Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: serial cinta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag serial cinta


"Asahlah iman Anda!" ujar nabi saw. Sahabat bertanya, "Wahai rasul, bagaimana cara mengasah iman?" Nabi kembali bersabda, "Perbanyak membaca, 'Lâ ilâha illâ Allâh!!" (HR. Ahmad)

Mengapa nabi menjadikan ucapan tauhid itu sebagai sarana memperbaharui iman? Sebab, ucapan Lâ ilâha illâ Allâh, akan mengilhami kita melakukan dua aktivitas, baik secara pribadi maupun secara kolektif, yaitu aktifitas an-Nafy (negasi) -menetapkan; menguatkan; mengukuhkan sesuatu- dan al-Itsbât (afirmasi) -meniadakan; melemahkan; dan meruntukan sesuatu.

Makna kalimat tauhid itu, dalam kontek pribadi, selain meniadakan seluruh eksistensi tuhan palsu (Lâ ilâha) dan meneguhkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan (illâ Allâh), juga bermakna agar kita meningkatkan kualitas diri lewat proses nafy: meruntuhnya kepribadian lama yang jelek dan itsbât: mengutuhnya kepribadian baru yang baik.

Artinya, kita selalu dihadapkan untuk membedakan dan memilih sesuatu; mana al-haq (benar) dan mana al-bâthil (salah), mana bisa diubah dan mana tidak bisa diubah, mana harus kita buang dan mana harus kita pertahankan. Dalam konteks cinta, kita harus dapat memahami dan membedakan, mana yang hal yang dicintai oleh Allah Swt. dan mana yang tidak dicintai oleh-Nya. Kita bisa memilih untuk meniadakan sifat jelek bersamaan dengan menetapkan sifat baik dalam diri kita. Dalam Tasawuf, proses ini disebut "Takhalli wa Tahalli" (membuang kepribadian jelek dan menghiasi diri dengan kepribadian baik).

Mari kita kembali kepada hadits nabi di atas: "Perbanyak membaca: 'Laa ilaaha illa Allah' !!!" Yang dimaksud dengan kata "membaca" oleh nabi adalah melakukan afirmasi (kalimat penggugah). Menurut Jordan E. Ayan dalam bukunya Bengkel Kreatifitas: 10 Cara Menemukan Ide-ide Pamungkas (Kaifa, 2003), afirmasi adalah pernyataan pendek yang kamu buat sendiri, yang membantu kamu memfokuskan kembali semangat dan memberi perhatian kepada diri sendiri.

"La ilaah illa Allah", dalam bahasa Indonesia, diartikan dengan kalimat ini: "Tiada tuhan kecuali Allah". Tuhan adalah sesuatu yang kita yakini "paling". Baik itu yang "paling" kita agungkan, paling kita takuti, paling kita cintai, paling kita butuhkan, dan seterusnya. Bentuknya, bisa konkrit, misalnya benda-benda, manusia, uang, ladang, harta, dan sejenisnya. Juga bisa abstrak, misalnya, pikiran, prestise, kekuasaan, dan sejenisnya. Dengan demikian, disaat kita menjadikan seseorang dan lain sebagainya "paling" kita cintai, maka kita telah menggapnya sebagai tuhan.

Makanya, ketika kita melakukan afirmasi dengan kata "Laa ilaaha illa Allah", itu sama artinya kita mempokuskan semangat dan memberikan perhatian kepada diri kita sendiri untuk "meruntuhkan", me-nafi-kan, menegasikan,  keberadaan berbagai tuhan dan "mengutuhkan", meng-itsbat-kan, mengafirmasikan, hanya Allah saja sebagai Tuhan kita.

Lalu, kalau tuhan-tuhan itu telah 'tiada',  'kecuali' hanya Allah dalam diri kita, alias kita telah beriman, maka masih butuhkah kita dengan afirmasi "La ilaaha illa Allah" itu? Jawabannya 'sangat dibutuhkan'!! Mengapa? Sebab, ternyata makna syahadat tauhid itu mengandung makna "meruntuhkan" kepribadian yang dibenci dan "mengutuhkan" kepribadian yang dicintai oleh Allah dalam diri kita. Inilah rahasianya, mengapa cinta itu syarat dari keimanan. Untuk meraih cinta atau iman sejati, kita harus mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci-Nya.

Apa saja yang 'dibenci' dan yang 'dicintai' oleh Allah? Allah menjawab pertanyaan ini dalam al-Quran. Dia menggunakan kata "Innallâh lâ yuhibbu...." terhadap sembilan kebiasaan; kepribadian; tipe; sifat manusia, diantara: kekafiran, kedzaliman, melampai batas, sombong, khianat, fasad, berlebihan, dan menampak perbuatan jelek. Sebaliknya, untuk kebiasaan; kepribadian; tipe; sifat yang Allah 'dicintai', Dia ungkapkan dengan kata "Innallâha yuhibbu....", yaitu ada delapan, berikut ini: ihsan (kebaikan/profesional), taqwa (hati-hati), keadilan, bersih, tawakal, taubat, sabar, dan jihad.

Jadi rahasia sabda nabi: "Perbanyak membaca: 'Lâ ilâha illa Allâh' !!!" adalah sebuah afirmasi untuk "meruntuhkan" sembilan kebiasaan; kepribadian; tipe; sifat dan "mengutuhkan" delapan kebiasaan; kepribadian; tipe; sifat tersebut dalam diri kita. Nah, proses semua itu adalah bukti cinta kita kepada Allah. Lalu, apa rahasia yang terkandung dalam 9 kebiasaan yang dibenci dan 8 kebiasaan dicintai oleh Allah? Dalam kehidupan sehari-hari, seperti apakah bentuk 17 kebiasaan? Bagaimana cara kita meruntuhkan sembilan kebiasaan negatif dan delapan kebiasaan positif itu? Wallahu 'alam.

Betapa ingin aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dalam e-mail berikutnya. Namun sayang, karena delapan tulisan --serial Cinta itu Cahaya-- yang aku posting, hanya untuk menjawab: "apa itu cinta?" sebagai tanggapanku terhadap e-mail seorang sahabat di milis (sekolah-khidupan@yahoo.com) ini. Insya Allah, 17 kebiasaan itu, akan aku tuangkan dalam dalam sebuah buku. Do'akan ya!

