Udo Yamin's posts with tag: serial anak pahlawan
Ini dia...kebiasaan baru fatih.Kalo pintu terbuka,langsung deh melesat ke atas...mejeng di atas atas rumah... tau-tau udah nangis aja nggak bisa turun... (ini rekaman fatih naik tangga setingi 3 meter seperti yg saya ceritakan dalam tulisan berjudul Serial Anak Pahlawan: Menjajar Anak Berani) 18052008052.mp4 (12.8 MB)
Udo Yamin Majdi
"Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak ada seorang disebut pahlawan, sebelum membuktikan keberaniannya." (Anis Matta, dalam buku MENCARI PAHLAWAN INDONESIA)
Dalam dua minggu ini, anakku —Abdurrahman Vira Al-Fatih— punya kebiasaan baru. Karena kami tinggal di sutuh (lantai akhir apartemen, maka tidak ada halaman, apalagi taman untuk bermain. Kalau anakku itu bosan main dalam rumah: naik motornya; naik "jungkat-jangkit"; main air di kamar mandi, dan seterusnya, maka ia keluar rumah dan main ke rumah tetangga —tetangga sebelah kanan teman-temanku sealmamater di pesantren, sedangkan tetangga sebelah kiri orang Mesir yang punya anak 2 perempuan. Ternyata setiap anakku keluar, ia tidak lagi ke rumah tetangga, melainkan naik ke atas atap rumah.
"Buyaaa...", teriak isteriku, "itu Aa naik tangga, suruh turun!" "Lho kok disuruh turun sih?" tanyaku. "Ntar jatuh, itu terlalu tinggi dan berbahaya!" "Ah gak, percayalah sama Aa, ia pasti bisa melakukannya dengan baik kok!"
Ternyata dugaanku benar. Tanpa bantuan kami, anak kami yang berumur dua tahun itu, bisa naik tangga besi kecil lurus ke atas dengan ketinggian dua kali lebih tinggi badanku; 3 meter lebih. Aku kaget, kok anakku itu bisa naik tangga itu, padahal anak yang lebih tua darinya, tidak bisa naik, bahkan isteriku saja, selama tiga tahun kami tinggal di flat ini, tidak berani naik ke tangga tersebut? Selain kaget, aku merasa bahagia, sebab anakku dari hari ke hari bisa menyelesaikan tugas perkembangan dirinya.
Sebagai orang tua, sebenarnya, aku merasakan apa yang dirasakan oleh istriku: rasa khawatir. Jika anakku itu jatuh, taruhannya adalah nyawa. Hanya saja perasaan itu, aku lawan dengan perasaan yakin. Aku yakin, anakku mampu meraih apa yang ia inginkan. Sengaja aku tidak melarangnya melakukan apapun, meskipun itu membahayakan, misalnya, ia memegang setrika; memainkan pisau; menyalakan korek api; dan sejenisnya.
Hal itu aku lakukan, sebab aku tidak mau "rasa ingin tahu" dan "keberanian mencoba", alias daya kreativitas anakku hilang. Yang aku fahami, anak 7 tahun harus kita perlakukan seperti raja: semua keinginannya kita penuhi; 7 tahun kedua, kita hadapi seperti prajurit: disiplin, harus ta'at aturan; dan 7 tahun ketiga kita posisikan sebagai teman atau patner; harus kita libatkan dalam mengambil keputusan dan menghargai setiap keputusannya. Makanya, aku selalu mendukung dan membantunya untuk melakukan sesuatu, meskipun itu sedikit berbahaya. Kuncinya cuma satu: selalu kita awasi.
Teman-temanku sering merasa aneh, melihat aku membiarkan anak-anakku membongkar buku-buku di rak dan melemparkannya di lantai sehingga rumah berubah seperti kapal pecah. Sengaja aku biarkan, sebab bila buku rusak atau robek, aku bisa beli lagi, tapi jika perasaan anakku terluka, maka tak ada satu pun toko yang menjual obatnya.
Cuma, aku tegas, jika anak tertuaku itu mengganggu adiknya —Fathin Vira Rahima, 11 bulan—, maka aku akan larang. Bila ia terlanjur membuat adiknya menangis, maka aku berkata, "Aa, gak boleh ganggu dedek, ayo minta ma'af!
Biasanya anakku itu akan menjulurkan tangannya untuk menyalami adiknya, lalu ia menciumnya. Sebaliknya, jika ia tidak mau, maka adiknya yang aku suruh "memberikan ma'af". Aku tuntun, putriku untuk menyalami kakaknya. Makanya, aku menegur isteriku, ketika berkata, "Awas lho Aa, kalau dedek udah gede, ia akan balas!"
"Bunda, gak boleh gitu. Itu artinya kita ngajar dendam. Sebaiknya, kita ajarkan tentang minta ma'af dan memberikan ma'af!"
Al-hamdulillah, isteriku mengerti dan mengikuti caraku merespon anak-anakku saat mereka berantem. Ini juga berlaku untuk orang lain. Manakala anakku menganggu anak lain, aku suruh seperti yang ia lakukan terhadap adiknya. Akan tetapi, jika anakku "diganggu", maka aku dukung ia untuk membela diri. Anak-anak Mesir kebanyakan kasar. Dan pernah mereka menggangu anakku, lalu anakku membela, dengan cara mendorong anak Mesir itu hingga jatuh dan menangis.
Lambat laun anakku mengerti, bahwa aku selalu mendukungnya untuk melakukan apa saja terhadap benda dan melarangnya terhadap manusia. Makanya, ia semakin berani menjelajahi alam sekitarnya, sebaliknya, mulai takut mengganggu adiknya. Wallahu a'lam, apakah anakku juga faham, dengan perkataan, "Nak, berani itu bukan berani ganggu adekmu, tapi berani adalah berani melakukan sesuatu dan siap dengan segala resikonya!"
Sebab, sampai saat anakku belum lancar bicara, hanya beberapa katanya. Namun ia mengerti apa yang kami bicarakan. Setiap hari, aku menanyakan mana hidung, telinga, mata, rambut, mulut, gigi, bibir, dan seterusnya. Al-hamdulillah, ia bisa menunjukannya satu persatu. Dan satu pertanyaan lagi yang sering aku ajukan adalah: "Nak, mana pahlawan?" Maka anakku itu akan menepuk dadanya. Mungkin ia berkata: "Akulah pahlawan itu!" Jadi wajar, jika aku membiarkan anakku naik tangga itu, sebab aku ingin ia menjadi pahlawan seperti namanya Vira [bahasa India, artinya pahlawan]. Amin ya rabb!
Oleh: Udo Yamin Majdi
Baik, mari kita lanjutkan diskusi kita. Dalam obrolan kita sebelumnya http://udoyamin.multiply.com/journal/item/73 saya mengajukan pertanyaan ini: 1) mengapa setelah Allah menegur kita supaya khawatir memiliki keturunan lemah dan tidak sejahtera, tiba-tiba Dia berpesan dengan taqwa dan berkata benar?; 2) apa hubungan antara taqwa dan berkata benar dengan disiplin dan komunikasi? Saat ini kita hanya akan menjawab pertayaan pertama, dan kita fokuskan pada tema taqwa dan disiplin.
Sebelum kita melangkah lebih lanjut, alangkah baik kita bicarakan dulu makna taqwa. Taqwa, secara sederhana, definisi --menurut jumhur ulama-- adalah imtitsalu awamirillah wa ijtinabu nawahihi (melaksanakan beberapa perintah Allah dan menjauhi semua larangannya). Dengan kata lain, taqwa adalah ta'at pada syari'at (aturan) Allah Swt..
Pembahasan tentang taqwa, baik dalam Al-Quran maupun hadis, sangat panjang. Hanya saja, kita ingin melihat taqwa ini dalam tiga hal: (1) taqwa sebagai barometer kemuliaan seseorang; (2) taqwa jalan memperoleh ilmu; dan (3) taqwa sebagai solusi sekaligus cara mengundang rizki-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, standar kemuliaan terukur dari empat hal: (1) tingkat ekonomi; orang kaya dianggap lebih mulia dibandingkan orang miskin; (2) jenjang pendidikan; tamatan S3 akan lebih dihormati dibandingkan tamatan SLTP; (3) status sosial; keturunan kiyai atau tokoh akan lebih dihargai dibandingkan dari keluarga biasa.
Namun tiga hal itu, tidak ada artinya, manakala tidak dibingkai dengan keta'atan kepada Allah Swt.. Apa artinya, orang kaya, jika kekayaannya bukan untuk membantu orang miskin, melainkan menjadi kelas borjuis atau kapitalis yang menghisap darah rakyat? Apa gunanya gelar doktor, kalau toh, bukan tambah takut kepada Allah (khosyiyatullah), malahan semakin berani menggugat bahwa Islam bukan satu-satunya agama yang benar, Nabi Muhammad Saw bukan nabi terakhir, Al-Quran tidak relevan lagi dengan zaman, dan seterusnya? Apa maknanya keturunan kiyai atau tokoh, kalau hanya numpang nama, namun tidak memiliki sesuatu yang bisa ia banggakan?
Oleh sebab itu, Allah Swt memberitahu kita bahwa parameter mulia atau tidaknya seseorang adalah taqwa. Ini termaktub dalam Al-Quran: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujaraat [49]:13). Dengan taqwa, orang miskin akan disegani. Dengan taqwa, orang yang tidak punya gelar, akan dihargai. Dengan taqwa, orang biasa, akan dihormati.
Selanjutnya, taqwa sebagai jalan memperoleh ilmu. Kalau kita membaca siroh nabi dan kehidupan para sahabatnya, maka kita akan menemukan kebiasaan mengamalkan ilmu, bukan mengumpulkan ilmu. Mereka tidak mau menambah hapalan Al-Quran lebih dari 10 ayat, sebelum mereka mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ilmu yang sedikit, tapi langsung diamalkan itu, lahirlah generasi unik, cerdas, dan menakjubkan.
Mengapa hal itu terjadi? Sebab, yang mengajari mereka, bukan hanya manusia, tapi Pencipta manusia. Ini ditegaskan oleh Allah Swt: "Dan bertaqwalah kepada Allah; maka Allah akan mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 282) Bahkan dalam sebuah hadis, nabi Muhammad Saw menegaskan bahwa man 'amila ma 'alima, warotsahullah ma lam ya'lam (Barang siapa yang mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui). Subhanallah, adakah guru yang lebih baik dibandingkan Allah Swt?!
