Pahlawan's Family
Photobucket
Berdzikir setiap saat...
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Udo Yamin's posts with tag: serial rahmat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag serial rahmat
Blog EntryEpilog Makna Rahmatan Lil 'AlaminNov 16, '07 1:52 AM
for everyone
EPILOG Makna Rahmatan Lil 'Alamin
Oleh: Udo Yamin Efendi

Sahabatku...
Setelah Anda membaca "Serial Makna Rahmat", apa yang Anda dapatkan? Apakah ada hal yang baru Anda fahami? Apakah ada perubahan paradigma dalam memahami makna rahmatan lil 'alamin? Wallahu a'lam, saya tidak tahu, apakah tulisan bisa bermanfa'at atau tidak, jika Anda tidak memberikan masukan apapun kepada saya. Untuk mengetahui sejauhmana manfaat tulisan saya, sebuah kebahagiaan manakala Anda meluangkan waktu untuk menuliskan apa yang Anda dapatkan dari beberapa tulisan saya, sehingga saya bisa memperbaiki tulisan saya berikutnya.

Dan selanjutnya, karena teman di milis sekolah-kehidupan@yahoo.com meminta saya berbicara tentang dunia tulis menulis, insya Allah, setelah Serial Cinta dan Serial Makna Rahmat, maka saya akan menulis "Serial Belajar Nulis Yuk"

Mohon ma'af bila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Ilahi anta maqshudi wa ridlaka anta mathlubi
Wassalamu'alaikum Wr Wb




Blog EntrySeri 9: 14 Sifat Manusia Nov 16, '07 1:46 AM
for everyone
Sifat-Sifat IBADURRAHMAN

Kita mungkin sering berkata: "Mudah-mudahan saya bisa menjadi rahmatan lil 'alamin!" ATau juga sering dengar: "Islam itu rahmatan lil 'alamin!" Atau, perkataan: "Sebagai umat Islam, kita harus melanjutkan misi nabi sebagai rahmatan lil 'alamin!" Namun, ketika ditanya seperti apakah manusia rahmatan lil 'alamin itu, kita sering bingung. Yang difahami orang rahmatan lil 'alamin hanya diartikan ramah saja. Padahal bukan demikian. Ini saya cantumkan ciri-ciri hamba Allah rahmatan lil 'alamin dari Al-Quran surat Al-Furqan ayat 63-77)


1. Rendah hati .
"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati..."
Orang bisa rendah hati karena telah memiliki sesuatu yang agung, lalu apa yang sudah kita miliki?

2. Selalu berkata yang baik.
"Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik."
Bila kita tidak bisa berbicara yang baik, maka apa bedanya kita dengan orang jahil (bodoh)?

3. Tekun dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.
"Dan orang-orang yang pada waktu malam sujud dan berdiri (shalat) bagi Tuhannya."
Kasih sayang Allah akan hadir sebagai buah dari ketekunan kita beribadah, lalu mengapa kita tidak melakukannya?

4. Senantiasa berdo'a.
"Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, hindarkanlah adzab jahannam dari kami, sungguh azab-Nya adalah kekal. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman."
Do'a adalah target, bisakah sebuah target akan tercapai tanpa usaha yang nyata?

5. Tidak royal dan tidak kikir.
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."
Ingat, dalam harta kita ada hak orang lain. Tegakah kita menahan hak mereka dan mana kasih sayang kita?

6. Hanya berTuhankan Allah.
"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah."
Sudahkan kita terlepas dari menuhankan selain Allah, misalkan menuhkan hawa nafsu, harta, gelar, dsb?

7. Tidak membunuh [makhluk] yang diharamkan Allah.
"..dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar,..."
Membunuh diri sendiri saja tidak berhak, lantas apa hak kita ingin membunuh orang lain?

8. Tidak berzina.
"..dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia dapat (pembalasan) dosa (nya). Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal salam azab itu, dalam keadaan terhina."
Relakah kita kenikmatan sesaat dibayar dengan kesengsaraan berkepanjangan?

9. Bertaubat secara sungguh-sungguh.
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat, dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya."
Allah swt sangat bergembira menyaksikan hamba-Nya bertaubat, sudah sepantasnyalah kita bersedih karena jarang bertaubat?

10. Tidak bersumpah palsu.
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian
  palsu,..."
Seribu topeng yang kita pakai untuk menyembunyikan kepalsuan, bisakah ini mengelabui Allah?

11. Jauh dari hal-hal yang kurang bermanfa'ah dan selalu
     menjaga harga diri.
"dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan (perbuatan-perbuatan) yang tidak berfaedah, mereka lalui saja dengan menjaga kehormatannya."
Sampah adalah sesuatu yang tidak bermanfa'at, lalu apa yang lebih pantas bagi "sampah" di mata Allah selain dibuang dan dibakar di neraka?

12. Terbuka telinga dan mata hatinya.
"Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta."
Adakah peringatan yang lebih baik selain peringatan Allah swt?

13. Bertanggung jawab atas keturunannya.
"Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penggembira hati(kami),..."
Terkabulnya do'a ini, bagi Allah sangatlah mudah. Cuma, sudah siapkah dan sudahkah kita bersungguh-sungguh melakukan jalan untuk meraihnya?

14. Menjadi pemimpin berdasarkan ketaatan kepada Allah
"dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa."
Imam adalah ikutan, pantaskah kita menjadi ikutan orang yang bertaqwa?

Dari keempat belas tanda utama di atas, berapa persenkah yang ada dalam diri kita?

Tidakkah kita malu sama Allah, manakala mengaku Ibadurrahman --rahmatan lil 'alamin, tapi sifat-sifat itu tidak ada dalam diri kita?

Bersambung ke: Epilog Serial Makna Rahmatan lil 'alamin.

Blog EntrySeri 8: IBADURRAHMANNov 16, '07 1:43 AM
for everyone
[Serial Makna Rahmat 8]: Ibâdurrahmân;
Tampil Beda Sebagai Hamba Allah Yang Terbaik

Dalam Al-Quran surat Al-Furqan ayat 63 sampai 77, Allah Swt. memaparkan kriteria orang-orang yang mendapatkan rahmat-Nya dan akan masuk surga itu. Mereka dipanggil Allah dengan sebutan "Ibâdurrahmân" (Para Hamba Tuhan Yang Maha Penyayang).
Al-Furqan, artinya pembeda. Yang dimaksud dengan Al-Furqan di sini adalah Al-Quran. Sayyid Quthub -dalam "Fî Dzilâli Al-Qurân" (Dar Asy-Syuruq, 2005)- mengatakan bahwa Al-Quran disebut Al-Furqan karena Al-Quran sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan; petujuk dan kesesatan. Bahkan kedatangan Al-Quran juga untuk membedakan berakhirnya zaman anak-anak dan berawalnya zaman dewasa, berakhirnya periode kebodohan yang materialis dan berawalnya kemu'jizatan yang rasional.

Bukan sebuah kebetulan Allah Swt. membahas sifat-sifat Ibadurahman dalam surat Al-Furqan. Setidaknya, hikmah yang kita tangkap bahwa siapa saja yang memiliki sifat-sifat itu, maka akan berbeda dari kebanyakan manusia. Seperti berbedanya nabi Muhammad Saw. diantara para tokoh dunia yang ditulis Michael H. Hart dalam bukunya "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah" (Pustaka Jaya, 1993). Beliau tokoh yang terbaik; nomor satu diantara tokoh yang lainnya.

Begitu juga orang-orang yang disekitar rasulullah Saw. berbeda dengan generasi sebelum dan sesudahnya. Mereka disebut Al-Jîl al-Farîd (Generasi Unik). Keunikan mereka dalam kecerdasan majemuk (multiple intelegences) dapat kita baca dalam buku "Rijâl Hawla ar-Rasûl" -diterjemahkan dalam bahasa Indonesia "Karakteristik 60 Shahabat Rasulullah"- karya Khalid Muhammad Khalid.

Sifat seperti apakahnya yang membuat nabi dan para sahabatnya berbeda? Jawabannya, mari kita simak firman Allah ini: Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata:"Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata:"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya.surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik):"Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu.(Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu) (QS. Al-Furqan [25]:77).

Nah, sifat-sifat 'Ibadurrahman yang tercantum dalam ayat-ayat Allah di atas, insya Allah, akan kita urut dalam tulisan berikutnya. Mari kita berdo'a, semoga Allah membantu kita untuk memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan firman-Nya itu. Amîn yâ rabbal 'âlamîn.

Bersambung ke: 14 Sifat Manusia Terbaik

[Serial Makna Rahmat 7]: Alam Rahmâtullâh; Kampung Halaman Terbaik
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

"Allah menciptakan rahmat menjadi seratus bagian, kemudian menetapkan 99 bagian di sisi-Nya dan menyempurnakan satu bagian inilah semua makhluk saling mengasihi, hingga seekor kuda mengangkat kaki dari anaknya karena khawatir menginjaknya." (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis di atas sempat kita singgung sebelumnya. Dalam riwayat Imam Muslim, hadis itu ada tambahannya, yaitu "maka bila datang hari kiamat Allah menyempurnakan rahmat-Nya (99 rahmat di sisi-Nya) menjadi seratus rahmat dengan tambahan rahmat ini (rahmat dunia)."

