Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: quranic quotient

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag quranic quotient
Blog EntryKesan Dubes Terhadap Quranic QuotientDec 11, '07 2:44 PM
for everyone
Setelah dua tahun lebih menanti, al-hamdulillah Duta Besar RI di Mesir datang juga. Pengganti Prof. Dr. Bachtiar Aly, MA. itu bernama Drs. Abdurrahman Moehammad Fachir. Selama sebulan lebih beliau di Mesir, saya baru tiga kali bertemu. Pertama, sewaktu saya bersama Bapak Drs. Slamet Soleh, M.Ed. (Atdikbud KBRI Mesir) dan Kang Isrona (Guru Sekolah Indonesia Cairo/SIC) menjadi pembicara dalam Seminar Budaya yang diselenggarakan oleh Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat di Pasaggrahan. Kedua, saat acara Sosialisasi Sekolah Nasr City. Kebetulan saya sebagai Pjs Koordinator sekaligus Ketua Divisi Perumus Kurikulum dan Konsep di Tim Pembentukan Sekolah Nasr City Cairo. Ketiga, saya bertemu beliau pada acara "Dialog Umum tentang Pendidikan Islam Indonesia Dan Peluang Alumni Timur Tengah" bersama KH. Solahudin Wahid (Tokoh Nasional, Pengasuh PP. TEBUIRENG Jombang, Dewan Mustasyar PBNU, Mantan Wakil Ketua Komnas HAM, Penasehat ICMI, Mantan Cawapres 2004) dan Ali Munhanif (Kandidat Doktor Universitas Mc Gill Canada, Peneliti PPIM UIN Jakarta).

Dan tadi pagi, teman saya menyapa saya bahwa ada salam dari Pak Dubes. Tentu saja saya terkejut, masalahnya saya merasa tidak pernah dikenal oleh beliau. Beda dengan Dubes sebelumnya, beliau kenal karena saya yunior beliau di Pelajar Islam Indonesia dan posisi saya sebagai Ketua Umum Perwakilan Pelajar Islam Indonesia (PII) Republik Arab Mesir. Ditambah, saya sering menjadi moderator dubes dalam acara yang digelar oleh mahasiswa Indonesia Mesir. Setelah saya baca lanjutan off line dari teman saya, baru saya teringat bahwa waktu Teguh Hudaya, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Mesir, mau ke KBRI, saya nitip buku "Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran, Qultum Media) pesanan Pak Bukhari (staff KBRI). Lalu, saya kasih tiga lagi, terserah untuk siapa. Ternyata, kata Teguh, tiga buku saya itu, ia kasihkan ke Pak Dubes, Pak Sholeh, dan Pak Mukhlashon (staff Atdikbud).

Saya coba jawab off line itu, ternyata teman saya itu masih on line, terjadilah chatting seperti ini:

alamsyams: gi sakit apa neh ust?
alamsyams: wah salam dari pak fachir neh...
alamsyams: kmrn ketemu di ruangannya...trus kata beliau...skrg saatnya mhsiswa mesir mengambil khazanah lokal saja... utamanya pak fachir mengutip kata-kata udo di quranic quetion..
alamsyams: jd skrg klo pa fachir ketemu mahasiswa, pasti ngutip bagian akhir khulasan buku tersebut...
alamsyams: klo berkenan, klo buku quranic quetionnya masih ada, BWAKM bermohon untuk memilikinya krn akan didonasikan kepada donatur dari eropa...sebuah karya yang sangat baik utk dibaca...salam syamsu
ibnu_majdi: afwan barusan dr hamam
ibnu_majdi: brusan fatih minta ditemanin pipis
alamsyams: yup
alamsyams: iya oo..gmn uda sehat2ya
alamsyams: hari ahad lalu ktm pa fachir dikantornya..
ibnu_majdi: oh ya, pak dubes dah baca buku sy?
alamsyams: yup sampe khatam..
alamsyams: sampe ngase komentar ttg bagian akhir itui..utkl pola hidup muslim./
alamsyams: msh ada persediaan ga?
alamsyams: ana mo ngase ke pak nabil, donatur kitadari eropa
ibnu_majdi: klo sm sy gak ada lg
ibnu_majdi: gak tahu kl sama rashid satari
alamsyams: oo gitu
alamsyams: klo ada satu bolehlah..
ibnu_majdi: soalnya cuma dikirim 10 eks
alamsyams: oo gitu..
alamsyams: ini utk mmemberi citra jg buat mhsiswa kita..
alamsyams: boleh usul ust udo?
ibnu_majdi: blh
alamsyams: gmn klo ke depan... dibuatkan pelatihan melejit quranic quetion ...
alamsyams: Melejitkan potensi quranic quetion dlm setiap individu muslim
alamsyams: jd ke depannya benar2 mnjdi icon ust udo..
alamsyams: jd ketika di indonesia org2 bicara ttg quranic quetion...maka ust udo adalah refernsi utamanya.
ibnu_majdi: insya allah
ibnu_majdi: do'akan mudah2an sy bisa buat modul dan metode pelatihannya
ibnu_majdi: ana skrg lagi mencoba lebih mendekatkan diri sama Al-Quran
ibnu_majdi: biar org bisa baca Al-Quran dlm diri sy, bukan hanya di buku sy
alamsyams: yup...biar org2 bisa membaca isyarat2 quran dalam diri mereka masing2
alamsyams: menemukan quranic model dlm jasad dan pikirannya masing2
ibnu_majdi: yg dikutip pak dubes itu bagian yg mana?
alamsyams: bab paling akhir
ibnu_majdi: Ooo ttg 7 prinsip melejitkan potensi diri melalui Al-Quran
ibnu_majdi: itu renungan sy dr surat al-fatihah
alamsyams: yup
alamsyams: berkesan sekali kata beliau./.
alamsyams: yah dia bangga dan bersyukurlah punya mahasiswa sekaliber antum....
ibnu_majdi: alhamdulilah, mudah2an ini jd penambah semangat bg sy dlm memperbaiki diri dan menuntut ilmu
alamsyams: yup..
alamsyams: teruslah berkarya...
ibnu_majdi: insys allah
alamsyams: tingkatkan terus karya2 antum..
ibnu_majdi: minta doanya
alamsyams: amien.
alamsyams: masyarakat indonesia skrg benar2 haus dengan quranic quetion..
alamsyams: oo gitu
alamsyams: uda shalat ust?
alamsyams: ana pamit dulu
alamsyams: wassalam..
alamsyams: jgn lupa bukunya ya