Ilahi anta maqshudi wa ridlaka anta mathlubi
Wassalamu'alaikum Wr Wb

Cairo, 3 November 2007

Udo Yamin Efendi



Jadi, dari tiga macam cinta tersebut, cinta yang paling tinggi atau paling agung adalah cinta mishbah. Inilah puncak dari cinta. Sebab, cinta ini, anugerah Allah dan akan meraih cinta-Nya. Adakah lebih tinggi dari cinta Allah? Meraih cinta mishbah, berarti juga merasakan cinta misykat dan cinta zujajah. Sebalik, orang yang merasakan cinta misykat, tidak akan merasakan cinta zujajah dan cinta mishbah. Begitu juga dengan cinta zujajah, mereka dapat merasakan cinta misykat, tapi tidak merasakan cinta mishbah.

Nah, cinta mishbah ini pula, yang akan banyak kita bicarakan dalam buku ini. Cinta misykat dan cinta zujajah itu, mungkin sudah begitu banyak yang menjelaskannya. Berbeda dengan cinta mishbah. Hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, yang merasakan cinta ini. Ya, ada hubungan erat antara cinta dengan iman. Apa hubungan antara keduanya?

Hubungan antara cinta dan iman, seperti hubungan antara dua sisi mata uang. Hilang salah satunya, maka makna yang satunya lagi akan ikut hilang. Begitulah dengan cinta, tanpa tuntunan iman, maka cinta itu akan berubah menjadi hawa nafsu. Sebaliknya, iman tanpa cinta, maka akan melahirkan kemunafikan. Perpaduan iman dan cinta akan melahirkan kebahagiaan sejati dan abadi.

Hubungan timbal balik antara keduanya, akan terlihat dari ayat Al-Quran dan hadis yang akan aku kemukakan di sini. Dalam surat Al-Baqarah ayat 165, Allah memaparkan tentang cinta tanpa prinsip iman, sehingga ada sebagian manusia mencintai mencintai sesuatu seperti mencintai Allah. Inilah kemusyrikan dan kekefuran; kebalikan dari iman. Selanjutnya, dalam surat At-Taubah ayat 23 dan 24, Allah menyuruhkan kita untuk beriman dan iman ini tidak sempurna manakala kecintaan kita terhadap keluarga dan harta melebih cinta kita kepada Allah, rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya.

Dalam hadis, satu sisi beliau menuturkan, dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, bahwa "cinta karena Allah dan benci karena Allah adalah bagian dari iman". Namun, di sisi lain, masih dalam riwayat Imam Bukhari, bahwa "seseorang tidak pernah merasakan manisnya iman, kecuali melakukan tiga hal, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi dari yang lainnya; mencintai seseorang karena Allah; dan benci kembali kepada kekafiran seperti bencinya dilemparkan dalam jurang neraka."

Tentu, masih banyak lagi ayat dan hadis yang berbicara tentang hubungan antara iman dan cinta. Namun, ayat dan hadis di atas, cukup mewakili pernyataan Ustadz Shalah Ahman Asy-Syami bahwa cinta adalah syarat dari iman. Sehingga beliau memberi judul bukunya dengan judul ini: "Mahabbatullah wa rasûlihi syarthu fi al-Iman" (Cinta kepada Allah dan rasul-Nya adalah syarat iman). Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara kita meraih cinta atau iman yang sejati itu?

Bersambung ke: Meraih Cinta Sejati




Cinta itu cahaya. Dan frekuensi getaran cahaya bermacam-macam. Begitu pun cinta, ia memiliki getaran yang berbeda. Ada cinta yang hanya bisa ditangkap oleh mata kepala saja. Ada cinta yang bisa dilihat oleh mata inderawi dan mata akal. Dan, ada yang bisa dipandang oleh ketiga mata, yaitu mata kepala, mata akal, dan mata hati. Dari sinilah, cinta terbagi menjadi tiga macam.

Untuk mendiskusikan tiga macam cinta tersebut, kita coba mengaitkannya dengan surat An-Nur ayat 35 di atas. Dan menurut Sa'id Hawa, dalam kitab Tarbitunâ Ruhiyah (Maktabah Wahbah, 1992), yang dimaksud dengan misykat (dinding tak tembus) pada ayat di atas adalah jasad kita. Adapun zujâjah (kaca) adalah hati kita dan mishbah adalah iman dan Al-Quran. Pendapat beliau ini, bersandarkan keterangan dari Ibnu Katsir, bahwa Abu Ja'far Ar-Razy berkata: "Dari Rabi', dari Ubai Al-'Aliyah, yang berkata tentang firman Allah Swt, "Allah cahaya langit dan bumi, perumpamaan cahaya-Nya", menurutnya, ini adalah perumpamaan seorang mukmin yang telah Allah jadikan iman dan Al-Quran berada dalam hatinya."

Mari kita bahas satu persatu. Pertama, Cinta Misykat. Kata "misykat" artinya lobang tidak tembus. Di rumah bangsa Arab, biasanya ada lobang di dinding yang tidak tembus sampai ke sebelahnya. Lubang ini berfungsi untuk tempat menyimpan lampu, atau barang yang lainnya. Kata misykat ini untuk melambangkan jasad manusia. Sedangkan jasad adalah materi. Dengan kata lain, cinta misykat adalah cinta karena materi; kebendaan.

Cinta misykat ini, dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengan istilah cinta sex appeal dan cinta matre. Cinta sex appeal tertuju pada tubuh seseorang. Contohnya, ketampanan atau kecantikan. Sedangkan, cinta matre pada benda-benda yang melekat pada tubuh atau di luar tubuh seseorang. Misalnya, pada makanan, minuman, pakaian, mobil, rumah, dan seterusnya.

Cinta misykat muncul dari keindahan atau keagungan yang dilihat oleh mata kepala. Sebab objeknya berbentuk materi. Sudah barang tentu, siapa saja yang memiliki mata inderawi, ia akan merasakan cinta ini. Wajar, jika Ustadz Husni Amin menyebut cinta ini dengan sebutan cinta alami atau cinta manusiawi (al-mahabbah ath-thabi'iyah aw al-insâniyah).