Adapun taqwa sebagai solusi sekaligus cara mendapat rizki, ditegaskan oleh Allah Swt, dalam ayat ini: "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya". (QS. Ath-Thalaq [65]:2) Dalam ayat 4, Allah berfirman: "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya".
Betapa banyaknya, orang yang dihadapkan dengan persoalan hidup, namun tiba-tiba menemukan solusi setelah melaksanakan sholat dua raka'at (sebagai manifestasi taqwa) meminta kepada Allah Swt., agar diberi jalan keluar. Mungkin Anda pernah mengalaminya?
Itu sekilas tentang taqwa. Sekarang mari kita memasuki pembahasan disiplin. Menurut saya, antara taqwa dan disiplin bermakna sama: sama-sama ta'at aturannya. Hanya perbedaannya, kalau taqwa aturan itu datang dari Allah, sedangkan disiplin datang dari manusia.
Sedikit kita selami kata "disiplin". Kata ini serapan dari bahasa Inggris, akar katanya disciple. Lebih jauhnya lagi, kata disciple sendiri berasal kata discipulus dalam bahasa Latin. Kedua kata —disciple dan discipulus— itu, bermakna sama, yaitu murid; pengikut. Kata murid itu sendiri, masih kata serapan asing, dari bahasa Arab, artinya: orang yang punya keinginan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin memiliki 3 arti: (1) tata tertib; (2) keta'atan (kepatuhan) kepada aturan (tata tertib); dan (3) bidang studi yang memiliki objek, sistem, dan metode tertentu. Jadi, disiplin adalah mengarahkan keinginan kita agar sesuai aturan.
Bila kita bertaqwa sekaligus disiplin, maka telinga kita tidak liar; mata kita tidak liar; pikiran kita tidak liar; hati kita tidak liar; mulut kita tidak liar; kaki kita tidak liar; dan seterusnya. Semuanya terfokus pada satu titik, yaitu Allah Swt.. Ini bukti bahwa kita mencintai Allah sekaligus mencintai diri kita sendiri. Maka Allah pun akan mengungkapkan cinta: "(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janjinya dan bertaqwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran [3]: 76)
Lantas, apa yang terjadi jika Allah telah mencintai seseorang? Apakah mungkin Allah akan membiarkan dalam keadaan lemah --lemah ekonomi, lemah ilmu, dan lemah keturunan? Apakah Allah akan tega menyaksikan hamba yang Dia cintai bergelimangan dalam kekurangan? Tentu saja tidak!
Dari pamaran singkat saya itu, dapat kita fahami, mengapa sebelum Allah meletakkan taqwa setelah khawatir memiliki keturunan lemah dan tidak sejahtera, sebab --seolah-olah-- Allah ingin mengatakan bahwa tingkat mungkin orang yang ta'at aturan-Nya (taqwa) dan ta'at aturan manusia (disiplin) akan lemah dan tidak sejahtera. Suatu hal yang mustahil orang bertaqwa --yang mulia di sisi Allah, dapat pengajaran Allah langsung, dan selalu diberi solusi-- bisa lemah dan tidak sejahtera? Kalau sampai saat ini kita masih lemah dan tidak sejahtera, itu bukan salah Allah, tapi salahkan diri, sebab belum taqwa dan disiplin dalam hidup ini!
Oleh sebab itu, dalam kontek tema utama kita --pendidikan anak-- sebaiknya, sebelum mengajarkan sesuatu kepada anak kita, maka mari kita ajarkan makna taqwa dan disiplin kepada anak kita sedini mungkin. Bagaimana caranya? Insya Allah, dalam tulisan-tulisan saya berikutnya, akan kita bahas bersama.
Oleh: Udo Yamin Majdi
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisa [4]: 9)
Bismillah. Selemah apapun; semiskin apapun; sebodoh apapun orang tua, pasti mereka ingin anak mereka tidak seperti mereka, melainkan ingin punya anak yang kuat dan sejahtera. Begitu juga saya, dan mungkin juga Anda, ingin punya anak melebih apa yang telah kita capai saat ini.
Persoalannya adalah bagaimana cara anak kita meraih melebih kesuksesan kita? Jawabannya ada dalam firman Allah di atas. Dengan jelas, ayat itu mengingatkan kita akan sebuah tanggungjawab. Dan tanggungjawab itu bernama mendidik anak. Jadi, caranya cuma satu: DIDIKLAH ANAK KITA!
Diawali dengan kalimat "dan hendaklah takut kepada Allah", Allah ingin menegaskan kepada kita, bahwa pertanggungjawaban dari proses pendidikan anak kita, bukan kepada siapa-siapa, tapi hanya kepada-Nya. Betapa seringnya, saya mendengar pertanyaan orang tua: bagaimana ya, caranya agar anak saya jadi anak pintar, anak kreatif, anak mandiri, dan seterus? Sayangnya, mereka melupakan pertanyaan ini: bagaimana cara mendidik anak sholeh-sholehah?
Mereka berlomba-lomba menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang berlabel "wah" dan bayaran setinggi puncak Himalaya. Kalau tujuan agar anak-anak mereka pintar, mungkin bisa saya mafhumi. Tapi yang membuat saya geleng kepala adalah sikap mereka seperti sikap para pembeli di Pasar Senen Jakarta: lebih baik membeli baju palsu seharga 500 ribu rupiah, dibandingkan baju aslinya seharga 50 ribu rupiah, atau lebih baik shoping di Singapur daripada belanja di Singaparna [Tasikmalaya, kampung halaman Galih tuh!] Jadi masalahnya di mana? Masalahnya ada pada kata ini: GENGSI.
Gengsi dong, kalau anaknya belajar di sekolah biasa, meskipun bermutu. Lebih mirisnya, mereka pandang sebelah mata lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren. Gengsi mereka baru rontok, tatkala anak-anak mereka terampil tawuran, kecanduan narkoba, dan terjerat free sex. Dan lucunya, akhirnya mereka memelas dan menitipkan anak mereka di pesantren. Mungkin dalam bayangan mereka, pesantren adalah "bengkel" untuk memperbaiki anak mereka yang telah "bonyok".
Ya, gengsi itu muncul manakala keputusan kita lebih dominan dipengaruhi oleh citra sosial, atau lingkungan (environment). Gengsi terjadi tatkala kita berpusat kepada manusia (antropo-sentris), bukan hanya merujuk pada penilaian Allah Swt. (Allah-sentris). Jadi, makna kalimat "dan hendaklah takut kepada Allah", seolah-olah Allah menegur kita: "Ngapain pusing sama penilaian manusia, cukuplah dengan mencari perhatian-Ku saja!"
Apakah karena kita ingin mendidik semata-mata karena Allah Swt., lantas kita tidak perlu memperhatikan tentang kecerdasan, kemandirian, dan kreatifitas anak kita? O tentu tidak! Justru Allah ingin menjadi tiga hal --cerdas, mandiri, dan kreatif-- itu berada di atas pondasi yang kuat. Sebab jika tidak, maka ketiga hal itu akan mudah runtuh. Dan pondasi itu kita sebut Dienul Islam.
Agama yang kita yakini itu, perpaduan dari tiga hal: Ilmu, Iman, Amal. Menurut saya, ujung dari ilmu adalah cerdas, betapa tidak, ilmu dalam Islam tidak sekedar mengajarkan sesuatu yang bisa dicerap oleh panca indera saja, melainkan menerobos jauh di balik realitas dunia ini, alias alam ghaib. Ujung dari iman adalah mandiri, sebab semakin kita hanya menggantungkan diri kepada Allah saja, maka kita akan semakin mandiri di hadapan manusia. Dan ujung dari amal, adalah kreatifitas. Bukankah Allah meminta kita untuk kreatif [bekerja], lalu Dia, rasul-Nya, dan orang beriman akan melihat karya kita?
Maka subhanallah, dalam ayat itu Allah mengemukakan bahwa kita harus khawatir memiliki anak yang "lemah" dan "tidak sejahtera". Bukankah ini sebuah seruan untuk menguasai urusan dunia --kuat dan kaya? Sebagai umat Islam, yang mayoritas tinggal di negara berkembang, kita terkapar tak berdaya dan terlilit kemiskinan di hadapan kepongahan dan keserakahan Amerika Serikat.
Dengan kata lain, untuk saat ini yang memiliki "power" dan "kesejahtraan" itu adalah Negara Paman Sam. Oleh sebab itu, menurut saya, setelah mendidik anak kita dengan ilmu, iman, dan amal, maka kita harus mendidik buah hati kita secerdas mungkin, semandiri mungkin, dan sekreatif mungkin, agar bisa menyaingi imperium Barat itu.
Lalu, bagaimana cara kita mendidik anak seperti itu? Kuncinya ada dua, pertama: Disiplin, dan kedua: Komunikasi. Dari mana saya punya kesimpulan ini? Ya dari mana lagi, kalau bukan dari ayat di atas. Saya sungguh kagum dengan "gaya bahasa" dalam firman Allah Swt itu.
Pada ayat tersebut, Allah memakai "fi'il mudhari" (kata kerja sedang berlangsung) dan didahului "lam al-amri" (hiruf lam perintah, melalui kata ini: "Falyattaqullahi" (Hendaklah kalian bertaqwa), bukan dengan kata perintah: "Fattaqullah" (Bertaqwalah). Begitu dalam kalimat selanjutnya, "Walyaquulu qawlan sadidan" (Hendaklah kalian berkata dengan benar), tidak memakai kata: "Quuluu qawlan sadidan" (Berkata benarlah kalian!).
Apa makna dari semua itu? Wallahu a'lam. Cuma izinkan saya menyampaikan pemahaman saya. Kalau Allah memakai fi'il amr (kata perintah), itu akan bisa bermakna "satu kali", beda kalau memakai fi'il mudhari, di sana ada makna "al-istimroriyah" (kontinunitas; berkelanjutan; terus menurus; tiada henti). Dengan demikian, seolah-olah Allah ingin menegaskan kepada kita agar "taqwa" dan "berkata benar" bukan hanya kadang-kadang, apalagi hanya "sekali" {seperti para artis main bingtang film atau tampil dalam acara di bulan suci Ramadlan), melainkan kita terus-menerus tiada henti dalam koridor taqwa dan berkata benar, ini yang kita kenal dengan kalimat integritas [tindakan sesuai dengan ucapan] dan kejujuran [ucapan selaras dengan perbuatan].