Ketika mengomentari kedua hadis ini, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam kitabnya "Fathul Bary" (Dar As-Salam Riyadh, 2000), menyebutkan bahwa rahmat yang berkaitan dengan Allah terbagi menjadi dua macam; pertama, rahmat merupakan sifat dzat Allah yang tidak terbilang jumlahnya. Allah berfirman, Dan rahmatku mencakup segala sesuatu (QS Al-Arâf [7): 156); kedua, rahmat merupakan sifat dari pekerjaan (al-fi'li) Allah Swt..
Rahmat macam pertama, selalu ada pada Allah, tidak dibagi, tidak dipilah, atau dikelompokkan. Sebaliknya, rahmat macam kedua, yang diberi dan diambil Allah, dibagi, dipilah, dan dikelompokan kepada siapa dan apa yang Dia kehendaki. Nah, yang dimaksud "seratus rahmat" dalam hadis itu adalah rahmat macam yang kedua ini.

Seratus rahmat itu akan diberikan Allah Swt. hanya kepada orang yang beriman saja, tidak kepada orang kafir. "Dan adalah Dia Maha Penyanyang kepada orang-orang yang beriman" (QS. Al-Ahzab [33]: 43). Orang beriman menyempurnakan rahmat yang pernah mereka peroleh di dunia. Bagi orang yang beriman hubungan kasih sayang di dunia akan terus terjalin hingga akhirat nanti.

Sebaliknya, orang yang kafir, di dunia mereka bisa menikmati satu persen kasih sayang, maka ketika di akhirat mereka tidak mendapatkan kasih sayang-Nya, bahkan kasih sayang 1 % (satu persen) di dunia itu, tidak mereka dapatkan lagi. Di akhirat nanti, orang-orang kafir tidak bisa saling menyanyangi; mereka saling memusuhi. Rahmat Allah itu diganti dengan murka-Nya.

Rahmat Allah itu akan diterima orang yang beriman, baik ketika mereka dibangkitkan dari alam kubur, ketika di padang mahsyar, ketika amalan ditimbang, ketika buku catatan amal diberikan, ketika melewati shirât al-mustaqîm maupun ketika di surga. Sebaliknya, ketika itu pula orang kafir akan mendapatkan murka-Nya.

Sungguh, saat itu kita hanya mengingat tentang apa yang telah kita perbuat selama di dunia. Al-Hasan menceritakan bahwa rasulullah Saw. pernah meletakkan kepalanya di pangkuan 'Asyah r.a. dan tertidur. 'Aisyah teringat akan akhirat dan meneteskan air mata yang jatuh membasahi pipi rasulullah Saw. Rasulullah Saw. terbangun, dan beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai 'Aisyah?", 'Aisyah menjawab, "Apakah engkau akan mengingat isterimu pada hari kiamat nanti?" "Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, ada tiga tempat yang manusia tidak lagi mengingat seorangpun kecuali dirinya sendiri. Pertama, ketika neraca ditegakan dan amal perbuatan ditimbang sehingga manusia bisa melihat apakah timbangan amal baiknya berat atau ringan. Kedua, ketika buku catatan amal diserahkan sehingga dia akan menyaksikan apakah dia menerima buku dengan tangan kanan atau tangan kiri. Ketiga, ketika berada di titian hari kiamat." (HR. Baihaqî)

Bagi kita, yang timbangan amal baik berat, menerima catatan dengan tangan kanan, dan selamat melewati titian, maka wajah kita akan putih berseri. Sebaliknya, bila kita, na'udzubillâh, sedikit amal baiknya, dapat buku dengan tangan kiri, dan tidak bisa melintasi titian, akan berwajah muram. Ini diceritakan Allah dalam Al-Quran, maka wajah mereka akan pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan):"Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya (QS. Ali Imran [3]:106).

Nah, kalimat "fî rahmatihî" (dalam rahmat-Nya) pada ayat di atas, yang mengilhami saya memberi nama akhirat dengan sebutan "Alam Rahmatullah; Kampung Halaman Terbaik." Inilah tempat kita memperoleh rahmat Allah 100 %. Masuknya kita ke surga, ini merupakan rahmat Allah Swt.. Sebab, tanpa rahmat-Nya, tak seorangpun yang bisa masuk surga. Rasulullah bersabda, "Tak akan seorangpun yang yang masuk surga, karena amalnya. Para sahabat bertanya, "Termasuk Engkau sendiri, ya rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab, "Ya, termasuk diriku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku!" (HR. Bukhari)

Dalam hadis sebelumnya, nabi Saw. menceritakan bahwa amal akan ditimbang dan akan menentukan apakah kita masuk dalam surga atau tidak. Namun, hadis selanjutnya, rasulullah Saw. memberitahu kita bahwa amalan kita bukan penyebab kita masuk surga, tapi yang menyebakan kita masuk surga adalah rahmat Allah Swt.. Apakah ini kontradiksi?
Tentu saja tidak! Maksud amalan kita bukan penyebab kita masuk surga, bukan berarti kita tidak usah sholat, shaum, zakat, haji, berbuat baik, dan seterusnya, tapi Allah Swt. dan rasul-Nya, ingin menegaskan kepada kita bahwa tujuan kita melakukan amal sholeh itu sebagai sarana untuk menguji keta'atan kita agar kita meraih rahmat-Nya. Allah berfirman, Dan ta'atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (QS. Ali Imran [3]:132). Jadi, yang ingin nilai Allah terhadap amal kita, bukan seberapa banyak kita melakukannya, tapi seberapa besar motivasi keta'atan itu dalam hati kita dan seberapa benar kita melakukannya berdasarkan petunjuk Islam. Bisa jadi, seseorang banyak melakukan shalat, shaum, zakat, dan yang lainnya, tapi itu muncul bukan karena ta'at kepada Allah dan rasul-Nya, misalnya karena tuntutan keluarga, lingkungan, dan lain sebagainya, maka itu tidak artinya bagi Allah Swt.. Orang itu bukan memperoleh rahmat, tapi sebaliknya mendapat laknat. Maka dalam Islam, yang dilihat bukan kualitas, tapi kuantitasnya. (Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk [67]:2) Dan maksud dari "ahsanu 'amalâ" (paling baik amalnya) adalah paling ikhlas niatnya dan paling sesuai dengan tuntunan nabi dalam melakukannya. Dua hal ini -ikhlah dan mengikuti tuntunan nabi- menjadi syarat mendapat rahmat-Nya atau tidaknya kita.  

Sungguh, kita sangat beruntung bila rahmat-Nya. Sebab dengan rahmat-Nya, kita akan meraih surga. Dan surga tempat kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang kita rasakan di dunia, belum seberapa dengan kebahagiaan di surga.

Kebahagiaan itu adalah ketika kita meraih apa yang kita inginkan dan terhindar dari apa yang tidak kita inginkan. Di Dunia, tidak semua yang kita inginkan bisa kita raih, atau tidak semua yang tidak kita inginkan bisa kita hindarkan. Atau, bisa jadi kita bisa maraih keinginan, tapi kita kita tidak bisa menolak yang tidak kita inginkan. Misalnya, kita memiliki pasangan hidup menyenangkan, harta berlimpah, keturunan, tapi pada saat yang sama kita digerogoti banyak penyakit. Lalu, sempurnakah kebahagiaan kita? Maka, hanya di surgalah, apa saja yang kita inginkan ada, sebalik apa yang tidak kita inginkan tidak ada dalam surga. Lantas, seperti apakah kriteria orang yang akan mendapat rahmat Allah Swt. dan masuk dalam surga itu?

Bersambung ke: IBADURRAHMAN; Tampil Beda Dengan Yang Terbaik

Blog EntrySeri 6: ALAM AL-MARHUM, Tempat Singgah Terbaik Nov 16, '07 1:26 AM
for everyone
[Serial Makna Rahmat 6]: Alam al-Marhûm; Tempat Singgah Terbaik
Oleh: Udo Yamin Efendi

Bukan sebuah kebetulan, orang yang telah meninggal mendapat gelar "Al-Marhûm". Tapi, sebutan ini sebuah renungan bagi kita, bahwa kematian adalah salah satu rahmat Allah Swt. Al-Marhûm artinya "Yang Disayangi". Awalnya, memang sebutan ini, sebagai do'a. Sebab, dari sekian banyak do'a yang diajarkan oleh rasulullah Saw. untuk mayit adalah memintakan ampun dan rahmat Allah Swt. Dari sinilah, para ulama salafush shaleh; orang-orang sholeh zaman dahulu, sering membubuhkan sebutan "yarhamullâh"  atau "rahimahullâh" (orang yang mendapatkan kasih sayang Allah) kepada orang Islam yang telah meninggal.

Mengapa orang yang meninggal dido'akan agar mendapatkan kasih sayang Allah? Sebab, pertama, di alam kubur ini, awal mendapatkan 99% kasih sayang Allah Swt.; tahap pertama akhirat. Sebagaimana telah kita bicarakan pada bagian Alam Kedua; Alam Rahmatan lil 'Alamin, pada umur manusia fase kuat, rasulullah Saw. menjelaskan bahwa kasih sayang kita terima selama di dunia hanya 1 % dan ini dibagikan kepada semua makhluk-Nya, termasuk kepada hewan. Maka alam kubur sebagai awal kita mendapatkan 99 % kasih sayang yang Allah Swt. janjikan.

