Bismillâh. Mengapa diskursus prestasi (achievment) sering mencuat di belantika Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir)? Ini bermula dari perbedaan paradigma di kalangan Masisir dalam memahami makna prestasi. Prestasi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2001), adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan.
Untuk memahami letak perbedaan paradigma itu, kita perlu memetakan terlebih dahulu empat tipe Masisir yaitu: 1) mahasiswa study oriented yang hanya berfokus pada akademik (hard skills); (2) mahasiswa social oriented yang terlalu berfokus pada organisasi kemahasiswaan (soft skills), (3) mahasiswa ideal yang menjaga keseimbangan keduanya (hard skill and soft skills), dan mahasiswa tanpa tujuan (dis-oriented).
Tipe pertama secara akademis mereka lancar, namun secara sosial mereka mengalami banyak kendala. Misalnya, sulit untuk mengkomunikasikan ide atau gagasan mereka dalam bentuk lisan dan tulisan. Sulit untuk bekerjasama. Sebaliknya, tipe social oriented, secara akademis mereka sering tersendat, akan tetapi secara sosial mereka memiliki soft skill, diantaranya: (1) keterampilan komunikasi lisan dan tulisan (communication skills), (2) keterampilan berogranisasi (organizational skills), (3) kepemimpinan (leadership), (4) kemampuan berfikir kreatif dan logis (logic), (5) ketahanan menghadapi tekanan (effort), (6) kerja sama tim dan interpersonal (group skills) dan (7) etika kerja (ethics). Adapun tipe ketiga, mereka berhasil dalam studi dan sosial. Sebaliknya, tipe keempat, mereka gagal dalam keduanya.
Keempat tipe mahasiswa itu memiliki paradigma berbeda tentang makna prestasi. Bagi mahasiswa study oriented, prestasi adalah manakala kuliah lancar tepat waktu dan meraih natijah (indeks prestasi) mumtaz. Sedangkan prestasi menurut social oriented adalah ketika mampu melakukan peran sebagai agent of change. Adapun menurut mahasiswa ideal, kedua hal itu sama-sama penting. Sebaliknya, bagi mahasiswa tanpa tujuan, keduanya tidak penting.
Perbedaan paradigma itu memunculkan perbedaan standar dalam menentukan apakah seorang mahasiswa itu berprestasi atau tidak. Terutama dari dua tipe awal —study oriented dan social oriented— sering berbeda, bahkan ketika berada di titik ekstrim, satu sama lainnya saling mencemooh, meremehkan, dan menghina. Tipe study oriented menganggap para aktivis hanya membuang waktu, tidak konsisten dengan tugas sebagai mahasiswa, tidak memiliki ilmu mendalam apalagi spesialisasi, dan seterusnya. Sebaliknya, tipe social oriented, mereka anggap tipe study oriented anti sosial, bukan mahasiswa sejati yang berperan sebagai agent of change di masyarakat, tidak mengamalkan ilmunya, dan seterusnya. Dari sanalah wacana prestasi muncul ke permukaan, tidak hanya dalam obrolan ringan sehari-hari, melainkan juga dalam forum-forum diskusi, bahkan menjadi poiemik di media massa Masisir.
Sebenarnya perdebatan itu tidak perlu muncul, jika para Masisir memahami bahwa prestasi itu tidak tunggal tapi majemuk. Prestasi merupakan hasil dari kecerdasan. Sedangkan kecerdasan itu banyak. Dalam buku Seven Kinds of Smart: Identifying and Developing Your Multiple Intelligences (Gramedia, 2002), Thomas Armstrong, Ph.D., menjelaskan pendapat Dr. Howard Gadner bahwa kecerdasan ganda (multiple intelligences) ada tujuh, yaitu kecerdasan Verbal-Linguistik, Matematis-Logis, Spasial-Gambar, Musical-Irama, Kinestis-Tubuh, Intrapersonal, dan Interpersonal. Tujuh kecerdasan ini, ada pada Masisir. Sayangnya, selama ini kita hanya menghargai kecerdasan Verbal-Logis saja, sedangkan yang lainnya sering kita sepelekan.
Dalam konteks Masisir, (1) kecerdasan Verbal-Linguistik —kemampuan untuk mengolah kata, baik secara lisan, tulisan, atau keduanya— kita temukan pada para orator, penceramah, pendongeng, presenter, politisi, pembicara publik, penulis, pengarang, editor, wartawan, sastrawan, dan seniman; (2) kecerdasan Matematis-Logis —kemampuan untuk menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar— ada pada ahli statistik, ahli ilmu warits, programmer komputer, ahli logika, dan ahli ilmu manthiq; (3) kecerdasan Spasial-Gambar —kemampuan untuk memersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentranspormasikan persepsi spasial-visual— ada pada dekorator interior, arsitek, pelukis, ahli kaligrafi, ahli karikatur, desaigner, dan ahli lay out; (4) kecerdasan Musical-Irama —kemampuan untuk menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara memersepsi, membedakan musik, menggubah, atau mengekspresikan— ada pada para penyanyi; munsyid, kriktikus musik, juri musik; (5) kecerdasan Kinestis-Tubuh —kemampuan untuk mengekspresikan ide dan perasaan serta keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu— ada pemain pantonim, atlet, penari, pemain teater, karateka, dan ahli bela diri lainnya; (6) kecerdasan Intrapersonal —kemampuan memersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, dan perasaan orang lain— ini dimiliki para trainer motivasi dan pengembangan diri; dan (7) kecerdasan Interpersonal —kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut— ada pada Masisir yang mendalami ilmu tasawuf.
Itulah definisi dan contoh tujuh kecerdasan majemuk. Perdebatan tentang makna dan standar prestasi, sebaiknya kita hentikan. Mari kita fokuskan diri untuk menemukan dan meningkatkan apapun kecerdasan yang kita miliki. Sebab, dari kecerdasan itulah prestasi muncul. Bila kecerdasan itu majemuk, maka prestasi pun harus majemuk. Sudah saatnya kita meraih prestasi majemuk (multiple achievment) tanpa harus menganak-emaskan dan menganak-tirikan satu atau lebih dari tujuh kecerdasan itu. Wallahu a'lam.