Bila cinta ini tidak dituntun oleh akal dan agama, maka akan berubah menjadi hawa nafsu. Banyak manusia yang tertipu dengannya. Mereka menyangka inilah cinta sejati. Padahal itu bukan cinta sejati, itu hanyalah dorongan insting seksualitas (gharizah nau'). Dari sinilah, mungkin, asal-muasal kebanyakan orang memahami cinta itu adalah seks. Mereka memahami dari cintalah akan lahir seks. Dan seks dilakukan juga akan menimbulkan cinta. Padahal itu bukan cinta, tapi itu adalah hawa nafsu, atau syahwat.

Biasanya, cinta misykat dirasakan oleh orang-orang kurang mempergunakan akal dan jauh dari agama. Dorongan menyukai lawan jenis yang muncul dari gharizah an-nau', dimaknai sebagai cinta. Lahirlah cinta monyet. Napa sih, disebut cinta monyet? Sebab, seperti monyet, malu-malu tapi menyimpan keinginan lebih besar daripada pengorbanannya. Cinta kayak begini, banyak terjangkit sama anak-anak yang baru baligh; atau para remaja yang sedang puberitas.

Begitu juga dengan orang-orang yang jauh dari agama, mereka akan terjangkit cinta misykat. Meskipun mereka telah dewasa, tapi karena tidak memegang sebuah prinsip, ia terjebak dengan hawa nafsu. Bahkan, ada yang terperosok pada 'kerak' cinta misykat ini, cinta yang benar-benar hina dan murahan, seperti dalam buku Sex 'n the city: Jakarta Undercover, yaitu cinta karena daging. Cinta mereka hadir, karena ada kebutuhan untuk bersebadan. Tak ada kepentingan lain bagi mereka, selain persoalan daging. Sehingga kehidupan mereka, lebih bejat dari binatang. Kalau binatang mereka diberi insting seksualitas supaya jenis mereka tidak punah. Sementara manusia bercinta karena daging, hanya ingin kepuasan sesaat dan sekejap saja, setelah itu mereka tak mau bertanggung-jawab. Mereka ingin enak saja, tapi tak mau menanggung resiko. Na'ûdzubillah min dzalik.

Ya, cinta misykat berkutat hanya pada persoalan jasadiyah, lahiriyah, dan kulit luarnya saja. Bila cinta sudah tertutup dengan dinding yang bersifat materi ini, maka cahaya kebenaran akan sulit memasuki diri mereka. Cinta mereka hanya cahaya fatamorgana. Mereka mengejar kebahagiaan, ternyata setelah mereka dekati, bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan, tapi kesengsaraan. Cinta mereka hanya ingin memuaskan panca indra -mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit- dan tubuh saja. Sedangkan panca indra dan tubuh manusia memiliki katerbatasan dan tak pernah terpuaskan. Sebab, sumber kepuasan, bukan dari benda-benda itu.

Biasanya, cinta misykat ini, tidak langgeng. Ia akan mudah berubah dan bosan. Dengan demikian, orang yang memiliki cinta ini, akan menjadi petualang cinta. Sebab, ia tak pernah menemukan kepuasan. Ia akan terus mencoba, mencoba, dan mencoba. Cinta ini juga, lebih banyak ingin 'menerima' daripada 'memberi'. Yang ia lakukan adalah ingin menerima kepuasan, bukan memberikan kepuasaan terhadap orang yang ia cintai. Tentu saja, orang yang ia cintai, lama-kelamaan tak mampu memberi lagi. Akhirnya, terjadilah perpisahan.

Juga, para penganut cinta ini, acapkali memahami cinta adalah 'memiliki' dan 'menguasai'. Cintanya, misalnya, kepada seseorang, tak ubah cintanya kepada barang. Ada semacam kepuasan tersendiri bila ia bisa 'memiliki' dan 'menguasai' seseorang. Makanya terjadilah yang namanya 'penjajahan' dan 'penghambaan' sesama manusia.
 
Kedua, Cinta Zujajah. Dalam bahasa Arab, zujajah artinya kaca atau cermin. Kamu tahu cermin? Bukankah cermin itu memantulkan cahaya dan pada cermin itu tergambar bayangan orang yang berada di depannya? Antara bayangan dan orang yang bercermin mirip dan serupa. Begitulah cinta ini, akan tumbuh karena ada pantulan cinta dan memiliki persamaan antara orang yang saling mencintai itu.

Cinta ini datang, karena orang tersebut memang layak untuk dicintai. Ia dicintai karena di sana ada penyebab tumbuhnya cinta. Mungkin, inilah yang dimaksud dengan firman Allah, dalam surat An-Nur 35 itu: "kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara." Yah, orang itu memang bagaikan bintang atau mutiara. Bintang merupakan sebuah simbol berada pada tempat yang tinggi. Seorang yang dianggap bintang, bila ia lebih tinggi kedudukan dari yang lainnya. Kelebihan di sini, lebih bersifat abstrak, yaitu apabila salah satu potensinya mencapai kesempurnaan. Seseorang akan dikatakan bintang kelas, apabila potensi kecerdasan di atas yang lainnya. Seseorang akan dikatakan bintang film, bila potensi aktingnya telah sempurna. Seseorang dikatakan bintang penyanyi, manakala potensi tarik suaranya sempurna. Seorang dikatakan bintang masyarakat, jika perannya lebih tinggi di masyarakat. Dan seterusnya.

Secara otomatis, orang seperti ini bagaikan mutiara. Ia sangat berharga dan sulit untuk dicari. Dengan demikian jumlahnya akan lebih sedikit dari penganut cinta sebelumnya. Perbandingannya, seperti jumlah mutiara dengan batu krikil atau pasir. Mereka jadi idaman dan pujaan orang lain. Jadi, mereka dikagumi karena potensi, keahlian, kepribadian, karakter, dan sejenisnya.

Ya, cinta ini bagaikan cermin. Bila cermin (orang yang dicintai) itu bersih, maka ia akan mendapatkan bayangannya dalam keadaan bersih. Sebaliknya, bila cermin itu berdebu, maka gambaran yang muncul akan tidak jelas, bahkan bisa jadi tidak terlihat. Apalagi jika cermin itu bukan cermin datar, misalnya cermin cembung atau cekung, maka bayangannya akan berbeda dengan yang sesungguh, bisa lebih kecil, atau lebih besar, atau bisa terbalik.