Bentuk kasih sayang tersebut, akan terlihat saat sakratul maut. Bagi orang yang selama di alam dunia benar-benar menghargai rahman-rahim Allah Swt., atau orang yang beriman, maka Allah Swt. akan mencabut nyawanya sebaik mungkin. Dalam hadis Qudsi, Allah Swt. mengungkapkan hal ini, "Barangsiapa yang menghina wali-Ku, sungguh itu berarti telah memerangi-Ku. Tidaklah Aku merasa ragu terhadap apa yang akan Aku lakukan seperti rasa ragu-Ku dalam mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman. Hamba-Ku itu tidak menyukai kematian, sedangkan Aku tidak mau menyakitinya, padahal kematian itu harus terjadi kepada para hamba-Ku." (HR. Bukhari)

Kedua, Alam kubur sebagai alam pertamakali menerima akibat semua perbuatan kita. Di alam dunia, "ar-rahmân" Allah Swt. berlaku dalam bentuk Dia memberikan semua kenikmatan kepada orang yang beriman dan orang kafir, maka ketika di alam kubur "ar-rahîm"-Nya mulai berlaku, yaitu menambah kenikmatan kepada orang yang beriman dan mengganti kenikmatan dengan siksaan kepada orang kafir.

Khalifah Utsman bin 'Affan Ra. selalu menangis bila mendekati kuburan. Lalu ada yang bertanya, "mengapa selalu menangis jika mendekati kuburan, padahal saat disebutkan tentang surga dan neraka tidak menangis?" Beliau menjawab, "Saya pernah mendengar rasulullah Saw. Bersabda, "Sesungguhnya kuburan adalah tahap pertama akhirat. Jika penghuninya selamat darinya, maka yang datang sesudahnya akan lebih mudah; tetapi jika dia tidak selamat darinya, maka yang sesudahnya akan lebih sukar". (HR. Tirmidzi)

Ketiga, Yang menyelamatkan seseorang dari siksaan kubur, juga siksaan di alam akhirat nanti adalah kasih sayang Allah Swt. Tak seorangpun yang menemui kematian yang bersih dari dosa, kecuali rasulullah Saw. Setiap orang yang berdosa, akan disiksa di alam kubur, meskipun mereka melakukan amal sholeh. Amal sholeh itu tidak bisa menghapus semua dosa, apalagi dosa syirik (menyekutukan Allah). Sebab yang menyelamat kita dari siksa kubur dan alam sesudahnya bukan amalan kita, tapi rahmat (kasih sayang) Allah Swt.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, rasulullah pernah bersabda, "Tidak seorang pun diantara kalian yang selamat karena amalannya." Para sahabat bertanya, "Termasuk engkau sendiri, wahai rasulullah?" Rasulullah Saw. Menjawab, "Ya termasuk aku, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku."

Rasulullah Saw. sebagai orang yang ma'shum (terjaga dari dosa) dan paling banyak amal sholehnya, masih mengharapkan rahmat Allah Swt., apa lagi kita? Maka sungguh termasuk orang yang 'ujub (merasa bangga dengan dirinya sendiri) orang yang merasa selamat dari siksa kubur, karena telah melakukan amal sholeh, baik itu sholat, shaum, zakat, haji, maupun jihad di jalan Allah. Mungkin Anda bingung, kalau semua amal sholeh, apalagi amal salah, tidak bisa menyelematkan kita dari siksa kubur dan akhirat nanti, lalu untuk apa kita beramal sholeh?

Tadi disebutkan bahwa yang menyelamatkan kita dari siksa kubur dan akhirat adalah rahmat-Nya. Cara kita untuk meraih rahmat Allah adalah ta'at kepada Allah dan rasul-Nya, Dan ta'ati Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (QS Ali 'Imrân [3]: 132) Maka sholat, shaum, zakat, dan amaliah yang kita lakukan selama ini tak lain sebagai bentuk keta'atan kepada Allah dan rasul-Nya agar mendapatkan rahmat-Nya.

Bagi orang yang mendapatkan rahmat-Nya, maka alam kubur ini adalah tempat singgah terbaik. Bagi mereka kuburan itu adalah taman surga. Adakah tempat singgah yang lebih baik dari taman surga? Sedangkan bagi orang yang tidak mendapatkan rahmat-Nya, maka kuburan itu akan menjadi jurang neraka. Nabi mengatakan, "Kuburan itu bisa menjadi salah satu jurang neraka, atau sebuah taman surga." (HR. Tirmidzi) Dalam hadis lain nabi lebih jelas lagi menerangkan hal itu, "Jika salah seorang dari kalian mati, maka tempat duduknya (yang akan datang) diperlihatkan pagi dan petang; jika ia termasuk penghuni surga, maka tempat duduknya itu di tempatkan di penghuni surga, dan jika dia termasuk penghuni neraka, maka tempat duduknya itu ditempatkan di neraka. Dan kepadanya akan dikatakan, 'Inilah tempat kalian hingga dibangkitkan untuk menemui Dia pada hari kebangkitan.'" (HR Bukhari & Muslim)       

Mari kita tutup obrolan tentang alam kubur ini dengan do'a yang diajarkan nabi untuk kita baca diakhir sholat setelah membaca tasyahud. "Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari 'adzab jahannam, dari 'adzab kubur, dari fitnah hidup dan mati, serta dari fitnah Dajjal." (HR. Bukhari & Muslim)

Bersambung ke: ALAM RAHMATULLAH, Kampun Halaman Terbaik

Blog EntrySeri 5: Fase Umur Ketiga Nov 16, '07 1:23 AM
for everyone
[Serial Makna Rahmat 5]: Fase Umur Ketiga.
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

Adapun yang dimaksud dengan fase umur ketiga yaitu masa pasca umur 60 tahun hingga kita meninggal dunia. Atau lebih sering kita dengar dengan sebutan masa lanjut usia (Lansia) atau manusia lanjut usia (manula). Sebagai dasar fase ini yaitu firman Allah Swt., kemudian Dia menjadikan (kamu) itu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban (QS. Al-Rûm [30]:54).

Masa ini merupakan masa kita sudah mulai tidak produktif lagi berkarya. Seluruh potensi diri -terutama spritual- kita benar-benar matang, bahkan pontensi diri kita itu mengalami kemunduran. Inilah alasan mengapa fase ini disebut fase lemah kedua. Pada masa ini kita mulai membutuhkan kasih sayang seperti yang kita berikan kepada anak-anak kita waktu kecil dulu. Artinya, mulai menikmati apa yang telah kita lakukan pada dua fase sebelumnya.
Lalu, bagaimana nabi Muhammad Saw. menjalani fase ini? Ketika wafat, rasulullah berumur 63 tahun. Berarti yang kita bicarakan, kehidupan rasulullah selama tiga tahun sebelum beliau menemui Allah swt.

Pada fase sebelumnya, kita bicarakan bahwa rasulullah saw. selama tujuh tahun beliau membangun masyarakat madani (civil society). Dan masyarakat Islam awal yang berada di bawah kepemimpinan nabi ini, benar-benar modern untuk tempat dan masa itu. Hal ini ditegaskan oleh Robet N. Bellah bahwa masyarakat awal dapat disebut modern dalam hal tingginya tingkat komitment, keterlibatan dan partisipasi yang diharapkan dari segenap masyarakat.

Artinya, ketika nabi memasuki tiga tahun menjelang wafatnya, beliau telah meraih kemenangan pribadi (Private Victory) dan kemenangan publik (Public Victory). Kemenangan pribadi rasulullah Saw. dapat kita lihat dari keberhasilan beliau dalam memenuhi -meminjam teori Steven R. Covey- empat kebutuhan dasar manusia, yaitu hidup, mencinta, belajar, dan meninggalkan warisan.

Dalam memenuhi kebutuhan untuk hidup; kebutuhan fisik, baik itu makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, maupun kesehatan, nabi Muhammad Saw. telah mempraktekan tentang kesederhanaan dan keseimbangan. Hingga selama hidup beliau, jarang sekali sakit, kecuali menjelang akhir hayat beliau.

Kebutuhan untuk mencintai; kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan orang lain, untuk menjadi bagian dari orang lain, untuk mencintai dan dicintai, tanpa diragukan lagi, rasulullah Saw. telah meraihnya. Ini terlihat dari hubungan beliau dengan sepuluh isteri beliau yang sampai akhir hayat nabi, tidak seorangpun dari isteri beliau yang menuntut cerai. Begitu juga hubungan cinta rasulullah Saw. terhadap keempat putri dan para mantu beliau. Bahkan, hubungan cinta atas dasar iman, sangat kuat antara nabi Muhammad Saw. dan pengikut beliau; tidak hanya yang sezaman dengan beliau, tapi juga detik ini.