Trus, apa hubungan penjelasan itu dengan dua kunci utama --disiplin dan komunikasi-- yang menjadi tema besar dalam diskusi kita kali ini? Sabar, atuh! [hehehe, makai "atuh" segala, kayak orang Sunda aja, padahal orang sebrang, alias Sumatra sana]
Baik, mari kita lanjutkan. Sebelumnya, saya ingin bertanya kepada Anda: 1) mengapa setelah Allah menegur kita supaya khawatir memiliki keturunan lemah dan tidak sejahtra, tiba-tiba Dia berpesan dengan taqwa dan berkata benar?; 2) apa hubungan antara taqwa dan berkata benar dengan disiplin dan komunikasi?
Silahkan Anda cari jawabannya. Dan dengan berat hati, sembari mohon ma'af sebesar-besarnya, diskusi kita hari saya akhiri. Sebab, selain adzan Dhuhur sudah bersautan di Negeri Seribu Menara, saya juga ada rapat instruktur untuk Leadership Intermedite Training (LAT) bersama teman-teman PII Mesir. [hihihi, mungkin Anda bilang: "Yah udo, bikin saya jadi penasaran aja!]
Insya, diskusi ini, akan saya sambung dengan judul: "DUA KUNCI UTAMA MENDIDIK ANAK". Oke??
Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi Wassalamu'alaikum Wr Wb
Cairo, Kamis 13 Maret 2008
Oleh: Udo Yamin Majdi
"Bagaimana caranya mendidik anak agar mampu mendengar ucapan orang dewasa?" Ini adalah pertanyaan Aline --seorang members milis sekolah-kehidupan@yahoogroups.com-- ketika saya memposting tulisan berjudul: "[Serial Anak Pahlawan 2]: 7 Hal Penting Mendidik Anak" di milis itu. Memiliki anak yang penurut, memang idaman para ortu. Hanya saja, satu hal yang harus kita pahami, seorang anak, berapapun umurnya, memiliki keinginan tersendiri. Dan keinginan itu sangat berbeda dengan keinginan orang dewasa. Dari sinilah, terjadi perbedaan keinginan antara anak dan orang dewasa. Ini sebenarnya hal yang biasa dan tidak jadi masalah jika kita sebagai orang dewasa mampu meresponnya dengan baik. Namun yang sering terjadi malah kita tanggapi dengan salah: kita tidak mau memahami keinginan sang anak dan memaksa anak untuk ikut keinginan kita. Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya adalah karena orang dewasa tidak memahami tahapan mendidik anak.
Sebelum saya menjawab pertanyaan Aline, alangkah lebih baik jika kita, sekilas mengetahui tujuh tahapan mendidik anak, sekaligus fase perkembangan psikologi manusia, yaitu: 1) fase sebelum lahir (marhalah ma qabla al-wiladah); 2) fase menyusu (marhalah ar-rodho'ah); 3) fase anak-anak (marhalah hadhonah); 4) fase puberitas (at-tamyiz aw ath-thifulah akhir); 5) fase pemuda (al-bulugh wa asy-syabab); 6) fase dewasa (al-asyad wa ar-rasyid); dan fase lanjut usia (asyaikhukhoh) [insya Allah, "7 Fase Pendidikan", akan saya bahas dalam tulisan selanjutnya].
Baik, mari kita jawab pertanyaan Aline. Karena yang diminta oleh Aline adalah pengalaman saya, maka dalam merumuskan kiat-kiat agar anak menuruti kata-kata kita, saya ambil dari pengalaman saya dalam mendidik kedua anak saya. Anak pertama bernama Abdurrahman Vira El-Fatih, saat ini berumur satu tahun sebelas bulan, tanggal 17 Maret 2008 nanti, genap dua tahun. Sedangkan anak yang kedua bernama Fathin Vira Rahima, putri saya ini sekarang berumur tujuh bulan. Berdasarkan pengalaman mendidik dua permata hati saya itu, saya berbagi kiat berikut ini:
# Kiat 1: Ajak Main.
Seorang anak, terutama balita, tatkala ingin mengungkapkan keinginannya, adalah menangis. Makna menangis bagi seorang bagi, tidak tunggal seperti orang dewasa sebagai simbol ketersentuhan hati --baik itu sedih, atau bahagia, melainkan bermakna banyak, bisa jadi tangisan itu untuk memberitahu bahwa ia lapar, kencing, buang air besar, ada binatang (misalnya semut) yang menggigitnya, merasa gerah, dan seterusnya. Manakala ortu tidak memahami bahasa atau simbol perasaan bayi ini, di sinilah terjadi konflik antara anak. Satu sisi bayi menangis karena ingin sesuatu, namun di sisi lain, ortu tidak ingin mendengar tangisan.
Untuk mengetahui makna tangisan itu, hendaknya kita melihat kemungkinan-kemungkinan penyebab anak kita menangis. Lama kelamaan kita akan mengerti dan punya naluri sendiri, apa sebenarnya yang dibutuhkan oleh anak kita. Apalagi kalau kita rajin memperhatikan, memikirkan, bahkan mencatat kapan anak kita menangis.
Dalam bulan-bulan awal ketika saya memiliki anak, saya dan isteri saya, mencoba mencatat jam-jam anak kami menangis. Lalu, kami ingat apa yang membuat anak kami berhenti menangis. Misalnya, menangis pukul 08:00 pagi, ternyata setelah kami lihat popoknya, ternyata buang air besar. Atau, pukul 16:00 sore, menangis lagi, ternyata baru diam kalau dikasih susu. Begitu seterusnya, sehingga kami hapal, makna tangisannya. Ini tentu, sangat erat pola kita memberikan susu atau makanan, apakah teratur atau tidak. Kalau teratur, maka kita akan mudah memprediksi kapan anak kita lapar, pipis, buang air, dan seterusnya.
Masalah selanjutnya adalah bagaimana kalau anak kita tiba-tiba menangis, sedang kita sama sekali tidak memahami penyebabnya dan kita ingin anak kita menurut siapa diam? Cara yang mudah adalah ajak anak kita bermain. Bagi seorang anak bermain adalah segalanya. Sebab, bermain adalah dunia bagi mereka. Bermain adalah belajar, bekerja, dan kehidupan anak.
# Kiat 2: Alihkan Perhatiannya.
Apa yang Anda rasakan bila anak membanting-banting HP kesayangan Anda? Atau, memukul-mukul komputer/lap top Anda? Saya kira, siapapun akan marah jika barang kesayangannya ada yang ingin merusaknya.
Begitulah yang terjadi dengan saya. Komputer saya sudah tiga kali ganti power suply, gara-gara komputer sering ia matikan mendadak. Key board tiga kali ganti, karena sering dipukulnya. Hp isteri saya hancur, dibanting anak saya. Dua telpon rumah rusak, karena sering dilempar. Empat Al-Quran kesayangan ia robek-robek. Kamus yg menemani saya dan isteri belajar, udah gak jelas bentuknya. Dan masih banyak lagi barang-barang kami, dirusak oleh anak kesayangan kami.
Apakah saya dan isteri tidak berusaha menyelamatkan benda-benda itu? O tidak! Kami sudah antisifasi semuanya. Tapi, entah dari mana anak saya itu punya ide untuk melakukan sesuatu di luar bayangan kami. Misalnya, untuk mengambil Hp yang kami letak di atas meja, anak saya itu mencari kursi, kardus, atau buku ia tumpuk, supaya bisa menjangkau Hp itu. Atau, keyboard saya tarok di atas monitor, ternyata dengan segala cara, ia bisa naik dan mengambilnya. Begitu seterusnya, anak kami melakukan sesuatu di luar dugaan, bahkan tidak masuk dalam otak kami.
Nah, biasanya, kalau dia sedang asik memainkan benda-benda itu, lalu kita ambil, apalagi kita rebut tanpa kompromi, ia akan menangis. Ini dilema bagi kita, apakah barang kesayangan kita rusak, atau kita biarkan menangis? Tentu saja, keduanya bukan pilihan yang baik. Kita ingin barang kita tidak rusak dan anak kita tidak menangis. Caranya adalah alihkan perhatiannya. Misalnya, ia sedang merusak kamus kita, maka alihkan dengan buku kesayangannya. Ia akan melepaskan barang yang ia pegang, kalau kita menawarkan barang yang lebih menarik baginya.
# Kiat 3: Rayu dan bicara dengan baik-baik.
Untuk anak yang sudah bisa bicara, atau minimal sudah memahami apa yang kita bicarakan, maka solusi ini tentu saja perlu kita coba. Anak saya, hampir 2 tahun itu, baru bisa melafadzkan beberapa kata, tapi ia sudah faham apa yang kami bicarakan. Ia bisa menyebutkan satu persatu anggota tubuhnya. Ia juga sudah mengerti, kalau kami suruh menutup pintu, mengambil kursi, membawakan buku, membuang popoknya, dan seterusnya.
Ketika anak tertua saya merebut mainan atau barang milik adiknya, tempat duduk, sepatu, sendal, bahkan jilbab, maka saya rayu dan bicarakan baik-baik bahwa itu milik adiknya. Lucu memang, anak tertua saya ini laki-laki, tapi ia sering merebut jilbab mungil milik putri saya. Bukan untuk ia mainkan, tapi ia ingin memakainya seperti adik dan bundanya. Biasanya, saya rayu, bahwa itu milik adiknya dan barang itu khusus untuk adiknya yang perempuan. Wallahu a'lam, apakah dia benar-benar faham dengan rayuan saya atau tidaknya, yang jelas acapkali ia mengikuti perkataan saya.
# Kiat 4: Bernegoisasi.
Di dinding ruang tamu, saya tempel dua poster untuk anak saya belajar, satu tentang Al-Arqom (Number), satu lagi tentang Al-Wudhu' (Ablution) dan Ash-Sholah (Prayer). Dua poster ini bergambar dan memakai bahasa Arab-Inggris. Sedangkan di kamar tidur anak saya, saya tempel poster Huruf al-Hijaiyyah al-Mashowwaroh (Huruf Hijaiyah bergambar) berbahasa Arab dan poster My First ABC berbahasa Inggris. Keduanya juga penuh dengan gambar. Saya juga menyediakan buku-buku khusus anak kecil yang bergambar. Nah, inilah media saya untuk mengajari anak-anak saya tentang nama-nama benda, binatang, buah-buahan, dan angka.