Maksudnya, jika keahlian, atau hal-hal yang menumbuhkan cinta di atas, hanya sebatas tipuan, imitasi, atau hal yang dibuat-buat, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang jauh berbeda dengan harapannya. Melenceng dari yang tergambar dalam benaknya. Akhirnya, yang ia petik adalah kekecewaan, bukan kebahagiaan.

Nah, bila cinta seseorang tumbuh karena hal-hal di atas, itu sebagai bukti bahwa cintanya adalah cinta zujajah, atau cinta cermin. Sebuah cinta yang timbul karena sisi dalam; atau batin seseorang. Cinta ini, selain muncul karena pencerapan mata kepala, juga karena penglihatan mata akal. Cinta ini, kebalikan dari cinta sebelumnya; cinta misykat. Kalau cinta misykat bersifat materi, maka cinta zujajah karena non-materi. Cinta misykat bersifat jasadiyah, cinta zujajah bersifat batiniyah, atau persoalan hati. Inilah yang dimaksud oleh Sa'id Hawa bahwa zujajah adalah perumpamaan dari hati. Dan Ustadz Husni Amin, menyebut cinta ini dengan istilah cinta ruhani (al-mahabbah ar-rûhâniyah).
  
Ketiga, Cinta Mishbah. Apa yang dimaksud dengan kata "mishbah'? Kalau kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia, mishbah artinya "pelita besar". Lalu, apa pelita besar yang kita kenal selama ini? Jawabannya adalah matahari. Yah, matahari adalah pelita terbesar itu. Dengan demikian, cinta ini adalah cinta bagaikan matahari. Apa keistimewaan matahari itu?

Matahari memiliki keistimewaan tersendiri, diantara ia sebagai poros (pusat) dan memancarkan cahaya tanpa hentinya. Cinta sebagai poros (pusat) akan menebarkan energi untuk mempengaruhi orang-orang yang ia cintai. Cinta ini akan menjadi 'lingkar pengaruh' atau 'stigma 'sehingga orang yang dicintai akan mencintainya juga, setidaknya orang lain akan merasa segan dan menghormatinya. Dengan kekuatan cinta ini, maka orang lain, sangat sulit untuk membencinya.

Sedangkan "memancarkan cahaya tiada hentinya", merupakan simbol ketulusan hati. Bagi mereka, bukan menerima, tapi bagaimana memberi. Ibarat matahari, mereka memberi, memberi, dan terus memberi. Lihatlah matahari yang selalu menebarkan cahaya kepada siapa saja. Selalu setia; setiap pagi hadir. Ia tebarkan cahaya, tanpa pernah mengharapkan cahaya itu kembali kepada dirinya lagi.

Sama halnya, orang yang telah memahami dan merasakan cinta mishbah ini, ia akan terus mencurahkan cinta dan kasih sayang itu kepada siapa saja. Mereka tak pandang bulu, baik itu orang kaya atau miskin, ningrat atau wong cilik, berilmu atau bodoh, orang baik atau orang jahat. Bahkan kepada orang yang jelas-jelas membenci dan memusuhinya, rasa cinta itu tetap ia tebarkan. Hanya saja, bentuk dan caranya saja yang berbeda.

Cinta ini lahir dari kemurnian mata kepala, akal, dan hati yang mendapatkan petunjuk (hidâyah) dari Al-Wadûd (Yang Maha Mencintai), yaitu Allah Swt.. Petunjuk itu adalah iman dan Al-Quran. Inilah yang dimaksud dengan Sa'id Hawa bahwa mishbah perumpaan hati yang disinari oleh iman dan Al-Quran. Dengan kata lain, cinta mishbah muncul bukan karena materi dan non-materi. Apa yang disebut "bukan" materi dan juga "bukan" non-materi? Dia adalah Allah Swt..

Maka, yang dimaksud dengan cinta mishbah adalah cinta karena Allah Swt.. Atau cinta berdasarkan prinsip iman dan Al-Quran. Cinta yang memancar dari nurani yang mendapatkan sinar iman dan Al-Quran. Sedangkan Al-Quran adalah firman Allah. Dengan demikian, cinta mereka bersumber dari Allah. Seperti cahaya matahari yang bersumber dari Allah swt. Cinta seperti inilah cinta yang sejati, yang tak lapuk oleh air hujan dan tak lekang oleh terik panas.

Cinta mishbah, tidak seperti dua cinta sebelumnya, hanya di dunia saja, tapi dari dunia hingga akhirat. Karena iman akan menyatukan hati para pecinta dan orang yang dicintainya baik di dunia ini (QS. Mariam [19]: 96) hingga di akhirat nanti (QS. Az-Zuhruf [43 ]: 67). Sedangkan, tanpa taqwa (taqwa muncul iman), maka di akhirat orang-orang yang saling mencintai akan saling bermusuhan.

Cinta ini terus memijar bagaikan minyak Zaitun. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah: "Yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api." (QS. An-Nur [24]: 35). Yah, cinta ini tidak ada di barat, juga tidak di timur. Atau cinta ini lahir, bukan karena jasadiyah seperti cinta misykat, juga bukan karena batiniyah seperti cinta zujajah, tapi cinta ini tumbuh dari, bersama, dan untuk Allah Swt.. Tanpa dipoles apapun, cinta ini akan tetap indah.

Orang yang merasakan cinta ini, jarang sekali, bahkan nyaris tak pernah merasakan kecewa. Sebab, mereka menerima "apa adanya", bukan yang "seharusnya". Juga, karena tak pernah mengharapkan pamrih atau segala bentuk penghormatan. Cinta mereka, benar-benar cinta yang tak bersyarat. Yang ada adalah keikhlasan; semuanya mengharapkan ridla Allah SWT. Cinta ini menurut Ustadz Husni Amin adalah cinta ketuhanan (al-mahabbah al-ilahiyah). Inilah cinta karena Allah semata. Cinta yang mendapatkan tuntunan-Nya. Dan cinta yang membawa para pencinta menemukan cinta sejati dan Pencipta Cinta.