Tarikh; sejarah nabi, telah mencatat dengan tinta emas bahwa beliau adalah seorang pembelajar ulung. Kepribadian beliau dari hari ke hari tumbuh dan berkembang sangat pesat, hingga meraih tingkat "Insân al-kamil"; manusia sempurna. Rasulullah Saw. memiliki sifat shiddîq, yaitu memiliki integritas yang tinggi. Beliau mempunyai kecerdasan majemuk (multiple intelegences) dan di atas rata-rata manusia biasa, inilah sifat beliau Al-Fathânah. Beliau juga terkenal amanah hingga mendapat gelar Al-Amîn (orang yang terpercaya) dari masyarakat Makkah; sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Juga, beliau memiliki sifat tablîgh; kemampuan dalam melakukan komunikasi efektif.

Apalagi dalam kebutuhan untuk meninggalkan warisan; kebutuhan spritual untuk memiliki pemahaman akan makna, tujuan, integritas pribadi, dan memiliki sumbangan terhadap dunia, nabi Muhammad Saw. telah meraih semuanya. Siapapun, kalau secara objektif mempelajari kehidupan beliau, maka akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa beliau telah berjasa merubah wajah peradaban dunia.

Selanjutnya, mengenai kemenangan publik (Public Victory) ini dapat kita ukur dari komitmen para pengikut beliau; sejak periode Makkah hingga periode Madinah, selama beliau hidup, tak satupun yang murtad; keluar dari Islam. Malahan, secara berbondong-bondong manusia menerima seruan beliau. Artinya, rasulullah Saw. telah berhasil menjadi seorang menejer sekaligus pemimpin.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana rasulullah Saw. menjalani tiga tahun sebelum beliau mengakhiri peran beliau sebagai rahmatan lil 'âlamîn. Dari beberapa kitab tarikh, dapat disimpulkan ada tiga hal yang nabi Muhammad Saw. lakukan, yaitu (1) menyempurnakan rukun Islam dengan melaksanakan ibadah umroh dan haji; (2) tetap memperjuangkan Islam dari berbagai gangguan dan ancaman musuh agar Islam dimenangkan-Nya terhadap semua agama (QS. Al-Fath [48]:28) dengan cara memimpin pasukan dalam beberapa perang; baik itu perang besar (ghazwah) maupun perang kecil (sarriyah); (3). tetap mengajak manusia untuk menerima ajaran Islam dengan mengirim para kader beliau ke berbagai pelosok negeri.

Itu beliau lakukan, hingga beliau sakit. Pada umur 63 tahun, saat rambut nabi Muhammad Saw. mulai beruban, beliau terbaring sakit selama empat belas hari. Inilah maksud firman Allah Swt., kemudian Dia menjadikan (kamu) itu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban (QS. Al-Rûm [30]: 54).

Umur 63 tahun itu pula, rasulullah wafat. Selama 23 tahun, beliau telah menjalankan tugasnya sebagai rahmatan lil 'amin sebaik mungkin. Dari segi waktu, mungkin umur 63 tahun dan masa pengabdian selama 23 tahun menjadi penyebar kasih sayang, memang pendek. Tapi rasulullah Saw. tetap dikatakan panjang umur. Akar kata umur berarti memakmurkan. Dan ajaran yang dibawa oleh rasulullah Saw. telah memakmurkan bumi. Inilah yang disebut panjang umur.

Acap kali kita dalam memahami "panjang umur" terlalu sederhana. Kita mengidentikkan panjang umur dengan ukuran atau rentetan waktu tertentu saja. Padahal sejatinya, panjang umur harus diartikan sejauh mana kita memanfaatkan waktu yang telah lewat untuk memberikan sesuatu yang bermanfa'at; beramal saleh; berbuat kebaikan dan memakmurkan dunia ini. Sesingkat apa pun usia kita, bila kita mampu beraktivitas, berbuat, berkarya, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan seluruh manusia, maka sebenarnya kita telah panjang umur.

Panjang-pendeknya umur tidak bisa diukur dengan waktu, melainkan dengan perangai dan karya baik kita. Dengan demikian, kepribadian, sikap, dan karya kita selalu dikenang oleh generasi selanjutnya. Kekasih Allah Swt., Nabi Ibrahim, telah mengajar kita tentang hakikat panjang umur ini lewat doanya, Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian (Qs Al-Syu'ra [26]:85).

Doa Ibrahim ternyata dikabulkan oleh Allah. Umur bapak para nabi ini dipanjangkan lewat bacaan tasyahhud --Allahumma shalli 'ala Ibraahiima wa alaa aali Ibraahiim-- dan dalam pelaksanaan ibadah haji. Ibrahim selalu dikenang banyak orang. Begitu juga dengan nabi Muhammad Saw., nama beliau selalu di sebut-sebut, ketika kita ber-shalawat.
Sebelum kita meneruskan diskusi, mari kita sejenak bershalawat terhadap junjungan kita; nabi Muhammad Saw. Mudah-mudahan dengan shalawat ini, Allah Swt. akan mempertemukan kita kepada baginda nabi Muhammad Saw. dan mendapatkan syafa'at beliau di akhirat nanti. Allâhumma shalli 'ala muhammadin wa ala 'alihi wa shahbihi wa sallam.

Bersambung ke: ALAM AL-MARHUM; Tempat Singgah Terbaik

Blog EntrySeri 4: Fase Umur KeduaNov 16, '07 1:19 AM
for everyone
[Serial Makna Rahmat 4]: Fase Umur Kedua.
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

Fase umur kedua (fase kuat) adalah masa kehidupan manusia antara umur 20 tahun hingga 60 tahun. Pada fase ini terbagi dua periode yaitu masa asy-syabâb (pemuda) dan al-kahûlah (dewasa). Masa pemuda dimulai dari umur 20 tahun hingga 40 tahun. Sedangkan masa dewasa dimulai dari usia 40 hingga 60 tahun. Landasan penamaan fase ini adalah kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat (QS. Al-Rûm [30]:54).
Hikmah yang dapat kita tangkap, Allah Swt. menamakan fase ini dengan fase kuat adalah karena pada masa inilah kita mulai mandiri; tidak terlalu tergantung kepada orang lain. Bahkan kita sudah mulai menghidupi diri kita dari hasil jerih payah kita sendiri. Pada masa ini pula, seseorang mulai produktif berkarya dan menghasilkan sesuatu. Sehingga ketergantungan terhadap seseorang sedikit demi sedikit mulai terkurangi, justru yang terjadi adalah sinergitas atau saling tergantung terhadap orang lain.

Di sinilah, kontinum kemandirian (independence) dan kesalingketergantuangan (interdependence), kita lakoni. Paradigma yang kita gunakan, tidak Paradigma "Kamu" lagi, melainkan Paradigma "Saya" (saya dapat melakukannya; saya bertanggungjawab; saya percaya diri; saya dapat memilih; dst) dan Paradigma "Kita" (Kita dapat melakukannya; kita dapat kerjasama; kita dapat menggabungkan bakat dan kemampuan; dst).
Secara kasih sayang, kita tidak lagi hanya "menerima", tapi kita sudah belajar "memberikan dan melayani", bahkan membangun sikap saling menyanyangi. Tingkat kasih sayang yang bisa kita berikan, sangat tergantung seberapa jauh kesadaran kita terhadap betapa kasih sayangnya Allah Swt. kepada kita dan seberapa banyak kasih sayang yang kita terima pada fase sebelumnya; fase umur pertama.

Dari segi potensi diri, pada fase ini mengalami kematangan, karena masa ini merupakan marhalah at-tanmiyah (tahapan pengembangan) dan marhalah at-taujih (tahapan pengarahan), bahkan memasuki marhalah taudzîf (penugasan; pemberdayaan).
Sejatinya, konsep kesalingtergantungan yang dimaksud oleh Steven R. Covey, sebangun dengan konsep rahmatan lil 'âlamin yang diajarkan oleh Islam. Keduanya, mengajarkan kita bagaimana meraih "kemenangan publik" (Public Victory) --yang berorientasi pada kepribadian dalam tim, kerjasama, dan komunikasi-- setelah kita membangun "Kemenangan Pribadi" (Private Victory). Keduanya bisa kita rangkum dengan kalimat ini: Menjadi Yang Terbaik.

Islam mengajarkan bahwa berjama'ah (kerja tim) jauh lebih baik daripada secara fardiyah (individu). Islam juga mengenal konsep fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) yang dalam istilah Steven Berpikir Menang-Menang atau Win-Win Solution. Dalam berkomunikasi, agama kita juga memberikan rambu-rambu komunikasi efektif, diantaranya Qawlan Ma'rûfa (berkata baik, bahasa dikenal dan difahami orang) Qawlan Karîma (berkata mulia sesuai dengan lawan bicara), Qawlan Sadîda (berkata benar; tidak mengandung dusta) Qawlan Balîgha (berkata menyentuh hati), Qawlan Maisûra (berkata dengan bahasa mudah dan pantas), Qawlan Layyina (berkata lemah lembut), Qawlan Tsaqîla (berkata dengan hati-hati; sebab membuktikan kata-kata dalam perbuatan sangat berat) dan Qawlan Mimmâ Da'â Ilâ Allah (perkataan kita mengandung nilai dakwah)

Konsep rahmatan lil 'âlamîn, akan mudah kita fahami dengan melihat sosok nabi Muhammad Saw. Sebagaimana telah kita bicarakan dalam fase sebelumnya, bahwa ketika rasulullah Saw. berumur 20 tahun, beliau telah memasuki kemenangan publik. Dan itu semua, dipersiapkan oleh Allah swt. sebab beliau akan mengemban tugas menjadi rahmatan lil 'alamin; tugas kenabian. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiyâ' [21]:107). Dan peran ini, beliau terima pada fase ini; fase umur kuat, tepatnya umur 40 tahun. Dan lima belas tahun sebelum itu, beliau menggenapkan seluruh kematangan dirinya, dengan menikahi direktur tempat beliau kerja, yaitu bunda Siti Khadijah radiyallahu 'anha.