Selain itu, saya pergunakan apa saja yang ada di sekitar kami, untuk belajar. Misalnya dinding, kursi, komputer, karpet, buku, sapu, dan seterusnya. Bahkan, kalau saya beli keperluan dapur, saya pergunakan untuk media mengajar. Misalnya, tomat, bawang, cabe, kentang, dst. Untuk awal, hanya belajar mengenal nama-nama benda itu, belum untuk sarana matematika --berhitung: menambah, mengurang, mengalikan, membuat himpunan, distribusi, dst.
Cara saya menguji seberapa jauh daya serap anak saya itu, maka saya sering menanyakan kembali apa yang telah saya ajarkan. Kadang ia mau menuruti permintaan saya, namun lebih sering ia punya keinginan sendiri dan tidak mau memenuhi permintaan saya. Oleh sebab itu saya memikirkan, bagaimana caranya, supaya keinginan saya bisa dipenuhi oleh anak saya?
Tercetuslah ide untuk bernegoisasi. Iya, anak saya dalam beberapa bulan ini, paling suka diajak keluar rumah. Bahkan setiap hari, ia memaksa saya [gimana gak saya bilang maksa, kalau ia menangis supaya saya ganti bajunya, pakaikan sepatu, dan topinya, lalu ia ambil sendal saya dan meminta saya buka pintu, setelah itu ia suruh saya makai sandal, terus mengajak saya turun dari apartemen] untuk jalan-jalan. Ini dia, pikir saya, dia sangat ingin keluar, sedangkan saya sangat ingin anak saya terus belajar.
Makanya, setiap mau keluar rumah, ada ritual test atau ujian terhadap anak saya. Saya suruh ia menunjukan nama-nama yang saya minta, mulai dari hidung, mulut, mata, telinga, tangan, kaki, rambut, pantat, dan seterusnya. Saya juga minta ia mempraktekan bagaimana cara takbir sholat, berdo'a, dan seterusnya. Bahkan saya minta akting, saya berkata: "Aa ganteng gimana?" Secara spontan ia akan mengedip-ngedipkan mata secara genit. Dan terakhir, ia akan mempraktekan "Kiss bye" [ini bukan saya yg ngajar, tapi teman-teman mahasiswa], ia tempelkan tangan kanan di mulutnya, lalu sambil mengulurkan tangan ke depan, lalu memoyongkan bibir dan berkata: "Mmmuaaaaaaaaaaah!!" Dan kami pergi sembari ia melambaikan tangan ke isteri saya.
Al-hamdulillah, semua permintaan saya, anak saya turuti. Mengapa? Sebab, saya bilang: "Kalau mau buya ajak main, syaratnya belajar dulu ya. Jika enggak mau, maka enggak ada acara main!" Ini bukan sebuah ancaman, tapi saya ingin mengajarkan kepada anak saya, kalau keinginannya ingin kami turuti, maka penuhi dulu keinginan saya dan isteri saya. Di sinilah kepintaran kita bernegoisasi tertantang.
# Kiat 5: Beri contoh
Pada dasarnya, seorang anak penurut. Lalu, mengapa ia sering tidak mau menurut? Ada banyak kemungkinan, diantaranya, mungkin ia tidak faham apa yang kita perintahkan atau minta, atau ia tidak tahu cara melakukannya.
Oleh sebab itu, sehubungan dengan kemungkinan kedua, maka kita perlu memberikan contoh (uswah). Bahkan tanpa kita sadar, semua yang kita lakukan adalah dalam rangka memberi contoh. Saya perhatikan, apa yang dilakukan anak saya, sebenarnya ia ingin mempraktekan apa yang ia lihat. Mengapa ia sering memijit-mijit huruf di keyboard? Sebab, ia sering melihat saya mengetik. Mengapa ia memainkan telpon atau HP? Karena sering melihat saya dan isteri menerima telpon. Bahkan saat ini, anak saya, bermain seperti sedang memasak, memotong bumbu, dan seterusnya. Karena ia melihat bundanya masak.
Yang paling seru adalah tatkala saya dan isteri membuat "Susu Soya" [susu terbuat dari kedelai]. Susu soya yang dicampur pewarna hijau dengan rasa pandan pasta harus kami buang, gara-gara kreatifias anak saya. Tatkala kami ganti baju untuk silaturahmi ke teman yang baru saja melahirkan, tiba-tiba anak kami hilang dari kamar. Setelah kami cari-cari, ternyata ada di dapur sedang menuangkan minyak goreng bekas dan mengaduk-aduk susu soya itu. Ya allaaaaaaaah, ini anak, bikin gemesin aja!! Akhirnya, susu soya dua botol Aqua yang akan kami berikan untuk teman melahirkan harus kami buang di wastafel. Gimana, siap punya anak seperti ini?
Nah, cara agar anak kita menuruti apa yang kita minta, maka berilah contoh dulu. Insya Allah, kalau kita lakukan, maka ia akan mudah melakukannya. Contohnya, setiap saya sholat, anak saya ajak untuk sholat. Maka al-hamdulillah, ketika kami minta ia mempraktekan cara sholat, maka dengan mudah ia lakukan, meskipun umurnya belon dua tahun dan belum bicara.
# Kiat 6: Mengalahlah!
Ini dia cara yang mudah untuk mengajari anak kita agar jadi anak penurut: mengalahlah! Kita mengalah bukan kalah. Kita mengalah bukan menghilangkan keinginan kita. Kita mengalah bukan kita lemah atau tidak mampu. Kita mengalah untuk mengajarkan kepada anak kita untuk menghargai keinginan orang lain. Kita sedang mengajarkan untuk menuruti keinginannya, supaya nanti ia menuruti keinginan kita.
Tapi kiat ini --mengalahlah-- akan bisa kita lakukan, jika kita memang tidak sibuk. Masalah, jika anak kita ingin sesuatu sedangkan kita sedang ada kerjaan bahkan tugas penting. Anak saya acapkali memutuskan aktifitas saya menulis. Di saat ide saya lagi mengalir dan ingin segera saya tuliskan, eee... anak saya datang minta untuk saya temani, baik itu melihat-lihat buku gambarnya supaya saya menyebutkan nama-nama binatang yg ada dalam buku itu, atau ia minta saya membuat istana, menara, atau bentuk lain, dari balok-balok mainannya, atau ia minta saya menjadi kuda, sedangkan ia jadi jokinya, atau minta saya mendorong sepeda dan mobilnya, ah segalanya ia ingin saya temani. Nah, pilih mana, anak atau nulis? Biasanya saya ngalah, milih anak saya. Termasuk membuat tulisan ini, beberapa kali saya hentikan, karena anak saya mengajak main.
Mungkin Anda bertanya, di mana isteri saya? Isteri saya selain ngurus anak kedua saya, urusan rumah tangga, dan lain sebagainya, anak laki-laki saya ini, sangat lengket dengan saya. Mengapa? Karena sejak kecil sampai saat ini selalu bersama saya. Anak pertama saya lahir dengan operasi caesar. Minggu-minggu pertama, saya ngurus dua bayi: satu anak saya, satu isteri saya. Beberapa bulan kemudian, setiapkali anak saya minta digendong, apalagi keluar rumah, maka saya yang gendong, karena perut --bekas jahitan operasi-- sering sakit kalau isteri saya gendong anak atau mengangkat barang berat. Ditambah, sejak anak kedua lahir, anak pertama tidur barengan dengan saya. Akhirnya, segala sesuatu kebutuhan anak saya itu, sering minta ke saya, daripada kepada isteri saya. # Kiat 7: Marah dengan bijak.
Setelah saya menceritakan segala ulah anak kami itu, mungkin Anda bertanya, apakah saya marah? Ya, saya marah, tapi saya tahan. Bahkan kalau isteri saya memarahi anak kami, saya tegur: "Bunda, jangan marahi Aa dong, kalau buku robek, Hp/telpon rusak, komputer rusak, dan hilang benda, itu masih bisa kita beli lagi, tapi kalau yang hilang potensi kreatif dan rusak hati anak kita, mau beli dimana?" Biasanya, kalau saya bilang seperti itu, isteri saya langsung mafhum.
Iya, bagi saya apa yang dilakukan oleh anak saya itu adalah bukti bahwa ia belajar dan berkembang. Ketika orang bilang itu sebuah kenakalan, maka saya tegur, itu bukan nakal, tapi kecerdasan, kreatifitas, dan usaha anak saya untuk mandiri. Bagi saya, tidak ada istilah nakal bagi anak di bawah tujuh tahun. Semuanya yang ia lakukan adalah benar, setidaknya benar menurut anak-anak. Benar-salah itu hanya berlaku bagi anak yang telah sempurna akalnya atau baligh. Oleh sebab itu, untuk apa marah?
Hanya saja, ada hal-hal yang memang mengharuskan saya marah. Bahkan marah ini wajib, sebab ini sebuah pembelajaran, sehingga anak tahu seperti apa marah itu. Jika kita tidak pernah marah, maka anak kita tidak pernah akan tahu, tentang marah. Ini berbahaya, bagi perkembangan pskologi anak kita.
Oleh sebab itu, saya dan isteri punya kesepakatan: 1) kami akan marah, kalau anak kami itu mengganggu adiknya (mencubit, menggigit, menginjak, dst); 2) ketika saya marah, maka isteri saya harus tampil sebagai pembela, sebaliknya, saat isteri saya marah saya harus membelanya; dan 3) untuk membedakan tingkat kemarahan kami gunakan diksi yang berbeda, untuk yang biasa makai kata "jangan", sedang "tidak boleh", dan besar "La ah!!" (Ini bahasa 'ammiyah Mesir).
Dengan kesepakatan itu, alhamdulillah, anak kami secara psikologis, tidak merasa tertekan, bahkan mungkin ia berpikir, bahwa marahnya kami bukan karena benci, tapi memang ada hal yang seharusnya tidak ia lakukan, sehingga ia tidak mau mengulanginya lagi. Ia juga merasakan bahwa kasih sayang kami sama, sebab ia tahu saya tidak selamanya memarahinya, tapi juga tidak selamanya membelanya, begitu juga dengan isteri saya. Untuk diksi --pilihan kata, ini untuk melatih kecerdasan anak kita dalam memahami perasaan kita. Ingat, bahasa adalah simbol perasaan. Biasanya, anak saya tidak akan nangis kalau kami bilang "jangan" dan "tidak boleh", tapi ia akan menangis sejadi-jadinya, kalau mendengar kata "La ah!"
