Thalhah berkata, “Lalu mereka diberitahu tentang hal itu, dan mereka akhirnya meninggalkannya.” Kemudian Rasulullah  diberitahu tentang hal itu dan beliau bersabda, “Jika hal itu bermanfaat bagi mereka, maka lakukanlah. Karena sesungguhnya aku hanya memperkirakan saja. Maka jangan kalian menyiksaku dengan sebuah dugaan. Akan tetapi jika aku menginformasikan sesuatu dari Allah, maka ambillah. Karena sesungguhnya aku tidak akan pernah berdusta tentang urusan dunia kalian.” Dan dalam riwayat Imam Muslim, setelah itu Nabi bersabda, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian!”

Jadi, kita boleh mencoba sesuatu, meskipun kita tidak tahu, apakah itu akan berhasil atau gagal. Karena gagal setelah mencoba, jauh lebih baik daripada gagal untuk mencoba. Karena dari kegagalan itu, kita akan memiliki pengalaman. Konon, ketika Thomas Alfa Edison 1000 kali gagal dalam percobaannya, ia berkata: “Saya tidak gagal, tapi saya telah menemukan 1000 cara yang salah!”

Dari prinsip 1 sampai 6 terfokus pada diri sendiri. Sekarang keluarlah, lihat apa yang terjadi pada orang lain. Dalam ayat terakhir surah Al-Fatihah, kita membaca: “Shirâthalladzîna an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhûbi ‘alaihim wa ladhdhâllîn” (Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat).

Nah, dalam ayat 7 surah Al-Fatihah ini, Allah menceritakan tentang jalan orang mendapatkan nikmat Allah, yaitu jalan para Nabi, ash-shiddiqîn, asy-syuhadâ, dan ash-shalihîn (baca: (QS Ani-Nisa [4]: 69). Inilah jalan keimanan. Lalu, Allah menceritakan jalan orang yang mendapat murka Allah swt dan tersesat. Berdasarkan keterangan Ibnu Katsir, Rasulullah saw menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “al-maghdûbi” (yang dimurkai Allah) adalah orang Yahudi, sebab mereka mengetahui kebenaran, tapi tidak mau mengamalkannya. Dan “adhadhâllîn” (yang tersesat) adalah orang Nashrani karena mengamalkan sesuatu tanpa mengetahui kebenarannya. Sebagaimana telah saya sebutkan di atas, jalan kebenaran; Islam hanya satu, begitu juga jalan iman itu tunggal, sedangkan jalan kafir itu sangat banyak.

Untuk kesuksesan akhirat, kita harus mempelajari mana jalan keimanan yang akan membawa kita menuju surga, dan mana jalan kekafiran yang akan menjerumuskan kita ke jurang neraka? Kita harus menempuh jalan keimanan dan menjauhi jalan kekafiran. Dalam hal keimanan, mau tidak mau kita harus belajar dari pengalaman orang yang beriman. Karena, Allah telah berlepas tangan dari orang kafir dan memberikan sifat “ar-rahîm”-Nya hanya kepada orang beriman saja.

Adapun untuk kesuksesan duniawi, kita mempelajari pengalaman siapa saja, meskipun dari orang kafir. Karena sifat “ar-rahmân” Allah  tidak membedakan antara orang beriman dan orang kafir. Maka sekalipun orang beriman, tapi jika malas belajar, ia akan bodoh; Sedangkan sekalipun orang kafir, tapi jika rajin belajar, ia akan cerdas. Orang beriman menanam cabe, tidak akan manis. Orang kafir menanam cabe, tidak akan pahit. Rasanya akan sama, yaitu pedas. Di sini, hukum kausalitas berlaku. Apabila orang kafir banyak mencoba, setelah sekian kali gagal maka mereka akan menemukan cara sukses. Nah, cara sukses yang ditemukan oleh orang kafir ini adalah hikmah yang hilang dari orang yang beriman. Maka Imam Tirmidzi meriwayatkan sabda Nabi,
“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR Tirmidzi).

Itulah Tujuh Prinsip Pengembangan Diri Islami. Semoga tulisan saya ini bermanfa'at. Walaupun saya sangat sadar, tulisan ini terlalu singkat untuk menjelaskan tujuh prinsip itu. Paling tidak, tulisan ini  sebagai "kran" agar terjadi dialog, diskusi, saran, dan apapun masukan yang sifatnya membangun diantara kita, terutama kepada teman-teman yang seagama dengan saya. Wallahu a'lam bish shawab.

Cairo, 22 Desember 2007

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help