Dalam limit waktu relatif singkat; 23 tahun, selama 13 tahun (umur 40-53 tahun) dakwah di Makkah, dan 10 tahun (umur 53-63 tahun) dakwah di Madinah, beliau dapat menerjemahkan konsep rahmatan lil 'amin menjadi sebuah peradaban baru. Inilah peradaban Islam. Apa rahasianya, hingga beliau sukses melakukannya?

Jawabannya, ada pada firman Allah Swt., Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS. Ali-'Imrân[3]:159).

Yah, rasulullah Saw. telah mengajarkan kepada kita tentang makna rahmatan lil 'âlamîn. Tarikh telah mencatat, bahwa setiap episode kehidupan beliau penuh dengan kasih sayang; memberikan yang terbaik. Beliau bisa mengajarkan tentang rahmatan lil 'âlamîn (interdependence), setelah beliau menjalani proses independensi (kemandirian).
Dengan kata lain, ketika beliau menerima risalah rahmatan lil 'âlamîn, seluruh potensi yang beliau miliki, baik IQ (intelegence Quotion), EQ (Emotional Quotion), SQ (Spritual Quation), maupun Fisik, semuanya sudah matang. Kepribadian beliau, benar-benar telah utuh. Hingga apapun cobaan untuk menggagalkan perjuangan beliau, dapat beliau atasi sebaik mungkin. Beliau tidak tergiur, ketika para tokoh, elit politik, dan kelas atas masyarakat Makkah, menawarkan jabatan, harta, dan perempuan. Beliau juga tidak menjual prinsip hidupnya, saat kekuatan musuh melakukan embargo ekonomi dan sabotase sosial selama 2 tahun di Makkah. Dan kepribadian beliau ini, juga terbentuk pada diri para kadernya.

Selanjutnya, ketika di Madinah, beliau membangun masyarakat madani (mujtama' al-madani/civil society) diawali dengan konsep kasih sayang. Secara teknis kasih sayang itu, selain beliau lakukan lewat tarbiyah (pendidikan) jalur formal (pengajaran di masjid), jalur informal (rumah tangga) dan non-formal di tempat-tempat tertentu, beliau terapkan sistim muakhkhah (mempersaudarakan) antara antara kaum Muhâjirîn (pendatang) dengan kaum Anshâr (penduduk asli). Tujuan dari program muakhkahh ini agar silaturahmi; hubungan kasih sayang, antara pendatang dan penduduk asli terjalin erat. Bersamaan itu, untuk membangun pasar dan membentuk barisan militer agar masyarakat sejahtera dan merasa aman dari berbagai macam ancaman.

Dari sanalah muncul masyarakat yang unik. Allah berfirman tentang sifat mereka, Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min).Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar (QS. Al-Fath [48]:29).

Makna "Keras terhadap orang kafir" bukan Islam mengajarkan kekerasan; terorisme. Sebab, kalimat itu disebutkan setelah kalimat "berkasih sayang sesama mereka". Itu sebuah sikap tegas dalam memegang prinsip al-haq (kebenaran), sedangkan dalam tataran intraksi sosial (mu'âmalah) tetap menghargai non-muslim sebagai bagian dari komunitas manusia.
Kalau kita cermati latar belakang 68 kali peperangan yang terjadi pada fase Madinah, maka kita akan menemukan benang merah bahwa semuanya berawal ingin melindungi, membela, dan memperjuangkan 'izzatul Islâm wal muslimîn (keagungan Islam dan umat Islam). Artinya ingin menghentikan kedzaliman dan makar yang dilancarkan oleh kaum kafir. Jadi bukan sebagai bentuk balas dendam, kebencian, dan sejenisnya. Bahkan perang merupakan bagian dari bentuk "rahmat" (kasih sayang) untuk "menjewer" orang kafir agar sadar dari "kenakalannya" terhadap Allah Swt.

Bukti perang yang dilakukan nabi bukan bentuk terorisme, ini terlihat dari sikap beliau, dari sekian banyak perang yang beliau ikuti, tapi beliau tidak pernah membunuh musuh. Juga terlihat dari etika perang yang beliau terapkan, yaitu tidak boleh membunuh anak-anak, perempuan, dan laki-laki usia lanjut, serta tidak boleh memotong pepohonan; merusak ekologi.

Artinya, Islam akan menjaga siapa saja yang tidak memusuhi Islam. Ini tercermin dari kontrak sosial (social contract), atau piagam perjanjian antara nabi Saw. dan pemuka-pemuka masyarakat Madinah, yang kita kenal dengan Piagam Madinah. Namun sebaliknya, jika ada yang mencemari ajaran Islam atau menodai izzah ummat Islam, maka "Asyiddâ ala al-Kuffâr" itu berlaku. Sebagai contohnya, ketika ada seorang muslimah yang belanja di pasar Qainuqâ', lalu auratnya disingkapkan oleh seorang Yahudi, nabi mengumumkan peperangan. Begitu juga, terbunuhnya seorang sahabat; Harits bin 'Amir. Ustman bin 'Affan ditahan oleh kaum kafir, maka para sahabat berbondong-bondong berbai'at kepada Nabi Muhammad Saw. untuk membelanya. Peristiwa ini kita kenal dengan "Bai'atur Ridwan".  Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya) (QS. Al-Fath [48]:18). Sikap kaum muslimin itu, merupakan realisasi dari sifat "ruhamâu bainahum"; saling menyanyangi diantara mereka.

Nabi Muhammad Saw. mengumpamakan kasih sayang kaum muslimin seperti satu jasad, atau satu bangunan. Beliau bersabda, "Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya dengan tidak bisa tidur dan deman. Seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang sebagiannya menguatkan yang lainnya." (HR. Ahmad, Al-Syaikhani, Tirmidzi & An-Nasai)

Rasulullah Saw. juga mencontohkan bagaimana kita mengungkapkan rasa syukur atas ar-Rahmân ar-Rahîm Allah Swt. lewat beribadah kepada-Nya (QS.Al-Dzâriyât [51]: 56) serta tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya (QS. Ali 'Imrân [3]: 132). Secara garis besar tugas kita di dunia hanya dua, yaitu menyambungkan kasih sayang kepada Allah Swt. (Bertaqwa) dan menyambungkan kasih sayang kepada manusia (QS.Al-Nisâ' [4]: 1). Dan peran kita sebagaimana peran rasulullah Saw. yaitu menjadi Rahmatan lil 'âlamîn (QS. Al-Anbiyâ' [21]: 107). Inilah alasan saya menyebut alam kedua; alam dunia dengan alam rahmatan lil 'âlamîn. Sebab tugas utama kita adalah melanjutkan perjuangan nabi Muhammad Saw. sebagai rahmatan lil 'âlamîn agar kalimah "Lâ ilâha illâ Allâh" tetap bergema di muka bumi.

Maka pada hakikatnya, di dunia ini adalah tempat kita menabur kasih sayang, agar kita mendapatkan kasih sayang secara utuh di akhirat nanti. Sebab, kasih sayang yang kita rasakan di dunia ini, hanya 1 % dari keseluruhan kasih sayang Allah. Sedangkan 99 % lagi, akan kita terima di akhirat nanti. Abu Hurairah menceritakan bahwa rasululllah bersabda, "Allah menciptakan rahmat menjadi seratus bagian, kemudian menetapkan 99 bagian di sisi-Nya dan menyempurnakan satu bagian inilah semua makhluk saling mengasihi, hingga seekor kuda mengangkat kaki dari anaknya karena khawatir menginjaknya." (HR. Bukhari & Muslim)

Dari hadis ini, dapat kita fahami, bahwa semua makhluk memiliki watak dan tabi'at saling mengasihi antar sesamanya. Dengan demikian, bahasa universal yang bisa menyatukan manusia adalah kasih sayang. Bahkan, yang menyamakan seluruh ajaran agama adalah ajaran kasih sayang. Siapapun yang keluar dari fitrah ini; tidak memiliki kasih sayang, maka ia akan menderita. Sebagaimana sabda rasulullah, "Rahmat tidak pernah dicabut, kecuali dari orang-orang yang celaka." (HR. Abu Daud)

Orang yang memutuskan kasih sayang, akan mendapatkan laknat Allah. "Sesungguhnya Allah menciptakan seluruh makhluk dan setelah selesai proses penciptaan maka berdirilah Rahim lalu berkata kepada Allah, "Bukankah ini tempat berlindung dari pemutusan silaturrahim? " Allah menjawab, "Benar, lalu maukah kamu jika Aku menghubungkan (menyambung) siapapun yang menyambung silaturrahim dan memutus siapapun yang memutuskan silaturrahim?" Rahim menjawab, "Tentu aku mau". Allah berfirman: "Itu akan Aku lakukan untukmu!" Kemudian Rasulullah membaca Al-Quran Surat Muhammad ayat 22-23, "Apabila kamu suka bacalah firman Allah: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturrahim? Mereka itulah orang-orang dilaknati Allah dan di tulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka" (HR Bukhari & Muslim)