Sulitnya, kalau anak kami sedang main di luar atu di rumah teman. Karena teman tidak tahu aturan main kami memarah anak kami, tiba-tiba teman saya mengatakan "la ah" untuk melarang, bukan marah, maka anak saya akan nangis. Setelah saya jelaskan kepada teman-teman saya, maka alhamdulillah, mereka mengerti dan tidak mau mengatakan "La ah" di depan anak saya.
Itulah 7 kita agar anak kita menuruti kemauan kita. Intinya, fahami kemauan dan turuti kemauan mereka dulu, baru nanti mereka mau menuruti kita. Mudah-mudahan pengalaman ini bermanfa'at dan memberikan inspirasi, motivasi, serta ilmu baru untuk mendidik anak-anak Anda. Kalau ada yang keliru, tolong luruskan. Jika ada kekurangan, tolong tambah. Satu hal yang perlu kita camkan adalah setiap anak unik, maka cara menghadapinya juga akan unik. Siapa tahu 7 kiat ini efektif bagi saya, belum tentu efektif untuk anak Anda. Maka berusalah menemukan cara-cara baru dalam menghadapi anak Anda. Oke?
Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi
Cairo, 28 Februari 2008
NB; Afwan, jika tulisan ini tidak beraturan, karena saya tulis langsung di MP dengan cepat [sebab ada tugas lain] dan belum saya baca ulang, apalagi saya edit.
Oleh: Udo Yamin Majdi
“Ingatlah Puzzle!” kata Gordon Dryden, “akan jauh lebih mudah jika Anda melihat gambar keseluruhannya lebih dahulu.” Memulai sesuatu dengan gambaran menyeluruh, akan memudahkan kita untuk memahaminya. Begitu juga halnya, dalam memahami masalah pendidikan anak, akan akan lebih jelas, bila kita susun dalam sebuah struktur. Dengan kata lain, sebaiknya kita bicarakan hal-hal yang global dulu baru kemudian kita beranjak kepada hal-hal yang detail.
Untuk itu, dalam pertemuan kedua ini, kita mencoba melihat secara sekilas komponen atau unsur-unsur yang membangun proses mendidik anak menjadi pahlawan. Setidaknya, menurut saya, ada tujuh hal yang benar-benar harus kita fahami sebagai orang tua dalam mendidik anak.
Pertama, memahami sekaligus memilih sistim pendidikan anak. Mendidik anak butuh keyakinan. Dan keyakinan tidak pernah tumbuh bila tidak memiliki pijakan jelas. Sedangkan agama salah satu fungsinya adalah sebagai pijakan hidup. Oleh sebab itu, sebagai orang beragama, dalam mendidik anak, kita harus bersandar dengan sistim pendidikan yang sesuai dengan agama kita. Jika tidak, maka baik kita sebagai ortu maupun anak-anak kita, akan mengalami split personality; pribadi yang terpecah, atau memiliki kepribadian ganda. Dalam bahasa Islamnya, pribadi munafik (hipokrit).
Di tengah serbuan pemahaman semua agama benar (pluralisme agama), semua agama tidak benar (nihilisme), tidak ada tuhan (Ateis), faham memisahkan agama dari kehidupan (sekulerisme), dan sangat ekstrem dalam memahami Islam (terlalu liberal, dan terlalu dogmatis), tentu saja pilihan kita mendidik anak berdasarkan agama yang kita yakini, bukan sesuatu yang mudah. Tanpa memahami Islam dengan benar, maka kita akan mudah terombang-ambing, bahkan tanpa kita sadari muncul ketakutan terhadap Islam.
Tidak sedikit saya mendengar curhat ibu rumah tangga yang menceritakan bahwa ia bertengkar dengan suaminya sebab suaminya tidak setuju anaknya di sekolah Islam, karena khawatir anaknya "terlalu Islami", padahal pasangan suami-isteri itu adalah muslim. Atau, suatu ketika, saya dan teman-teman membimbing para remaja. Dalam bimbingan itu, kami jelaskan materi kewajiban menutup aurat terutama memakai jilbab bagi wanita. Al-hamdulillah, hampir 100% anak didik kami itu mau makai jilbab. Namun di tengah membuncahnya rasa bahagia itu, tiba-tiba ada orang tua datang berbicara: "Jangan ajarin anak kami Islam yang keras!"
Mengapa hal itu terjadi? Sebab, orang tua tidak mau memahami ajaran Islam langsung dari sumbernya, Al-Quran dan Al-Hadis. Sebaliknya, hanya mendengarkan perkataan orang, media massa, dan dari orang-orang yang memang tidak suka terhadap Islam. Diperparah lagi, jika mereka memeluk Islam karena keturunan, bukan berdasarkan pencarian atas kebenaran, proses panjang, dan pilihan hidup. Ini yang kita kenal dengan Islam KTP. Jadi, jangankan mereka memahami sekaligus memilih sistim pendidikan dalam Islam, sebab memahami sekaligus memilih Islam saja tidak mereka lakukan.
Sistim pendidikan Islam (manhaj at-tarbiyah al-islamiyah), sangat berbeda dengan sistim pendidikan yang lainnya. Ciri khas Manhaj tarbiyah Islamiyah sejalan dengan ciri khas Islam. Sedangkan ciri khas Islam, diantaranya: Rabbâniyah (sistem rabbani), Tauhid (bersumber dari ajaran Keesaan Allah Swt), Tsabat (permanen/tetap dalam prinsip), Syamûl (universal), At-Tawâzun (seimbang), Al-Ijâbiyah (konstruktif), Al-Waqi’iyah (sesuai dengan realita), Sâmiyah (Mulia, tinggi), Mutakâmil (Integral), Istimrâriyah (Berkelanjutan), dan seterusnya.
Singkatnya, ketika kita memilih sistim pendidikan Islam, maka secara otomatis kita harus memahami Islam itu sendiri. Masalah pendidikan bila kita hubungkan Islam akan menjadi sub-sistem, sedangkan Islam sebagai kumpulan dari sistim kehidupan, baik itu sistim idiologi, sistim politik, sistim ekonomi, sistim sosial budaya, maupun sistim pendidikan. Nah, sudahkah kita memilih sistim pendidikan Islam untuk anak-anak kita? Lebih penting lagi, sudahkah kita memahami Islam sebagaimana yang Allah dan rasul-Nya ajarkan? Kedua, memahami fase dan tugas perkembangan anak. Ini sangat penting, sebab sangat erat dengan materi, metode, pola pendekatan, dan semua proses dalam mendidik anak. Misalnya, dalam mendidik anak balita, pola pendekatan audio dan metode bermain lebih efektif, bahkan harus, dibandingkan pola pendekatan dan metode lainnya. Anak berusia sepuluh tahun, kita memakai audio-visual dan metode disiplin. Sedangkan anak berumur dua puluh tahun, kita pakai gaya belajar audio-visual-kinestik dan metode patnership. Begitu seterusnya.
Sebagai orang tua, tentu kita harus sangat memahami tentang anak kita. Namun sayang, terkadang hal ini tidak kita lakukan, dengan alasan sibuk mencari rizki untuk membahagiakan anak-anak kita. Sudah menjadi rahasia umum, bagi ortu yang bekerja di luar rumah dan anak dititipkan dengan pembantu, maka pembantu lebih faham terhadap sang anak dibandingkan dengan ortunya sendiri. Akhirnya, ikatan batin antara ortu dengan anak-anak mereka terputus. Jika ini terjadi, jangan pernah harap pendidikan akan berhasil!
Ketiga, menyadari kemampuan sebagai pendidik. Setelah kita menyadari bahwa kita adalah pendidik utama anak-anak kita, maka selanjutnya kita harus menyadari kemampuan kita dalam mendidik. Kita harus mengukur diri sejauhmana pengetahuan, ilmu, skill, dan waktu kita untuk mendidik anak. Bagi ortu sarjana pendidikan, tidak bekerja di luar rumah, dan harta melimpah, mungkin untuk mendidik anaknya di rumah, hal yang mudah. Sebaliknya, bagi ortu yang tingkat pendidikan menengah ke bawah, banting tulang cari rizki, dan hidupnya "gali lobang tutup lobang", ini suatu hal yang sulit. Nah, dengan memahami kelebihan dan kekurangan kita, maka kita bisa merumuskan strategi dalam mendidik putra-putri kita.
Keempat, memilih wilayah atau tempat mendidik anak. Ini masih berkaitan dengan point ketiga, tingkat kemampuan kita dalam mendidik anak, akan menghadapkan kita pada pilihan-pilihan. Bagi ortu yang kurang menguasai ilmu keislaman sedang mereka sangat ingin anaknya memahami Islam dengan benar, maka ada banyak pilihan, baik itu wilayah informal (mendatangkan guru ngaji ke rumah), formal (menyekolahkan ke madrasah atau ke pesantren), maupun non-formal (menyertaikan anak pada kegiatan keislaman di masyarakat sesuai dengan kelompok umurnya). Bahkan meskipun sudah memilih tiga wilayah itu, masih ada juga yang bingung, misalnya telah memilih wilayah formal, sekolah atau perguruan tinggi mana untuk anaknya?
Kelima, memilih atau merumuskan kurikulum pendidikan. Bila kita mempercayakan pendidikan anak kita jalur formal, sebaiknya kita memahami kurikulum sekolah/pesantren yang akan kita pilih, sehingga kita benar-benar memahami ke arah mana anak kita akan dididik. Untuk sekolah negeri, mungkin tidak terlalu sulit, sebab semuanya akan mengacu kepada kurikulum pemerintah, baik itu KBK maupun KTSP. Beda dengan sekolah swasta, terutama pesantren, memiliki kurikulum tersendiri. Sebaliknya, jika memang kita memilih mendidik anak kita sendiri di rumah (homeschooling), maka kita dituntut untuk merumuskan kurikulum sesuai dengan keinginan kita.
Keenam, merencanakan dan menyiapkan dana pendidikan. Seringkali ortu bercita-cita anaknya sekolah di sekolah terpadu atau kuliah di universitas terkenal, namun kandas karena tidak punya biaya. Sebab, rata-rata sekolah dan universitas bermutu bayarnya sangat mahal. Akhirnya terjadi dilema, apakah memasukan anak ke sekolah atau universitas murah tapi kurang bermutu, atau ke sekolah/universitas berkualitas namun sangat mahal?
Sebenarnya, kondisi itu bisa terelakan, manakala ortu benar-benar merencanakan sekolah/kuliah anak-anaknya. Karena, dalam merencanakan pendidikan anak, tidak sekedar mau ke mana anak sekolah/kuliah, tapi juga memikirkan bagaimana biayanya? Di sini, ortu yang sudah merencanakan pendidikan anak-anaknya, berbeda-beda, ada yang dengan menabung, ada yang menginvestasikan dana pendidikan dalam bentuk usaha, dan seterusnya.