Bersambung ke:  Hubungan Cinta dan Iman

Blog EntryCinta itu Cahaya 5: CINTA ITU CAHAYAOct 31, '07 2:30 AM
for everyone


Baik, tibalah kita definisi cinta. Menurutku, cinta adalah cahaya. Dalam buku QURANIC QUOTIENT: Melejitkan Potensi Diri Melalui Al-Quran (Qultum Media, 2007), sempat aku bahas tentang pendapat Ibnu Taimiyah, pengarang kitab Al-Qâ'idatu fi Al-Mahabbah (Maktabah Al-Islami, 1999), bahwa -sebagaimana disebutkan Iqbal dalam puisinya di atas- asal semua perbuatan dan "gerakan" di alam semesta bersumber dari keinginan (al-irâdah) dan cinta (al-mahabbah). Sedangkan keinginan dan cinta itu ada dalam hati. Jadi, jiwa yang menggerakan kita itu adalah hati.

Dalam bukuku itu (Quranic Quotient), aku telah mengemukakan pendapatku bahwa hati itu bagaikan cahaya. Juga secara panjang lebar, aku menjelaskan tentang makna surat An-Nur ayat 35. Baik, di sini, sedikit kita singgung kembali. Terlebih dahulu, mari kita renungkan firman Allah ini:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nur [24]: 35)

Cinta itu cahaya. Apa itu cahaya (an-nûr)? Kata "an-nûr", terambil dari kata yang terdiri dari huruf-huruf nûn, wauw, dan ra'. Maknanya yang populer adalah cahaya. Tetapi di samping itu, dari huruf-huruf ini juga dibentuk kata yang bermakna, "gejolak", "kurang stabil", dan "tidak konsisten". Api dinamai "Nâr", bukan karena di memberikan cahaya, tetapi juga karena dia bergejolak dengan cepat, sekali berkobar ke atas, sekali menurun, karena terpaan angin.

Kata an-nûr dalam surat An-Nur 35 di atas merupakan sifat Allah Swt. Ibnu Araby mengemukakan enam pendapat ulama tentang makna "an-nûr" yang menjadi sifat Allah ini, yaitu: (1) Pemberi hidayat; (2) Pemberi cahaya; (3) Penghias;(4) Yang zahir/nampak dengan jelas; (5) Pemilik cahaya; dan (6) Cahaya tapi bukan seperti cahaya yang dikenal. Walaupun ulama berbeda pendapat tentang maknanya, namun mereka tetap sepakat bahwa Allah bukan cahaya sebagaimana yang kita kenal. Bukankah Dia "Laisa Ka Mislihi Syai" (Tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya)?

Penggunaan kata "an-nûr" dalam Al-Quran, paling tidak mempunyai sepuluh makna, yaitu (1) agama Islam; (2) Iman; (3) Pemberi Petunjuk; (4) Nabi Muhammad Saw.; (5) Cahaya siang; (6) Cahaya bulan; (7) Cahaya yang menyertai kaum mukmin ketika menyeberang shirâth (titian); (8) Penjelasan tentang halal dan haram yang terdapat dalam taurat; (9) Injil; dan (10) Al-Quran, serta (11) Keadilan. Demikian penjelasan Ustadz Quraisy Shihab, dalam buku yang aku sebut di atas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "cahaya" memiliki empat arti. Pertama, cahaya adalah sinar atau terang (dari sesuatu yang bersinar seperti matahari, bulan, lampu) yang memungkinkan mata menangkap bayangan benda-benda di sekitarnya; kedua, cahaya adalah kemilau (dari emas, berlian); ketiga, cahaya adalah kejernihan yang terpancar dari  muka; dan yang terakhir, keempat, arti cahaya berdasarkan ilmu fisika, yaitu bentuk gelombang elektromagnetik dalam kurun frekuensi getar tertentu yang dapat ditangkap dengan mata manusia.

Itulah makna cahaya. Cinta seperti itu yang aku maksud. Cinta, bagiku, adalah getaran yang muncul dalam jiwa tatkala mata kepala; mata akal; atau mata hati kita menangkap cahaya sehingga tampak keindahan; keagungan; kesempurnaan sesuatu. Dan Pemilik keindahan; keagungan; kesempurnaan adalah Allah. Sedangkan keindahan; keagungan; dan kesempurnaan di alam semesta, adalah percikan cinta-Nya. Dari sanalah muncul kenikmatan inderawi; kepuasan akal; dan kebahagiaan hati. Semuanya bermuara pada kata cinta.

Ya, Allahlah Pemilik dan Pemberi cinta. Keberadaan kita beserta seluruh makhluk adalah bukti cinta-Nya. Termasuk, cinta yang dirasakan oleh seluruh manusia adalah pantulan cinta-Nya. Tanpa-Nya, maka cinta tidak pernah ada. Karena, Dia adalah cinta sejati. Imam Ghazali menegaskan bahwa An-Nur adalah, "Yang zahir/jelas pada dirinya dan bersumber kepadanya segala yang jelas".

"Yang tidak disentuh oleh kegelapan ketiadaan ('adamu)," kata Imam Ghazali lebih lanjut, "bahkan tidak disentuh oleh kemungkinan ketiadaan, (Yang wajib wujud-Nya) serta yang mengeluarkan segala sesuatu dari kegelapan ketiadaan menuju kejelasan wujud (Sang Pencipta), pasti Dia yang wajar menyandang nama An-Nur".

Ya, konkritnya begini, apa yang terjadi bila tidak ada cahaya? Misalnya, matahari tidak ada. Dapat dipastikan manusia, hewan, dan tumbuhan tidak pernah akan ada. Sebab, yang namanya makhluk, selain membutuhkan cahaya matahari, juga tanpa matahari maka bumi akan beku. Dan akan mati kedinginan. Ketika manusia tidak ada, maka adakah cinta itu? Tentu tidak ada kan?

Begitu juga hal kita hidup di dunia ini, tanpa cinta manusia tidak pernah akan ada. Cinta seorang ibu, telah menggerakkannya bersusah-payah mengandung sembilan bulan, menyapih selama dua tahun, mendidik hingga dewasa, dan seterusnya. Cinta seorang suami, telah mendorongnya membanting tulang untuk mencari nafkah. Cinta seorang guru, telah menuntunnya untuk mencerdaskan para muridnya. Cinta seorang peternak, telah menjaga hewan-hewan dari kepunahan. Dan seterusnya.