Dan tempat bagi orang yang memutuskan silaturahmi adalah neraka. Dari Jubair bin Muth'im Ra. dari Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang suka memutuskan". Berkata Ibnu Abi Umar bahwa Sofyan berkata bahwa yang dimaksud dengan memutuskan adalah memutuskan silaturrahim." (HR. Bukhari & Muslim)

Keuntungan menebarkan kasih sayang tidak hanya diperoleh ketika menghadap Allah Swt. saja, tapi diterima secara cash di dunia. Sabda Rasulullah Saw., "Barang siapa yang ingin diluaskan baginya rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menghubungkan atau menyambung silaturrahim (tali kekeluargaan)." (HR. Bukhari & Muslim). Kualitas keimanan kita, juga terukur dari kasih sayang. "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaknya ia menyambungkan silaturrahim (tali kekeluargaan)." (HR. Bukhari & Muslim). Dan kasih sayang itu untuk siapa saja, termasuk orang yang memutuskanya dari kita. "Bukanlah penyambung silaturrahim orang yang hanya sekedar membalas kebaikan orang lain tetapi penyambung silaturrahim adalah yang selalu menyambungnya walaupun orang lain selalu memutuskannya." (HR. Bukhari).

Intinya, bagaimana kita senantiasa menghidupkan kasih sayang di dalam hati. Sehingga kita mampu memposisikan diri sebagai rahmatan lil 'âlamîn yang setiap perkataan dan perbuatan kita mencerminkan nilai-nilai kasih sayang. Pandangan kita penuh dengan kasih sayang, wajah kita selalu dihiasi senyum tulus, dan setiap kata-kata yang terluncur penuh dengan hikmah.

Singkatnya, tugas kita adalah bagaimana kita bisa memberikan sesuatu yang bermanfa'at demi kemaslahatan dunia. Sebab substansi dari rahmah adalah memberi, memberi, dan terus memberi yang terbaik. Coba kita renungkan, bukankah Allah Al-Rahmân Al-Rahîm telah begitu banyak memberikan segalanya kepada kita? Tapi adakah Dia menginginkan sesuatu dari kita? Begitu juga dengan orang tua kita, mereka berdua telah banyak memberikan kebutuhan kita. Namun adakah mereka mengharapkan balasan dari kita? Maka kasih sayang yang asli bak mata air yang terus mengalir tanpa mengharapkan sesuatu yang kembali padanya. Atau ibarat matahari yang menebarkan cahaya tanpa menginginkan cahaya tersebut kembali. Wallâhu a'lâmu bish shawâb

Bersambung ke: Fase Umur Ketiga

Blog EntrySeri 3: Fase Umur PertamaNov 16, '07 1:14 AM
for everyone
[Serial Makna Rahmat 2]: Fase umur pertama (fase lemah pertama).
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi


Fase ini pada hakikatnya dimulai sejak janin dalam rahim dan berakhir ketika kita memasuki usia dewasa. Hanya saja, karena pra-kelahiran tidak dimasukkan dalam umur kronologis manusia, maka yang dimaksud dengan fase umur pertama ini -menurut Dr. Akrim Rida- adalah fase sejak seseorang lahir hingga mencapai usia 20 tahun. Penamaan fase ini, berdasarkan dengan firman di atas: Dialah yang menciptakan kamu dari kadaan lemah. (QS. Al-Rûm [30]:54).

Secara garis besar, fase ini terdiri dari dua periode, yaitu periode ath-thifulah (anak-anak) dan al-murâhaqah (remaja). Dan masa remaja terbagi menjadi tiga, yaitu remaja awal, remaja madya, dan remaja akhir.

Pada fase ini, kita sangat tergantung dengan orang lain. Misalnya, sewaktu kita lagi bayi sangat membutuhkan kedua orang tua kita dalam berbagai hal, baik itu untuk minum, makan, berpakaian, mandi, dan seterus. Sedangkan waktu kita anak-anak membutuhkan bimbingan, pengajaran, dan tuntutan. Begitu juga halnya saat kita remaja, masih tergantung kepada orang tua kita, terutama masalah finansial.

Pada fase ini, kita menjalani apa yang disebut Steven R. Covey dengan kontinum kematangan Ketergantungan (dependence). Cara pandang yang kita pakai, masih pada tataran Paradigma "Kamu" -kamu mengurus saya; kamu datang melalui saya; saya menyalahkan kamu, dan seterusnya.

Dengan kata lain, kita masih sangat membutuhkan yang namanya "kasih sayang". Kita lebih banyak ingin menerima, daripada memberi. Lebih dominan dilayani, daripada melayani. Dan kasih sayang itu adalah memberi dan melayani. Kasih sayang pertama yang kita terima dari orang lain adalah kasih sayang orang tua kita. Tanpa kasih sayang, maka tugas perkembangan kita akan terhambat. Dapat dikatakan bahwa siapa kita saat ini merupakan cerminan sejarah kasih sayang dari orang tua kita --orang yang mengasuh kita, terutama ibu-- saat kita kecil dulu.

Wajar, jika orang yang harus pertama kali kita sayangi adalah ibu kita. Sebab kasih sayang ibulah yang pertama kali kita terima dibandingkan dengan yang lainnya termasuk bapak kita. Seperti disebutkan dalam hadis Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas'ud Ra. bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya, "Siapakah pertama kali yang harus saya perlakukan dengan baik?" Rasulullah Saw menjawab, "Ibumu!" "Lalu siapa setelah itu ya Rasulullah?" tanya orang itu lagi. Kembali Rasulullah saw. menjawab, "Ibumu!" "Lalu siapa ya Rasulullah?" Tanya orang itu kembali. Rasulullah lagi-lagi menjawab, Ibumu! Sekali lagi orang bertanya, Lalu siapa ya Rasulullah? Baru Rasulullah menjawab, Kemudian Bapakmu!" (HR Bukhari& Muslim).

Dari segi potensi diri, pada fase ini merupakan marhalah tansyi'ah (tahapan pembentukan) dan marhalah ar-ri'âyah (tahapan pemeliharaan) terhadap potensi 'aqal (intelektual), qalbu (emosional), rûh (spiritual), dan fisik kita. Pembentukan dan pemeliharaan ini, membutuhkan yang namanya tarbiyah (pendidikan).

Mari kita tela'ah perjalanan hidup nabi Muhammad Saw. pada fase ini. Beliau, meskipun, lahir dalam keadaan yatim, namun beliau mendapatkan kasih sayang penuh, dari 0 sampai 4 tahun kasih sayang itu beliau dapati dari ibu susunya; Halimah As-Sa'diyah. Selama dua tahun; 4 sampai 6 tahun, beliau mendapatkan curahan kasih sayang dari ibu kandungnya; Aminah. Setelah itu, selama dua tahun; 6 sampai 8 tahun, dari kakeknya; Abdul Muthalib. Sejak kakeknya wafat hingga menjelang peristiwa Isra' Mi'raj; umur 53 tahun, kasih sayang itu tetap beliau dapatkan dari pamannya; Abu Thalib.

Sejak itu (umur 8 tahun) beliau mulai bekerja dengan mengembala kambing. Usia 12 tahun mulai bisnis bersama pamannya ke Syria. Usia 15 tahun, menjadi militer pada perang Fijar. Usia 20 tahun, mulai menekuni dunia bisnis eksport-inport ke Yaman dan Syiria, bekerjasama dengan konglomerat Quraisy; Khadijah, yang kemudian menjadi isteri beliau. Pada usia ini pula, beliau sudah terlibat hubungan diplomatik dalam rekonsiliasi pertikaian suku Quraisy dengan yang lainnya. Kalau nabi menjadi suri tauladan hidup kita, maka ketika umur kita 20 tahun, sudahkah kita mandiri seperti beliau??

Bersambung ke: Fase Umur Kedua

Blog EntrySeri 2: ALAM RAHMATAN; Manusia TerbaikNov 16, '07 1:12 AM
for everyone
[Serial Makna Rahmat 2]: Alam Rahmatan lil 'âlamîn; Manusia Terbaik
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

Diawali dengan sebuah tangisan, kita ketika bayi, menghirup udara alam kedua, yaitu Alam Dunia. Kita terlahir tanpa sehelai busanapun, sebagai simbol bahwa kita dilahirkan dalam keadaan suci, polos, dan tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, ketika kita menghembuskan napas terakhir, maka orang lain akan menangis, dan kita hanya dibungkus oleh kain putih.
Ada tiga fase pertumbuhan dan perkembangan yang kita jalani, yaitu fase lemah, kuat, dan lemah lagi. Ini berdasarkan firman Allah Swt. berikut ini, Dia (Allah)lah yang menciptakan kamu dari kadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) itu sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa (QS. Al-Rûm [30]:54).