Ketujuh, menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung keberhasilan operasi pendidikan. Hal yang terakhir ini, tak kalah pentingnya, dengan enam hal sebelumnya. Anak-anak yang belajar disertai dengan sarana dan prasarana lengkap dengan yang tidak, hasilnya akan jauh berbeda. Jangan membayangkan sarana dan prasana ini harus beli dan hal yang mewah, tentu saja tidak demikian. Yang penting ortu kreatif menciptakan dan memanfaatkan apa saja, agar kegiatan belajar-mengajar efektif dan efiesien.
Itu saja yang dapat saya sampaikan, insya Allah, akan kita diskusikan secara detail, dalam pertemuan selanjutnya. Kalau ada yang keliru mohon diluruskan. Manakala ada yang yang belum tersebutkan, maka silahkan Anda tambahkan. Intinya, saya ingin mengatakan bahwa apapun latar belakang status sosial, tingkat pendidikan, maupun sebagai bapak atau ibu, kita dituntut untuk memahami masalah pendidikan anak, apalagi kita sebagai umat Islam, kita harus memahami seperti apakah pendidikan yang Islami itu? Wallahu a'lam.
Oleh: Udo Yamin Majdi
Bismillah. Seorang pemanah, jika hanya membidik sasaran tanpa pernah memegang busur dan melepaskan anak panah, maka ia tidak mendapatkan apa-apa, selain hanya kelelahan. Apalagi orang yang tidak pernah membidik dan tidak tahu sama sekali tentang panah dan cara memanah. Sama halnya, orang tua yang memiliki cita-cita tinggi, visi besar, misi mulia, target yang jelas, jika tanpa pendidikan yang terencana, sistimatis, dan berkesinambungan, maka tidak akan memiliki anak yang ia idamkan, justru sebaliknya anak-anaknya, akan menjadi beban hidup dan sumber segala kekecewaan. Na'udzubillahi min dzalik!
Oleh sebab itu, dalam pertemuan kedua ini (setelah pertama kita dengan tema "Prolog Mendidik Anak Menjadi Pahlawan") kita mengambil tema seperti yang saya cantumkan dalam judul di atas. Kita sebagai pemanah, putra-putri kita sebagai anak panah, busur sebagai sarana pendidikan anak, dan sasaran sebagai cita-cita, impian, visi, dan misi kita dalam mendidik anak. Nah, tulisan ini, akan mengajak Anda untuk mendiskusikan tiga hal, satu: sasaran yang kita bidik, alias visi dan misi kita dalam mendidik anak; dua: di mana tempat kita memanah, atau kondisi kita saat ini, apakah sudah menikah atau belum; sudah punya anak atau belum; dan tiga, cara kita membidik atau melepas anak panah, dengan kata lain, kita harus memiliki strategi dalam menjembatani antara visi dan misi kita dengan realitas kita saat ini.
Baik, mari kita bahas satu persatu:
Pertama, Visi dan Misi
Setiap bayi yang lahir, seperti anak panah yang melesat dari busur. Kemana anak panah itu akan menancap, sangat tergantung ke arah mana anak panah itu kita bidikan. Begitu juga dengan nasib hidup anak kita, sangat tergantung dengan visi-misi kita dalam mendidik anak. Visi-misi itu sangat mempengaruhi seluruh keputusan maupun proses apa yang kita lakukan sejak kita memilih pasangan hidup, saat aqad nikah, malam pertama, bulan madu, saat isteri hamil, saat melahirkan, saat memberi nama, saat mendidik anak dari balita hinga dewasa, saat memilih lembaga pendidikan (sekolah/perguruan tinggi), saat menikahkan anak, dan seterusnya.
Dari mana visi dan misi kita dalam mendidik anak itu muncul? Visi dan misi ini, sebagai turunan dari visi dan misi hidup kita atau visi dan misi keluarga. Bagi yang menikah berangkat dari dien (Islam), mungkin tidak terlalu sulit untuk merumuskan visi dan misi itu. Sebab, cara pandang terhadap persoalan besar, seperti masalah ketuhanan (al-uluhiyah), kemanusiaan (Al-insaniyah), alam semesta (al-kawniyah), dan kehidupan (al-hayah), relatif akan sama,apalagi bila keduanya merujuk pada Al-Quran dan As-Sunnah.
Selanjutnya, manakala cara pandang terhadap empat hal itu terselesaikan, baru kemudian menyamakan apa sebenar yang paling mereka berdua inginkan dalam hidup ini. Keinginan bersama inilah nanti akan membentuk visi dan misi keluarga. Dan salah satu poin dari visi-misi keluarga itu adalah visi-misi tentang anak.
Lagi-lagi, jika kita merujuk pada Islam, akan sangat mudah merumuskan visi dan misi tentang anak itu. Sebab, berdasarkan hadis nabi, sebenarnya yang kita cari di dunia ini tidak lebih dari tiga hal, 1) mencari rizki dengan bekerja; mencari ilmu dengan belajar; dan 3) mencari pasangan hidup dengan menikah. Hasil kerja itu seharusnya bisa membantu kita untuk shodaqah jariyah; hasil belajar itu bisa membantu kita untuk menjadi orang yang bermanfa'at; dan hasil menikah itu bisa melahirkan generasi sholeh dan sholehah. Ketika kita meninggal, maka ketiga hal ini, bagi kita akan menjadi bekal mati, sedangkan bagi orang lain akan menjadi warisan.
Jadi, sangat jelas visi dan misi dalam mendidik anak adalah membentuk generasi sholeh dan sholehah. Hanya saja, dalam mengungkapkan dan membahasakan anak sholeh-sholehah itu, setiap orang mungkin akan berbeda, sehingga terkesan beda visi dan misi, padahal sama. Itu sah-sah saja, yang penting hakikatnya, bermuara kepada generasi sholeh-sholehah.
Misalnya, saya dan isteri saya, merumuskan visi keluarga sekaligus visi tentang anak dengan kata ini: Kulluna 'Ibadurrahman (Kami adalah Hamba Allah Yang Maha Pengasih). Dan penjelasan visi ini, telah saya tulis dan posting di milis ini, yang berjudul "Serial Makna Rahmat". Itulah cara saya dan isteri saya dalam memandang empat hal di atas (al-uluhiyah, al-insaniyah, alkawniyah, dan al-hayah).
Dari visi tersebut melahirkan misi kami. Untuk merumuskan misi itu juga tidak sulit, sebab sifat-sifat Ibadurrahman itu telah Allah beritahukan kepada kita dalam Al-Quran surat Al-Furqan ayat 63-77. 1. Rendah hati. 2. Selalu berkata yang baik 3. Tekun dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. 4. Senantiasa berdo'a 5. Tidak royal dan tidak kikir 6. Hanya berTuhankan Allah. 7. Tidak membunuh [makhluk] yang diharamkan Allah. 8. Tidak berzina. 9. Bertaubat secara sungguh-sungguh. 10. Tidak bersumpah palsu. 11. Jauh dari hal-hal yang kurang bermanfa'ah 12. Terbuka telinga dan mata hatinya (terus belajar). 13. Bertanggung jawab atas keturunannya. 14. Menjadi pemimpin berdasarkan ketaatan kepada Allah
Itulah contoh visi dan misi saya dan isteri saya dalam mendidik anak. Silahkan Anda merumuskan visi dan misi dalam mendidik anak!
KEDUA, REALITAS
Kalau visi dan misi berbicara apa yang "seharusnya" kita raih dan waktunya "akan datang", maka realitas membahas tentang "apa adanya" atau "kondisi" kita dan waktunya "saat ini". Dengan memahami realitas kita, ini akan mempengaruhi masalah ketiga (nanti kita bahas), yaitu strategi. Kekuatan yang kita butuh untuk sasaran tembak 10 meter, jelas akan berbeda dengan sasaran tembak 100 meter. Sama halnya dalam menentukan strategi dalam meraih visi dan misi itu, sangat dipengaruhi oleh kondisi kita saat ini. Bila kita telah merumuskan visi dan misi, dan kondisi kita belum menikah, maka akan sangat berbeda ketika kita sudah menikah.
Lantas bagaimana kita merumuskan realitas kita? Kita gunakan analisa SWOT, yang sudah populer diantara kita. Iya, kita tinggal merumuskan kekuatan, kelemahan, peluang, dan rintangan kita dalam meraih visi dan misi kita itu. Kekuatan dan kelemahan berkaitan dengan apa yang ada dalam diri kita, sedangkan peluang dan rintangan berkaitan di luar diri kita. Kekuatan itu misalnya kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia jurusan psikologi anak, memiliki sifat keibuan, dst. Kelemahan, misalnya, sulit mengunkapkan isi hati, suka minder, dst. Peluang, punya suami berprofesi guru, keluarga memiliki lembaga pendidikan, dst. Dan rintangan, tetangga banyak preman, jauh dari karib kerabat, dst.
Dalam merumuskan kekuatan, kelemahan, peluang, dan rintangan, itu sangat erat dengan misi yang kita tetapkan. Bisa jadi, tinggal di pedesaan itu sebagai peluang bila kita menetapkan misi "anak kita terbebas dari budaya hedonis", namun akan jadi rintangan bila kita menetapkan misi "anak kita kuliah di universitas terkenal di ibu kota" Wallahu a'lam bish shawab.
KETIGA, STRATEGI
Strategi dalam memanah, macam-macam. Ada yang sambil berdiri, jongkok, dan tiarap. Dalam mendidik anak pun, setiap orang memiliki strategi yang berbeda-beda. Bagi orang yang kaya berpendidikan tinggi dan tidak bekerja di luar rumah, mungkin strategi home schooling akan lebih mudah baginya, di bandingkan orang tamatan SD yang banting tulang mencari nafkah di luar rumah.