Chatting itu berakhir, saat anak saya menangis. Rasa syukur pun bermekaran di taman hati saya. Saya yakin, penuturan Pak Dubes itu tulus. Sebab, setelah mendengar beliau bicara di tiga acara yang saya sebutkan tadi, saya tangkap beliau adalah orang jujur, tidak banyak basa-basi dan berdiplomasi. Bahkan dari teman-teman, saya bercerita berkunjung ke kantor Rektor Universitas Al-Azhar dan Rekotor itu marah, karena Pak Dubes menyampaikan apa adanya kekurangan Al-Azhar dan perlu ada perbaikan. Intinya, suka berkata apa adanya.

Yah, mudah-mudahan, apa yang diharapkan oleh teman saya agar saya membuat Pelatihan Quranic Quotient bisa saya lakukan tahun ini. Sehingga saya bisa membantu impian Pak Dubes ingin melihat para mahasiswa Indonesia Mesir cepat tamat kuliah dan membangun bangsa Indonesia. Ya Allah, berkahi sisa umur hamba untuk mengabdi kepada-Mu dengan cara membantu manusia untuk menemukan hidayah-Mu. Amin ya rabbal a'lamin. Do'ain udo ya!  

Blog EntryKesaksian Pembaca Buku Quranic QuotientNov 16, '07 3:29 AM
for everyone
"Wahyu Pambudi" <yudhi@daunmas-international.com>
Kepada    : ibnu_majdi@yahoo.com
C    : Send an Instant Message udoyamin@yahoo.com
Topik    : Terima Kasih
Tanggal    : Thu, 15 Nov 2007 15:57:01 +0700

Assalamualaikum Wa rahmatullah Wa barakatuh,
 
Selamat pagi Bang Udo,
Semoga Allah membalas dengan kemurahan-Nya karena bang Udo sudah mau membagi ilmunya kepada khalayak.
 
Pertama kali saya membaca judul buku yang masih dalam keadaan tersegel, saya sudah sangat antusias untuk segera membacanya, belum pernah rasanya saya langsung memutuskan untuk membeli sebuah buku tanpa pertimbangan yang lama, karena terkadang takut jika buku tersebut mubazir akibat tidak terbaca.
Namun ada gerakan hati yang mendorong saya agar segera memiliki buku tersebut.
 
Ahad kemarin, begitu tiba di rumah, aku langsung memulai membukanya, baru aku habiskan kata pengantar dan pembukanya, rasanya tanpa sadar ada lelehan air bening dari ujung mataku, aku sendiri tidak tahu mengapa bang udo.
 
Quranic Quotient, benar-benar telah mengembalikan aku agar menjadikan Al-Qur'an sebagai satu-satunya pedoman agar hidup saya bahagia dunia dan akhirat.
 