Untuk memahami ayat tersebut, mari kita pinjam istilah Stephen R. Covey, bahwa fase perkembangan kepribadian seseorang, ada tiga, yaitu fase ketergantungan (dependence), kemandirian (independence), dan kesalingtergantungan (interdependence). Pada hakikatnya, tiga fase pada ayat di atas dengan tiga fase yang dikemukakan oleh Steven R. Covey adalah sama. Sebab, Steven R. Covey mengatakan bahwa pertumbuhan kita dari bayi sampai dewasa selaras dengan hukum alam. Dan hukum alam yang dimaksud oleh Covey adalah sunnatullâh dalam terminologi Islam. Yang namanya sunnatullah merupakan ayat kauniyah (alam semesta). Sedangkan antara ayat qawliyah (Al-Quran) dengan ayat kauniyah tidak mungkin kontradiksi, justru saling berkaitan erat. Jadi, jika memang teori yang dikemukakan oleh Steven R. Covey hasil dari penelitiannya terhadap hukum alam, maka itu merupakan penjelasan dari tiga fase yang dimaksud oleh Allah Swt. pada ayat di atas. Wallâhu a'lâm.

"Kita masing-masing memulai kehidupan sebagai bayi", kata Steven R. Covey, "yang tergantung sepenuhnya dengan orang lain. Kita diarahkan, diasuh, dan ditunjang oleh orang lain. Tanpa pemeliharaan ini, kita hanya dapat hidup selama beberapa jam atau beberapa hari saja. Lalu secara berangsur-angsur, selama berbulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya kita menjadi semakin mandiri -secara fisik, mental, emosional, dan keuangan- hingga akhirnya kita pada hakikatnya dapat mengurus diri sendiri, diarahkan oleh batin dan percaya diri. Sementara kita terus tumbuh dan matang, kita semakin sadar bahwa semua yang ada di alam saling tergantung, bahwa ada suatu sistem ekologis yang mengatur alam, termasuk masyarakat. Lebih jauh kita menemukan bahwa jangkauan alamiah kita yang lebih tinggi berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain -bahwa kehidupan manusia juga saling tergantung."
Dalam buku Syabâb Bilâ Masyâkil, (Dar at-Tawzi' wa an-Nasyr al-Islamiyah, 2002), Dr. Akrim Ridla, menyebut tiga fase umur kita dengan fase umur pertama (fase lemah pertama), fase umur kedua (fase kuat), dan fase umur ketiga (lemah kedua). Baik, mari kita bahas tiga fase tersebut secara satu persatu.

Bersambung ke: Fase Umur Pertama

Blog EntrySeri 1: ALAM RAHIM; Sperma TerbaikNov 16, '07 12:56 AM
for everyone
[Serial Makna Rahmat 1]: Alam Rahim; Sperma Terbaik
Oleh: Udo Yamin Efendi

Adakah anggota tubuh manusia yang memakai nama terambil dari akar kata salah satu Asmâ al-Husnâ (nama-nama yang terbaik Allah)? Mari kita berpikir sejenak! Apa jawabannya? Bukankah jawabannya adalah Rahim? Yah, satu-satunya anggota tubuh manusia yang memakai nama-Nya, hanya rahim, dan ini ada hanya pada perempuan. Allah sendiri, dalam sebuah hadis Qudsi, menegaskan hal itu, "Aku adalah Ar-Rahmân, Aku menciptakan rahim, Ku-ambilkan untuknya nama yang berakar dari nama-Ku. Siapa yang menyambungkannya (silaturahmin) akan Ku-sambungkan (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya Kuputuskan (rahmat-Ku baginya." (HR. Abu Daud & At-Tirmidzi)

Tentu saja, penamaan ini, bukan kebetulan. Melainkan sebuah password (kata kunci) yang Allah Swt. berikan kepada kita agar kita bisa mengungkap misteri di balik penamaan tersebut. Supaya mutiara hikmahnya terkuak, maka mari kita selami makna kata "rahim" tersebut secara bahasa!

Kata "rahim" berasal dari bahasa Arab. Kata ini diambil dari akar katanya, yaitu rahmat. Dan Quraish Shihab dalam bukunya; "Menyingkap Tabir Ilahi" (Lentera Hati, 2001), mengatakan bahwa menurut ahli bahasa Arab Ibnu Faris (wafat 395 H) semua kata yang terdiri dari huruf-huruf Râ, Hâ, dan Mîm, mengandung makna "kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan."

Dalam Al-Quran, kata yang berasal dari tiga huruf itu disebutkan sebanyak 177 kali, kata Ar-Rahmân terulang 57 kali, kata Ar-Rahîm sebanyak 97 kali, dan sisanya dalam bentuk kata kerja. Sedangkan penggunaan kata rahim dengan makna tempat penciptaan manusia; kandungan, terulang sebanyak 7 kali.

Dari tinjauan secara bahasa tersebut, kata rahim mengandung filosofis dan hikmah yang harus kita renungkan bersama. Dalam hadis Qudsi di atas, ketika Allah Swt. memberitahu kita bahwa Dia menciptakan rahim dan penamaannya diambil dari nama-Nya, maka ini menegaskan kepada kita bahwa Allah Swt. sebagai Khâliq (Pencipta) dan keberadaan kita adalah bukti dari rahmân dan rahîm Allah Swt.

Tanpa rahmat-Nya, maka kita tidak pernah ada. Betapa tidak, coba kita bayangkan, kita bermula dari air yang kita anggap hina; dari setetes mani (sperma) yang dipancarkan dalam rahim untuk membuahi sel telur (ovum). Dari pembuahan ini, jadilah nuthfah (zigota). Kemudian, nuthfah yang bercampur itu menjadi dua sel, lalu dua sel itu membelah menjadi empat. Empat sel itu, terus membelah dan berkembang, jadilah 'alaqah (segumpal darah; implantasi), lalu menjadi mudhghah (segumpal daging; embrio). Lalu, mudhghah itu menjadi segumpal tulang, akhirnya tulang-belulang itu dibungkus daging, maka jadilah janin yang sempurna anggota tubuhnya. Pernahkah kita memikirkan, bagaimana bisa terjadi dari satu sel yang sama bisa menjadi sesuatu yang berbeda, ada yang jadi otak, kepala, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan? Apakah pembelahan dan perkembangan sel-sel itu terjadi dengan sendirinya? Tentu saja, pertanyaan ini akan terjawab, bila kita memahami makna hadis qudsi di atas, yaitu Allahlah yang menciptakan semua itu.

Yang lebih menarik lagi adalah bagaimana Al-Quran dan Al-Hadis Nabi bisa berbicara tentang sesuatu yang terjadi dalam rahim, padahal ilmu kedokteran, terutama ilmu kandungan, lahir setelah 14 abad kemudian? Suatu hal yang mustahil, jika Muhammad Saw. bukan seorang nabi, bisa menjelaskan kejadian di alam rahim. Selain beliau ummi (buta huruf), juga waktu itu belum ditemukan peralatan untuk melihat proses kejadian manusia dalam rahim. Subhanallâh, inilah bukti bahwa Muhammad Saw. adalah seorang nabi dan rasul,  serta ajaran yang beliau sampaikan benar-benar dari Allah rabbul 'âlamîn.

Lantas, seperti apakah penjelasan Allah dan rasul-Nya itu? Dalam Al-Quran, Allah Swt. memaparkan kejadian kita dimulai dari suatu masa yang belum dapat disebut. Fase ini, dalam ilmu psikologi, dikenal dengan istilah masa konsepsi. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. (QS. Al-Insân [76]:1)

Mengapa masa ini disebut "belum merupakan sesuatu yang dapat disebut"? Wallâhu a'lâm. Ada dua kemungkinan untuk menjawab hal ini. Pertama, pada masa ini, kita masih berupa pembelahan sel. Sebab, hingga akhir minggu keempat, kita belum dapat mengenal anggota tubuh tertentu. Penjelasan kedua, sebab pada fase ini rûh belum ditiupkan oleh Allah Swt. dalam tubuh kita. Sedangkan yang disebut manusia adalah perpaduan dari jasad dan ruhani.
Secara gamblang dan runtut, Allah Swt. memaparkan proses kejadian kita. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (QS. Al-Mu'minûn [23]:12-14).

Adapun dalam hadis, nabi Muhammad Saw. bersabda, "Sesungguhnya setiap orang diantara kalian penciptaannya dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging, lantas malaikat dikirim untuk menghembuskan ruh padanya. Dan malaikat diperintah untuk menuliskan tentang rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya." (HR. Bukhari)

Itulah proses kejadian kita secara jasadiyah. Untuk lebih lengkap dan detailnya, sebaiknya Anda baca langsung dari buku-buku kedokteran atau buku yang secara khusus membahasnya. Sebab, terlalu panjang, dan kurang relevan kita bicarakan dalam buku ini. Sekarang yang patut kita renungkan, yaitu tentang sperma.