Sekarang, siapakah Yang Menciptakan matahari? Siapakah Yang Menciptakan cinta? Jawabannya adalah Allah! Ini yang aku maksud dengan Allah adalah cinta sejati. Karena semua cinta yang kita kenal dan kita rasakan adalah "pancaran" sinar cinta-Nya. Kita hanya memantul cinta-Nya, seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari.

Saat mendefinisikan cinta dengan cahaya, maka tidak bisa lepas dengan "alat" untuk menangkap cahaya. Yah, antara alat dan cahaya, sama pentingnya. Karena keduanya yang menangkap bayangan keindahan dan keagungan segala sesuatu. Alat itu, bisa panca indera, akal, dan hati. Ketiganya bisa melihat. Dan alat untuk melihat, kita sebut dengan mata. Makanya, mata itu ada tiga, mata inderawi, mata akal, dan mata hati.

Tiga alat itulah yang membantu kita 'melihat' keindahan; keagungan; dan kesempurnaan sebuah objek. Terlepas 'apa' dan 'siapa'pun objek itu. Bila keindahan; keagungan; dan kesempurnaan objek telah tersingkap oleh salah satu dari tiga mata (mata kepala, akal, hati) kita, maka kita akan 'bergerak' mendekatinya. Gerakan energi dalam jiwa kita, inilah yang disebut cinta.

Sebagai contoh, ketika kita tertarik dengan sebuah lukisan atau kecantikan wajah seseorang, maka yang berfungsi adalah mata kepala atau mata inderawi. Beda ketika kita mencintai obat, meskipun obat itu pahit dan menimbulkan rasa sakit, tapi karena kita mengetahui rasa pahit dan sakit itu hanya sementara dan akan menyehatkan, maka kita tetap tergerak untuk meminumnya. Mata apa yang kita pakai? Yang berfungsi adalah mata akal: akal kita mengatakan bahwa bila minum obat, maka kita akan sembuh. Di sinilah hukum kausalitas (sebab-akibat) yang berlaku.

Lain lagi, cintai kita kepada rasulullah Saw.. Seumur hidup kita tidak pernah bertemu beliau. Artinya, secara inderawi, kita tidak pernah melihatnya dengan mata kepala. Secara akal juga, seharusnya, para orientalis yang mengenal rasulullah Saw. akan tumbuh cinta. Namun kenyataan tidak demikian. Cinta mereka hanya sebatas di otak saja. Hanya sekedar kagum saja. Tidak tergerak untuk meneladani keislaman beliau. Lantas, mengapa kita mencintai nabi? Karena dalam hati kita ada iman. Dan iman itu ada dalam hati. Jadi, mata yang kita pakai untuk melihat keindahan dan keagungan rasulullah Saw. adalah mata hati.

Bersambung ke:  Cinta Misykat, Cinta Zujajah, dan Cinta Mishbah.


Blog EntryCinta itu Cahaya 4: Komposisi CintaOct 31, '07 2:28 AM
for everyone


Dalam e-mail sebelumnya, aku katakan bahwa orang Barat menyebutkan bahwa salah satu komposisi cinta adalah "gairah seksual". Bila ini kita terapkan dengan objek universal, maka apakah cinta kepada Allah, ibu, pulpen, dan seterusnya, harus memakai gairah seksual juga? Tentu tidak kan? Berarti ada yang salah dari dari komposisi cinta versi Barat itu.

Menurutku, ada empat komposisi yang membentuk cinta itu, pertama, mengenal (al-ma'rifah). Cinta itu akan muncul, bila kita mengenal atau memahami objek yang kita cintai, baik itu "siapa" maupun "apa". Kita akan cinta Allah, kalau kita kenal Allah. Sebaliknya, kecil kemungkinan, kita akan cinta kepada-Nya, jika kita tidak kenal. Begitu juga kepada seseorang; kepada sebuah benda; kepada seekor hewan; dan kepada sebatang pohon. Kenal di sini, bukan sekedar kenal nama, atau bentuk lahir saja. Pulpen di atas, tidak akan kita cintai, bila kita tidak tahu fungsi, kegunaan, dan kelebihannya. Mungkin, kita cinta pulpen tersebut, karena kita tahu betul, saat dipakai nulis, enak banget. Gitu!

Apalagi dengan Allah. Kalau kita kenal, betapa sempurna; agungnya; dan indahnya Allah Swt., pasti deh kita akan jatuh cinta. Atau, kita kenal dengan seseorang dan ia mengagumkan, maka dari sanalah muncul rasa cinta. Sebaliknya, bila kita tidak kenal, maka kecil kemungkinan kita cinta, bahkan bisa jadi muncul rasa benci. Kata pepatah: "Tak kenal maka tak cinta!" Betul, sabda nabi Muhammad Saw.: "Ruh itu laksana pasukan yang dikerahkan. Seberapa jauh pasukan itu saling mengenal, sejauh itu pula mereka akan bersatu padu. Sebaliknya, manakala mereka tidak saling mengenal, maka mereka akan banyak berselisih (akhirnya bercerai)". (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dll)

Kedua, memberi (ar-rahmah). Rahmat artinya memberikan yang terbaik. Dan rahmat merupakan puncak tertinggi dari cinta. Setelah kita kenal dengan sesuatu, muncullah keinginan untuk memberi. Cinta tak lain dari keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada "apa" atau "siapa" yang menawan hati kita. Cinta itu memberi, bukan menerima. Inilah maksud dari penuturan nabi yang diceritakan oleh Imam Bukhari: "Saling memberi hadiahlah kalian, maka kalian saling mencintai". Ya, dari memberi itu bisa menumbuhkan cinta.

Apa yang kita berikan, sesuai dengan objek dari cinta itu. Apa yang kita berikan ketika mencintai Allah, maka akan berbeda dengan cinta kita kepada makhluk-Nya. Yang kita berikan kepada Allah adalah totalitas diri kita atau penghambaan. Sedangkan kepada makhluk-Nya, sebatas apa yang Allah bolehkan, misalnya berbuat baik; penghormatan; dan sejenisnya. Tak boleh ada penghambaan. Menyamakan cinta makhluk kepada cinta Allah saja, tidak boleh, apalagi melebihinya. Begitu juga cinta kepada ortu, adik-kakak, suami-isteri, teman, dan seterusnya, berbeda. Kepada suami atau isteri, seseorang boleh "memberikan apa saja" dalam dirinya, tapi itu tidak untuk yang lainnya. Begitu juga apa yang kita berikan, antara cinta kepada hewan dengan cinta kepada tumbuhan, akan berbeda.