Seolah kembali saya dingatkan, kembali ke beberapa tahun yang lalu, malam menjelang ulang tahun saya, tahun 2000, jika saya tidak salah. dalam mimpi saya malam itu, ada seorang pemuda dengan wajah dipenuhi cahaya memberikan sebuah mushaf Al-Quran yang indah kepadaku sebagai hadiah ulang tahunku, aku tidak mampu melihat wajahnya karena begitu silaunya.
Tapi sejak itu pula, aku seperti tidak ingat lagi kapan aku khatam Al-Quran, bahkan Ramadhan-ramadhanku beberapa tahun terakhir ini, aku lewati hanya dengan beberapa juz saja, betapa bodoh, malas, dan meruginya aku....
 
Namun, begitu kemarin setelah Ahad dengan buku tulisan anda, Alhamdulillah hingga hari ini, aku diberikan keringanan oleh Allah untuk bisa membaca Al-Quran ba'da Shubuh dan ba'da magrib.
 
Terima kasih Bang Udo, melalui buku anda, rasanya aku kembali bisa merasakan betapa Allah sangat menyayangi hamba-Nya. dulu setiapkali malam aku terbangun, rasanya hanya kemalasan yang membuatku enggan bangkit dari tempat tidur, sedangkan sejak beberapa hari ini, setiap kali aku bangun di sepertiga malam terakhir, rasanya begitu ringan kakiku melangkah untuk mengambil wudhu dan bersujud kepada-Nya.
 
Alhamdulillah, sekarang aku selalu berusaha agar hariku sekarang lebih baik dari kemarin.
Semoga bisa aku pegang dan aku tetapkan sebagai niat.
 
"Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak pandai berterimakasih kepada manusia." (HR Ahmad)
 
Sekali lagi terima aksih telah menjadi pembuka jalan bagi aku,
Semoga jalan Al-Quran bisa kita jadikan sebagai sarana hidup di dunia dan kebahagian di akhirat.
Semoga juga cita-cita Bang Udo membangun masyarakat madani tercapai, dan semoga aku pun bisa menggagas hal yang sama.
Aku tunggu, tulisan-tulisan Bang Udo, seperti yang telah dijanjikan dalam bukunya.
 
Wassalam.
Yudhi W. Pambudi

Blog EntryBUKU PEMBUKA HATINov 14, '07 4:50 AM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

Bismillah. Sejak buku saya —Quranic Quotient: Menggali & Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran (Qultum Media, 2007)— terbit, banyak yang memberikan ucapan selamat. Secara manusiawi, wajar jika saya bahagia. Namun, akan lain manakala banyak para pembaca buku saya memberikan pujian, baik lewat SMS, e-mail, chatting, maupun ketemu langsung, itu sebuah tantangan bagi saya agar tetap menata hati. Ya, sebagai penulis pemula, saya harus lebih serius lagi dalam mengamalkan ilmu tawadhu' (rendah hati).

Secara sederhana, tawadhu, saya artikan, sebuah sikap menerima diri apa adanya, tanpa imbuhan apapun, tanpa merasa rendah diri dari yang sebenarnya, begitu sebaliknya, tanpa merasa tinggi hati dari kenyataan. Dengan kata lain, tawadhu, berada diantara dua sikap ekstrim, yaitu sombong dan putus asa. Kedua sikap ekstrim ini, akan menghambat perkembangan kualitas diri.

Sombong muncul dari perasaan percaya diri (pede) yang terlalu berlebihan, yang sering kita sebut dengan PDOD (Percaya Diri Over Dosis). Ketika diri kita merasa "lebih", dari keadaan yang sebenarnya, itulah tanda kita terjangkit penyakit sombong. Apalagi, manakala kita merasa "paling" —baik, bagus, benar, pintar, cantik, tampan, dst— dari yang lainnya, sehingga kita meremehkan orang lain dan tidak mau menerima kebenaran. Dan akhirnya, kita menutup-nutupi semua kekurangan kita dan anti kritik.

Sedangkan putus asa, berangkat dari perasaan "kurang" dari kenyataan, atau menutup-nutupi kelebihan kita. Inilah yang sering kita kenal dengan sikap kurang percaya diri (kurang Pede). Ya, perasaan tidak mampu, tidak bakat, tidak pintar, tidak bisa, dan seterusnya, adalah benih-benih yang menumbuhkan putus asa.

Kembali dengan respon pembaca buku saya, setiap ada masukan dari mereka, saya berusaha menanggapi dengan perasaan netral, tidak merasa terbang ke langit ketika ada pujian, dan sebaliknya, tidak merasa terbenam ke dasar bumi manakala ada yang mengkritik, alias tawadhu (rendah hati) yang saya definisikan tadi. Itu semua saya simpan dalam otak saya. Lalu, saya masak di tungku hati. Sehingga akhirnya, bisa saya nikmati sebagai makanan ruhani untuk menguatkan langkah kaki saya dalam mendaki prestasi.