Atau, strategi mendapatkan anak sholeh, bagi yang belum nikah dengan yang sudah nikah juga akan berbeda. Saya merumuskan tentang anak itu, jauh hari sebelum saya menikah. Dua belas tahun sebelum saya menikah. Saya masih ingat, kelas 2 SLTP tahun 1993 saya sudah membayangkan tentang kriteria anak saya nanti, sedangkan saya menikah tahun 2005. Ini mempengaruhi strategi yang saya lakukan saat akan menikah, diantaranya:
1. Saya lebih terfokus memperbaiki diri daripada memikirkan siapa calon isteri saya. Yang penting saya memiliki kriteria, bahwa isteri saya punya pengalaman mendidik anak. Dan Al-hamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan isteri saya yang punya pengalaman mengajar di TK sejak kelas 1 Mu'allimin (SLTA);
2. Saya berusaha mempelajari secara serius tentang ilmu pendidikan, psikologi, anak, dan keluarga. Bahkan ini yang menggerakkan saya saat tahun kedua di Mesir untuk mendirikan Studi Club IBADURRAHMAN yang secara khusus mengkaji Da'wah dan Tarbiyah Islamiyah;
Beda lagi strategi yang saya lakukan setelah menikah, antara lain:
1. Saya ajak isteri saya merumuskan tiga hal itu (visi-misi, realitas, dan strategi) dan kami juga merumuskan Komitmen Keluarga khusus dalam mendidik anak,
2. Selanjutnya dari rumusan itu, melahirkan Komitmen Keluarga yang khusus konsep kami dalam mendidik anak, kami beri nama: "Pendidikan Berbasis Kasih Sayang" (Tujuh Prinsip Mendidik Anak Menjadi Pahlawan; antara lain: 1. Kami mendidik anak kami dengan kasih sayang; 2. Kami menghargai setiap tindakan dan memuji setiap prestasi anak kami; 3. Kami memberikan sesuatu yang terbaik untuk anak kami; 4. Kami membantu anak kami merumuskan impiannya; 5. Kami membimbing anak kami menemukan potensi diri dan peluang hidupnya; 6. Kami menunjukan cara meraih impian anak kami; 7. Kami menjadi contoh pertama orang sukses dan menceritakan kisah-kisah orang yang sukses dan orang gagal kepada anak kami.
Komitmen itu, saya print out, lalu saya beri figura dan saya gantung di dinding ruang tamu, tempat saya dan isteri mendidik anak kami.
3. Dalam memberi nama anak-anak kami, kami merujuk kepada visi dan misi kami. Maka kami memiliki rumus sendiri dalam memberi nama itu, antara lain: a) setiap nama diambil dari akar kata rahmat sebagaimana inti dari visi dan misi kami; b) semua nama anak kami di tengahnya mencantumkan kata "Vira" (kalau laki2 dibaca Wira, kalau perempuang dibaca Vera) artinya pahlawan; c) untuk anak laki-laki di awal nama memakai ABDURRAHMAN, sedangkan akhirnya yang diganti dengan memakai nama berawalan huruf Fa (F) diambil dari bahasa Arab dan memakai isim fail (sebab anak kami ingin sebagai subjek/pelaku, bukan maf'ul/objek dari perubahan; d) untuk anak perempuan akhir nama memakai RAHIMA, sedangkan awalnya diubah memakai nama berawal Fa (F) diambil dari bahasa Arab dan memakai isim fail, maka kedua anak kami memiliki nama ini: - ABDURRAHMAN VIRA EL-FATIH (EL-FATIH, arti Sang Pembuka, Pendobrak, Pioner) - FATHIN VIRA RAHIMA (Fathin, cerdas);
4. Ketika pertamakali kami tahu isteri hamil, maka sejak itu pula kami melakukan pendidikan pra-lahir. Salah satu hikmah dari pendidikan saat hamil itu, ternyata memberikan kesiapan untuk menjadi seorang bapak atau ibu;
5. Ketika anak kami lahir, kami sudah merumuskan kurikulum pendidikan keluarga yang memiliki empat bidang 1) kurikulum mendidik anak agamis (sholeh/sholehah); 2) mendidik anak cerdas (multiple intelligences); 3) mendidik anak mandiri; dan 4) mendidik anak kreatif.
Demikian pembahasan singkat kita dalam pertemuan pertama ini. Mudah-mudahan apa yang saya paparkan ini, memberikan inspirasi, motivasi, dan hikmah untuk merumuskan tiga tema (visi-misi, realitas, dan strategi) di atas sesuai dengan diri atau keluarga Anda. Sungguh sebuah kebahagiaan bila Anda meluruskan bila ada yang keliru, menambahkan jika ada yang kurang, menceritakan pengalaman Anda dalam merumuskan tiga hal di atas. Semoga materi singkat ini, mengundang diskusi panjang kita.
Ilahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi Wassalamu'alaikum Wr Wb
Cairo, Kamis 7 Februari 2008
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Sahabat Eska Semua..., Sebagaimana tercantum dalam jadwal Pak Kepsek (Kepala Sekolah) Eska, saya kebagian ngajar hari ini. Sebenarnya, bukan ngajar lho, sebab saya belum layak menjadi guru di Eska ini. Saya merasa harus lebih banyak berguru pada para senior yang ada di kelas Eska ini.
Selain merasa belum layak menjadi guru, juga dua tema "Pendidikan & Anak", sangat berat. Pertama, dua tema itu, bukan jurusan dan fakultas kuliah saya (Syari'ah Islamiyah); kedua, saya belum punya pengalaman mengajar secara formal dan usia pernikahan sekaligus peran menjadi bapak baru memasuki tahun keempat.
Hanya saja, berangkat dari visi, misi, dan strategi milis (sebagai kelas) untuk kita belajar, maka saya memberanikan diri untuk ikut berbagi dengan dua tema itu. Tentu saja, sekali lagi, bukan kapasitas saya sebagai guru, tapi hanya sebagai sahabat yang mempasilitas anggota kelas untuk berdiskusi tentang dua tema itu. Bahkan, mungkin saja, apa yang saya sampaikan nanti, terkesan hanya "curhat" seorang bapak yang sedang belajar mendidik anaknya.
Mengapa saya memberi judul "Serial Mendidik Anak Menjadi Pahlawan"? Kalau Anda pernah membaca tulisan saya berjudul "Visi Kepahlawan", maka Anda mungkin faham latar belakang judul ini. Namun bagi Anda yang belum baca tulisan itu, saya akan ceritakan sekilas.
Begini, selama ini saya merasa sedih dan prihatin melihat kondisi Indonesia.Terlalu banyak paradok di negeri mayoritas Islam ini. Satu sisi sumber daya alam kita kaya raya, namun di sisi lain sumber daya manusianya banyak yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan terjerat dalam lingkaran setan patologi sosial. Satu sisi masyarakat 100% beragama (terutama Islam), namun di sisi lain dalam kehidupan tak ubahnya ateis. Ah, terlalu banyak paradok, bahkan saya yakin, Anda pun sudah tahu, apa yang terjadi dengan Indonesia yang tak ubahnya Garuda patah sayap.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, tentu melihat semua itu, tidak cukup hanya dengan mengeluh, menyalahkan, atau apapun respon reaktif lainnya, namun harus proaktif dan ada hal yang bisa kita lakukan. Ternyata, kesedihan dan kepiluan saya itu, terwakili dengan tulisan Anis Matta, berjudul "Mencari Pahlawan Indonesia". Iya, kita memang butuh pahlawan, untuk menyelesaikan masalah besar, komplek, dan akumulatif yang di derita bumi pertiwi.
Siapakah pahlawan itu? "Pahlawan", kata Anis Matta dalam bukunya itu, "bukanlah orang suci yang turun dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis".
Itulah makna pahlawan. Bahwa pahlawan hanyalah "manusia biasa", seperti saya, Anda, dan sahabat Eska semua, alias kita. Ya, kita adalah manusia biasa. Hanya saja, mungkin yang membedakan satu sama lainnya diantara kita adalah pekerjaan itu, ada yang melakukan pekerjaan besar, dan ada yang melakukan pekerjaan kecil.
Bagi saya, salah satu pekerjaan besar itu adalah membina keluarga dan mendidik anak. Nikah, bukan sekedar mengumpulkan dua orang, dua keluarga, dua keturunan, atau bisa jadi dua suku, tapi nikah adalah awal mula sekaligus komitmen untuk membangun peradaban manusia. Sebab, manakala setiap orang membangun keluarga dan mendidik anak-anaknya menjadi manusia baik, maka pada hakikatnya ia sedang membangun masyarakat, bangsa, dan peradaban.
Hanya saja, selama ini, terkadang yang terjadi sebaliknya, justru pernikahan itu mengisolir seseorang untuk melakukan perubahan sosial, mengembangkan sikap egois dengan mengatasnamakan ingin mengutamakan isteri dan anak, dan akhirnya, seharusnya keluarga tadi berfungsi membangun peradaban manusia, malahan menghancurkan peradaban manusia, sebab tidak tahan dengan kerasnya dunia. Sehingga tidak sedikit yang tadinya orang baik, menjadi tidak baik; tadinya tidak berani memakan barang haram, menjadi orang menghalalkan segala cara untuk menafkahi isteri dan membelikan kebutuhan anak-anaknya. Ia termakan dengan pernyataan yang menyesatkan, "Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!" Mengapa hal itu terjadi? Sebab, orang itu tidak memiliki visi, baik itu visi peradaban, visi keluarga, visi pribadi, visi kepahlawan, mau pun visi lainnya..
Maka dalam beberapa pertemuan nanti, kita akan mendiskusikan visi-visi itu, terutama visi kepahlawanan dalam mendidik anak. Visi inilah yang akan menggerakan kita untuk meneliti realitas kita saat ini sekaligus memikirkan proses yang menjembatani antara visi dan realitas.
Jadi, tema "Mendidik Anak Menjadi Pahlawan", bukan menuntun kita untuk "merasa menjadi pahlawan", alias sok pahlawan. Bukan itu! Jauh beda antara merasa jadi pahlawan atau sok pahlawan, dengan orang yang memiliki visi kepahlawanan. Sekali kali visi kepahlawanan itu tetap menyadarkan kita bahwa kita hanya "orang biasa".
Saya teringat Kata Pengantar sebuah buku, judulnya "Kaifa Takuna Aban Najihan" (Bagaimana Menjadi Ayah Sukses). Dalam buku itu, Abdullah Muhammad Abdul Mu'thy, menceritakan bahwa pada suatu hari biasa, lahirlah seorang bayi dengan cara biasa. Oleh bapaknya, bayi itu diberi nama "Putra Biasa". Sejak kecil hingga dewasa, Putra Biasa , tumbuh dan berkembang sebagaimana kebiasaan banyak orang. Sekolah di SD Biasa, SMP Biasa, SMP Biasa, dan Perguruan Tinggi Biasa. Nilainya pun biasa-biasa saja.