Satu tetes sperma mengandung sekitar dua juta sel sperma, dan yang dibutuhkan untuk membuahi sel telur hanya satu sel sperma. Jadi, tidak semua sperma membuahi sel telur. Hal ini ditegaskan oleh baginda nabi, "Tidak setiap mani (sperma) itu menjadi anak." (HR. Muslim) Lalu, apakah penciptaan jutaan sel sperma itu sesuatu yang sia-sia? Tentu saja tidak, sebab tidak ada yang sia-sia bagi perbuatan Allah Swt. (QS. Ali Imran [3]:191). Ini Allah Swt. lakukan, agar kita mengambil hikmah dari proses penciptaan kita. Lantas, apa hikmahnya?

Kalau sel sperma itu berjumlah dua juta dan hanya satu yang bisa membuahi sel telur, berarti terjadi kompetisi diantara mereka, maka sel yang bisa bertemu dengan sel telur itu adalah sel sperma yang terbaik. Sperma pilihan. Ini sel sperma yang mendapatkan kasih sayang dari Allah Swt. Di alam rahim ini terjadi penyeleksian bibit yang terbaik. Maka siapapun yang terlahir di muka bumi punya peluang untuk menjadi yang terbaik, sebab di alam rahim telah memiliki prestasi menjadi Sperma Terbaik.

Setelah bentuk kita sempurna, maka Allah meniupkan ruh, dalam jasad kita. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (QS. Al-Sajdah [32]:9). Selanjutnya, mengadakan perjanjian diantara kita dengan-Nya. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku  ini Tuhanmu". Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (QS. Al'A'râf [7]:172).

Dalam perjanjian itu, seolah-olah, kita berjanji untuk tidak melupakan kasih sayang Allah Swt. setelah nanti kita lahir di muka bumi ini. Selama di alam rahim ini, kita telah mendapatkan begitu banyak kasih sayang-Nya, maka jangan sampai hal itu kita lupakan. Tanpa kasih sayang-Nya, maka mana mungkin nuthfah (sperma) itu bisa berubah menjadi manusia. Sebab, pada akhir fase mudhgah, malaikat yang mengurus proses penciptaan kita, akan bertanya kepada Allah Swt., apakah proses dilanjutkan atau tidak. Allahlah yang memutuskan, apakah tidak terjadi tercipta. Hal ini yang diungkapkan oleh rasulullah Saw. dalam hadis, "Jika nuthfah berada dalam rahim, malaikat berkata: "Wahai Allah, apakah ini diciptakan atau tidak?" Jika Allah berfirman tidak diciptakan, maka rahim itu akan mengeluarkannya (dalam bentuk darah)." (HR. Ibnu Abu Hatim)

Di alam ruh ini, kita juga merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Sehingga ibu kita selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari sangat begitu hati-hati memilih apa yang beliau makan, minum, dan yang beliau lakukan. Jadi, kita mendapatkan curahan kasih sayang dari Allah Swt. dan ibu secara sekaligus. Maka wajar saja jika tempat kita bersemanyam pertama kali ini disebut rahim, sebab di tempat ini kita mendapatkan kasih sayang penuh.

Bersambung ke: Alam Rahmatan lil 'âlamîn; Manusia Terbaik


Blog EntryProlog Makna Rahmatan lil 'AlaminNov 15, '07 3:40 AM
for everyone
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi

Bismillahirrahmanirrahim.

Sahabat semua...

Sebagaimana tanggapan saya terhadap e-mail Pak Teha dalam milis sekolah-kehidupan@yahoogroups.com, setelah membahas "Serial Cinta" dalam milis ini, maka saya akan menyuguhkan "Serial Makna Rahmat" dalam beberapa tulisan saya nanti. Insya Allah, sekitar sembilan tulisan. Makanya, agar memahami tulisan saya secara utuh, maka jangan dibaca sebagian saja, tapi coba baca dari awal hingga akhir. Biar kita lebih enak dalam berdiskusi nantinya.  


Baik, saya akan awali diskusi kita dengan sebuah cerita. Hari itu, seorang teman datang. Duduk di depan saya, lalu bertanya, "Napa ya, kok sampai detik ini saya belum juga faham dengan basmalah?" Sambil memandangnya penuh keheranan, saya balik tanya, "Maksudnya??" Dengan lirih teman saya itu berkata, "Yah, bukankah Islam ngajarin kita, agar tiap tindakan dan ucapan kita selalu diawali sama basmalah? Kalau tanda kefahaman kita terhadap suatu ilmu dengan mengamalkannya, maka saya termasuk yang belum faham dengan basmalah, sebab sampai saat ini saya sering lupa membaca basmalah setiapkali melakukan sesuatu, apalagi menjadikan basmalah sebagai motivasi, spirit, filosofi, paradigma, dan landasan dalam hidup saya!"

Sungguh, waktu itu; tahun 1993; tepatnya ketika saya kelas 2 SLTP,  saya tidak bisa memberikan komentar apa-apa. Saya juga bingung. Ucapan teman saya itu telah menohok hati nurani saya. Bukan hanya dia yang merasakan seperti itu, tapi saya juga. Betapa sering saya lalai mengucapkan basmalah sebelum melakukan segala sesuatu, apalagi merenungkannya. Saya baca basmalah, hanya ketika makan dan minum saja. Selebihnya, tidak. Itu juga saya lakukan, hanya sebatas kebiasaan saja, jauh dari pemaknaan.

Obrolan singkat dengan teman saya itu, ternyata justru menjadi epifani; titik balik, dalam hidup saya. Ada keinginan besar dalam diri saya, bukan sekedar untuk membiasakan membaca basmalah setiap melakukan sesuatu, tapi lebih jauh dari itu, saya ingin tahu maknanya lebih dalam lagi. Saya ingin tahu, mengapa basmalah itu selalu dicantumkan di awal surat dalam Al-Quran, kecuali surat At-Taubah? Saya ingin hidup saya lebih bermakna dengan mengamalkan basmalah. Karena saya sekolah umum dan tidak bisa bahasa Arab, maka saya mengalami kesulitan untuk memahami langsung dari Al-Quran atau dari kitab Tafsir. Akhirnya, Allah Swt. mendengarkan keinginan saya; satu tahun kemudian saya mondok di sebuah pesantren di Jawa Barat.

Saya cukupkan sampai di sana kisah tersebut, sebab saya tidak bermaksud menceritakan perjalanan hidup saya. Tapi saya ingin mengatakan bahwa betapa basmalah bisa mengubah seseorang, setidaknya bagi saya.

Singkat cerita, pencarian makna basmalah itu menemukan titik terang saat saya membaca kitab At-Tafsîr al-Munîr fî al-'Aqîdah wa as-Syarî'ah wa al-Manhaj (Darul Fikri, 1998). Pengarangnya; Al-Ustadz Dr. Wahbah az-Zuhaily menceritakan perkataan Ibnu Abbas, "Al-Quran adalah inti dari seluruh kitab (Zabur, Taurat, dan Injil). Al-Fâtihah adalah inti dari Al-Quran. Dan basmalah adalah inti dari surat Al-Fâtihah."

Kala itu muncul sebuah pertanyaan di benak saya: kalau basmalah inti Al-Fatihah -Al-Fatihah inti agama Islam- sedangkan agama adalah tuntunan hidup, maka bagaimana hubungan basmalah dengan kehidupan?

Lalu saya teringat firman Allah Swt., Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan (QS. Al-Baqarah [2]:28). Melalui ayat ini, pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit mulai terjawab. Ayat ini menerangkan peta perjalanan hidup kita. Ada empat alam yang kita tempuh dan semuanya mempunyai kaitan erat dengan basmalah.
Sekarang posisi kita berada di Alam Kedua (Alam Dunia). Namun supaya kita mempunyai gambaran yang menyeluruh tentang empat alam itu. Cobalah Anda berhenti sejenak untuk membuat peta pikiran di atas sebuah kertas. Buatlah sebuah lingkaran yang cukup besar. Kemudian bagi lingkaran tersebut menjadi empat kuadran/wilayah. Tulis dalam kuadran pertama (sebelah Kiri atas) kata "Alam Rahim", Kuadran kedua (sebelah kiri Bawah) kata "Alam Rahmatan lil 'âlamîn", Kuadran Ketiga (sebelah kanan bawah) kata "Alam Al-Marhûm", dan kuadran keempat (sebelah kanan atas) kata "Alam Rahmatullâh". Setelah selesai, baru lanjutkan membaca tulisan ini.

Apa yang Anda saksikan? Itulah gambaran konkrit dari kata yang sering kita dengar "Roda Kehidupan". Kita tahu, yang namanya roda adalah sebuah lingkaran. Dan lingkaran adalah titik-titik bersambung yang mempunyai jarak sama dari titik porosnya. Begitu juga dengan kehidupan, setiap keadaan atau kondisi yang kita lalui merupakan satu titik kehidupan. Dan titik poros kehidupan adalah Allah. Inilah yang kita maksud dengan perjalanan hidup.
Jadi, ada empat kuadran atau alam kehidupan yang harus kita singgahi. Dan keempatnya saya beri nama yang berasal dari kata "rahmat" (rahim, rahmatan lil 'âlamîn, al-marhûm, dan rahmatullâh) berdasarkan keterangan Al-Quran dan As-Sunnah.

Baiklah akan kita lanjutkan dengan kajian singkat terhadap empat alam tersebut, pada sembilan pertemuan nanti.

Bersambung ke: "[Makna Rahmat 1]: "Alam Rahim; Sperma Terbaik

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help