Namun, jujur saja, seringkali virus "kurang pede" menggerogoti diri saya. Diperparah lagi oleh sifat perfeksionis saya. Imbasnya, pujian tulus dari pembaca, terkadang saya maknai sebagai "basa-basi" saja. Hanya sebatas ingin menyenangkan saya saja. Saya belum yakin, apakah betul tulisan saya seperti yang mereka bilang bahwa tulisan saya mengalir, enak dibaca, mudah difahami, komunikatif, menarik, bergizi, menggerakan, dan seterusnya. Tak ada satupun tanggapan dari mereka yang negatif, kecuali masalah lay out isi buku yang di luar tanggung-jawab saya, sebab itu tugas penerbit.

Dan hari ini, isteri saya keluar dari kamar sambil menggendong putri kami, Fathin. Lalu ia berkata: "Buya, ini ada SNS lagi dari fansmu!"

"Apa katanya bunda?" tanya saya yang sedang membaca milis bersama Fatih, putra pertama kami.

"Baca aja sendiri, SMSnya panjang!"

"Sini buya baca!"

Dalam HP itu, tertulis pesan ini:  

Ass. Wr. Wb. Udo, baru sehabis shalat shubuh tadi, alhamdulillah buku anda Quranic Quotient, akhirnya selesai. Baru kali ini hati saya bergetar membaca betapa al-quran itu seharusnya menjadi referensi hidup. Terimakasih telah membuka pintu hati saya. Anda punya e-mail agar nisa digunakan untuk diskusi? Wassalam. Wahyu Pambudi (No HP +628155042xxx)

Selesai membaca SMS itu, saya merenung. Dalam hati saya bertanya: "Jika puluhan orang mengatakan hal yang sama tentang bukuku, apakah mungkin mereka bersepakat dalam kebohongan atau basa-basi, bukankah antara mereka tidak pernah ketemu, tidak kenal, tidak berhubungan, dan membaca bukuku di tempat yang berbeda-beda?" Ya, saya harus percaya, bahwa para pembaca adalah orang-orang yang jujur menilai buku saya. Mereka mengatakan apa adanya.

Saya mencoba mengingat kembali para pembaca buku saya. Ada seorang trainer yang telah menekuni dunia training belasan tahun tersadarkan untuk mendekatkan diri dengan Al-Quran setelah membaca buku saya. Bahkan, ia menghadiahkan buku Quranic Quotient untuk temannya yang baru masuk Islam. Ada juga rajin menghubungi saya, ingin bergabung di Community of Self-Research and Development (CSRD) yang saya dirikan karena ingin mempelajari konsep Quranic Quotient dan Manajemen Ahsanu Taqwim. Ada seorang pelajar yang semakin mencintai Al-Quran gara-gara membaca buku saya. Ada yang ingin diskusi. Ada yang ingin kenal. Aa yang nanya kapan buku saya yang lain terbit? Bahkan ada pembaca di Australia menjadikan buku saya sebagai teman di tengah kesibukan aktifitas menyelesaikan program master. Atau, teman di Inggris, minta hasil bedah buku saya. Ah, terlalu panjang jika semua saya sampaikan di sini.

Yang jelas, dari SMS tadi pagi, memotivasi saya untuk terus menulis. Juga menemukan jawaban dari virus kurang pede saya, yaitu jangan pernah menilai tulisan sendiri, biarkan para pembaca yang menilainya. Yang penting, apa yang saya tulis adalah kebenaran dan sesuatu yang diridlai oleh Allah Swt.. Semakin termotivasi, ketika saya baca lagi SMS dua hari yang lalu, isinya ini:

"Ustadz Udo Yamin, apakah buku barunya udah terbit? Kalau sdh terbit jangan lupa dikasih tahu kemari ya? Hambali A Thalib, seorang Guru SMAN." (HP. +62813602xxx)

Selain terus menulis, bagi saya, yang lebih utama dari segalanya adalah menata hati. Sebab, sebuah tulisan tak pernah akan membuka pintu hati pembaca, manakala tidak ditulis dengan hati. Untuk mengakhiri obrolan singkat ini, sudikah kiranya Anda diam sejenak, mendo'akan saya, agar saya menjadi seorang penulis pembuka hati para pembaca? Yah, do'a dari Anda, mudah-mudahan menguatkan niat saya bahwa menulis adalah bekal untuk mati, sehingga buku saya menjadi buku pembuka hati. Amin. Wallahu a'lam.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help