Ketiga, berkorban (at-tadlhiyah). Memberi dan berkorban, hampir sama. Bedanya, berkorban ada sebuah pembelaan dan mendahulukan sesuatu yang kita cintai, sedangkan memberi tidak demikian. Umpamanya, kita mencintai buku, agar buku itu tetap baik, kita "memberinya" sampul. Beda dengan "membelanya", ketika kita bawa buku itu, lalu tiba-tiba turun hujan. Sebagai bentuk cinta kita, kita rela berkorban atau "bela" buku itu supaya tidak kena air hujan dengan memasukkan dalam baju kita. Kita lebih mendahulukan buku itu dari pada diri kita yang basah. Begitu juga dengan cinta kepada yang lainnya.  

Terakhir; keempat adil (al-'adalah). Ketiga komposisi di atas, harus dibingkai dengan keadilan. Adil di sini, bisa bermakna seimbang, bisa juga sesuai dengan waktu dan tempat. Bila adil ini hilang, maka hilang pula makna cinta. Sederhananya begini, orang yang kita cintai baru saja dioperasi. Ia kehausan dan minta air minum. Dokter telah berpesan, tidak boleh memberikan sesuatu kepadanya. Tapi, karena atas nama cinta, kita kasih ia minum. Apa yang terjadi? Bukan saja rasa haus yang hilang, tapi nyawanya pun ikut hilang, alias meninggal. Apakah itu cinta? Itu bukan cinta, tapi secara tak langsung membunuhnya. Karena "memberi" air minum "tidak tepat waktunya".

Atau, Amerika Serikat, atas nama cinta perdamaian, menyerang Iraq. Itu bukan cinta damai. Mengapa? Karena Amerika tidak adil, menyerang "tidak pada tempatnya". Sudah jelas Iraq tidak menyimpan senjata nuklir yang dituduhkan Amerika Serikat. Tapi mereka tetap menyerang. Sekali itu bukan cinta damai, tapi ada kebencian dan hawa nafsu. Nah, keempat komposisi itulah yang membentuk cinta. Hilang salah satunya, maka hilanglah makna cinta dan akan muncul kebalikan dari empat hal itu -kebodohan, pelit, cuek, dan dzalim. Dan dari sana pula, muncul kebalikan dari cinta, yaitu rasa benci.

Bersambung ke: Cinta itu Cahaya




Sebelum kita membicarakan komposisi cinta, terlebih dulu marilah kita memasuki pembahasan makna cinta dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran, kata cinta diungkapkan dengan kata "al-mahabbah" dan "al-mawaddah". Kedua kata ini, bermakna cinta. Namun, ahli tafsir Al-Biqa'iy, dalam buku Nazem Addurar, membedakan keduanya. Menurutnya, al-mawaddah atau al-wudda adalah cinta plus. Sebab al-mawaddah adalah cinta yang tampak buahnya dalam sikap dan perlakuan, serupa dengan kepatuhan sebagai hasil rasa kagum kepada seseorang.

Quraisy Shihab, dalam buku Menyingkap Tabir Ilahi: Asmâ al-Husnâ dalam perspektif Al-Quran (Lentera Hati, 2001), menyebutkan makna mawaddah (wadud) hampir sama dengan makna rahmat (rahim). Hanya saja, rahmat tertuju kepada yang dirahmati (objek) sedangkan yang dirahmati dalam keadaan butuh. Dengan demikian, kita dapat berkata bahwa rahmat tertuju kepada yang lemah, sedang mawaddah tidak demikian. Karena tidaklah tepat dikatakan, "Saya merahmati Allah", karena Dia tidak pernah akan butuh, tetapi tidak salahnya dikatakan "Saya mencintai-Nya". Sebab, mawaddah atau wadûd dapat dipahami sebagai objek sekaligus subjek.
"Di sisi lain cinta yang dilukiskan," tulis Ustadz Quraisy Shihab, "cinta yang dilukiskan dengan kata wud atau pelakunya Yang Wadud harus terbukti dalam sikap dan tingkah laku, sedang "rahmat", tidak harus demikian. Selama rasa perih masih ada di dalam hati terhadap objek, akibat penderitaan yang dialaminya, walau yang kasih tidak berhasil menanggulangi atau mengurangi penderitaan objek -rasa perih- itu saja sudah cukup untuk menjadikan pelakunya menyandang sifat rahîm (Pengasih), walaupun itu dalam batas minimun.

Dalam Al-Quran, cinta yang diungkapkan dengan kata yang berasal dari huruf "wauw" dan "dal" (al-mawaddah), terulang sebanyak 27 kali. Sedangkan yang berasal dari huruf "ha'" dan "ba" (al-mahabbah), terulang sebanyak 90 kali. Dan kata yang terbentuk dari huruf "ra", "ha", dan "mim" (ar-rahmah), disebutkan dalam Al-Quran sebanyak 183 kali.

Dari kajian terhadap kata "wudda", "hubb", dan "rahmat" yang tersebut di atas, ternyata mengungkapkan sejumlah titik persamaan dan perbedaan. Kita akan meringkaskan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan yang paling menonjol. Singkatnya, ketiga kata itu sama-sama untuk menunjukan keinginan untuk memberikan yang terbaik. Sedangkan perbedaannya adalah "wudda" digunakan untuk memberikan dan menerima kebaikan dari yang berakal (manusia), "hubb" selain untuk yang berakal juga untuk yang tidak berakal, sedangkan kata "rahmat" bermakna hanya memberikan kebaikan, meskipun tanpa menerima kebaikan itu kembali. Wallahu a'lam.

Bersambung ke: Komposisi Cinta


Cinta itu Universal dan Bukan Seks!