Seperti biasa, setiap tamat kuliah, ia pun bekerja. Lalu ia menjadi pekerja biasa. Maka hari-harinya pun biasa, sampai bertemu dengan seorang perempuan bernama Putri Biasa. Akhirnya, seperti biasa, kalau coeok dan cewek jatuh nikah, ya langsung menikah. Menikahnya pun biasa-biasa saja. Lagi-lagi, seperti biasa, setelah beberapa bulan, Putri Biasa hamil. Sembilan bulan kemudian, lahirlah anak pertama mereka dengan cara biasa juga. Anak mereka tumbuh biasa. Lahir anak kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam dengan cara biasa. Dan semuanya mereka didik cara biasa. Singkat cerita, Putra Biasa meninggal dunia. Maka di pusara kubur itu tertulis: "Di sini bersemanyam orang biasa".
Nah, apakah kita ingin menjadi orang seperti Putra Biasa itu? Tidak ada hal yang luar biasa dikenang oleh anak isteri, apalagi masyakat. Kematian kita juga direspon secara biasa, tanpa ada rasa kehilangan,apalagi kesedihan. Ah, itunya, semuanya biasa-biasa saja.
Atau... justru kita bercita-cita menjadi orang luar biasa?! Orang yang dipuji oleh Allah, rasul, dan orang yang beriman? Orang yang dikagumi oleh anak-anak kita. Orang yang dikenang sebagai pahlawan, baik oleh isteri, adik-kakak, ibu-ayah, teman, masyarakat, bangsa, dan seterusnya.
Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Terserah Anda, apakah Anda akan ikut bersama saya mendiskusikan secara serius, mendalam, dan berkesinambungan, alias menganggap tema ini luar biasa, atau sekedar menjadi orang biasa yang rajin mendelet setiap e-mail yang masuk di inboxnya, alias menganggap ide ini ide biasa saja. Sekali terserah Anda!
Yang jelas, agar diskusi kita mengalir, jujur, hidup, fokus, terarah, dan saling melengkapi, maka ada beberapa sub tema yang akan kita bahas nanti, setidak untuk menjawab lima pertanyaan ini:
1. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi sholeh? 2. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi cerdas? 3. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi mandiri? 4. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi kreatif? 5. Bagaimana cara kita mendidik anak agar menjadi pahlawan?
Tentu saja, dari setiap pertanyaan dan jawabannya, akan melahirkan banyak pertanyaan lainnya. Untuk menjawabnya, tidak mungkin bisa dijawab oleh seorang Udo Yamin Majdi saja, tapi oleh kita yang sudah punya komitmen untuk terus belajar di milis Eska ini. Atau, siapa saja yang memiliki komitmen untuk membangun peradaban manusia.
Gitu aja dulu prolog dari saya, insya Allah, hari Kamis depan, kita akan bertemu lagi. Kalau ada saran, usulan, masukan, dan apa saja, tentang prolog ini, atau berkaitan dengan tema besar "MENDIDIK ANAK MENJADI PAHLAWAN", maka mari kita diskusikan bersama. Saya ingin bertanya kepada Anda, menurut Anda tema ini perlu kita bicarakan atau tidak?
ILahi anta maqshudi wa ridlaka mathlubi Wassalamu'alaikum Wr Wb
NB: Tulisan ini pernah saya posting di milis sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi
"Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan peradaban-peradaban dunia adalah "visi kolektif" yang dimiliki oleh para individunya mengenai masa depan mereka". (Fred Polak, Psikolog Belanda)
Apa makna hari pahlawan bagi Anda? Sebagai pelajar atau mahasiswa, mungkin akan Anda memaknainya sebagai hari bebas dari tugas belajar dalam kelas dan kampus. Sebagai pegawai atau karyawan, mungkin akan Anda maknai sebagai hari libur kerja dari tugas dan rutinitas yang membosankan. Sebagai keluarga atau keturunan pahlawan, mungkin ini adalah hari kesedihan karena ditinggalkan orang yang Anda cintai. Sebagai apapun kita, sah-sah saja memberikan makna apa saja terhadap Hari Pahlawan.
Bagi saya sendiri, hari ini adalah untuk mengafirmasi visi kepahlawan yang telah saya bangun selama ini. Ya, saya ingin mendiskusikan kepada Anda tentang visi kepahlawan. Namun karena keterbatasan ilmu saya dalam mengartikulasikan makna kepahlawanan, maka saya tidak pandai berteori, melainkan saya hanya akan bertutur tentang apa yang bisa saya lakukan dalam memenuhi visi kepahlawan itu.
Visi kepahlawanan itu mulai menyeruak dalam hati saya, tatkala telinga saya mendengar bahwa penduduk dunia semakin tidak mengenal Sang Pencipta alam semesta. Visi itu muncul, saat mata saya terbelalak melihat Indonesia seperti Burung Garuda patah sayap dan kakinya, sehingga menggelapar tak berdaya. Visi itu hadir, manakala saya merasakan orang-orang mulai melupakan kampung halaman dan kerabatnya, lalu bermegah-megah di kota metropolitan. Namun setelah saya teliti lebih dalam lagi, bukan hanya itu, yang membentuk cara pandang saya bahwa Indonesia butuh para pahlawan. Visi itu datang sewaktu nurani saya menjerit karena saya tidak mampu menjadi seorang dermawan untuk mengentaskan kemiskinan; hati saya terluka karena tidak sanggup menjadi seorang guru untuk menghapuskan kebodohan; dan jiwa saya menangis karena belum jadi solusi dari beraneka-ragam patologi sosial.
Visi itu semakin mengkristal sewaktu saya pulang ke Indonesia. Di sebuah tokok buku di kota Bogor, saya menemukan buku karya Anis Matta, berjudul "Mencari Pahlawan Indonesia". Buku tersebut saya bawa ke Mesir. Buku berisi 76 kolom yang pernah dimuat dalam Tarbawi itu, menggerakkan hati saya untuk berbuat sesuatu. Saya pun ajak isteri saya untuk melakukannya. Sebelum mata kami terpejam, saya dan isteri saya mendiskusikan satu persatu tulisan itu. Hingga ketika hari ke-76, tersisa sebuah pertanyaan: "bagaimana menciptakan pahlawan itu?" Sebelumnya, pembicaraan kami masih pada tahap membicarakan "apa itu pahlawan dan mengapa kita butuh pahlawan?". Makna pahlawan bagi kami sangat sederhana, yaitu manakala kami mampu melejitkan potensi diri terbaik dan memberikannya kepada siapa saja yang membutuhkan. Itulah alasan, mengapa pahlawan sangat dibutuhkan saat manusia tak mampu memberikan yang terbaik. Dari sanalah, kami berdua mulai merumuskan cara melahirkan pahlawan itu. Dan kami punya kesimpulan, bahwa pahlawan itu tidak pernah datang, bila tidak diawali dari diri sendiri.
Maka visi kepahlawan itu, menjadi visi pribadi dan visi keluarga kami. Sehingga setiap hari, kata-kata pahlawan, sering muncul dalam mulut kami. Bahkan, jauh hari sebelum kami memiliki anak, kami telah merumuskan cara mendidik anak kami agar menjadi seorang pahlawan. Kami sebut, PENDIDIKAN BERBASIS KASIH SAYANG; Tujuh Prinsip Mendidik Anak Menjadi Pahlawan. Bahkan, kami menyiapkan nama anak-anak kami yang memiliki makna kepahlawan. (silahkan baca e-mail selanjutnya: Ketika Vira Bicara). Bukan hanya itu saja, ketika membuat multiply pun, kata pahlawan itu tak bisa saya tinggalkan (klik www.udoyamin.multiply.com). Ketika anak kami lahir, saya membuat tulisan yang saya print out, lalu saya bingkai dengan pigura: "Selamat datang pahlawan kami, semoga menjadi rahmatan lil 'alamin"
Hari ini, tanggal 10 November 2007, visi kepahlawanan itu memasuki tahun ketiga. Selama itu, beragam warna perasaan yang kami ukir dalam kanvas kehidupan. Ada rasa lucu, tatkala isteri saya yang sedang mengandung tujuh bayi pertama kami merengek kepada saya: "Buya... ingin Kedondong!"
"Lho, bunda jangan macam-macam dong. Di Mesir ini mana ada Kedondong? Pohonnya aja gak ada, apalagi buahnya!" jawab saya.
Dengan cemberut, isteri saya berkata: "Ini kan, bukan kemauan bunda, tapi keinginan pahlawan!"
Ada rasa bahagia, ketika ibu-bapak dan kedua mertua saya mengirim SMS: "Pahlawan, nenek dan kakek sangat rindu padamu". Ya, teman-teman dekat saya, ketika menanyakan tentang anak saya, dengan kata: "Gimana khabar pahlawan?". Begitu juga dengan adik-kakak dan teman-teman saya di Indonesia. Itu mereka lakukan, setelah mereka mengetahui dan memahami visi kepahlawanan yang saya maksud.
Ada rasa sedih, saat anak pertama saya yang berumur 1 tahun 6 bulan, menunjuk kulkas dan berkata: "Aaadnah..., 'aaadnah..., aaadnah...!" Itu kata-kata yang anak saya ucapkan ketika minta dot berisi susu, padahal di kulkas susu sudah habis, sedangkan duit habis untuk bayar sewa rumah, listrik, telpon, keperluan kuliah, dan kebutuhan sehari-hari. Hiks...
Dan ada juga rasa bahagia dan semangat hidup, tatkala memandang dan bermain bersama kedua anak saya. Sebab, setiap saya memanggil nama mereka, di sana ada konsekuensi dari visi kepahlawanan yang telah kami pancangkan, agar kami melahirkan generasi sholeh, cerdas, kreatif, dan mandiri yang akan membangun dunia. Nama mereka adalah judul dari naskah kehidupan yang harus kami jalani dan perjuangkan. Apapun yang terjadi, visi itu tidak boleh hilang. Visi itu menuntun saya untuk berkata: "Persoalan bangsa tak pernah akan selesai dengan kata-kata, tapi berbuatlah sesuatu!" Visi itu pula yang membuat saya kuat dalam dunia sunyi. Visi itu menjadikan saya tidak begitu menghiraukan apapun komentar manusia, yang penting berbuat, biarlah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang beriman menjadi saksi. Visi itu pula membuat saya merindukan ingin bertemu Allah Swt dan sang pahlawan sejati; nabi Muhammad Saw. Nah, sekali lagi, apa makna hari ini bagi Anda? Wallahu a'lamu bish shawab.
| |