Sebelum aku mendefinisikan cinta itu menurut pemahamanku, ada dua hal yang ingin aku sampaikan, pertama, ada penyempitan makna cinta; kedua, tentang komposisi cinta. Baik, kita mulai dari hal pertama. Dari apa yang aku dengar dan aku baca, ada kesan cinta itu hanya untuk lawan jenis, bahkan identik dengan seks. Apalagi, kalau membaca buku-buku, atau literatur dari Barat, itu bukan hanya kesan, memang mereka identikkan dengan seks. Ini terlihat, ketika ada seorang penulis, menyebutkan salah satu komposisi cinta adalah gairah seksual.

Dan penyempitan makna cinta itu, terjadi juga dengan masyarakat di Indonesia. Sebagai contoh, apa yang tertulis dalam buku yang sempat bikin heboh dan best seller beberapa tahun yang lalu (Ma'af, aku tidak sebutkan judulnya ya). Pas baca buku itu, aku bergidik. Iiii takut!! Gimana enggak ngeri, di sana digambarkan tentang bisnis 'daging ayam'? Ayam yang aku maksud bukanlah ayam beneran, tapi sebutan para cewek murahan yang jual diri sama cowok, atau bisa sebaliknya.

Gila, dalam buku itu, diungkap semua aktifitas seksualitas yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Betapa tidak, selain aktifitas itu zina -sebab para pelakunya tidak diikat oleh pernikahan, juga seks itu dilakukan di luar prikemanusiaan. Masih adakah nurani, ketika ratusan laki-laki dan perempuan dalam sebuah ruangan berjoget tanpa sehelai benang? Lalu, mereka 'bebas-sebebasnya' melakukan perzinahan itu. Mau satu laki-laki melayani dua, tiga, empat perempuan. Atau sebaliknya, satu  cewek di 'garap' beberapa cowok. Atau mereka bermesum sesama jenisnya; lelaki dengan lelaki (homo) dan perempuan sama perempuan lagi (lesbian). Tempatnya juga bebas, mau di lantai, di sofa, di kasur, di mobil, atau dimana saja, yang penting enjoy. Semuanya, boleh dilakukan. Lantas, kalau demikian, apa bedanya dengan binatang? Gubrak!!

Ah, intinya, dalam buku itu terjadi penyempitan dan penyimpangan makna cinta. Bagi mereka kata "bercinta", berarti itu penghalusan kata dari "hubungan biologis" antara lawan jenis. Wajar saja kalau ada diantara teman kita yang ingin membuktikan cinta pada pasangan -pacar- adalah lewat penyerahan tubuh, walaupun tanpa proses yang halal, alias tanpa nikah. Orang memahami dari cintalah akan lahir seks. Dan seks dilakukan juga akan menimbulkan cinta. Padahal itu bukan cinta, itu adalah hawa nafsu.

Cinta itu universal. Bukan hanya untuk lawan jenis saja. Cinta bisa berlaku dari Allah Swt. untuk makhluk-Nya. Dari makhluk kepada Allah Swt. Dari ibu untuk anaknya, atau sebaliknya. Dari manusia untuk harta-benda. Dari manusia kepada hewan dan pepohonan. Dan seterusnya. Contoh, ketika ada pulpen bagus dan jadi kesukaan kita, kita pun bilang: "Gue cinta banget ama pulpen ini!" Jadi, objek cinta itu "siapa" dan "apa" saja, alias universal, termasuk terhadap pulpen. Tidak hanya dengan lawan jenis saja.

Bersambung ke: Makna Al-Mawaddah, Al-Mahabbah, dan Ar-Rahmah


Apa itu cinta? Seperti yang diungkapkan temanku itu, ia sendiri bingung, mengapa dirinya begitu berhasrat mengikuti sang rocker. Ia tidak mengatakan, itulah cinta. Padahal, menurutku, itu adalah cinta. Ya, cinta memang mudah kita rasakan, tapi sulit kita gambarkan dalam bentuk kata-kata. Ini terkesan klise ya? Tapi kenyataannya memang demikian.

Bagiku, cinta itu lebih mudah kita fahami "bagaimananya" daripada "mengapanya"? Tanya sama orang yang sedang jatuh cinta: "Mengapa kamu mencintai orang yang kamu cintai itu?" Besar kemungkinan, ia akan garuk-garuk kepala; bingung. Tapi, kalau kamu tanya: "Bagaimana kamu tahu bahwa kamu mencintai seseorang?" Maka mulutnya akan begitu mudah memberikan penjelasan bahwa ia tahu dari apa yang ia rasakan.

Jangan heran, bila ada seorang pemuda tampan, cerdas, aktivis, memimpin sebuah perusahaan, dan berbagai kelebihan lainnya. Nyaris tak ada cacat. Tapi, tiba-tiba ia memutuskan untuk mencintai dan menikah pembantunya: gadis desa lugu, wajah papasan, tamat SD, dan seterusnya. Atau, ada seorang dosen perempuan bergelar doktor, tokoh, dan sangat terkenal, dan ternyata mencintai sopir pribadinya.

Itulah cinta. Mudah kita rasakan, tapi sulit kita katakan. Mudah untuk mencari jawaban dari "bagaimana", daripada "mengapa". Mudah kita rasakan, daripada kita pikirkan. Ya, cinta itu memang urusan hati, bukan urusan otak. Karena cinta urusan hati, maka cinta tidak dapat kita deteksi kecuali melalui gejala-gejala psikologis, tingkah laku, sifat-sifat atau pengaruh yang terjadi saat kita mengalaminya. Dan pengalaman setiap orang berbeda. Akhirnya, dalam mendefinisikannya, juga berbeda-beda. Setiap orang memiliki definisi tersendiri tentang cinta, sesuai dengan apa yang ia rasakan. Sampai kapanpun, tidak pernah akan ada kata sepakat dalam mendefinisikan cinta.
 
Lantas, apakah kita tidak perlu mencari definisi cinta? Maksudnya bukan demikian! "Tidak ada kata sepakat dalam definisi", bukan berarti kita tidak perlu mendefinisikan. Justru, seharusnya, setiap orang mendefinisikan cinta itu, sesuai dengan pengalaman hidupnya. Karena, dengan memahami arti cinta, seseorang akan merasakan makna cinta. Yuk, kita definisikan cinta itu!
 
Bersambung ke: Cinta itu Universal dan Bukan Seks!


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help